Dear Journalist,
Membereskan persoalan pers porno, atau pemberitaan yang mengarah ke selera rendah ternyata bagaikan buah simalakama, setidak-tidaknya bagi kami. Kalau kami tidak menegur cara, bentuk dan isi pemberitaan Anda yang cenderung berselera rendah, kami khawatir Anda akan keterusan. Tapi jika kami menegur Anda, yang kami khawatirkan, justru effek baliknya: pemberitaan soal teguran kami itu akan otomatis menjadi promosi murah bagi Anda.
Setidak-tidaknya, pengalaman menunjukkan, bahwa teguran yang dilakukan secara terbuka, --misalnya dengan menyiarkannya lewat TV atau siaran pers-- dengan menyebut nama medianya, justru membuat maksud dan tujuan teguran menjadi bias. Karena biasanya masyarakat malah memburu majalah bersangkutan, dan pada akhirnya majalah itu malah diuntungkan. Hal itu bisa dimaklumi, karena orang biasanya lalu tergoda, untuk mengetahui (membuktikan) sampai sejauh mana, nilai atau kadar pornografi yang dimaksudkan tersebut.
Itulah yang menyebabkan kemudian teguran-teguran oleh instansi-instansi pemerintah yang berwenang untuk itu terhadap Anda, di zaman Orde Baru dulu dilakukan di bawah tangan, bersifat tertutup, dan bersifat 'pembinaan' atau persuasif.
Apakah setelah Orde Baru gulung tikar, dan Deppen dilikuidasi di zaman Presiden Gus Dur Anda kemudian merasa bebas? Tidak, bung. Pelanggaran kode etik ini tetap kami pandang sebagai dosa tidak terampunkan.
Apakah Anda perlu contoh kasus terlebih dulu agar Anda jera ?
Pada pertengahan tahun 2006, ketika edisi perdana Playboy versi Indonesia itu terbit, sejumlah organisasi massa mengamuk, dan kantor majalah asal AS itu nyaris remuk-redam diamuk massa. Orang-orang itu juga kemudian melakukan sweeping untuk membakar media massa porno yang banyak beredar di pasaran.
Celakanya, Dewan Pers, lembaga swadaya yang anggotanya terdiri dari masyarakat pers sendiri (menurut salah seorang ketuanya, Leo Batubara), tidak bisa berbuat apa-apa karena masalah pornografi menjadi wewenang kepolisian atau kejaksaan.
Jika kepolisian dan kejaksaan juga tak bisa berbuat apa-apa, maka jangan salahkan, kami pasti bertindak.
Apakah Anda berharap kami menganggap Anda mati syahid dan jagoan, jika media Anda, diberangus karena persoalan-persoalan di seputar selera dasar dan rendah manusia ini ? Atau, karena pada dasarnya memang benar, bahwa hal itu merupakan kebutuhan dan kesenangan khalayak ramai, termasuk kami ?
Salam kompak selalu,
Khalayak Anda