Tampilkan postingan dengan label Esti Ismawati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esti Ismawati. Tampilkan semua postingan

30 Desember 2014

MEMBACA SAJAK-SAJAK KURNIAWAN JUNAEDHIE: DARI 1974 SAMPAI 2014


Diposting di Facebook, 29 Desember 2014 pukul 23:52

Oleh : Esti Ismawati

Hampir empat puluh tahun Kurniawan Junaedhie menulis puisi (1974 – 2014), dan selama hampir empat tahun (2010 – 2014) saya membaca dan mengamati sajak-sajak Kurniawan Junaedhie (KJ). Dari segi tema yang dihadirkan, hampir semua puisi-puisinya berkisah tentang kehidupan dan peristiwa yang melingkupinya, dari hal-hal yang bersifat keseharian hingga hal-hal yang bersifat istimewa, yakni yang datang secara mendadak, tiba-tiba, seperti bencana. Bentuk fisik sajak-sajak KJ tidak dapat digeneralisasikan sebagai bentuk apa, karena sajak-sajak yang ditulisnya itu seperti muncul begitu saja sehingga bentuknya ya semau-maunya KJ. Dan dari amatan saya itu bisa saya simpulkan bahwa hampir semua model sajak-sajak Kurniawan Junaedhie tampil dengan nada humor, canda, betapa pun sedihnya atau ngungunnya konten yang ingin disampaikan. Dari segi bentuk pengucapan juga dapat disimpulkan bahwa sajak-sajak Kurniawan Junaedhie penuh dengan imaji dan metafor yang bersahaja, mengalir begitu saja, tanpa dipaksa-paksa, dengan tema utama kehidupan di seputar keluarga, dan yang sangat menonjol adalah topik dari sudut perempuan. Setidaknya simpulan itu melekat pada sajak-sajak yang ditulis dari tahun 1974 hingga akhir 2014. Saya akan sisihkan ulasan sajak-sajak KJ di akhir 2014 yang berbeda dengan pengucapan sajak-sajak sebelumnya.

Sebagai penyair KJ banyak dipengaruhi oleh Goenawan Mohammad, Abdul Hadi WM, Sapardi Djoko Damono, Soebagio Sastrowardoyo, dan Sitor Situmorang, sehingga warna-warna sajaknya pun sangat beraneka ragam. Baginya menulis puisi adalah soal yang sangat mudah, sipil, apalagi setelah puisi mbelingnya (yang ditulis hanya dalam bentuk permainan kata-kata belaka) ternyata diterima dan dimuat di suatu mass media. Dari sinilah (dugaan saya, mungkin) lalu muncul persepsinya bahwa “yang kayak apa pun” bisa disebut puisi. Hal inilah yang menjadikan ‘kehebohan’, yang muncul dalam diskusi antara dia dengan para guru di Bandung beberapa hari yang lalu. Di satu sisi, para guru harus memberikan kepastian kepada muridnya bahwa bentuk puisi itu seperti ini (baku dalam hal pembarisan dan pembaitan dari segi fisiknya, bukan kotak, rapat kanan rapat kiri seperti tulisan biasa), dan di sisi lain si penyair (KJ) memunculkan puisi-puisinya itu semau-maunya : banyak yang berbentuk kotak, rapat kanan kiri seperti prosa. Tetapi satu hal yang bisa saya tangkap adalah betapa pun kotaknya puisi KJ, di dalamnya terdapat diksi yang sangat puitis dan metafor-metafor yang segar namun sesungguhnya menikam tajam.

Sajak-sajak yang termuat dalam kumpulan puisi KJ “Sepasang Bibir di Dalam Cangkir” (SBdDC), misalnya, penuh dengan candaan yang bikin kita ketawa terpingkal-pingkal, tetapi sesungguhnya itu sebuah satire bagi perempuan. Perhatikan petikan-petikan di bawah ini :

“Ada bibir perempuan terjatuh di genting yang bocor. Pluk. Bibir itu terjerembab di kasur rumahku. Kelopak bibir itu basah merekah. Merah seperti delima. Kelopak itu menengadah, seperti pasrah. Pasrah kepada siapa? Sedang aku tak tahu ini bibir siapa?..... Aku termangu dan bertanya-tanya, siapa kiranya si pemilik bibir. Jangan-jangan ia seorang perempuan yang sedang duduk di kedai kopi, yang geram kepada suaminya sehingga bibirnya terlempar ke udara lalu masuk ke rumahku. Atau ia seorang perempuan yang sedang kesepian lalu mengerang sehingga bibirnya meloncat ke langit, dan masuk ke dalam jendela kamar tidurku. Jangan-jangan ia malah sengaja mencopot bibirnya, lalu melemparkannya ke arahku untuk mengusik tidurku. Apa salahku? Sedang aku tak tahu ini bibir siapa? ” (SBdDC, 2011: 11).

Pastilah kita tertawa membaca kutipan puisi di atas hehehe... masak bibir bisa loncat-loncat begitu. Tapi di balik candaan itu kita pun menangkap pesan bahwa jangan sembarangan dengan bibir perempuan, artinya perempuan mesti mampu menaklukkan bibirnya, apalagi perempuan yang suka duduk di kedai kopi, perempuan yang suka geram kepada suami, perempuan yang suka kesepian, perempuan yang suka mencopot bibirnya.... Jika kita rasakan secara mendalam, puisi ini merupakan kritik yang sangat keras terhadap perempuan, apalagi ketika sampai pada kalimat, ‘Apa salahku?’. Seolah perempuan-perempuan ini sembarangan saja dengan bibirnya. Marilah kita nikmati petikan puisi berikutnya :

“Ketika kereta api melintas di atas jembatan panjang dan kemudian masuk ke dalam terowongan yang pengap, handphoneku berkejap-kerjab. Sebuah pesan singkat masuk. ‘Tenang, Sweety, aku di dalam kopormu’. Astaga. Orang rumah sudah menyiapkan odol, sikat gigi, sabun, botol vitamin, buku bacaan, dan sejumlah pakaian di dalam koporku. Sekarang saja baru teringat, aku menyelipkan kamu di dalam kopor itu, antara odol dan buku bacaan persis ketika aku tiba di stasiun” (SBdDC, 2011: 7).

Seakan sepele saja si aku ini menganggap keberadaan objek (dalam hal ini perempuan), karena cukup ditaruh di dalam kopor, diselipkan antara odol dan buku bacaan. Sepele, hehehe jadi jangan pernah ada seseorang (maaf perempuan selain ibu, adik, isteri, dan puteri-puterinya) yang merasa memiliki lebih, karena sesungguhnya ia seorang yang penakut dalam hal penyimpangan-penyimpangan, dan (mungkin) ini merupakan hasil dari pendidikan ibunya, yang sangat mewarnai hidupnya, yang tampak dalam beberapa karyanya baik puisi maupun prosa (cerpen) yang berkisah tentang ibunya, sementara hanya sebuah puisi saja yang ditulis untuk ayahnya sebagaimana saya kutip berikut ini :

“Bagiku ayah adalah sebatang pohon yang rindang. Daunnya rimbun. Kalau aku melihat ke atas, yang kulihat susunan dan daun bertrap-trap. Begitu banyak daun tersusun. Di kelopak daun itu aku lihat kutu, semut, juga kadang buliran embun. Beberapa daun terkulai, lalu jatuh rebah. Karena gemas, pada suatu hari aku masuk ke dalam tanah, berkomplot dengan remah-remah. Aku lihat ayah dari bawah. Ayah adalah sebatang pohon tua yang rindang. Akarnya kuat, mencengkeram ke bumi erat-erat. Aku merasa terlindung dalam himpitan daun dan cengkeraman cacing tanah”. 2009. (PdCK, 2010 : 25).

Seorang yang Dekat dengan Ibunya.

Jika menyimak karya-karya KJ, baik puisi maupun prosanya, nyatalah dapat disimpulkan bahwa ia sangat dekat dengan ibunya. Berulang kali ia katakan dalam puisinya itu, ia ingin kembali ke dalam rahim ibunya agar ia bisa mendengar detak jantung ibunya, sebagaimana tampak dalam petikan puisi bertajuk “Kembali pada Ibu” di bawah ini :

“Aku masuk lagi ke dalam rahim ibu. berkutetan di uterus. Mencair dan menjadi air berupa paduan spermatozoa dan sel telur. Agak aneh. Gelap malam jadi benderang. Ada samudera terbentang. Pemandangan begitu luas. Burung-burung camar terbang di langit yang luas, sedang aku tampak tergantung di empuknya awan. Sedalam-dalam aku hirup nafasku, penuh dadaku dengan zat-zat terbaik “ Ammonia, Ascoric Acid, Ash, Calcium, Dioxide... Ya Tuhan!” . 15 Des. 2009 (PdCK, 2010 : 32).

Ada lagi puisi KJ yang berkisah tentang kedekatannya pada ibu, sebagaimana tertulis dalam puisi bertajuk “Rindu Menelpon Ibu” di bawah ini :

..............
Aku menulis nama ibu di tembok rumah.
Aku menulis nama ibu di pasir, di tepi laut.
Nama ibu kocar-kacir digulung laut, masuk ke dalam perut laut.
Aku cemas, putus asa, dan termangu.
Aku putus asa, termangu dan cemas.
Bagaimana caraku menyatakan cintaku pada ibu?
Aku mencoba menulis surat.
Aku mau kirim telegram, email, atau chatting.
Aku jongkok di pasir. Memandang laut. Memandang cakrawala yang jauh.
Tiba-tiba ada suara aneh di dalam kantung hatiku. Teleponlah aku, suaranya gemetar
sampai dinding hatiku bergetar. Halo. Halo. Tak terdengar jawaban. Rasanya dia ibu...

(SBdDC, 2011 : 25)

Cermatilah puisi juga di bawah ini :

“Aku ingin pergi jauh, kataku pada ibu. Aku menoleh jauh ke luar jendela. Langit basah berembun. Daun dan ranting lunglai dibingkai kusen. Ibu –di dalam kubur- memelukku, mengelus rambutku, dan berkata, “Rumahmu di dalam perutku. Kemana kamu akan pergi?”. Aku peluk perut ibu. Aku mendengar detak jantung di dalam perut ibu. Aku mendengar suara di perut ibu. “Anakku...” Suara itu bertalu-talu. Aku merasa ngilu. Ibu terus memelukku, dan mengelus rambutku. Aku menoleh jauh ke luar jendela. Embun berkerumun jadi kabut. Hatiku ngelangut. Ingat kata-kata Ibu. Ingat perut Ibu. Ibu terus hidup dalam pikiran dan perasaanku”. (SBdDC, 2011: 12).

Betapa dekatnya si aku dalam puisi di atas dengan Ibu. Kedekatan yang abadi karena akhir dari puisi itu tertulis : Ibu akan terus hidup dalam pikiran dan perasaanku. Oh. Kedekatan yang abadi ini akan selalu muncul dalam lintasan lini masa ketika si aku menulis, dan itu dapat dibaca dalam berbagai bentuk seperti di kumpulan puisinya yang lain (“Kembali pada Ibu” dalam “Perempuan dalam Secangkir Kopi”, atau di kumpulan cerpennya “Opera Sabun Colek”).    

Tema Lain

Tema lain pun banyak ditulis KJ. Misalnya tentang kecelakaan pesawat terbang di negeri ini, tentang bencana Merapi, tentang pemandangan di rumah bersalin tahun 1965, tentang peristiwa Mei yang kelabu, tentang keinginan, tentang Yogyakarta, tentang hidup, tentang apa pun yang dilihatnya. Dan tentang pesawat terbang, KJ menulis demikian :              

“Sudah lama kami tidak berani naik pesawat terbang. Burung bermesin itu suka ngadat di udara. Kadang baling-balingnya oleng. Kadang-kadang rodanya rusak. Kadang-kadang saja dia berlagak terbang tinggi, tapi kemudian berpusing-pusing karena mesinnya mati. Sudah lama kami tidak berani naik pesawat terbang. Karena begitu mudah dia terbang, begitu mudah pula dia menukik ke bumi. Sudah lama kami tidak berani lagi kepingin melihat pramugari. Kepada anak-anak dan handaitaulan kami bilang sebaiknya tidak jadi pilot. Karena pesawat terbang negeri sendiri suka menjatuhkan diri. Tak ada yang menjamin tak ada baut yang copot. Tentu saja para pejabat membantahnya. Tapi kami tidak perduli”. 2009 (PdCK, 2010 : 28).

Mengerikan. Tidak dapat membayangkan seandainya kita berada di dalam pesawat di atas: suka ngadat, baling-balingnya oleng, rodanya rusak, mesinnya mati, bautnya copot, dan bahkan tiba-tiba ia menukik ke bumi, menjatuhkan diri. Seandainya pejabat terkait mau mendengar suara ini dan tidak sibuk membantahnya, mungkin peristiwa demi peristiwa yang mengerikan (yang terkait dengan burung besi ini) bisa dihindari.

Tentang bencana Merapi, KJ menulis berikut ini :

“Di stasiun Tugu, abu vulkanik Merapi terhirup ke dalam hidungku. Partikel halus batuan vulkanik yang keluar dari erupsi gunung itu, juga masuk bersama air liur melalui mulut, leher dan kerongkonganku. Di Jalan Kaliurang, ledakannya melemparkan batu-batu apung dan abu vulkanik. Setengah kerucut jantung dan paruku hampir hilang, menciptakan cekungan yang dalam dan tajam. Di Parangtritis, gelombang laut naik, menghancurkan lambung, limpa, ginjal, kulit, kelenjar getah bening, tulang dan hatiku” (SBdDC, 2011: 1).

Tentang manusia, KJ pun menulis sajaknya dengan sangat tajam, seperti berikut ini :

“Hiu makan tongkol
Tongkol makan teri
Teri dimakan manusia
Manusia makan manusia”
2010 (KRRA, 2011 : 276).

Hanya satu baris, ‘manusia makan manusia’ namun tajamnya sampai di ulu hati. Betapa tidak. Tak ada cinta kasih lagi di sini. Tak ada toleransi lagi di sini. Tak ada peradaban lagi di sini. Hanya ada hukum rimba, manusia makan manusia. Oh, sangat mengerikan. Kondisi ini lebih memprihatinkan lagi manakala kita membaca puisinya yang berjudul “OKB di Jakarta” : “Ayah korupsi, Ibu selingkuh, Anak-anak nonton film bokep” (KRRA, 2011 : 276). Wah, habislah masa depan bangsa ini. Dimana moralitas agung yang pernah ditanamkan para pendahulu kita (para founding fathers kita) ?. Memang benar katanya : “Menjadi penyair itu mudah, Menjadi manusia yang susah” (KRRA, 2011 : 278).

Saat-saat Melo

Ada suatu saat dimana KJ merasa sangat sedih. Dan di dalam kesedihan ini pun ia tetap bercanda dalam puisinya. Saya kutipkan puisi yang saya maksud itu selengkapnya seperti ini di bawah ini :

PADA SUATU HARI HIDUPKU

Hidup dimulai dari rumah. Lalu dituntun sepatu aku menyusuri jalan ke masa lalu. Di situ aku ulang-alik tak menentu. Kadang aku melihat nestapaku yang gemetar di jalan penuh belukar. Kadang kulihat bayanganku menggigil di ujung waktu. Aku tak kepingin diriku menjadi bangkai sendirian di bawah pohon rindang. Aku pun terus berjalan. Lalu cepat-cepat kubawa tubuhku yang piuh pulang ke rumah. Dari dalam rumah, kubuka mataku, dan terbentang puisi-puisiku yang memancar bersama itik, dan ikan-ikan persis di pelupuk matamu. Aku tiba-tiba ingin masuk ke dalam botol. Hari yang perih, dan kegelisahan yang mendidih, ingin benar kuselipkan ke dalamnya. Aku nikmati suara kegaduhan di dalam botol. Malam pun tiba. Aku gelisah. Bersama arloji, aku resah dan gundah. Kami mendorong jarum jam agar aku bisa melompat ke hatimu. Alangkah tololnya keinginan bisa tidur bersamamu di setiap malam ketika sunyi tiba. Aku seperti anak sapi, didekap induknya. Meringkuk sendiri. Hidup macam apalagi yang harus kujalani? Tanyaku sambil menatap masa laluku yang tak pernah kembali”. 2013. (DNP5 Negeri Langit, 2014 : 317).  

Puisi-puisi Akhir Desember 2014.

Saya tidak tahu persis apa yang telah terjadi dalam diri KJ di akhir Desember 2014. Apa gerangan yang menyentuh hatinya. Yang saya tahu, puisi-puisinya mbrojol mengalir begitu deras. Dan jika saya amati, pilihan diksi dalam puisi-puisi ini sudah berbeda jauh dengan puisi-puisi yang ditulis sebelumnya. Tema cinta masih sama, namun cara pengungkapannya itu begitu santun, halus, menyentuh sesiapa saja yang membacanya. Tidak ada lagi canda dalam puisi-puisi ini. Tidak ada lagi kata-kata seronok dalam puisi-puisi ini. Tidak ada lagi nafsu birahi yang mendengus-dengus dalam puisi-puisi ini. Yang ada adalah kelembutan cinta kepada sesosok manusia dan kedekatannya kepada alam, sebagaimana tampak dalam puisi-puisi yang saya kutip berikut ini :

KAMAR SUNYI

Di teras rumahmu, ada satu bangku kayu. Di situ aku bisa memandang senja; dan senja bisa memandangku. Di belakang bangku kayu itu, ada sebuah kamar. Ruangannya luas, penuh buku, dengan sinar lampu yang samar. Di situ aku bisa memandang langit; dan langit juga bisa memandangku. Di dalam kamar itu, ada sekeping hati, tempat aku bisa melabuhkan sunyi. Dan di dalam sunyi itu; aku bisa becermin melihat diriku sendiri. Sunyi.

Desember 2014

Ah, betapa indah ungkapan batinnya, yang jauh dari hiruk pikuk kehidupan dunia yang selama ini telah dilaluinya. Alangkah lembut ungkapan-ungkapannya. Syahdu, erat bersahabat dengan sunyi yang indah, sunyi yang menciptakan gairah cinta-Nya, sunyi yang mendekatkannya dengan alam, sebagaimana tampak dalam puisi berikut ini :

AKHIR TAHUN 2014

Aku masuk ke dalam hari baru yang merdu hari itu. Sudah lama aku tidak melihat pemandangan yang berkabut, sejuk, penuh embun dan matahari yang memancarkan hangatnya kebahagiaan. Sesekali kucium bau rumput basah sambil kudengar tawamu yang renyah sementara langit biru setia merekah. Hidup dalam sebuah hari baru, alangkah dahsyatnya.

Kami pun duduk di sebuah taman, depan kolam di mana ikan dan kata berenangan di tengahnya. Kami diam 1000 basa. Air berpusing, dan kata-kata menggenang tenang. Dan kabut menyamarkan bayanganmu. Hidup dalam sebuah hari baru, alangkah nyaringnya.

Kami lalu melempar batu ke tengah kolam, dan kulihat percik air memekik tertahan. Dan di dalam bening air itu, --yang dipenuhi kabut itu,-- aku menatapmu, dan kamu menatapku. Aduh, lihat, betapa berkecipak dan berdegupnya hidup.

Andaikan, --ya andaikan--, aku diberiNya waktu sebentar lagi. Mungkin aku akan lebih dalam merenangi hatimu, dengan puisi yang lebih bisa menghibur hatimu.

Desember 2014

Puisi yang sangat anggun kurasa. Puisi yang sangat elok, dengan doa sepenuh resah tercurah, ‘andaikan aku diberiNya waktu sebentar lagi. Mungkin aku akan lebih dalam merenangi hatimu, dengan puisi yang lebih bisa menghibur hatimu’.... (Ya, Tuhan... kabulkan doanya). 

Puisi-puisi lain masih terus mengalir, mbrojol bersama angin Desember yang dingin dan syahdu. Sebagian berkisah tentang sebuah rumah, sebagian berkisah tentang pencarian si aku dengan si dia. Tentang rumah yang pernah ia singgah, terlukis di bawah ini :


KENANGAN DI KLATEN
Isma

Di rumah Bareng, suasana sepi dari lalulalang; hanya suara peronda, teduh daun, derak jendela; dan suara kodok. Setelah bertualangan seharian, malam itu aku merenung, memandang langit di atas tembok.

Seluas-luas langit terbentang; tak ada bulan, hanya mangga bersembulan, seperti buah-buahan yang senantiasa ranum di atas dahan. Aku pun teringat kamu. Kupeluk pinggangmu; lalu kudengar suara plafon yang melenguh. Tak ada suaramu, kecuali hati yang mengusap wajah, dari panas jadi dingin, dari dingin jadi entahlah.

Lalu sunyi bersipongang di ruang tengah. Lampu bergoyangan, sinarnya berdenyar-denyar membuat aku tercenung, dan memandang langit di atas tembok.

Di rumah Bareng, kutemukan kenakalan-kenakalanku di masa kecil bersembulan seperti ilalang yang liar.

Desember 2014

Masih ada ungkapan-ungkapan cinta birahi, seperti kupeluk pinggangmu, namun diikuti konteks tak ada suaramu, kecuali hati yang mengusap wajah, dan plafon yang melenguh. Si aku hanya berteman dengan sunyi yang bersipongang di ruang tengah. Hanya berteman dengan tembok dan suara kodok. Hanya berteman dengan lampu yang bergoyangan. Toh indah juga, bukan? Memang, tanpa imaji liar sebuah teks sastra memang bukanlah sebuah puisi, karena itu di akhir puisi ini terlukis juga kenakalan-kenakalannya di masa kecil. 

Marilah saya ajak pembaca untuk menikmati keindahan puisi yang berkisah tentang sebuah pencarian, yang mengusung kosakata etnik, dari berbagai penjuru nusantara kita, yang saya kutip lengkap di bawah ini :

MENCARI KAMU DI ANTARA PULAU-PULAU

Seseorang yang mirip kamu telah hilang dari hatiku
Ia menghilang seperti matahari yang tenggelam di Tanah Lot
Jejaknya seperti rembulan mengambang di Danau Kelimutu.
Siapa pencurinya? Di mana kamu?

Di Tanah Jawa jejakmu tetap tak kusua.
Di Sulawesi pun sosokmu tak terbaca.
Ada yang bilang kamu ngumpet di Papua dan di Batutua.
O, ternyata tidak.

Di Aceh, aku jumpa pakngoh
Dia tak sebut namamu.
Di Kalimantan, gulu menggeleng
ketika kusebut asal usulmu.
Di Pulau Rote, Gerson Poyk
tak kenal hal ikhwalmu.

Jangan becanda.
Kita sayang pa ngana.
Aku mencintai kamu apa adanya.
Kupikir, kamu juga.

Sekarang kulitku terbakar di Banda,
mencari kamu, di antara pasir dan lada
Besok aku berenang ke Madura, Ende, Atambua
dan Tambolaka di Sumba

Beribu pulau dan selat sudah kuseberangi,
Kupikir kamu dijaga datuk-datuk di Saparua
Eh, jauh-jauh memburumu ke ujung Indonesia,
yang dicari berumah di keping kecil hati beta, ternyata !

Desember, 2014

Ending yang sangat tak terduga, ‘jauh-jauh memburumu ke ujung Indonesia, yang dicari (ternyata) berumah di keping kecil hati beta!’. Puisi yang elok dengan khasanah kata etnik seperti pakngoh, gulu, pa ngana, dan begitu banyak nama daerah yang disebut dalam puisi ini, yang mampu membangkitkan rasa nasionalisme, cinta tanah air yang meluap-luap. Sebuah puisi yang layak menjadi bahan ajar pendidikan karakter di sekolah-sekolah. 

Berikutnya saya sajikan juga puisi yang berkisah tentang suasana hati yang risau atas apa yang dirasakan ‘seseorang’ di seberang sana :


SURAT YANG DISERTAI PISAU

Suratmu sudah tiba semalam. Ada isak tangis, dan sebilah pisau menyertainya. Aku membacanya berulang-ulang sambil tiduran: membayangkan tanganmu yang sedang menuliskan dan wajahmu yang selalu hidup dalam ingatan. (Tapi kenapa sebilah pisau kauselipkan, dan sederet tangis kau kirimkan?)

Sambil meraba dada kiri, aku coba memahami suratmu. Memahami kata-katamu, dan semua hal ikhwal yang serba tidak kekal.

Lambat laun aku pun mulai bisa mengerti. Tak ada yang abadi di dunia ini. Rambut hitam jadi putih. Langit biru jadi legam. Yang pergi bisa tak kembali. (Ingatan itu fana 'kan. Kenangan itu abadi)

Dan sekarang hari sudah sore. Kulipat suratmu. Tolong, kirimi lagi surat baru untukku (kumohon, jangan lagi sertakan pisau dan isak tangismu) agar bisa menghibur hatiku, dan menyenangkan hari-harimu.

Desember 2014.

Saya kehabisan kata-kata untuk mencandra puisi ini karena rasa iba menyelimuti jiwa. Membayangkan seandainya pembaca berada pada posisi dia yang mengirim surat itu, betapa bahagianya memiliki sahabat yang sedia menerima sebagian keluh kesahnya, yang tiada sedikit pun terdapat nada menggurui, menasihati harus begini atau begitu, apalagi menyalahkan keadaan. Ia, si aku hanya menerima saja apa yang dirasakan si dia, dan dengan hati terbuka ia minta dikirim lagi surat serupa (tentang derita yang dihadapi) dan hanya meminta jangan lagi ada isak tangis di sini. 

Masih ada beberapa puisi yang saya sertakan di bagian akhir tulisan ini, kiranya pembaca dapat mengapresiasi puisi-puisi indah ini dan menutup tulisan ini saya sertakan juga sebuah puisi yang saya tulis untuknya. Selamat membaca dengan mata terbuka.

RUMAH KENANGAN

Rumah itu selalu mengingatkan padamu, namamu, dan wajahmu yang suram, ditimpa lampu malam. Tapi aku tak yakin benar, apakah kamu juga pernah mengingat namaku?

Di depan rumah, aku terpekur, memandang langit yang melengkung seluas cakrawala, dengan tiang-tiang listrik yang seakan menjadi penyanggganya. Lalu kurasakan suara piyuh angin yang memukul-mukul suara tebing.

Dari jauh, kulihat teras rumah itu kosong, ruang tamu juga kosong. Ada juga setumpuk angan-angan yang berserakan di lantai, dan sekardus impian yang menempel di dinding.

Dulu aku pernah berpikir, di dinding itu akan ada telapak tangan anak-anak yang menggapai (tapi kenyataan itu rupanya tak pernah sampai). Dulu aku pernah berpikir, kamu akan sebut namaku dan aku akan sebut namamu (tapi sekarang yang kudengar hanya suara darah yang mengalir seperti air terjun dari ngarai).

Di depan teras rumah itu, tubuhku kelu, tertekuk dan terduduk. Sadarlah kini, begitu banyak hari-hari lewat; dan kata-kata terucap. Kita ternyata hanya hidup berumah dalam kenangan. Masa laluku adalah patahan piring, keping hati yang membuatku melihat masa kelam.

Lihat, malam pun berganti pagi. Hidup jalan terus ternyata. Tak ada yang kekal di bawah matahari.

Desember 2014

SURAT TENTANG KENANGAN

Sudah kuterima suratmu tadi pagi. Selamat. Aku senang. Pada akhirnya kamu menemukan pasangan, seorang asing yang dikirim Tuhan untuk menjadi teman hidupmu. (Hidup ini memang penuh misteri 'kan?)

Jangan pernah mengatakan di antara kita sudah tidak ada cinta. Jangan. Owah gingsiring kahanan iku saka kersaning Pangeran kang murbeng jagad. Jangan pernah mendahului kehendak Gusti Allah.

Astaga,  pernahkah kubilang kenangan (atau ingatan) bertukar rupa? Never. Telah kuberikan segalanya. Tak hanya kata-kata, juga rencana. Tapi, apa mau dikata, jika kehendak Tuhan berbeda. 

Mungkin ada hal-hal yang bisa kita lupakan, tapi bukan mustahil ada lebih banyak lagi hal-hal yang tetap (harus) kita ingat dalam perjalanan waktu. Tapi, maafkan, bila aku tak mampu mengingat-ingatnya, apalagi menyimpannya. Semuanya kutitipkan saja padamu..(Jangan simpan sembarangan, ingatlah perasaan pasangan.)

Tentu, aku tak mau buru-buru melupakanmu. Ingatan itu fana. Kenangan abadi. Ingatan pendek. Kenangan panjang. (Benar kan?)

Sekali lagi, selamat. Aku senang.  Pada akhirnya kamu menemukan jodohmu. Aku yakin,  ialah orang yang dikirim Tuhan menjadi teman hidupmu untuk selama-lamanya. (Bukankah hidup ini memang penuh misteri tapi juga indah? Dan, ssst, jangan pikirkan dan ingat-ingat aku lagi. Move on!)


Desember 2014

Demikianlah ulasan saya tentang puisi-puisi Kurniawan Junaedhie, penyair yang terus menulis puisi hingga saat ini. Pengetahuannya sebagai wartawan yang sangat luas sangat terlihat pada aneka tema puisi yang ditulisnya. Kurniawan Junaedhie (betapa pun tidak ada manusia yang sempurna), ia pernah tergelincir, secara jujur ia mengakuinya, (bacalah puisi-puisinya yang bertajuk ‘Perempuan dalam Secangkir Kopi 1, 2, 3’ yang sangat seksi tetapi tidak saya ulas agar pembaca penasaran dan lalu mencari bukunya; terkait dengan puisi-puisinya ini saya yakin akan pendapat A. Teeuw bahwa tak ada satupun karya seni yang tercipta dalam situasi kosong; dalam hal ini pun ada testemoni dari seorang sahabat yang ditinggalkan begitu saja hingga terlantar sampai larut, (oh kasihan); dan di sisi lain ada yang merasa diculik : oh jahat bener para penculiknya itu, telah menjontrongkan orang yang sebenarnya pemalu, (tapi kok berlanjut?)... (hahaha), dan saya kira itu bisa dimaafkan (bukannya Tuhan pun Maha Pemaaf?) karena ia hidup sebagai manusia yang terjebak pada suasana. Tetapi apa yang tertera di dalam puisi-puisi di akhir Desember ini memberikan suatu tanda bahwa ia telah kembali ke jalan yang lempang di usia senjanya (Alhamdulillah jika demikian). 

Ada beberapa keywords yang dapat saya ambil dari puisi-puisi tersebut, di antaranya move on, tak ada yang abadi di bawah matahari. Dan ini (mungkin) sesuai dengan filosofi hidup Kurniawan Junaedhie. Dan jika saya ditanya secara jujur, saya pun sependapat dengan Taufiq Ismail dan Sapardi Djoko Damono (dua Redaktur majalah sastra Horison kala itu, kira-kira 1976) bahwa Kurniawan Junaedhie memang lebih briliant di bidang cerpenis ketimbang penyair. Saya masih merasakan bagaimana lincahnya ia mengolah kata dan mengaduk-aduk perasaan pembaca dalam Kumpulan Cerpennya Opera Sabun Colek, yang sudah berulang kali saya baca masih terus mendatangkan kesegaran baru dalam jiwa saya. Saya tersenyum-senyum mengingat tokoh aku dalam cerpen-cerpen itu. Semoga ulasan ini bermanfaat. 

Mengakhiri tulisan ini saya pun akan tuliskan puisi persembahan saya untuk KJ di usia 60 tahun :

TELAH KAU SUNTING WAKTU

telah kau buka halaman demi halaman
dari magelang sampai gading serpong.
sudah pasti dalam suntinganmu
banyak coret, cacat, cela
sebab lembar-lembar kehidupan berceceran tak karuan.
kau baca satu-satu, cermati rindu masa lalu
coba kau pungut serpihan senja
kontemplasi akar di kedalaman tanah
sematkan coretan-coretan senyum
dan tangis gelisah

senang susah kau berlari
antara ranting dan Sang Dahan
terpaku ikrar sehidup semati.
dan kini, dua bidadari membawamu desah
suburkan cita dan cinta
sesekali kenakalanmu mengusik
dan aku hanya seorang penyaksi.

Catatan antara 24 November 1954 – 24 November 2014.
Klaten, 24 Agustus 2014. (Sang Peneroka, 2014 : 141).

Klaten, 30 Desember 2014.
Esti Ismawati.

Sumber rujukan :
Perempuan dalam Secangkir Kopi, Kumpulan Puisi Kurniawan Junaedhie, 2010. Jakarta : Kosa Kata Kita. Sepasang Bibir di Dalam Cangkir, Kumpulan Puisi Kurniawan Junaedhie, 2011. Jakarta : Kosa kata Kita.
Kitab Radja – Ratoe Alit, Antologi Puisi Alit 50 Penyair Indonesia, 2011. Jakarta : Kosa Kata Kita.
Negeri Abal-abal, Antologi Puisi 99 Penyair dari Negeri Poci 4, 2013. Jakarta : Kosa Kata Kita.
Negeri Langit, Antologi Puisi 153 Penyair Indonesia, 2014. Jakarta : Kosa Kata Kita.
Sang Peneroka, Antologi Puisi 106 Penyair Indonesia, 2014. Yogyakarta : Gambang.
A. Teeuw, Membaca dan Menilai Sastra, 1991. Jakarta : Gramedia.
A. Teeuw, Tergantung pada Kata, 1991. Jakarta : Pustaka Jaya.

23 Desember 2014

SAJAK2 BULAN DESEMBER

KENANGAN DI KLATEN
-Isma

Di rumah Bareng, suasana sepi dari lalulalang; hanya suara peronda, teduh daun, derak jendela; dan suara kodok. Setelah bertualangan seharian, malam itu aku merenung, memandang langit di atas tembok.

Seluas2 langit terbentang; tak ada bulan, hanya mangga bersembulan, seperti buah2an yang senantiasa ranum di atas dahan. Aku pun teringat kamu. Kupeluk pinggangmu;  lalu kudengar suara plafon yang melenguh. Tak ada suaramu, kecuali hati yang mengusap wajah, dari panas jadi dingin, dari dingin jadi entahlah.

Lalu sunyi  bersipongang di ruang tengah. Lampu bergoyangan, sinarnya berdenyar2 membuat aku tercenung, dan memandang langit di atas tembok.

Di rumah Bareng, kutemukan kenakalan2ku di masa kecil bersembulan seperti ilalang yang liar.

Desember 2014


AKHIR TAHUN 2014

Aku masuk ke dalam hari baru yang merdu hari itu.  Sudah lama aku tidak melihat pemandangan berkabut, yang sejuk, penuh embun dan matahari yang memancarkan hangatnya kebahagiaan. Sesekali kucium bau rumput basah sambil kudengar tawamu yang renyah sementara langit biru setia merekah. Hidup dalam sebuah hari baru, alangkah dahsyatnya.

Kami pun duduk di sebuah taman, depan kolam di mana ikan dan kata berenangan di tengahnya. Kami diam 1000 basa.  Air berpusing, dan kata-kata menggenang tenang. Dan kabut menyamarkan bayanganmu. Alanglah nyaringnya hidup dalam sebuah hari baru.


Kami lalu melempar batu ke tengah kolam, dan  kulihat  percik air memekik tertahan. Dan di dalam bening air itu, --yang dipenuhi kabut itu,-- aku menatapmu, dan kamu menatapku. Aduh,  lihat, betapa berkecipak dan berdegupnya hidup.


Andaikan, --ya andaikan--,   aku diberiNya  waktu  sebentar lagi. Mungkin aku akan lebih dalam merenangi hatimu dengan puisi yang lebih bisa menghibur hatimu.


Desember 2014


MENCARI KAMU DI ANTARA PULAU-PULAU

Seseorang yang mirip kamu telah hilang dari hatiku
Ia menghilang seperti matahari yang tenggelam di Tanah Lot 
Jejaknya seperti rembulan mengambang di Danau Kelimutu.
Siapa pencurinya? Di mana kamu?

Di Tanah Jawa jejakmu tetap tak kusua.
Di Sulawesi pun sosokmu tak terbaca.
Ada yang bilang kamu ngumpet di  Papua dan di Batutua.
O, ternyata tidak.

Di Aceh, aku jumpa pakngoh
Dia tak sebut namamu.
Di Kalimantan, gulu menggeleng 
ketika kusebut asal usulmu.
Di Pulau Rote, Gerson Poyk
tak kenal hal ikhwalmu.

Jangan becanda.
Kita sayang pa ngana.
Aku mencintai kamu apa adanya.
Kupikir, kamu juga.

Sekarang kulitku terbakar di Banda,
mencari kamu, di antara pasir dan lada
Besok aku berenang ke Madura, Ende, Atambua
dan Tambolaka di Sumba

Beribu pulau dan selat kuseberangi
sampai ke ujung Indonesia,
Kupikir kamu sedang dijaga datuk-datuk di Saparua
eh, yang kucari tengah berumah
di keping kecil hati beta,  rupanya!

Desember, 2014




03 Desember 2014

KETIKA KJ DITEMUKAN HANS


Catatan Kecil
~Soni Farid Maulana

sesekali kenakalanmu mengusik
dan aku hanya seorang penyaksi

DUA larik puisi di atas dipetik dari puisi Telah Kau Sunting Waktu, yang secara khusus ditulis oleh penyair Esti Ismawati untuk Kurniawan Junaedhie sebagai kado ulang tahun ke-60. Dua larik tersebut mengusik
ingatan saya pada masa-masa awal kreativitas saya sebagai penulis, yang waktu itu banyak menulis cerita pendek untuk Majalah Anita Cemerlang. Kurniawan Junaedhie (KJ) pada saat itu duduk sebagai salah seorang redaktur di majalah tersebut. Sebagai sastrawan, tentu saja ketika saya mulai belajar menulis cerita pendek maupun puisi, KJ sudah malang melintang dalam dunia puisi. Sebagai penyair KJ tidak hanya menulis puisi lirik, simbolik, dan haiku, tetapi juga menulis Puisi Mbeling di Majalah Aktuil yang diasuh oleh sastrawan sekaligus teaterawan Remy Sylado.

Kembali ke Majalah Anita Cemerlang, KJ bersama Yanie Wuryandari merupakan redaktur yang pertama di majalah tersebut. “Saya dan Yanie adalah pendiri Majalah Anita Cemerlang bersama R. Risman Hafil sebagai pemilik SIUPP. Kemudian dalam perjalanan selanjutnya saya mengajak Adek Alwi, dan Lazuardi Adi Sage, waktu itu mereka teman kuliah di STP, untuk bekerja di Majalah Anita Cemerlang. Saya ajak mereka, karena saya masih bekerja di majalah induk, yaitu majalah keluarga Dewi,” jelas KJ, dalam sebuah percakapan ringan, tempo hari. Berkait dengan terbitnya antologi puisi yang Anda pegang, ajakan Esti Ismawati menulis puisi untuk ulang tahun KJ yang ke-60, sungguh tidak diduga disambut banyak pihak. Ini membuktikan bahwa KJ punya jaringan di mana-mana. Dan apa yang dikerjakannya selama ini, dengan menerbitkan antologi puisi Negeri Poci, yang kemudian hari lahir dengan berbagai seri dengan berbagai judul, merupakan sebuah kerja budaya yang dilakukannya tanpa pamrih. Selalu dari setiap buku yang dilahirkannya bersama kawan-kawannya dari komunitas Negeri Poci maupun dari Komunitas Radja Ketjil selalu memberi ruang kepada para penyair generasi baru, dan tidak sungkan disatukan dengan para penyair yang sudah punya jam terbang cukup lama dalam dunia kepenyairan.

Bicara soal ketertarikan KJ memasuki dunia puisi, dengan tegas KJ mengatakan kalau dirinya tidak bertemu dengan penyair Handrawan Nadesul, dan Piek Ardijanto Soeprijadi, salah seorang penyair Angkatan 1966, mungkin dirinya saat ini sudah jadi pengusaha.. “Kedua penyair itulah yang menemukan saya saat masih SMA. Saat itu puisi yang saya tulis dimuat di sebuah harian. Mereka tertarik dengan puisi saya, dan mereka
bilang calon penyair masa depan. Saya tidak menyesal diajak ke jalan sunyi oleh Handrawan Nadesul dan almarhum Piek Ardijanto. Puisi telah mengajari saya dalam memahami kehidupan,” jelas KJ dalam sebuah percakapan singkat di Jejaring Sosial Facebook.

Dalam kaitan itu pula penyair Handrawan Nadesul, yang dipanggil oleh KJ, Hans, berujar, “ Halo Jun, he he, begitulah garis kehidupan saya duga. Tanpa rencana, tanpa bayangan, hanya ingin ketemu, kami ketemu teman-teman yang namanya sudah dikenal di Purwokerto. Tapi terus terang saya memang menilai Jun cerdas dalam berpuisi. Terbukti sampai sekarang imajinasinya liar dan nakal. Juga dalam menulis cerpen, dan pengalaman mematangkannya menjadi penulis apa saja. Saya kira talenta bertemu dengan realita. Dalam hidup, saya kira tidak ada yang kebetulan. Garis itu sudah hadir. Salam sukses. Saya tahu Jun menyesal jadi penyair.” Hahahaha, saya tertawa ngakak membaca dialog dua orang sahabat ini, dan dengan tegas pula KJ menjawab tidak menyesal. Wah ya, siapa yang menyesal jadi penyair, walau dari puisi yang ditulisnya tidak menghasilkan uang. “Dan malah bisa jadi berutang pada orang, saat kita minum kopi di warung,” papar Rendra suatu saat, ketika untuk pertamakali dan terakhir kali saya terbang ke Belanda bersama Rendra, mengikuti Festival de Winter Nachten pada 1999 lalu di Den Haag.

Tanpa diberi kesempatan untuk tumbuh dan berkembang sebagai penyair oleh KJ di Majalah Anita Cemerlang, sangat mustahil saya bisa tumbuh seperti sekarang ini. Saat itu Majalah Anita Cemerlang juga diawaki oleh Adek Alwi dan Lazuardi Adi Sage. Alhamdulillah saya bersama dengan Lazuardi Adi Sage, Leila S Chudori, Dorothea Rosa Herliany, Arie MP Tamba, dan Mochtar Lubis, terbang mengikuti acara South East Asian Writers Conference di Queezon City – Filifina. Inilah penerbangan pertama saya mengikuti acara sastra berskala internasional, yang berlangsung pada tahun 1990 lalu.

Bila penyair Esti Ismawati berkata dalam puisi yang ditulis untuk KJ berbunyi: sesekali kenakalanmu mengusik/ dan aku hanya seorang penyaksi// itu tidak salah. Kenakalan KJ sebagai penyair Mbeling pada satu sisi bisa kita rasakan dalam sebuah puisi yang ditulisnya di bawah ini:

Dari Horta Sampai Harto
Horta, presiden Timur Leste
Harti, teman twiteran
Harno, penyair tapi tak pernah nulis syair
Harta, yang kita cari sepanjang hayat
Harto, pemecah rekor Muri
Presiden terlama di Indonesia

2010

Selain membikin kita tertawa dengan puisi di atas, KJ juga bisa membuat kita merenung, walau apa yang ditulisnya itu hanya dalam tiga  baris. Kita baca puisi tersebut di bawah ini:

Penyair

Penyair seperti tukang kayu
Banyak yang bisa memotong kayu
Tapi sedikit saja yang jadi empu

11 Oktober 2010

Apa yang ditulis KJ dalam puisi di atas, sesungguhnya merupakan kritik yang sangat tajam bagi kita yang merasa diri jadi penyair, Ini adalah kritik terhadap diri kita sendiri, yang secara esensial mengapungkan tanya: -- apakah puisi yang kita tulis selama ini benar puisi, atau hanya sekedar puisi. Atau lebih tegasnya lagi, kalau meminjam istilah penyair Sutardji Calzoum Bachri – hanya penyair sekedar. Lewat puisi pendek yang padat dengan isi ini, sesungguhnya KJ tengah mengapungkan sebuah isyarat, bahwa menulis puisi sukar adanya, dan karena itu, jadi penyair itu tidak gampang. Ia harus setia pada proses.

Dalam konteks inilah, maka tidak salah kalau Hans, mengatakan bahwa pertemuan dirinya dengan KJ pada tahun 1976 di Purwokerto, memangkap kesan sebagai penyair yang cerdas. Selengkapnya, Hans bilang, “Saya bertemu Jun (KJ) pada tahun 76 di Purwokerto. Ketemu Ahita Teguh Soesilo. Ketemu Dharmadi, ketemu beberapa lagi. Sejak awal, saya menangkap, dia penyair yang cerdas. Dari sajak-sajaknya, selain nakal juga bernas. Pernah bersama-sama Pak Piek Ardiyanto almarhum. Lalu kami banyak tahun-tahun bresama Jun setelah dia hijrah ke Jakarta. Kami berjuang menulis buku untuk proyek buku Inpres, dan lain-lain, hingga akhirnya Jun menduduki posisi Pemred di beberapa majalah!”

Berkait dengan itu, kembali merenungkan dunia kepenyairan yang direnungkan KJ, maka pada sisi yang lain, dalam sajaknya yang diberi judul Memilih Remah, penyair Syarifuddin Arifin antara lain menulis sebuah sajak yang larik-lariknya berbunyi seperti ini:

kur, aku masih percaya
semua hanya permainan hidup
yang tak pernah kenyang memamah kata-kata
tapi perutmu mulai membuncit
menjelang 60 tahun ini

Larik-larik sajak yang ditulis oleh Syarifuddin Arifin, yang ditujukan untuk KJ bisa ditafsir demikian, dengan pusat tafsir tertuju kepada larik yang berbunyi tak pernah kenyang memamah kata-kata, dalam pengertian lebih lanjut, KJ atau siapa pun ia, tak pernah puas dalam memilih kalimat bermakna bagi kelengkapan hidup maupun pemuasan spiritual – meski pada satu sisi, perut KJ atau siapa pun ia mulai membuncit, sebagai tanda dari lajunya umur mendekat kubur. Sajak ini menjadi luas maknanya, bukan hanya menggambarkan apa dan bagaimana keakraban persahabat KJ dengan Syarifuddin Arifin. Tetapi lebih lajuhnya adalah bicara soal apa dan bagaimana mengisi hidup menjadi lebih berharga, sekalipun semua itu harus diisi dengan remah-remah pengalaman, apa pun itu.

Pada bagian lain tentang KJ tampak bahwa ia lebih fasih bicara dengan menggunakan bahasa Jawa daripada dengan bahasa Cina yang diwariskan oleh para leluhurnya, jelas sungguh diungkap oleh penyair Uki Bayu Sedjati lewat puisi yang ditulisnya yang diberi judul Catatan, yang ditujukan untuk KJ. Petikan dari puisi tersebut berbunyi:

lelaki perempuan muda di taman kesenian
celana cutbray dan rambut sepundak
di buku dan ransel romantika berjejalan
yang tak terduga terjadi di mana saja,
juga menyapa warung tegal,”nasi separo, Bune,
oseng kangkung pake tahu-tempe..”
pemiliknya tetangga beda desa seperti saudara
dialek medok selingi obrolan dan tawa ngakak

Saya tertawa ngakak membaca sajak di atas. Apa sebab? Saya jadi ingat bagaimana KJ bengong dan bahkan terbata-bata membaca namanya sendiri ketika ditulis dalam huruf Cina oleh seorang penulis kaligrafi Cina teman baik Remy Sylado di rumah pemusik yang juga orang Cina tapi cinta budaya Sunda, Tan De Sheng namanya. Ini tidak bermaksud mempersoalkan Cina dan bukan Cina, akan tetapi lebih mengarah kepada bagaimana sikap KJ menerima budaya Jawa sebagai sikap hidup, dan secara perlahan-lahan ia hanya samar saja menerima budaya Cina yang diwariskan oleh para leluhurnya. Dan KJ tampak enjoy dengan semua itu. Terbukti, ia diterima banyak pihak dalam bergaul, baik sebagai penyair, maupun sebagai manusia biasa dengan segala kenakalannya.

Itulah KJ. Remy Sylado saat itu bilang, dalam menulis puisi, khususnya Puisi Mbeling, KJ memang punya ciri khas, dan sebagai penyair dalam pengertian yang luas juga punya ciri khas, pun demikian dalam pergaulan. Paling tidak, demikianlah kado kecil ini dituliskan, dan ini bukan kata Ini adalah semacam kata pembuka untuk memasuki dunia KJ lewat pandangan teman-teman KJ, yang menulis puisi untuk KJ dalam buku ini.

Selamat ulang tahun Mas KJ.***

Rumah Baca Ilalang
24 September 2014

(Dimuat dalam buku SANG PENEROKA, Antologi Puisi 106 Penyair Indonesia dan Ulasan Terhadap Karya-Karya Kurniawan Junaedhie, Kurator : DR. Esti Ismawati, Tebal: 487 + xvi. ISBN: 0856-430392-49)

SEKAPUR SIRIH KURATOR PENGANTAR ANTOLOGI 60 TAHUN KJ


Oleh : Esti Ismawati

Kami persembahkan antologi puisi ini untukmu mas Jun, Kurniawan Junaedhie, sebagai tanda persahabatan. Dan saya tahu bahwa tidak mudah meyakinkan orang akan nilai-nilai persahabatan yang tulus dan murni di tengah zaman yang sedang berubah. Saya tahu itu. Tetapi biarlah. Yang datang dari hati, akan sampai ke hati. Yang lahir dari cinta, akan menumbuhkan kehidupan. Yang berlandas kasih, akan mendatangkan kedamaian. Itu yang menjadi motivasi lahirnya buku ini.

Siapakah Kurniawan Junaedhie? Mungkin pembaca tidak percaya bahwa saya yang kelihatan begitu hangat bersahabat dengannya itu sejatinya hanya mengenal lewat dunia maya. Berawal dari rasa penasaran saya mengenal pribadi ini. Setiap membaca email masuk bertuliskan facebook pasti tertera nama, (dalam kurung selalu tertulis) : “berteman dengan Kurniawan Junaedhie”. Penasaran sekali dengan si empunya Picture Profile Chairil Anwar yang kala itu selalu hadir dengan sajak-sajak sunyinya.

Perkenalan pun dimulai, dan saling sapa di dunia maya hingga kurun hampir dua tahun. Bertemu secara langsung dan bercengkerama sebagaimana layaknya seorang sahabat sama sekali belum pernah, (rencana kopdar pertama di Kongres Bahasa Indonesia 2013 di Hotel Syahid Senayan bertiga dengan mas Dharmadi DP gagal, dua kali jumpa darat tidak lebih dari lima menit bicara) tetapi karena rasa simpati saya yang begitu dalam terhadap apa yang telah disumbangkannya bagi kehidupan sastra Indonesia mutakhir, maka saya memberanikan diri untuk mengajak kawan-kawan membuat sesuatu untuknya di hari ulang tahunnya yang ke-60.

Ada memang suara yang mengatakan bahwa biasanya buku persembahan itu diberikan pada usia 70 tahun, tetapi pikiran saya mengatakan kenapa untuk berbuat sesuatu yang baik mesti ditunda sepuluh tahun lagi sementara saya sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi pada sepuluh tahun ke depan. (Ah! Semoga baik-baik saja, dan seratus persen itu adalah hak prerogratif Tuhan).

Dalam dunia kepenyairan di Indonesia, nama Kurniawan Junaedhie bisa dijumpai di berbagai sumber dari yang maya sampai yang nyata, dari yang tercetak sampai yang terekam. Siapa dan mengapa Kurniawan
Junaedhie di buku ini dapat anda baca di catatan 35 tahun berkarya yang ditulis sendiri oleh KJ di halaman belakang buku ini dan di Biodata KJ.

Setelah “ditemukan mas Handrawan Nadesul dan Pak Piek HS”, Kurniawan Junaedhie melesat bak anak panah, terus menembus angkasa berkarya di blantika sastra Indonesia. Penyair Umbu Landu menyebutnya sebagai sastrawan muda lapisan atas. Termotivasi oleh pujian Umbu, Sang P VI eneroka: Antologi Puisi 111 Penyair Indonesia KJ pun mengibarkan sayapnya bersama Yanie Wuryandarie membidani lahirnya majalah remaja Anita yang sangat populer kala itu (baca tulisan Adek Alwi di bagian belakang buku ini). 

Sebagaimana yang dikatakan oleh Penyair Soni Farid Maulana dan Adri Darmadji Woko, Kurniawan Junaedhie banyak merintis jalan kehidupan dalam berbagai hal terutama dalam rangka “menjadikan seseorang untuk layak disebut Penyair” melalui berbagai event penerbitan buku-buku sastra yang dimotorinya. Oleh karena itu sebutan “Sang Peneroka” memang layak diberikan kepadanya. Banyak yang sudah mengirimkan puisi untuk antologi ini tetapi banyak pula yang (maaf) kami tolak karena beberapa hal, pertama, puisipuisi yang ditolak itu sama sekali jauh dari tema utama antologi ini, yakni 60 tahun KJ. 

Kedua, puisi-puisi tersebut memang tergolong puisi yang masih mentah, baik dari segi bentuk lahiriah formal maupun isi batiniah. Tidak ada unsur puisi yang ditemukan dalam puisi-puisi tadi, misalnya miskinnya gaya bahasa (figurative language), lugasnya pemilihan kata (diksi), atau bentuk-bentuk penyakit puisi yang masih menempel, misalnya keumuman, simplisitas, atau generalisasi. Sudah tentu, tak berarti bahwa puisi-puisi yang terpilih masuk di antologi puisi 60 tahun KJ ini merupakan puisi-puisi yang sudah matang semuanya. Banyak juga di antaranya yang masih tersandung masalah diksi, irama, metafora, klise, simplifikasi, keumuman,
jargon, sentimentilisme sempit, dan musuh-musuh puisi lainnya. Tidak semua penyair yang menyumbangkan puisinya di antologi ini juga mengenal Kurniawan Junaedhie secara langsung, banyak pula yang belum kenal sama sekali, tetapi mereka yang hadir di antologi ini yang pasti telah memberikan apresiasi yang mendalam terhadap apa yang telah dilakukan oleh KJ melalui buku-buku sastra Indonesia yang diterbitkan oleh K3 Jakarta dan lainnya. Seorang mahasiswa dari pelosok tanah air bernama Syarif Hidayatullah dengan sangat mengharukan menyapa KJ dengan Abah, dan bahkan menulis seperti ini :

DARI TEPIAN SUNGAI BARITO
-KJ

Kita tak pernah bertemu mulut
Ketika bercengkeramanya embun dan rembulan
Dan jikalau waktu bertanya ?
Mata ini hanya mengenal dari pusi yang kaurangkai
Atau sajak yang kaumainkan dalam tinta yang menghitam
Dalam waktu yang dipakai menit
Huruf-huruf kita berterbangan, saling berbisik rindu
Dan kadang aksaraku dihempas sang mentari
Ditelanjangi gerimis, kedinginan dalam penaku yang tumpah
Kita hanya bercengkrama dalam antologi yang sama
Dengan tebasan rasa yang berbeda
Sang Peneroka: Antologi Puisi 111 Penyair Indonesia VII
Maka izinkanlah,
Aku mengenalmu dalam goresan yang mungkin tak diperhatikan para gemintang
Semoga umurmu semakin berkah, Bah !
Doa dari tepian sungai Barito

Marabahan, 10 September 2014

Ungkapan yang sangat tulus saya rasakan dari tepian sungai Barito ini. ‘Aku mengenalmu dalam goresan yang mungkin tak diperhatikan para gemintang’... oh, sungguh anak muda yang rendah hati dan tinggi budi, yang datang jauh-jauh untuk mendoakan KJ dengan bahasa yang sangat santun. ‘Semoga umurmu semakin berkah, Bah ! Doa dari tepian sungai Barito’.

Banyaknya pihak yang tertarik untuk ikut dalam antologi ini menandakan bahwa KJ bisa diterima di segala lapisan masyarakat. Ada yang bisa diteladani dalam pribadi yang satu ini, yakni semangat hidupnya yang meluap-luap dalam upaya menggapai sesuatu yang diinginkan. Terlebih dalam hal kepenyairannya. Ia pernah mengatakan bahwa pekerjaan apa pun, wartawan dan pekebun, sesungguhnya telah ia lakukan demi menghidupi kesukaannya pada sastra. Sangat total. Dan itu ia buktikan secara nyata melalui konsistennya
menerbitkan buku-buku sastra dan karya antologi puisi khususnya.

Sejak DNP pertama yang terbit pada tahun 1993 hingga sekarang tahun 2014 ini, telah terentang waktu dua puluh satu tahun. Selama kurun waktu itu, setidaknya ada dua dekade angkatan penyair, atau bisa juga dikatakan tiga generasi yang karya-karya puisinya KJ (dan kawan-kawannya) rekam dalam sebuah kitab bersambung yang sebentar lagi sudah memasuki periode keenam (DNP6). (Tetaplah istiqomah di jalan ini mas Jun). Terkadang nasib membawanya pasang surut tetapi (pastilah) KJ mampu mengatasi semua ini
dengan smood, sebagaimana coretan yang tergambar dalam puisi berikut ini :

“Hiduplah yang gagah bagai singa
yang garang mukanya
bengis cakarnya
dan sanggup hidup di segala cuaca
Hiduplah yang gagah bagai singa
yang siap menghadapi tipu daya kehidupan
yang berlaku tanpa juntrungan”
Kurniawan Junaedhie

24 November 2008/ Agustus 2009

Sangat terharu saya mendengar pengakuannya bahwa : “sakjane aku isin, saben dina melayani jualan buku sing ora sepiroa, ning aku pengen” (sebetulnya aku malu melayani penjualan buku yang tidak seberapa), bukan uang benar kiranya, tetapi aku pengen menanamkan pengertian bahwa buku itu Sang Peneroka: Antologi Puisi 111 Penyair Indonesia penting, dan jangan hanya senang jika diberi hadiah buku. Sedangkan mengenai Kosakatakita itu juga ada tujuan, agar orang senang membaca. Menulis gampang, tetapi membaca susah. Memperhatikan semangat teman-teman dalam mengirim puisi serta membaca satu demi satu puisi yang masuk, saya merasa sangat bangga bersahabat dengan mas Jun Kurniawan Junaedhie, karena KJ ternyata mampu menjadi kawan berpuluh suku / etnis di seluruh pelosok Nusantara. Ada haru yang melintas di sini dan ini jugalah yang membuat kelelahanku berbulan-bulan dan bermalam-malam memunguti kiriman puisi dari temanteman menjadi hilang seketika. Yang tertinggal hanyalah sebuah kebahagiaan karena ternyata kita mampu melahirkan karya baru yang berlabel ‘kado 60 Tahun Kurniawan Junaedhie’. Terima kasih teman-teman.

Pro dan kontra adalah suatu keniscayaan, tetapi ijinkanlah saya dan teman-teman di sini mangayu-bagyo 60 tahun KJ. Saya berharap apa yang saya dan teman-teman lakukan ini menjadi tradisi yang baik di kalangan penyair untuk secara ikhlas mengakui keberadaan dan sumbangsih yang telah diberikan sesama kawan (penyair) kita, betapa pun kecilnya. Karena dengan demikian sesungguhnya kita sedang menata satu demi satu bebatuan untuk kita rekatkan menjadi sebuah monumen persahabatan, yang semen perekatnya adalah saudara-saudara kita sebangsa dan se-tanah air.

Kami beri nama buku ini “Sang Peneroka”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Pusat Bahasa Edisi IV (2008: 1454), peneroka berarti pembuka daerah atau tanah baru; pembuka jalan; perintis. KJ telah
membuktikan dirinya sebagai sang penjelajah, karena dalam diri Kurniawan Junaedhie memang secara empirik telah menjelajahi berbagai profesi dan layak dijuluki sang penjelajah terhadap segala kemungkinan yang bisa dilakukan oleh seorang anak manusia dalam menggapai kehidupannya. Dari wartawan, seniman, pekebun, penulis biografi, dan aneka tulisan lain yang bermanfaat bagi kehidupan.

Sebagaimana galibnya dalam pesta ulang tahun, di buku ini pun hadir sahabat dan kawan-kawan dekat KJ seperti Yanie Wuryandari, Handrawan Nadesul, Adri Darmadji Woko, Adek Alwi, Dharmadi DP, Soni Farid Maulana, Yvonne de Fretes, Naning Pranoto, Bundo Free, Herman Syahara, dan seterusnya serta anak-anak muda yang bergiat di bidang penulisan puisi. Terima kasih atas sumbang sih kawan-kawan dalam mewujudkan buku ini. 

Akhirnya, saya ucapkan : Dirgahayu mas Jun Kurniawan Junaedhie, bahagialah bersama Ibu Maria, Azalika Avilla Adinda, dan Betsyiela Bebi Bianca.

Klaten, 01-10-2014
Esti Ismawati

(Dimuat dalam buku SANG PENEROKA, Antologi Puisi 106 Penyair Indonesia dan Ulasan Terhadap Karya-Karya Kurniawan Junaedhie, Kurator : DR. Esti Ismawati, Tebal: 487 + xvi. ISBN: 0856-430392-49)

02 Januari 2014

OPERA SABUN COLEK : CERPEN YANG MENGHIBUR DAN MENCERDASKAN

27 Desember 2013 pukul 23:38

Oleh : Esti Ismawati

Opera Sabun Colek merupakan buku kumpulan 12 cerpen karya Kurniawan Junaedhie (Kosa Kata Kita, Jakarta, 2011) yang bercerita tentang kehidupan di kota besar, yang ditulis dengan gaya lugas dan cerdas. Cerpen-cerpen ini layak diapresiasi di tengah sumpeknya kehidupan dunia karena dililit persoalan-persoalan ekonomi, sosial, budaya, dan hankam yang tiada habisnya. Sebagai salah satu bentuk cipta sastra, cerpen-cerpen Kurniawan Junaedhie yang terkumpul dalam Opera Sabun Colek ini tentu mendukung fungsi sastra pada umumnya, yakni dulce et utile, indah dan bermakna. Indah karena bahasa yang digunakan dalam cerpen-cerpen ini segar, enteng, lucu, dengan ungkapan-ungkapan spontanitas yang gaul; bermakna karena isi atau nilai-nilai yang terkandung di dalamnya menyangkut esensi kehidupan bersama dalam sebuah keluarga, meski dengan cara penyampaian yang santai (justru dengan cara seperti inilah nilai-nilai itu tanpa disadari telah masuk ke dalam alam bawah sadar pembaca dengan sendirinya tanpa merasa digurui). Hidup yang memang realitanya berat, disikapi dengan santai dan enteng dalam cerpen ini.

Banyak hal yang dapat ditelaah dari cerpen-cerpen Kurniawan Junaedhie ini, misalnya settingnya, penokohannya, alurnya, gaya penceritaannya, temanya, bagian-bagian ceritanya, kesan umumnya, dan seterusnya, tetapi yang sangat menarik dari semua itu adalah tokohnya. Tiga kali membaca cerpen-cerpen ini saya mendapatkan kesegaran jiwa yang betul-betul mengesankan karena keunikan dan kekocakan tokoh-tokohnya, teristimewa tokoh aku. Setiap mengingat tokoh-tokoh yang ada di dalam cerpen ini saya tersenyum sendiri, betapa piawai pengarang cerpen ini mengimajinasikan tokoh ciptaannya yang begitu lucu, unik, penuh kejutan, dan tak terduga. Kadang romantis, kritis, rindu kebebasan, penuh perjuangan, tetapi tak kurang tokoh-tokoh itu kadang-kadang nyeleneh, luweh-luweh, cuek bybeh, santai dalam menanggapi persoalan hidup, dan masih ada lagi tokoh unik lainnya, misalnya tokoh yang bisa berkomunikasi dengan alam gaib...seperti tak pernah kering imajinasi dan kreativitasnya.


Menurut Herman J Waluyo (2011) jo Tarigan (1984) ciri utama cerpen adalah singkat, padu, dan ringkas (brevity, unity, intensity); memiliki unsur berupa adegan, tokoh, dan gerakan (scene, character, and action); bahasanya tajam, sugestif, dan menarik perhatian (incisive, suggestive, and alert); mengandung impresi pengarang tentang konsepsi kehidupan; memberikan efek tunggal dalam pikiran pembaca; mengandung detil dan insiden yang betul-betul terpilih; ada pelaku utama yang benar-benar menonjol dalam cerita; dan menyajikan kebulatan efek dan kesatuan emosi. Apa yang diteorikan di atas sudah ter-realisasikan  dalam cerpen-cerpen Opera Sabun Colek ini. Marilah saya ajak pembaca untuk menguliti beberapa cerpen di dalamnya. (Tentu lebih puas jika pembaca menikmati langsung cerpennya, karena bisa tersenyum-senyum membayangkan perilaku tokoh aku dalam beberapa cerpen di sini).

Ketika saya membaca cerpen “Suatu Hari Ingin Meninggalkan Susan”, yang terekam dalam ingatan saya adalah sepasang suami isteri yang masing-masing mempunyai character berlainan namun saling mencintai. Sang suami, tokoh ‘aku’ merasa sudah banyak beban kerjanya tetapi selalu saja direcoki oleh urusan isteri yang remeh temeh, dicemburui, dicueki, sampai akhirnya ingin meninggalkan isterinya untuk selama-lamanya. Di luar dugaan, sang isteri sangat santai menanggapinya, bahkan dengan enteng mempersilahkan si aku untuk menuruti keinginannya. Dan setelah direnung-renungkan, si aku ternyata tak mampu meninggalkan isterinya, bahkan ingin mengajaknya ke ujung dunia..

“Menyadari resiko berpisah dengan isterinya, si aku mengatakan, “Tunggu. Lupakan ucapan-ucapanku yang tadi. Yang benar, aku mencintaimu. Sangat. Dan karena takut isterinya terlanjur ngambek, si aku segera menelponnya. Sambil menunggu telepon diangkat, si aku merasa menyesal sungguh-sungguh. Kenapa aku harus meninggalkannya?. Kenapa aku pergi tanpa mengajaknya?. Kenapa aku pergi tak memberi tahu sebelumnya? Kenapa aku harus berpisah dengannya?. Gila. Mestinya semalam aku bilang, besok kita jalan yuk. Ke Kroya. Ke korea. Ke Kairo. Ah itu pasti sebuah kejutan baginya....”

Cerpen lain, berjudul “Hidup ini Indah”, juga menampilkan tokoh yang unik. Si aku ingin membunuh isterinya dengan senapan, namun senapan itu justru yang membuat mereka berdua berpelukan erat karena ketika menyalak tetangganya gempar dan si isteri rupa-rupanya tidak mau berurusan dengan parapihak, maka seolah tak terjadi sesuatu, mereka berpelukan erat. Cerpen “Opera Jakarta” juga menmapilkan tokoh yang unik, bahkan absurd. Seorang pejabat yang sudah mati terbunuh tetapi masih bisa berkata-kata dan membayangkan apa yang sedang dialaminya. Di cerpen ini liku-liku kerja wartawan dipaparkan. Bagaimana seharusnya mewawancara yang baik. Bagaimana menghadapi masalah-masalah yang tiba-tiba, dan seterusnya. Dalam cerpen “Perempuan Beraroma Melati” mengisahkan betapa susah dan sulitnya mendapatkan hak sehat, hak pelayanan kesehatan yang layak, hak dimanusiakan sebagai manusia. Di cerpen ini kita juga disuguhi bagaimana beratnya beban psikhologis jika menghadapi kematian orang-orang yang kita cintai. Dalam cerpen “Kita Tidak Berjodoh, Sayang” pembaca disuguhi kisah menarik. Intinya, hidup tak perlu didramatisir.

Semua cerpen menyuguhkan cerita yang menarik, yang mengandung pesan kuat bahwa hidup ini tidak perlu disikapi dengan ekstrim-ekstriman. Antara suami isteri tidak perlu saling mencampuri urusan masing-masing, karena persoalan yang kecil sekalipun dapat menjadi penyebab pertengkaran. Lebih elok jika saling mendukung, tanpa mendominasi satu sama lain. Tidak perlu over protektif karena sesungguhnya alam sudah menyediakan segala kemungkinan yang saling terkait dengan sebab dan akibat. Hidup itu sendiri sudah suntuk dan kita perlu mengubahnya menjadi indah tur wangi dengan kreativitas kita. Inilah antara lain nilai-nilai yang dapat dipetik dari cerpen-cerpen Kurniawan Junaedhie yang berjudulOpera Sabun Colek. Disampaikan dengan gaya kocak, bahasa yang segar, dengan ungkapan-ungkapan gaul khas anak muada yang membikin kita awet muda.

Saya teringat kisah kawan saya yang kuliah di Jerman. Katanya, ibu-ibu di Jerman, jika belanja di pasar pasti membeli buku yang akan disantap setelah makan siang atau makan malam. Setiap belanja makanan, tidak lupa menyelipkan satu buku yang akan dibaca setetah makan. Buku-buku seperti Opera Sabun Colek inilah kiranya yang layak dibeli untuk dibaca oleh para ibu untuk keluarga mereka seteleh makan, karena buku seperti ini enak dibaca dan langsung menumbuhkan imajinasi baru yang berguna bagi penyegaran rohani kita setelah suntuk dalam dunia kerja. Opera Sabun Colek sungguh-sungguh menghibur dan mencerdaskan.


Klaten, 27 Desember 2013

Esti Ismawati.