Dear Journalist,
Penampilan bagi kami tidak kami artikan secara fisik. Kami tahu, Anda orang yang sibuk. Anda pekerja lapangan yang karena tugas, terkadang harus bisa mengejar bis kota, dan di saat lain, mungkin harus rela berdesak-desakkan dengan kerumunan orang hanya untuk memperoleh informasi berharga. Iyalah, Bung, mosok kami tak tahu soal itu.
Bagi kami yang penting, Anda tidak sloppy, Anda tahu kapan harus berbusana chick, dan kapan tidak.
Bahkan terus terang, itu pun tak jadi soal. Yang kami tuntut dari Anda adalah integritas Anda, sebagai wartawan yang baik: kredibel, dan realible. Hal ini kami sampaikan, terus terang saja, agar kami, sebagai sumber berita, bisa mempercayai Anda, dan karenanya kami mau berbagi informasi dengan Anda.
Harus kami katakan bahwa kami masih sering menjumpai rekan-rekan Anda yang datang pada kami, dan mengajukan pertanyaan- pertanyaan konyol dan bodoh. Dan ternyata persoalannya hanya karena mereka memang tidak memiliki bekal yang cukup untuk berbincang-bincang dengan kami. Pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan, menunjukkan bahwa, mereka sama sekali kosong dan wawasan mereka sempit.
Jika yang terjadi seperti ini, bukankah Anda bisa memahami kenapa kami umumnya segan menerima mereka? Bukankah Anda, bisa memahami kenapa kami sulit untuk mau berbagi informasi dengan mereka ? Bukankah kami sangat layak khawatir, bila ucapan dan misi kami tidak sampai hanya karena cara pandang di antara kami berbeda ?
Sekali lagi, kami ingatkan, bahwa modal utama Anda yang lebih esensial, sesungguhnya memang hanya bisa dipercaya, dan tidak membuat berita yang bengkok. Hanya itu yang kami kira membuat Anda berharga, dan layak kami hormati. Jadi bukan uang, bukan peralatan yang serba canggih yang membuat kami tercengang-cengang atau penampilan Anda.
Maaf, jika surat kami menyinggung.
Salam kompak,
Khalayak Anda
Tampilkan postingan dengan label dear journalist. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dear journalist. Tampilkan semua postingan
14 Mei 2009
SEMBRONO ATAU HUMAN ERROR?
Dear Journalist,
Ada rubrik tetap tapi tak pernah masuk daftar isi, apa hayo? Jawabnya: rubrik Ralat!
Tak hanya itu, rubrik ini bahkan merupakan rubrik yang ada di media cetak mana saja: majalah, tabloid, suratkabar harian bahkan televisi dan radio. Dan itu hanya menunjukkan bahwa tak satu pun media yang bebas dari kesalahan, baik yang sepele maupun yang fatal.
Mungkin Anda tidak bertanggungjawab sepenuhnya atas kesalahan itu. Sebab mungkin kesalahan terjadi waktu naskah berita Anda mengalami proses pra-cetak. Bisa saja. Toh harus Anda akui, Anda juga banyak melakukan kesalahan-kesalahan yang mestinya tak perlu terjadi.
Berikut isi rubrik ralat yang kami jumpai di media Anda. Sori ya, kalau contoh-contohnya agak lama.
1. Dalam tulisan "Ihdinas Siraatal Mustaqim", tertulis kata, "kata ayah tiga anak itu," seharusnya, "kata ayah dua putri itu." Maaf.
2. Dalam tulisan "Dengung Aum di Gunung Fuji", ada beberapa kesalahan, antara lain, tertulis, "Wanita berusia 34 tahun itu diangkat sebagai Menteri Kesehatan," Seharusnya, "Pria berusia 34 tahun...." (Bisa dibaca di Gatra, 20 Mei 1995)
Ada lagi jenis kesalahan yang Anda sebut sebagai 'kesalahan teknis'.
Di situ Anda menjelaskan,
"...di rubrik Wawancara, telah terjadi kesalahan teknis. Judul untuk wawancara kami dengan Ali Moersalam tersebut "hilang". Seharusnya tertulis: Saya Menjagokan Ketua Umum Golkar. Kami mohon maaf kepada pembaca dan Bapak Ali Moersalam, atas kesalahan tersebut." (Bisa dibaca di Tiras No., 38 19 Oktober 1995)
Apakah ini bisa kami golongkan sebagai kesalahan manusiawi yang bersifat human eror ?
Lalu bagaimana pula dengan kesalahan seperti di bawah ini ?
1. Anda menulis profil seorang tokoh, tanpa pernah mewawancarainya. Tentu saja orang itu membantah, karena merasa tidak diwawancarai. Rupanya Anda memang tidak pernah bertemu dengan orang tersebut, melainkan hanya bertemu dengan keponakan dan sopirnya. Akibatnya, tulisan Anda salah total, bahkan Anda dituduh mencemarkan nama baiknya, karena narasumber Anda memang tidak kredibel. (Baca Gatra, 6 Mei 1995)
2. Di tengah isyu pergantian Ketua Mahkamah Agung Purwoto Suhadi Gandasubrata, dengan rasa percaya diri, Anda menulis, "Berbagai harapan dan sinisme mengikuti peralihan Ketua Mahkamah Agung dari Purwoto Suhadi Gandasubrata ke M. Djaelani." (Baca Forum Keadilan, 27 Oktober 1994) Astaganaga. Siapa M Djaelani? Bukankah yang benar Soejono? Apakah ini juga Anda golongkan sebagai human error ?
Salam kompak,
Khalayak Anda
Ada rubrik tetap tapi tak pernah masuk daftar isi, apa hayo? Jawabnya: rubrik Ralat!
Tak hanya itu, rubrik ini bahkan merupakan rubrik yang ada di media cetak mana saja: majalah, tabloid, suratkabar harian bahkan televisi dan radio. Dan itu hanya menunjukkan bahwa tak satu pun media yang bebas dari kesalahan, baik yang sepele maupun yang fatal.
Mungkin Anda tidak bertanggungjawab sepenuhnya atas kesalahan itu. Sebab mungkin kesalahan terjadi waktu naskah berita Anda mengalami proses pra-cetak. Bisa saja. Toh harus Anda akui, Anda juga banyak melakukan kesalahan-kesalahan yang mestinya tak perlu terjadi.
Berikut isi rubrik ralat yang kami jumpai di media Anda. Sori ya, kalau contoh-contohnya agak lama.
1. Dalam tulisan "Ihdinas Siraatal Mustaqim", tertulis kata, "kata ayah tiga anak itu," seharusnya, "kata ayah dua putri itu." Maaf.
2. Dalam tulisan "Dengung Aum di Gunung Fuji", ada beberapa kesalahan, antara lain, tertulis, "Wanita berusia 34 tahun itu diangkat sebagai Menteri Kesehatan," Seharusnya, "Pria berusia 34 tahun...." (Bisa dibaca di Gatra, 20 Mei 1995)
Ada lagi jenis kesalahan yang Anda sebut sebagai 'kesalahan teknis'.
Di situ Anda menjelaskan,
"...di rubrik Wawancara, telah terjadi kesalahan teknis. Judul untuk wawancara kami dengan Ali Moersalam tersebut "hilang". Seharusnya tertulis: Saya Menjagokan Ketua Umum Golkar. Kami mohon maaf kepada pembaca dan Bapak Ali Moersalam, atas kesalahan tersebut." (Bisa dibaca di Tiras No., 38 19 Oktober 1995)
Apakah ini bisa kami golongkan sebagai kesalahan manusiawi yang bersifat human eror ?
Lalu bagaimana pula dengan kesalahan seperti di bawah ini ?
1. Anda menulis profil seorang tokoh, tanpa pernah mewawancarainya. Tentu saja orang itu membantah, karena merasa tidak diwawancarai. Rupanya Anda memang tidak pernah bertemu dengan orang tersebut, melainkan hanya bertemu dengan keponakan dan sopirnya. Akibatnya, tulisan Anda salah total, bahkan Anda dituduh mencemarkan nama baiknya, karena narasumber Anda memang tidak kredibel. (Baca Gatra, 6 Mei 1995)
2. Di tengah isyu pergantian Ketua Mahkamah Agung Purwoto Suhadi Gandasubrata, dengan rasa percaya diri, Anda menulis, "Berbagai harapan dan sinisme mengikuti peralihan Ketua Mahkamah Agung dari Purwoto Suhadi Gandasubrata ke M. Djaelani." (Baca Forum Keadilan, 27 Oktober 1994) Astaganaga. Siapa M Djaelani? Bukankah yang benar Soejono? Apakah ini juga Anda golongkan sebagai human error ?
Salam kompak,
Khalayak Anda
AMPLOP WARTAWAN
Dear Journalist,
Kami baru saja membaca hasil penelitian terhadap 82 wartawan yang tersebar di beberapa kota di Indonesia. Pengen tahu? Wah, seru deh.
Sebanyak 76 orang (92,68 persen) mengaku menerima amplop, baru sisanya secara tegas mengharamkannya. (Penelitian itu dilakukan oleh EH Kartanegara dan dimuat di Tempo, 23 April 1994) Apa artinya ? Artinya, persoalan sensitif ini ternyata masih merupakan masalah klasik Anda. Mungkin ada benarnya sinyalemen yang mengatakan, budaya amplop di kalangan wartawan sudah lama merasuk. Bahkan ada yang percaya budaya amplop merupakan bagian tak terpisahkan dari dunia Anda. Ada juga yang mencoba menggambarkan, hubungan amplop dan wartawan seperti lingkaran setan.
Nyatanya, aparat humas di berbagai instansi baik di pusat di daerah,terbukti selalu mengalokasikan dana dari pos anggaran perjalanan untuk amplop wartawan, termasuk THR (Tunjangan Hari Raya). Sebagai contoh, pada tahun 1996, Pemda Kabupaten Bekasi mewajibkan 23 camatnya untuk menyetor sejumlah uang, paling sedikit Rp. 1 juta, yang setelah dikumpulkan, untuk diberikan sebagai THR bagi para wartawan yang bertugas di Pemda. (Ini bisa dibaca Swadesi, 27 Februari-4 Maret 1996) Hal yang sama juga berlaku di hampir semua perusahaan swasta, yaitu menyediakan beaya entertainment untuk para wartawan.
Hal ini diperkuat dengan kenyataan bahwa sekarang hampir tak ada acara apa pun yang bebas dari pemberian amplop. Sebutlah mulai dari acara launching produk baru, jumpa artis, fashion show, wawancara dengan pengusaha, politisi, atau selebritis, sampai konferensi pers yang dilakukan oleh media pers sendiri. Disinyalir bahkan ada sejumlah perusahaan yang sampai-sampai membukakan rekening tabungan di bank untuk wartawan. Termasuk di sini sejumlah maskapai penerbangan yang siap membayar tunai setiap laporan jurnalistik yang menulis berita tentang maskapai itu. Tentu saja, kalau bagus.
Anda boleh saja membantahnya, asal jangan keras-keras. Tapi nyatanya Anda sendiri masih sering gamang menghadapi pemberian amplop ini. Ada media yang secara tegas melarang wartawannya menerima pemberian amplop. Sehingga amplop terlanjur diterima, baru media itu --mungkin setelah menimbang baik-buruknya-- baru mengirimkannya kembali ke pihak pemberi. Atau ampop itu diterima tapi dimasukkan ke kas sosial untuk disalurkan kepada yang membutuhkan. Tapi ada juga media yang mentolerir pemberian amplop sejauh pemberian itu bersifat sukarela, tidak mengharap imbalan apa pun, tidak berbau pemerasan dan mempengaruhi isi berita. Katanya. Tapiada juga media yang sampai mentolerir pemberian amplop itu, tanpa perduli apakah si pemberi punya pamrih atau tidak.
Sungguh menyedihkan. Di zaman pers menjadi industri seperti sekarang, ternyata masih ada media yang belum mampu memberi gaji setimpal untuk para wartawannya. Sehingga wartawannya harus mencari tambahan penghasilan tambahan. Tapi di sini lain, para pemberi amplop itu sendiri umumnya memang orang yang tidak tahu diri, serta tidak punya rasa malu. Semakin Anda tolak, semakin gigih saja mereka. Kalau Anda menolak pemberian amplop, mereka memberi Anda barang atau cendera mata. Padahal, pemberian barang atau amplop berisi uang, sama saja artinya, yaitu Anda disuap atau disumpal. Jangan percaya pada ucapan mereka bahwa pemberian itu diberikan tulus ikhlas, sebagai imbalan atas jerih payah Anda yang telah bersusah payah mewawancarainya atau sebagai pengganti uang transpor. Alamak.
Bisakah pemberian amplop itu dianggap sebagai penghargaan atas jerih payah Anda? Kenapa mereka tidak bilang saja sekalian, pemberian itu sebagai pengganti uang rokok ? Menghina.
Ingat Bung. Pekerjaan Anda sehari-hari adalah memang menggali informasi, mewawancarai orang, dan memberitakannyai. Sehingga mestinya, sudah lebih dari cukuplah, bila mereka mau memberi informasi secara jujur dan terbuka kepada Anda. Bahkan terdengar akan lebih masuk akal bila Anda yang justru membagi-bagikan amplop untuk mereka. Why not? Biar mereka mati berdiri di depan Anda!
Salam kompak
Khalayak Anda
Kami baru saja membaca hasil penelitian terhadap 82 wartawan yang tersebar di beberapa kota di Indonesia. Pengen tahu? Wah, seru deh.
Sebanyak 76 orang (92,68 persen) mengaku menerima amplop, baru sisanya secara tegas mengharamkannya. (Penelitian itu dilakukan oleh EH Kartanegara dan dimuat di Tempo, 23 April 1994) Apa artinya ? Artinya, persoalan sensitif ini ternyata masih merupakan masalah klasik Anda. Mungkin ada benarnya sinyalemen yang mengatakan, budaya amplop di kalangan wartawan sudah lama merasuk. Bahkan ada yang percaya budaya amplop merupakan bagian tak terpisahkan dari dunia Anda. Ada juga yang mencoba menggambarkan, hubungan amplop dan wartawan seperti lingkaran setan.
Nyatanya, aparat humas di berbagai instansi baik di pusat di daerah,terbukti selalu mengalokasikan dana dari pos anggaran perjalanan untuk amplop wartawan, termasuk THR (Tunjangan Hari Raya). Sebagai contoh, pada tahun 1996, Pemda Kabupaten Bekasi mewajibkan 23 camatnya untuk menyetor sejumlah uang, paling sedikit Rp. 1 juta, yang setelah dikumpulkan, untuk diberikan sebagai THR bagi para wartawan yang bertugas di Pemda. (Ini bisa dibaca Swadesi, 27 Februari-4 Maret 1996) Hal yang sama juga berlaku di hampir semua perusahaan swasta, yaitu menyediakan beaya entertainment untuk para wartawan.
Hal ini diperkuat dengan kenyataan bahwa sekarang hampir tak ada acara apa pun yang bebas dari pemberian amplop. Sebutlah mulai dari acara launching produk baru, jumpa artis, fashion show, wawancara dengan pengusaha, politisi, atau selebritis, sampai konferensi pers yang dilakukan oleh media pers sendiri. Disinyalir bahkan ada sejumlah perusahaan yang sampai-sampai membukakan rekening tabungan di bank untuk wartawan. Termasuk di sini sejumlah maskapai penerbangan yang siap membayar tunai setiap laporan jurnalistik yang menulis berita tentang maskapai itu. Tentu saja, kalau bagus.
Anda boleh saja membantahnya, asal jangan keras-keras. Tapi nyatanya Anda sendiri masih sering gamang menghadapi pemberian amplop ini. Ada media yang secara tegas melarang wartawannya menerima pemberian amplop. Sehingga amplop terlanjur diterima, baru media itu --mungkin setelah menimbang baik-buruknya-- baru mengirimkannya kembali ke pihak pemberi. Atau ampop itu diterima tapi dimasukkan ke kas sosial untuk disalurkan kepada yang membutuhkan. Tapi ada juga media yang mentolerir pemberian amplop sejauh pemberian itu bersifat sukarela, tidak mengharap imbalan apa pun, tidak berbau pemerasan dan mempengaruhi isi berita. Katanya. Tapiada juga media yang sampai mentolerir pemberian amplop itu, tanpa perduli apakah si pemberi punya pamrih atau tidak.
Sungguh menyedihkan. Di zaman pers menjadi industri seperti sekarang, ternyata masih ada media yang belum mampu memberi gaji setimpal untuk para wartawannya. Sehingga wartawannya harus mencari tambahan penghasilan tambahan. Tapi di sini lain, para pemberi amplop itu sendiri umumnya memang orang yang tidak tahu diri, serta tidak punya rasa malu. Semakin Anda tolak, semakin gigih saja mereka. Kalau Anda menolak pemberian amplop, mereka memberi Anda barang atau cendera mata. Padahal, pemberian barang atau amplop berisi uang, sama saja artinya, yaitu Anda disuap atau disumpal. Jangan percaya pada ucapan mereka bahwa pemberian itu diberikan tulus ikhlas, sebagai imbalan atas jerih payah Anda yang telah bersusah payah mewawancarainya atau sebagai pengganti uang transpor. Alamak.
Bisakah pemberian amplop itu dianggap sebagai penghargaan atas jerih payah Anda? Kenapa mereka tidak bilang saja sekalian, pemberian itu sebagai pengganti uang rokok ? Menghina.
Ingat Bung. Pekerjaan Anda sehari-hari adalah memang menggali informasi, mewawancarai orang, dan memberitakannyai. Sehingga mestinya, sudah lebih dari cukuplah, bila mereka mau memberi informasi secara jujur dan terbuka kepada Anda. Bahkan terdengar akan lebih masuk akal bila Anda yang justru membagi-bagikan amplop untuk mereka. Why not? Biar mereka mati berdiri di depan Anda!
Salam kompak
Khalayak Anda
MENULIS SENDIRI, RIBUT SENDIRI
Yth. Wartawan Indonesia
Ini kisah jadul alias jaman dulu.
Setelah Menteri Penerangan dijabat Yunus Yosfiah, jumlah SIUPP melonjak dari 200-an, menjadi sekitar 900-an sampai awal tahun 1999. "Kita memasuki era reformasi," kata Pak Menteri. Bagus-bagus saja. Hanya ada bagusnya, kita flashback dulu ke zaman Orde Baru.
Di zaman itu, arkian, jumlah SIUPP hanya 200-an. Tapi persaingan dalam rimba bisnis penerbitan media ceta sudah terasa keras. Sementara, dari segi idiil, pers di Indonesia waktu itu belum bisa sepenuhnya mengespresikan dirinya, akibat banyaknya kendala politik. Anda sudah tahu itu; dan Anda sudah terlalu sering mengatakannya, baik tersurat maupun tersirat. Apakah pernyataan di atas, bukan sekadar excuse saja karena Anda waktu itu gagal mengemban fungsi pers ?
Pada tahun 1994, selepas pembredelan Tempo, Detik dan Editor, misalnya, muncul organisasi wartawan baru yang menamakan diri Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI). Apapun alasannya, di tengah masyarakat, kemudian terkesan bahwa wartawan Indonesia telah terbagi dua: menjadi anggota AJI dan anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).
Di luar masalah organisasi profesi itu, kita juga sering disuguhi berita-berita pertikaian dalam tubuh pers, seperti kasus sikut-menyikut antara pemegang saham atau investor dengan pemilik SIUPP, sebagai akibat karena masing-masing pihak merasa paling
berhak atas medianya.
Sungguh membuat kami pilu, karena dalam kasus-kasus tertentu, kami sering mendapati, Anda seperti seekor pelanduk tak berdaya di tengah pertarungan dua gajah itu. Tapi yah.. Anda juga sering juga usil sih: ikut berperan misalnya dengan memihak kelompok investor, atau memihak pemilik SIUPP membuat pertikaian makin seru.
Apa pun yang terjadi, kasus-kasus itu telah membuat eksistensi media Anda terganggu. Akibatnya, media Anda terlambat terbit, dan acap juga terjadi media Anda harus berhenti terbit; yang membuat kami, dirugikan. Maksudnya, tidak bisa baca koran Anda.
Kami kira, inilah memang konsekuensi dari bisnis pers, ketika pers tak lagi bisa dijalankan hanya oleh sekadar idealisme, tapi juga oleh modal. Karena memang tak selalu pemilik modal, punya idealisme, dan pemilik idealisme punya modal. Tapi Ashadi Siregar, pengamat masalah pers, pernah mengatakan, "Sering kaum awam menuduh kalangan bisnis sebagai binatang ekonomi yang tidak kenal etika sosial. Tetapi orang lupa, di lingkungannya, kaum bisnis ini sangat ketat menjaga etikanya, misalnya menjaga gentleman aggrement. Bisnis yang dilandasi saling percaya, tak kurang kuat etikanya. dan kelihatannya, ini tidak dihayati oleh para juragan SIUPP." (Baca: "Sketsa-Sketsa Media Massa", Ashadi Siregar, Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta, 1995)
Menurut Ashadi, juragan SIUPP, meskipun sudah diikat dengan kontrak tertulis di bawah tangan, masih suka membelot dari perjanjian. Akibatnya, investor hanya bisa gigit jari, ketika investasi yang bernilai milyaran rupiah terbuang percuma. (Kasus-kasus pertikaian seperti ini, terjadi misalnya dalam tubuh majalah Kartini, Sarinah, Pertiwi, atau suratkabar Sriwijaya Post. Baca: "Ensiklopedi Pers Indonesia", Kurniawan Junaedhie)
Apakah Anda pernah menyadari hal-hal yang kami sampaikan di atas, ketika Anda setiap hari bergulat mencari informasi yang akan dibagikannya pada kami ? Ingat hal ini telah membuat Anda -sadar atau tidak-- menjadi sulit mengemban fungsi Anda yang mulia itu. Itu juga yang membuat orang awam punya persepsi bahwa mencari nafkah sebagai wartawan, tidak aman, karena bagai hidup di ujung tanduk.
Sekali lagi, untunglah, cerita di atas terjadi di zaman Menpen Harmoko. Mudah-mudahan tidak lagi terulang di zaman penuh keterbukaan sekarang ini.
Merdeka!
Salam kompak,
Khalayak Anda.
Ini kisah jadul alias jaman dulu.
Setelah Menteri Penerangan dijabat Yunus Yosfiah, jumlah SIUPP melonjak dari 200-an, menjadi sekitar 900-an sampai awal tahun 1999. "Kita memasuki era reformasi," kata Pak Menteri. Bagus-bagus saja. Hanya ada bagusnya, kita flashback dulu ke zaman Orde Baru.
Di zaman itu, arkian, jumlah SIUPP hanya 200-an. Tapi persaingan dalam rimba bisnis penerbitan media ceta sudah terasa keras. Sementara, dari segi idiil, pers di Indonesia waktu itu belum bisa sepenuhnya mengespresikan dirinya, akibat banyaknya kendala politik. Anda sudah tahu itu; dan Anda sudah terlalu sering mengatakannya, baik tersurat maupun tersirat. Apakah pernyataan di atas, bukan sekadar excuse saja karena Anda waktu itu gagal mengemban fungsi pers ?
Pada tahun 1994, selepas pembredelan Tempo, Detik dan Editor, misalnya, muncul organisasi wartawan baru yang menamakan diri Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI). Apapun alasannya, di tengah masyarakat, kemudian terkesan bahwa wartawan Indonesia telah terbagi dua: menjadi anggota AJI dan anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).
Di luar masalah organisasi profesi itu, kita juga sering disuguhi berita-berita pertikaian dalam tubuh pers, seperti kasus sikut-menyikut antara pemegang saham atau investor dengan pemilik SIUPP, sebagai akibat karena masing-masing pihak merasa paling
berhak atas medianya.
Sungguh membuat kami pilu, karena dalam kasus-kasus tertentu, kami sering mendapati, Anda seperti seekor pelanduk tak berdaya di tengah pertarungan dua gajah itu. Tapi yah.. Anda juga sering juga usil sih: ikut berperan misalnya dengan memihak kelompok investor, atau memihak pemilik SIUPP membuat pertikaian makin seru.
Apa pun yang terjadi, kasus-kasus itu telah membuat eksistensi media Anda terganggu. Akibatnya, media Anda terlambat terbit, dan acap juga terjadi media Anda harus berhenti terbit; yang membuat kami, dirugikan. Maksudnya, tidak bisa baca koran Anda.
Kami kira, inilah memang konsekuensi dari bisnis pers, ketika pers tak lagi bisa dijalankan hanya oleh sekadar idealisme, tapi juga oleh modal. Karena memang tak selalu pemilik modal, punya idealisme, dan pemilik idealisme punya modal. Tapi Ashadi Siregar, pengamat masalah pers, pernah mengatakan, "Sering kaum awam menuduh kalangan bisnis sebagai binatang ekonomi yang tidak kenal etika sosial. Tetapi orang lupa, di lingkungannya, kaum bisnis ini sangat ketat menjaga etikanya, misalnya menjaga gentleman aggrement. Bisnis yang dilandasi saling percaya, tak kurang kuat etikanya. dan kelihatannya, ini tidak dihayati oleh para juragan SIUPP." (Baca: "Sketsa-Sketsa Media Massa", Ashadi Siregar, Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta, 1995)
Menurut Ashadi, juragan SIUPP, meskipun sudah diikat dengan kontrak tertulis di bawah tangan, masih suka membelot dari perjanjian. Akibatnya, investor hanya bisa gigit jari, ketika investasi yang bernilai milyaran rupiah terbuang percuma. (Kasus-kasus pertikaian seperti ini, terjadi misalnya dalam tubuh majalah Kartini, Sarinah, Pertiwi, atau suratkabar Sriwijaya Post. Baca: "Ensiklopedi Pers Indonesia", Kurniawan Junaedhie)
Apakah Anda pernah menyadari hal-hal yang kami sampaikan di atas, ketika Anda setiap hari bergulat mencari informasi yang akan dibagikannya pada kami ? Ingat hal ini telah membuat Anda -sadar atau tidak-- menjadi sulit mengemban fungsi Anda yang mulia itu. Itu juga yang membuat orang awam punya persepsi bahwa mencari nafkah sebagai wartawan, tidak aman, karena bagai hidup di ujung tanduk.
Sekali lagi, untunglah, cerita di atas terjadi di zaman Menpen Harmoko. Mudah-mudahan tidak lagi terulang di zaman penuh keterbukaan sekarang ini.
Merdeka!
Salam kompak,
Khalayak Anda.
IKLAN TERSELUBUNG
Dear Journalist,
Penghasilan media massa (baik , eletronik maupun digital) berasal dari iklan. Dalam, hal media cetak, penghasilan iklan yang meningkat, akan dapat menekan harga langganan menjadi lebih murah. Sebaliknya, berkurangnya iklan akan berarti ongkos produksi dibebankan kepada kami; dan ini berarti harga langganan akan mahal. Karena itu kami bisa paham meskipun terkadang masgul (karena halaman informasi untuk kami jadi berkurang) bila jumlah halaman media Anda disesaki oleh iklan.
Yang tak bisa kami pahami hanyalah jika berita atau tulisan Anda yang nyata-nyata bukan iklan (karena tidak ditulis iklan, atau advertorial atau pariwara dan tidak dibuat dengan tipografis berbeda) ternyata berbau iklan. Misalnya, menyanjung-nyanjung tokoh-tokoh atau perusahaan-perusahaan tertentu. Mungkin Anda akan mengajukan argumen kepada kami, "apa sih salahnya bila kami hanya menyajikan segi-segi positif dari sumber kami ?" Iyalah. Tapi betapa pun penggunaan kata sifat yang berlebihan (seperti baik sekali, hebat, bermutu, memiliki prospek cerah, atau baru) telah membuat berita atau tulisan Anda jadi berkesan murahan. .
Kami yakin, tulisan-tulisan seperti itu akan menyenangkan bagi para tokoh atau perusahaan yang Anda tulis itu. (Mungkin mereka segera memesan media Anda yang memuat tulisan itu dalam jumlah besar untuk dibagikan kepada para relasi mereka, yang membuat Anda mendapat pujian dari Pemimpin Redaksi Anda. Atau mereka akan menulis sepucuk surat untuk Pemimpin Redaksi Anda yang isinya memuji tulisan Anda yang dikatakannya, berbobot, dan penuh gaya itu). Tapi, bagi kami, tulisan Anda memuakkan kami. Tulisan Anda tidak mampu memenuhi kebutuhan kami akan informasi yang akurat dan utuh. Tulisan Anda tidak bernilai berita, berat sebelah, dan berbau propaganda. Patut diketahui, info semacam itu, sudah kami peroleh dengan mudah melalui brosur, leaflet, atau buletin-buletin intern mereka.
Sekarang kami ingin bertanya: apakah Anda merasa bahwa Anda sedang menulis untuk seorang atau kelompok pembaca tertentu ? Apakah Anda lupa bahwa Anda memiliki pembaca yang berjumlah ribuah bahkan mungkin puluhan ribu, yaitu kami? Bagaimana pertanggungjawaban Anda, bila ternyata hal itu sama sekali tidak benar dan bertentangan dengan kenyataan karena reputasi tokoh atau perusahaan itu, tak sebagus tulisan Anda? Bukankah itu artinya Anda telah membohongi kami dengan tulisan menyesatkan ?
Bagaimana pun, kami akan lebih menghargai, bila Anda bersikap jujur bahwa tulisan atau berita Anda itu memang merupakan sebuah iklan. Namun, kami pasti merasa telah Anda khianati, jika Anda mencoba menyusupkan pesan-pesan sponsor yang terselubung pada benak kami.
Salam kompak,
Khalayak Anda
Penghasilan media massa (baik , eletronik maupun digital) berasal dari iklan. Dalam, hal media cetak, penghasilan iklan yang meningkat, akan dapat menekan harga langganan menjadi lebih murah. Sebaliknya, berkurangnya iklan akan berarti ongkos produksi dibebankan kepada kami; dan ini berarti harga langganan akan mahal. Karena itu kami bisa paham meskipun terkadang masgul (karena halaman informasi untuk kami jadi berkurang) bila jumlah halaman media Anda disesaki oleh iklan.
Yang tak bisa kami pahami hanyalah jika berita atau tulisan Anda yang nyata-nyata bukan iklan (karena tidak ditulis iklan, atau advertorial atau pariwara dan tidak dibuat dengan tipografis berbeda) ternyata berbau iklan. Misalnya, menyanjung-nyanjung tokoh-tokoh atau perusahaan-perusahaan tertentu. Mungkin Anda akan mengajukan argumen kepada kami, "apa sih salahnya bila kami hanya menyajikan segi-segi positif dari sumber kami ?" Iyalah. Tapi betapa pun penggunaan kata sifat yang berlebihan (seperti baik sekali, hebat, bermutu, memiliki prospek cerah, atau baru) telah membuat berita atau tulisan Anda jadi berkesan murahan. .
Kami yakin, tulisan-tulisan seperti itu akan menyenangkan bagi para tokoh atau perusahaan yang Anda tulis itu. (Mungkin mereka segera memesan media Anda yang memuat tulisan itu dalam jumlah besar untuk dibagikan kepada para relasi mereka, yang membuat Anda mendapat pujian dari Pemimpin Redaksi Anda. Atau mereka akan menulis sepucuk surat untuk Pemimpin Redaksi Anda yang isinya memuji tulisan Anda yang dikatakannya, berbobot, dan penuh gaya itu). Tapi, bagi kami, tulisan Anda memuakkan kami. Tulisan Anda tidak mampu memenuhi kebutuhan kami akan informasi yang akurat dan utuh. Tulisan Anda tidak bernilai berita, berat sebelah, dan berbau propaganda. Patut diketahui, info semacam itu, sudah kami peroleh dengan mudah melalui brosur, leaflet, atau buletin-buletin intern mereka.
Sekarang kami ingin bertanya: apakah Anda merasa bahwa Anda sedang menulis untuk seorang atau kelompok pembaca tertentu ? Apakah Anda lupa bahwa Anda memiliki pembaca yang berjumlah ribuah bahkan mungkin puluhan ribu, yaitu kami? Bagaimana pertanggungjawaban Anda, bila ternyata hal itu sama sekali tidak benar dan bertentangan dengan kenyataan karena reputasi tokoh atau perusahaan itu, tak sebagus tulisan Anda? Bukankah itu artinya Anda telah membohongi kami dengan tulisan menyesatkan ?
Bagaimana pun, kami akan lebih menghargai, bila Anda bersikap jujur bahwa tulisan atau berita Anda itu memang merupakan sebuah iklan. Namun, kami pasti merasa telah Anda khianati, jika Anda mencoba menyusupkan pesan-pesan sponsor yang terselubung pada benak kami.
Salam kompak,
Khalayak Anda
Index:
dear journalist,
wartawan dan bisnis
KEKUASAAN IKLAN
Dear Journalist,
Iklan adalah sumber pemasukan paling vital bagi sebuah penerbitan pers, baik cetak, elektronik maupun digital (cailah. digital niye....). Jangan anggap sepele. Bagi media cetak, pendapatan dari sektor ini akan bisa menekan ongkos produksi, yang pada akhirnya menyebabkan harga jual bisa ditekan. Penghasilan dari sektor iklan jauh lebih tinggi di atas kemampuan yang bisa dicapai oleh pemasukan dari sektor penjualan per-eksemplar.
Bayangkan. Penghasilan dari sebuah iklan, kira-kira equivalen dengan penghasilan dari menjual sekitar 1000 eksemplar majalah, atau sekitar 10 sampai 20.000 eksemplar suratkabar harian yang untuk mencapai angka penjualan sebesar itu pun harus dilakukan dengan susah payah. Tak aneh, bila Pemimpin Redaksi dan Pemimpin Perusahaan (Manajer Bisnis atau apalah sebutannya) suka mengatakan bahwa penghasilan iklan merupakan sokoguru perusahaan.
Jika Anda sekarang bekerja di media yang punya titik pandang seperti itu, waspadalah. Anda akan selalu direcoki oleh conflict interest antara Manajer Bisnis yang mewakili bagiannya, pengiklan atau biro iklan dan bos Anda -- si pemimpin redaksi. Oke, Anda mengalah, karena posisi Anda. Tapi akibatnya, Anda berdiri di dua dermaga. Sekali tempo menjadi wartawan --memang itu pekerjaan Anda-- dan sekali tempo Anda menjadi seorang account executive dan lebih sering menjadi seorang 'jurnalis pemuja produk', atau copywriter.
Persoalan makin serius bila si pengiklan ternyata lebih vokal, dibanding si manajer iklan, dan bos Anda. Anda tidak lagi punya kebebasan untuk menulis berita tertentu, terutama bila berita itu merugikan klien Anda, kecuali jika menginginkan dia mencabut semua iklan di media Anda. Apakah itu menjadi pilihan Anda?
Lalu bagaimana dengan kami? Kapan Anda sempat memikirkannya?
Salam kompak,
Khalayak Anda
Iklan adalah sumber pemasukan paling vital bagi sebuah penerbitan pers, baik cetak, elektronik maupun digital (cailah. digital niye....). Jangan anggap sepele. Bagi media cetak, pendapatan dari sektor ini akan bisa menekan ongkos produksi, yang pada akhirnya menyebabkan harga jual bisa ditekan. Penghasilan dari sektor iklan jauh lebih tinggi di atas kemampuan yang bisa dicapai oleh pemasukan dari sektor penjualan per-eksemplar.
Bayangkan. Penghasilan dari sebuah iklan, kira-kira equivalen dengan penghasilan dari menjual sekitar 1000 eksemplar majalah, atau sekitar 10 sampai 20.000 eksemplar suratkabar harian yang untuk mencapai angka penjualan sebesar itu pun harus dilakukan dengan susah payah. Tak aneh, bila Pemimpin Redaksi dan Pemimpin Perusahaan (Manajer Bisnis atau apalah sebutannya) suka mengatakan bahwa penghasilan iklan merupakan sokoguru perusahaan.
Jika Anda sekarang bekerja di media yang punya titik pandang seperti itu, waspadalah. Anda akan selalu direcoki oleh conflict interest antara Manajer Bisnis yang mewakili bagiannya, pengiklan atau biro iklan dan bos Anda -- si pemimpin redaksi. Oke, Anda mengalah, karena posisi Anda. Tapi akibatnya, Anda berdiri di dua dermaga. Sekali tempo menjadi wartawan --memang itu pekerjaan Anda-- dan sekali tempo Anda menjadi seorang account executive dan lebih sering menjadi seorang 'jurnalis pemuja produk', atau copywriter.
Persoalan makin serius bila si pengiklan ternyata lebih vokal, dibanding si manajer iklan, dan bos Anda. Anda tidak lagi punya kebebasan untuk menulis berita tertentu, terutama bila berita itu merugikan klien Anda, kecuali jika menginginkan dia mencabut semua iklan di media Anda. Apakah itu menjadi pilihan Anda?
Lalu bagaimana dengan kami? Kapan Anda sempat memikirkannya?
Salam kompak,
Khalayak Anda
Index:
dear journalist,
wartawan dan bisnis
SUMBER LAYAK DIPERCAYA
Dear Journalist,
Ada saatnya Anda dihadapkan pada suatu dilema. Setelah Anda berhasil mengorek keterangan penting secara susah payah, ternyata nara sumber Anda keberatan disebut jatidirinya. "Baiklah, saya akan jelaskan duduk soalnya. Tapi jangan kutip saya sebagai sumbernya ya." Atau, "Saya bersedia bicara, kalau Anda menjamin bahwa hal itu Anda peroleh dari sumber yang layak dipercaya." Anda kecewa? Pasti. Sebab informasi penting itu pasti akan lebih bernilai berita jika Anda bisa menyebut sumber sebenarnya.
Jadi bagaimana ?
Pura-pura setuju, tapi diam-diam menyebut nama sumber itu ? Atau, menulis berita itu sedemikian rupa, agar sumber berita Anda mudah dikenali meski samar-samar ?
Kalau kami jadi Anda, dalam keadaan seperti itu, tak syak, kami akan memilih menyetujui tawarannya dan menghormati kesepakatan itu: menyembunyikan identitas sumber Anda. Atau
menulis berita itu, dengan cara sedemikian rupa, tanpa menghubungkannya sama sekali dengan sumber tadi. Setidak-tidaknya, dengan cara itu, Anda akan beroleh kepercayaan dari
sumber berita Anda. Dan di lain waktu, tidak mustahil, Anda bisa berharap ia akan secara lebih terbuka memberikan informasi-informasi yang lebih penting kepada Anda. Tul nggak?
Salam kompak,
Khalayak Anda
Ada saatnya Anda dihadapkan pada suatu dilema. Setelah Anda berhasil mengorek keterangan penting secara susah payah, ternyata nara sumber Anda keberatan disebut jatidirinya. "Baiklah, saya akan jelaskan duduk soalnya. Tapi jangan kutip saya sebagai sumbernya ya." Atau, "Saya bersedia bicara, kalau Anda menjamin bahwa hal itu Anda peroleh dari sumber yang layak dipercaya." Anda kecewa? Pasti. Sebab informasi penting itu pasti akan lebih bernilai berita jika Anda bisa menyebut sumber sebenarnya.
Jadi bagaimana ?
Pura-pura setuju, tapi diam-diam menyebut nama sumber itu ? Atau, menulis berita itu sedemikian rupa, agar sumber berita Anda mudah dikenali meski samar-samar ?
Kalau kami jadi Anda, dalam keadaan seperti itu, tak syak, kami akan memilih menyetujui tawarannya dan menghormati kesepakatan itu: menyembunyikan identitas sumber Anda. Atau
menulis berita itu, dengan cara sedemikian rupa, tanpa menghubungkannya sama sekali dengan sumber tadi. Setidak-tidaknya, dengan cara itu, Anda akan beroleh kepercayaan dari
sumber berita Anda. Dan di lain waktu, tidak mustahil, Anda bisa berharap ia akan secara lebih terbuka memberikan informasi-informasi yang lebih penting kepada Anda. Tul nggak?
Salam kompak,
Khalayak Anda
EUFIMISME DAN SIKAP KRITIS ANDA
Dear Journalist,
Baiklah. Anda ingin agar pemberitaan Anda tidak perlu membuat kami resah, dan bergolak. Dan solusinya gampang saja: Anda mencoba menggunakan eufimisme atau kata-kata pelembut sebagai gantinya.
Untuk menyebut "desa miskin" Anda 'terpaksa' menggunakan kata, "desa tertinggal", untuk menyebut kata "kelaparan" Anda mengubahnya dengan sebutan "rawan pangan" dan seterusnya.
Sungguh, sampai-sampai kami merasa bahwa negeri kita ini subur makmur lohjinawi. Tak ada kelaparan dan tak ada kemiskinan. Ah, rasanya kami kini sudah bisa hidup lebih tenteram dan tidur lebih nyenyak.
Anda juga sering menggunakan kata "diamankan" untuk mengganti makna kata "ditahan". Yang bener aje.Sejauh yang kami tahu, seseorang yang yang ditahan, biasanya malah merasa hidupnya tak aman karena kehilangan kebebasan dan seterusnya. Apakah kesan kami itu salah?
Pemerintah tidak melakukan "penggusuran", begitu kata Anda, tapi melakukan "pembebasan tanah". Jangan konyol, Bung.Kenyataannya, banyak dari kami tidak ingin pindah dari rumah
dan tanah asal ke tempat baru. Padahal kata "pembebasan tanah", yang terdengar sangat manusiawi mengandung pengertian bahwa kedua belah pihak, ada kesepakatan. Sebaliknya pada kata "penggusuran" mengandung arti pemaksaan dari kebebasan dan berlawanan dengan
hak asasi kepemilikan.
Betapa pun, kami hargai upaya Anda 'membantu' pemerintah dalam menjaga ketertiban dan keamanan nasional, tapi haraplah bersikap kritis, juga kepada bahasa yang Anda gunakan.
Salam kompak selalu,
Khalayak Anda
Baiklah. Anda ingin agar pemberitaan Anda tidak perlu membuat kami resah, dan bergolak. Dan solusinya gampang saja: Anda mencoba menggunakan eufimisme atau kata-kata pelembut sebagai gantinya.
Untuk menyebut "desa miskin" Anda 'terpaksa' menggunakan kata, "desa tertinggal", untuk menyebut kata "kelaparan" Anda mengubahnya dengan sebutan "rawan pangan" dan seterusnya.
Sungguh, sampai-sampai kami merasa bahwa negeri kita ini subur makmur lohjinawi. Tak ada kelaparan dan tak ada kemiskinan. Ah, rasanya kami kini sudah bisa hidup lebih tenteram dan tidur lebih nyenyak.
Anda juga sering menggunakan kata "diamankan" untuk mengganti makna kata "ditahan". Yang bener aje.Sejauh yang kami tahu, seseorang yang yang ditahan, biasanya malah merasa hidupnya tak aman karena kehilangan kebebasan dan seterusnya. Apakah kesan kami itu salah?
Pemerintah tidak melakukan "penggusuran", begitu kata Anda, tapi melakukan "pembebasan tanah". Jangan konyol, Bung.Kenyataannya, banyak dari kami tidak ingin pindah dari rumah
dan tanah asal ke tempat baru. Padahal kata "pembebasan tanah", yang terdengar sangat manusiawi mengandung pengertian bahwa kedua belah pihak, ada kesepakatan. Sebaliknya pada kata "penggusuran" mengandung arti pemaksaan dari kebebasan dan berlawanan dengan
hak asasi kepemilikan.
Betapa pun, kami hargai upaya Anda 'membantu' pemerintah dalam menjaga ketertiban dan keamanan nasional, tapi haraplah bersikap kritis, juga kepada bahasa yang Anda gunakan.
Salam kompak selalu,
Khalayak Anda
NAMA ADALAH SEGALA-GALANYA
Dear Journalist,
Shakespeare bilang what's in a name. Apalah arti sebuah nama, katanya. Tapi bagi bangsa kita, hal itu tak bisa ditawar lagi, nama adalah segala-galanya. Name is everything. Untuk mendapatkan sebuah nama, orangtua kita telah memikirkan lama sejak kita masih di kandung badan. Mereka mengharap agar nama kita punya makna penting, yang mungkin berupa harapan, impian atau keinginan mereka. Demikian halnya ketika kita punyai anak, kita pun akan melakukan hal yang sama: berusaha memberi nama pada anak kita sebuah nama yang memiliki makna mendalam, sampai ke titik koma.
Itu sebabnya nama kami, mungkin tampak agak aneh bagi Anda. Misalnya, Habibie bukan Habibi, Try Sutrisno bukan Tri Sutrisno, Junaedhie bukan Junaedi atau Djunaedi, Jakob Oetama, bukan Jakob Utama, misalnya.
Ada kalanya, nama kami yang ada huruf "u"-nya, harus ditulis, dengan "oe"; atau yang satu menggunakan oe, satunya lagi menggunakan u. Maksudnya, gabungan dari ejaan lama dan ejaan baru. Misalnya, Soepardjo Rustam, Roeslan Abdulgani, Joedo Sumbono dan lain sebagainya. Keanehan ini juga mungkin Anda rasakan, bila nama kami ternyata Edy, Edhie, Eddy, atau Edi.
Anda juga akan disebut ceroboh bila menganggap bahwa nama kami yang berakhir dengan huruf o, selalu diartikan bahwa kami berasal dari Jawa; atau nama kami yang berakhiran a selalu ditafsirkan selalu berasal dari Jawa Barat. Contohnya, meski berasal dari suku Jawa, nama penyanyi Kla Project adalah Katon Bagaskara bukan Katon Bagaskoro.
Ya, sekali lagi, bagi kami, nama itu sangat penting. Nama itu segala-galanya. Yang penting Anda menuliskan nama kami secara benar, baik ejaan maupun pemenggalannya. Karena hal itu tidak hanya menunjukkan bahwa Anda tidak akurat, tapi juga Anda tidak menghargai kami dan Anda menyepelekan kami.
Kesalahan-kesalahan menulis nama kami yang lebih parah adalah jika Anda mestinya menulis nama Soekamto Suryohadiprojo menjadi Sukamto Sajidiman, misalnya. Ini sungguh keterlaluan.
Jadi, jangan malas untuk bertanya pada kami dalam menuliskan nama kami secara baik dan benar; atau meminta kartu nama kami, setiap kali Anda mewawancarai kami. Atau menelepon sekretaris kami untuk menanyakan hal ini. Membalik-balik buku petunjuk telepon, atau buku Apa & Siapa juga dianjurkan, meski, konfirmasi untuk itu tetap disarankan. Ingat: menulis nama dengan benar dan baik, adalah salah satu pengetahuan etiket paling elementer dalam dunia komunikasi.
Dan itu jugalah yang seyogyanya Anda lakukan ketika Anda harus menulis pangkat atau jabatan kami. Apakah, Managing Director, Assistant Manager, Director Assistant, Executive Director, Vice President, dan lain sebagainya. Jangan sampai Anda menyebut jabatan kami sebagai Presiden Komisaris, bila kami adalah Presiden Direktur, misalnya. Jika ini terjadi, kesalahan Anda rasanya juga tak terampunkan.
Salam kompak,
Khalayak Anda
Shakespeare bilang what's in a name. Apalah arti sebuah nama, katanya. Tapi bagi bangsa kita, hal itu tak bisa ditawar lagi, nama adalah segala-galanya. Name is everything. Untuk mendapatkan sebuah nama, orangtua kita telah memikirkan lama sejak kita masih di kandung badan. Mereka mengharap agar nama kita punya makna penting, yang mungkin berupa harapan, impian atau keinginan mereka. Demikian halnya ketika kita punyai anak, kita pun akan melakukan hal yang sama: berusaha memberi nama pada anak kita sebuah nama yang memiliki makna mendalam, sampai ke titik koma.
Itu sebabnya nama kami, mungkin tampak agak aneh bagi Anda. Misalnya, Habibie bukan Habibi, Try Sutrisno bukan Tri Sutrisno, Junaedhie bukan Junaedi atau Djunaedi, Jakob Oetama, bukan Jakob Utama, misalnya.
Ada kalanya, nama kami yang ada huruf "u"-nya, harus ditulis, dengan "oe"; atau yang satu menggunakan oe, satunya lagi menggunakan u. Maksudnya, gabungan dari ejaan lama dan ejaan baru. Misalnya, Soepardjo Rustam, Roeslan Abdulgani, Joedo Sumbono dan lain sebagainya. Keanehan ini juga mungkin Anda rasakan, bila nama kami ternyata Edy, Edhie, Eddy, atau Edi.
Anda juga akan disebut ceroboh bila menganggap bahwa nama kami yang berakhir dengan huruf o, selalu diartikan bahwa kami berasal dari Jawa; atau nama kami yang berakhiran a selalu ditafsirkan selalu berasal dari Jawa Barat. Contohnya, meski berasal dari suku Jawa, nama penyanyi Kla Project adalah Katon Bagaskara bukan Katon Bagaskoro.
Ya, sekali lagi, bagi kami, nama itu sangat penting. Nama itu segala-galanya. Yang penting Anda menuliskan nama kami secara benar, baik ejaan maupun pemenggalannya. Karena hal itu tidak hanya menunjukkan bahwa Anda tidak akurat, tapi juga Anda tidak menghargai kami dan Anda menyepelekan kami.
Kesalahan-kesalahan menulis nama kami yang lebih parah adalah jika Anda mestinya menulis nama Soekamto Suryohadiprojo menjadi Sukamto Sajidiman, misalnya. Ini sungguh keterlaluan.
Jadi, jangan malas untuk bertanya pada kami dalam menuliskan nama kami secara baik dan benar; atau meminta kartu nama kami, setiap kali Anda mewawancarai kami. Atau menelepon sekretaris kami untuk menanyakan hal ini. Membalik-balik buku petunjuk telepon, atau buku Apa & Siapa juga dianjurkan, meski, konfirmasi untuk itu tetap disarankan. Ingat: menulis nama dengan benar dan baik, adalah salah satu pengetahuan etiket paling elementer dalam dunia komunikasi.
Dan itu jugalah yang seyogyanya Anda lakukan ketika Anda harus menulis pangkat atau jabatan kami. Apakah, Managing Director, Assistant Manager, Director Assistant, Executive Director, Vice President, dan lain sebagainya. Jangan sampai Anda menyebut jabatan kami sebagai Presiden Komisaris, bila kami adalah Presiden Direktur, misalnya. Jika ini terjadi, kesalahan Anda rasanya juga tak terampunkan.
Salam kompak,
Khalayak Anda
BUAH SIMALAKAMA PORNOGRAFI
Dear Journalist,
Membereskan persoalan pers porno, atau pemberitaan yang mengarah ke selera rendah ternyata bagaikan buah simalakama, setidak-tidaknya bagi kami. Kalau kami tidak menegur cara, bentuk dan isi pemberitaan Anda yang cenderung berselera rendah, kami khawatir Anda akan keterusan. Tapi jika kami menegur Anda, yang kami khawatirkan, justru effek baliknya: pemberitaan soal teguran kami itu akan otomatis menjadi promosi murah bagi Anda.
Setidak-tidaknya, pengalaman menunjukkan, bahwa teguran yang dilakukan secara terbuka, --misalnya dengan menyiarkannya lewat TV atau siaran pers-- dengan menyebut nama medianya, justru membuat maksud dan tujuan teguran menjadi bias. Karena biasanya masyarakat malah memburu majalah bersangkutan, dan pada akhirnya majalah itu malah diuntungkan. Hal itu bisa dimaklumi, karena orang biasanya lalu tergoda, untuk mengetahui (membuktikan) sampai sejauh mana, nilai atau kadar pornografi yang dimaksudkan tersebut.
Itulah yang menyebabkan kemudian teguran-teguran oleh instansi-instansi pemerintah yang berwenang untuk itu terhadap Anda, di zaman Orde Baru dulu dilakukan di bawah tangan, bersifat tertutup, dan bersifat 'pembinaan' atau persuasif.
Apakah setelah Orde Baru gulung tikar, dan Deppen dilikuidasi di zaman Presiden Gus Dur Anda kemudian merasa bebas? Tidak, bung. Pelanggaran kode etik ini tetap kami pandang sebagai dosa tidak terampunkan.
Apakah Anda perlu contoh kasus terlebih dulu agar Anda jera ?
Pada pertengahan tahun 2006, ketika edisi perdana Playboy versi Indonesia itu terbit, sejumlah organisasi massa mengamuk, dan kantor majalah asal AS itu nyaris remuk-redam diamuk massa. Orang-orang itu juga kemudian melakukan sweeping untuk membakar media massa porno yang banyak beredar di pasaran.
Celakanya, Dewan Pers, lembaga swadaya yang anggotanya terdiri dari masyarakat pers sendiri (menurut salah seorang ketuanya, Leo Batubara), tidak bisa berbuat apa-apa karena masalah pornografi menjadi wewenang kepolisian atau kejaksaan.
Jika kepolisian dan kejaksaan juga tak bisa berbuat apa-apa, maka jangan salahkan, kami pasti bertindak.
Apakah Anda berharap kami menganggap Anda mati syahid dan jagoan, jika media Anda, diberangus karena persoalan-persoalan di seputar selera dasar dan rendah manusia ini ? Atau, karena pada dasarnya memang benar, bahwa hal itu merupakan kebutuhan dan kesenangan khalayak ramai, termasuk kami ?
Salam kompak selalu,
Khalayak Anda
Membereskan persoalan pers porno, atau pemberitaan yang mengarah ke selera rendah ternyata bagaikan buah simalakama, setidak-tidaknya bagi kami. Kalau kami tidak menegur cara, bentuk dan isi pemberitaan Anda yang cenderung berselera rendah, kami khawatir Anda akan keterusan. Tapi jika kami menegur Anda, yang kami khawatirkan, justru effek baliknya: pemberitaan soal teguran kami itu akan otomatis menjadi promosi murah bagi Anda.
Setidak-tidaknya, pengalaman menunjukkan, bahwa teguran yang dilakukan secara terbuka, --misalnya dengan menyiarkannya lewat TV atau siaran pers-- dengan menyebut nama medianya, justru membuat maksud dan tujuan teguran menjadi bias. Karena biasanya masyarakat malah memburu majalah bersangkutan, dan pada akhirnya majalah itu malah diuntungkan. Hal itu bisa dimaklumi, karena orang biasanya lalu tergoda, untuk mengetahui (membuktikan) sampai sejauh mana, nilai atau kadar pornografi yang dimaksudkan tersebut.
Itulah yang menyebabkan kemudian teguran-teguran oleh instansi-instansi pemerintah yang berwenang untuk itu terhadap Anda, di zaman Orde Baru dulu dilakukan di bawah tangan, bersifat tertutup, dan bersifat 'pembinaan' atau persuasif.
Apakah setelah Orde Baru gulung tikar, dan Deppen dilikuidasi di zaman Presiden Gus Dur Anda kemudian merasa bebas? Tidak, bung. Pelanggaran kode etik ini tetap kami pandang sebagai dosa tidak terampunkan.
Apakah Anda perlu contoh kasus terlebih dulu agar Anda jera ?
Pada pertengahan tahun 2006, ketika edisi perdana Playboy versi Indonesia itu terbit, sejumlah organisasi massa mengamuk, dan kantor majalah asal AS itu nyaris remuk-redam diamuk massa. Orang-orang itu juga kemudian melakukan sweeping untuk membakar media massa porno yang banyak beredar di pasaran.
Celakanya, Dewan Pers, lembaga swadaya yang anggotanya terdiri dari masyarakat pers sendiri (menurut salah seorang ketuanya, Leo Batubara), tidak bisa berbuat apa-apa karena masalah pornografi menjadi wewenang kepolisian atau kejaksaan.
Jika kepolisian dan kejaksaan juga tak bisa berbuat apa-apa, maka jangan salahkan, kami pasti bertindak.
Apakah Anda berharap kami menganggap Anda mati syahid dan jagoan, jika media Anda, diberangus karena persoalan-persoalan di seputar selera dasar dan rendah manusia ini ? Atau, karena pada dasarnya memang benar, bahwa hal itu merupakan kebutuhan dan kesenangan khalayak ramai, termasuk kami ?
Salam kompak selalu,
Khalayak Anda
JANGAN ABAIKAN KATA-KATA
Dear Journalist,
Dalam surat kami terdahulu, kami pernah mengutip ucapan Betty Billip, "Kata-kata lisan atau tulisan yang paling menyedihkan adalah kata-kata yang tidak Anda pikir ketika itu." Hal ini menjadi serius karena alat komunikasi Anda adalah kata-kata. Itu sebabnya, sebagai wartawan Anda selalu disarankan untuk tak henti-henti memperkaya kosa kata Anda. Karena semakin kaya kosa kata Anda, semakin mudah dan efektif pula Anda menyampaikan gagasan atau pesan Anda.
"Orang yang menguasai kata-kata akan memilih secara jitu kata-kata yang paling harmonis untuk mewakili gagasan dan maksudnya," begitu kata pakar. Sehingga Anda mestinya tahu kapan seharusnya menggunakan kata intip, dan kapan menggunakan kata intai, meskipun kata-kata itu bersinonim. Hahaha... kita pasti akan sakit perut dibuatnya jika membaca tulisan: "Si Badu mengintai orang mandi", dan "para gerilyawan kita mengintip kubu musuh."
Oya, di samping itu, disarankan pula agar Anda selalu mempertimbangkan apakah kata-kata yang menurut Anda sudah tepat itu dapat diterima oleh khalayak Anda yang terdiri dari berbagai usia, latar belakang pendidikan, ekonomi dan asal usul ini, yang kadang juga diiikat oleh berbagai norma menghendaki agar kata yang Anda pilih juga harus cocok dan serasi dengan norma-norma mereka. Itu sebabnya sebaiknya Anda selalu menggunakan kata wafat, mangkat, berpulang atau tutup usia jika ada seorang tokoh yang meninggal dunia, dan bukan menggunakan kata tewas atau mati. Mungkin pengertiannya sama saja, yaitu "peristiwa di mana jiwa seseorang telah meninggalkan badannya". Namun kata-kata yang pertama terasa mengandung konotasi tertentu yang lebih sopan.
Sampai di sini izinkanlah kami --sori-- mengingatkan Anda kembali, bahwa kata-kata memiliki makna denotatif dan konotatif. Kata-kata yang bersifat denotatif adalah kata-kata yang tidak memiliki arti dan perasaan tambahan atau bebas interpretasi. Sedang kata-kata disebut bersifat konotatif jika kata-kata itu memikiki arti dan perasaan tambahan atau bisa diinterpretasikan. Itu menurut Gorys Keraf, dalam bukunya, "Diksi dan Gaya Bahasa". Dari sini bisa kita pahami mengapa seharusnya Anda selalu mempertimbangkan baik-baik kata-kata atau istilah-istilah tertentu yang hendak Anda gunakan.
Kata demokrasi atau kerakyatan bagi seorang penganut ajaran komunis, akan berbeda pengertiannya dengan penafsiran seorang penganut ajaran liberal. Demikian juga, istilah liberal akan memiliki makna berbeda, bagi orang Amerika maupun bagi kita. Kata kiri dan kanan ternyata juga tak hanya berarti tempat atau arah, tapi terkadang punya arti tertentu. Kata domba, alkitab atau anak Allah, bagi penganut Kristiani tentu akan punya makna tersendiri, demikian juga kata umat atau Allah, bagi kaum muslimin. Karena itu jangan pandang enteng dalam soal kata-kata ini. Sebab jika Anda menggunakan kata yang menurut Anda benar dan tepat tapi menurut sebagian dari kami punya makna tertentu, yang terjadi adalah kesalahpahaman dan konflik. Dan hal itu kadang juga berakibat serius.
Karena itu menurut hemat kami, sebagai wartawan, Anda tetap kami sarankan untuk tetap memilih kata dan menggunakan kata yang bersifat denotatif, atau yang bebas dari penafsiran. Dengan memilih kata yang lebih netral dan bisa diterima oleh semua orang, Anda tidak membuat kami tenteram tapi kami senang membacanya. Selalu ingat, kami terdiri dari berbagai usia, latar belakang pendidikan, ekonomi dan asal usul.
Salam kompak selalu
Khalayak Anda
Dalam surat kami terdahulu, kami pernah mengutip ucapan Betty Billip, "Kata-kata lisan atau tulisan yang paling menyedihkan adalah kata-kata yang tidak Anda pikir ketika itu." Hal ini menjadi serius karena alat komunikasi Anda adalah kata-kata. Itu sebabnya, sebagai wartawan Anda selalu disarankan untuk tak henti-henti memperkaya kosa kata Anda. Karena semakin kaya kosa kata Anda, semakin mudah dan efektif pula Anda menyampaikan gagasan atau pesan Anda.
"Orang yang menguasai kata-kata akan memilih secara jitu kata-kata yang paling harmonis untuk mewakili gagasan dan maksudnya," begitu kata pakar. Sehingga Anda mestinya tahu kapan seharusnya menggunakan kata intip, dan kapan menggunakan kata intai, meskipun kata-kata itu bersinonim. Hahaha... kita pasti akan sakit perut dibuatnya jika membaca tulisan: "Si Badu mengintai orang mandi", dan "para gerilyawan kita mengintip kubu musuh."
Oya, di samping itu, disarankan pula agar Anda selalu mempertimbangkan apakah kata-kata yang menurut Anda sudah tepat itu dapat diterima oleh khalayak Anda yang terdiri dari berbagai usia, latar belakang pendidikan, ekonomi dan asal usul ini, yang kadang juga diiikat oleh berbagai norma menghendaki agar kata yang Anda pilih juga harus cocok dan serasi dengan norma-norma mereka. Itu sebabnya sebaiknya Anda selalu menggunakan kata wafat, mangkat, berpulang atau tutup usia jika ada seorang tokoh yang meninggal dunia, dan bukan menggunakan kata tewas atau mati. Mungkin pengertiannya sama saja, yaitu "peristiwa di mana jiwa seseorang telah meninggalkan badannya". Namun kata-kata yang pertama terasa mengandung konotasi tertentu yang lebih sopan.
Sampai di sini izinkanlah kami --sori-- mengingatkan Anda kembali, bahwa kata-kata memiliki makna denotatif dan konotatif. Kata-kata yang bersifat denotatif adalah kata-kata yang tidak memiliki arti dan perasaan tambahan atau bebas interpretasi. Sedang kata-kata disebut bersifat konotatif jika kata-kata itu memikiki arti dan perasaan tambahan atau bisa diinterpretasikan. Itu menurut Gorys Keraf, dalam bukunya, "Diksi dan Gaya Bahasa". Dari sini bisa kita pahami mengapa seharusnya Anda selalu mempertimbangkan baik-baik kata-kata atau istilah-istilah tertentu yang hendak Anda gunakan.
Kata demokrasi atau kerakyatan bagi seorang penganut ajaran komunis, akan berbeda pengertiannya dengan penafsiran seorang penganut ajaran liberal. Demikian juga, istilah liberal akan memiliki makna berbeda, bagi orang Amerika maupun bagi kita. Kata kiri dan kanan ternyata juga tak hanya berarti tempat atau arah, tapi terkadang punya arti tertentu. Kata domba, alkitab atau anak Allah, bagi penganut Kristiani tentu akan punya makna tersendiri, demikian juga kata umat atau Allah, bagi kaum muslimin. Karena itu jangan pandang enteng dalam soal kata-kata ini. Sebab jika Anda menggunakan kata yang menurut Anda benar dan tepat tapi menurut sebagian dari kami punya makna tertentu, yang terjadi adalah kesalahpahaman dan konflik. Dan hal itu kadang juga berakibat serius.
Karena itu menurut hemat kami, sebagai wartawan, Anda tetap kami sarankan untuk tetap memilih kata dan menggunakan kata yang bersifat denotatif, atau yang bebas dari penafsiran. Dengan memilih kata yang lebih netral dan bisa diterima oleh semua orang, Anda tidak membuat kami tenteram tapi kami senang membacanya. Selalu ingat, kami terdiri dari berbagai usia, latar belakang pendidikan, ekonomi dan asal usul.
Salam kompak selalu
Khalayak Anda
12 Mei 2009
Seni Bertanya
SENI BERTANYA
Dear journalist,
Benarkah siapa pun bisa jadi wartawan, selama tidak bisu dan bisa mengajukan pertanyaan? Salah. Sekadar mengajukan pertanyaan, anak ingusan pun bisa. Tapi bagaimana bertanya dan mengajukan pertanyaan dengan baik, jelas bukan urusan anak ingusan dong.
Apa pun kata orang, wartawan yang baik adalah juga pewawancara yang baik. Sebab harus diingat bahwa tujuan wartawan mengajukan pertanyaan adalah bukan sekadar untuk memperoleh apa yang ingin Anda ketahui dari orang yang Anda wawancara. Dengan kata lain: Anda bertanya bukan karena kepala Anda kosong melainkan Anda tahu, dan justru karena itu Anda bertanya.
Yang selalu menjadi soal dalam berwawancara adalah, keinginan Anda sering tidak klop dengan keinginan orang yang Anda wawancarai. Sementara apa yang ingin Anda ketahui juga belum tentu sesuatu yang juga ingin ia ceritakan untuk Anda.
Pada akhirnya, wawancara memang sebuah seni. Dan Anda akan disebut berhasil jika Anda menguasai seni itu.
Salam kompak,
Khayalak Anda
Dear journalist,
Benarkah siapa pun bisa jadi wartawan, selama tidak bisu dan bisa mengajukan pertanyaan? Salah. Sekadar mengajukan pertanyaan, anak ingusan pun bisa. Tapi bagaimana bertanya dan mengajukan pertanyaan dengan baik, jelas bukan urusan anak ingusan dong.
Apa pun kata orang, wartawan yang baik adalah juga pewawancara yang baik. Sebab harus diingat bahwa tujuan wartawan mengajukan pertanyaan adalah bukan sekadar untuk memperoleh apa yang ingin Anda ketahui dari orang yang Anda wawancara. Dengan kata lain: Anda bertanya bukan karena kepala Anda kosong melainkan Anda tahu, dan justru karena itu Anda bertanya.
Yang selalu menjadi soal dalam berwawancara adalah, keinginan Anda sering tidak klop dengan keinginan orang yang Anda wawancarai. Sementara apa yang ingin Anda ketahui juga belum tentu sesuatu yang juga ingin ia ceritakan untuk Anda.
Pada akhirnya, wawancara memang sebuah seni. Dan Anda akan disebut berhasil jika Anda menguasai seni itu.
Salam kompak,
Khayalak Anda
Kapan Sebaiknya Mengeluarkan Senjata Anda
KAPAN SEBAIKNYA MENGGUNAKAN SENJATA ANDA
Dear Journalist,
Seorang pemburu tahu kapan menggunakan senjatanya. Sama halnya seorang wartawan yang baik, tahu saat terbaik mengeluarkan senjatanya. Yaitu: peralatan kerjanya berupa buku catatan, kamera dan tape-recorder. Ada saatnya, Anda harus berhati-hati mengeluarkan senjata-senjata itu, di depan nara sumber Anda. Maklum. Tak sedikit orang menjadi tegang bila melihat ada wartawan membidikkan kameranya ke arah mereka. Swear!
Tak kurang dari buku "A Journalist Guide" yang diterbitkan oleh South East Asia Press Centre Kuala Lumpur sampai perlu mengingatkan agar seorang wartawan berhati-hati memperlihatkan buku catatannya di depan orang yang sedang diwawancara. "Sebaiknya jalin dulu hubungan orang yang hendak diwawancarai. Kalau masih ada harapan bahwa ia tidak akan keberatan dengan buku catatan itu, coba keluarkan dengan hati-hati. Misalnya dengan mengatakan, Anda barangkali tidak keberatan kalau saya membuat catatan ? Saya hanya ingin menjaga supaya fakta saya tepat."
Buku catatan sebagai peralatan wawancara jelas mutlak perlu. Ingat, tak ada anjuran sama sekali agar Anda petentengan, atau sok PD (percaya diri) denagn tidak membuat catatan, selama melakukan wawancara!
Dalam wawancara panjang, apalagi penuh dengan data dan fakta, buku catatan mutlak perlu, sekalipun Anda sudah memasang alat perekam. Tapi itu tadi, mengingat watak nara sumber tidak selalu sama, sebaiknya Anda mengeluarkannya secara hati-hati. Karena itu ada saran, bila wawancara berlangsung pendek saja, apalagi bila tidak menyangkut data dan fakta, gunakan saja ingatan Anda. Tapi segera tulis kembali begitu memungkinkan.
Pemakaian alat perekam secara gegabah seringkali membuat nara sumber tertentu langsung menarik diri, dan menolak melanjutkan wawancara dengan sejuta alasan, semata hanya tiba-tiba ia sadar dirinya sedang diwawancarai seorang wartawan.
Hal-hal ini bagaimana pun perlu kami kemukakan di sini, mengingat, kami sering melihat kecenderungan Anda sebagai wartawan untuk selalu menggunakan peralatan kerja secara tidak efektif. Misalnya, mewawancara sekumpulan orang yang akan dimintai pendapatnya tentang suatu kejadian saja, masih ada di antara Anda yang lebih merasa keren dan terhormat bila menggunakan mini tape recorder. Yang bener aja.
Salam kompak selalu,
Khalayak Anda
Dear Journalist,
Seorang pemburu tahu kapan menggunakan senjatanya. Sama halnya seorang wartawan yang baik, tahu saat terbaik mengeluarkan senjatanya. Yaitu: peralatan kerjanya berupa buku catatan, kamera dan tape-recorder. Ada saatnya, Anda harus berhati-hati mengeluarkan senjata-senjata itu, di depan nara sumber Anda. Maklum. Tak sedikit orang menjadi tegang bila melihat ada wartawan membidikkan kameranya ke arah mereka. Swear!
Tak kurang dari buku "A Journalist Guide" yang diterbitkan oleh South East Asia Press Centre Kuala Lumpur sampai perlu mengingatkan agar seorang wartawan berhati-hati memperlihatkan buku catatannya di depan orang yang sedang diwawancara. "Sebaiknya jalin dulu hubungan orang yang hendak diwawancarai. Kalau masih ada harapan bahwa ia tidak akan keberatan dengan buku catatan itu, coba keluarkan dengan hati-hati. Misalnya dengan mengatakan, Anda barangkali tidak keberatan kalau saya membuat catatan ? Saya hanya ingin menjaga supaya fakta saya tepat."
Buku catatan sebagai peralatan wawancara jelas mutlak perlu. Ingat, tak ada anjuran sama sekali agar Anda petentengan, atau sok PD (percaya diri) denagn tidak membuat catatan, selama melakukan wawancara!
Dalam wawancara panjang, apalagi penuh dengan data dan fakta, buku catatan mutlak perlu, sekalipun Anda sudah memasang alat perekam. Tapi itu tadi, mengingat watak nara sumber tidak selalu sama, sebaiknya Anda mengeluarkannya secara hati-hati. Karena itu ada saran, bila wawancara berlangsung pendek saja, apalagi bila tidak menyangkut data dan fakta, gunakan saja ingatan Anda. Tapi segera tulis kembali begitu memungkinkan.
Pemakaian alat perekam secara gegabah seringkali membuat nara sumber tertentu langsung menarik diri, dan menolak melanjutkan wawancara dengan sejuta alasan, semata hanya tiba-tiba ia sadar dirinya sedang diwawancarai seorang wartawan.
Hal-hal ini bagaimana pun perlu kami kemukakan di sini, mengingat, kami sering melihat kecenderungan Anda sebagai wartawan untuk selalu menggunakan peralatan kerja secara tidak efektif. Misalnya, mewawancara sekumpulan orang yang akan dimintai pendapatnya tentang suatu kejadian saja, masih ada di antara Anda yang lebih merasa keren dan terhormat bila menggunakan mini tape recorder. Yang bener aja.
Salam kompak selalu,
Khalayak Anda
Pahami Topik Anda
PAHAMI TOPIK ANDA
Dear Journalist,
Banyak rekan-rekan Anda yang cenderung mengajukan jenis-jenis pertanyaan tertentu yang menunjukkan bahwa 'kelihatannya' mereka bodoh dan tidak tahu permasalahan yang dibicarakannya. Misalnya dengan mengajukan pertanyaan, "Apa pendapat Anda tentang....", "Lalu menurut Anda ?", " Terus bagaimana ?", "O..." sambil mengangguk-anggukkan kepala.
Ini adalah pertanyaan umum, tidak spesifik, dan sama sekali tidak menunjukkan bahwa Anda 'kelihatan' pintar dan menguasai persoalan.
Percayalah. Ini benar-benar menjadi celaka 12, bila Anda bekerja di media elektronik seperti televisi atau radio, apalagi bila wawancara itu disiarkan secara langsung. Karena disiarkan secara langsung, maka pertanyaan yang dilontarkan secara terbata-bata pun akan segera menimbulkan belas kasihan. Jadi, masih mending, memang, bila Anda bekerja di media cetak. Betapa pun tolol, dungu, atau bloonnya pertanyaan Anda, para redaktur Anda, siap memolesnya agar tampak menjadi sebuah tulisan yang lebih indah dari aslinya.
Sebetulnya ada cara mudah untuk 'kelihatan' pandai dan jenius.
Pelajari sebanyak mungkin segala permasalahan mengenai topik yang akan Anda bahas dari 1001 sumber, baik kliping, nara sumber lain, atau pendapat lain. Dan untuk itu Anda tak perlu bertahun-tahun mempelajarinya. Cukup luangkan waktu barang beberapa jam saja, menjelang w awancara dilakukan. Karena dari sana, Anda tak hanya akan mampu menyusun pertanyaan yang baik, juga akan mampu menguasai kendali wawancara. Itulah yang dilakukan oleh pewawancara hebat seperti Larry King atau Wimar Witoelar.
Menjadi 'kelihatan' hebat, itulah soalnya!
Salam kompak selalu
Khayalak Anda
Dear Journalist,
Banyak rekan-rekan Anda yang cenderung mengajukan jenis-jenis pertanyaan tertentu yang menunjukkan bahwa 'kelihatannya' mereka bodoh dan tidak tahu permasalahan yang dibicarakannya. Misalnya dengan mengajukan pertanyaan, "Apa pendapat Anda tentang....", "Lalu menurut Anda ?", " Terus bagaimana ?", "O..." sambil mengangguk-anggukkan kepala.
Ini adalah pertanyaan umum, tidak spesifik, dan sama sekali tidak menunjukkan bahwa Anda 'kelihatan' pintar dan menguasai persoalan.
Percayalah. Ini benar-benar menjadi celaka 12, bila Anda bekerja di media elektronik seperti televisi atau radio, apalagi bila wawancara itu disiarkan secara langsung. Karena disiarkan secara langsung, maka pertanyaan yang dilontarkan secara terbata-bata pun akan segera menimbulkan belas kasihan. Jadi, masih mending, memang, bila Anda bekerja di media cetak. Betapa pun tolol, dungu, atau bloonnya pertanyaan Anda, para redaktur Anda, siap memolesnya agar tampak menjadi sebuah tulisan yang lebih indah dari aslinya.
Sebetulnya ada cara mudah untuk 'kelihatan' pandai dan jenius.
Pelajari sebanyak mungkin segala permasalahan mengenai topik yang akan Anda bahas dari 1001 sumber, baik kliping, nara sumber lain, atau pendapat lain. Dan untuk itu Anda tak perlu bertahun-tahun mempelajarinya. Cukup luangkan waktu barang beberapa jam saja, menjelang w awancara dilakukan. Karena dari sana, Anda tak hanya akan mampu menyusun pertanyaan yang baik, juga akan mampu menguasai kendali wawancara. Itulah yang dilakukan oleh pewawancara hebat seperti Larry King atau Wimar Witoelar.
Menjadi 'kelihatan' hebat, itulah soalnya!
Salam kompak selalu
Khayalak Anda
Sok Tahu Sok Pamer
SOK TAHU, SOK PAMER, SOK PINTER
Dear Journalist,
Ada nasehat bagus dari para wartawan senior jika Anda ingin bertemu dan melakukan wawancara dengan seorang nara sumber penting: ciptakan rasa percaya pada orang itu. Dengan itu, Anda bisa berharap akan memperoleh jawaban dan informasi menarik, yang disampaikan secara terbuka dan blak-blakan.
Tapi rekan-rekan Anda yang pemula, biasanya justru gagal di bagian ini. Misalnya dengan mengatakan, "Seperti yang dikatakan Menko Polkam secara pribadi kepada saya kemarin....." Atau, "Menurut analisa saya, tingkat inflasi saat ini sunguh mencemaskan...." Atau, "Mungkin saya akan mengkonfirmasikan jawaban Bapak dengan Bapak Menteri besok, karena kebetulan saya akan bertemu dia."
Apakah menurut Anda, hal-hal ini bisa menimbulkan simpati dari nara sumber Anda ? Apakah menurut Anda, hal ini bisa membuat rasa kagum dari nara sumber Anda? Harus diakui, banyak wartawan kadang ingin menunjukkan dirinya pintar dan tahu permasalahan (termasuk sok tahu) di depan narasumbernya... Banyak pula, wartawan yang mengajukan pertanyaan berdasarkan kesimpulan yang salah untuk memprovokasi narasumbernya.
Selalu camkan. Bila Anda gagal memperoleh informasi yang penuh keterbukaan, itu juga kegagalan kami mendapatkan berita yang memikat. Juga ketahuilah, bahwa hasil wawancara yang baik, biasanya dihasilkan oleh sebuah kepribadian yang menarik perhatian dan memberi kesan baik. Juga sikap rendah hati.
Salam kompak selalu,
Khalayak Anda
Dear Journalist,
Ada nasehat bagus dari para wartawan senior jika Anda ingin bertemu dan melakukan wawancara dengan seorang nara sumber penting: ciptakan rasa percaya pada orang itu. Dengan itu, Anda bisa berharap akan memperoleh jawaban dan informasi menarik, yang disampaikan secara terbuka dan blak-blakan.
Tapi rekan-rekan Anda yang pemula, biasanya justru gagal di bagian ini. Misalnya dengan mengatakan, "Seperti yang dikatakan Menko Polkam secara pribadi kepada saya kemarin....." Atau, "Menurut analisa saya, tingkat inflasi saat ini sunguh mencemaskan...." Atau, "Mungkin saya akan mengkonfirmasikan jawaban Bapak dengan Bapak Menteri besok, karena kebetulan saya akan bertemu dia."
Apakah menurut Anda, hal-hal ini bisa menimbulkan simpati dari nara sumber Anda ? Apakah menurut Anda, hal ini bisa membuat rasa kagum dari nara sumber Anda? Harus diakui, banyak wartawan kadang ingin menunjukkan dirinya pintar dan tahu permasalahan (termasuk sok tahu) di depan narasumbernya... Banyak pula, wartawan yang mengajukan pertanyaan berdasarkan kesimpulan yang salah untuk memprovokasi narasumbernya.
Selalu camkan. Bila Anda gagal memperoleh informasi yang penuh keterbukaan, itu juga kegagalan kami mendapatkan berita yang memikat. Juga ketahuilah, bahwa hasil wawancara yang baik, biasanya dihasilkan oleh sebuah kepribadian yang menarik perhatian dan memberi kesan baik. Juga sikap rendah hati.
Salam kompak selalu,
Khalayak Anda
Anda Siap Tempur?
ANDA SIAP TEMPUR ?
Dear Journalist,
Seorang wartawan Amerika terkenal, pada suatu mewawancarai Raja Hussein dari Yordania. Ketika wawancara berlangsung dan ia perlu menulis catatan-catatan, eh, ia baru sadar, bahwa ia lupa membawa pulpen. Melihat sang wartawan panik, Raja Hussein segera tahu duduk soalnya. Ia bangkit berdiri, dan meminjamkan penanya, sebuah Parker dari emas 24 karat. Pada akhir wawancara, sang raja pun berkata, "Pakailah pena itu sebagai kenang-kenangan dari saya."
Wajah sang wartawan merah padam. Tentu saja. Karena hadiah itu bukan sebuah kenang-kenangan yang menyenangkan. Sebaliknya, sebuah tamparan memalukan bagi seorang wartawan pelupa. Begitulah, cerita yang disampaikan SM Ali, bekas Managing Editor Bangkok Post dan Kepala Eksekutif Press Foundation of Asia.
Apakah Anda selalu siap dengan peralatan kerja Anda setiap kali hendak menemui seorang tokoh dan melakukan wawancara ? Apakah buku catatan, pulpen, tape recorder atau bahkan kamera saku selalu tersedia di tas kerja Anda ? Yakinkah Anda bahwa barang-barang itu selalu tersedia lengkap dalam tas kerja Anda ?
Maklum. Kami masih sering memergoki, ada rekan Anda yang selama wawancara berlangsung, sibuk yang mencoret-coret catatan kertas atau membawa buku catatan sama sekali, ada rekan Anda nekad meminta secarik kertas dari orang yang tengah diwawancarainya untuk membuat catatan-catatan seperlunya. Ada pula rekan Anda yang ketika akan memasang tape recorder, baru sadar bahwa ia lupa mengisi batere, dan mengisi kasetnya. Atau, ada juga yang menggunakan kamera saku, tapi tidak sadar bahwa chipsnya kosong.
Sebaiknya, jangan sampai hal-hal yang mengurangi citra profesionalisme Anda itu terjadi. Persiapkan diri Anda sebagai profesional sejati.
Salam kompak selalu,
Khalayak Anda
Dear Journalist,
Seorang wartawan Amerika terkenal, pada suatu mewawancarai Raja Hussein dari Yordania. Ketika wawancara berlangsung dan ia perlu menulis catatan-catatan, eh, ia baru sadar, bahwa ia lupa membawa pulpen. Melihat sang wartawan panik, Raja Hussein segera tahu duduk soalnya. Ia bangkit berdiri, dan meminjamkan penanya, sebuah Parker dari emas 24 karat. Pada akhir wawancara, sang raja pun berkata, "Pakailah pena itu sebagai kenang-kenangan dari saya."
Wajah sang wartawan merah padam. Tentu saja. Karena hadiah itu bukan sebuah kenang-kenangan yang menyenangkan. Sebaliknya, sebuah tamparan memalukan bagi seorang wartawan pelupa. Begitulah, cerita yang disampaikan SM Ali, bekas Managing Editor Bangkok Post dan Kepala Eksekutif Press Foundation of Asia.
Apakah Anda selalu siap dengan peralatan kerja Anda setiap kali hendak menemui seorang tokoh dan melakukan wawancara ? Apakah buku catatan, pulpen, tape recorder atau bahkan kamera saku selalu tersedia di tas kerja Anda ? Yakinkah Anda bahwa barang-barang itu selalu tersedia lengkap dalam tas kerja Anda ?
Maklum. Kami masih sering memergoki, ada rekan Anda yang selama wawancara berlangsung, sibuk yang mencoret-coret catatan kertas atau membawa buku catatan sama sekali, ada rekan Anda nekad meminta secarik kertas dari orang yang tengah diwawancarainya untuk membuat catatan-catatan seperlunya. Ada pula rekan Anda yang ketika akan memasang tape recorder, baru sadar bahwa ia lupa mengisi batere, dan mengisi kasetnya. Atau, ada juga yang menggunakan kamera saku, tapi tidak sadar bahwa chipsnya kosong.
Sebaiknya, jangan sampai hal-hal yang mengurangi citra profesionalisme Anda itu terjadi. Persiapkan diri Anda sebagai profesional sejati.
Salam kompak selalu,
Khalayak Anda
Pertanyaan Gigih
PERTANYAAN YANG GIGIH
Dear Journalist,
Gigih, atau ngotot tidak selalu berarti tidak sopan. Kami malah salut pada wartawan seperti itu, untuk mendapatkan jawaban memuaskan. Berikut sebuah contoh:
Tanya : Apakah Bangladesh menghadapi kekurangan pangan ?
Jawab : Ya, memang demikian.
Tanya : Betapa besar kekurangan itu ?
Jawab : Saya rasa, saya tidak dapat nmenjawab pertanyaan itu.
Tanya : Apakah boleh saya artikan bahwa informasi tersebut bersifat rahasia ?
Jawab : Anda bebas menarik kesinmpulan sendiri. Akan tetapi saya tidak dapat menjawab pertanyaan Anda.
Tanya : Bangladesh Obersever melaporkan minggu lalu bahwa kekurangan pangan sekarang ini mencapai satu juta ton beras. Apakah Anda dapat memberi komnetar tentang hal itu ?
Jawab : (Kebingungan) Apakah Observer mengutip sumber resmi ?
Tanya : Ia mengutip kalangan resmi
Jawab : (Sesudah diam sejenak) Yaah, laporan Observer itu pada dasarnya tepat.
Tanya : Jadi, kita dapat mencatat bahwa kekurangan pangan itu pada waktu ini satu juta ton beras
Jawab : Baiklah, Anda boleh memakai angka itu. Akan tetapi jangan kutip saya sebagai sumbernya. Anda dapat mengatakan saja, "Menurut sumber-sumber yang dapat dipercaya...."
Tanya-jawab mengesankan antara seorang wartawan dan sumbernya itu kami peroleh dari tulisan SM Ali, berjudul, "Seni Melakukan Wawancara" yang dimuat dalam buku Wartawan Asia, terbitan Yayasan Obor, Jakarta, 1993.
Memang mengecewakan, karena ia tak dapat mengutip sumber aslinya. Tapi itulah yang terkadang situasi yang harus Anda hadapi. Dan memperoleh kepastian jawaban yang bagus, sudah merupakan prestasi tersendiri.
Salam kompak,
Khalayak Anda
Dear Journalist,
Gigih, atau ngotot tidak selalu berarti tidak sopan. Kami malah salut pada wartawan seperti itu, untuk mendapatkan jawaban memuaskan. Berikut sebuah contoh:
Tanya : Apakah Bangladesh menghadapi kekurangan pangan ?
Jawab : Ya, memang demikian.
Tanya : Betapa besar kekurangan itu ?
Jawab : Saya rasa, saya tidak dapat nmenjawab pertanyaan itu.
Tanya : Apakah boleh saya artikan bahwa informasi tersebut bersifat rahasia ?
Jawab : Anda bebas menarik kesinmpulan sendiri. Akan tetapi saya tidak dapat menjawab pertanyaan Anda.
Tanya : Bangladesh Obersever melaporkan minggu lalu bahwa kekurangan pangan sekarang ini mencapai satu juta ton beras. Apakah Anda dapat memberi komnetar tentang hal itu ?
Jawab : (Kebingungan) Apakah Observer mengutip sumber resmi ?
Tanya : Ia mengutip kalangan resmi
Jawab : (Sesudah diam sejenak) Yaah, laporan Observer itu pada dasarnya tepat.
Tanya : Jadi, kita dapat mencatat bahwa kekurangan pangan itu pada waktu ini satu juta ton beras
Jawab : Baiklah, Anda boleh memakai angka itu. Akan tetapi jangan kutip saya sebagai sumbernya. Anda dapat mengatakan saja, "Menurut sumber-sumber yang dapat dipercaya...."
Tanya-jawab mengesankan antara seorang wartawan dan sumbernya itu kami peroleh dari tulisan SM Ali, berjudul, "Seni Melakukan Wawancara" yang dimuat dalam buku Wartawan Asia, terbitan Yayasan Obor, Jakarta, 1993.
Memang mengecewakan, karena ia tak dapat mengutip sumber aslinya. Tapi itulah yang terkadang situasi yang harus Anda hadapi. Dan memperoleh kepastian jawaban yang bagus, sudah merupakan prestasi tersendiri.
Salam kompak,
Khalayak Anda
Kepakaran
KEPAKARAN
Dear Journalist,
Anda menyebut kami dengan sebutan menyenangkan, "pakar." Kadangkala Anda juga menyebut kami "pengamat" atau "pemerhati", sebuah julukan yang terus terang saja cukup membanggakan. Begitulah. Ada di antara kami yang Anda sebut sebagai "pengamat masalah sosial ekonomi", "pengamat masalah manajemen", "pengamat masalah seksualitas", dan sebagainya. Ya, sebagai ilmuwan atau intelektual, kami sadar bahwa Anda membutuhkan kerjasama kami. Apalagi dengan maraknya fenomena trend news yaitu berita-berita yang harus Anda bikin sendiri, kepakaran kami tentu saja akan menambah bobot tulisan Anda.
Kami senang. Dan kami merasa untuk itu kita memang bisa menjalin kerjasama yang baik. Anda butuh komentar atau tanggapan dari kami tentang sesuatu masalah, sementara kami merasa puas, karena oleh Anda, opini kami terlemparkan ke kancah perbincangan. Harapan kami: opini kami itu bisa menambah suasana dialogis di tengah masyarakat, yang pada akhirnya mudah-mudahan bisa ikut mencerdaskan bangsa.
Anda boleh saja berbasa-basi bahwa pendapat kami niscaya akan memberi warna dan bobot tersendiri pada tulisan Anda dan sebagainya. Padahal, alasan Anda memilih kami, bisa saja, karena sebagai sumber berita, kami relatif lebih gampang Anda temui (approachtable) dan selalu dalam keadaan siap menjawab apa saja pertanyaan Anda.
Mungkin juga, karena menurut Anda, kami tergolong kalangan yang suka bicara terbuka, ceplas-ceplos, kritis dan analitis. Sejauh ini kami memang mengakui tidak punya hambatan apa pun. Sifat kepakaran kami, rupanya memang telah membuat kami terbebas dari hambatan-hambatan psikologis, seperti takut dipecat, takut dicopot, takut ditegur dan sebagainya. Hal ini tentu berbeda dengan kawan-kawan kami, para birokrat.
Tapi jelas salah besar, jika karena itu, Anda menganggap kami bodoh atau memburu popularitas.
Sebagai intelektual, kami diajar untuk selalu bisa menjawab setiap pertanyaan yang diajukan. Kewajiban kami adalah memberitahu orang yang belum tahu.
Salam kompak selalu,
Khalayak Anda
Dear Journalist,
Anda menyebut kami dengan sebutan menyenangkan, "pakar." Kadangkala Anda juga menyebut kami "pengamat" atau "pemerhati", sebuah julukan yang terus terang saja cukup membanggakan. Begitulah. Ada di antara kami yang Anda sebut sebagai "pengamat masalah sosial ekonomi", "pengamat masalah manajemen", "pengamat masalah seksualitas", dan sebagainya. Ya, sebagai ilmuwan atau intelektual, kami sadar bahwa Anda membutuhkan kerjasama kami. Apalagi dengan maraknya fenomena trend news yaitu berita-berita yang harus Anda bikin sendiri, kepakaran kami tentu saja akan menambah bobot tulisan Anda.
Kami senang. Dan kami merasa untuk itu kita memang bisa menjalin kerjasama yang baik. Anda butuh komentar atau tanggapan dari kami tentang sesuatu masalah, sementara kami merasa puas, karena oleh Anda, opini kami terlemparkan ke kancah perbincangan. Harapan kami: opini kami itu bisa menambah suasana dialogis di tengah masyarakat, yang pada akhirnya mudah-mudahan bisa ikut mencerdaskan bangsa.
Anda boleh saja berbasa-basi bahwa pendapat kami niscaya akan memberi warna dan bobot tersendiri pada tulisan Anda dan sebagainya. Padahal, alasan Anda memilih kami, bisa saja, karena sebagai sumber berita, kami relatif lebih gampang Anda temui (approachtable) dan selalu dalam keadaan siap menjawab apa saja pertanyaan Anda.
Mungkin juga, karena menurut Anda, kami tergolong kalangan yang suka bicara terbuka, ceplas-ceplos, kritis dan analitis. Sejauh ini kami memang mengakui tidak punya hambatan apa pun. Sifat kepakaran kami, rupanya memang telah membuat kami terbebas dari hambatan-hambatan psikologis, seperti takut dipecat, takut dicopot, takut ditegur dan sebagainya. Hal ini tentu berbeda dengan kawan-kawan kami, para birokrat.
Tapi jelas salah besar, jika karena itu, Anda menganggap kami bodoh atau memburu popularitas.
Sebagai intelektual, kami diajar untuk selalu bisa menjawab setiap pertanyaan yang diajukan. Kewajiban kami adalah memberitahu orang yang belum tahu.
Salam kompak selalu,
Khalayak Anda
Mempersiapkan Pertanyaan
MEMPERSIAPKAN PERTANYAAN
Dear Journalist,
Seorang di antara Anda --jadi bukan Anda-- pada suatu hari datang pada sejawat kami, seorang psikolog, dan mengajukan pertanyaan, "Bagaimana pandangan Anda tentang fenomena wanita bekerja?" Psikolog itu langsung mendelik. "Kenapa hal itu Anda tanyakan pada saya? Bagi saya masalah itu sudah jelas. Wanita bekerja sudah ada sejak dulu. Apa lagi?" tanyanya, membuat si reporter teman Anda itu tergagap, dan kehilangan nyali melanjutkan pertanyaan berikutnya.
Menjelangi pertarungan antara Ellyas Pical melawan penantangnya dari Korea, seorang reporter --kawan Anda juga-- datang ke rumah ibunya, dan mengajukan pertanyaan: "Bagaimana pendapat ibu tentang persaingan tinju di kelas menengah ringan? Bagaimana pendapat ibu tentang adanya isyu permainan sabun yang dilakukan WBC?" Sudah bisa ditebak, hasilnya adalah sebuah jawaban yang tidak masuk akal, buruk dan tidak bermanfaat.
Mestinya sebelum menghubungi seorang nara-sumber, dan merancang pertemuan, Anda sudah harus menanyakan pada diri sendiri: kenapa Anda harus bersusah payah menanyakan persoalan itu kepada 'orang itu, dan tidak 'orang lain' saja? Swear, kami masih sering melihat Anda datang pada narasumber, tanpa memikirkan sebelumnya tentang kompetensi si narasumber.
Wimar Witoelar adalah contoh pewawancara yang baik. Rahasianya, hanyalah bahwa ia bisa menunjukkan diri menguasai persoalan, dan tampak mempersiapkan diri sebelum bertemu dengan nara-sumbernya. Ia tampak kompeten, dan sekaligus ia menghargai kompetensi yang diwawancara. Dengan cara itu, tak hanya Wimar Witoelar yang kelihatan hebat, si nara-sumber pun akan jadi kelihatan hebat. Tokoh-tokoh yang diwawancarai akan kelihatan sangat antusias, dan wawancara pun menjadi kaya nuansa dan kejutan.
Ada cerita menarik dari seorang wartawan bernama AJ Liebling. Dia mengaku, bahwa tulisan terbaiknya adalah mengenai profil tentang seorang joki bernama Eddie Arcaro. Kenapa?
Ketika mewawancarainya, pertanyaan pertama yang diajukan adalah, "Berapa banyak lubang lebih panjang yang Anda jaga tetap ada pada gurdi sebelah kiri dibanding sebelah kanan? Ternyata, hal itu membuat si joki bersemangat bicara panjang lebar. Dan di akhir wawancara, si joki berkata, "Anda terbiasa naik kuda ya...."
Ingat, wawancara biasanya berlangsung dalam waktu relatif singkat. Jika sebelum melakukan wawancara Anda tidak melakukan persiapan diri, maka yang terjadi sudah pasti hal yang buruk.
Salam kompak,
Khalayak Anda
Dear Journalist,
Seorang di antara Anda --jadi bukan Anda-- pada suatu hari datang pada sejawat kami, seorang psikolog, dan mengajukan pertanyaan, "Bagaimana pandangan Anda tentang fenomena wanita bekerja?" Psikolog itu langsung mendelik. "Kenapa hal itu Anda tanyakan pada saya? Bagi saya masalah itu sudah jelas. Wanita bekerja sudah ada sejak dulu. Apa lagi?" tanyanya, membuat si reporter teman Anda itu tergagap, dan kehilangan nyali melanjutkan pertanyaan berikutnya.
Menjelangi pertarungan antara Ellyas Pical melawan penantangnya dari Korea, seorang reporter --kawan Anda juga-- datang ke rumah ibunya, dan mengajukan pertanyaan: "Bagaimana pendapat ibu tentang persaingan tinju di kelas menengah ringan? Bagaimana pendapat ibu tentang adanya isyu permainan sabun yang dilakukan WBC?" Sudah bisa ditebak, hasilnya adalah sebuah jawaban yang tidak masuk akal, buruk dan tidak bermanfaat.
Mestinya sebelum menghubungi seorang nara-sumber, dan merancang pertemuan, Anda sudah harus menanyakan pada diri sendiri: kenapa Anda harus bersusah payah menanyakan persoalan itu kepada 'orang itu, dan tidak 'orang lain' saja? Swear, kami masih sering melihat Anda datang pada narasumber, tanpa memikirkan sebelumnya tentang kompetensi si narasumber.
Wimar Witoelar adalah contoh pewawancara yang baik. Rahasianya, hanyalah bahwa ia bisa menunjukkan diri menguasai persoalan, dan tampak mempersiapkan diri sebelum bertemu dengan nara-sumbernya. Ia tampak kompeten, dan sekaligus ia menghargai kompetensi yang diwawancara. Dengan cara itu, tak hanya Wimar Witoelar yang kelihatan hebat, si nara-sumber pun akan jadi kelihatan hebat. Tokoh-tokoh yang diwawancarai akan kelihatan sangat antusias, dan wawancara pun menjadi kaya nuansa dan kejutan.
Ada cerita menarik dari seorang wartawan bernama AJ Liebling. Dia mengaku, bahwa tulisan terbaiknya adalah mengenai profil tentang seorang joki bernama Eddie Arcaro. Kenapa?
Ketika mewawancarainya, pertanyaan pertama yang diajukan adalah, "Berapa banyak lubang lebih panjang yang Anda jaga tetap ada pada gurdi sebelah kiri dibanding sebelah kanan? Ternyata, hal itu membuat si joki bersemangat bicara panjang lebar. Dan di akhir wawancara, si joki berkata, "Anda terbiasa naik kuda ya...."
Ingat, wawancara biasanya berlangsung dalam waktu relatif singkat. Jika sebelum melakukan wawancara Anda tidak melakukan persiapan diri, maka yang terjadi sudah pasti hal yang buruk.
Salam kompak,
Khalayak Anda
Anda Seorang Amatir
KALAU BEGITU, ANDA SEORANG AMATIR
Dear Journalist,
Berita-berita yang dihasilkan dari sebuah kolusi antara Anda dengan sumber berita untuk tujuan-tujuan tertentu tak dapat dibenarkan. Dalam hati kami sering bertanya, apakah Anda melakukan hal itu karena ketidak-tahuan, atau karena Anda berpikir kami tidak akan mengetahuinya. Percayalah, Bung, hal seperti itu akan segera terasa.
Semuanya mungkin dimulai dari hal sederhana.
Anda berniat mewawancarai seorang tokoh yang menurut Anda selama ini dikenal sangat hebat dan penuh kontroversi. Setelah berbulan-bulan mencoba menghubunginya, pada suatu hari, eh, si tokoh bersedia menerima Anda, asal, --ini dia-- Anda harus menyerahkan terlebih dulu draft garis besar pertanyaan yang akan anda ajukan, dan Anda harus pula bersedia menyerahkan copy naskah hasil wawancara sebelum dipublikasikan untukdikoreksi. Dengan mengabaikan kelaziman yang selama ini berlaku di dunia pers, Anda langsung menyetujui persyaratan itu.
Tahu apa reaksi kami sewaktu membacanya? Jika tadinya kami sangat antusias untuk membaca hasil percakapan Anda dengan tokoh luar biasa itu, kini kami menjadi muak, karena menyadari, Anda sedang berusaha menyenangkan tokoh itu. Dan jika hal ini menjadi garis kebijakan Anda atau media Anda, lambat laun, kami pasti tidak mempercayai Anda lagi. Bagi kami, hal itu hanya layak dilakukan oleh para pemula dan kaum amatir.
Salam kompak,
Khalayak Anda
Dear Journalist,
Berita-berita yang dihasilkan dari sebuah kolusi antara Anda dengan sumber berita untuk tujuan-tujuan tertentu tak dapat dibenarkan. Dalam hati kami sering bertanya, apakah Anda melakukan hal itu karena ketidak-tahuan, atau karena Anda berpikir kami tidak akan mengetahuinya. Percayalah, Bung, hal seperti itu akan segera terasa.
Semuanya mungkin dimulai dari hal sederhana.
Anda berniat mewawancarai seorang tokoh yang menurut Anda selama ini dikenal sangat hebat dan penuh kontroversi. Setelah berbulan-bulan mencoba menghubunginya, pada suatu hari, eh, si tokoh bersedia menerima Anda, asal, --ini dia-- Anda harus menyerahkan terlebih dulu draft garis besar pertanyaan yang akan anda ajukan, dan Anda harus pula bersedia menyerahkan copy naskah hasil wawancara sebelum dipublikasikan untukdikoreksi. Dengan mengabaikan kelaziman yang selama ini berlaku di dunia pers, Anda langsung menyetujui persyaratan itu.
Tahu apa reaksi kami sewaktu membacanya? Jika tadinya kami sangat antusias untuk membaca hasil percakapan Anda dengan tokoh luar biasa itu, kini kami menjadi muak, karena menyadari, Anda sedang berusaha menyenangkan tokoh itu. Dan jika hal ini menjadi garis kebijakan Anda atau media Anda, lambat laun, kami pasti tidak mempercayai Anda lagi. Bagi kami, hal itu hanya layak dilakukan oleh para pemula dan kaum amatir.
Salam kompak,
Khalayak Anda
Langganan:
Postingan (Atom)