Tampilkan postingan dengan label Adek Alwi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adek Alwi. Tampilkan semua postingan

07 Desember 2014

SEKILAS KISAH KURNIAWAN JUNAEDHIE DI BALIK LAHIRNYA MAJALAH ANITA


~Adek Alwi

ANITA DAN SAYA (1)
31 Januari 2009 pukul 10:38

Kampus Sekolah Tinggi Publisistik, Menteng Raya, Oktober 1978. Kurniawan Junaedhie, kawan kuliah dan sesama seniman, yang juga wartawan Majalah Dewi, minta cerpen kepada saya dan Lazuardi Adi Sage (alm). Itu permintaan kedua Jun, setelah yang pertama ia sampaikan beberapa saat berselang bersama Yanie Wuryandari (pun wartawan Dewi) ketika saya ambil honor ke kantor mereka di Jl. Padang. Jadi Jun serius. Tapi kami tanyai juga dia, “Buat apa? Dewi?” 
“Pokoknya off the record dulu. Honornya serius, lho!” Dia seriuskan wajah.
“Berapa?”
“Sepuluh ribu!”
Memang “serius”.

Di Majalah Violeta, dan Ultra, honor cerpen saya masa itu Rp 3.500; Varia Nada Rp 2.500; Ria Remaja Rp 2.000; Sinar Harapan Rp 5.000; Gadis Rp 7.500; dua puisi di Buana Minggu Rp 1.250, kurang lebih sama dengan Minggu Merdeka. Angka-angka itu saja “gurih”. Tarif bus kota masih Rp 20 lalu naik Rp 25. Ji Sam Soe Rp 115/bungkus. Maka saya tulis cerpen Cintaku di Balik Awan, di bagian akhirnya terketik: Tomang Barat, 19 Oktober 1978. Jumpa lagi di kampus, saya kasih Jun. Rupanya Jun dan Yanie juga minta cerpen ke kawan penulis lain, disertai DP “off the record” jika ada yang tanya untuk majalah apa. Lalu, hari-hari berlalu dan Jun mulai jarang ke kampus. Lalu berhenti sama sekali; kelakuan yang saya perbuat setahun lebih kemudian, setelah sejenak di tingkat IV/1980).

Pada kasus Jun saya tak tahu sebabnya, untuk saya karena semacam kesombongan; sejak 1975 sudah wartawan, ngapain lagi sih belajar jadi jurnalis. Semula, saya reporter Majalah Ria Remaja yang segede buku tulis (Majalah Varia Nada, juga Aktuil awalnya begitu). Lalu bantu koran daerah, Haluan (Padang), terutama untuk peristiwa budaya. Saya pun rajin baca, juga menjaga tekad: keputusan tak populer memecat diri dari bangku kuliah (yang bikin kecewa abang terutama abang sulung yang membiayai, bikin sedih orang tua karena 1 dari 9 anaknya takkan bergelar sarjana), harus dibuktikan sebagai pilihan yang benar. Saya harus duduk di pucuk profesi kewartawanan, pemimpin redaksi, agar sama dengan rektor saya di STP, Drs AM Hoeta Soehoet, mantan Pemimpin Redaksi Harian Abadi. Jadi mudah dibaca, kelahiran Anita perpaduan cerdik melihat pasar dan kreativitas rada nakal-nekat. Owner Anita, R Risman Hafil, seorang dari tiga pemilik dan pemimpin Majalah Dewi, sedang dua wartawannya, Yanie Wuryandari serta Kurniawan Junaedhie, adalah para pengarang yang cerpennya digandrungi remaja.

Belakangan, saya pikir-pikir, jika saja orang bertiga itu (Risman Hafil, Kurniawan Junaedhie, Yanie Wuryandari) tidak melakukan itu, jangan-jangan tak menjamur majalah kumpulan cerpen di era 1980-an. Anita kedua setelah Gadis yang menerbitkan, kemudian ada Ringan, Pesona, Tina, Aneka, Asyiiik, Nino Bagus (di Bandung), dll. Bahkan Majalah Aneka Ria (sebelum manajemen Aneka Yes) pun terbitkan majalah kumpulan cerpen, juga Majalah Ria Film. Pokoknya ramai. Jangan-jangan juga, jalan sejarah sastra Indonesia agak beda dari yang kita kenal saat ini. Sebab, banyak pula yang menjadikan majalah kumpulan cerpen (termasuk Anita) ajang latihan sebelum memasuki penulisan lebih serius. Sebutlah Kurnia Effendi, Gus tf Sakai, atau Agus Noor, yang saat jumpa pertama di kantor saya Jl. Fatmawati tahun 1998 langsung bilang, “Bang Adek, saya dulu nulis di Anita!” Wah. Padahal cerpen kami sama terpilih untuk “Cerpen Pilihan KOMPAS 1994”. Mereka yang di lapangan sastra sebelum masa majalah kumpulan cerpen itu pun, katakanlah Putu Wijaya, Abrar Yusra, Sides Sudyarto DS, ikut meramaikan Anita; selain Yudhistira Ardi Noegraha, Adri Darmadji Woko, Syarifudin A Ch, Arwan Tuti Artha (menyebut sedikit nama saja). Sementara di rubrik “Cakrawala Puisi Anita” (yang mulai dibuka seiring Anita terbit dua kali sebulan, volume 24 Kamis ke-1 Januari 1981, 6 bulan sesudah saya di Anita), ada nama Acep Zamzam Noor, Soni Farid Maulana, Syarifuddin Arifin, Syamsudin Noer Moenadi, Hardho Sayoko SPB, Arief Joko Wicaksono, Irawan Sandya Wiraatmaja, Remmy Novaris DM, dll.

Jadi kalau saya saja terangguk-angguk karena merasa sudah melangkah “di jalan yang benar” pernah terlibat di Anita, apalagi Uda Risman Hafil (alm), Yanie Wuryandari, Kurniawan Junaedhie; “tiga proklamator” Anita, meski ulah mereka semula sempat bikin “geger”. Tetapi di awal Januari 1979 itu yang terlintas di pikiran saya: nah, tambah banyak tempat menulis! Dan, harus cepat-cepat jumpai Jun, minta honor! Terlebih, di kampus, Lazuardi Adi Sage bilang, “Sudah ambil honor, Dek?” Dia sudah. Hari sebelumnya saya bolos kuliah; menstensil Buletin Sanggar A yang saya pimpin (anggotanya kawan kuliah seperti M Nigara, Remi Soetansyah, Amrizal Ramli; yang tak lain penulis Anita semua). Saya lalu ke Jl. Padang, jumpa Kurniawan-Yanie. Jun ajak saya ke ruang bosnya, R Risman Hafil; saya sapa Uda karena sedaerah, serta lebih tua dari saya 11 tahun. Muda, ramah, enerjik. Selama berbincang ia didampingi Rujito SK, yang kelak Wapemred Tiara (adik Anita). Tak terbayang bahwa setahun lebih kemudian, tahun 1980, Da Risman mengirimi saya dua surat berisi sama, ke alamat abang di Ciawi Bogor, dan Tomang Barat. Isinya, meminang saya jadi redaktur Anita; menggantikan Emji Alif yang tak betah lama-lama tinggalkan gunung hingga hanya dua bulan tahan bermesraan dengan Anita. Malah Astuti Wulandari pun dia tinggal. Juga Rifda yang manis, kemanakan Da Risman; yang bertugas mecatat naskah masuk atau di-retour.

Eh, saya malah pegang rekor, 9 tahun lebih di Anita! Dari usia 27 tahun minus 12 belas hari, hingga umur 36 plus 7 bulan (saya resmi pergi dari Anita 31 Januari 1990 tapi sejak Desember 1989 tinggal ‘kasih bekal’
kepada rekan yang tinggal, seperti diminta Da Risman). Atau sejak pengirim cerpen memanggil saya Adek saja, bahkan Dik Adek bagai Mbak Yayuk Nurtono di Surabaya, lantas Bang Adek (Wibi Permani yang asal Bali: Bli Adek), belakangan mulai disapa Om! Nah, kalah jadinya “sang proklamator” Kurniawan-Yanie, “sang pelanjut” Adhie M Massardi dan Astuti-Emji!

ANITA DAN SAYA (3)
1 Februari 2009 pukul 13:57

KURNIAWAN Junaedhie, satu dari tiga perintis Anita, menulis di dalam bukunya "Rahasia Dapur Majalah di Indonesia" (Gramedia, 1995) mengenai Anita: “Masa kejayaan majalah remaja ini diperoleh pada tahun 1986, ketika majalah ini dikemudikan oleh orang bernama Adek Alwi. Saat itu, tirasnya sempat mencapai angka 60 ribu eksemplar. Majalah ini bahkan sempat populer dan menjadi andalan serta wahana kreativitas bagi pengarang cerpen remaja di Indonesia. Banyak nama pengarang yang kini menghiasi media massa di Indonesia, lahir pertama kali melalui majalah remaja ini.”

Kurniawan berendah hati tak menyebut nama dia dan Yanie Wuryandari di bagian yang membahas Anita itu. Juga, sebetulnya tidak tahun 1986 “masa kejayaan” itu dicapai, tapi sejak 1985. Tiras Anita pun lebih dari 60 ribu: 65 ribu eksemplar. Seingat saya Anita makin melesat sejak terbit 3 kali sebulan, yang dimulai pada volume 57 edisi ke-2 April 1982.

Itulah sekilas peran Kurniawan di balik layar sastra Indonesia.


CORAK EMPAT SAJAK KURNIAWAN JUNAEDHIE


~Adek Alwi



Ada empat sajak Kurniawan Junaedhie dalam “Antologi Puisi Sosial 51 Penyair Pilihan: Bangga Aku Jadi Rakyat Indonesia” yang ia editori bersama-sama Adri Darmadji Woko, Dharmadi, dan Handrawan Nadesul (Kosa Kata Kita, Jakarta, Februari 2012). Ke-4 sajak itu: “Di Atas Lokomotif Bersama Mao dan Soekarno”, “Indonesia di Mulut”, “Mei 1998, Kisah Sepotong Ame”, dan “Hidup Dengan Sepatu”.

Bagi saya sajak-sajak itu menarik tak cuma isinya, lebih karena cara menyampaikan –dan ini membuat saya tambah percaya bahwa perihal sajak bagi penyair tak hanya perkara isi tapi juga soal cara mengekspresikan. Kedua, sajak-sajak itu menarik sebab terlihat pula di situ proses perjalanan si penyair menemukan cara itu, yang mengantarkan ke bentuk atau corak berbeda dengan sajak dia terdahulu. Kiranya di sini kegelisahan-tantangan penyair umumnya, yaitu pencarian menemukan cara ucap baru, yang berujung pada corak/bentuk berbeda, sebab cara/bentuk sebelumnya mungkin ia rasa tidak lagi efektif bergreget. Walhasil, empat sajak Kurniawan itu berbeda corak atau bentuknya dengan sajak-sajak ia dalam kumpulan “Selamat Pagi Nyonya Kurniawan” (Kolase Kliq, Jakarta, 1978), meski gejala ke arah itu sudah terlihat di beberapa sajak dia di kumpulan “Cinta Seekor Singa” (Bisnis2030, Jakarta, 2009). Dan, boleh jadi semakin tampak atau malah sudah pas, jelas, di kumpulan-kumpulan sajak berikutnya yang tak saya punyai seperti “Perempuan Dalam Secangkir Kopi” (2009) dan “Sepasang Bibir di Dalam Cangkir” (2011).

Perbedaan itu tampak pada struktur bentuknya. Jika struktur sajak-sajak di “Selamat Pagi Nyonya Kurniawan” terdiri atas bait yang tertib, baris/larik juga tertib pada bait, bunyi terjaga karena rima, pun pemenggalan larik atau enjambemen; hal-hal itu tak ditemui lagi di empat sajak tadi (ditulis tahun 2010-2011, 3 di bulan Desember 2011). Berikut sajak “Keluh” dari kumpulan “Selamat Pagi Nyonya Kurniawan” sebagai contoh:

seperti pada bumi, kami pun mengeluh
menghembus dan mendesah dibiarkan abadi
seperti pada bumi, kami pun mengeluh
mendesir dan mencair dibiarkan abadi

Atau tambahlah satu lagi dengan sajak “Kangen” yang terdiri atas dua bait ini:

dengan jam aku hanya pejam
pintu dikatupkan, matahari yang terbenam
dengan surat hati pedih tak tercatat
tempat gelap selalu menggeliat 
tapi antara langit dan langit
lebih dekat hati
lebih diam padam
dengan jiwa luka karena dunia berkhianat

Dan berikut petikan bait pertama dari empat bait sajak “Mei 1998, Kisah Sepotong Ame” (yang tipografinya dalam buku rata kanan kiri sehingga tampak satu, utuh; baris tidak lagi berupa larik melainkan penggalan
kalimat atau kalimat baru):

“Hari itu aku naik sepeda. Pedal kukayuh; dan sepeda menyeretku ke jalan berbatu. Namaku Ame. Hari itu Mei 1998. Aku sedang mens. 


Aku makan sepotong sosis dari lemari pendingin. Aku mencuci tangan di wastafel. Aku menepuk pantat adik bayi di tempat buaian. Aku menjemur pakaian dan memecahkan cangkir. Aku mencium pipi Ibu di dapur. Aku melihat wajahku yang pucat di cermin. Aku sedang mens. 


Kukayuh hatiku untuk menekuk waktu yang panjang menjadi pendek. Kulepas tubuhku meluncur di jalanan membuyarkan kawanan itik dan membiarkan anganku terkelupas”.

Dengan bentuk seperti itu, sajak “Mei 1998, Kisah Sepotong Ame” hadir dengan cara tak biasa, mendekat ke prosa, bercerita --sehingga apa yang disebut pengamat (Dick Hartoko dan B Rahmanto: “Pemandu di Dunia Sastra”, 1986) bahwa batas antara puisi dan prosa pada sastra modern sering kabur atau tipis, terlihat di sini. Tapi tidak begitu dengan sajak “Keluh” serta “Kangen” tadi, yang membangun dirinya dengan kata (tidak kalimat), larik, rima, dengan bunyi, enjambemen –tak berkisah.

Jadi, corak sajak “Mei 1998, Kisah Sepotong Ame”, “Di Atas Lokomotif Bersama Mao dan Soekarno”, “Indonesia di Mulut”, “Hidup Dengan Sepatu” adalah sajak-sajak naratif, sajak bertutur, bercerita. Bait pertama “Mei 1998” itu mendeskripsikan “aku” lirik: nama, kegiatan di rumah, keadaan “aku” lirik waktu itu, hubungan dengan keluarga, perjalanan berjalan-jalan naik sepeda “untuk menekuk waktu yang panjang menjadi pendek.”


Bentuk yang naratif itu makin terlihat kalau kita lanjut membaca bait ke-2, 3, dan 4 ini:

Suara rante dan pedal berderak-derak seperti suara pabrik. Angin mengepal-ngepal di betis dan paha. Sadel melonjak bila ada kucing melintas, dan ragaku seperti hendak ditarik ke langit. Aku teringat Han yang suka menyelipkan bunga dalam buku karena aku suka bunga dan dia kutubuku. Alangkah indahnya hidup Angin terus menderu dan menampar pipiku yang pucat. Lalu langit gelap tiba-tiba. Aku seperti untaian kalung yang tumpah di jalanan dan membiarkan tumpukan najis muncul dari gorong-gorong. Aku  melihat sepeda naik ke tubuhku. Aku melihat sekawanan kambing mencabik-cabik pahaku. Aku melihat Han menyelip dalam buku dan menggigit mulutnya sendiri. Aku melihat pecahan wastafel dan jeruji roda masuk ke vagina. Aku seperti telur mata sapi di penggorengan. Aku mendengar suara gergaji di dapur. Aku melihat mentega meleleh dari lemari pendingin. Aku terlempar dalam kalender dan bersandar pada penanggalan. Hidup ternyata tidak indah. Aku sedang mens. 


Namaku Ame. Sekarang aku tak punya sepeda.


Bait terakhir yang cuma sebaris atau tiga kalimat itu adalah ending. Bait ke-3, deskripsi peristiwa yang menyebabkan si “aku” lirik menyimpulkan “Hidup ternyata tidak indah”. Sedangkan bait ke-2 mengisahkan jalanjalan naik sepeda tadi, sewaktu “aku” lirik masih merasa “Alangkah indahnya hidup”. Semua itu tampil rangkai-berangkai laiknya tuturan cerita.

Khusus pada sajak “Mei 1998, Kisah Sepotong Ame” ini, pengisahannya pun (jika dibaca dari awal bait pertama) menggunakan teknik sorot-balik atau flash-back bak lazim pula pada cerita, pada prosa, sebutlah cerpen atau novel.

Di luar teknik pengisahan yang sorot-balik itu, hal yang sama akan kita jumpai pada tiga sajak lainnya, yaitu berupa: deskripsi mengenai kegiatan “aku” lirik, apa yang “aku” lirik jumpai, alami, lakukan, keadaan/ peristiwa di luar si “aku” lirik, kemudian ending –semua berurut. Berikut petikan lengkap sajak “Di Atas Lokomotif Bersama Mao dan Soekarno” (tipografi sajak ini, begitu pula sajak “Indonesia di Mulut” dan “Hidup Dengan Sepatu”, kanan kiri rata pula dalam buku):

Masinis itu membaca Mao dan aku membaca Soekarno. Di loko itu, kami berhadap-hadapan seperti jurang. Di jendela, tiang-tiang listrik melesat seperti air ludah. Kereta terus melolong-lolong dan membelah-belah kabut dan memotong-motong bayangan senja yang mulai jingga. Sesekali kereta berguncang. Gerbong beradu gerbong. Dan kacamataku goyang.

Masinis itu membiarkan rambutnya berkibar-kibar bersama angin senja yang jingga itu. Dia membuka bukunya. Huruf-huruf dalam buku itu pun serta merta berserakan di udara. Kata-katanya tergulung di bawah bordes, dan tergelincir dalam pusingan angin dekat ketel; lalu tersapu mendung. Kemana kereta api ini bergegas? Kita sedang menuju Negeri Antah Berantah,” teriak api dari tungku loko dengan mata berkilat-kilat. Loko menjerit-jerit. Asapnya bergulingan tertinggal di dahan dan ranting. Kacamataku goyang, dan Soekarnoku melompat ke cerobong uap. Masinis itu lenyap di baliknya. Senja pun semakin jingga.

Macam dongeng, serupa cerita; prosais –lengkap dengan tanda baca seperti koma (,). Dan juga begitu dengan sajak “Hidup Dengan Sepatu”, serta sajak “Indonesia di Mulut” yang bait pertamanya seperti ini:

Aku sedang menggosok gigi di depan cermin, pacarku sedang main fesbuk. Tiba-tiba ada kapal yang menambatkan sauh di geraham. Aku terkesima. Gusiku jatuh dan sikat gigiku me-loncat ke wastafel. Pacarku serentak mematikan laptopnya. Kuseret wajahnya ke depan cermin. “Lihat, ada burung-burung beterbangan di dalam mulut,” kataku terpesona menunjuk rongga mulutku yang penuh busa odol. “Ya, kulihat ada zamrud katulistiwa,” kata pacarku sambil melongok langit-langit mulutku.

Sedangkan bait pertama dari sajak “Hidup Dengan Sepatu” yang terdiri atas empat bait serupa ini:

Jam lima pagi, aku sudah sampai ke sepatu. Waktu merangkak di jam tangan. Aku berjalan bersama sepatuku. Udara segar. “Mari kita bersulang, Kawan,” kataku. Jam terus merayap seiring detak waktu.

Sekali lagi, semua sajak itu prosais, bercerita. Bertutur dia kepada kita; mendeskripsikan yang dialami, dirasakan, dilakukan si “aku” lirik, keadaan di luar “aku” lirik. Dan semua itu disajikan rangkai-berangkai bagai dalam sebuah cerita.


 ***

Jika sudah begitu dekat sajak-sajak itu menghampir ke prosa sehingga tipis saja bedanya dengan prosa, mengapa dia masih disebut sajak/ puisi? Atau sekalipun dalam wujud kode-sastra yang paling sederhana (Prof Dr A Teeuw: “Membaca dan Menilai Sastra”, 1983) kenapa sajak-sajak itu tidak ditempatkan di buku kumpulan cerpen misalnya, tapi tetap di antologi puisi? Jawabnya tentulah karena dia masih berupa sajak/puisi, lantaran bangunan pokoknya tetap terdiri atas susunan imaji, rangkaian-rangkaian imaji.

Sudah tentu ada cerpen dibangun atas susunan imaji, umpamanya dalam Majalah Sastra “Horison” periode 1960-an/1970-an; ditulis sastrawan kita, antara lain Sutardji Calzoum Bachri, Arswendo Atmowiloto, Frans Nadjira, Yudhistira Ardi Noegraha, Korrie Layun Rampan, Abdul Hadi WM juga Kurniawan Junaedhie. Di samping sastrawan luar seperti Alexander Solzhenitsyin. Akan tetapi jika ditilik lebih jauh cerpen-cerpen itu tetap tampak lebih berat kepada prosa lantaran dia tak dapat bebas-bebas amat mengeksplorasi kata/bahasa untuk menghadirkan imaji, seperti dimungkinkan pada sajak. Sulit diterima eksplorasi-eksplorasi bahasa bagai berikut ini berkeliaran dalam prosa, meski dimaksudkan untuk menampilkan imaji:  “Aku melihat sekawanan kambing mencabik-cabik pahaku”, “Aku melihat pecahan wastafel dan jeruji roda masuk ke vagina” dan “Aku terlempar dalam  kalender dan bersandar pada penanggalan” dari sajak “Mei 1998, Kisah Sepotong Ame”. Atau dari sajak mantranya Sutardji Calzoum Bachri yang terkenal ini: “Ngiaauu! kucing dalam darah dia menderas lewat dia mengalir ngilu Ngiaauu! dia bergegas dalam aortaku dalam rimba darahku….” yang juga terkesan naratif, dan ketika dipublikasikan Majalah “Horison” edisi Desember 1974, berjudul “Kucing”. Eksplorasi-eksplorasi kata/bahasa semacam itu atau lebih “liar” lagi seakan-akan “tidak karuan” karena menafikan makna kata yang umum/baku, hanya dimungkinkan di dalam sajak/puisi.


 ***

Akhirnya, ingin saya katakan bahwa cara ucap berbeda dalam bentuknya yang naratif itu tak hadir tiba-tiba di sajak-sajak Kurniawan Junaedhie. Meski samar, bagai saya sebut di awal tulisan ini, gejalanya sudah tampak di beberapa sajak di kumpulan “Cinta Seekor Singa”. Bahkan lebih jauh lagi, di dua cerpen dia di “Horison“ edisi Februari 1976 yang juga dibangun atas susunan imaji; dan salah satunya berjudul “Saelan dan Hujan” (yang tipografinya rata pula kanan kiri ketika terbit di Majalah “Horison”). Begini cerpen itu:

“Tidak menduga akan halnya banjir besar di sungai huangho akibat banyaknya lumpur-lumpur yang bersisa di tepinya, atau karena tidak pernah membaca berita perihal hujan yang turun semalaman di mesir sehingga sungai nil sungai yang konon menghidupi bangsa mesir dengan menyuburkan tanah dan sawah ladangnya, banjir, maka sekonyong-konyong Saelan asal Purwokerto, tinggal dekat stasiun belakang penjual rokok siong yang emaknya tukang rokok pula secara bersungguh-sungguh melarang orang tuanya begini: KALAU begitu besok pun hujan akan turun dan melanda rumah kita, emak, tadi emak telah kusuruh membeli genting baru tidak mau, padahal kucing-kucing semalaman berkelahi tentang bandeng di atasnya”.

Dan mungkin pula gejala itu makin jelas, atau bahkan sudah terbentuk, menjadi, pada dua kumpulan sajak Kurniawan setelah “Cinta Seekor Singa”: “Perempuan Dalam Secangkir Kopi” dan “Sepasang Bibir di Dalam Cangkir” yang tidak saya punyai (tak tersisa di toko buku, licin macam piring dijilat kucing, dan penyairnya agaknya juga tidak sudi memberi barang sebiji; hahaha), sehingga tidak saya ketahui proses perkembangannya di dua buku itu. Tetapi sekali lagi, bentuk atau corak sajak-sajak yang naratif bercerita itu tak didapat Kurniawan Junaedhie tiba-tiba. Cara atau bentuk itu adalah bagian dari perjalanan sejarah persajakan dia, ataupun kepenulisan dia.

Bagi kita selaku pembaca, atau khususnya saya sebagai penggembira alias penikmat sajak wabilkhusus sajak Kurniawan, hepi saja dengan cara/corak/bentuk sajaknya yang berbeda dengan dulu itu. Malah girang
bak dulu saat dibelikan baju baru Hari Raya oleh ibu. Saya bolak-balik baju  itu, saya patut-patut dia di muka kaca, saya elus gosok-gosok, lalu mekar senyum saat merasa pas alias cocok. Dan bersamanya saya dibawa ke isi, atawa makna. o

LA, Minggu pagi yang indah: 20.5.2012
WebRepOverall rating

MEMBACA "CINTA SEEKOR SINGA" KURNIAWAN JUNAEDHIE

Dimuat dalam Suara Karya, Sabtu 21 November 2009
~Adek Alwi

Tujuh puluh sembilan sajak Kurniawan Junaedhie terdapat dalam kumpulan sajak terbarunya, “Cinta Seekor Singa: Sajak-sajak 1974-2009”, terbitan Bisnis2030. Dengan subjudul “Sajak-sajak 1974-2009” itu terang
sudah kumpulan ini merupakan kompilasi, atau semacam rekam-jejak kepenyairan KJ dalam rentang waktu yang tak singkat, 35 tahun. Karena kompilasi, maka dalam “Cinta Seekor Singa” dimuat sajak-sajak yang tentu dimaksudkan KJ menjadi cerminan karya-karyanya di empat periode itu. Tampillah 10 sajak mewakili periode 1970-an, periode 1980-an 18, periode 1990-an 38, periode 2000-an 13 sajak. Pemuatan sajak-sajak itu berurutan sesuai periode penulisannya.

Dengan komposisi isi seperti itu, banyak hal dalam perjalanan kepenyairan KJ pun terlihat. Sebutlah bentuk sajak dia serta kecenderungannya, cakupan tema yang ia garap, dan hal-hal yang lenyap atau ditinggalkan di puisi-puisi yang ia tulis kemudian. Atau sebaliknya, hal-hal yang menetap serta tambah matang seiring jalan usia dan jam terbang KJ selaku penyair yang tahun ini memasuki tahun ke-35 itu.

Dari segi bentuk, puisi-puisi KJ amat beraneka. Ada yang mirip dengan bentuk tradisional yaitu pantun, dengan empat larik tiap bait, seperti terlihat misalnya di sajak “Lagu Percintaan”, “Waktu”, “Sajak Orang Kasmaran”, “Januari 2003” dan lainnya. Tetapi panjang-pendek larik di sajak-sajak itu tidak seteratur pantun. Begitu pula rima akhirnya. Ada yang berpola aa aa, tapi di bait berikut itu tak lagi dipedulikan, dan tak pula memakai pola ab ab seperti lazimnya rima akhir pada sampiran serta isi pantun. Unsur sampiran dan isi yang menjadi ciri pantun juga tidak terdapat dalam sajak KJ; paling banter samar saja menguar, ini pun jarang. Jika begitu, apa yang membuat sajak-sajak KJ itu terasa dekat dengan pantun? Selain larik yang tertib empat-empat tadi, unsur sampiran dan isi yang terkadang hadir secara samar, irama sajak-sajak itu berperan dalam hal ini. Membacanya saya seperti menikmati irama pantun. Dan itu agaknya berasal dari diksi yang tepat, tambah rima akhir meski tak tertib, serta rima internal juga rima identik. Berikut bait pertama dan kedua sajak “Januari 2003” yang terdiri atas tiga bait: Jika kupandang pohon cemara berdiri/Kurasa hati jadi gamang/Kemana cinta pergi,/Ke sumur hati terdalam, adikku sayang//. Bait kedua: Di situ ada jalan berliku/Dan bukit menanjak di kaki langit,/di situ hatiku karam terjal/Seolah tercium bau sangit//.

Dari tanda-tanda itu saya ingin tegaskan sajak-sajak itu memang terinspirasi oleh pantun. Terinspirasi di sini dalam taraf yang umum, seperti juga ditemui di sajak-sajak penyair Indonesia lainnya, sebut Goenawan Mohamad serta Chairil Anwar. Hal itu terjadi karena pantun bagian dari jatidiri kita, kehidupan kita. Dengan begitu, wajar pula kalau pada Hartojo Andangdjaja terlebih-lebih lagi Sitor Situmorang, terinspirasi itu menemukan maknanya yang lebih. Pada Hartojo terlebih Sitor pantun tak sekadar diterima sebagai sesuatu yang akrab dengan kehidupan kita tapi juga berlanjut dengan menjadikannya lahan yang asyik pula untuk diolah. Namun bagai disebut di atas, bentuk sajak-sajak KJ tak hanya yang seperti itu. Di “Cinta Seekor Singa” kita temukan pula sajak-sajak panjangnya dengan bangunan bait tidak teratur; satu, dua, tiga, empat malah lebih. Begitu pula lariknya, panjang dan pendek, dan bak tampil sesukanya dalam sebuah sajak.

Bentuk lainnya dari sajak KJ, terutama sajak-sajak yang ditulis periode 1990-an dan 2000-an, terlihat kecenderungan menjurus ke naratif, seolah bertutur, berkisah. Dengan aneka bentuk sajak seperti itu heran juga kenapa KJ tak memasukkan sajak-sajak kwatrin dalam “Cinta Seekor Singa”. Hemat saya, sajak-sajak kwatrin KJ seperti di kumpulan sajak “Selamat Pagi Nyonya Kurniawan”, terbitan Kolase Kliq tahun 1978, cukup pula kuat dan ikut mewarnai jalan kepenyairannya. Di sajak-sajak kwatrin itu imaji dibangun dari yang bisa diberikan warna, dan pemakaian kata hemat. Sajak-sajak itu umpamanya “Kwatrin Hijau”, “Kwatrin Kuning”, “Kwatrin Cokelat”, “Kwatrin Merah Jambu”, “Kwatrin Kelabu”. Berikut kutipan dari “Kwatrin Hitam”: daki daku, daki/jika pun aku gunung./daki daku, daki/keluhku senantiasa tak terbagi.// Meski tidak berbentuk kwatrin di “Cinta Seekor Singa” hadir pula sajak-sajak yang juga kuat, justru sebab pemakaian kata yang hemat tadi dan pemanfaatan banyak kata dasar. Sebut misalnya sajak “Tanah Lahir” dan “Saat Edelweiss Diputar” berikut ini: kenapa tidak sepekan,/tapi sembilan bulan,/ kita dikandung badan?//. Bait kedua: kenapa tidak berseri,/tapi dengki/ bersarang di hati?//. Bait ketiganya: kenapa tidak sajak,/tapi hidup layak,/kita cari?//. Dan bait keempat: saat edelweiss diputar, nak,/aku makan hati manusia//. Karena kedua sajak itu ditulis pada periode yang sama (1970-an) dengan puisi-puisi kwatrin tadi, maka agaknya dapat ditandai ciri sajaksajak KJ periode itu. Antara lain pemakaian kata yang hemat tadi, diksi yang terjaga hati-hati, pemanfaatan banyak kata dasar, juga kecenderungan untuk taat benar pada unsur-unsur sajak seperti upaya membangun imaji, metafora, dan lainnya. Di periode berikut terutama periode 1990-an dan 2000-an berbagai hal itu terkesan tak begitu ketat lagi. Ini yang menyebabkan sajak-sajak KJ pada periode-periode terakhir itu terasa lebih cair, lebih komunikatif, lebih bersahaja.

Tetapi ingin pula saya sebutkan bahwa, pertama, pergeseran seperti itu dalam periode kepenyairan yang terbilang panjang suatu hal yang wajar, kalau tidak niscaya. Sutardji Calzoum Bachri setelah gulang-gulung berbilang tahun dengan puisi-puisi mantra akhirnya menulis puisi seperti “Tanah Air Mata” yang juga terkesan lebih cair, bersahaja, lebih komunikatif, dibanding sajak-sajak dia sebelumnya. Kedua, kebersahajaan atau lebih cair dan lebih komunikatif memang tak selalu berarti tidak dalam, atau tidak mampu memberikan sesuatu yang bernilai. “Tanah Air Mata” Sutardji itu dapat lagi diambil buat contoh. Dan pada KJ, banyak sajaknya dari periode 1990-an dan 2000-an juga membuktikan hal itu. Ambil misalnya sajak “Cinta Ayah” yang berkisah tentang kefanaan hidup serta cinta seorang ayah ke keluarganya: anak-anak, serta istri. Menulis KJ di tiga larik akhir bait kedua sajak itu: Jika ada yang membuatku ingin kembali/Itulah kalian, orang-orang yang membuatku pernah/ betah di bumi//. Lalu bait penutup sajak ini pun, yang bagi saya terasa indah dan bermakna: Umur ternyata hanya kendaraan/ke kota bernama keabadian//.

Sajak “Cinta Ayah” itu dijadikan contoh karena di periode 1990-an dan 2000-an tema dominan sajak-sajak KJ keluarga, serta kerinduan pada masa lalu juga kota kelahiran. Saya tidak tahu apakah itu karena pengaruh usia yang tidak muda lagi, tapi yang juga mengemuka di sajak-sajak itu, kerinduan tersebut tidak disikapi KJ dengan galau. Bisa jadi karena KJ sudah sampai ke hakikat “umur ternyata hanya kendaraan, ke kota bernama keabadian” tadi. Jika asumsi itu benar, maka bagi saya lazim pula kalau sajak-sajak KJ periode-periode terakhir itu banyak digelimangi humor. Lihat saja juduljudul ini: “Nostalgia Ketinggalan Kereta”, “Di Antara Kambing, Teringat Kamu”, “Laki-laki Sontoloyo Ingin Menjadi Singa”. Metafor metafornya pun, yang dipetik dari hal-hal yang terlihat sehari-hari, mengundang senyum.

Coba: Begitulah nasib laki-laki yang nglokro/hanya layak jadi teman kecoa/dan sahabat ternak (sajak “Laki-laki Sontoloyo”). Atau: cuma karna kamu,/aku ogah bongkok, seperti barang rongsok (sajak “Di Antara Kambing”). Begitulah “Cinta Seekor Singa”, kumpulan sajak KJ sahabat saya, yang pada 24 November ini berusia 55. Akhirnya sebagai kado saya kutipkan bait awal sajak dia, “Umur”, yang ditulis tahun 1991 dan menurut saya tergolong kuat, indah, sekaligus lucu: november datang lagi. berapa usiamu?/ kerut kulit, buncit di perut/dan bayangan maut, datang silih berganti/ kita memang bukan ahlinya/yang bisa memutar turbin waktu//.

Adek Alwi 

03 Desember 2014

KETIKA KJ DITEMUKAN HANS


Catatan Kecil
~Soni Farid Maulana

sesekali kenakalanmu mengusik
dan aku hanya seorang penyaksi

DUA larik puisi di atas dipetik dari puisi Telah Kau Sunting Waktu, yang secara khusus ditulis oleh penyair Esti Ismawati untuk Kurniawan Junaedhie sebagai kado ulang tahun ke-60. Dua larik tersebut mengusik
ingatan saya pada masa-masa awal kreativitas saya sebagai penulis, yang waktu itu banyak menulis cerita pendek untuk Majalah Anita Cemerlang. Kurniawan Junaedhie (KJ) pada saat itu duduk sebagai salah seorang redaktur di majalah tersebut. Sebagai sastrawan, tentu saja ketika saya mulai belajar menulis cerita pendek maupun puisi, KJ sudah malang melintang dalam dunia puisi. Sebagai penyair KJ tidak hanya menulis puisi lirik, simbolik, dan haiku, tetapi juga menulis Puisi Mbeling di Majalah Aktuil yang diasuh oleh sastrawan sekaligus teaterawan Remy Sylado.

Kembali ke Majalah Anita Cemerlang, KJ bersama Yanie Wuryandari merupakan redaktur yang pertama di majalah tersebut. “Saya dan Yanie adalah pendiri Majalah Anita Cemerlang bersama R. Risman Hafil sebagai pemilik SIUPP. Kemudian dalam perjalanan selanjutnya saya mengajak Adek Alwi, dan Lazuardi Adi Sage, waktu itu mereka teman kuliah di STP, untuk bekerja di Majalah Anita Cemerlang. Saya ajak mereka, karena saya masih bekerja di majalah induk, yaitu majalah keluarga Dewi,” jelas KJ, dalam sebuah percakapan ringan, tempo hari. Berkait dengan terbitnya antologi puisi yang Anda pegang, ajakan Esti Ismawati menulis puisi untuk ulang tahun KJ yang ke-60, sungguh tidak diduga disambut banyak pihak. Ini membuktikan bahwa KJ punya jaringan di mana-mana. Dan apa yang dikerjakannya selama ini, dengan menerbitkan antologi puisi Negeri Poci, yang kemudian hari lahir dengan berbagai seri dengan berbagai judul, merupakan sebuah kerja budaya yang dilakukannya tanpa pamrih. Selalu dari setiap buku yang dilahirkannya bersama kawan-kawannya dari komunitas Negeri Poci maupun dari Komunitas Radja Ketjil selalu memberi ruang kepada para penyair generasi baru, dan tidak sungkan disatukan dengan para penyair yang sudah punya jam terbang cukup lama dalam dunia kepenyairan.

Bicara soal ketertarikan KJ memasuki dunia puisi, dengan tegas KJ mengatakan kalau dirinya tidak bertemu dengan penyair Handrawan Nadesul, dan Piek Ardijanto Soeprijadi, salah seorang penyair Angkatan 1966, mungkin dirinya saat ini sudah jadi pengusaha.. “Kedua penyair itulah yang menemukan saya saat masih SMA. Saat itu puisi yang saya tulis dimuat di sebuah harian. Mereka tertarik dengan puisi saya, dan mereka
bilang calon penyair masa depan. Saya tidak menyesal diajak ke jalan sunyi oleh Handrawan Nadesul dan almarhum Piek Ardijanto. Puisi telah mengajari saya dalam memahami kehidupan,” jelas KJ dalam sebuah percakapan singkat di Jejaring Sosial Facebook.

Dalam kaitan itu pula penyair Handrawan Nadesul, yang dipanggil oleh KJ, Hans, berujar, “ Halo Jun, he he, begitulah garis kehidupan saya duga. Tanpa rencana, tanpa bayangan, hanya ingin ketemu, kami ketemu teman-teman yang namanya sudah dikenal di Purwokerto. Tapi terus terang saya memang menilai Jun cerdas dalam berpuisi. Terbukti sampai sekarang imajinasinya liar dan nakal. Juga dalam menulis cerpen, dan pengalaman mematangkannya menjadi penulis apa saja. Saya kira talenta bertemu dengan realita. Dalam hidup, saya kira tidak ada yang kebetulan. Garis itu sudah hadir. Salam sukses. Saya tahu Jun menyesal jadi penyair.” Hahahaha, saya tertawa ngakak membaca dialog dua orang sahabat ini, dan dengan tegas pula KJ menjawab tidak menyesal. Wah ya, siapa yang menyesal jadi penyair, walau dari puisi yang ditulisnya tidak menghasilkan uang. “Dan malah bisa jadi berutang pada orang, saat kita minum kopi di warung,” papar Rendra suatu saat, ketika untuk pertamakali dan terakhir kali saya terbang ke Belanda bersama Rendra, mengikuti Festival de Winter Nachten pada 1999 lalu di Den Haag.

Tanpa diberi kesempatan untuk tumbuh dan berkembang sebagai penyair oleh KJ di Majalah Anita Cemerlang, sangat mustahil saya bisa tumbuh seperti sekarang ini. Saat itu Majalah Anita Cemerlang juga diawaki oleh Adek Alwi dan Lazuardi Adi Sage. Alhamdulillah saya bersama dengan Lazuardi Adi Sage, Leila S Chudori, Dorothea Rosa Herliany, Arie MP Tamba, dan Mochtar Lubis, terbang mengikuti acara South East Asian Writers Conference di Queezon City – Filifina. Inilah penerbangan pertama saya mengikuti acara sastra berskala internasional, yang berlangsung pada tahun 1990 lalu.

Bila penyair Esti Ismawati berkata dalam puisi yang ditulis untuk KJ berbunyi: sesekali kenakalanmu mengusik/ dan aku hanya seorang penyaksi// itu tidak salah. Kenakalan KJ sebagai penyair Mbeling pada satu sisi bisa kita rasakan dalam sebuah puisi yang ditulisnya di bawah ini:

Dari Horta Sampai Harto
Horta, presiden Timur Leste
Harti, teman twiteran
Harno, penyair tapi tak pernah nulis syair
Harta, yang kita cari sepanjang hayat
Harto, pemecah rekor Muri
Presiden terlama di Indonesia

2010

Selain membikin kita tertawa dengan puisi di atas, KJ juga bisa membuat kita merenung, walau apa yang ditulisnya itu hanya dalam tiga  baris. Kita baca puisi tersebut di bawah ini:

Penyair

Penyair seperti tukang kayu
Banyak yang bisa memotong kayu
Tapi sedikit saja yang jadi empu

11 Oktober 2010

Apa yang ditulis KJ dalam puisi di atas, sesungguhnya merupakan kritik yang sangat tajam bagi kita yang merasa diri jadi penyair, Ini adalah kritik terhadap diri kita sendiri, yang secara esensial mengapungkan tanya: -- apakah puisi yang kita tulis selama ini benar puisi, atau hanya sekedar puisi. Atau lebih tegasnya lagi, kalau meminjam istilah penyair Sutardji Calzoum Bachri – hanya penyair sekedar. Lewat puisi pendek yang padat dengan isi ini, sesungguhnya KJ tengah mengapungkan sebuah isyarat, bahwa menulis puisi sukar adanya, dan karena itu, jadi penyair itu tidak gampang. Ia harus setia pada proses.

Dalam konteks inilah, maka tidak salah kalau Hans, mengatakan bahwa pertemuan dirinya dengan KJ pada tahun 1976 di Purwokerto, memangkap kesan sebagai penyair yang cerdas. Selengkapnya, Hans bilang, “Saya bertemu Jun (KJ) pada tahun 76 di Purwokerto. Ketemu Ahita Teguh Soesilo. Ketemu Dharmadi, ketemu beberapa lagi. Sejak awal, saya menangkap, dia penyair yang cerdas. Dari sajak-sajaknya, selain nakal juga bernas. Pernah bersama-sama Pak Piek Ardiyanto almarhum. Lalu kami banyak tahun-tahun bresama Jun setelah dia hijrah ke Jakarta. Kami berjuang menulis buku untuk proyek buku Inpres, dan lain-lain, hingga akhirnya Jun menduduki posisi Pemred di beberapa majalah!”

Berkait dengan itu, kembali merenungkan dunia kepenyairan yang direnungkan KJ, maka pada sisi yang lain, dalam sajaknya yang diberi judul Memilih Remah, penyair Syarifuddin Arifin antara lain menulis sebuah sajak yang larik-lariknya berbunyi seperti ini:

kur, aku masih percaya
semua hanya permainan hidup
yang tak pernah kenyang memamah kata-kata
tapi perutmu mulai membuncit
menjelang 60 tahun ini

Larik-larik sajak yang ditulis oleh Syarifuddin Arifin, yang ditujukan untuk KJ bisa ditafsir demikian, dengan pusat tafsir tertuju kepada larik yang berbunyi tak pernah kenyang memamah kata-kata, dalam pengertian lebih lanjut, KJ atau siapa pun ia, tak pernah puas dalam memilih kalimat bermakna bagi kelengkapan hidup maupun pemuasan spiritual – meski pada satu sisi, perut KJ atau siapa pun ia mulai membuncit, sebagai tanda dari lajunya umur mendekat kubur. Sajak ini menjadi luas maknanya, bukan hanya menggambarkan apa dan bagaimana keakraban persahabat KJ dengan Syarifuddin Arifin. Tetapi lebih lajuhnya adalah bicara soal apa dan bagaimana mengisi hidup menjadi lebih berharga, sekalipun semua itu harus diisi dengan remah-remah pengalaman, apa pun itu.

Pada bagian lain tentang KJ tampak bahwa ia lebih fasih bicara dengan menggunakan bahasa Jawa daripada dengan bahasa Cina yang diwariskan oleh para leluhurnya, jelas sungguh diungkap oleh penyair Uki Bayu Sedjati lewat puisi yang ditulisnya yang diberi judul Catatan, yang ditujukan untuk KJ. Petikan dari puisi tersebut berbunyi:

lelaki perempuan muda di taman kesenian
celana cutbray dan rambut sepundak
di buku dan ransel romantika berjejalan
yang tak terduga terjadi di mana saja,
juga menyapa warung tegal,”nasi separo, Bune,
oseng kangkung pake tahu-tempe..”
pemiliknya tetangga beda desa seperti saudara
dialek medok selingi obrolan dan tawa ngakak

Saya tertawa ngakak membaca sajak di atas. Apa sebab? Saya jadi ingat bagaimana KJ bengong dan bahkan terbata-bata membaca namanya sendiri ketika ditulis dalam huruf Cina oleh seorang penulis kaligrafi Cina teman baik Remy Sylado di rumah pemusik yang juga orang Cina tapi cinta budaya Sunda, Tan De Sheng namanya. Ini tidak bermaksud mempersoalkan Cina dan bukan Cina, akan tetapi lebih mengarah kepada bagaimana sikap KJ menerima budaya Jawa sebagai sikap hidup, dan secara perlahan-lahan ia hanya samar saja menerima budaya Cina yang diwariskan oleh para leluhurnya. Dan KJ tampak enjoy dengan semua itu. Terbukti, ia diterima banyak pihak dalam bergaul, baik sebagai penyair, maupun sebagai manusia biasa dengan segala kenakalannya.

Itulah KJ. Remy Sylado saat itu bilang, dalam menulis puisi, khususnya Puisi Mbeling, KJ memang punya ciri khas, dan sebagai penyair dalam pengertian yang luas juga punya ciri khas, pun demikian dalam pergaulan. Paling tidak, demikianlah kado kecil ini dituliskan, dan ini bukan kata Ini adalah semacam kata pembuka untuk memasuki dunia KJ lewat pandangan teman-teman KJ, yang menulis puisi untuk KJ dalam buku ini.

Selamat ulang tahun Mas KJ.***

Rumah Baca Ilalang
24 September 2014

(Dimuat dalam buku SANG PENEROKA, Antologi Puisi 106 Penyair Indonesia dan Ulasan Terhadap Karya-Karya Kurniawan Junaedhie, Kurator : DR. Esti Ismawati, Tebal: 487 + xvi. ISBN: 0856-430392-49)

21 November 2009

Membaca Cinta Seekor Singa Kurniawan Junaedhie

Oleh Adek Alwi

Sabtu, 21 Nopember 2009

TUJUH puluh sembilan sajak Kurniawan Junaedhie terdapat dalam kumpulan sajak terbarunya, "Cinta Seekor Singa: Sajak-sajak 1974-2009", terbitan Bisnis 2030. Dengan subjudul "Sajak-sajak 1974-2009" itu terang sudah kumpulan ini merupakan kompilasi, atau semacam rekam-jejak kepenyairan KJ dalam rentang waktu yang tak singkat, 35 tahun. Karena kompilasi, maka dalam "Cinta Seekor Singa" dimuat sajak-sajak yang tentu dimaksudkan KJ menjadi cerminan karya-karyanya di empat periode itu. Tampillah 10 sajak mewakili periode 1970-an, periode 1980-an 18, periode 1990-an 38, periode 2000-an 13 sajak. Pemuatan sajak-sajak itu berurutan sesuai periode penulisannya.

Dengan komposisi isi seperti itu, banyak hal dalam perjalanan kepenyairan KJ pun terlihat. Sebutlah bentuk sajak dia serta kecenderungannya, cakupan tema yang ia garap, dan hal-hal yang lenyap atau ditinggalkan di puisi-puisi yang ia tulis kemudian. Atau sebaliknya, hal-hal yang menetap serta tambah matang seiring jalan usia dan jam terbang KJ selaku penyair yang tahun ini memasuki tahun ke-35 itu.

Dari segi bentuk, puisi-puisi KJ amat beraneka. Ada yang mirip dengan bentuk tradisional yaitu pantun, dengan empat larik tiap bait, seperti terlihat misalnya di sajak "Lagu Percintaan", "Waktu", "Sajak Orang Kasmaran", "Januari 2003" dan lainnya. Tetapi panjang-pendek larik di sajak-sajak itu tidak seteratur pantun. Begitu pula rima akhirnya. Ada yang berpola aa aa, tapi di bait berikut itu tak lagi dipedulikan, dan tak pula memakai pola ab ab seperti lazimnya rima akhir pada sampiran serta isi pantun. Unsur sampiran dan isi yang menjadi ciri pantun juga tidak terdapat dalam sajak KJ: paling banter samar saja menguar, ini pun jarang.

Jika begitu, apa yang membuat sajak-sajak KJ itu terasa dekat dengan pantun? Selain larik yang tertib empat-empat tadi, unsur sampiran dan isi yang terkadang hadir secara samar, irama sajak-sajak itu berperan dalam hal ini. Membacanya saya seperti menikmati irama pantun. Dan itu agaknya berasal dari diksi yang tepat, tambah rima akhir meski tak tertib, serta rima internal juga rima identik. Berikut bait pertama dan kedua sajak "Januari 2003" yang terdiri atas tiga bait:

Jika kupandang pohon cemara
berdiri
Kurasa hati jadi gamang
Kemana cinta pergi,
Ke sumur hati terdalam, adikku
sayang.
Di situ ada jalan berliku
Dan bukit menanjak di kaki langit,
di situ hatiku karam terjal
Seolah tercium bau sangit.

Dari tanda-tanda itu saya ingin tegaskan sajak-sajak itu memang terinspirasi oleh pantun. Terinspirasi di sini dalam taraf umum, seperti juga ditemui di sajak-sajak penyair Goenawan Mohamad serta Chairil Anwar. Hal itu terjadi karena pantun bagian dari jatidiri kita, kehidupan kita. Dengan begitu, wajar pula kalau pada Hartojo Andangdjaja terlebih-lebih lagi Sitor Situmorang, terinspirasi itu menemukan maknanya yang lebih. Pada Hartojo terlebih Sitor pantun tak sekadar diterima sebagai sesuatu yang akrab dengan kehidupan kita tapi juga berlanjut dengan menjadikannya lahan yang asyik pula untuk diolah.

Namun bagai disebut di atas, bentuk sajak-sajak KJ tak hanya yang seperti itu. Di "Cinta Seekor Singa" kita temukan pula sajak-sajak panjangnya dengan bangunan bait tidak teratur: satu, dua, tiga, empat malah lebih. Begitu pula lariknya, panjang dan pendek, dan bak tampil sesukanya dalam sebuah sajak.

Bentuk lainnya dari sajak KJ, terutama sajak-sajak yang ditulis periode 1990-an dan 2000-an, terlihat kecenderungan menjurus ke naratif, seolah bertutur, berkisah.

Dengan aneka bentuk sajak seperti itu heran juga kenapa KJ tak memasukkan sajak-sajak kwatrin dalam "Cinta Seekor Singa". Hemat saya, sajak-sajak kwatrin KJ seperti di kumpulan sajak "Selamat Pagi Nyonya Kurniawan", terbitan Kolase Kliq tahun 1978, cukup pula kuat dan ikut mewarnai jalan kepenyairannya.

Di sajak-sajak kwatrin itu imaji dibangun dari yang bisa diberikan warna, dan pemakaian kata hemat. Sajak-sajak itu umpamanya "Kwatrin Hijau", "Kwatrin Kuning", "Kwatrin Cokelat", "Kwatrin Merah Jambu", "Kwatrin Kelabu". Berikut kutipan dari "Kwatrin Hitam":

daki daku, daki
jika pun aku gunung.
daki daku, daki
keluhku senantiasa tak terbagi.

Meski tidak berbentuk kwatrin di "Cinta Seekor Singa" hadir pula sajak-sajak yang juga kuat, justru sebab pemakaian kata yang hemat tadi dan pemanfaatan banyak kata dasar. Sebut misalnya sajak "Tanah Lahir" dan "Saat Edelweiss Diputar" berikut ini:

kenapa tidak sepekan,
tapi sembilan bulan,
kita dikandung badan?
kenapa tidak berseri,
tapi dengki
bersarang di hati?
kenapa tidak sajak,
tapi hidup layak,
kita cari?

saat edelweiss diputar, nak,
aku makan hati manusia

Karena kedua sajak itu ditulis pada periode yang sama (1970-an) dengan puisi-puisi kwatrin tadi, maka agaknya dapat ditandai ciri sajak-sajak KJ periode itu. Antara lain pemakaian kata yang hemat tadi, diksi yang terjaga hati-hati, pemanfaatan banyak kata dasar, juga kecenderungan untuk taat benar pada unsur-unsur sajak seperti upaya membangun imaji, metafora, dan lainnya.

Di periode berikut terutama periode 1990-an dan 2000-an berbagai hal itu terkesan tak begitu ketat lagi. Ini yang menyebabkan sajak-sajak KJ pada periode-periode terakhir itu terasa lebih cair, lebih komunikatif, lebih bersahaja.

Tetapi ingin pula saya sebutkan bahwa, pertama, pergeseran seperti itu dalam periode kepenyairan yang terbilang panjang suatu hal yang wajar, kalau tidak niscaya. Sutardji Calzoum Bachri setelah gulang-gulung berbilang tahun dengan puisi-puisi mantra akhirnya menulis puisi seperti "Tanah Air Mata" yang juga terkesan lebih cair, bersahaja, lebih komunikatif, dibanding sajak-sajak dia sebelumnya.

Kedua, kebersahajaan atau lebih cair dan lebih komunikatif memang tak selalu berarti tidak dalam, atau tidak mampu memberikan sesuatu yang bernilai. "Tanah Air Mata" Sutardji itu dapat lagi diambil buat contoh. Dan pada KJ, banyak sajaknya dari periode 1990-an dan 2000-an juga membuktikan hal itu. Ambil misalnya sajak "Cinta Ayah" yang berkisah tentang kefanaan hidup serta cinta seorang ayah ke keluarganya: anak-anak, serta istri. Menulis KJ di tiga larik akhir bait kedua sajak itu: Jika ada yang membuatku ingin kembali/Itulah kalian, orang-orang yang membuatku pernah/betah di bumi/. Lalu bait penutup sajak ini pun, yang bagi saya terasa indah dan bermakna: Umur ternyata hanya kendaraan/ke kota bernama keabadian.

Sajak "Cinta Ayah" itu dijadikan contoh karena di periode 1990-an dan 2000-an tema dominan sajak-sajak KJ keluarga, serta kerinduan pada masa lalu juga kota kelahiran. Saya tidak tahu apakah itu karena pengaruh usia yang tidak muda lagi, tapi yang juga mengemuka di sajak-sajak itu, kerinduan tersebut tidak disikapi KJ dengan galau. Bisa jadi karena KJ sudah sampai ke hakikat "umur ternyata hanya kendaraan, ke kota bernama keabadian" tadi.

Jika asumsi itu benar, maka bagi saya lazim pula kalau sajak-sajak KJ periode-periode terakhir itu banyak digelimangi humor. Lihat saja judul-judul ini: "Nostalgia Ketinggalan Kereta", "Antara Kambing, Teringat Kamu", "Laki-laki Sontoloyo Ingin Menjadi Singa". Metafor-metafornya pun, yang dipetik dari hal-hal yang terlihat sehari-hari, mengundang senyum. Coba: Begitulah nasib laki-laki yang nglokro/hanya layak jadi teman kecoa/dan sahabat ternak. (Sajak "laki-laki Sontoloyo").

Atau: cuma karna kamu/aku ogah bongkok, seperti barang rongsok. (Sajak "Antara Kambing"). Begitulah "Cinta Seekor Singa", kumpulan sajak KJ sahabat saya, yang pada 24 November nanti berusia 55. Akhirnya sebagai kado saya kutipkan bait awal sajak dia, "Umur", yang ditulis tahun 1991 dan menurut saya tergolong kuat, indah, sekaligus lucu: november datang lagi. berapa usiamu?/ kerut kulit, buncit di perut/dan bayangan maut, datang silih berganti/kita memang bukan ahlinya/yang bisa memutar turbin waktu. ***

* Adek Alwi adalah sastrawan, wartawan,
dan dosen Poltek UI.

Dimuat Suara Karya Sabtu, 21 Nov. 2009

17 Maret 2009

Azwina Azis Miraza:
Yang Melangkah di Jalan Sastra

Azwina Azis Miraza:
Yang Melangkah di Jalan Sastra
Oleh Adek Alwi

Sabtu, 31 Januari 2009
DUA kumpulan puisi Azwina Aziz Miraza diluncurkan di PDS HB Jassin, TIM, Jakarta, 16 Januari 2009. Ina, begitu ia biasa disapa, lahir pada 13 Januari 1960 dan wafat 8 September 2008. Jadi, walau agak terlambat peluncuran dua buku itu juga dimaksudkan rekan-rekan seniman di Jakarta sebagai peringatan 100 hari kepergian Azwina, sekaligus hari kelahiran dia. Dan Ina memang tak mungkin untuk tidak dikenang.

Ada beberapa hal bisa dicatat untuk menjelaskan itu; sebagian saya utarakan pada acara tersebut. Pertama, Azwina Aziz Miraza tergolong orang yang berserius menjadikan sastra sebagai pilihan; mendedikasikan hidup sejak usia belia hingga akhir hayat di dunia itu. Sajak-sajak awal Ina (dua diantaranya terdapat dalam "Di Setengahnya Adalah Kita"; 1 dari 2 kumpulan puisi yang diluncurkan hari itu) bertahun penulisan 1976, ketika dia 16 tahun.

Secara pribadi, saya pun sudah menangkap isyarat pilihan Ina itu saat kami sama-sama di Bengkel Sastra Ibukota (BSI) tahun 1980, sehingga saya bilang kepada Lazuardi Adi Sage (alm), "Ina ini lain nih, Las. Rajin benar!" Mungkin karena ia saya lihat datang terus di setiap diskusi yang kami selenggarakan seminggu sekali. Bahkan ikut menyusun AD/ART BSI di Cipayung, Bogor. Juga, sebagai wartawan, masih muda (saya 27, Ina 20 kala itu; makanya dia panggil 'kak' kami semua) saya kerap jumpa nona-nona di luar BSI tapi langka yang memilih 'dunia' yang dipilih Ina. Dan ucapan itu bak saya lanjutkan 27 tahun kemudian, 25 Juli 2007, juga kepada Las, saat peluncuran novel Naning Pranoto di PDS HB Jassin: "Kayaknya eksponen BSI, Ina, Pipiet (Pipiet Senja), Remmy (Remmy Novaris DM) yang ajek di jalan sastra, ya!"

Kedua, karena sastra adalah pilihan maka profesi di luar itu bagi Ina tak soal betul ditinggalkan. Atau, profesi wartawan misalnya (Ina pernah di Majalah Sarinah, Amanah), pupuk saja untuk sastra; sebab memungkinkan banyak jumpa manusia, masalah, sehingga dapat mempercepat pencapaian hakikat. Maka, bagi saya tak aneh jika usai jadi wartawan dia mengadakan lomba baca puisi untuk tukang becak, atau pengembangan anak jalanan, bahkan di tahun-tahun terakhir hidupnya aktif dalam penyembuhan penderita HIV/AIDS. Semua itu upaya memahami, sekaligus berbuat untuk hidup; lewat jalan sastra.

Itu agak beda dengan kami, sebutlah saya, Hendry Ch Bangun (yang sejak 1983 suami Ina), Lazuardi Adi Sage, Wahyu Wibowo, Kurniawan Junaedhie. Wahyu, selepas jadi wartawan lanjut di lapangan yang sejak dulu dia geluti, akademik; bergelar doktor. Las justru tumbuh jadi owner penerbit tabloid, buku. Kurniawan bos bunga-bunga mahal. Adapun Hendry (Wapemred Harian Warta Kota) dan saya, basitungkik terus di pers, bak tak rela meninggalkan. Makanya tahun 1991, saat saya (selaku Redpel Majalah InfoBank) sibuk dengan ekonomi Indonesia, kebijakan uang ketat Menkeu Sumarlin, kinerja bank yang menjamur sejak Paket Oktober 1987 Ina tiba-tiba muncul di kantor, Gedung Utama, Mampang. Ia tegur, "Kak Adek, mengarang lagi dong! Sibuk terus!" Walah, walah. Jauh benar rasanya jarak saya dengan sastra masa itu.

Ketiga, terkait dengan hal pertama serta kedua di atas, Azwina berjalan konsisten, istikamah, di jalan sastra; sikap yang juga kelihatan melekat pada Chairil Anwar, ataupun Sutardji Calzoum Bachri, misalnya. Dan saya terangguk-angguk mengamatinya dari jauh.

Setelah tahun 1991 itu saya memang tak pernah jumpa lagi dengan Ina, tapi lewat kawan-kawan dan pemberitaan, kiprahnya saya ikuti. Misalnya kala buku-bukunya terbit, baik kumpulan puisi maupun kumpulan cerpen. Ada 9 buku puisi dan 4 kumpulan cerpen yang lahir dari tangannya, termasuk "Tango Kota Air" (1980), yang merupkan kumpulan sajak dia berdua dengan Hendry Ch Bangun, pada era Bengkel Sastra Ibukota, dan zaman pacaran mereka yang tentunya indah.

* * *

SEJAK awal-awal pula saya dapat kesan sajak-sajak Ina adalah sajak-sajak yang saya sebut 'gagah'. Maksudnya, tak jatuh ke sentimental apalagi cengeng, sekalipun yang digarap soal-soal yang menyentuh. Ada sebentuk kedewasaan dalam memahami masalah, yang terwujud dalam pilihan kata, pencitraan, bangunan larik. Saya kutip bait ke-2 dari 3 bait sajak "Tango Kota Air" yang ditulis pada masa BSI tahun 1980: Jangan bilang besok hendak jadi apa/ nasib bukan humus kotamu, lumut airku/ dia singgah di kisar waktu/ dan pada saat tertentu/ kota air sansai tak pernah selesai/ meski pucuk trauma/ dalam kita tenggelamkan bersama//.

'Kegagahan' itu hemat saya terus dipelihara; makin kuat, mengkristal, bak terlihat pada bait akhir dua bait sajak "Mabuk" yang ditulis kemudian, tahun 1989: Aku mabuk/ Dia kepayang kemaruk nafsu/ diseling raungku yang melengking./ Air matanya meleleh/ dia kalap mendekap gelap hingga pekat//. Atau pada sajak-sajak yang ditulis pada tahun terakhir kehidupan Ina, 2008, umpamanya sajak "Di Setengahnya Adalah Kita" yang bait akhirnya demikian: Seperti bulan setengah, matahari bergerak terengah/ himpitan embun terbelah/ deras hujan meluntur beban, begitu indah/ seperti waktu yang kulalui setengah/ malam yang menyimpanmu setengah/ di setengah bayangmu, aku melangkah//.

Karena sudah memilih lalu terus istikamah di jalan sastra itu (bahkan tak mengapa meninggalkan profesi lain seperti kewartawanan karena itu hanya jalan saja untuk dapat pupuk sajak; yang akan mempercepat pencapaian hakikat), maka bagi saya pun wajar bila sajak-sajak terakhir Ina merebak aroma religi yang kuat. Hal ini misalnya terlihat pada sajak-sajak yang dia tulis tahun 2008, semisal puisi "Tuhan, Aku Sendirian." yang bagi saya merupakan pengaduan Penyair kepada Tuhan-nya tatkala semua menolak keyakinan yang dia tawarkan. Padahal, "Keyakinanku berbentuk sederhana:/ "Ikhlas, tulus, selaras ucapan berdasar kasih sayang".

Sajak "Tuhan, Aku Sendirian." itu pun dijadikan judul kumpulan sajak Azwina yang diluncurkan bersamaan dengan kumpulan sajak "Di Setengahnya Adalah Kita" pada Jumat sore 16 Januari 2009 itu. "Di Setengahnya Adalah Kita" diulas-pengantari Wahyu Wibowo, sedang "Tuhan, Aku Sendirian." oleh Maman S Mahayana.

Wahyu, Maman, dan Kurnia Effendi pun tampil sebagai pembicara di sesi diskusi. Kurnia Effendi segenerasi di bawah Azwina di jalan sastra. Tapi bukan hanya Kurnia dan generasinya yang hadir. Pun para sahabat lama: Adri Darmadji Woko, Dharmadi, Remmy Novaris DM, Salimi Akhmad, Kamsudi Merdeka, Syafrial Arifin yang pernah sekantor dengan Ina di Harian Pelita. Tentunya juga Hendry Ch Bangun, serta Diah Hadaning, K Usman, Hamsad Rangkuti. Di tengah-tengahnya terdapat saya. ***

Nostalgia Cerpenis Anita

Nostalgia Cerpenis Anita
Rabu, 18 Februari 2009 09:54 WIB


TEMPO Interaktif, Jakarta: Lebih dari seratus orang berkumpul di lantai tiga sebuah restoran ala Amerika di Jakarta Pusat, Minggu lalu. Yang perempuan umumnya berbaju dengan unsur warna merah muda. Di dada mereka tersemat papan nama. Satu hal menyatukan mereka, pernah menulis cerpen di Anita Cemerlang.

Hari itu mereka bereuni. Sang "provokator" reuni adalah Yanthi Razalie, cerpenis yang kini menjadi instruktur piano. Yang tadinya diniatkan menjadi pertemuan beberapa orang, justru menjadi reuni 150 orang.

Awalnya adalah bergabungnya Yanthi di situs jejaring sosial Facebook dua bulan lalu. Di Facebook, ia menemukan Zara Zettira Zainuddin Ramadi, eks penulis Anita Cemerlang yang sekarang terkenal sebagai penulis naskah sinetron.

Teman lama Yanthi makin bertambah, yaitu Kurnia Effendi dan Arya Gunawan. Ketiganya berencana bertemu. Tapi Yanthi lalu berpikir, kenapa tidak sekalian dengan penulis lainnya?

Maka dalam waktu kurang dari tiga pekan, ajakan bereuni itu menyebar. Banyak di antara eks cerpenis Anita Cemerlang yang terhubung dengan account Kurnia di Facebook. Selain itu, informasi reuni itu disampaikan berantai.

Anita Cemerlang adalah majalah yang khusus menerbitkan cerita pendek dan cerita bersambung. Pertama kali terbit pada 1978, digagas almarhum Risman Hafil. Majalah itu terbit sepekan sekali, lalu "tewas" pada pertengahan 1990-an. Saat itu, Anita Cemerlang tak lagi khusus menerbitkan tulisan, namun juga sudah memajang foto-foto model pria. Layaknya majalah muda lainnya.

Kini para eks penulis Anita Cemerlang berprofesi macam-macam dan menetap di berbagai tempat. Ketika reuni itu, hadir nama-nama seperti Fakhrunnas M.A. Jabbar, Sutan Iwan Sukri Munaf, Satrio Arismunandar, Ayi Jufridar, E. Sati, Sapto Yunus, Grace Samantha Gandhi, Hani P., Sujiwo Tejo, Lila Fitri Aly, Ryana Mustamin, Tina K., Esti Kinasih, Tika Wisnu, dan Putra Gara.

Tak lupa tentu para mantan pengelola majalah itu. Mereka antara lain Bens Leo, Adek Alwi, Emji Alif, Yanie Wuryandari, Kurniawan Junaedhie dan Adhie M. Massardi. "Banyak sekali penulis yang karyanya menjadi fenomenal," kata Bens yang pernah menjadi pemimpin redaksi Anita Cemerlang.

Yang unik dari majalah itu, Bens mengenang, adalah sampulnya, setia dengan lukisan potret wajah perempuan. "Padahal sebenarnya lebih gampang kalau dipotret," Bens mengenang, lalu tertawa. Pelukis sampul, kata Bens, ada beberapa orang. Sampul itu harus jadi tiga hari sebelum cetak. Jadi, para pelukis itu harus bisa berkarya di bawah tekanan tenggat.

Kurnia Effendi tak ingin reuni berakhir hampa. "Kalau lepas begitu saja sayang sekali," ujarnya. Maka mereka menggagas kegiatan lain. Misalnya, menerbitkan antologi karya, membentuk ikatan alumni, milis komunikasi, juga mengadakan pelatihan penulisan kreatif ke sekolah-sekolah di daerah

IBNU RUSYDI
Tempo Interaktif

16 Februari 2009

Penulis Cerpen dan Pengasuh Anita Cemerlang Reuni

Emji Alif, Yanie Wuryandari, Kurniawan Junaedhie (koleksi foto hapus tanda), Adhie M Massardi (koleksi foto) Foto: Dewi Yanthi


JAKARTA, KAMIS-Majalah remaja Anita dan kemudian menjadi Anita Cemerlang, majalah fiksi dua mingguan satu-satunya dan terkemuka di era 80-an, sejak terbit Januari 1979 hingga tutup tahun 2002, banyak melahirkan penulis-penulis cerita pendek dan novel andal di Tanah Air.

Karena antar penulis dan penulis dengan redaksi jarang bertemu muka waktu itu, kecuali kenal nama, tanggal 15 Februari mendatang digelar acara reuni dan temu kangen yang melibatkan para pengarang dan pengasuh/pengelola majalah kumpulan cerita pendek Anita.

Panitia Persiapan Reuni Kurnia Effendi mengatakan reuni ini tidak hanya melibatkan mantan pengarang dan mantan pengasuh atau redaktur semata, melainkan juga jajaran staf pendukung, ilustrator, bahkan mereka-mereka yang mengurusi ekspedisi majalah tersebut .

"Namun para penggemar atau fans Anita belum diikutsertakan dalam kesempatan reuni kali ini , mengingat terbatasnya tempat dan waktu yang tersedia," kata Kurnia Effendi, Kamis (12/2).

Dikatakan, pada acara reuni yang digelar di resto Sizzler American Grills, Tosari-Dukuh Atas, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat itu, sedikitnya akan dihadiri 80 orang. Acara reuni berlangsung dari menjelang siang hingga hampir senja ini, diisi dengan ramah-tamah para peserta yang sudah lama tak berjumpa, bahkan banyak yang hanya saling kenal nama tanpa pernah berjumpa secara fisik.

Juga akan ada nostalgia dari para pengarang dan pengasuh Anita, serta penjajakan untuk melakukan berbagai kegiatan nyata, mulai dari penerbitan, sampai pelatihan kepenulisan.

Secara terpisah, Dewan Penasihat Ikatan Mantan Pengarang Anita, Arya Gunawan, mengatakan, Anita adalah nama yang sangat akrab di telinga sebagian remaja dan anak muda Indonesia di era 80-an. Sejak pertama terbit pada Januari 1979, majalah berisi kumpulan cerpen remaja yang terbit sekali dalam dua minggu ini langsung memikat hati para pembacanya.

Terutama karena pada masa itu belum ada majalah yang hanya memuat karya berupa cerpen. Biasanya, cerpen hanya muncul satu atau dua judul dalam satu penerbitan remaja.

Pada awal terbitnya, majalah ini dikomandani antara lain oleh Kurniawan Junaedhie dan Yanie Wuryandari, lalu masuk pula Adhie Massardi yang sempat dikenal sebagai juru bicara Abdurrahman Wahid, dan belakangan banyak terlibat dengan Rizal Ramli.

Tak lama setelah itu, datanglah Adek Alwi, yang kemudian menjadi pengasuh terlama di Anita, mencapai hampir 10 tahun. Pada masa keemasannya, Anita sempat terbit tiga kali sebulan, dengan tiras mencapai 65 ribu eksemplar setiap kali terbit.

Belakangan, Anita berubah nama menjadi Anita Cemerlang, dengan isi yang lebih beragam (tidak semata-mata karya fiksi cerpen ataupun cerita bersambung).

Setelah mengalami masa puncak selama beberapa tahun, pamor majalah ini mulai menyurut, disebabkan sejumlah faktor di antaranya persaingan dengan media lain yang kian ketat. Majalah ini kemudian menjalani masa purna tugas pada tahun 2002.

Anita dianggap memiliki peran cukup penting dalam dunia kepenulisan di Indonesia, terutama dalam fungsinya sebagai tempat persemaian benih dan bibit baru para penulis, yang beberapa di antaranya kelak menjadi para penulis yang cukup diperhitungkan, baik di bidang fiksi maupun di ranah jurnalistik.

Nama-nama seperti Gustf Sakai, Agus Noor, Sujiwo Tejo, Leila Chudori untuk menyebut sekadar beberapa contoh pernah menyumbangkan karyanya ke Anita. Nama-nama pengarang lain yang sempat menjadi idola pembaca pada masanya antara lain Emji Alif, Niken Pratiwi, Nestor Roci Tambunan, Kurnia Effendi, Karyani Rukman, Tina K, Tika Wisnu, Agnes Majestica, dan Adek Alwi.

Yurnaldi / Kompas Kamis, 12 Februari 2009 16:11 WIB

22 Januari 2009

Undangan Temu Kangen Anita Cemerlang

Semalam, atau persisnya petang kemarin ada hal yang saya lupa tulis. Yaitu, masuknya sebuah SMS dari seseorang yang namanya tidak ada dalam database HP saya. "Mas KJ, aku mau bikin temu kangen pengarang dan redaksi anita, 15 feb. Bgm pendapatmu, mas?" Berhubung saya penasaran, saya langsung reply: "Siapa nih?". Beberapa menit kemudian masuk jawaban: "Kurnia Effendi". Kurnia adalah pengarang cerpen dan penulis puisi yang sangat setia pada dunianya. Kurnia bukan orang asing bagi saya. Bahkan dia dan Arya Gunawan, pernah di suatu masa menginap di rumah kami di Ciputat. Saya jadi tersipu: "Maaf, HP saya baru, jadi database hilang semua. Hehehe"

Baru setelah itu saya protes, kenapa selalu acaranya dibuat dekat-dekat Valentine's Day? Seingat saya, dia pernah mengundang saya untuk sebuah acara, juga pas di Hari Valentin. Akibatnya saya tidak bisa datang. Padahal dia mengundang saya ke acara itu jauh-jauh hari; karena saya ingat, saya terima kabar itu pas lagi liburan akhir tahun di Bandung atau di Bali (?).

Hari Valentine memang selalu menjadi hari istimewa buat saya. Bukan karena urusan cinta tapi karena pada hari itu saya harus bantu istri untuk menyiapkan order2 Valentine. Ini sudah kayak acara tahunan. Pada saat itu, biasanya rumah saya siaga 24 jam, penuh orang, penuh bunga, sibuk luar biasa. Bahkan semua karyawan saya di kebun pun, saya tarik semua untuk membantu. Maklum. Ada ratusan bahkan ribuan rangkaian bunga pesanan orang sedunia yang harus kami kirim pada hari yang sama. Kalau telat saja kirimnya, wah leher taruhannya.

Menurut Kurnia, pilihan tanggal itu kebetulan saja. "Kami memilih Minggu biar yang kerja n luar kota bisa datang," katanya. Lalu, "Datanglah barang sebentar...." Acara akan dibin di Sizzler, Dukuh Atas, Sudirman dekat HI jam 11 pagi -3 sore.

Ya sudah. Saya bilang, saya memang belakangan kangen pengen ketemuan dengan komunitas seniman/ sastrawan. Butuh suasana baru, sedikitnya kembali ke habitat lama. Mudah2an, kalau tak ada aral, saya pasti datang.

Yang jelas, di kepala langsung saja terbayang bakal ketemu sohib2 lama Adek Alwi, Yani Wuryandari, Emji Alif, Yogi TR, Yani Pranowo,. Tika Wisnu, Tina K.....

Saya tanya: "Tuti Nonka, Yulie Ikayanti diundang?"
Lalu Kurnia tanya: "Punya nomor telpon Adhie Massardi?"

Adhie Massardi adalah pengarang seangkatan kami, yang belakangan namanya sohor sebagai jubir Indonesia Bangkit Rizal Ramli, dan sebelumnya sohor sebagai mantan Jubir Presiden Gusdur.

Saya kontak Mas Didin Abidin, penulis buku Rizal Ramli. Nomor didapat, saya langsung forward ke Kurnia.

Seru deh.

Bersamaan dengan itu datang SMS datang dari nomor yang juga tak saya kenal, isinya sama, undangan Reuni Anita, cuma gayanya lebih formal. Bahkan di situ disebutkan tarip hidangannya: "Buffet Launch 65rb/ orang. Mohon tidak bawa pasangan/ keluarga. Untuk penulis bernostalgia, bawalah copy 1 cerpenmu di Anita yang masih dimiliki."

Ternyata itu dari Yanthi Razalie. Siapa dia? Saya tidak mengenal nama itu. Kata Kurnia, dia adalah pengarang Anita angkatan Sanie B Kuncoro atau Satrio Arismunandar. Dia lagi mendata alumni Anita. Sudah sekitar 140 nama, tapi baru 60-an nama yang ada kontaknya, begitu kata Kurnia. Yanthie memang minta saya menyerahkan data, nama, alamat, nomor telpon, email dlsb karena akan dibuat mailing-list Anita Cemerlang. Mumpung saya lagi banyak waktu, maka semua saya bayar kontan: saya jawab saat itu juga.

Sulit membayangkan, di reunian yang tampaknya bakal disambi dengan makan steak itu, kita sudah tidak akan bertemu dengan Mbak Astuti Wulandari (adik Yanie Wuryandari, yang pernah jadi Redpel Anita di masa awal terbitnya), Lazuardi Adi Sage (yang pernah saya minta cerpennya di awal nomor2 perdana Anita), Mas Harry Suwandito (kakak Bens Leo, yang ikut sibuk dlm proses pendirian majalah Anita di awal terbitnya), dan tentu Pak Risman Hafil, sang bos/ pendiri. Mereka sudah membuat acara reunian terlebih dulu di alam baka.***

17 Januari 2009

Puasa, dan Azwina Aziz Miraza

Semalam saya puasa. Jam 7 malam, di meja makan ada selembar kertas bertuliskan supidol: "Ayah, puasa. Jam 10, tidak boleh makan, tidak boleh minum, tidak boleh merokok."

Wow tugas berat. Pertama, saya biasanya tidur jam 2 dinihari. Sejk dulu saya merasa saya dijangkiti insomnia. Kedua, selama begadang sambil ngetik dan browse internet saya biasa menghabiskan 1 popmie, atau 2 keping roti Boy, atau 1 toples kacang bali/ kacang goreng dll. Dan ketiga, selama itu pula saya biasa menghabiskan 1 bungkus rokok. Jadi, "larangan untuk tidak boleh makan" itu sungguh berat untuk dijalankan.

Jam 7 malam, saya minta Maria telepon dokter keluarga, apakah saya boleh menelan obat yang bisa membuat saya segera tidur? Kata dokter kami itu, oke2 saja. "It's fine," katanya. Langsung obat itu saya tenggak. Akibatnya sambil nonton acara Kick Andy saya sudah ngantuk. Tapi karena acacara itu bagus, apalagi ada teman saya Theodore KS, wartawan musik yang berambut jambul, yang sangat hapal judul kaset, judul lagu dan penciptanya, saya jadi memaksakan terus nonton sampai acara itu usai.

Mestinya saya langsung tidur. Tapi biasa, saya pengen merokok barang sebatang sebelum puasa. Jadi saya merokok, sambil ngebrowse sampai jam 11 malam. Celakanya Maria keluar kamar, memergoki saya lagi merokok. Dia langsung menyembunyikan rokok saya dan mematikan puntung saya. Ya sudah. Saya tutup komputer, dan mencoba tidur.

Menjelang tidur, perut keroncongan. Bahkan malamnya --seingat saya-- saya pun bermimpi, kehujanan, tapi hujan yang mengucur itu berupa nasi goreng.

Tapi sebentar dulu. Ngapain saya puasa sebegitu rupa? Tumben amat.

Begini: Pagi ini, saya diambil darahnya, test gula darah. Orang lab datang pukul 08.00. Jam 8 pagi saya dibangunin Maria. Orang Lab sudah tiba sejak tadi, katanya. Saya sigap bangun untuk segera diambil darahnya. Suster mencabut jarum dari tempatnya. "Masih steril ya pak?" tanyanya minta saya jadi saksi bahwa jarum itu stril dari penyakit2 menular. Saya diam saja. Tangan saya rentangkan, mata saya alihkan ke layar televisi. "Jangan tegang2, pak, gak sakit, kok. Kecuali kalau saya goyang2," kata suster. Bles, dan beres.

Suer, soal dimasuki jarum saya tidak takut, kata anak saya paling kayak digigit semut. Yang saya takut, terus terang hasilnya.

Celakanya berhubung hari ini Sabtu, dan besok Minggu, maka hasilnya akan ketahuan Senin. Bagaimana hasilnya? Wah, mudah2an tidak kurang suatu apa. Maklum, sejak tidak jadi pegawai Gramedia, sudah lama saya absen check up.

Suster pergi saya buka puasa: menenggak teh manis pencahar, menyambar Kompas, dan masuk ke kamar mandi. Begitu buka Kompas, saya baca berita, semalam atau kemarin ada acara peluncuran buku puisi Azwina Aziz Miraza almarhumah, teman saya di Bengkel Sasra Ibukota, yang jadi istri Hendri CH Bangun, wartawan yang kini jadi bos di Warta Kota. Di sana hadir teman2 saya semua: Wahyu Wibowo yang sudah jadi dosen, Dharmadi, Kurnia Efendi dll. Sambil nongkrong dan menyedot rokok saya berpikir: kalau saya datang mungkin asyik juga ya bisa reunian.....

Keluar dari "ruang baca", ada SMS masuk. Eh dari Adri Darmaji Woko, penyair mengabarkan hal yang sama. Kayak dia tau bahwa saya habis baca saja. "Sayang sekali tak ada Kurniawan Junaedhie, Remy Soetansyah, Rahadi Zakaria dan LAS almarhum...."

Begitulah kabar hari ini....***

14 November 2008

Nostalgia Baca Puisi di TIM

Ayah baca puisi? Hahaha... anak-anak saya --Ayi dan Ela-- tertawa ngakak membaca berita ini. "Ngomong aja ngaco, kok ayah baca puisi...." Begitu kata anak2 saya.

Bacalah berita ini: "Puisi-puisi Kurniawan Junaedhie, Adek Alwi, dibacakan di halaman depan Teater Tertutup, Taman Ismail Marzuki, Rabu, 18 November 1981". Tulisan pendek ini, saya temukan iseng2 ketika saya seperti biasa, bermain mesin pencari Google, dengan alamat http://catalogue.nla.gov.au/Record/273864.

Tentu saja saya katakan pada anak2, bahwa meski kedengarannya ganjil, jelek-jelek berita itu faktual alias tidak bohongan. Kalau Anda juga meragukannya, --karena harap maklum, tidak sembarang orang bisa baca puisi di tempat itu -- kejadian bahwa saya dan pengarang cerpen Adek Alwi membaca puisi di TIM itu sungguh-sungguh benar adanya. Cuma kalau ditanya untuk urusan apa saya diundang baca puisi di sana, memang saya lupa.

Oya, saksi-saksinya juga banyak. Saya masih ingat, Yongke, adik saya, jauh-jauh dari rumahnya di Kebayoran Lama (waktu itu), datang ke TIM naik bis, untuk nonton saya. Saya juga ingat bebarapa seniman senior waktu itu nonton. Dan saya masih ingat benar, seusai acara itu, ketika saya membelanjakan honor baca puisi itu di kedai depan TIM, saya diumpat-umpat pelukis Hardi. "Aduh. Di luar bayangan saya, seorang Kurniawan membaca puisinya begitu jelek," katanya.

Jadi meski membaca puisinya jelek, betapa pun, tulisan ini telah melemparkan saya, jauh ke masa lalu.***

20 Desember 2007

Lazuardi Adi Sage Yang Kukenal

(Tulisan ini adalah sambungan dari tulisan saya sebelumnya tentang teman saya Lazuardi Adi Sage. Hari ini gelap dua bulan, sahabat saya pergi. )

Tahun 1977. Kampus Sekolah Tinggi Publisistik, Jalan Kramat Raya, Jakarta, sore hari. Seorang pemuda gondrong, kucel tapi berwajah tampan (terus terang saya susah mencari pilihan kata yang tepat selain kata ini karena menurut saya dia tidak jelek2 amat) mencari saya dan ingin berkenalan. Sebagai anak udik yang sedang kuliah di ibukota, tentu saja saya senang menyambut perkenalannya. Dia menjabat tangan saya. Disebutkan namanya. Terus terang sebagai sesama penulis puisi, nama pemuda itu bukan nama asing bagi saya. Lazuardi Adi Sage adalah penulis puisi dan penulis kronik (berita-berita kesenian) yang rajin. Cuma, sebagai penyair --hehehe---- kelas Las, --begitu pikiran saya kala itu-- masih berada di bawah level penyair muda sekaliber Adri Darmadji, Yudhistira, B Priyono dkk. Cuma kelebihannya, Las punya Kolase Klik. (Waktu itu, hampir semua penyair rasa2nya punya semacam 'sanggar'. Kalau Las punya Kolase Klik, seingat saya almarhum Syarifuddin Ach punya Sanggar Roda Pedati, almarhum Sutjahjono R punya SanggarPrakarya dlsb.). Saya, seperti teman2nya, memanggilnya, 'Las' dengan lafal bukan "z". (Las, kependekan dari Lazuardi, tapi juga akronim dari namanya, Lazuardi Adi Sage.)

Karena orangnya enak, kami cepat berteman, dan tak hanya itu kami dengan segera menjadi sahabat. Misalnya, kami suka bolos rame2, pergi ke TIM, nonton teater atau pameran lukisan. Saya suka juga diajak ke rumahnya di daerah Karet, tepatnya Gang Haji Jalil.

Di Karet, ia tinggal bersama ibu, kakak perempuan satu2nya dan keempat adik lelakinya. Di situ saya tahu, ia dibesarkan dan dididik ibunya, karena ayahnya bercerai. (Tentang ayahnya, Las tak banyak bercerita, dan tampaknya tak terlalu antusias jika pembicaraan kami nyerempet2 ke sana.)

Ibunya senang kaktus. Pada suatu hari, karena saya menyukainya, beliau memberinya satu pot untuk saya. "Ini untuk Kurniawan," katanya. Sering saya diajak ngobrol ibunya. Dengan kakak perempuannya saya juga akrab. Adik2nya apalagi. Mereka memanggil saya, "Bang Kur".

Tidak jarang saya disuruh tidur di kamar Las. Makan. Mandi. Pokoknya, saya dekat dengan Las dan keluarganya. Sebaliknya, Las juga dekat dengan keluarga saya. Ibu saya kenal dengan Las, suka ngobrol2. Ayah saya kenal baik. Seperti saya suka menyambangi rumahnya, Las juga suka mampir ke rumah kontrakan saya di Ciledug yang berdinding rumbia dan berlantai tanah. Di situ, dia betah berlama-lama.

Waktu saya pindah kontrak ke Jalan Kemandoran, Grogol Utara, dia suka naik sepeda motor datang ke rumah saya. Waktu saya bisa naik motor, saya juga suka ke rumahnya. Makan di warung2 sederhana di dekat rumahnya. Atau yang paling saya ingat, ketika dia mengajak saya makan di sebuah warung di pojok daerah Bendungan Hilir. Rupanya, saya diajak makan sop tulang. Entang tulang apa. Yang jelas, kami disuguhi semangkok kuah dan tulang belulang. Dia makan lahap, seperti sudah berpengalaman makan di situ, sedang saya kikuk karena tidak terbiasa. Sampai sekarang, makan sop tulang itu saya kenang sebagai sebuah kenangan manis bersama Las.

Saat itu saya bekerja sebagai wartawan majalah keluarga Dewi, dan kebetulan saya dikirim ke Palembang karena ada Festival Film di sana. Ternyata Las ikut. Karena ssaya tidak termasuk wartawan terdaftar, saya dan Las naik kapal laut. Dari Lampung kami naik sepur ke Palembang. Itu juga pengalaman mengesankan bersama Las.

Waktu saya bekerja di Majalah Intan dengan penulis Harry Tjahjono, pada awal tahun 1980-an Las juga saya ajak ikut bergabung. Kami sempat menugaskan diri pergi ke Banjarnegara, untuk meliput Ebiet G Ade (meskipun gagal) dan bersama2 kami jadi juri lomba baca puisi di Purwokerto.

Tak bisa dipungkiri hubungan saya dengan Las sangat akrab. Terbukti, tak seperti teman-teman lain di STP yang memanggil saya dengan, 'Kur', maka Las memanggil saya, 'Jun', seperti keluarga dan teman2 dekat saya.

Tentang namanya pun saya tahu ikhwalnya. Nama Lazuardi Adi Sage adalah nama samaran, bukan nama asli. Nama aslinya, Adi Mahyudin. Nama Mahyudin diambil dari nama ayahnya. Di rumah, ibu, kakak perempuannya dan adik-adiknya selalu memanggil Adi, atau Bang Adi.

Kalau nama Adi Mahyudin jadi nama Lazuardi Adi Sage, tentu ada ceritanya. Spekulasi saya: Las seperti teman2 seniman lain, kala itu paling senang dengan kata2 semacam, horizon, kakilangit, lazuardi dan hal2 semacamnya yang dikatakan sangat asosiatif. Jadi, boleh jadi, Las kemudian memilihnya sebagai nama depannya. Tentang Sage, alasannya agak konyol, atau istilah anak2 zaman sekarang, garing. Kata Las, itu kependekan dari gabungan dua zodiac, Sagitarius dan Gemini. Sagitarius adalah zodiaknya, sedang Gemini adalah zodiac pacar pertamanya.

Sebagai sastrawan muda, Las menonjol bakat kepemimpinannya, dan banyak ide2nya. Pada tahun 1978, misalnya, bersama saya dan penyair Wahyu Wibowo, Las mendirikan Bengkel Sastra Ibukota. Markasnya, di Gelanggang Remaja Kuningan, Jakarta. Karena waktu itu Jakarta tidak macet seperti sekarang, kami pun sering reriungan di situ secara periodik, ngobrol masalah kesusastraan. Seingat saya, yang datang ke situ, antara lain, Pipiet Senja, Yulius Yusijaya, Adek Alwi, Salimi Achmad, Hendry CH Bangun dan istrinya, dll.

Sebagai sesama penyair, kami berdua juga sering membuat dan menerbitkan antologi, atau buku kumpulan puisi bersama. Tapi kalau boleh jujur, menurut saya, puisi2nya tidak terlalu luar biasa. Karena meski hatinya puitis, kenapa pilihan kata2 dan idiom2nya kasar? Ada yang berpendapat, ini mencerminkan jiwanya yang bergolak. Mungkin saja. Toh saya tak bisa menyembunyikan perasaan untuk sering mengkritik puisi2nya. Seperti biasa, Las berkelit dan membalas mengejek puisi saya. Saya tak bisa menyembunyikan kesan, dia memang seperti anak kecil kalau berdebat dengan saya. Umpama, soal nama asli tadi, dia selalu, 'mengancam' saya untuk menyelidiki siapa nama asli saya, karena kata dia, nama saya adalah nama samaran juga. Tentu saja, itu dikatakannya sambil terbahak-bahak.

Beberapa kali dia merasa 'terkalah'kan oleh saya, dan berkali-kali pula dia mengatakan, dia akan 'mengalah'kan saya. Padahal saya tidak pernah merasa bersaing dengan dia. Saya kira, ini memang sisi jeleknya dalam hubungan karib saya dengan dia.

R. Risman Hafil:Tokoh di balik Anita Cemerlang

Nama R. Rismal Hafil mungkin tidak dikenal banyak orang. Ia bukan selebritis, dan bukan sastrawan. Dia adalah seorang wartawan, pemilik sejumlah majalah terkenal di zamannya, tapi anehnya dia tak terlalu dikenal di kalangan wartawan, atau oleh para pengarang yang dibesarkan oleh majalahnya.

Nama majalah yang diterbitkannya adalah Anita Cemerlang. Majalah itu sangat terkenal di tahun 1980-an, sebagai majalah yang isinya melulu cerita pendek. Kalau pengamatan saya tidak keliru, sudah banyak pengarang muda yang sekarang tumbuh jadi sastrawan lahir dari sana, baik karena cerpennya dimuat atau terpilih sebagai juara lomba penulisannya. Sebutlah antara lain nama2, Donatus, Nia Sutiara, Nurul Inayah, Nurhayati Pujiastuti, Arya Gunawan, Gus Tf Sakai, Herlina Mustikasari, Lan Fang, Kurnia Effendi, Tina K dll.

Iseng2 saya mencari rekam jejak tokoh kita ini lewat mesin pencari Google. Hasilnya, cuma memperoleh sebuah link, yang iitu pun muncul karena namanya tersangkut dalam biodata saya. Boro-boro, mencari fotonya di Goggle Image. Saya cuma dikasih pesan: Your search - risman hafil - did not match any documents. Sebaliknya, ketika saya mencari di Goggle dengan menulis Anita Cemerlang, hasilnya luar biasa. Banyak orang menyebut-nyebut nama majalah ini, baik suka maupun tidak suka.

Coba simak blog berikut yang saya comot dari blooger bernama Sitha, yang saya kutip dari
http://sithaspirits.multiply.com/journal/item/3:

Ada nggak yang masih inget, kalau dulu banget tahun 87an, ada majalah kusus CERPEN, yang namanya 'ANITA CEMERLANG'? Itu majalah isi cerpennya bagus-bagus banget. Ceritanya pilihan semuanya. Nama tokoh suka aneh-aneh. Contoh nih, Han, Sam, Dan,.. Tahun 1989, saya dan keluarga pindah ke lain kota. Sayangnya, koleksi Anita Cemerlangku tidak ter file hingga sama sekali nggak kebawa. Maklum aja, pindahnya dari Merauke-Irian Jaya ke Solo. Cover dan ilustrasinya adalah lukisan, bukan foto. Artistik ... Kadang muncul wajah artis terkenal waktu itu seperti Paramitha Rusadi, atau Nurul Arifin. Namun tetap dalam bentuk lukisan cat air, bukan foto. Saya nggak bisa bayangin, berapa kecepatan ilustratornya untuk membuat lukisan itu tiap minggunya. Hebat! Kalau anda lahir di tahun 70-up, setidaknya inget dengan majalah tersebut. Sayang, entah kenapa, majalah itu nggak muncul lagi.

Seorang blogger, Uneng Imas Rusyani, menulis di blognya sbb:

Kebetulan sejak dulu aku langganan Majalah Anita Cemerlang, majalah yang berisi kumpulan cerpen remaja. Pada tahun 1991 aku ikut lomba di majalah tersebut dan mendapat juara harapan 1. Bahagia dan bangga tentu saja.

Sejak saat itu, aku mulai aktif menulis. Karya-karyaku semuanya terbit di majalah tersebut. Tapi karena banyak kesibukan dan menikah aku jadi tidak aktif lagi menulis. Terutama sejak majalah Anita bubar.


Tapi ada juga yang memaki-maki. Penulisnya, Jonru, penulis cerpen, dan mengaku sebagai "Koresponden majalah Anita Cemerlang untuk wilayah Semarang dan sekitarnya" dan saya kutip dari blognya, http://jonru.multiply.com/journal/item/107:

Tahun 1996 (kalau tidak salah), saya mengirim sebuah cerpen ke Anita Cemerlang. Judulnya "Momen Maaf". Bercerita tentang seorang mahasiswi bernama Rani yang sangat baik budi, dikagumi oleh teman-temannya, tipe manusia teladan, pokoknya pribadinya sempurna seperti malaikat.

Cerpen ini dimuat di Anita Cemerlang beberapa bulan kemudian, judulnya mereka ganti menjadi "Rani dan Permintaannya." Bag saya itu tidak masalah. Yang membuat saya hampir pingsan adalah: Redaksi Anita mengubah kalimat di atas menjadi, "Ketika SMP, aku pernah diperkosa."

Saya diam seperti orang bisu, benar-benar tak percaya dengan apa yang saya baca. Emosi saya langsung mengalir ke ubun-ubun.

Ya, prinsip editing kedua berbunyi, "Redaksi/editor berhak mengedit naskah penulis tanpa mengubah isinya." TAPI MEREKA TELAH MENGUBAH ISI CERPEN SAYA!!!!!! Kalimat di atas adalah kunci dari seluruh isi cerpen saya. Jika kunci itu diubah, maka isi cerpen pun berubah, bahkan ceritanya menjadi sangat konyol dan memalukan.


Saya langsung protes ketika itu. Saya mengirim surat ke redaksi Anita, berharap mereka mau memuatnya sebagai revisi terhadap kesalahan editing pada cerpen tersebut. Saya juga sempat menelepon mereka, dan ngobrol dengan Bens Leo kalau tidak salah. Dari cara dia bicara, saya tahu bahwa dia pun sadar bahwa kesalahan terletak pada redaktur. Tapi sayangnya, Anita tak pernah memuat surat saya itu.

Coba simak. Sejauh itu, nama Risman tidak disebut-sebut orang.

Saya yakin selain nama Bens Leo, nama Adek Alwi, sang redaktur lebih banyak disebut kalau orang membicarakan majalah ini. Tidak salah. Adek adalah seorang penulis cerpen yang dari sononya sudah dikenal. Ia juga orang yang ulet di luar kegiatannya menjadi penjaga gawang di Anita. Di rumah kontrakannya di Ciawi, Bogor, kala itu, ia sangat rajin menerbitkan buletin fotokopian Himpunan Pecinta Cerpen dan Puisi (HPCP) yang dibagikan gratis kepada mereka yang ingin belajar mengarang cerpen.

Bersama pengarang cerpen Yulius Yusijaya kebetulan saya termasuk yang diajak gabung memperkuat dewan redaksinya. Jadi kami suka kumpul di Ciawi. Membahas surat-surat yang masuk, atau kalau ada halaman kosong, saya ikut menulis satu dua buah artikel. Yang asyik, adalah melihat-lihat foto-foto yang masuk (Adek mensyaratkan penanya harus menyertakan foto diri 3 x 4 cm), yang entah kenapa, banyak ceweknya. Pokoknya, rapat di situ intens karena bang Adek begitu semangat. Saya tentu ikut intens, sampai-sampai sepatu baru saya pernah hilang di teras kontrakannya gara2 saya masuk copot kaki.

Tapi Risman Hafil? Siapa dia?

Risman adalah pemimpin redaksi di majalah tempat saya dulu bekerja, Majalah Keluarga Dewi. Orangnya kaku. Jarang tersenyum. Kalau pun tersenyum, tampaknya dipaksakan. Agak angkuh dan acuh. (Tapi teman lain mengatakan, dia pemalu. Mungkin kombinasi dari dua tabiat itu.) Meski duduk sebagai Pemred, dia waktu itu, masih bekerja di Lemigas. Jadi,m kalau siang atau sore dia baru datang ke kantor.

Dengan redaksi, dia jarang bertemu. Apalagi memberi pengaragan sebagaimana layaknya Pemred.

Entah kenapa, dia cepet dekat dengan saya. Misalnya, dia suka mengajak saya ke rumahnya, atau dia mampir ke rumah kontrakan saya di Cipulir, Kebayoran Lama. Teman-teman ngiri. Kok Pak Risman yang angkuh dan sombongnya nggak ketulungan itu, bisa deket dengan saya?

Rupanya, ada udang di balik batu. Ada maunya. Dia rupanya ingin mengajak saya membuat majalah kumpulan cerita pendek (penerbitan tanpa surat izin penerbitan atau SIUPP) karena dia melihat saya waktu itu dikenal sebagai penulis cerpen. "Kalau Pak Risman oke, saya bisa kumpulin cerpen dalam waktu singkat. Saya punya banyak kenalan pengarang," kata saya.

Waktu itu pengarang2 andalan yang saya kenal baik antara lain: Mujimanto alias Niken Pratiwi, Tegus Esha, Yudhis, Eddy D Iskandar, Yanie Wuryandari, Astuti Wulandari dll. Jadi, siapa takut?

Pak Risman rupanya jadi semangat.

Kalau ketemu di kantor, dia cerita, lagi memikirkan nama majalah tersebut, sehingga katanya beberapa malam tidak bisa tidur. Akhirnya ketemu nama Anita. Kalau jujur, itu adalah nama contekan dari nama majalah bahasa Belanda, Anita, yang menjadi referensi untuk majalah yang akan diterbitkan. Saya akur2 saja.

Beberapa hari kemudian, di jam kantor, dia ngajak saya ke kantor notaris, dan membuat akta pendirian majalah tersebut. Kalau tidak salah, Yanie Wuryandari ikut.

BERSAMBUNG