Tampilkan postingan dengan label Kebun Cibinong. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kebun Cibinong. Tampilkan semua postingan

29 Agustus 2008

Anak Kambing Saya di Cibinong




Sejak bulan lalu jaringan teman saya bertambah dari segi katagorinya. Yakni teman-teman peternak kambing, termasuk makelar, dan para pemilik kambing2 lainnya. Di HP saya, mereka masuk dalam folder: "Embe". Jadi jangan kaget, di HP saya sekarang ada nama2 seperti: Embe Uhuy, Embe Haji Wawan, Embe Gushiding, Embe Sukajana dlsb. Pasalnya, saya juga menambah hobi baru: Dari penyuka sate kambing (saya pelanggan fanatik Sate Kambing Hudori Stasiun Bandung), menjadi peternak kambing. Senang saja.

Awalnya beli seekor. Harganya Rp. 350rb. Kambingnya besar, kebetulan sedang hamil muda. Yang kedua, kambing betina, yang sedang cari jodoh. Saya beli Rp. 250rb. Karena butuh jodoh, saya carikan pejantan, dan saya kawinkan dengan upah Rp. 10rb. Sekarang, dia pun hamil.

Selanjutnya saya menambah 12 ekor lagi, seharga Rp. 3,6 juta. Di antaranya ada 3 ekor pejantan. Kerjanya kawin melulu. Bang Edi sampai pusing, karena 3 pejantan itu getol kawin, padahal yang mau dikawini masih malu2. Jadi riuh rendah suasananya. Baru saya tahu, apa arti kata Bandot. Yaitu, makhluk yang suka kawin, tidak pandang umur, tidak pandang tempat. Hahahaha....

Semua kambing itu saya tempatkan di kebun saya di Cibinong. Di tempat itu, sudah saya bangun ''rumah kambing'' yang saya buat dengan harga Rp. 1 juta.

Gara2 lagi senang kambing, maka saya pun belakangan suka mencari info perihal kambing di Internet. Walhasil, kepengin juga melengkapi koleksi dengan kambing Etawa. Apalagi susunya bisa menambah kejantanan. Asyik ya?

Tempo hari, bersama teman lama saya, Ahita Teguh Susilo, iseng2 saya tengok mereka. Berikut foto2nya. Selamat menikmati kambing!***

28 Mei 2008

Sebidang Tanah di Desa Sukamanah



Sekitar bulan Februari 2008, teman saya Gusniar 'pamer' bahwa dia baru saja beli sebidang tanah seluas 1500 meter persegi di daerah Parung Panjang. Nama Parung Panjang bukan nama asing bagi saya selaku warga Banten. Jaraknya, katanya 22 kilometer dari Gading Serpong menuju ke arah Tigaraksa, kantor Wakil Bupati Tangerang Rano Karno dan Bupati Ismet. Jadi, atas dasar jiwa solider sekaligus untuk menyenangkan hatinya, saya nebeng mobil Avansanya ke sana.

Setelah berbelok ke kanan ke kiri, setelah hampir 1 jam perjalanan, sampailah kami di sebuah lokasi. Namanya Desa Sukamanah. Gusniar yang jenggot dan cambangnya mirip Yesus itu lantas turun di pinggir jalan, dengan gaya petentengan, dan menuding, "Tuh, pak, tanah saya. Dari jalan, ke situ, turun sampai ke bawah."

Wow, sebuah tanah persawahan, dari atas berundak-undak ke bawah. Terasiring. Dia berjongkok, menggenggam tanah. "Lihat nih pak, tanahnya bagus. Hitem," katanya lagi

Saya menebarkan pandangan ke seantero penjuru. Luas tak terkira.

Arkian, saya pun tergoda. Ketika mobil mau balik pulang saya lihat ada tanah dalam posisi di huk, menghadap dua jalan raya,. Halamannya teduh, karena banyak pohon kayu tumbuh di dalamnya. Mobil langsung saya setop. "Kalau ini saya mau nih, pak, kalau murah," kata saya iseng.

Gusniar langsung angkat HP. Seseorang datang dengan motor. Mereka kasak-kusuk. Lalu balik ke saya, "dia minta 25, pak. 25 rebu semeter. Ada 1.300 meter persegi."

Saya jawab sekenanya, "Kalau 20 rebu, oke, saya nggak banyak cingcong.

Hari itu juga saya dipertemukan dengan pemiliknya, Pak Pulung namanya. Kepada sang pemilik saya ulangi pernyataan saya. Saya paling tekankankan, bahwa tentu kalau ada jodoh. Karena menurut saya, jual beli tanah itu tidak mudah. Pemilik butuh uang pun belum tentu ada yang mau beli, sementara kita butuh, belum tentu ada yang mau menjual. Saya tekankan lagi, bahwa saya dalam posisi butuh-tidak-butuh. "Jadi, kalau 20 rebu oke, saya langsung bayar. Bagaimana?"

Pak Pulung minta pikir-pikir dulu, dan mau bermusyawarah dahulu dengan keluarganya.

Lusanya, dia pengen ketemu saya. Malam2 kami ketemu di lapak Gusniar. Dia tunjukkan bukti pembayaran PBB, fotokopi akta tanah, dan berkas-berkas lain. Saya lihat sepintasan saja sekadar basa-basi. "Jadi bagaimana, pak, boleh" tanya saya.

"Kalau di bawah 25 tidak bisa, pak"

"Ya sudah," kata saya cuek.

"Saya paling bisa kasih harga 24 saja."

"Ya sudah kalau begitu. Saya maunya 20."

Karena sampai kami pisah tidak ada kejelasan, perkara itu saya anggap sudah selesai. Case closed. Saya tidak mau membuka kasus itu lagi.

Tapi beberapa hari kemudian, ada lagi yang menemui saya. Namanya Pak Andok. Dia punya tanah seluas sekitar 1300 meter persegi juga, tak jauh dari tanah Pak Pulung. Tanah itu juga ada di huk, persis di jalan raya. Seperti kepada Pak Pulung saya ulangi kata2 saya, "kalau 20rebu per meter saya nggak lihat deh, saya langsung bayar, percaya saja."

Karena Pak Andok lagi BU untuk beli Pik Up, dia langsung oke. Saya bayar beberapa hari kemudian setelah surat jadi.

Jadi saya akan jadi tetangga Gusniar. Begitulah............ Adapun foto tanah tersebut, bisa dilihat di atas. Yang gondrong krempeng dan berbaju kuning itulah Gusniar, kawan saya itu.***

12 Februari 2008

Lihat Kebunku di Cibinong Bogor






Foto-foto beberapa sudut dari kebun saya. DAUN MUDA, namanya.

Memanfaatkan hari kosong saya menyempatkan diri menengok kebun saya di Desa Cibinong, Gunung Sindur, Bogor. Kebetulan, rumah joglo saya mau didirikan. Rumah Joglo itu saya beli seharga 30 juta sekitar setahun lalu. Tapi baru dua minggu lalu, rumah joglo gaya banyumasan itu, saya angkut dengan truk dari Banyumas.

Punya Rumah Joglo memang obsesi saya sebagai anak urban, sekaligus anak yang dididik secara agraris. Tapi kalau boleh terus terang, belinya juga by accident. Karena minat sekali juga tidak. Kebetulan, ada sejawat mau menalangi. Dia berutang tanaman pada saya. Jadi karena aturan mainnya simpel, ya deal. Itung-itung saya barteran dengan tanaman. Jadilah, saya punya Rumah Joglo. Kebetulan saya kan punya kebun di Cibinong tadi......

Luas Rumah Joglo itu 7 x 9 meter. Kalau dikali, jumlahnya 72. Itu artinya 9. Itu angka keramat saja. Nama saya Kurniawan Junaedhie adalah gabungan angka 9 dan 9, yang kalau ditotal adalah 18 yang artinya juga 9.

Kembali ke soal kebun, itu adalah hasil jerih payah saya berjualan tanaman. Jadi jika orang berjualan tanaman hias menjual tanah dan rumahnya, saya menjual tanaman dan membeli kebun.

Luas kebun itu 'cuma' 5000 meter persegi, jadi satu hektar (10.000 meter persegi) saja belum. Setahun lalu, sekitarFebruari 2007, saya membelinya dengan harga Rp. 70 rb permeter dengan ngos-ngosan. Saya katakan ngos-ngosan, karena saya nekad deal, tetapi kantong masih kosong.

Mungkin Tuhan tahu keinginan saya, tahu-tahu anthurium booming. Antara Mei - Juli, hampir setiap minggu saya mengirim satu truk anthurium ke Jawa. Untung lumayan saja, karena saya tidak mengutip besar-besar untung untuk setiap tanaman. Jadi, tanpa banyak cingcong, tanah itu saya langsung lunasi, dan sekaligus membuat pagar dari beton (di kampung saya disebut 'Tembok Berlin').

Bikin pagar beton terbilang murah, tak perlu tukang banyak, dan praktis, meski risikonya orang kampung terperangah dan menganggap saya sebuah PT. Hanya dalam waktu 10 hari, tembok beton yang mengelilingi tanah saya itu sudah berdiri kokoh. Selanjutnya saya dirikan rumah di sana, niat hati untuk penjaganya, dan sebuah greenhouse. Lalu karena masih jembar, saya juga bikin meja-meja tanaman yang kayunya saja dari kayu ulin yang harga sekubiknya Rp. 12juta.

Kebun itu juga obsesi saya. Saya pengen di situ kelak berdiri sebuah nursery, kebun pembibitan saya, di mana orang bisa datang, membeli tanaman sambil minum kopi. Sudah saya beri nama, DAUN MUDA. Maria sudah setuju, setiap minggu saya mengunjungi daun muda saya. "Setiap hari pun boleh, urus yang bener," katanya. Hehehe...***