~Adek Alwi
Ada empat sajak Kurniawan Junaedhie dalam “Antologi Puisi Sosial 51 Penyair Pilihan: Bangga Aku Jadi Rakyat Indonesia” yang ia editori bersama-sama Adri Darmadji Woko, Dharmadi, dan Handrawan Nadesul (Kosa Kata Kita, Jakarta, Februari 2012). Ke-4 sajak itu: “Di Atas Lokomotif Bersama Mao dan Soekarno”, “Indonesia di Mulut”, “Mei 1998, Kisah Sepotong Ame”, dan “Hidup Dengan Sepatu”.
Bagi saya sajak-sajak itu menarik tak cuma isinya, lebih karena cara menyampaikan –dan ini membuat saya tambah percaya bahwa perihal sajak bagi penyair tak hanya perkara isi tapi juga soal cara mengekspresikan. Kedua, sajak-sajak itu menarik sebab terlihat pula di situ proses perjalanan si penyair menemukan cara itu, yang mengantarkan ke bentuk atau corak berbeda dengan sajak dia terdahulu. Kiranya di sini kegelisahan-tantangan penyair umumnya, yaitu pencarian menemukan cara ucap baru, yang berujung pada corak/bentuk berbeda, sebab cara/bentuk sebelumnya mungkin ia rasa tidak lagi efektif bergreget. Walhasil, empat sajak Kurniawan itu berbeda corak atau bentuknya dengan sajak-sajak ia dalam kumpulan “Selamat Pagi Nyonya Kurniawan” (Kolase Kliq, Jakarta, 1978), meski gejala ke arah itu sudah terlihat di beberapa sajak dia di kumpulan “Cinta Seekor Singa” (Bisnis2030, Jakarta, 2009). Dan, boleh jadi semakin tampak atau malah sudah pas, jelas, di kumpulan-kumpulan sajak berikutnya yang tak saya punyai seperti “Perempuan Dalam Secangkir Kopi” (2009) dan “Sepasang Bibir di Dalam Cangkir” (2011).
Perbedaan itu tampak pada struktur bentuknya. Jika struktur sajak-sajak di “Selamat Pagi Nyonya Kurniawan” terdiri atas bait yang tertib, baris/larik juga tertib pada bait, bunyi terjaga karena rima, pun pemenggalan larik atau enjambemen; hal-hal itu tak ditemui lagi di empat sajak tadi (ditulis tahun 2010-2011, 3 di bulan Desember 2011). Berikut sajak “Keluh” dari kumpulan “Selamat Pagi Nyonya Kurniawan” sebagai contoh:
seperti pada bumi, kami pun mengeluh
menghembus dan mendesah dibiarkan abadi
seperti pada bumi, kami pun mengeluh
mendesir dan mencair dibiarkan abadi
Atau tambahlah satu lagi dengan sajak “Kangen” yang terdiri atas dua bait ini:
dengan jam aku hanya pejam
pintu dikatupkan, matahari yang terbenam
dengan surat hati pedih tak tercatat
tempat gelap selalu menggeliat
tapi antara langit dan langit
lebih dekat hati
lebih diam padam
dengan jiwa luka karena dunia berkhianat
Dan berikut petikan bait pertama dari empat bait sajak “Mei 1998, Kisah Sepotong Ame” (yang tipografinya dalam buku rata kanan kiri sehingga tampak satu, utuh; baris tidak lagi berupa larik melainkan penggalan
kalimat atau kalimat baru):
“Hari itu aku naik sepeda. Pedal kukayuh; dan sepeda menyeretku ke jalan berbatu. Namaku Ame. Hari itu Mei 1998. Aku sedang mens.
Aku makan sepotong sosis dari lemari pendingin. Aku mencuci tangan di wastafel. Aku menepuk pantat adik bayi di tempat buaian. Aku menjemur pakaian dan memecahkan cangkir. Aku mencium pipi Ibu di dapur. Aku melihat wajahku yang pucat di cermin. Aku sedang mens.
Kukayuh hatiku untuk menekuk waktu yang panjang menjadi pendek. Kulepas tubuhku meluncur di jalanan membuyarkan kawanan itik dan membiarkan anganku terkelupas”.
Dengan bentuk seperti itu, sajak “Mei 1998, Kisah Sepotong Ame” hadir dengan cara tak biasa, mendekat ke prosa, bercerita --sehingga apa yang disebut pengamat (Dick Hartoko dan B Rahmanto: “Pemandu di Dunia Sastra”, 1986) bahwa batas antara puisi dan prosa pada sastra modern sering kabur atau tipis, terlihat di sini. Tapi tidak begitu dengan sajak “Keluh” serta “Kangen” tadi, yang membangun dirinya dengan kata (tidak kalimat), larik, rima, dengan bunyi, enjambemen –tak berkisah.
Jadi, corak sajak “Mei 1998, Kisah Sepotong Ame”, “Di Atas Lokomotif Bersama Mao dan Soekarno”, “Indonesia di Mulut”, “Hidup Dengan Sepatu” adalah sajak-sajak naratif, sajak bertutur, bercerita. Bait pertama “Mei 1998” itu mendeskripsikan “aku” lirik: nama, kegiatan di rumah, keadaan “aku” lirik waktu itu, hubungan dengan keluarga, perjalanan berjalan-jalan naik sepeda “untuk menekuk waktu yang panjang menjadi pendek.”
Bentuk yang naratif itu makin terlihat kalau kita lanjut membaca bait ke-2, 3, dan 4 ini:
Suara rante dan pedal berderak-derak seperti suara pabrik. Angin mengepal-ngepal di betis dan paha. Sadel melonjak bila ada kucing melintas, dan ragaku seperti hendak ditarik ke langit. Aku teringat Han yang suka menyelipkan bunga dalam buku karena aku suka bunga dan dia kutubuku. Alangkah indahnya hidup Angin terus menderu dan menampar pipiku yang pucat. Lalu langit gelap tiba-tiba. Aku seperti untaian kalung yang tumpah di jalanan dan membiarkan tumpukan najis muncul dari gorong-gorong. Aku melihat sepeda naik ke tubuhku. Aku melihat sekawanan kambing mencabik-cabik pahaku. Aku melihat Han menyelip dalam buku dan menggigit mulutnya sendiri. Aku melihat pecahan wastafel dan jeruji roda masuk ke vagina. Aku seperti telur mata sapi di penggorengan. Aku mendengar suara gergaji di dapur. Aku melihat mentega meleleh dari lemari pendingin. Aku terlempar dalam kalender dan bersandar pada penanggalan. Hidup ternyata tidak indah. Aku sedang mens.
Namaku Ame. Sekarang aku tak punya sepeda.
Bait terakhir yang cuma sebaris atau tiga kalimat itu adalah ending. Bait ke-3, deskripsi peristiwa yang menyebabkan si “aku” lirik menyimpulkan “Hidup ternyata tidak indah”. Sedangkan bait ke-2 mengisahkan jalanjalan naik sepeda tadi, sewaktu “aku” lirik masih merasa “Alangkah indahnya hidup”. Semua itu tampil rangkai-berangkai laiknya tuturan cerita.
Khusus pada sajak “Mei 1998, Kisah Sepotong Ame” ini, pengisahannya pun (jika dibaca dari awal bait pertama) menggunakan teknik sorot-balik atau flash-back bak lazim pula pada cerita, pada prosa, sebutlah cerpen atau novel.
Di luar teknik pengisahan yang sorot-balik itu, hal yang sama akan kita jumpai pada tiga sajak lainnya, yaitu berupa: deskripsi mengenai kegiatan “aku” lirik, apa yang “aku” lirik jumpai, alami, lakukan, keadaan/ peristiwa di luar si “aku” lirik, kemudian ending –semua berurut. Berikut petikan lengkap sajak “Di Atas Lokomotif Bersama Mao dan Soekarno” (tipografi sajak ini, begitu pula sajak “Indonesia di Mulut” dan “Hidup Dengan Sepatu”, kanan kiri rata pula dalam buku):
Masinis itu membaca Mao dan aku membaca Soekarno. Di loko itu, kami berhadap-hadapan seperti jurang. Di jendela, tiang-tiang listrik melesat seperti air ludah. Kereta terus melolong-lolong dan membelah-belah kabut dan memotong-motong bayangan senja yang mulai jingga. Sesekali kereta berguncang. Gerbong beradu gerbong. Dan kacamataku goyang.
Masinis itu membiarkan rambutnya berkibar-kibar bersama angin senja yang jingga itu. Dia membuka bukunya. Huruf-huruf dalam buku itu pun serta merta berserakan di udara. Kata-katanya tergulung di bawah bordes, dan tergelincir dalam pusingan angin dekat ketel; lalu tersapu mendung. Kemana kereta api ini bergegas? Kita sedang menuju Negeri Antah Berantah,” teriak api dari tungku loko dengan mata berkilat-kilat. Loko menjerit-jerit. Asapnya bergulingan tertinggal di dahan dan ranting. Kacamataku goyang, dan Soekarnoku melompat ke cerobong uap. Masinis itu lenyap di baliknya. Senja pun semakin jingga.
Macam dongeng, serupa cerita; prosais –lengkap dengan tanda baca seperti koma (,). Dan juga begitu dengan sajak “Hidup Dengan Sepatu”, serta sajak “Indonesia di Mulut” yang bait pertamanya seperti ini:
Aku sedang menggosok gigi di depan cermin, pacarku sedang main fesbuk. Tiba-tiba ada kapal yang menambatkan sauh di geraham. Aku terkesima. Gusiku jatuh dan sikat gigiku me-loncat ke wastafel. Pacarku serentak mematikan laptopnya. Kuseret wajahnya ke depan cermin. “Lihat, ada burung-burung beterbangan di dalam mulut,” kataku terpesona menunjuk rongga mulutku yang penuh busa odol. “Ya, kulihat ada zamrud katulistiwa,” kata pacarku sambil melongok langit-langit mulutku.
Sedangkan bait pertama dari sajak “Hidup Dengan Sepatu” yang terdiri atas empat bait serupa ini:
Jam lima pagi, aku sudah sampai ke sepatu. Waktu merangkak di jam tangan. Aku berjalan bersama sepatuku. Udara segar. “Mari kita bersulang, Kawan,” kataku. Jam terus merayap seiring detak waktu.
Sekali lagi, semua sajak itu prosais, bercerita. Bertutur dia kepada kita; mendeskripsikan yang dialami, dirasakan, dilakukan si “aku” lirik, keadaan di luar “aku” lirik. Dan semua itu disajikan rangkai-berangkai bagai dalam sebuah cerita.
Jika sudah begitu dekat sajak-sajak itu menghampir ke prosa sehingga tipis saja bedanya dengan prosa, mengapa dia masih disebut sajak/ puisi? Atau sekalipun dalam wujud kode-sastra yang paling sederhana (Prof Dr A Teeuw: “Membaca dan Menilai Sastra”, 1983) kenapa sajak-sajak itu tidak ditempatkan di buku kumpulan cerpen misalnya, tapi tetap di antologi puisi? Jawabnya tentulah karena dia masih berupa sajak/puisi, lantaran bangunan pokoknya tetap terdiri atas susunan imaji, rangkaian-rangkaian imaji.
Sudah tentu ada cerpen dibangun atas susunan imaji, umpamanya dalam Majalah Sastra “Horison” periode 1960-an/1970-an; ditulis sastrawan kita, antara lain Sutardji Calzoum Bachri, Arswendo Atmowiloto, Frans Nadjira, Yudhistira Ardi Noegraha, Korrie Layun Rampan, Abdul Hadi WM juga Kurniawan Junaedhie. Di samping sastrawan luar seperti Alexander Solzhenitsyin. Akan tetapi jika ditilik lebih jauh cerpen-cerpen itu tetap tampak lebih berat kepada prosa lantaran dia tak dapat bebas-bebas amat mengeksplorasi kata/bahasa untuk menghadirkan imaji, seperti dimungkinkan pada sajak. Sulit diterima eksplorasi-eksplorasi bahasa bagai berikut ini berkeliaran dalam prosa, meski dimaksudkan untuk menampilkan imaji: “Aku melihat sekawanan kambing mencabik-cabik pahaku”, “Aku melihat pecahan wastafel dan jeruji roda masuk ke vagina” dan “Aku terlempar dalam kalender dan bersandar pada penanggalan” dari sajak “Mei 1998, Kisah Sepotong Ame”. Atau dari sajak mantranya Sutardji Calzoum Bachri yang terkenal ini: “Ngiaauu! kucing dalam darah dia menderas lewat dia mengalir ngilu Ngiaauu! dia bergegas dalam aortaku dalam rimba darahku….” yang juga terkesan naratif, dan ketika dipublikasikan Majalah “Horison” edisi Desember 1974, berjudul “Kucing”. Eksplorasi-eksplorasi kata/bahasa semacam itu atau lebih “liar” lagi seakan-akan “tidak karuan” karena menafikan makna kata yang umum/baku, hanya dimungkinkan di dalam sajak/puisi.
Akhirnya, ingin saya katakan bahwa cara ucap berbeda dalam bentuknya yang naratif itu tak hadir tiba-tiba di sajak-sajak Kurniawan Junaedhie. Meski samar, bagai saya sebut di awal tulisan ini, gejalanya sudah tampak di beberapa sajak di kumpulan “Cinta Seekor Singa”. Bahkan lebih jauh lagi, di dua cerpen dia di “Horison“ edisi Februari 1976 yang juga dibangun atas susunan imaji; dan salah satunya berjudul “Saelan dan Hujan” (yang tipografinya rata pula kanan kiri ketika terbit di Majalah “Horison”). Begini cerpen itu:
“Tidak menduga akan halnya banjir besar di sungai huangho akibat banyaknya lumpur-lumpur yang bersisa di tepinya, atau karena tidak pernah membaca berita perihal hujan yang turun semalaman di mesir sehingga sungai nil sungai yang konon menghidupi bangsa mesir dengan menyuburkan tanah dan sawah ladangnya, banjir, maka sekonyong-konyong Saelan asal Purwokerto, tinggal dekat stasiun belakang penjual rokok siong yang emaknya tukang rokok pula secara bersungguh-sungguh melarang orang tuanya begini: KALAU begitu besok pun hujan akan turun dan melanda rumah kita, emak, tadi emak telah kusuruh membeli genting baru tidak mau, padahal kucing-kucing semalaman berkelahi tentang bandeng di atasnya”.
Dan mungkin pula gejala itu makin jelas, atau bahkan sudah terbentuk, menjadi, pada dua kumpulan sajak Kurniawan setelah “Cinta Seekor Singa”: “Perempuan Dalam Secangkir Kopi” dan “Sepasang Bibir di Dalam Cangkir” yang tidak saya punyai (tak tersisa di toko buku, licin macam piring dijilat kucing, dan penyairnya agaknya juga tidak sudi memberi barang sebiji; hahaha), sehingga tidak saya ketahui proses perkembangannya di dua buku itu. Tetapi sekali lagi, bentuk atau corak sajak-sajak yang naratif bercerita itu tak didapat Kurniawan Junaedhie tiba-tiba. Cara atau bentuk itu adalah bagian dari perjalanan sejarah persajakan dia, ataupun kepenulisan dia.
Bagi kita selaku pembaca, atau khususnya saya sebagai penggembira alias penikmat sajak wabilkhusus sajak Kurniawan, hepi saja dengan cara/corak/bentuk sajaknya yang berbeda dengan dulu itu. Malah girang
bak dulu saat dibelikan baju baru Hari Raya oleh ibu. Saya bolak-balik baju itu, saya patut-patut dia di muka kaca, saya elus gosok-gosok, lalu mekar senyum saat merasa pas alias cocok. Dan bersamanya saya dibawa ke isi, atawa makna. o
LA, Minggu pagi yang indah: 20.5.2012
WebRepOverall rating