Oleh Adek Alwi
Sabtu, 21 Nopember 2009
TUJUH puluh sembilan sajak Kurniawan Junaedhie terdapat dalam kumpulan sajak terbarunya, "Cinta Seekor Singa: Sajak-sajak 1974-2009", terbitan Bisnis 2030. Dengan subjudul "Sajak-sajak 1974-2009" itu terang sudah kumpulan ini merupakan kompilasi, atau semacam rekam-jejak kepenyairan KJ dalam rentang waktu yang tak singkat, 35 tahun. Karena kompilasi, maka dalam "Cinta Seekor Singa" dimuat sajak-sajak yang tentu dimaksudkan KJ menjadi cerminan karya-karyanya di empat periode itu. Tampillah 10 sajak mewakili periode 1970-an, periode 1980-an 18, periode 1990-an 38, periode 2000-an 13 sajak. Pemuatan sajak-sajak itu berurutan sesuai periode penulisannya.
Dengan komposisi isi seperti itu, banyak hal dalam perjalanan kepenyairan KJ pun terlihat. Sebutlah bentuk sajak dia serta kecenderungannya, cakupan tema yang ia garap, dan hal-hal yang lenyap atau ditinggalkan di puisi-puisi yang ia tulis kemudian. Atau sebaliknya, hal-hal yang menetap serta tambah matang seiring jalan usia dan jam terbang KJ selaku penyair yang tahun ini memasuki tahun ke-35 itu.
Dari segi bentuk, puisi-puisi KJ amat beraneka. Ada yang mirip dengan bentuk tradisional yaitu pantun, dengan empat larik tiap bait, seperti terlihat misalnya di sajak "Lagu Percintaan", "Waktu", "Sajak Orang Kasmaran", "Januari 2003" dan lainnya. Tetapi panjang-pendek larik di sajak-sajak itu tidak seteratur pantun. Begitu pula rima akhirnya. Ada yang berpola aa aa, tapi di bait berikut itu tak lagi dipedulikan, dan tak pula memakai pola ab ab seperti lazimnya rima akhir pada sampiran serta isi pantun. Unsur sampiran dan isi yang menjadi ciri pantun juga tidak terdapat dalam sajak KJ: paling banter samar saja menguar, ini pun jarang.
Jika begitu, apa yang membuat sajak-sajak KJ itu terasa dekat dengan pantun? Selain larik yang tertib empat-empat tadi, unsur sampiran dan isi yang terkadang hadir secara samar, irama sajak-sajak itu berperan dalam hal ini. Membacanya saya seperti menikmati irama pantun. Dan itu agaknya berasal dari diksi yang tepat, tambah rima akhir meski tak tertib, serta rima internal juga rima identik. Berikut bait pertama dan kedua sajak "Januari 2003" yang terdiri atas tiga bait:
Jika kupandang pohon cemara
berdiri
Kurasa hati jadi gamang
Kemana cinta pergi,
Ke sumur hati terdalam, adikku
sayang.
Di situ ada jalan berliku
Dan bukit menanjak di kaki langit,
di situ hatiku karam terjal
Seolah tercium bau sangit.
Dari tanda-tanda itu saya ingin tegaskan sajak-sajak itu memang terinspirasi oleh pantun. Terinspirasi di sini dalam taraf umum, seperti juga ditemui di sajak-sajak penyair Goenawan Mohamad serta Chairil Anwar. Hal itu terjadi karena pantun bagian dari jatidiri kita, kehidupan kita. Dengan begitu, wajar pula kalau pada Hartojo Andangdjaja terlebih-lebih lagi Sitor Situmorang, terinspirasi itu menemukan maknanya yang lebih. Pada Hartojo terlebih Sitor pantun tak sekadar diterima sebagai sesuatu yang akrab dengan kehidupan kita tapi juga berlanjut dengan menjadikannya lahan yang asyik pula untuk diolah.
Namun bagai disebut di atas, bentuk sajak-sajak KJ tak hanya yang seperti itu. Di "Cinta Seekor Singa" kita temukan pula sajak-sajak panjangnya dengan bangunan bait tidak teratur: satu, dua, tiga, empat malah lebih. Begitu pula lariknya, panjang dan pendek, dan bak tampil sesukanya dalam sebuah sajak.
Bentuk lainnya dari sajak KJ, terutama sajak-sajak yang ditulis periode 1990-an dan 2000-an, terlihat kecenderungan menjurus ke naratif, seolah bertutur, berkisah.
Dengan aneka bentuk sajak seperti itu heran juga kenapa KJ tak memasukkan sajak-sajak kwatrin dalam "Cinta Seekor Singa". Hemat saya, sajak-sajak kwatrin KJ seperti di kumpulan sajak "Selamat Pagi Nyonya Kurniawan", terbitan Kolase Kliq tahun 1978, cukup pula kuat dan ikut mewarnai jalan kepenyairannya.
Di sajak-sajak kwatrin itu imaji dibangun dari yang bisa diberikan warna, dan pemakaian kata hemat. Sajak-sajak itu umpamanya "Kwatrin Hijau", "Kwatrin Kuning", "Kwatrin Cokelat", "Kwatrin Merah Jambu", "Kwatrin Kelabu". Berikut kutipan dari "Kwatrin Hitam":
daki daku, daki
jika pun aku gunung.
daki daku, daki
keluhku senantiasa tak terbagi.
Meski tidak berbentuk kwatrin di "Cinta Seekor Singa" hadir pula sajak-sajak yang juga kuat, justru sebab pemakaian kata yang hemat tadi dan pemanfaatan banyak kata dasar. Sebut misalnya sajak "Tanah Lahir" dan "Saat Edelweiss Diputar" berikut ini:
kenapa tidak sepekan,
tapi sembilan bulan,
kita dikandung badan?
kenapa tidak berseri,
tapi dengki
bersarang di hati?
kenapa tidak sajak,
tapi hidup layak,
kita cari?
saat edelweiss diputar, nak,
aku makan hati manusia
Karena kedua sajak itu ditulis pada periode yang sama (1970-an) dengan puisi-puisi kwatrin tadi, maka agaknya dapat ditandai ciri sajak-sajak KJ periode itu. Antara lain pemakaian kata yang hemat tadi, diksi yang terjaga hati-hati, pemanfaatan banyak kata dasar, juga kecenderungan untuk taat benar pada unsur-unsur sajak seperti upaya membangun imaji, metafora, dan lainnya.
Di periode berikut terutama periode 1990-an dan 2000-an berbagai hal itu terkesan tak begitu ketat lagi. Ini yang menyebabkan sajak-sajak KJ pada periode-periode terakhir itu terasa lebih cair, lebih komunikatif, lebih bersahaja.
Tetapi ingin pula saya sebutkan bahwa, pertama, pergeseran seperti itu dalam periode kepenyairan yang terbilang panjang suatu hal yang wajar, kalau tidak niscaya. Sutardji Calzoum Bachri setelah gulang-gulung berbilang tahun dengan puisi-puisi mantra akhirnya menulis puisi seperti "Tanah Air Mata" yang juga terkesan lebih cair, bersahaja, lebih komunikatif, dibanding sajak-sajak dia sebelumnya.
Kedua, kebersahajaan atau lebih cair dan lebih komunikatif memang tak selalu berarti tidak dalam, atau tidak mampu memberikan sesuatu yang bernilai. "Tanah Air Mata" Sutardji itu dapat lagi diambil buat contoh. Dan pada KJ, banyak sajaknya dari periode 1990-an dan 2000-an juga membuktikan hal itu. Ambil misalnya sajak "Cinta Ayah" yang berkisah tentang kefanaan hidup serta cinta seorang ayah ke keluarganya: anak-anak, serta istri. Menulis KJ di tiga larik akhir bait kedua sajak itu: Jika ada yang membuatku ingin kembali/Itulah kalian, orang-orang yang membuatku pernah/betah di bumi/. Lalu bait penutup sajak ini pun, yang bagi saya terasa indah dan bermakna: Umur ternyata hanya kendaraan/ke kota bernama keabadian.
Sajak "Cinta Ayah" itu dijadikan contoh karena di periode 1990-an dan 2000-an tema dominan sajak-sajak KJ keluarga, serta kerinduan pada masa lalu juga kota kelahiran. Saya tidak tahu apakah itu karena pengaruh usia yang tidak muda lagi, tapi yang juga mengemuka di sajak-sajak itu, kerinduan tersebut tidak disikapi KJ dengan galau. Bisa jadi karena KJ sudah sampai ke hakikat "umur ternyata hanya kendaraan, ke kota bernama keabadian" tadi.
Jika asumsi itu benar, maka bagi saya lazim pula kalau sajak-sajak KJ periode-periode terakhir itu banyak digelimangi humor. Lihat saja judul-judul ini: "Nostalgia Ketinggalan Kereta", "Antara Kambing, Teringat Kamu", "Laki-laki Sontoloyo Ingin Menjadi Singa". Metafor-metafornya pun, yang dipetik dari hal-hal yang terlihat sehari-hari, mengundang senyum. Coba: Begitulah nasib laki-laki yang nglokro/hanya layak jadi teman kecoa/dan sahabat ternak. (Sajak "laki-laki Sontoloyo").
Atau: cuma karna kamu/aku ogah bongkok, seperti barang rongsok. (Sajak "Antara Kambing"). Begitulah "Cinta Seekor Singa", kumpulan sajak KJ sahabat saya, yang pada 24 November nanti berusia 55. Akhirnya sebagai kado saya kutipkan bait awal sajak dia, "Umur", yang ditulis tahun 1991 dan menurut saya tergolong kuat, indah, sekaligus lucu: november datang lagi. berapa usiamu?/ kerut kulit, buncit di perut/dan bayangan maut, datang silih berganti/kita memang bukan ahlinya/yang bisa memutar turbin waktu. ***
* Adek Alwi adalah sastrawan, wartawan,
dan dosen Poltek UI.
Dimuat Suara Karya Sabtu, 21 Nov. 2009
21 November 2009
14 November 2009
Wanita Dalam Sajak
Sajak-Sajak Kurniawan Junaedhie:
WANITA DALAM SAJAK
Bagaimana mungkin,
seorang perempuan muncul dalam sajakku
Seperti pendar waktu,
dan gigil kelam,
dia leleh di pundakku
Licin bagai lilin,
lidah kami kemudian berpilin
Kami menyelam dan berenangan di laut kata
Terasa ngilu.
Giris dan lapar
Kami seakan tembikar terbakar
dalam seonggok nafsu
Lalu, ujarku: sajak, kenapa perempuan itu
masuk ke dalam kalimatku?
2009
PATUNG PEREMPUAN
- Pradnyaparamita
aku membayangkan gadis itu tercenung
sebelum akhirnya jadi patung
sebelum rumah-rumah rubuh
ia lihat petang rembang di langit
& sekawanan burung yang menjerit
tapi hati lelaki itu telah membeku
ia hanya berharap bertemu lagi di butiran debu
pada candi-candi berikutnya
2009
PERISTIWA DI SURATKABAR
Seperti sehelai tenunan,
peristiwa demi peristiwa tersulam rapi
seseorang muncul dari kabin
menodongkan pistol dan granat:
membajak pesawat
Seperti sehelai tenunan,
peristiwa demi peristiwa teranyam rapi
tubuhku ditemukan di kakus apartemen:
seseorang menikamku persis di ulu hati
aku terkapar, usus terburai ke mana-mana
Seperti sehelai tenunan
peristiwa demi peristiwa tersulam rapi
kapal kami bocor di lambungnya
seisi penumpang terjungkal karam
berenangan di makan ikan-ikan
Lalu gempa menggoyang
Lalu lumpur menyembur
Listrik mati, lampu padam
Lalu negeri kami jadi bubur
Ribuan lubang jahitan tak tercatat
Semua tergantung seperti benang dan jarum
tanpa bentuk, tidak kasat mata
Seperti sehelai tenunan,
peristiwa demi peristiwa terjalin rapi
kami menggunakannya untuk taplak meja makan
lalu kami memutarinya dengan hidangan
2009
SEEKOR CICAK DI DINDING
Seekor cicak merayap di dinding. Siapa namamu? Singa? Macan? Ah, aku hanya seekor buaya kecil yang kerjanya merayap di dinding. Aku tak bisa menari dan terbang tinggi. Kudukku selalu merinding. Tubuhku selalu menggigil. Aku selalu takut ditepok pemilik tembok. Itu sebabnya aku selalu berjalan mengendap, merayap dengan mata mengerjap. Termenung, atau termangu, membisu atau diam. Pernah sekali bercinta dan anglingdarma mendengarnya. Karena tak mau membuka rahasia, istrinya curiga dan membakar dirinya. Aku merasa berdosa.
Siapa namamu? Singa? Macan? Ah, aku hanya seekor buaya kecil yang kerjanya merayap di dinding. Aku bukan kamu yang senang berpikir, memegang senapan yang bisa menyalak kapan saja dan mahir mengarang sihir.
2009
WANITA DALAM SAJAK
Bagaimana mungkin,
seorang perempuan muncul dalam sajakku
Seperti pendar waktu,
dan gigil kelam,
dia leleh di pundakku
Licin bagai lilin,
lidah kami kemudian berpilin
Kami menyelam dan berenangan di laut kata
Terasa ngilu.
Giris dan lapar
Kami seakan tembikar terbakar
dalam seonggok nafsu
Lalu, ujarku: sajak, kenapa perempuan itu
masuk ke dalam kalimatku?
2009
PATUNG PEREMPUAN
- Pradnyaparamita
aku membayangkan gadis itu tercenung
sebelum akhirnya jadi patung
sebelum rumah-rumah rubuh
ia lihat petang rembang di langit
& sekawanan burung yang menjerit
tapi hati lelaki itu telah membeku
ia hanya berharap bertemu lagi di butiran debu
pada candi-candi berikutnya
2009
PERISTIWA DI SURATKABAR
Seperti sehelai tenunan,
peristiwa demi peristiwa tersulam rapi
seseorang muncul dari kabin
menodongkan pistol dan granat:
membajak pesawat
Seperti sehelai tenunan,
peristiwa demi peristiwa teranyam rapi
tubuhku ditemukan di kakus apartemen:
seseorang menikamku persis di ulu hati
aku terkapar, usus terburai ke mana-mana
Seperti sehelai tenunan
peristiwa demi peristiwa tersulam rapi
kapal kami bocor di lambungnya
seisi penumpang terjungkal karam
berenangan di makan ikan-ikan
Lalu gempa menggoyang
Lalu lumpur menyembur
Listrik mati, lampu padam
Lalu negeri kami jadi bubur
Ribuan lubang jahitan tak tercatat
Semua tergantung seperti benang dan jarum
tanpa bentuk, tidak kasat mata
Seperti sehelai tenunan,
peristiwa demi peristiwa terjalin rapi
kami menggunakannya untuk taplak meja makan
lalu kami memutarinya dengan hidangan
2009
SEEKOR CICAK DI DINDING
Seekor cicak merayap di dinding. Siapa namamu? Singa? Macan? Ah, aku hanya seekor buaya kecil yang kerjanya merayap di dinding. Aku tak bisa menari dan terbang tinggi. Kudukku selalu merinding. Tubuhku selalu menggigil. Aku selalu takut ditepok pemilik tembok. Itu sebabnya aku selalu berjalan mengendap, merayap dengan mata mengerjap. Termenung, atau termangu, membisu atau diam. Pernah sekali bercinta dan anglingdarma mendengarnya. Karena tak mau membuka rahasia, istrinya curiga dan membakar dirinya. Aku merasa berdosa.
Siapa namamu? Singa? Macan? Ah, aku hanya seekor buaya kecil yang kerjanya merayap di dinding. Aku bukan kamu yang senang berpikir, memegang senapan yang bisa menyalak kapan saja dan mahir mengarang sihir.
2009
Index:
Puisi
1 komentar
10 November 2009
Istri
Sajak-Sajak Kurniawan Junaedhie:
ISTRI
Aku bersijingkat naik tempat tidur. Dan istriku yang sudah lama di sana, memelukku. Ia mencium bibirku. Dan kami saling berpagutan dan mendesis-desis seperti ular. Ada rasa yang liar. Seperti merasakan ruap onak yang terbakar. Ketika jam weker berbunyi dua kali, kami pun terjaga. Kami berpandangan.
Saat itu di jendela hujan turun gerimis. Bayang lampu jalanan masuk ke dalam gorden yang tipis. Langit sangat kelam. Di pinggir tempat tidur, kami duduk terdiam. Rasanya dunia kelam. Semua diam. Juga tiang listrik di luar sana, diam, diguyur hujan.
Dan ketika kutatap matanya, kulihat dalam mata itu sebuah telaga yang tenang. Beberapa ekor belibis sedang berenang di permukaannya. Setelah itu, aku melihat seluas-luasnya samudera. Ada air laut menggenang sampai ke batas cakrawala. Ada cahaya berkelebat seperti kilat di luar jendela. Tapi tidak ada ombak. Dan aku seperti sauh kecil, terombang-ambing di alun gelombang.
Aku masih termangu-mangu, ketika istriku bersijingkat naik tempat tidur. Aku masih duduk membisu ketika ia mengigau. Aku masih terjaga ketika weker berbunyi empat kali. Aku dengar dengusnya. Aku membaui nafasnya. Aku heran bagaimana dia bisa mencintaiku apa adanya.
Saat itu di jendela hujan turun gerimis. Bayang lampu jalanan masuk ke dalam gorden yang tipis. Langit sangat kelam. Di tempat tidur, istriku terpejam. Rasanya dunia karam. Semua diam. Juga tiang listrik di luar sana, diam, diguyur hujan. Dan aku menangis.
Oktober 2009
SEORANG LELAKI YANG TIDAK TIDUR
- Cerita untuk Ahita
Sudah lama dia tidak tidur. Matanya terbeliak tapi pikirannya melancong ke negeri jauh di antara kemerlip bintang. Ia merasa dirinya seperti kepompong. Tapi kenapa hidup begitu bengis? Ia kawini seorang perempuan cantik tetapi dia malah serong dengan lelaki lain. Ia sayangi anak satu-satunya tapi anaknya malah memacu motornya dengan kencang di jalananan sampai sebuah truk menghentikannya. Dunia pun jungkir balik di kepala. Membuat matanya terus terbeliak sampai sekarang. Dia diam dan tidak bisa tidur. Tapi pikirannya melancong ke negeri jauh. Ke sebuah dusun yang tenang, di antara kemerlip bintang. Di mana keluarganya tinggal, dalam kenangan. Sambil tetap membuka matanya, ia pun mulai mereka-reka untuk berkumpul di sana. Tapi dengan apa? Menenggak racun tikus? Minum obat di luar dosis? Atau menyelipkan moncong pistol ke dalam mulutnya sampai nafasnya mendesis? Sampai sekarang ia tetap mereka-mereka dengan 1000 cara sambil terus membuka matanya. Untuk kesekian lamanya.
2009
GELAP
Berhari-hari lampu padam di rumahmu. Huruf dan gambar tenggelam. Hidup jadi kelam. Kebahagiaan karam. Kamu resah. Bergulingan di jalanan. Merasa ventilasi dalam rongga dadamu mampat, seperti got yang dipenuhi sampah berjejalan. Karena aku takut pada gelap, katamu. Gelap itu sepi, seperti kematian. Kematian itu sepi seperti malam. Apakah kamu takut pada malam yang sementara? Bukan, aku tidak takut pada malam yang didesak oleh sore dan petang hari meski kemudian digantikan subuh dan pagi hari. Tapi aku takut pada saat malam itu. Atau saat lampu padam. Karena kita tidak bisa berbuat apa-apa. Itu mengingatkanku bahwa suatu hari nanti hidup juga akan memadamkan lampunya. Entah kapan. Saat siang atau malam. Saat ada penerangan atau saat lampu padam.
2009
PESAWAT TERBANG
Sudah lama kami tidak berani naik pesawat terbang. Burung bermesin itu suka ngadat di udara. Kadang baling-balingnya oleng. Kadang-kadang rodanya rusak. Kadang-kadang saja dia berlagak terbang tinggi, tapi kemudian berpusing-pusing karena mesinnya mati. Sudah lama kami tidak berani naik pesawat terbang. Karena begitu mudah dia terbang, begitu mudah pula dia menukik ke bumi. Sudah lama kami tidak berani lagi kepingin melihat pramugari. Kepada anak-anak dan handaitaulan kami bilang sebaiknya tidak jadi pilot. Karena pesawat terbang negeri sendiri suka menjatuhkan diri. Tak ada yang menjamin tak ada baut yang copot. Tentu saja para pejabat membantahnya. Tapi kami tidak perduli.
2009
PENYAIR
Di bawah pohon-pohon pisang
Rumput terlanjur gersang
Daun-daun berserakan
dan air menggenang
Apakah yang akan kaulakukan, tuan penyair?
Membuat pemandangan jadi sihir?
Tulang ikan menjadi beton bertulang?
Agar pembangunan bergerak menggelinjang?
Sebuah mobil melintas kencang
Penumpangnya hanya melambaikan tangan
Esoknya ia melukiskan pemandangan alam
Yang indah dan bagus kata-katanya
Di sehampar tanah basah
Di antara sejumlah ilalang
Ada hati yang remuk,
dengan airmata berlinang
2009
REST IN PEACE
-Untuk lazuardi adi sage
Terbungkus di dalam kain kafan,
tak ada lagi nama yang bisa disapa
Tanah menggelinjang. Langit benderang.
Panorama beku. Seperti kita tengah diamuk badai salju.
Kulihat engkau saja menjauh.
terombang-ombing di atas sauh
Langit di hatiku hangus.
Kaki melangkah seperti di tanah tandus
Semakin terasa tak ada yang abadi.
Bahkan bulu mata pun ternyata bukan milik kita.
2008
ELOI, ELOI LAMA SABAHKTANI
Langit jingga, lalu kesumba
Malam dingin, dan angin menggigil
Tiba-tiba senapanmu menyalak dalam gelap
Aku tersungkur, rebah lalu terjerembab
Sambil terhuyung aku raba dadaku
Darah berlinangan
Kata-kata berlinangan
Darah & kata berlinangan pada tubuh sintalmu
Begini cepat datangnya
Begitu rapuh penyebabnya.
Eloi, Eloi Lama Sabakhtani
Aku mau hidup 1000 tahun lagi
2009
ISTRI
Aku bersijingkat naik tempat tidur. Dan istriku yang sudah lama di sana, memelukku. Ia mencium bibirku. Dan kami saling berpagutan dan mendesis-desis seperti ular. Ada rasa yang liar. Seperti merasakan ruap onak yang terbakar. Ketika jam weker berbunyi dua kali, kami pun terjaga. Kami berpandangan.
Saat itu di jendela hujan turun gerimis. Bayang lampu jalanan masuk ke dalam gorden yang tipis. Langit sangat kelam. Di pinggir tempat tidur, kami duduk terdiam. Rasanya dunia kelam. Semua diam. Juga tiang listrik di luar sana, diam, diguyur hujan.
Dan ketika kutatap matanya, kulihat dalam mata itu sebuah telaga yang tenang. Beberapa ekor belibis sedang berenang di permukaannya. Setelah itu, aku melihat seluas-luasnya samudera. Ada air laut menggenang sampai ke batas cakrawala. Ada cahaya berkelebat seperti kilat di luar jendela. Tapi tidak ada ombak. Dan aku seperti sauh kecil, terombang-ambing di alun gelombang.
Aku masih termangu-mangu, ketika istriku bersijingkat naik tempat tidur. Aku masih duduk membisu ketika ia mengigau. Aku masih terjaga ketika weker berbunyi empat kali. Aku dengar dengusnya. Aku membaui nafasnya. Aku heran bagaimana dia bisa mencintaiku apa adanya.
Saat itu di jendela hujan turun gerimis. Bayang lampu jalanan masuk ke dalam gorden yang tipis. Langit sangat kelam. Di tempat tidur, istriku terpejam. Rasanya dunia karam. Semua diam. Juga tiang listrik di luar sana, diam, diguyur hujan. Dan aku menangis.
Oktober 2009
SEORANG LELAKI YANG TIDAK TIDUR
- Cerita untuk Ahita
Sudah lama dia tidak tidur. Matanya terbeliak tapi pikirannya melancong ke negeri jauh di antara kemerlip bintang. Ia merasa dirinya seperti kepompong. Tapi kenapa hidup begitu bengis? Ia kawini seorang perempuan cantik tetapi dia malah serong dengan lelaki lain. Ia sayangi anak satu-satunya tapi anaknya malah memacu motornya dengan kencang di jalananan sampai sebuah truk menghentikannya. Dunia pun jungkir balik di kepala. Membuat matanya terus terbeliak sampai sekarang. Dia diam dan tidak bisa tidur. Tapi pikirannya melancong ke negeri jauh. Ke sebuah dusun yang tenang, di antara kemerlip bintang. Di mana keluarganya tinggal, dalam kenangan. Sambil tetap membuka matanya, ia pun mulai mereka-reka untuk berkumpul di sana. Tapi dengan apa? Menenggak racun tikus? Minum obat di luar dosis? Atau menyelipkan moncong pistol ke dalam mulutnya sampai nafasnya mendesis? Sampai sekarang ia tetap mereka-mereka dengan 1000 cara sambil terus membuka matanya. Untuk kesekian lamanya.
2009
GELAP
Berhari-hari lampu padam di rumahmu. Huruf dan gambar tenggelam. Hidup jadi kelam. Kebahagiaan karam. Kamu resah. Bergulingan di jalanan. Merasa ventilasi dalam rongga dadamu mampat, seperti got yang dipenuhi sampah berjejalan. Karena aku takut pada gelap, katamu. Gelap itu sepi, seperti kematian. Kematian itu sepi seperti malam. Apakah kamu takut pada malam yang sementara? Bukan, aku tidak takut pada malam yang didesak oleh sore dan petang hari meski kemudian digantikan subuh dan pagi hari. Tapi aku takut pada saat malam itu. Atau saat lampu padam. Karena kita tidak bisa berbuat apa-apa. Itu mengingatkanku bahwa suatu hari nanti hidup juga akan memadamkan lampunya. Entah kapan. Saat siang atau malam. Saat ada penerangan atau saat lampu padam.
2009
PESAWAT TERBANG
Sudah lama kami tidak berani naik pesawat terbang. Burung bermesin itu suka ngadat di udara. Kadang baling-balingnya oleng. Kadang-kadang rodanya rusak. Kadang-kadang saja dia berlagak terbang tinggi, tapi kemudian berpusing-pusing karena mesinnya mati. Sudah lama kami tidak berani naik pesawat terbang. Karena begitu mudah dia terbang, begitu mudah pula dia menukik ke bumi. Sudah lama kami tidak berani lagi kepingin melihat pramugari. Kepada anak-anak dan handaitaulan kami bilang sebaiknya tidak jadi pilot. Karena pesawat terbang negeri sendiri suka menjatuhkan diri. Tak ada yang menjamin tak ada baut yang copot. Tentu saja para pejabat membantahnya. Tapi kami tidak perduli.
2009
PENYAIR
Di bawah pohon-pohon pisang
Rumput terlanjur gersang
Daun-daun berserakan
dan air menggenang
Apakah yang akan kaulakukan, tuan penyair?
Membuat pemandangan jadi sihir?
Tulang ikan menjadi beton bertulang?
Agar pembangunan bergerak menggelinjang?
Sebuah mobil melintas kencang
Penumpangnya hanya melambaikan tangan
Esoknya ia melukiskan pemandangan alam
Yang indah dan bagus kata-katanya
Di sehampar tanah basah
Di antara sejumlah ilalang
Ada hati yang remuk,
dengan airmata berlinang
2009
REST IN PEACE
-Untuk lazuardi adi sage
Terbungkus di dalam kain kafan,
tak ada lagi nama yang bisa disapa
Tanah menggelinjang. Langit benderang.
Panorama beku. Seperti kita tengah diamuk badai salju.
Kulihat engkau saja menjauh.
terombang-ombing di atas sauh
Langit di hatiku hangus.
Kaki melangkah seperti di tanah tandus
Semakin terasa tak ada yang abadi.
Bahkan bulu mata pun ternyata bukan milik kita.
2008
ELOI, ELOI LAMA SABAHKTANI
Langit jingga, lalu kesumba
Malam dingin, dan angin menggigil
Tiba-tiba senapanmu menyalak dalam gelap
Aku tersungkur, rebah lalu terjerembab
Sambil terhuyung aku raba dadaku
Darah berlinangan
Kata-kata berlinangan
Darah & kata berlinangan pada tubuh sintalmu
Begini cepat datangnya
Begitu rapuh penyebabnya.
Eloi, Eloi Lama Sabakhtani
Aku mau hidup 1000 tahun lagi
2009
Index:
Puisi
1 komentar
29 Oktober 2009
Indahnya Hidup Cara Nes *)
Sajak Kurniawan Junaedhhie:
Nes ingin punya rumah
Yang terdiri dari satu kamar mandi
dan sebuah kamar tidur
Hidup akan bahagia, katanya
Apalagi jika di dinding tak ada kalender
Tak ada pesawat televisi, telepon, komputer
termasuk alat pengukur waktu, atau pencatat suhu
Dibayangkan hidup akan mengalir lebih dari 24 jam
Mungkin 48 jam, atau 356 jam
Aku bukan tulangrusuk
Aku cuma melihat betapa hidupku remuk
Aku tak ingin hidupku seperti ibu
Menghamba pada lelaki dengan kepala tertunduk
Aku ingin merdeka, katanya
Aku ingin surga.
Setiap hari Nes bernyanyi di kamar mandinya yang luas
Di sana ia membersihkan semua keluh kesah
Lalu ia berbaring di kamar tidurnya yang lapang
sambil sesekali melakukan masturbasi
tanpa perlu menyebut atau menghapal nama-nama.
Ia senang karena tak perlu mendengar langkah kaki
suara gumam, atau bahkan erangan
Ia hanya ingin mendengar nafasnya sendiri
Ia hanya ingin mendengar desahnya sendiri
Alangkah indahnya hidup, begitu kata Nes
2009
*) Nes akhirnya menikah dalam usia 34 tahun. Pada usia 39 tahun ia meninggal, tanpa meninggalkan anak. Tak lama kemudian suaminya menikah lagi dengan wanita lain.
(Dimuat dalam buku kump. puisi Rencana Kata, Jakarta, 2009)
Nes ingin punya rumah
Yang terdiri dari satu kamar mandi
dan sebuah kamar tidur
Hidup akan bahagia, katanya
Apalagi jika di dinding tak ada kalender
Tak ada pesawat televisi, telepon, komputer
termasuk alat pengukur waktu, atau pencatat suhu
Dibayangkan hidup akan mengalir lebih dari 24 jam
Mungkin 48 jam, atau 356 jam
Aku bukan tulangrusuk
Aku cuma melihat betapa hidupku remuk
Aku tak ingin hidupku seperti ibu
Menghamba pada lelaki dengan kepala tertunduk
Aku ingin merdeka, katanya
Aku ingin surga.
Setiap hari Nes bernyanyi di kamar mandinya yang luas
Di sana ia membersihkan semua keluh kesah
Lalu ia berbaring di kamar tidurnya yang lapang
sambil sesekali melakukan masturbasi
tanpa perlu menyebut atau menghapal nama-nama.
Ia senang karena tak perlu mendengar langkah kaki
suara gumam, atau bahkan erangan
Ia hanya ingin mendengar nafasnya sendiri
Ia hanya ingin mendengar desahnya sendiri
Alangkah indahnya hidup, begitu kata Nes
2009
*) Nes akhirnya menikah dalam usia 34 tahun. Pada usia 39 tahun ia meninggal, tanpa meninggalkan anak. Tak lama kemudian suaminya menikah lagi dengan wanita lain.
(Dimuat dalam buku kump. puisi Rencana Kata, Jakarta, 2009)
Index:
Puisi
0
komentar
Langgan:
Entri (Atom)



