Apakah kamu pipit yang suka terbang rendah; yang suka
menyusup ke dalam semak hatiku? Apakah kamu bukan?
Aku menatap hujan dan bertanya pd bulir2 hujan, apakah gerangan kamu awalnya
awan atau zat yang tadi berseliweran di
dalam tempurung kepalaku?
Aku melihat jendela kamarku terbuka tiba2. Lalu aku melihat kangenku berhembus begitu
saja ke udara. Tangkaplah, bila kau
percaya.
Kami bersitegang dgn siang. Siang yang tak takut pada senja
dan kami yang membenci gelap di bawah lumut nasib yang lembab.
Kopiku habis. Siapakah yangmenenggaknya? Ataukah udara yang
telah menyulingnya menjadi awan, yang kelak
menjadikannya bulir2 hujan?
Sore ini aku menemukan lagi kata2mu yang kalem di layar
handphoneku. Alangkah senang aku
mencatatnya, sambil membayangkan jari-jarimu yang nakal itu.
Dua tiga patah kata memaksa keluar dari puisiku. Mereka menyerahkan diri sepenuhnya kepada sebuah
cerita yang tak bertanggungjawab. Kuharap, jangan kausesalkan.
Sayonara. Lelaki itu melambaikan tangan. Ia kemudian raib di balik gerumbulan kata2,
sampai sekarang. Ia hanya meninggalkan
setangan yang menyimpan beribu kenangan.
Ada tangis melengking di balik cangkir kopi yang terguling. Ada isak menjerit di genangan air kopi itu.
Ada hati yang seperti ikan menggelepar2 di atas meja.
Aku ingin benar mengembalikan
senja ini padamu. Tapi aku lupa alamatmu. Tolong kirim nomer teleponmu yang
terhapus tak sengaja.
Aku dan sapardi tak ingin bertengkar tentang gadis yang ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan
rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi.
Seseorang diam2 telah menyembunyikan hatimu di tempat
rahasia. Entah di mana, tapi aku dengar degupnya.
Telah kutulis surat, ke sebuah alamat yang tak jelas
juntrungannya. Mungin suratku tak akan sampai
kepadamu. Tapi yakinlah, aku tetap merindukan jawabanmu.
Ketika aku melihat foto2 lama, gambarmu rupanya sudah tiada.
Dibiarkannya aku berpose sendiri bertemankan pemandangan
alam. Alangkah bengisnya ingatan.
Apakah kamu yang dulu berdiri dekat kasir di sebuah toko
buku yang dengan berdebar2 dan menahan malu menantikan kedatanganku?
Mudah-mudahan, bukan.
Saat itu hujan turun, dan embun memantul2 di atas daun. Saat angin menggoyangkan daun2 itu, aku pun menciummu. Ya Tuhan, mhn maafkan. Aku hanya seorang lelaki yang…

