Diposting di Facebook, 29 Desember 2014 pukul 23:52
Oleh : Esti Ismawati
Hampir empat puluh tahun Kurniawan Junaedhie menulis puisi (1974 – 2014), dan selama hampir empat tahun (2010 – 2014) saya membaca dan mengamati sajak-sajak Kurniawan Junaedhie (KJ). Dari segi tema yang dihadirkan, hampir semua puisi-puisinya berkisah tentang kehidupan dan peristiwa yang melingkupinya, dari hal-hal yang bersifat keseharian hingga hal-hal yang bersifat istimewa, yakni yang datang secara mendadak, tiba-tiba, seperti bencana. Bentuk fisik sajak-sajak KJ tidak dapat digeneralisasikan sebagai bentuk apa, karena sajak-sajak yang ditulisnya itu seperti muncul begitu saja sehingga bentuknya ya semau-maunya KJ. Dan dari amatan saya itu bisa saya simpulkan bahwa hampir semua model sajak-sajak Kurniawan Junaedhie tampil dengan nada humor, canda, betapa pun sedihnya atau ngungunnya konten yang ingin disampaikan. Dari segi bentuk pengucapan juga dapat disimpulkan bahwa sajak-sajak Kurniawan Junaedhie penuh dengan imaji dan metafor yang bersahaja, mengalir begitu saja, tanpa dipaksa-paksa, dengan tema utama kehidupan di seputar keluarga, dan yang sangat menonjol adalah topik dari sudut perempuan. Setidaknya simpulan itu melekat pada sajak-sajak yang ditulis dari tahun 1974 hingga akhir 2014. Saya akan sisihkan ulasan sajak-sajak KJ di akhir 2014 yang berbeda dengan pengucapan sajak-sajak sebelumnya.
Sebagai penyair KJ banyak dipengaruhi oleh Goenawan Mohammad, Abdul Hadi WM, Sapardi Djoko Damono, Soebagio Sastrowardoyo, dan Sitor Situmorang, sehingga warna-warna sajaknya pun sangat beraneka ragam. Baginya menulis puisi adalah soal yang sangat mudah, sipil, apalagi setelah puisi mbelingnya (yang ditulis hanya dalam bentuk permainan kata-kata belaka) ternyata diterima dan dimuat di suatu mass media. Dari sinilah (dugaan saya, mungkin) lalu muncul persepsinya bahwa “yang kayak apa pun” bisa disebut puisi. Hal inilah yang menjadikan ‘kehebohan’, yang muncul dalam diskusi antara dia dengan para guru di Bandung beberapa hari yang lalu. Di satu sisi, para guru harus memberikan kepastian kepada muridnya bahwa bentuk puisi itu seperti ini (baku dalam hal pembarisan dan pembaitan dari segi fisiknya, bukan kotak, rapat kanan rapat kiri seperti tulisan biasa), dan di sisi lain si penyair (KJ) memunculkan puisi-puisinya itu semau-maunya : banyak yang berbentuk kotak, rapat kanan kiri seperti prosa. Tetapi satu hal yang bisa saya tangkap adalah betapa pun kotaknya puisi KJ, di dalamnya terdapat diksi yang sangat puitis dan metafor-metafor yang segar namun sesungguhnya menikam tajam.
Sajak-sajak yang termuat dalam kumpulan puisi KJ “Sepasang Bibir di Dalam Cangkir” (SBdDC), misalnya, penuh dengan candaan yang bikin kita ketawa terpingkal-pingkal, tetapi sesungguhnya itu sebuah satire bagi perempuan. Perhatikan petikan-petikan di bawah ini :
“Ada bibir perempuan terjatuh di genting yang bocor. Pluk. Bibir itu terjerembab di kasur rumahku. Kelopak bibir itu basah merekah. Merah seperti delima. Kelopak itu menengadah, seperti pasrah. Pasrah kepada siapa? Sedang aku tak tahu ini bibir siapa?..... Aku termangu dan bertanya-tanya, siapa kiranya si pemilik bibir. Jangan-jangan ia seorang perempuan yang sedang duduk di kedai kopi, yang geram kepada suaminya sehingga bibirnya terlempar ke udara lalu masuk ke rumahku. Atau ia seorang perempuan yang sedang kesepian lalu mengerang sehingga bibirnya meloncat ke langit, dan masuk ke dalam jendela kamar tidurku. Jangan-jangan ia malah sengaja mencopot bibirnya, lalu melemparkannya ke arahku untuk mengusik tidurku. Apa salahku? Sedang aku tak tahu ini bibir siapa? ” (SBdDC, 2011: 11).
Pastilah kita tertawa membaca kutipan puisi di atas hehehe... masak bibir bisa loncat-loncat begitu. Tapi di balik candaan itu kita pun menangkap pesan bahwa jangan sembarangan dengan bibir perempuan, artinya perempuan mesti mampu menaklukkan bibirnya, apalagi perempuan yang suka duduk di kedai kopi, perempuan yang suka geram kepada suami, perempuan yang suka kesepian, perempuan yang suka mencopot bibirnya.... Jika kita rasakan secara mendalam, puisi ini merupakan kritik yang sangat keras terhadap perempuan, apalagi ketika sampai pada kalimat, ‘Apa salahku?’. Seolah perempuan-perempuan ini sembarangan saja dengan bibirnya. Marilah kita nikmati petikan puisi berikutnya :
“Ketika kereta api melintas di atas jembatan panjang dan kemudian masuk ke dalam terowongan yang pengap, handphoneku berkejap-kerjab. Sebuah pesan singkat masuk. ‘Tenang, Sweety, aku di dalam kopormu’. Astaga. Orang rumah sudah menyiapkan odol, sikat gigi, sabun, botol vitamin, buku bacaan, dan sejumlah pakaian di dalam koporku. Sekarang saja baru teringat, aku menyelipkan kamu di dalam kopor itu, antara odol dan buku bacaan persis ketika aku tiba di stasiun” (SBdDC, 2011: 7).
Seakan sepele saja si aku ini menganggap keberadaan objek (dalam hal ini perempuan), karena cukup ditaruh di dalam kopor, diselipkan antara odol dan buku bacaan. Sepele, hehehe jadi jangan pernah ada seseorang (maaf perempuan selain ibu, adik, isteri, dan puteri-puterinya) yang merasa memiliki lebih, karena sesungguhnya ia seorang yang penakut dalam hal penyimpangan-penyimpangan, dan (mungkin) ini merupakan hasil dari pendidikan ibunya, yang sangat mewarnai hidupnya, yang tampak dalam beberapa karyanya baik puisi maupun prosa (cerpen) yang berkisah tentang ibunya, sementara hanya sebuah puisi saja yang ditulis untuk ayahnya sebagaimana saya kutip berikut ini :
“Bagiku ayah adalah sebatang pohon yang rindang. Daunnya rimbun. Kalau aku melihat ke atas, yang kulihat susunan dan daun bertrap-trap. Begitu banyak daun tersusun. Di kelopak daun itu aku lihat kutu, semut, juga kadang buliran embun. Beberapa daun terkulai, lalu jatuh rebah. Karena gemas, pada suatu hari aku masuk ke dalam tanah, berkomplot dengan remah-remah. Aku lihat ayah dari bawah. Ayah adalah sebatang pohon tua yang rindang. Akarnya kuat, mencengkeram ke bumi erat-erat. Aku merasa terlindung dalam himpitan daun dan cengkeraman cacing tanah”. 2009. (PdCK, 2010 : 25).
Seorang yang Dekat dengan Ibunya.
Jika menyimak karya-karya KJ, baik puisi maupun prosanya, nyatalah dapat disimpulkan bahwa ia sangat dekat dengan ibunya. Berulang kali ia katakan dalam puisinya itu, ia ingin kembali ke dalam rahim ibunya agar ia bisa mendengar detak jantung ibunya, sebagaimana tampak dalam petikan puisi bertajuk “Kembali pada Ibu” di bawah ini :
“Aku masuk lagi ke dalam rahim ibu. berkutetan di uterus. Mencair dan menjadi air berupa paduan spermatozoa dan sel telur. Agak aneh. Gelap malam jadi benderang. Ada samudera terbentang. Pemandangan begitu luas. Burung-burung camar terbang di langit yang luas, sedang aku tampak tergantung di empuknya awan. Sedalam-dalam aku hirup nafasku, penuh dadaku dengan zat-zat terbaik “ Ammonia, Ascoric Acid, Ash, Calcium, Dioxide... Ya Tuhan!” . 15 Des. 2009 (PdCK, 2010 : 32).
Ada lagi puisi KJ yang berkisah tentang kedekatannya pada ibu, sebagaimana tertulis dalam puisi bertajuk “Rindu Menelpon Ibu” di bawah ini :
..............
Aku menulis nama ibu di tembok rumah.
Aku menulis nama ibu di pasir, di tepi laut.
Nama ibu kocar-kacir digulung laut, masuk ke dalam perut laut.
Aku cemas, putus asa, dan termangu.
Aku putus asa, termangu dan cemas.
Bagaimana caraku menyatakan cintaku pada ibu?
Aku mencoba menulis surat.
Aku mau kirim telegram, email, atau chatting.
Aku jongkok di pasir. Memandang laut. Memandang cakrawala yang jauh.
Tiba-tiba ada suara aneh di dalam kantung hatiku. Teleponlah aku, suaranya gemetar
sampai dinding hatiku bergetar. Halo. Halo. Tak terdengar jawaban. Rasanya dia ibu...
(SBdDC, 2011 : 25)
Cermatilah puisi juga di bawah ini :
“Aku ingin pergi jauh, kataku pada ibu. Aku menoleh jauh ke luar jendela. Langit basah berembun. Daun dan ranting lunglai dibingkai kusen. Ibu –di dalam kubur- memelukku, mengelus rambutku, dan berkata, “Rumahmu di dalam perutku. Kemana kamu akan pergi?”. Aku peluk perut ibu. Aku mendengar detak jantung di dalam perut ibu. Aku mendengar suara di perut ibu. “Anakku...” Suara itu bertalu-talu. Aku merasa ngilu. Ibu terus memelukku, dan mengelus rambutku. Aku menoleh jauh ke luar jendela. Embun berkerumun jadi kabut. Hatiku ngelangut. Ingat kata-kata Ibu. Ingat perut Ibu. Ibu terus hidup dalam pikiran dan perasaanku”. (SBdDC, 2011: 12).
Betapa dekatnya si aku dalam puisi di atas dengan Ibu. Kedekatan yang abadi karena akhir dari puisi itu tertulis : Ibu akan terus hidup dalam pikiran dan perasaanku. Oh. Kedekatan yang abadi ini akan selalu muncul dalam lintasan lini masa ketika si aku menulis, dan itu dapat dibaca dalam berbagai bentuk seperti di kumpulan puisinya yang lain (“Kembali pada Ibu” dalam “Perempuan dalam Secangkir Kopi”, atau di kumpulan cerpennya “Opera Sabun Colek”).
Tema Lain
Tema lain pun banyak ditulis KJ. Misalnya tentang kecelakaan pesawat terbang di negeri ini, tentang bencana Merapi, tentang pemandangan di rumah bersalin tahun 1965, tentang peristiwa Mei yang kelabu, tentang keinginan, tentang Yogyakarta, tentang hidup, tentang apa pun yang dilihatnya. Dan tentang pesawat terbang, KJ menulis demikian :
“Sudah lama kami tidak berani naik pesawat terbang. Burung bermesin itu suka ngadat di udara. Kadang baling-balingnya oleng. Kadang-kadang rodanya rusak. Kadang-kadang saja dia berlagak terbang tinggi, tapi kemudian berpusing-pusing karena mesinnya mati. Sudah lama kami tidak berani naik pesawat terbang. Karena begitu mudah dia terbang, begitu mudah pula dia menukik ke bumi. Sudah lama kami tidak berani lagi kepingin melihat pramugari. Kepada anak-anak dan handaitaulan kami bilang sebaiknya tidak jadi pilot. Karena pesawat terbang negeri sendiri suka menjatuhkan diri. Tak ada yang menjamin tak ada baut yang copot. Tentu saja para pejabat membantahnya. Tapi kami tidak perduli”. 2009 (PdCK, 2010 : 28).
Mengerikan. Tidak dapat membayangkan seandainya kita berada di dalam pesawat di atas: suka ngadat, baling-balingnya oleng, rodanya rusak, mesinnya mati, bautnya copot, dan bahkan tiba-tiba ia menukik ke bumi, menjatuhkan diri. Seandainya pejabat terkait mau mendengar suara ini dan tidak sibuk membantahnya, mungkin peristiwa demi peristiwa yang mengerikan (yang terkait dengan burung besi ini) bisa dihindari.
Tentang bencana Merapi, KJ menulis berikut ini :
“Di stasiun Tugu, abu vulkanik Merapi terhirup ke dalam hidungku. Partikel halus batuan vulkanik yang keluar dari erupsi gunung itu, juga masuk bersama air liur melalui mulut, leher dan kerongkonganku. Di Jalan Kaliurang, ledakannya melemparkan batu-batu apung dan abu vulkanik. Setengah kerucut jantung dan paruku hampir hilang, menciptakan cekungan yang dalam dan tajam. Di Parangtritis, gelombang laut naik, menghancurkan lambung, limpa, ginjal, kulit, kelenjar getah bening, tulang dan hatiku” (SBdDC, 2011: 1).
Tentang manusia, KJ pun menulis sajaknya dengan sangat tajam, seperti berikut ini :
“Hiu makan tongkol
Tongkol makan teri
Teri dimakan manusia
Manusia makan manusia”
2010 (KRRA, 2011 : 276).
Hanya satu baris, ‘manusia makan manusia’ namun tajamnya sampai di ulu hati. Betapa tidak. Tak ada cinta kasih lagi di sini. Tak ada toleransi lagi di sini. Tak ada peradaban lagi di sini. Hanya ada hukum rimba, manusia makan manusia. Oh, sangat mengerikan. Kondisi ini lebih memprihatinkan lagi manakala kita membaca puisinya yang berjudul “OKB di Jakarta” : “Ayah korupsi, Ibu selingkuh, Anak-anak nonton film bokep” (KRRA, 2011 : 276). Wah, habislah masa depan bangsa ini. Dimana moralitas agung yang pernah ditanamkan para pendahulu kita (para founding fathers kita) ?. Memang benar katanya : “Menjadi penyair itu mudah, Menjadi manusia yang susah” (KRRA, 2011 : 278).
Saat-saat Melo
Ada suatu saat dimana KJ merasa sangat sedih. Dan di dalam kesedihan ini pun ia tetap bercanda dalam puisinya. Saya kutipkan puisi yang saya maksud itu selengkapnya seperti ini di bawah ini :
PADA SUATU HARI HIDUPKU
“Hidup dimulai dari rumah. Lalu dituntun sepatu aku menyusuri jalan ke masa lalu. Di situ aku ulang-alik tak menentu. Kadang aku melihat nestapaku yang gemetar di jalan penuh belukar. Kadang kulihat bayanganku menggigil di ujung waktu. Aku tak kepingin diriku menjadi bangkai sendirian di bawah pohon rindang. Aku pun terus berjalan. Lalu cepat-cepat kubawa tubuhku yang piuh pulang ke rumah. Dari dalam rumah, kubuka mataku, dan terbentang puisi-puisiku yang memancar bersama itik, dan ikan-ikan persis di pelupuk matamu. Aku tiba-tiba ingin masuk ke dalam botol. Hari yang perih, dan kegelisahan yang mendidih, ingin benar kuselipkan ke dalamnya. Aku nikmati suara kegaduhan di dalam botol. Malam pun tiba. Aku gelisah. Bersama arloji, aku resah dan gundah. Kami mendorong jarum jam agar aku bisa melompat ke hatimu. Alangkah tololnya keinginan bisa tidur bersamamu di setiap malam ketika sunyi tiba. Aku seperti anak sapi, didekap induknya. Meringkuk sendiri. Hidup macam apalagi yang harus kujalani? Tanyaku sambil menatap masa laluku yang tak pernah kembali”. 2013. (DNP5 Negeri Langit, 2014 : 317).
Puisi-puisi Akhir Desember 2014.
Saya tidak tahu persis apa yang telah terjadi dalam diri KJ di akhir Desember 2014. Apa gerangan yang menyentuh hatinya. Yang saya tahu, puisi-puisinya mbrojol mengalir begitu deras. Dan jika saya amati, pilihan diksi dalam puisi-puisi ini sudah berbeda jauh dengan puisi-puisi yang ditulis sebelumnya. Tema cinta masih sama, namun cara pengungkapannya itu begitu santun, halus, menyentuh sesiapa saja yang membacanya. Tidak ada lagi canda dalam puisi-puisi ini. Tidak ada lagi kata-kata seronok dalam puisi-puisi ini. Tidak ada lagi nafsu birahi yang mendengus-dengus dalam puisi-puisi ini. Yang ada adalah kelembutan cinta kepada sesosok manusia dan kedekatannya kepada alam, sebagaimana tampak dalam puisi-puisi yang saya kutip berikut ini :
KAMAR SUNYI
Di teras rumahmu, ada satu bangku kayu. Di situ aku bisa memandang senja; dan senja bisa memandangku. Di belakang bangku kayu itu, ada sebuah kamar. Ruangannya luas, penuh buku, dengan sinar lampu yang samar. Di situ aku bisa memandang langit; dan langit juga bisa memandangku. Di dalam kamar itu, ada sekeping hati, tempat aku bisa melabuhkan sunyi. Dan di dalam sunyi itu; aku bisa becermin melihat diriku sendiri. Sunyi.
Desember 2014
Ah, betapa indah ungkapan batinnya, yang jauh dari hiruk pikuk kehidupan dunia yang selama ini telah dilaluinya. Alangkah lembut ungkapan-ungkapannya. Syahdu, erat bersahabat dengan sunyi yang indah, sunyi yang menciptakan gairah cinta-Nya, sunyi yang mendekatkannya dengan alam, sebagaimana tampak dalam puisi berikut ini :
AKHIR TAHUN 2014
Aku masuk ke dalam hari baru yang merdu hari itu. Sudah lama aku tidak melihat pemandangan yang berkabut, sejuk, penuh embun dan matahari yang memancarkan hangatnya kebahagiaan. Sesekali kucium bau rumput basah sambil kudengar tawamu yang renyah sementara langit biru setia merekah. Hidup dalam sebuah hari baru, alangkah dahsyatnya.
Kami pun duduk di sebuah taman, depan kolam di mana ikan dan kata berenangan di tengahnya. Kami diam 1000 basa. Air berpusing, dan kata-kata menggenang tenang. Dan kabut menyamarkan bayanganmu. Hidup dalam sebuah hari baru, alangkah nyaringnya.
Kami lalu melempar batu ke tengah kolam, dan kulihat percik air memekik tertahan. Dan di dalam bening air itu, --yang dipenuhi kabut itu,-- aku menatapmu, dan kamu menatapku. Aduh, lihat, betapa berkecipak dan berdegupnya hidup.
Andaikan, --ya andaikan--, aku diberiNya waktu sebentar lagi. Mungkin aku akan lebih dalam merenangi hatimu, dengan puisi yang lebih bisa menghibur hatimu.
Desember 2014
Puisi yang sangat anggun kurasa. Puisi yang sangat elok, dengan doa sepenuh resah tercurah, ‘andaikan aku diberiNya waktu sebentar lagi. Mungkin aku akan lebih dalam merenangi hatimu, dengan puisi yang lebih bisa menghibur hatimu’.... (Ya, Tuhan... kabulkan doanya).
Puisi-puisi lain masih terus mengalir, mbrojol bersama angin Desember yang dingin dan syahdu. Sebagian berkisah tentang sebuah rumah, sebagian berkisah tentang pencarian si aku dengan si dia. Tentang rumah yang pernah ia singgah, terlukis di bawah ini :
KENANGAN DI KLATEN
Isma
Di rumah Bareng, suasana sepi dari lalulalang; hanya suara peronda, teduh daun, derak jendela; dan suara kodok. Setelah bertualangan seharian, malam itu aku merenung, memandang langit di atas tembok.
Seluas-luas langit terbentang; tak ada bulan, hanya mangga bersembulan, seperti buah-buahan yang senantiasa ranum di atas dahan. Aku pun teringat kamu. Kupeluk pinggangmu; lalu kudengar suara plafon yang melenguh. Tak ada suaramu, kecuali hati yang mengusap wajah, dari panas jadi dingin, dari dingin jadi entahlah.
Lalu sunyi bersipongang di ruang tengah. Lampu bergoyangan, sinarnya berdenyar-denyar membuat aku tercenung, dan memandang langit di atas tembok.
Di rumah Bareng, kutemukan kenakalan-kenakalanku di masa kecil bersembulan seperti ilalang yang liar.
Desember 2014
Masih ada ungkapan-ungkapan cinta birahi, seperti kupeluk pinggangmu, namun diikuti konteks tak ada suaramu, kecuali hati yang mengusap wajah, dan plafon yang melenguh. Si aku hanya berteman dengan sunyi yang bersipongang di ruang tengah. Hanya berteman dengan tembok dan suara kodok. Hanya berteman dengan lampu yang bergoyangan. Toh indah juga, bukan? Memang, tanpa imaji liar sebuah teks sastra memang bukanlah sebuah puisi, karena itu di akhir puisi ini terlukis juga kenakalan-kenakalannya di masa kecil.
Marilah saya ajak pembaca untuk menikmati keindahan puisi yang berkisah tentang sebuah pencarian, yang mengusung kosakata etnik, dari berbagai penjuru nusantara kita, yang saya kutip lengkap di bawah ini :
MENCARI KAMU DI ANTARA PULAU-PULAU
Seseorang yang mirip kamu telah hilang dari hatiku
Ia menghilang seperti matahari yang tenggelam di Tanah Lot
Jejaknya seperti rembulan mengambang di Danau Kelimutu.
Siapa pencurinya? Di mana kamu?
Di Tanah Jawa jejakmu tetap tak kusua.
Di Sulawesi pun sosokmu tak terbaca.
Ada yang bilang kamu ngumpet di Papua dan di Batutua.
O, ternyata tidak.
Di Aceh, aku jumpa pakngoh
Dia tak sebut namamu.
Di Kalimantan, gulu menggeleng
ketika kusebut asal usulmu.
Di Pulau Rote, Gerson Poyk
tak kenal hal ikhwalmu.
Jangan becanda.
Kita sayang pa ngana.
Aku mencintai kamu apa adanya.
Kupikir, kamu juga.
Sekarang kulitku terbakar di Banda,
mencari kamu, di antara pasir dan lada
Besok aku berenang ke Madura, Ende, Atambua
dan Tambolaka di Sumba
Beribu pulau dan selat sudah kuseberangi,
Kupikir kamu dijaga datuk-datuk di Saparua
Eh, jauh-jauh memburumu ke ujung Indonesia,
yang dicari berumah di keping kecil hati beta, ternyata !
Desember, 2014
Ending yang sangat tak terduga, ‘jauh-jauh memburumu ke ujung Indonesia, yang dicari (ternyata) berumah di keping kecil hati beta!’. Puisi yang elok dengan khasanah kata etnik seperti pakngoh, gulu, pa ngana, dan begitu banyak nama daerah yang disebut dalam puisi ini, yang mampu membangkitkan rasa nasionalisme, cinta tanah air yang meluap-luap. Sebuah puisi yang layak menjadi bahan ajar pendidikan karakter di sekolah-sekolah.
Berikutnya saya sajikan juga puisi yang berkisah tentang suasana hati yang risau atas apa yang dirasakan ‘seseorang’ di seberang sana :
SURAT YANG DISERTAI PISAU
Suratmu sudah tiba semalam. Ada isak tangis, dan sebilah pisau menyertainya. Aku membacanya berulang-ulang sambil tiduran: membayangkan tanganmu yang sedang menuliskan dan wajahmu yang selalu hidup dalam ingatan. (Tapi kenapa sebilah pisau kauselipkan, dan sederet tangis kau kirimkan?)
Sambil meraba dada kiri, aku coba memahami suratmu. Memahami kata-katamu, dan semua hal ikhwal yang serba tidak kekal.
Lambat laun aku pun mulai bisa mengerti. Tak ada yang abadi di dunia ini. Rambut hitam jadi putih. Langit biru jadi legam. Yang pergi bisa tak kembali. (Ingatan itu fana 'kan. Kenangan itu abadi)
Dan sekarang hari sudah sore. Kulipat suratmu. Tolong, kirimi lagi surat baru untukku (kumohon, jangan lagi sertakan pisau dan isak tangismu) agar bisa menghibur hatiku, dan menyenangkan hari-harimu.
Desember 2014.
Saya kehabisan kata-kata untuk mencandra puisi ini karena rasa iba menyelimuti jiwa. Membayangkan seandainya pembaca berada pada posisi dia yang mengirim surat itu, betapa bahagianya memiliki sahabat yang sedia menerima sebagian keluh kesahnya, yang tiada sedikit pun terdapat nada menggurui, menasihati harus begini atau begitu, apalagi menyalahkan keadaan. Ia, si aku hanya menerima saja apa yang dirasakan si dia, dan dengan hati terbuka ia minta dikirim lagi surat serupa (tentang derita yang dihadapi) dan hanya meminta jangan lagi ada isak tangis di sini.
Masih ada beberapa puisi yang saya sertakan di bagian akhir tulisan ini, kiranya pembaca dapat mengapresiasi puisi-puisi indah ini dan menutup tulisan ini saya sertakan juga sebuah puisi yang saya tulis untuknya. Selamat membaca dengan mata terbuka.
RUMAH KENANGAN
Rumah itu selalu mengingatkan padamu, namamu, dan wajahmu yang suram, ditimpa lampu malam. Tapi aku tak yakin benar, apakah kamu juga pernah mengingat namaku?
Di depan rumah, aku terpekur, memandang langit yang melengkung seluas cakrawala, dengan tiang-tiang listrik yang seakan menjadi penyanggganya. Lalu kurasakan suara piyuh angin yang memukul-mukul suara tebing.
Dari jauh, kulihat teras rumah itu kosong, ruang tamu juga kosong. Ada juga setumpuk angan-angan yang berserakan di lantai, dan sekardus impian yang menempel di dinding.
Dulu aku pernah berpikir, di dinding itu akan ada telapak tangan anak-anak yang menggapai (tapi kenyataan itu rupanya tak pernah sampai). Dulu aku pernah berpikir, kamu akan sebut namaku dan aku akan sebut namamu (tapi sekarang yang kudengar hanya suara darah yang mengalir seperti air terjun dari ngarai).
Di depan teras rumah itu, tubuhku kelu, tertekuk dan terduduk. Sadarlah kini, begitu banyak hari-hari lewat; dan kata-kata terucap. Kita ternyata hanya hidup berumah dalam kenangan. Masa laluku adalah patahan piring, keping hati yang membuatku melihat masa kelam.
Lihat, malam pun berganti pagi. Hidup jalan terus ternyata. Tak ada yang kekal di bawah matahari.
Desember 2014
SURAT TENTANG KENANGAN
Sudah kuterima suratmu tadi pagi. Selamat. Aku senang. Pada akhirnya kamu menemukan pasangan, seorang asing yang dikirim Tuhan untuk menjadi teman hidupmu. (Hidup ini memang penuh misteri 'kan?)
Jangan pernah mengatakan di antara kita sudah tidak ada cinta. Jangan. Owah gingsiring kahanan iku saka kersaning Pangeran kang murbeng jagad. Jangan pernah mendahului kehendak Gusti Allah.
Astaga, pernahkah kubilang kenangan (atau ingatan) bertukar rupa? Never. Telah kuberikan segalanya. Tak hanya kata-kata, juga rencana. Tapi, apa mau dikata, jika kehendak Tuhan berbeda.
Mungkin ada hal-hal yang bisa kita lupakan, tapi bukan mustahil ada lebih banyak lagi hal-hal yang tetap (harus) kita ingat dalam perjalanan waktu. Tapi, maafkan, bila aku tak mampu mengingat-ingatnya, apalagi menyimpannya. Semuanya kutitipkan saja padamu..(Jangan simpan sembarangan, ingatlah perasaan pasangan.)
Tentu, aku tak mau buru-buru melupakanmu. Ingatan itu fana. Kenangan abadi. Ingatan pendek. Kenangan panjang. (Benar kan?)
Sekali lagi, selamat. Aku senang. Pada akhirnya kamu menemukan jodohmu. Aku yakin, ialah orang yang dikirim Tuhan menjadi teman hidupmu untuk selama-lamanya. (Bukankah hidup ini memang penuh misteri tapi juga indah? Dan, ssst, jangan pikirkan dan ingat-ingat aku lagi. Move on!)
Desember 2014
Demikianlah ulasan saya tentang puisi-puisi Kurniawan Junaedhie, penyair yang terus menulis puisi hingga saat ini. Pengetahuannya sebagai wartawan yang sangat luas sangat terlihat pada aneka tema puisi yang ditulisnya. Kurniawan Junaedhie (betapa pun tidak ada manusia yang sempurna), ia pernah tergelincir, secara jujur ia mengakuinya, (bacalah puisi-puisinya yang bertajuk ‘Perempuan dalam Secangkir Kopi 1, 2, 3’ yang sangat seksi tetapi tidak saya ulas agar pembaca penasaran dan lalu mencari bukunya; terkait dengan puisi-puisinya ini saya yakin akan pendapat A. Teeuw bahwa tak ada satupun karya seni yang tercipta dalam situasi kosong; dalam hal ini pun ada testemoni dari seorang sahabat yang ditinggalkan begitu saja hingga terlantar sampai larut, (oh kasihan); dan di sisi lain ada yang merasa diculik : oh jahat bener para penculiknya itu, telah menjontrongkan orang yang sebenarnya pemalu, (tapi kok berlanjut?)... (hahaha), dan saya kira itu bisa dimaafkan (bukannya Tuhan pun Maha Pemaaf?) karena ia hidup sebagai manusia yang terjebak pada suasana. Tetapi apa yang tertera di dalam puisi-puisi di akhir Desember ini memberikan suatu tanda bahwa ia telah kembali ke jalan yang lempang di usia senjanya (Alhamdulillah jika demikian).
Ada beberapa keywords yang dapat saya ambil dari puisi-puisi tersebut, di antaranya move on, tak ada yang abadi di bawah matahari. Dan ini (mungkin) sesuai dengan filosofi hidup Kurniawan Junaedhie. Dan jika saya ditanya secara jujur, saya pun sependapat dengan Taufiq Ismail dan Sapardi Djoko Damono (dua Redaktur majalah sastra Horison kala itu, kira-kira 1976) bahwa Kurniawan Junaedhie memang lebih briliant di bidang cerpenis ketimbang penyair. Saya masih merasakan bagaimana lincahnya ia mengolah kata dan mengaduk-aduk perasaan pembaca dalam Kumpulan Cerpennya Opera Sabun Colek, yang sudah berulang kali saya baca masih terus mendatangkan kesegaran baru dalam jiwa saya. Saya tersenyum-senyum mengingat tokoh aku dalam cerpen-cerpen itu. Semoga ulasan ini bermanfaat.
Mengakhiri tulisan ini saya pun akan tuliskan puisi persembahan saya untuk KJ di usia 60 tahun :
TELAH KAU SUNTING WAKTU
telah kau buka halaman demi halaman
dari magelang sampai gading serpong.
sudah pasti dalam suntinganmu
banyak coret, cacat, cela
sebab lembar-lembar kehidupan berceceran tak karuan.
kau baca satu-satu, cermati rindu masa lalu
coba kau pungut serpihan senja
kontemplasi akar di kedalaman tanah
sematkan coretan-coretan senyum
dan tangis gelisah
senang susah kau berlari
antara ranting dan Sang Dahan
terpaku ikrar sehidup semati.
dan kini, dua bidadari membawamu desah
suburkan cita dan cinta
sesekali kenakalanmu mengusik
dan aku hanya seorang penyaksi.
Catatan antara 24 November 1954 – 24 November 2014.
Klaten, 24 Agustus 2014. (Sang Peneroka, 2014 : 141).
Klaten, 30 Desember 2014.
Esti Ismawati.
Sumber rujukan :
Perempuan dalam Secangkir Kopi, Kumpulan Puisi Kurniawan Junaedhie, 2010. Jakarta : Kosa Kata Kita. Sepasang Bibir di Dalam Cangkir, Kumpulan Puisi Kurniawan Junaedhie, 2011. Jakarta : Kosa kata Kita.
Kitab Radja – Ratoe Alit, Antologi Puisi Alit 50 Penyair Indonesia, 2011. Jakarta : Kosa Kata Kita.
Negeri Abal-abal, Antologi Puisi 99 Penyair dari Negeri Poci 4, 2013. Jakarta : Kosa Kata Kita.
Negeri Langit, Antologi Puisi 153 Penyair Indonesia, 2014. Jakarta : Kosa Kata Kita.
Sang Peneroka, Antologi Puisi 106 Penyair Indonesia, 2014. Yogyakarta : Gambang.
A. Teeuw, Membaca dan Menilai Sastra, 1991. Jakarta : Gramedia.
A. Teeuw, Tergantung pada Kata, 1991. Jakarta : Pustaka Jaya.



