08 Agustus 2016

MEMBACA PUISI KURNIAWAN JUNAEDHIE

Dalam Kesederhanaan Kata-Kata


Membaca sajak-sajak Kurniawan Junaedhie (KJ) tak lain adalah membaca perjalanan sejarah seorang manusia, yang penuh getar rasa maupun pikiran-pikiran, sehingga menghadirkan kepuitikalan. Hal ini sebagaimana dikatakan Shelley, bahwa sajak merupakan rekaman detik-detik yang paling indah dalam hidup seorang penyair. Peristiwa itu bisa saja mengesankan dan menimbulkan keharuan yang kuat seperti kebahagiaan, kegembiraan yang memuncak, percintaan, bahkan kesedihan karena kematian orang yang sangat dicintai.

Kendati merupakan catatan sejarah, tentu bukan buku sejarah biasa. Pasalnya, sebagaimana dikatakan Theodore Watts-Dunton, sajak merupakan satu pengucapan konkrit dan artistik tentang pikiran manusia melalui penggunaan bahasa yang emosional dan berirama. Dan ini dilakukan KJ pada sajak-sajaknya.

Boleh jadi, karena dia sebagai penyair selalu jujur pada hati dan pikirannya. Walau dengan bahasa sederhana, bahkan seringkali menggunakan idiom-idiom B dari kata-kata sehari-hari, namun getar dan luapan emosinya pun hadir dan terasa. Hal ini dapat kita simak pada sajaknya:

SAAT HENDAK PISAH kalau aku pergi, jangan suruh aku menangis,burung di udara sudah menyanyiawan di langit sudah bergulungan ke penjuru duniakalau aku pergi, jangan suruh aku menangis,jarak antara aku dan kamu tak pernah tercatat dalam petakalau ciumanku dan remasan tanganku tak berasaaku akan bicara pada langit, jiwaku hampakalau aku menangis,apakah bintang dan matahari akan menari dan kau ikut menemani? 1993(Cinta Seekor Singa, halaman 42)

Betapa terasa seorang lelaki yang akan berpisah dengan kekasihnya. Pada bait pertama yang tiga baris, sudah mengantarkan kepada pembacanya tentang kesengsaraan, namun saat aku lirik mencoba menegarkan dirinya: kalau aku pergi, jangan suruh aku menangis, malah KJ mengutarakan burung di udara sudah menyanyi walau dirinya mengakui perpisahan itu amat memukul hatinya dengan metaforanya: awan di langit sudah bergulungan ke penjuru dunia.

Keterusterangan itu makin tampak pada bait kedua yang empat baris, bahwa ada kegalauan di hati penyair. kalau aku pergi, jangan suruh aku menangis, pada baris ini pengulangan yang menekankan akan aku lirik menegarkan dirinya. Namun aku lirik menyadari betapa jarak antara aku dan kamu tak pernah tercatat dalam peta.


Bahkan, kalau ciumanku dan remasan tanganku tak berasa yang seharusnya terasa, karena penuh kedalaman cinta. Jika hal ini terjadi, dengan kegeramannya, aku lirik mengatakan aku akan bicara pada langit, jiwaku hampa. Keterusterangan masgulnya hati dan akan menggugat langit, sebuah suasana emosional yang membikin pembaca masuk ke dalam kembara batinnya.

Kegeraman aku lirik terlihat pada bait ke tiga yang tiga baris.Bahkan dalam geramnya, jika aku lirik tak menegarkan dirinya dalam kesengsaraan ini,B maka sang kau lirik bakal menertawainya dengan menari bersama bintang dan matahari. Dan kita amat memahami bahwa bintang merupakan citra dari malam dan matahari adalah citra dari siang.

Jika saja kita percaya bahwa sajak adalah kata-kata yang terindah dalam susunan terindah, sebagaimana kata Samuel Taylor Coleridge.

Yang katanya, B bahwa penyair memilih kata-kata yang setepatnya dan disusun secara sebaik-baiknya, misalnya seimbang, simetris, antara satu unsur dengan unsur lain sangat erat berhubungannya, dan sebagainya. Namun bagi KJ, sajak ditulisnya dalam getar puitik, bukan susanan kata-kata indah.Simak pada sajaknya:

PEMANDANGAN DINI HARI Untuk: Tina K. jam tujuh petang di Jakarta.jam 5 subuh di Michigan. halo.aku mendengar kamu kesepianaku mendengar kamu terisak di sini aku sedang menulis sajakmenuliskan perpisahan dan penyesalanjam tujuh petang di Jakarta.jam 5 subuh di Michigan. halo.telepon itu tergeletakdi samping sajak. 1994(Cinta Seekor Singa, halaman 67)

Walau KJ amat memperhitungkan logika waktu, namun perasaan dan pikirannya dituliskan begitu saja, sesuai gerak pikir dan rasa tadi. jam tujuh petang di Jakarta./jam 5 subuh di Michigan./halo.//Dan dari sana penyair pun merasakan kau lirik yang kesepian, terisak dan sang aku lirik menuliskan penyesalan perpisahan.

Agaknya sajak-sajak KJ sebagaimana kata Wordsworth, adalah pernyataan perasaan yang imajinatif, yaitu perasaan yang direkakan atau diangankan. Malah kalau Auden menyatakan sajak itu lebih merupakan pernyataan perasaan yang bercampur-baur.

Dan pada sajak KJ bertajuk Pemandangan Dinihari, lebih tergambarkan pendapat Wordsworth maupun Auden itu.Juga hal ini terasa pada sajak di bawah ini: SAJAK UNTUK LELAKI SIALAN aku menangis seharian di dresi pagi tadi suara gerbong tua menyisir rel, di pagi buta iniaku menangis seharian, melihatmu kuyup dalam hujanaku berpikir: kenapa bulan Mei berjalan begitu lamban? seseorang bertanya, siapakah yang kautangisi?aku tak menjawab sepatah punhatiku ngungun aku melihat sebuah gerbong tua,menyisir rel, di pagi buta ini 1993(Cinta Seekor Singa, halaman 47) Pertanyaan penyair yang sederhana terangkai, menghasilkan getar puitik: aku berpikir: lenapa bulan Mei berjalan begitu lamban?

Yang kemudian diikuti oleh pertanyaan lain: seseorang bertanya, siapakah yang kautangisi?Dari pertanyaan itu, makin dapat dipahami, saat KJ membuka sajaknya dengan: aku menangis seharian di dresi pagi tadi/ suara gerbong tua menyisir rel, di pagi buta ini/aku menangis seharian, melihatmu kuyup dalam hujan. Betapa pengakuan aku lirik melihat dan membayangkan kau lirik, sehingga aku lirik berpendapat:B aku berpikir: lenapa bulan Mei berjalan begitu lamban?

Dan akhirnya, penulis sependapat dengan Maman Mahayana, yang mengatakan: Meskipun hampir setiap orang dapat membuat sajak, niscaya tidak semua orang dapat menjadi penyair. Lalu, bagaimanakah seseorang dapat dikatakan sebagai penyair?

Pertama-tama tentu saja predikat itu datang lantaran karya-karyanya dipandang berkualitas dan bukan sekadar menulis puisi. Kuantitas bukanlah yang menjadi ukurannya. Oleh sebab itu, banyak-tidaknya seseorang menulis puisi, belum menjadi jaminan untuk menyebutnya sebagai seorang penyair. Kepenyairan seseorang semata-mata ditentukan oleh kualitas karyanya yang mampu memberi pencerahan kepada pembacanya.

Dan bagi penulis, KJ bukan sekadar tukang tulis sajak, namun dia penyair dengan kesederhanaan kata, kesederhanaan permasalahan, kesederhanaan ungkapan, melahirkan sajak-sajak yang mencerahkan. ***


Sutan Iwan Soekri Munaf
Sumber: Suara Karya, Sabtu, 14 Juli 2012


PADA SUATU HARI HIDUPKU

Hidup dimulai dari rumah. Lalu dituntun sepatu aku menyusuri jalan ke masa lalu. Di situ aku ulang-alik tak menentu. Kadang aku melihat nestapaku yang gemetar di jalan penuh belukar. Kadang kulihat bayanganku menggigil di ujung waktu. Aku tak kepingin diriku menjadi bangkai sendirian di bawah pohon rindang. Aku pun terus berjalan. Lalu cepat-cepat kubawa tubuhku yang piuh pulang ke rumah. Dari dalam rumah, kubuka mataku, dan terbentang puisi-puisiku yang memancar bersama itik, dan ikan-ikan persis di pelupuk matamu. Aku tiba-tiba ingin masuk ke dalam botol. Hari yang perih, dan kegelisahan yang mendidih, ingin benar kuselipkan ke dalamnya. Aku nikmati suara kegaduhan di dalam botol. Malam pun tiba. Aku gelisah. Bersama arloji, aku resah dan gundah. Kami mendorong jarum jam agar aku bisa melompat ke hatimu. Alangkah tololnya keinginan bisa tidur bersamamu di setiap malam ketika sunyi tiba. Aku seperti anak sapi, didekap induknya. Meringkuk sendiri. Hidup macam apalagi yang harus kujalani? Tanyaku sambil menatap masa laluku yang tak pernah kembali.

2013. 

(Dimuat dalam buku antologi puisi DNP5 Negeri Langit, 2014).

PESONA HAIKU, DARI AFORISMA HINGGA METAFORA a


Catatan Kecil Dimas Arika Mihardja*)

“Hai, salam jumpa.”

Begitu salam dan sapaku, “haiku”, kepada Anda pencinta haiku. Tahukah Anda awal tahun 2015 ada peristiwa budaya yang layak dicatat dan diberi tempat? Peristiwa budaya itu terkait lahirnya Newhaiku—sebuah grup facebook yang dimaksudkan memperkenalkan haiku versi Indonesia. Maksudnya? Ya, haiku itu tergolong sajak pendek, padu, padat milik bangsa Jepang. Dan  Newhaiku yang dilahir-hadirkan oleh Kurniawan Junaedhie (KJ) dan Esti Ismawati (EI)—sepasang mempelai sastra Indonesia yang tiada mati ide dan kreativitasnya berusaha menawarkan haiku versi Indonesia, Newhaiku.

Newhaiku, haiku baru versi Indonesia inidiakui atau tidak merupakan upaya membumikan haiku di persada nusantara sebagai satu alternatif pilihan di antara pilihan lainnya: puisi 2koma7 (dua larik tujuh kata) grup yang telah eksis lebih dulu, puisi PADMA 4444 yang dipandegani oleh Imron Tohari, puisi Persagipuisi Sonian, dan lainnya. Kelahiran dan kehadiran genre puisi-puisi ini mengundang dan mengandung kontroversial, pro dan kontra. Namun, grup-grup puisi ini tetap eksis dan diminati banyak orang. Rupanya grup-grup puisi ini selain memberikan tawaran alternatif berekspresi, juga mewadahi interaksi interpersonal di antara anggotanya. Jika grup puisi 2koma7 telah menerbitkan 4 (empat) buku: “Puisi 2koma7 Apresiasi dan Kolaborasi”, “Mendaras Cahaya”,” Nyanyian Kafilah”, dan “Jalan Terjal Berliku Menuju-Mu” (semua diterbitkan oleh Bengkel Publisher tahun 2014 dan 2015), kini grup Newhaiku dengan motor Kurniawan Junaedhie dan Esti Ismawati menerbitkan buku ini: “Ayo Menulis Newhaiku: Teori, Aplikasi, dan Apresiasi”.

Hai, sahabat haiku dan pencintabuku,

Saya diminta memberikan apresiasi 100 Newhaiku karya KJ dan 100 Newhaiku karya EI. Saya menawarkan judul apresiasi ini “Pesona Haiku: Dari Aforisma hinggaMetafora”. Apresiasi puisi, meminjam istilah S. Effendi merupakan kegiatan menggauli puisi dengan sungguh-sungguh hingga tumbuh pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap cipta puisi(2002:6). Apakah saya sanggup “menggauli” 200 haiku karya KJ dan EI? Tentu saja saya tidak sanggup, tetapi dalam “mengauli” puisi diperlukan juga teknik amandan nyaman, yakni menangkap momentum puitik, hal-hal yang estetik, dan menggelitik. Hal terakhir, “menggelitik” ini menjadi penting dalam apresiasi. Hal yang saya anggap menggelitik itu ialah pesona haiku. Hal yang memesona haiku—terlebih newhaiku dalam buku ini ialah persoalan aforisma dan metafora.

Dengan sederhana aforisma dapat diberi pengertian sebagai ungkapan puitik, estetik, berisi pemikiran menggelitik yang tampil secara kharismatik. Mungkin berupa ungkapan kearifan, kebijaksanaan, pemikiran dan lebih jauh refleksi filosofis penyair. Hampir mirip dengan aforisma, puisi pendek yang disebut newhaikuini ditandai oleh berkelelebatnya pemakaian metafora. Metafora, dan variannya seperti simile, sinekdoki, personifikasi dan ungkapan kias lainnya menjadikan puisi memiliki daya tarik memantik rangsang tanggap pembaca.

Hai pencinta haiku dan newhaiku,
Yuk sama kita baca newhaiku berikut ini. Saat membacan ewhiku, kita cermati perilaku puisi seperti larik dan pertalian maknanya, makna lugas, pengimajian, pengiasan, pelambangan, makna utuh, nada dan suasana, kemanisan bunyi dan makna ya? KJ menulis newhaikuseperti ini, yuk kita nikmati percik pesonanya :

AJAL

Dipundak kura
Kitaberingsut maju
Sampailahajal.
2015

Haiku “Ajal” dilihat dari perilakunya sungguh memesona, pelan tetapi pasti semua makhluk menuju ajalnya dan perjalanan kubur itu, ajal itu dibandingkan dengan kura-kura, sehingga newhaiku “Ajal” ini tidak membuat pembaca ngeri, melainkan dapat menikmati dan menghikmatinya berdasarkan pemahaman dan penghayatan. Makna lugas, makna kias, perlambangan, makna utuh, dan nada serta suasana puisi ini melahirkan aforisma dan metafora memesona.

KAFILAH

Tak pernah letih
Arungi hari-hari
Seperti kafilah.

2015
Newhaiku “Kafilah” lebih menonjol makna lugas dan kurang mengeksplorasi pengiasan, perlambangkan, akibatnya “pernyataannya” kurang mengekspresikan perilaku puisi yang lazimnya menggunakan ungkapan tidak langsung seperti newhaiku “Ajal”. Newhaiku “Berbatu” berikut ini menampilkan perilaku puisi yang komplit: makna lugas, makna kias, makna utuhnya menampilkan aforisma dan metafora memesona. Yuk sama kita baca:

BERBATU
Hawa dingin
Jalan berbatu
Antar aku ke rumah-Mu.
2015

Newhaiku “Berbatu” mengingatkan saya pada buku “Jalan Terjal dan Berliku Menuju-Mu”—sebuah buku puisi 2,7 yang didedikasikan kepada penyair Diani Noor Cahya yang mendharmabhaktikan hidupnya sebagai admin grup puisi 2koma7 hingga ajal memengekalkan cintanya. Jalan yang ditempuh untuk memajukan sastra, memasyarakatkan puisi, memang penuh batu dan berliku, tetapi jalan puisi itu insha Allah mengantarkannya kepada-Nya, amin. Sebuah Newhaiku KJ yang mengajak memeras air mata haru bertajuk “Ingat Ibu”.  Yuk sama menangis haru membaca puisi ini:

INGAT IBU
Menghirup sunyi
Teringat ibu
Neteslah air mata.
2015

Newhaiku “Ingat Ibu” merupakan representasi kerinduan, cinta, kasih sayang yang sacral dan tak mengenal pamrih. Ketika seseorang disergap sunyi, sendiri, lalu teringat pada ibu nun jauh di sana, maka wajarlah air mata menetes haru penuh rindu dan sendu. Rupanya, newhaiku selain memesona dengan aforismanya, rima dan iramanya, juga dapat tampil dengan kelugasannya seperti “Belajar pada Laut” berikut:

BELAJAR PADA LAUT

Luas dan dalam
Terima baik buruk
Tetap legowo.

24.02.2015

KJ yang lugas, tidak ingin menceramahi, mendikte, otoriter dalam mendidik dengan lugas ia nyatakan “terima baik buruk/ Tetap legowo”. Makna belajar pada laut ialah terkait dengan luas dan dalamnya. Keluasan wawasan dan kedalaman penghayatan keilmuan hingga pada akhirnya dapat menerima baik dan buruk secaralegowo. Pada “Pagi Berbinar” KJ mengajak kita memasuki khasanah ambiguitas dengan diksi yang segar dengan mengeksplorasi rima “ar”.  Yuk kita nikmati bersama:

PAGI BERBINAR

Pagiberbinar
Hati tergetar-getar
Merasa nanar.

23.02.2015

Newhaiku yang lebih mengekplorasi suasana hati tampil melalui “Bulan Sabit”. Suasana hati itu mwnjadi karakteristik haiku seperti juga hadirnya lanskap alam. Ayo sama kita nikmati:

BULAN SABIT2

Bulanyang sabit
Bikin hati merindu
Saat sendiri.

2015

BULAN SABIT3
Rembulan sabit
Kobarkan rasa rindu.
Nyala di mimpi

2015

BULAN SABIT4
Dibening kolam
Kita, dan bulan sabit
Pantulkan rasa damai.

2015

Filosofi“Dimana Bumi Dipijak Di sana Langit Dijunjung” meronai newhaiku KJ berikut ini. Cermati metafora dan aforisma yang memesona:

JALAN 

Sudahmenghilang
Bersama angin lalu
Jalan berpintu.

2015

KERING 

Sudah terlanjur
Lewati persimpangan
Kering air mata.

2015

TAK SAMAR

Cinta yang kekal
Slalu berpendar-pendar
Tak pernah samar.

23.02.2015

MUSNAH
Kubilas kata
Rindu kusaring
Keraguan pun musnah.

20.02.2015

BERANI

Menatap langit
Cintai bumi
Hidup harus berani.

20.02.2015

Newhaiku yang ditulis KJ rata-rata memesona oleh adanya aforisma dan metafora. Masuknya aforisma dan metafora pada newhaiku merupakan upaya kreatif memberikan sentuhan estetis dan filosofis dalam perkembangan seni puisi haiku. Itulah sebabnya lalu disebut newhaiku. Haiku yang diberi ruh dan sentuhan baru. Bagaimana kreasi  EI terkait newhaiku? Berikut ini saya turunkan beberapa karyanya.

Newhaiku Esti Ismawati yang istimewa dapat kita baca, di antaranya:

BERSEMBUNYI

di ufuk barat
cahaya gelap pekat
bulan sembunyi

28-02-15

Pada “Bersembunyi” EI mengeksplorasi menanisan bunyi “at” dan mengeksekusi kesanperasaannya pada larik terakhir “bulan tersembunyi”. “Di ufuk barat/ cahaya gelap pekat” Ini selain memiliki makna lugas juga bermakna kias “Negara-negara Barat” mengalami kegelapan syariat. Sebagai wanita penyair, akademisi yang telah bergelar hajah, ia menyampaikan “Pesan” secara halus, tersamar, dan elegan: “tolong sampaikan/ pada bunga flamboyant/ jangan jatuh”. Saat seseorang mendapat kedudukan, posisi, peran elegan, diberi pesan “jangan jatuh”.

PESAN
tolong sampaikan
pada bunga flamboyan
jangan terjatuh
28-02-15

Pada puisi “Doa” EI mengorbankan bahasa demi tercukupinya jumlah suku kata haiku yang berpola 5-7-5, akibatnya kata “selamat” ditulisnya dengan sengaja “slamat” sebagai bentuk licentia poetica—kebebasan penyair menggunakan bahasanya secara sadar. Saya selaku pembaca benar-benar dapat menangkap keindahan cinta pada puisi “Indah” berikut:

INDAH 

menyelam aku
ke dalam palung hati
indah cintamu

28-02-15

Pada “Singa Tua” saya teringat KJ. Newhaiku EI ini sepertinya didedikasikan pada KJ yang dimetaforakan sebagai singa tua yang tak kenal lelah, mengaum dalam sunyi, torehkan karya.

SINGA TUA
tak kenal lelah
mengaum dalam sunyi
torehkan karya....

28-02-15

Membaca newhaiku karya EI terasa “Damai” sebab ditulis secara “Ikhlas”. Sama kita simak kedamaian dan keikhlasan itu.

DAMAI
hati tenteram
pikiran sejuk tenang
alam tafakur

Klaten,20-02-15

IKHLAS
di unggun malam
sepotong senyum
hangatkan jiwa raga

Klaten,20-02-15

Hal yang menarik, seperti dilakukan oleh penyair sebelumnya seperti Sapardi Djoko Damono, Darmanto Jatman, Linus Suryadi AG, EI memaswukkan dunia pewayangandalam newhaiku. Di “Kurusetra” seperti Mahabarata—merupakan medan laga antara kebenaran, kejujuran, kebaikan, dan keserahanan, ambisi, nafsu berkuasa. Ungkapan right or wrong my country, menjadi terkenal dari mulut “Radeen Kumbukarno”—seorng raksanaa berjiwa kesatria yang gigih bela Negara. Kita diperkenalkan dengan“Raden Puntadewa” raja Amarta yang dikenal berdarah putih,  jujur, dan tidak mau berbohong.

KURUSETRA

di medan laga
hitam putih berperang
demi martabat

Klaten,20-02-15

RADEN KUMBAKARNO
semboyan hidup
'baik buruk negriku'
kan ku bela
Klaten,20-02-15

RADEN PUNTADEWA

tubuhnya putih
hati dan pikir bersih
langkahpun lurus

Klaten,20-02-15

Membaca newhaiku karya KJ dan EI ada beberapa catatan kecil sebagai berikut. Pertama, Makna lugas dipakai oleh KJ dan EI dalam newhaiku. Makna lugas inilah yang pertama-tamaa dipahami oleh pembaca. Pembaca harus memahami makna lugas ini untuk memahami makna utuh newhaiku. Kedua, penggunaan kata kongkret dan khas serta penataan kata-kata itu dalam tiga larik newhaiku sedemikian rupa sehingga menggugah timbulnya imaji disebut pengimajian atau pencitraan. Ketiga, pengiasan dalam newhaiku merupakan penggunaan kata atau ungkapan dalam sajak sedemikian rupa sehingga timbul makna kias yang dapat memperkongkret, memperlengkap, mempercermaat, dan memperkhas imaji sesuatu yang diungkapkan dalam sajak, yang hasilnya berupa aforisma atau metafora yang memesona. Keempat, oleh karena newhaiku tergolong puisi pendek, padu, padat, maka diperlukan perlambangan. Perlambangan adalah penggunaan kata atau ungkapan dalam sajak sedemikian rupa sehingga timbul makna lambang yang dapat  memperkongkret, memperlengkap, mempercermat, dan memperkhas imaji sesustu yang diungkapkan dalam sajak. Kelima, makna utuhnewhaiku dapat dipahami, dihayati dan diapresiasi apabila makna tersurat dan tersirat memiliki hubungan yang terjelma karena adanya  hubungan saling menentukan antarapengimajian, pengiasan, dan pelambangan.

Hai sobat newhaiku,
Makna keseluruhan sebuah sajak pada hakikatnya adalah sebuah pengalaman penyair, pengalaman indria maupun pengalaman nalar, yang diungkapkan dengan bahasa yang khas (dengan pengimajian, pengiasan, pelambanan) sehingga pengalaman itu hadirutuh-menyeluruh pada sajak yang dapat ditangkap oleh pembaca sebagai sesuatu yang kongkret, padat, dan khas serta sugestif atau menggugah nalar dan batin pembaca. Keseimbangan antara perasaan nikmat dan perenungan perlu tetap terpelihara ketika kita membaca dan berusaha memahami makna utuh sebuah newhaiku.

Sampai di sini, Anda telah secara aktif dan intensif berusaha menyelami dan mengapresiasi newhaiku karya KJ dan EI untuk memahami makna lugas, kias, lambang, sesuai dengan perilaku penampilan newhaiku. Newhaiku dengan nada yang tersurat dan terang-terangan mengajari biasanya tidak bias meyakinkan bahwa ajarannya itu benar. Newhaiku dengan nada tersirat dan tidak mengajari pembaca dapat meyakinkan kita selaku pembaca. Kita selaku pembaca tahu, pelambangan atau pengiasan yang tidak tepat dapat mengaburkan makna utuh newhaiku, dan dapat menghilangkan kemaampuan nada dan suasana newhaiku mengugah hati pembaca. Pengiasan atau pelambangan yang tepat dapat mengungkapkan makna yang jelas dan menjelmakan nada serta suasana  newhaiku yang menggugah hati pembaca serta memesonanya. Terakhir, penggunaan kata-kata abstrak dan muluk dalam newhaiku dapat menggagahkan nada dan suasana. Kegagahan biasanya tidak meyakinkan pembaca, tidak menggugah atau memikat. Sebaliknya, pengunaan kata-kata sederhana dan kongkret dalam newhaiku dapat mewajarkan nada dan suasana. Kewajaran biasanya meyakinkan pembaca, mengugah dan memikat. Newhaiku—seperti haiku asli Jepang sangat menonjolkan nada dan suasana.

Salam Budaya

Dimas Arika Mihardja




Penyair, akademisi, pencinta budaya

SURAT TERBUKA BUAT PENYAIR KURNIAWAN JUNAEDHIE

MENGAPA PUISI HAIKU PANTAS DIKAGUMI? 

Kurniawan Junaedhie menggagas Newhaiku. Saya suka, baru pada taraf menyimak, dan terus terang belum mampu membuatnya. Merasa belum mampu, karena saya duga pada hakikatnya membuat haikuitu tidaklah mudah, sangat tidak mudah, seperti Jun di awal-awal mengungkapkannya. 

Oleh karena berbeda dengan puisi, tempat kita mencurahkan rasio dan emosi sekaligus, pada haiku, kalau saya tidak keliru menangkap, lebih pada keprigelan menata emosi yang ingin tercurah.

Bagaimana terampil kita hanya dengan frame yang kecil sempit dan terbatas, dengan cara yang tertentu pula, kita diminta mampu menuangkan spektrum emosi menjadi satu kesatuan cahaya yang indah. Tentu emosi yang bukan sembarang emosi. Hanya spektrum emosi yang bernas, yang dalam beberapa suku kata sanggup membangun sebuah kesatuan ungkapan hati. 

Sepintas kita melihatnya sederhana, dan mudah. Namun setelah saya coba hayati, kenyataannya kita berhadapan dengan sesuatu yang ternyata sangatlah tidak mudah.

Untuk mulai menulis haiku, saya masih khawatir terjebak dengan yang kelihatannya sederhana, seolah gampang, sehingga nantinya hanya melahirkan sekadar wujudnya haiku belaka.  Kalau saja kita melakukannya secara amat spontan, seakan sekadar memenggal-menggal kalimat, lalu menyusunnya dalam wadah bersosok haiku semata.

Kalau menulis haiku hanya sespontan itu, dan sambil lalu belaka, kita wajib khawatir, yang akan lahir sekadar sosoknya saja haiku, tanpa menghadirkan ruhnya. Dugaan saya. Sosok yang sebagai lompatan pikiran (flight of idea) belaka, sebagai potongan dan penggalan kalimat yang disambung-sambung belaka. Bukankah sejatinya haiku tidak seperti itu kan, Jun?

Sekiranya masih hendak mengacu pada konsep bahwa hakikat haiku itu bongkahan-bongkahan rasa, seyogianya ia dibangun dari percikan-percikan rasa yang saling berkelindan, dan untuk itu butuh perenungan yang dalam, dan perlu waktu tidak sebentar. 

Hanya mereka yang sudah terlatih intens menyelami, dalam sekelebat bisa muncul, lalu berhasil menangkapnya. Saya hapal betul, Jun punya bakat terampil dan jeli menangkap apa-apa yang berkelebat itu. Namun tidak bagi yang pemula seperti saya.

Bagaimana melatih diri menangkap percikan dengan warna-warni spektrum rasa yang berbeda-beda, pada suatu moment, untuk membentuk seberkas cahaya yang indah, itulah saya kira kiatnya. 

Bukan hanya jalinan satu dua warna rasa, dan melahirkan seberkas hanya satu warna, saya kira. Haiku yang indah lahir dari beraneka ragam spektrum warna rasa untuk menyusun seberkas cahaya perasaan yang kemilau. 

Untuk itulah butuh kemampuan menangkap segala lompatan rasa, dan bukan lompatan pikiran.
Mudah-mudahan saya tidak keliru menafsirkan. ***

Handrawan Nadesul adalah sastrawan dan lama mengabdi sebagai dokter. Tinggal di Jakarta.