Tampilkan postingan dengan label Dimas Arika Mihardja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dimas Arika Mihardja. Tampilkan semua postingan

08 Agustus 2016

PESONA HAIKU, DARI AFORISMA HINGGA METAFORA a


Catatan Kecil Dimas Arika Mihardja*)

“Hai, salam jumpa.”

Begitu salam dan sapaku, “haiku”, kepada Anda pencinta haiku. Tahukah Anda awal tahun 2015 ada peristiwa budaya yang layak dicatat dan diberi tempat? Peristiwa budaya itu terkait lahirnya Newhaiku—sebuah grup facebook yang dimaksudkan memperkenalkan haiku versi Indonesia. Maksudnya? Ya, haiku itu tergolong sajak pendek, padu, padat milik bangsa Jepang. Dan  Newhaiku yang dilahir-hadirkan oleh Kurniawan Junaedhie (KJ) dan Esti Ismawati (EI)—sepasang mempelai sastra Indonesia yang tiada mati ide dan kreativitasnya berusaha menawarkan haiku versi Indonesia, Newhaiku.

Newhaiku, haiku baru versi Indonesia inidiakui atau tidak merupakan upaya membumikan haiku di persada nusantara sebagai satu alternatif pilihan di antara pilihan lainnya: puisi 2koma7 (dua larik tujuh kata) grup yang telah eksis lebih dulu, puisi PADMA 4444 yang dipandegani oleh Imron Tohari, puisi Persagipuisi Sonian, dan lainnya. Kelahiran dan kehadiran genre puisi-puisi ini mengundang dan mengandung kontroversial, pro dan kontra. Namun, grup-grup puisi ini tetap eksis dan diminati banyak orang. Rupanya grup-grup puisi ini selain memberikan tawaran alternatif berekspresi, juga mewadahi interaksi interpersonal di antara anggotanya. Jika grup puisi 2koma7 telah menerbitkan 4 (empat) buku: “Puisi 2koma7 Apresiasi dan Kolaborasi”, “Mendaras Cahaya”,” Nyanyian Kafilah”, dan “Jalan Terjal Berliku Menuju-Mu” (semua diterbitkan oleh Bengkel Publisher tahun 2014 dan 2015), kini grup Newhaiku dengan motor Kurniawan Junaedhie dan Esti Ismawati menerbitkan buku ini: “Ayo Menulis Newhaiku: Teori, Aplikasi, dan Apresiasi”.

Hai, sahabat haiku dan pencintabuku,

Saya diminta memberikan apresiasi 100 Newhaiku karya KJ dan 100 Newhaiku karya EI. Saya menawarkan judul apresiasi ini “Pesona Haiku: Dari Aforisma hinggaMetafora”. Apresiasi puisi, meminjam istilah S. Effendi merupakan kegiatan menggauli puisi dengan sungguh-sungguh hingga tumbuh pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap cipta puisi(2002:6). Apakah saya sanggup “menggauli” 200 haiku karya KJ dan EI? Tentu saja saya tidak sanggup, tetapi dalam “mengauli” puisi diperlukan juga teknik amandan nyaman, yakni menangkap momentum puitik, hal-hal yang estetik, dan menggelitik. Hal terakhir, “menggelitik” ini menjadi penting dalam apresiasi. Hal yang saya anggap menggelitik itu ialah pesona haiku. Hal yang memesona haiku—terlebih newhaiku dalam buku ini ialah persoalan aforisma dan metafora.

Dengan sederhana aforisma dapat diberi pengertian sebagai ungkapan puitik, estetik, berisi pemikiran menggelitik yang tampil secara kharismatik. Mungkin berupa ungkapan kearifan, kebijaksanaan, pemikiran dan lebih jauh refleksi filosofis penyair. Hampir mirip dengan aforisma, puisi pendek yang disebut newhaikuini ditandai oleh berkelelebatnya pemakaian metafora. Metafora, dan variannya seperti simile, sinekdoki, personifikasi dan ungkapan kias lainnya menjadikan puisi memiliki daya tarik memantik rangsang tanggap pembaca.

Hai pencinta haiku dan newhaiku,
Yuk sama kita baca newhaiku berikut ini. Saat membacan ewhiku, kita cermati perilaku puisi seperti larik dan pertalian maknanya, makna lugas, pengimajian, pengiasan, pelambangan, makna utuh, nada dan suasana, kemanisan bunyi dan makna ya? KJ menulis newhaikuseperti ini, yuk kita nikmati percik pesonanya :

AJAL

Dipundak kura
Kitaberingsut maju
Sampailahajal.
2015

Haiku “Ajal” dilihat dari perilakunya sungguh memesona, pelan tetapi pasti semua makhluk menuju ajalnya dan perjalanan kubur itu, ajal itu dibandingkan dengan kura-kura, sehingga newhaiku “Ajal” ini tidak membuat pembaca ngeri, melainkan dapat menikmati dan menghikmatinya berdasarkan pemahaman dan penghayatan. Makna lugas, makna kias, perlambangan, makna utuh, dan nada serta suasana puisi ini melahirkan aforisma dan metafora memesona.

KAFILAH

Tak pernah letih
Arungi hari-hari
Seperti kafilah.

2015
Newhaiku “Kafilah” lebih menonjol makna lugas dan kurang mengeksplorasi pengiasan, perlambangkan, akibatnya “pernyataannya” kurang mengekspresikan perilaku puisi yang lazimnya menggunakan ungkapan tidak langsung seperti newhaiku “Ajal”. Newhaiku “Berbatu” berikut ini menampilkan perilaku puisi yang komplit: makna lugas, makna kias, makna utuhnya menampilkan aforisma dan metafora memesona. Yuk sama kita baca:

BERBATU
Hawa dingin
Jalan berbatu
Antar aku ke rumah-Mu.
2015

Newhaiku “Berbatu” mengingatkan saya pada buku “Jalan Terjal dan Berliku Menuju-Mu”—sebuah buku puisi 2,7 yang didedikasikan kepada penyair Diani Noor Cahya yang mendharmabhaktikan hidupnya sebagai admin grup puisi 2koma7 hingga ajal memengekalkan cintanya. Jalan yang ditempuh untuk memajukan sastra, memasyarakatkan puisi, memang penuh batu dan berliku, tetapi jalan puisi itu insha Allah mengantarkannya kepada-Nya, amin. Sebuah Newhaiku KJ yang mengajak memeras air mata haru bertajuk “Ingat Ibu”.  Yuk sama menangis haru membaca puisi ini:

INGAT IBU
Menghirup sunyi
Teringat ibu
Neteslah air mata.
2015

Newhaiku “Ingat Ibu” merupakan representasi kerinduan, cinta, kasih sayang yang sacral dan tak mengenal pamrih. Ketika seseorang disergap sunyi, sendiri, lalu teringat pada ibu nun jauh di sana, maka wajarlah air mata menetes haru penuh rindu dan sendu. Rupanya, newhaiku selain memesona dengan aforismanya, rima dan iramanya, juga dapat tampil dengan kelugasannya seperti “Belajar pada Laut” berikut:

BELAJAR PADA LAUT

Luas dan dalam
Terima baik buruk
Tetap legowo.

24.02.2015

KJ yang lugas, tidak ingin menceramahi, mendikte, otoriter dalam mendidik dengan lugas ia nyatakan “terima baik buruk/ Tetap legowo”. Makna belajar pada laut ialah terkait dengan luas dan dalamnya. Keluasan wawasan dan kedalaman penghayatan keilmuan hingga pada akhirnya dapat menerima baik dan buruk secaralegowo. Pada “Pagi Berbinar” KJ mengajak kita memasuki khasanah ambiguitas dengan diksi yang segar dengan mengeksplorasi rima “ar”.  Yuk kita nikmati bersama:

PAGI BERBINAR

Pagiberbinar
Hati tergetar-getar
Merasa nanar.

23.02.2015

Newhaiku yang lebih mengekplorasi suasana hati tampil melalui “Bulan Sabit”. Suasana hati itu mwnjadi karakteristik haiku seperti juga hadirnya lanskap alam. Ayo sama kita nikmati:

BULAN SABIT2

Bulanyang sabit
Bikin hati merindu
Saat sendiri.

2015

BULAN SABIT3
Rembulan sabit
Kobarkan rasa rindu.
Nyala di mimpi

2015

BULAN SABIT4
Dibening kolam
Kita, dan bulan sabit
Pantulkan rasa damai.

2015

Filosofi“Dimana Bumi Dipijak Di sana Langit Dijunjung” meronai newhaiku KJ berikut ini. Cermati metafora dan aforisma yang memesona:

JALAN 

Sudahmenghilang
Bersama angin lalu
Jalan berpintu.

2015

KERING 

Sudah terlanjur
Lewati persimpangan
Kering air mata.

2015

TAK SAMAR

Cinta yang kekal
Slalu berpendar-pendar
Tak pernah samar.

23.02.2015

MUSNAH
Kubilas kata
Rindu kusaring
Keraguan pun musnah.

20.02.2015

BERANI

Menatap langit
Cintai bumi
Hidup harus berani.

20.02.2015

Newhaiku yang ditulis KJ rata-rata memesona oleh adanya aforisma dan metafora. Masuknya aforisma dan metafora pada newhaiku merupakan upaya kreatif memberikan sentuhan estetis dan filosofis dalam perkembangan seni puisi haiku. Itulah sebabnya lalu disebut newhaiku. Haiku yang diberi ruh dan sentuhan baru. Bagaimana kreasi  EI terkait newhaiku? Berikut ini saya turunkan beberapa karyanya.

Newhaiku Esti Ismawati yang istimewa dapat kita baca, di antaranya:

BERSEMBUNYI

di ufuk barat
cahaya gelap pekat
bulan sembunyi

28-02-15

Pada “Bersembunyi” EI mengeksplorasi menanisan bunyi “at” dan mengeksekusi kesanperasaannya pada larik terakhir “bulan tersembunyi”. “Di ufuk barat/ cahaya gelap pekat” Ini selain memiliki makna lugas juga bermakna kias “Negara-negara Barat” mengalami kegelapan syariat. Sebagai wanita penyair, akademisi yang telah bergelar hajah, ia menyampaikan “Pesan” secara halus, tersamar, dan elegan: “tolong sampaikan/ pada bunga flamboyant/ jangan jatuh”. Saat seseorang mendapat kedudukan, posisi, peran elegan, diberi pesan “jangan jatuh”.

PESAN
tolong sampaikan
pada bunga flamboyan
jangan terjatuh
28-02-15

Pada puisi “Doa” EI mengorbankan bahasa demi tercukupinya jumlah suku kata haiku yang berpola 5-7-5, akibatnya kata “selamat” ditulisnya dengan sengaja “slamat” sebagai bentuk licentia poetica—kebebasan penyair menggunakan bahasanya secara sadar. Saya selaku pembaca benar-benar dapat menangkap keindahan cinta pada puisi “Indah” berikut:

INDAH 

menyelam aku
ke dalam palung hati
indah cintamu

28-02-15

Pada “Singa Tua” saya teringat KJ. Newhaiku EI ini sepertinya didedikasikan pada KJ yang dimetaforakan sebagai singa tua yang tak kenal lelah, mengaum dalam sunyi, torehkan karya.

SINGA TUA
tak kenal lelah
mengaum dalam sunyi
torehkan karya....

28-02-15

Membaca newhaiku karya EI terasa “Damai” sebab ditulis secara “Ikhlas”. Sama kita simak kedamaian dan keikhlasan itu.

DAMAI
hati tenteram
pikiran sejuk tenang
alam tafakur

Klaten,20-02-15

IKHLAS
di unggun malam
sepotong senyum
hangatkan jiwa raga

Klaten,20-02-15

Hal yang menarik, seperti dilakukan oleh penyair sebelumnya seperti Sapardi Djoko Damono, Darmanto Jatman, Linus Suryadi AG, EI memaswukkan dunia pewayangandalam newhaiku. Di “Kurusetra” seperti Mahabarata—merupakan medan laga antara kebenaran, kejujuran, kebaikan, dan keserahanan, ambisi, nafsu berkuasa. Ungkapan right or wrong my country, menjadi terkenal dari mulut “Radeen Kumbukarno”—seorng raksanaa berjiwa kesatria yang gigih bela Negara. Kita diperkenalkan dengan“Raden Puntadewa” raja Amarta yang dikenal berdarah putih,  jujur, dan tidak mau berbohong.

KURUSETRA

di medan laga
hitam putih berperang
demi martabat

Klaten,20-02-15

RADEN KUMBAKARNO
semboyan hidup
'baik buruk negriku'
kan ku bela
Klaten,20-02-15

RADEN PUNTADEWA

tubuhnya putih
hati dan pikir bersih
langkahpun lurus

Klaten,20-02-15

Membaca newhaiku karya KJ dan EI ada beberapa catatan kecil sebagai berikut. Pertama, Makna lugas dipakai oleh KJ dan EI dalam newhaiku. Makna lugas inilah yang pertama-tamaa dipahami oleh pembaca. Pembaca harus memahami makna lugas ini untuk memahami makna utuh newhaiku. Kedua, penggunaan kata kongkret dan khas serta penataan kata-kata itu dalam tiga larik newhaiku sedemikian rupa sehingga menggugah timbulnya imaji disebut pengimajian atau pencitraan. Ketiga, pengiasan dalam newhaiku merupakan penggunaan kata atau ungkapan dalam sajak sedemikian rupa sehingga timbul makna kias yang dapat memperkongkret, memperlengkap, mempercermaat, dan memperkhas imaji sesuatu yang diungkapkan dalam sajak, yang hasilnya berupa aforisma atau metafora yang memesona. Keempat, oleh karena newhaiku tergolong puisi pendek, padu, padat, maka diperlukan perlambangan. Perlambangan adalah penggunaan kata atau ungkapan dalam sajak sedemikian rupa sehingga timbul makna lambang yang dapat  memperkongkret, memperlengkap, mempercermat, dan memperkhas imaji sesustu yang diungkapkan dalam sajak. Kelima, makna utuhnewhaiku dapat dipahami, dihayati dan diapresiasi apabila makna tersurat dan tersirat memiliki hubungan yang terjelma karena adanya  hubungan saling menentukan antarapengimajian, pengiasan, dan pelambangan.

Hai sobat newhaiku,
Makna keseluruhan sebuah sajak pada hakikatnya adalah sebuah pengalaman penyair, pengalaman indria maupun pengalaman nalar, yang diungkapkan dengan bahasa yang khas (dengan pengimajian, pengiasan, pelambanan) sehingga pengalaman itu hadirutuh-menyeluruh pada sajak yang dapat ditangkap oleh pembaca sebagai sesuatu yang kongkret, padat, dan khas serta sugestif atau menggugah nalar dan batin pembaca. Keseimbangan antara perasaan nikmat dan perenungan perlu tetap terpelihara ketika kita membaca dan berusaha memahami makna utuh sebuah newhaiku.

Sampai di sini, Anda telah secara aktif dan intensif berusaha menyelami dan mengapresiasi newhaiku karya KJ dan EI untuk memahami makna lugas, kias, lambang, sesuai dengan perilaku penampilan newhaiku. Newhaiku dengan nada yang tersurat dan terang-terangan mengajari biasanya tidak bias meyakinkan bahwa ajarannya itu benar. Newhaiku dengan nada tersirat dan tidak mengajari pembaca dapat meyakinkan kita selaku pembaca. Kita selaku pembaca tahu, pelambangan atau pengiasan yang tidak tepat dapat mengaburkan makna utuh newhaiku, dan dapat menghilangkan kemaampuan nada dan suasana newhaiku mengugah hati pembaca. Pengiasan atau pelambangan yang tepat dapat mengungkapkan makna yang jelas dan menjelmakan nada serta suasana  newhaiku yang menggugah hati pembaca serta memesonanya. Terakhir, penggunaan kata-kata abstrak dan muluk dalam newhaiku dapat menggagahkan nada dan suasana. Kegagahan biasanya tidak meyakinkan pembaca, tidak menggugah atau memikat. Sebaliknya, pengunaan kata-kata sederhana dan kongkret dalam newhaiku dapat mewajarkan nada dan suasana. Kewajaran biasanya meyakinkan pembaca, mengugah dan memikat. Newhaiku—seperti haiku asli Jepang sangat menonjolkan nada dan suasana.

Salam Budaya

Dimas Arika Mihardja




Penyair, akademisi, pencinta budaya

28 Desember 2010

MENIKMATI HAIKU BUAT SUSY AYU

MENIKMATI HAIKU BUAT SUSY AYU oleh Dimas Arika Mihardja

"MENGAPA saya menulis haiku dan menerbitkannya?" begitu Kurniawan Junaedhie (KJ) mengantar buku "100 Haiku untuk Sri Ratu" (Bisnis2030, 2010: 100 hal +x). Lalu KJ menjawab pertanyaannya sendiri "Menulis haiku ternyata punya sensasi tersendiri. 100 haiku ini saya tulis selama 12 jam, non stop. Sama sekali tidak berjuang untuk memecahkan rekor MURI. Dengan menjelaskan hal ini saya hanya ingin mengatakan, betapa asyiknya menulis haiku. Apalagi ada Susy Ayu yang memprovokasi dan bersedia menjadi inspirasinya. Ia pula yang men-support ketika proses penulisan maraton itu dimulai pukul 12 siang, sampai proses penulisan berakhir, pukul 00.00....itu sebabnya, 100 haiku ini saya persembahkan untuk dia". Itu pula sebabnya, judul tulisan ini kuplesetkan "Menikmati Haiku buat Susy Ayu". Heru Emka yang mengawal buku ini menyatakan afirmasi tentang "Bara Cinta Dalam Sunyi". Saya dalam tulisan ini akan mengajak pembaca melacak jejak seperti apakah "bara cinta dalam sunyi" yang ditangkap oleh Heru Emka. Dan agar berbeda dengan sudut pandang Heru Emka, saya akan mengawali petualangan ini dengan haiku 1/ musim rambutan/kami berjalan ke hutan/mencari ketenangan.

Haiku KJ diawali dengan penanda musim, kongkretnya musim rambutan, tetapi lantaran haiku itu puisi ungkapan "musim rambutan" itu janganlah langsung dimaknai sebagai musim rambutan beneran. Musim rambutan yang tampil hiruk-pikuk di pasar, mengajak kita memperoleh ketenangan justru di dalam hutan (meski di dalam hutan justru acap ditemukan binatang buas dan berbisa).

KJ menulis haikunya mungkin di tengah kota, tetaapi imajinasinya menyeret pembaca masuk ke dalam hutan makna. Gambaran nyala cinta mulai tampil pada haiku 2/ teh hijau tanpa gula/dinikmati dengan 1000 cinta/hati yang menyala. Sebagai "model" yang menginspirasi, bisa jadi, saat itu Susy Ayu menyeruput teh hijau sembari menemani KJ, dan dalam pandangan KJ terasa ada hati yang menyala. Pandangan KJ mengarah ke pokok-pokok pinus yang menghumuskan kata-kata mengisahkan gelora (haiku 3/). Lalu tampak dia berlari di jembatan/aku sembunyi diam-diam/senangnya bercandaan (haiku 4/). Siapakah "dia" yang berlarian? Siapakah yang sembunyi dan asyik bercandaan? Ah, ini gak penting, sebab di bawah jembatan/batu kali tidak pernah menanti/cintanya jatuh sendiri (haiku 5/). Cinta yang luar biasa dan terkesan tergesa, sebab di bawah jembatan/bibirnya jatuh/aku mengambilnya buru-buru (haiku 6/). Lalu konsentrasi pembaca dengan cerdik dialihkan perhatiannya ke semangkuk bubur ayam/bergoyang di meja restoran/air ludah saling menelan (haiku 7/). Lalu dua iris semangka/ teronggok di kulkas/sunyi melengos malu (haiku 8/). Sesudah itu, di kamar mandi/bau sabun menyesap/ke dalam jantung (haiku 9/), lalu pada haiku 10/ di dalam kotak AC/aku menyimpan hatinya/agar membeku. 

Sepuluh haiku gubahan KJ yang mengawali buku ini terasa asyik. Pembaca diajak bertualang memasuki hutan rambutan, menikmati teh hijau, menulis puisi di rimbun pinus, bercanda di bawah jembatan serupa batu-batu kali yang tak pernah menanti cinta, sebab cintanya jatuh sendiri. Pembaca juga disuguhi sensasi fisikal, sensasi rasa, sensasi cita rasa "bibir yang jatuh (dan) aku mengambilnya buru-buru, ludah saling menelan melihat semangkuk bubur ayam di restoran (mestinya rumah makan, sebab restoran itu hanya menyediakan aneka minuman), pembaca disuguhi sensasi yang menyegarkan "dua iris semangka/teronggok di kulkas/sunyi melengos malu"; lalu peristiwa di kamar mandi pun terdedah dengan indah dan menggugah, hingga sampai ke haiku 10 dinyatakan "aku menyimpan hatinya agar membeku". WOW.

SEPULUH haiku terakhir, tak kalah menyihir: aku berdiri di anjungan/dia diseberang pulau/mengirim pesan singkat (haiku 91/). Lalu di pagi buta/ ada yang bercanda/ di balik celana saya (haiku 92/), di antara rintik hujan/kudengar tik-tok hatiku/dan nafas tertahan (haiku 93/), pagi berembun/dia menggeliat/aku memahat (haiku 94/), daun gugur di tanah/bersama remah-remah/hatiku gundah (haiku 95/), terbit fajar/membakar rokok/membakar diri (haiku 96/), ketika siang berseri/perpisahan menanti/untuk ribuan hari (haiku 97/), sederet nama/selaksa cinta/hanya dia kusemat di dada (haiku 98/), pelayan hotel/menawarkan sarapan/kami sudah kenyang (haiku 98/), dan ayam pun berkokok/kutakhlukkan Roro Jonggrang/ sudah kubangun 100 candi (haiku 100/). Ya, seratus candi telah tegak berdiri mempertaruhkan eksistensi KJ sebagai penyair yang mampu menyihir. Candi yang mengabadikan risalah cinta yang penuh warna bunga. Roro Jonggrang telah tertakhlukkan oleh rangkaian kata-kata padat-padu yang tertuang dalam bentuk haiku.

Menilik penampilan haiku yang ditandai dengan angka 1/ sampai dengan 100/, sejatinya KJ telah menggubah puisi panjang. Puisi paling panjang dalam sederetan perpuisian Indonesia. Menurutku, KJ tak perlu "LATAH" menamai haiku, sebab senyatanya dalam perpuisian Indonesia telah dikenal sajak alit. Untaian "sajak alit" bernomor 1 sampai dengan 100 yang merupakan satu kesatuan menurutku telah mendedahkan sensasi rasa yang indah, enak dikecap lidah, merangsang untuk disentuh, merdu didengar, dan enak dibicarakan. Dalam sajak alit ini KJ terkadang tampil dengan gurauan segar, membanyol. Banyolan segar juga merupakan estetika perpuisian Indonesia yang tidak jatuh pada keinginan mengundang tawa, tetapi lebih mengarah pada seruan: WOW.

Begitulah KJ dengan puisi-puisinya. Meski Susy Ayu hadir sebagai support dan motivator, pembaca hendaknya jangan tergesa mengatakan "pasti ada apa-apanya", meski secara tegas KJ menyatakan di haiku 98: sederet nama/selaksa cinta/hanya dia kusemat di dada.

Akhirul kalam, lantaran penulis puisi telaah mati begitu sajak dipublikasikan, dan sumber inspirasi juga ikut mati saat pembacaan, maka ruang pemaknaan bisa menjadi semakin meluas dimensinya. Bagaimana luas dimensi puisi-puisi KJ, silakan para pembaca memburunya sendiri. Salam DAM damai senantiasa. . . .

27 Desember 2010

MENIKMATI KOPI BERSAMA PEREMPUAN KURNIAWAN JUNAEDHIE

MENIKMATI KOPI BERSAMA PEREMPUAN KURNIAWAN JUNAEDHIE
Catatan: Dimas Arika Mihardja

APAKAH ada yang menarik dari secangkir kopi dan perempuan? Seorang penyair pilihan kita, Kurniawan Junaedhie (KJ) menerbitkan buku "Perempuan dalam Secangkir Kopi" (Kosakatakita, 2010) memuat 45 puisi yang ditulis kurun 2009 dan dilengkapi endorsmen dari Seno Gumira Ajidarma, Heru Emka, dan Ags. Arya Dwipayana.

Hal yang menarik, "dua dunia", yakni dunia kopi dan dunia perempuan terpadu dalam sajian puisi-puisi liris-imajis yang menunjukkan kekuatan seorang KJ sebagai penyair yang telah memiliki tempat, sebab telah menemukan bahasa dan gaya ungkapnya sendiri. Meski, samar-samar dapat dilacak jejak gaya Sapardi Djoko Damono dalam hal permainan diksi dan imaji di dalam puisi-puisinya.

Setiap penyair dalam proses kreatif penciptaan puisi melakukan upaya merekonstruksi pengalaman ke dalam teks yang puitis, imajis, naratif, ekspresif, dan prismatis. Piranti kebahasaan oleh KJ dimaksimalkan untuk mengungkap sensasi puitis kedalam puisi-puisi imaajis--menawarkan aneka imaji yang menumpukan daya kreasinya pada aneka daya bayang yang meruangkan aneka bayang di ruang imaji para pembacanya. Dalam puisi yang paling diandalkan oleh KJ dan dijadikan judul buku, aneka imaji (imaji visual, imaji auditif, imaji rabaan, imaji cecapan, dan lain-lain imaji) dapat sampai ke ruang psikologis pembaca. Kita cicipi dan kita nikmati kopi bersama perempuan di dalam kutipan lengkap berikut ini.

PEREMPUAN DALAM SECANGKIR KOPI 
-Saat ngopi bersama Kurnia Effendi & Tina ketika ultah Endah Sulwesi di Jl. Sabang 

Perempuan itu hilang dari rumahnya. Meninggalkan dua anaknya yang sedang melukis pemandangan: gunung dan matahari. Ia terbang dan masuk ke dalam sebuah cangkir di kafe di meja dekat seorang pria yang sejak tadi asyik bermain laptopnya. Adakah yang lebih berarti daripada hidup di dalam cairan? Ia berenangan di dalamnya, dan karena iseng ia lalu menyumbulkan kepala dan memainkan matanya ke arah pria di sampingnya. Si pria terpana. Ia ikut mengerlingkan mata.Sangat sexy,menurut mata pria itu. Ada perempuan dalam cangkir, gumamnya. Tanpa disadari tangannya memain-mainkan sendoknya. Perempuan itu lalu menyelam lebih dalam ke lubuk kopi. 

Jakarta, 2009 

Apa yang segera ditangkap oleh pembaca usai menyimak puisi ini? Pembaca disuguhi sensasi imaji yang mengalir dan mencair di dalam rancangbangu cerita. Hal ini dapat dimengerti dan dipagami sebab KJ juga dikenal sebagai penulis prosa, penulis berita, dan penulis aneka kreasi. Potensi naratif-imajinatif yang dieksplorasi pada puisi ini tentu saja memanjakan ruang imajinasi pembaca sembari asyik menyusuri jalan cerita. Puisi yang tergolong naratif-imajis ini dapat dirunut pada puisi-puisi yang digubah oleh Sapardi Djoko Damono pada sebagaian besar puisi-puisinya.

Saya tak hendak mengatakan KJ mengikuti gaya SDD. Hal yang ingin saya katakan ialah bahwa KJ telah memilih cara dan gaya ungkap pilihannya sendiri. KJ tak perlu dibandingkan dengan puisi-puisi karya SDD, meski perbandingan karya dalam konteks hipogramdan interteks terkadang diperlukan juga untuk bisa memahami karya dengan lebih baik. Pada puisi yang dikutip itu tampak jelas bagaimana KJ mengolah diksi dan imaji untuk melukiskan secara lebih hidup "kisah" perempuan dalam secangkir kopi.

Secangkir kopi, bagi orang yang biasa mereguk kopi, telah memungkinkan tumbuh berkembang aneka bayang yang mengasyikkan. Pada sisi lain, sosok "perempuan" bagi kebanyakan penyair selalu saja merangsang imajinasi yang luar biasa. KJ seperti penyair besar lainnya, misalnya Chairil Anwar yang "jatuh hati" pada Ida, Sutardji Calzoum Bachri yang terpukau pada sosok Alina, dan penyair lain mungkin menghadirkan Sephia, Yessika, Selia, Laila dan seterusnya. Kopi dan sosok perempuan, keduanya memang inspiring--menumbuhkan inspirasi yang tak pernah ada habisnya untuk dieksplorasi. Hal yang dahsyat, sebuah puisi yang didedikasikan buat SA (mungkin Susy Ayu) dengan judul Perempuan dalam Secangkir Kopi (2) dapat kita nikmati berikut ini.

PEREMPUAN DALAM SECANGKIR KOPI (2)
SA 

Aku ingin sekali bisa mengapung sembari berenangan di dalam kopimu. Kubayangkan, betapa nikmatnya hidup dipermainkan air yang gelap dan pahit sambil digncang-guncang oleh sendokmu. Aku akan menukik,menyelam dan menggapai tanganmu lalu sesekali, sambilm berkecipakan di dalam air yang hangat itu aku akan mencium bibirmu di pinggir cangkir. Tak ada yang bisa cemburu. Juga air ludah dan lendir di mulutmu. Aku suka caramu memasukkan gula pasir ke cangkir dan menyedunya dengan air. Aku suka caramu membaui kehangatan air kopi dan caramu mencecap dengan lidahmu. Kamu paling akan bertanya, sejak kapan kamu suka berenang? Aku akan menjawab, sejak kamu menjerng air, dan menuangkannya ke dalam termos. Di tengah hidup yang pahit, aku senang menyelam ke dalam kopi bersama seorang perempuan yang hangat. Tak ada yang bisa cemburu. Juga sendok dan piring kecil dekat cangkirmu. 

Olala, Bintaro. Okt. 2009 

KJ dalam buku ini secara tematis memang menyajikan sosok perempuan. Perempuan di dalam puisi KJ bisa menjelma sebagai istri, si dia, pacar, MM, Medy Loekito, Rita Oentoro, Anny Djati W, Ariana Pegg, Yo Sugianto, Monalisa, Ahtia, Si Dia Si Penggoda, Dara, Ibu, Ibunda, Pradnyaparamita, dan sosok-sosok lain yang hadir secara imajinatif. Ada puisi yang didedikasikan buat lelaki, misalnya untuk Ayahanda ("Sebatang Pohon yang Rindang") dan Lazuardi Adi Sage ("Rest in Peace"), atau Kurnia Effendi (disebut sebagai subtitel "Perempuan dalam Secangkir Kopi"). Kopi dan perempuan bisa berpadu memberikan sentuhan kehangatan.

Usai membaca dan menikmati puisi-puisi KJ dalam buku ini,kehangatanlah yang terasa. Cinta yang hangat.Kasih yang hangat. Persahabatan yang hangat. Rasa hormat yang juga hangat. Demikianlah nukilan sebagian puisi di dalam buku ini. Pembaca lainnya, kiranya lebih asyik membaca sendiri sembari menikmati hangatnya kopi. Selamat kepada mas KJ yang telah turut mewrnai jagad perpuisian Indonesia dengan karya yang diungkapkan dengan bahasa "yang baik dan benar" menurut kaidah penulisan. Puisi KJ layak dijadikan referensi bagi siapapun yang memerlukan ruang naratif-imajinatif yang menghangatkan. Demikian, salam DAM damai senantiasa.

Jambi, 27 Desember 2010

http://www.facebook.com/notes/dimas-arika-mihardja/menikmati-kopi-bersama-perempuan-kurniawan-junaedhie/488029089367?notif_t=note_reply#!/note.php?note_id=488029089367&id=1403985450

26 November 2010

HALLO, YA, SAYA SENDIRI

HALLO, YA, SAYA SENDIRI
: dialog imajiner dengan mas kj

hallo, ya, saya kurniawan junaedhie
ya saya sendiri. benar-benar sendiri
ya, saya bidani sendiri kok, ya ya beres
ya, telah kubereskan semua: kaver, issn, draft

lho, bukankah mas di jakarta?
lho kok sendiri?
beres ya? okelah tancap gas aja hehehehehe

lho, jangan gitu
jangan menyebutku tukang bunga
lho jangan gitu
jangan memanggilku burung gagak

siang atau malam?
sayang atau dendam?

begini lho, tiap malam aku begadang sendiri
benar-benar sendiri
sayang dan dendam hanyalah terminologi
janganlah suka membatasi atau bikin definisi

hallo, hallo, lho kok putus?
tuit tuit tulalit
tulalit
tul.


2010