Tampilkan postingan dengan label new media. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label new media. Tampilkan semua postingan

02 Mei 2009

“ Chat-Room “ : Tempat “Ngerumpi” dan Ketemu Jodoh dalam Komunitas Maya (Thn. 2000)

Kurniawan Junaedhie


Seorang gadis muda Bandung bernama Nathalia, menceritakan pengalamannya bertemu calon suaminya di jagat Internet kepada psikolog Leila Ch Budiman. Waktu masih sekolah di luar negeri, begitu cerita Nathalia, secara kebetulan mereka ketemu di chat-room —itu kamar ngobrol di Internet--- yang dibuat anak-anak Indonesia di seluruh dunia sebagai tempat berkumpul.

Sebagaimana layaknya orang yang berinteraksi di chat-room, mereka kemudian terlibat obrolan. Dari situ, mereka lantas saling curhat, tukar foto, telepon-teleponan, sampai akhirnya saat summer, keduanya pulang ke Tanah Air dan janjian untuk copy darat.

“Awalnya, sih, orangtua menentang sekali,” kata Nathalia. “Mereka menganggap hubungan seperti itu sangat tidak masuk akal. Bayangkan, hanya bertemu lewat Internet, belum tahu benar sifat orang itu kok berani-beraninya bilang mau berhubungan lebih serius.”

Tetapi boro-boro jadi miris, dia malah mengaku tambah excited. “Kita seperti dibawa ke dunia lain. Kita sibuk menerka-nerka, seperti apa tampang dia, tingginya seberapa dan lain-lain. Wah, kalau mengingat-ingat kembali masa tersebut, saya selalu tersenyum-senyum sendiri, menyenangkan….” (Kompas Minggu, 19 Desember 1999)

Chat-room, atau kalau diindonesiakan menjadi bilik ngobrol di Internet, adalah sebuah komunitas imajiner di cyberspace, yang oleh Mark Slouka penulis buku terkenal "War of The Worlds: Cyberspace and the High-Tech Assault on Reality" disebut sebagai”negeri elektronik maya” Terdiri atas komunitas swadaya, tak memiliki ruangan, tak tercatat dalam sensus namun dihuni oleh orang dari seluruh penjuru dunia. Dengan segala plus-minusnya, aktivitas chatting di cyberspace bisa dibilang kini telah tumbuh menjadi fenomena tersendiri di kalangan para warga Internet di seantero dunia. Paling sedikit, berbagai survey dan penelitian yang pernah diadakan selama ini menunjukkan bahwa chatting termasuk fasilitas Internet paling populer di antara fasilitas browsing dan e-mail.

Fenomena Cyber

Mengapa komunikasi online ini melengserkan alat-alat komunikasi lain seperti intercom dan radio CB (Citizen Band) yang banyak digunakan orang sebelumnya, salah satunya karena program ini memungkinkan orang bisa ngobrol dengan banyak orang secara simultan dan dalam area yang luas (antar benua) sekaligus. Chat-room juga dianggap medium pergaulan yang pas di tengah berbagai tekanan hidup sehari-hari di kehidupan nyata ini. Juga tak ada persyaratan khusus dibutuhkan untuk ber-chatting selain Anda punya PC yang dihubungkan dengan modem, bisa memencet tombol keyboard dan punya mata yang tahan menghadapi layer PC. Persyaratan tidak ada, yang ada malah potensi ketagihan.

Maklum, bergaul di dalam komunitas virtual ini bisa jam-jaman saking asyiknya. Di antara program chat seperti Pirch dan lain-lain, mIRCH paling populer digunakan. mIRCH gampang digunakan karena berbasis teks. Artinya, pengguna cukup mengetikkan kata-kata pesan di kotak bicara dan semuanya akan berjalan dengan sendirinya.

Sebetulnya masih ada Microsoft Netmeeting yang memungkinkan orang bisa ngobrol dengan siapapun, melalui suara, gambar dan video live. Tetapi berhubung program ini membutuhkan mikrofon, speaker, soundcard serta software yang disebut CU-SeeMe, tak banyak orang menggunakannya. Juga ada ICQ di mana seseorang bisa tahu, siapa saja pada saat bersamaan sedang online yang memungkinkannya untuk mengontak mereka. Dengan program ini, selain bisa melakukan chatting, orang juga bertukar pesan atau URL secara interaktif, dan bermain games secara simultan. Repotnya, untuk terlibat dalam ICQ, orang harus mendaftar dulu, dan memiliki apa saja yang disebut UIN (Universal Internet Number).

Bagi orang yang tidak mau bersusah payah mengetahui istilah-istilah rumit, tentu saja lebih suka menggunakan apa yang disebut web chat, atau program chat yang terdapat di dalam situs-situs web seperti kafegaul, detik.com,mtv.com dan lain sebagainya.

Pendeknya, jika sekali tempo Anda ‘terbang’ ke negeri elektronik maya itu melalui—taruhlah server Internet Relay Chat (IRC) Dalnet , EfNet , Undernet atau apa saja terserah selera Anda, dan mampir ke kanal-kanal seperti #Bawel, ##Warung Pojok, #Indonesia, #WC Umum, #Bandung atau #DancePool, dipastikan Anda akan segera merasa seperti memasuki sebuah ruang diskotek. Memang tak terdengar raungan lagu-lagu disko atau hentakan orang-orang berajojing, tetapi suasana semacam itu akan segera terasa. Anda akan merasakan denyut kehidupan yang penuh bergairah muncul dari dalam sana.

Dan kalau Anda mau pasang kuping (maksudnya, membaca teks-teks pesan yang muncul di situ) maka Anda akan tahu bahwa orang-orang di dalam kamar-kamar chatting itu tengah sibuk bersenda gurau, berdebat, berbisnis, saling curhat, saling memberi nasihat, brainstorming, bermesraan, atau sekedar ngobrol tentang cuaca. Juga… banyak ‘penduduk’ Indonesianya yang cirinya menggunakan bahasa-bahasa gaul Indonesia.

Harap Anda ketahui, orang Indonesia menurut hasil penelitian yang dilakukan MasterCard International Maret lalu tercatat sebagai penghuni terbesar kedua dari kamar-kamar chatting, mengungguli rekan-rekannya dari Taiwan, dan kalah dari rekan-rekannya di Jepang.

Tak heran, seorang chatter bernama Edi Liu yang sudah mulai suka chatting sejak tahun 1994, menyebut chatting sekarang sudah menjadi bagian dari gaya hidup orang muda Indonesia. Hal ini katanya bisa dilihat dari café-café Internet yang tersebar di Jakarta, Bandung, atau Medan. Rata-rata pengunjung kafe-kafe tersebut adalah para chatters yang bisa menghabiskan waktu sekitar dua sampai delapan jam untuk chatting. Tak peduli pria atau wanita, ABG (Anak Baru Gede), mahasiswa atau orang kantoran.

Motivasi mereka untuk chatting beraneka ragam. Mulai dari sekedar ngerumpi soal film yang lagi premiere, pertandingan bola, musik yang baru di-launching samapi urusan yang agak ‘ilmiah’ seperti harga saham, atau soal budidaya kerang laut. Tetapi intinya sama, yaitu saling curhat, melepas penat, dan menghilangkan kejenuhan. Dari status sosialnya, jelas mereka datang dari kelas ekonomi menengah, yang sebetulnya memiliki PC dan modem di rumah. Bahwa mereka menyerbu ke kafe internet, itu karena di rumah dianggap kurang bebas untuk duduk berjam-jam di depan komputer, ngobrol di kamar-kamar chatting.

Popularitas chatting memang menakjubkan, mengingat samapi awal tahun 1990-an saja orang Indonesia masih terbiasa menggunakan alat komunikasi intercom dan radio CB (Citizen Band) sebagai sarana ngobrol dan mencari kenalan. Tetapi sekarang popularitas chatting bahkan sudah melebar kemana-mana. Contoh kecil saja, jika sebelum-nya warga di jagat virtual itu umumnya dihuni kaum pria, sekarang bisa dibilang kaum wanita tergolong warga chat-room yang tak bisa dibilang minoritas. Ini menyebabkan ruang-ruang imajiner itu, tidak hanya menjadi ajang ngerumpi urusan lelaki, tapi juga mulai menyediakan space untuk ajang ngobrol bagi anak-anak, kaum ABG dan kaum wanita. Bahkan---pssst!--- banyak kanal di server IRC yang dipakai kaum wanita untuk membahas dan ngerumpi soal-soal erotis.

Anonim dan Aman

Yang membuat chatting begitu cepat populer bisa jadi juga karena tak ada persyaratan khusus bagi seseorang yang ingin mencoba masuk ke bilik-bilik elektronik itu. Seseorang yang ingin nimbrung dalam komunitas itu hanya perlu menyapa: ‘hi’ atau ‘hallo’, lalu dengan segera semua penghuni yang ada di sana menghampiri, mengajak kenalan, atau ngobrol sesuka hati –selama mata Anda kuat menghadapi layer computer. Dan jika bertemu dengan orang yang cocok, bisa langsung keluar dari ruang publik itu, untuk kemudian diam-diam masuk lagi ke ruang private- melalui tombol DCC (Direct Client on Client), untuk mojok berduaan. Dan kalau di situ obrolan makin gayeng, Anda pun boleh saling tukar foto, atau alamat e-mail.

Seperti ciri kehidupan di cyberspace lainnya, setiap orang di kamar chatting dapat berpura-pura menjadi orang lain, atau bahkan menjadi beberapa orang dalam waktu bersamaan. Itu karena peraturan yang berlaku di chat-room memang mengizinkan seorang partisipan bergonta-ganti nickname atau nama samaran yang nantinya akan ditampilkan di dalam channel IRC sebagai identitas yang bersangkutan.

Akibatnya, jangan kaget bila ada seorang teman yang dikenal introvert dalam kehidupan sehari-hari, di kamar chatting berubah menjadi pria agresif yang berani menggoda lawan jenisnya, dan mengajak kawin. Atau jangan kaget, bila ada seorang cewek konservatif, tahu-tahu dengan berani mengekspresikan perasaannya secara lugas kepada lawan bicaranya yang cowok. Atau, seorang detektif menyamar sebagai gadis cilik berusia 13 tahun, guna menangkap basah seorang pria phedopilia yang dicurigai sering melakukan pelecehan seksual terhadap gadis ingusan yang suka mampir di chat room.

Bahwa akibat dari gonta-ganti nama itu, orang cenderung menjadi tak bertanggung jawab, adalah lain soal. Demikian juga adanya tudingan pakar psikologi bahwa dengan demikian ruang virtual cyberspace itu menjadi tempat orang dengan mudah kehilangan identitas, untuk sementara diabaikan. Karena justru sifat anonimitas itu yang membuat chat-room juga menjadimodel komunitas imajiner yang mengasyikkan sekaligus membuat arena pergaulan maya itu menjadi lebih hidup dan interaktif. Dan dengan sendirinya membuat para chatter merasa leluasa dan aman untuk berteriak, marah, menangis atau menggerutu. Yang terang, banyak orang yang dulu pemalu kini jadi orang yang percaya diri setelah mampir di komunitas cyberspace itu. Banyak yang merasa kemampuan bahasa Inggrisnya—salah satu bahasa yang populer digunakan di chat-room—jadi meningkat. Juga banyak chatters yang kini bisa memiliki ratusan sahabat di seluruh dunia, padahal jika di rumah bertemu tetangga pun sebatas saat membuang sampah di halaman.

Tya Latief, mahasiswi di sebuah PT di Depok, adalah salah seorang di antaranya. Kebetulan saja ia termasuk cewek gampang bergaul, maka di chat-room ia makin menambah koleksi sahabat-sahabatnya. “Teman saya jalan sekarang itu juga ketemunya di chat-room,” katanya sembari tertawa. Arena pergaulan di cyberspace juga bertambah memikat karena di sana sama sekali tak membutuhkan basa-basi melelahkan sebagaimana yang biasa dijumpai di dunia fana. Untuk mengapeli seorang kekasih, atau mendiskusikan rencana bisnis dengan para relasi, para chatters tak perlu bersolek dulu. Banyak orang kencan di ruang chatting sembari mengenakan sarung sehabis bangun tidur, belum mandi dan gosok gigi.

Ruang dan waktu yang di zaman dulu pernah menjadi kendala manusia, di ruang chatting juga praktis sudah menjadi kabur. Seorang chatter di Jakarta tanpa perlu menengok arloji, bisa kencan dengan pacarnya yang pada saat bersamaan berada di Abu Dhabi.

Fasilitas untuk mengirimkan pesan yang ada disertai berbagai simbol untuk mengekspresikan wajah dan menggambarkan keadaannya kepada lawan bicara, dan ini makin melengkapi gambaran ‘realitas’ ruangan imajiner tersebut. Dengan demikian melalui symbol-simbol yang disebut emoticon itu, Anda bisa tahu bahwa lawan ngobrol Anda sedang flu atau seorang perokok.

Di dalam chat-room memang ada aturan mainnya. Misalnya saja, jika masuk ke kamar chatting, jangan asal nyelonong aja. Sebaiknya, beri salam dulu. Atau kalau Anda mau mundur dari obrolan, jangan langsung ngibrit, sebaiknya ketik gtg alias got to go. Untuk pindah topic obrolan tulis btw alias by the way. Kalau mau memberikan nasihat, sebaiknya awali dengan kata-kata IMHO, singkatan dari In My Humble Opinion. Untuk menunjukkan Anda tertawa cukup mengetik :))), menjulurkan lidah ketik :-P, sedangkan untuk menunjukkan mulut kita menganga ketik<> atau tidak suka dengan menulis simbol “Cyberlove” dan “Cybersex”

Memang salah besar menganggap romantika kehidupan di jagat cyber hanya melulu berisi cyberlove belaka, seperti yang dialami Nathalia, meski kisah yang mirip dalam film "You’ve Got Mail" nyatanya sudah terjadi dimana-mana termasuk di Indonesia. Kafegaul, sebuah situs web populer di kalangan ABG Indonesia, pernah berhasil mempertemukan dua sejoli sampai ke pelaminan. Jika kebetulan menemukan teman kencan yang serius dan jujur, mungkin memang dunia cyber jadi terasa seperti firdaus.

Dewi, karyawati di sebuah kantor di Kawasan Kuningan, Jakarta beruntung mengalami. “Kalau saya sedang menulis laporan yang susah di kantor; dari jarak jauh dia pasti ikut menemani. Asyikkan?” kata Dewi yang mengaku kalau bekerja di kantor selalu meluangkan waktu untuk mejeng di kanal-kanal IRC.

Sialnya, di dalam komunitas imajiner itu banyak juga terjadi apa yang disebut sebagai cybersex, atau . Juga jamak terjadi penipuan, kisah sedih termasuk juga pelecehan seksual.

Juga tidak semua cyberlove berakhir dengan happy ending. Banyak dari alamat e-mail dan nama yang diberikan palsu. Ada pula yang menggambarkan dirinya seperti Robert Redford atau Cindy Crawford, padahal kenyataannya jauh berbeda.

Sudah sering diberitakan adanya gadis-gadis ingusan dirundung patah hati (beberapa di antaranya nyaris bunuh diri) gara-gara jatuh cinta pada ‘seseorang’ yang ditemuinya di chat-room ternyata adalah seorang wanita yang menyamar jadi pria. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa di dalam pergaulan virtual itu pun sesungguhnya ekses yang diperoleh tetap beneran. Tak aneh gaya hidup chatting banyak juga menjadi sorotan. Para psikolog menganggap komunitas cyberspace itu merupakan ‘tempat yang bagus’ untuk memiliki jiwa yang terbelah (divided self), atau krisis identitas karena penghuninya bisa menjadi orang lain dan beberapa orang berbeda dalam waktu bersamaan.

Kecenderungan orang ngobrol soal-soal erotis, atau bertukar gambar porno melalui chat-room, juga sering mendapat kritikan. “Apalagi yang dibahas di ruang-ruang gelap itu, kalau bukan soal seks,” kata seorang psikolog terkenal di Jakarta yang tak mau disebut namanya.

Yang paling sering dikutip di mana-mana adalah kritikan Kimberly Young, penulis buku "Caught in the Net: How to Recognize the Signs for Recovery" yang mengingatkan ancaman bahaya ketagihan Internet. Dia menuding bahwa mereka yang rentan terkena ketagihan Internet adalah para penderita depresi. Di samping itu Young juga menganggap berjam-jam di Internet bisa mengganggu pekerjaan kantor dan merusak hubungan keluarga.

Tentu saja, tudingan itu dibantah beramai-ramai oleh para chatter. Mereka menganggap masuk ke bilik elektronik imajiner itu justru merupakan sarana untuk mengekspresikan diri. “Saya mungkin ketagihan, tapi saya mendapat banyak keuntungan dari situ: teman-teman dan pengetahuan,” ujar seorang chatter yang setiap bulan mengeluarkan hampir Rp 1 juta untuk membayar pulsa teleponnya.

Para penggemar cybersex dan cyberorgasm berkilah, bahwa semua tergantung dari sisi mana memandangnya. “Kalau dipandang sebagai having fun, cybersex bisa mengusir stress dengan masturbasi, kalau dari sisi pengetahuan bisa konsultasi langsung dengan sex therapist. Bagi saya semuanya positif, asal digunakan secara benar,” kata salah seorang pemujanya.

Dan nyatanya, chat-room, komunitas imajiner itu tetap marak. Setiap hari ditaksir ada jutaan orang di dunia, entah di kantor atau di kafe internet, pulang kerja atau pulang sekolah, yang rajin menyalakan komputer untuk berduyun-duyun menyelinap masuk ke dalam alam pergaulan maya itu untuk menikmati kehidupan demokratis, terbuka, aman, dan menyenangkan. Bak kehidupan sosial sehari-hari, wajar kata mereka, di situ ada pertengkaran, selingkuh, cekcok, selain asmara, persahabatan dan senda gurau. *


• Kurniawan Junaedhie, wartawan Kompas Cyber Media


Dimuat Kompas Edisi Khusus terbitan 28 Juni 2000, kemudian dimuat dalam buku "INDONESIA ABAD XXI Di tengah Kepungan Perubahan Global" (Editor: Ninok Laksono), Penerbit Harian Kompas, Jakarta, Agustus 2000


Catatan penulis: Sebetulnya naskah ini --seperti naskah2 saya yang lain-- sudah saya lupakan. Namun ketika membaca ulang kembali, betapa takjubnya saya, karena ternyata perkembangan teknologi informasi yang terjadi di dunia ini pesat sekali. Bayangkan, hanya dalam waktu 7-8 tahun saja, chatting menjadi hal kuno yang menggelikan hati, digantikan blog, dan kemudian facebook yang kini menjadi sebuah fenomena tersendiri bagi warga dunia. Dan selebihnya, saya kira, tidak ada jeleknya artikel ini saya simpan di sini, sekadar sebagai upaya dokumentasi.

28 April 2009

iNews dan E-book Selamatkan Koran?

Wednesday, March 25, 2009
iNews dan E-book Selamatkan Koran?

Surutnya era surat kabar di berbagai penjuru dunia telah banyak diwacanakan, antara lain ditandai oleh surutnya pendapatan iklan dan jumlah pelanggan, lebih-lebih dari kalangan muda. Tak bisa disangkal lagi bahwa generasi muda yang juga dikenal sebagai Generasi Digital atau Generation C lebih menyukai peralatan (gadget) untuk mendapatkan informasi.

Menghadapi era transisi atau era baru ini, berbagai pendapat masih saling adu kuat, antara yang masih percaya akan kelangsungan hidup surat kabar dan yang yakin bahwa media yang pernah sangat berpengaruh ini satu hari nanti akan punah.

Hari-hari ini, tokoh besar media seperti Rupert Murdoch berada dalam kebimbangan besar. Sesaat sebelum resesi marak, Murdoch membeli Dow Jones yang menerbitkan koran The Wall Street Journal senilai 5 miliar dollar AS (sekitar Rp 60 triliun). Itu karena Murdoch dikenal sebagai sosok yang punya kelekatan kuat terhadap surat kabar (meski ia juga diakui sebagai mogul multimedia abad ke-21). Tetapi, kini ketika surat kabar mengalami kemunduran paling buruk semenjak Depresi (Besar tahun 1930-an), analis media di Miller Tabak, David Joyce, sempat mendengar dari para investor bahwa News Corp (konglomerasi media milik Murdoch) boleh apa saja, kecuali koran (IHT, 24/2).

Tantangan terhadap media cetak memang sungguh hebat. Orang membandingkan, mengapa media ini tak setahan TV, misalnya. Bahkan, ketika orang sudah banyak menghabiskan waktu di depan layar internet, atau juga di layar video, tidak sedikit pula yang masih terus bertahan di depan layar TV. Sayangnya, dalam pertempuran di antara layar-layar tersebut, media cetak tertinggal di belakang (Print media losing in a world of screens, IHT, 9/2).

Berbagai ide dan upaya telah dilontarkan untuk menyelamatkan surat kabar. Satu problem yang disadari ketika surat kabar masih diharapkan terus menjadi sumber keuntungan adalah bahwa akan ada kesulitan yang melilit. Penjelasan ini bahkan muncul ketika versi online koran sangat berpengaruh seperti The New York Times sudah amat maju, dengan pengakses unik 20 juta. Penyebabnya adalah penghasilan dari online hanya mampu mendukung 20 persen kebutuhan stafnya.

Menghadapi defisit ini, diusulkan ada pengerahan dana abadi (endowment) bagi institusi media cetak sehingga mereka terbebaskan dari kekakuan model bisnis, dan dengan itu media cetak tetap punya tempat permanen di masyarakat sebagaimana kolese dan universitas. (Lihat pandangan David Swensen, Chief Investment Officer di Yale, dan Michael Schmidt, seorang analis finansial, di IHT, 31/1-1/2.)

Dukungan teknologi
Sebelum ini, salah satu pemikiran yang banyak dikemukakan untuk meloloskan media cetak dari kepungan media baru adalah dengan bergerak ke arah multimedia sehingga berita tidak saja disalurkan untuk koran, tetapi juga untuk media lain, dari radio, TV, hingga internet dan mobile/seluler. Ini selaras dengan realitas baru, di mana pencari berita memang dari kalangan pengguna media noncetak dan media baru. Paham pun beranjak dari pembaca (readership) ke audiens. (Ini pada satu sisi juga akan membebaskan pengelola surat kabar dari tekanan meningkatkan oplah yang semakin sulit.)

Dalam kaitan ini pula muncul sejumlah inisiatif yang diharapkan mampu mempertahankan eksistensi surat kabar. Dua di antara inisiatif teknologi yang dimajukan untuk berkembang, dan seiring dengan itu bisa membantu surat kabar, adalah iNews (berita melalui perangkat internet) dan e-book (buku elektronik).
iNews

Sebelum ini, salah satu model bisnis untuk mengangkat industri musik adalah melalui apa yang dilakukan Apple dengan toko musik online-nya yang terkenal, iTunes, yang tahun lalu menjual 2,4 miliar track (lagu).

Yang disediakan oleh Apple kemarin ini adalah antarmuka pengguna yang mudah digunakan dan kerja sama luas dengan perusahaan musik. Dengan itu, petinggi Apple, Steve Jobs, bisa membantu bisnis (industri musik) yang nyaris ambruk akibat maraknya aktivitas bertukar lagu (file sharing). Memang dengan itu Apple dituduh mengerdilkan merek besar. Tetapi, itu tetap ada baiknya karena toh perusahaan musik yang dikerdilkan tadi masih tetap hidup sampai kini.

Pengelola bisnis surat kabar pun bisa waswas bahwa Apple bisa melakukan hal yang sama terhadap mereka. Caranya juga sama, meyakinkan jutaan pembaca yang tertarik, yang selama ini mendapatkan berita secara gratis melalui situs surat kabar—seperti kompas.com—untuk membayar.

Pilihan ini memang tampak lebih ditujukan untuk menyelamatkan institusi pers karena manakala pendapatan merosot, yang terancam bukan hanya perusahaan yang memiliki koran, tetapi juga berita yang dihasilkannya (David Carr, Could an iNews rescue papers?, IHT, 13/1)
Ide mencari bantuan juga dilakukan sejumlah media lain karena jelas ”gratis bukan sebuah model (bisnis)”. Cook’s Illustrated yang punya resep segudang dilanggan oleh 900.000 orang dan ecerannya mencapai 100.000. Selain itu, perusahaan ini punya 260.000 pelanggan online yang membayar 35 dollar AS per tahun. Pertumbuhannya mencapai 30 persen tahun 2008.

Di luar itu, tetap harus diakui, paham gratis masih dominan di dunia maya. Yang piawai tentu Apple, yang bisa membujuk pembeli gadget-nya untuk mau membayar musik yang dibeli. Jobs melihat musik sebagai bisnis perangkat lunak untuk memacu penjualan iPod dan iPhone. Bisnis musik tidak sepenuhnya senang dengan itu, tapi terbukti bisa membujuk pendengar membayar isi (lagu) untuk perangkatnya.
Dengan alam pikir ini pula dipikirkan gadget yang juga bisa diterapkan untuk koran. Misalnya iPod touch yang akan diluncurkan musim gugur tahun ini, dengan ukuran layar 18 sampai 23 cm.

Untuk e-book ada strategi lain. Amazon, yang sebelum ini telah membuat alat pembaca buku elektronik bernama Kindle, belum lama ini mengatakan bahwa selain dengan Kindle, buku elektronik juga akan bisa dibaca dengan smart-phone. Plastic Logic, pembuat alat e-reader lain, kini juga telah membuat persetujuan dengan sejumlah majalah dan surat kabar (The Economist, 14-20/2).

Skenario serupa seperti diuraikan di atas untuk iNews—yakni dengan pembundelan pemasaran antara alat dan isi (content) diharapkan bisa diterapkan—untuk alat-alat pembaca e-book ini. Dengan itu, meski koran dalam wujud tradisionalnya surut, lembaganya diharapkan bisa tetap lestari.

penulis:NINOK LEKSONO

Mengapa Banyak Koran Baru

SELASA, FEBRUARI 10, 2009
Mengapa Banyak Koran Baru
JAWA POS, Senin, 9 Februari 2009

Di zaman bikin surat kabar atau majalah tidak perlu izin apa pun seperti sekarang ini, apa sajakah motif seseorang menerbitkan surat kabar atau majalah? Coba kita inventarisasi kemungkinan-kemungkinan motif di baliknya:

1. Idealisme (menegakkan keadilan, kebenaran, membela si lemah, menyuarakan kepentingan umum, menegakkan demokrasi, dan sebagainya).

2. Bisnis (mengharapkan bisa menjadi lembaga bisnis, kecil maupun besar).

3. Politik (sebagai alat membela dan memperjuangkan aliran politik).

4. Agama (untuk menyiarkan ajaran agama).

5. Kepentingan sesaat (ingin dekat penguasa atau ingin jadi penguasa, mulai bupati/wali kota, gubernur, dan seterusnya).

6. Coba-coba.

7. Digoda/''dihasut'' orang lain (terutama oleh para mantan wartawan).

8. Menyalurkan hobi.

9. Belum ada pekerjaan lain (umumnya dilakukan oleh anak orang kaya yang baru pulang sekolah dari luar negeri).

10. Ngobyek (untuk mencari penghidupan kecil-kecilan dengan asumsi akan ada saja orang yang takut kepada pers dan karena itu bisa diminta/diperas uangnya. Termasuk di kelompok ini adalah pers sebagai alat untuk mencari proyek).

Mungkin masih ada motif yang lain, namun mungkin hanya gabungan di antara yang 10 itu. Misalnya, gabungan antara idealisme dengan bisnis. Secara idealisme tercapai, secara bisnis juga amat menguntungkan. Atau idealisme dengan pemerasan. Idealisme penerbitnya adalah memberantas korupsi di muka bumi Indonesia, jalan yang ditempuh adalah memeras para koruptor.

Tapi kalau saya amati, sumber terbesar yang menyebabkan munculnya banyak sekali surat kabar atau majalah baru adalah kalangan wartawan. Kira-kira bisa kita kelompokkan seperti ini:

1. Wartawan idealis. Yakni wartawan yang merasa idealismenya tidak tersalurkan di surat kabar tempatnya bekerja. Dia atau mereka merasa policy surat kabar/majalah tempatnya bekerja terlalu komersial yang lebih mementingkan aspek bisnis. Atau pemilik surat kabar/majalah sering memanfaatkan korannya untuk mencari obyekan bisnis atau jabatan politik untuk keuntungan pribadi sang pemilik. Wartawan jenis ini, setelah merasa mendapat nama kemudian memilih keluar, menjadi investor atau mencari investor untuk mendirikan media baru.

2. Wartawan yang merasa sudah pintar. Wartawan jenis ini merasa dirinya sudah sangat pintar melebihi si pemilik media tempatnya bekerja, atau melebihi pemimpin redaksinya. Dia merasa dirinya hebat sekali. Lalu merasa sudah semestinya menjadi pemimpin. Mereka lalu mencari-cari investor.

3. Wartawan yang tidak puas karena sistem kerja dan sistem penggajian di tempat asalnya. Di antara mereka ada yang memang benar-benar diperlakukan tidak adil oleh perusahaannya. Tapi, ada juga yang sebenarnya dia sendiri saja yang merasa diperlakukan tidak adil. Tipe wartawan seperti ini umumnya berusaha pindah dulu ke media lain, tapi tidak jarang juga (karena media lain sudah penuh), langsung mencari investor untuk membuat media baru.

4. Wartawan ingin maju. Yakni wartawan yang benar-benar memang ingin maju, dan merasa dirinya mampu. Lalu, setelah mendapat pengalaman cukup di tempatnya bekerja, dia mencoba membuat media sendiri.

5. Wartawan yang pensiun. Setelah lama jadi wartawan, lalu pensiun, maka rasa rindunya akan dunia pers tidak akan tertanggungkan. Mereka ini juga merasa sangat mampu dan terutama merasa sangat berpengalaman. Mereka ini umumnya juga lantas mencari investor dengan mengandalkan pengalamannya itu.

6. Wartawan yang di-PHK. Mereka ini jumlahnya tidak sedikit dan keinginannya untuk tetap bekerja di pers sangat besar. Maka mereka pun akan cari investor untuk membuat media sendiri.

7. Calon wartawan yang sudah magang di media dan kemudian tidak bisa bekerja di media itu. Lalu mencari investor juga.

8. Wartawan percobaan, yakni mereka yang mula-mula direkrut oleh sebuah media, tapi kemudian tidak lulus masa percobaan terakhir. Mereka ini telanjur merasa jadi wartawan dan merasa menjadi orang pers. Maka mereka ini juga bisa cari investor.

Jadi, kalau selama ini banyak orang pers yang ngedumel mengapa begitu banyak orang yang tidak tahu pers tiba-tiba masuk ke bisnis pers, sebenarnya banyak di antara mereka sendiri mulanya tidak ada minat masuk ke pers sama sekali. Mereka umumnya ''hanya'' sumber berita yang pernah dikenal si wartawan, kemudian diincar untuk jadi investor.

Tentu si investor sendiri sebenarnya lebih banyak menjadi ''korban'' rayuan atau ''hasutan'' para wartawan di atas. Tentu ada juga beberapa di antaranya yang akhirnya menikmati sebutan sebagai orang pers atau raja pers. Bahkan, anak istri mereka yang semula tidak ada yang tahu apa itu pers, tiba-tiba menjadi pemimpin umum atau pemimpin redaksi.

Mengapa banyak investor yang berhasil dirayu atau ''dihasut'' oleh para wartawan atau mantan wartawan?

1. Umumnya mereka tidak tahu sama sekali realitas dunia pers. Mereka umumnya hanya pembaca koran yang di dalam benaknya sering mengagumi orang koran.

2. Mereka punya uang atau punya aset (kantor/gedung/mesin/komputer) yang bisa dimanfaatkan sehingga kelihatannya hanya memanfaatkan aset yang sudah ada.

3. Mereka umumnya merasa punya network yang akan bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan koran/majalahnya.

4. Mereka umumnya mengerti manajemen sehingga merasa kemampuan manajemennya akan cukup untuk mengatasi manajemen koran/majalah.

5. Mereka umumnya hanya merasa lemah di redaksional dan kini bagian yang lemah itu sudah diisi oleh orang yang merayunya.

6. Mereka tergiur oleh rayuan/"hasutan" dari para wartawan itu karena biasanya si wartawan membawa alasan yang sangat menarik.

Alasan apa saja yang dipakai wartawan untuk merayu investor?

1. Koran/majalah adalah bisnis yang menarik, bisa untung secara cepat, bisa membuat investor terkenal, gengsi investor naik dan akan bisa dekat dengan orang-orang penting (tidak jarang si investor kemudian memang minta tolong si wartawan untuk mendekati pihak-pihak yang diincar).

2. Akan mudah mencari pelanggan karena isinya akan dibuat sedemikian rupa menariknya (umumnya disertai dengan penilaian si wartawan akan jeleknya mutu jurnalistik koran-koran yang ada, terutama di tempatnya bekerja dulu).

3. Akan mudah mencari iklan, karena iklan ini sangat menggiurkan. Lalu menyebut berapa penghasilan iklan koran seperti Kompas atau Jawa Pos. Si investor pun mulai mabuk dan membayangkan akan bisa mendapatkan sebagian dari kue besar itu.

4. Perayu berjanji kerja sekeras-kerasnya. Mereka ini ada yang dulu memang pekerja keras, tapi ada juga yang dulu pun tidak pernah mau bekerja keras.

5. Kalau si wartawan dulu bekerja di koran yang maju, dia akan mengatakan kepada investor bahwa dialah yang membuat koran itu dulu maju.

6. Kalau si wartawan dari koran yang tidak maju, dia akan mengatakan kepada investor bahwa manajemennya tidak bagus dan selalu menolak ide-ide yang diperjuangkannya.

7. Biasanya juga menawarkan tim yang sudah jadi dan dipromosikan sebagai tim yang kuat dan andal. Kalau tim itu dibentuk dari koran yang akan disaingi, akan disebutkanlah bahwa ''kita'' akan gampang merebut pasarnya karena tim andalannya sudah hilang.

Banyaknya koran/majalah baru dalam kurun sembilan tahun terakhir ini adalah satu kenyataan yang sah. Namun, banyaknya koran/majalah baru tersebut juga akan membuat semakin banyak eks-wartawan. Artinya, juga akan semakin banyak memproduksi para perayu ulung. Dan akhirnya masih akan banyak sekali investor yang diincar. Memang banyak sekali investor yang sudah mulai ''insaf'', tapi masih akan lebih banyak lagi investor yang menyediakan diri untuk ''tergoda''.

Sebagai ketua umum SPS atau Serikat Penerbit Surat Kabar (Majalah) yang baru saja terpilih, saya lagi mikir-mikir: apakah apa pun motif surat kabar/majalah itu didirikan semua harus dibina? Mulai kongres yang akan datang, pemilik suara di kongres tidak lagi hanya pengurus cabang-cabang SPS. Pemilik suara di kongres adalah para penerbit itu semua! Dengan demikian, kongres SPS yang akan datang akan sangat seru! Pertengahan tahun ini SPS mengadakan jambore atau konvensi penerbit. Kalau seluruh penerbit, apa pun motifnya, hadir di jambore itu, begitu pulalah gambarannya Kongres SPS yang akan datang! (Dahlan Iskan)

http://www.jawapos.com/halaman/index.php?act=detail&nid=51307

Dunia "Tersihir" Facebook

Sunday, March 15, 2009
Dunia "Tersihir" Facebook
Demam facebook sedang melanda. Orang seperti keranjingan berbagi informasi, rasa, canda, tawa, hasrat, ekspresi, dan impian lewat jaring sosial di dunia maya ini. Bahwa di dunia nyata sehari-sehari mereka tidak saling menyapa, itu persoalan lain. Beginilah cara paling modern generasi sekarang memelihara relasi sosial dan kekerabatannya.

Tengoklah situs apa yang sedang dibuka teman atau kerabat Anda? Boleh jadi, jawabannya facebook (fb). Ya, situs jaringan sosial di internet ini, sekarang, sedang amat populer. Anak sekolah, mahasiswa, karyawan, hingga ibu rumah tangga terutama di kota-kota besar menggunakan facebook.

Tidak hanya menggunakan, sebagian orang bahkan sudah dalam tahap keranjingan fb. Salah satunya adalah Priscilla F Carlita, karyawan swasta. Sejak bangun tidur, gadis cantik ini langsung membuka fb. Ketika tiba di kantor, dia membuka lagi fb-nya hingga waktu pulang kantor tiba. Sambil bekerja, sesekali dia melirik pesan dan komentar baru yang masuk lewat fb.

Sesampai di rumah, Priscilla kembali membuka situs itu sekadar untuk mengintip aktivitas sebagian dari 1.600 lebih teman di situs itu. ”Rasanya, ada yang kurang kalau enggak membuka fb. Gue bisa kehilangan informasi mengenai teman-teman,” kata Priscilla, yang bergabung dengan situs itu sejak enam bulan lalu.

Daya tarik
Apa sebenarnya daya tarik fb? Linda Fitriesti, PR Trans7, mengatakan, di situs itu dia bisa melihat foto, ekspresi, dan mengetahui aktivitas teman-temannya. ”Biasanya, gue akan memberikan komentar-komentar gokil. Kalau mereka membalas, gue senang banget. Rasanya, gue eksis,” ujarnya, Rabu, sambil tertawa.

Di situs ini Anda memang bisa melihat dan dilihat orang, mengetahui dan diketahui orang, mengomentari dan dikomentari orang tanpa ada yang melarang. Hasrat narsistik setiap orang pun benar-benar bisa terlampiaskan. Tengoklah foto-foto seperti apa yang dipasang pengguna fb. Kalau bukan foto keluarga dan teman-teman lama, mereka hampir pasti menyisipkan foto nampang di luar negeri atau pada momen-momen spesial.
Karena itu, momen seperti Axis Jakarta International Java Jazz Festival 2009, yang bertabur bintang luar negeri dan harga tiketnya selangit bagi kebanyakan orang, menjadi amat penting bagi sebagian pengguna fb. Ketika Matt Bianco tampil di ajang ini pekan lalu, seorang perempuan penonton memotret dirinya menggunakan Blackberry dengan latar belakang aksi grup jazz kaliber dunia itu.

Setelah selesai, saat itu juga dia langsung mentransfer foto itu ke dinding fb-nya. Kepada teman di sebelahnya dia berkata, ”Gue kasih komentar, ’Gue nonton Matt Bianco, bo!’”

Tengok pula pesan-pesan yang ditulis di dinding fb. Hampir semuanya masalah remeh-temeh. Putri (26), ibu rumah tangga di Ciputat, misalnya, menulis pesan yang isinya sekadar mengabarkan bahwa dia sedang deg-degan menunggu apakah adonan kue donatnya akan mengembang atau bantat. Di Aceh, Mahdi mengabarkan, dirinya sedang menghangatkan makanan kiriman ibunya. Di Bekasi, Herry mengabarkan sedang minum kopi.
Pesan Herry itu dikomentari seorang teman: ”Busyet, pagi-pagi udah ngopi. Kopinya apaan?” ”Mau tau aja lu,” balas Herry.

Namun, banyak pula status yang serius dan berbau propaganda. Haris Rusli, seorang aktivis, menulis, ”Gulingkan SBY....” Dan seorang teman berkomentar, ”Setelah gulingkan SBY, lalu gulingkan aku dong....”

Haris belingsatan. ”Wah, aku gak kenal tuh cewek, bisa bahaya,” kata Haris yang belum lama menikah ini. Ia pun buru-buru menghapus nama cewek itu dari daftar temannya.

Komunikasi baru
Begitulah. Seremeh-temeh apa pun yang dibicarakan orang di fb, situs ini terbukti sukses menjadi media komunikasi baru yang sanggup merajut relasi sosial. Proses terbentuknya jaring sosial dan persahabatan di fb berlangsung cepat. Di fb, orang tak hanya mencari, tetapi juga dicari.

Hal ini dirasakan Esther (44). Tiga bulan lalu, karyawan swasta ini belum tahu alamat teman-teman lamanya. Setelah bergabung di fb, tiba-tiba saja teman-teman SMA, SMP, SD, bahkan TK-nya bermunculan.

”Saya nyaris tak percaya. Sekarang saya tahu mereka lagi ngapain aja,” katanya. Esther dan teman-teman SMA yang terpisah sejak 25 tahun lalu itu pun menggelar reuni di Jakarta pekan lalu. Sabtu kemarin giliran dia dan teman-teman SMP-nya menggelar reuni.

”Saya sedang ngumpulin teman-teman SD untuk reunian. Kalau perlu, teman TK juga, ha-ha-ha,” ujarnya, riang.

Umar Ibnu (39), dosen warga Ende, Nusa Tenggara Timur, mulanya enggan bergabung dengan fb. Koneksi internet di daerahnya sering kacau dan hanya ada lima warung internet di kotanya. Namun, atas saran teman, ia pun mendaftar. ”Asyik juga, ternyata banyak yang mencari-cari saya. Sekarang, saya tak sabar untuk membuka fb di kantor. Maklum, gak ada internet di rumah,” katanya.

Tidak semua kisah tentang fb menyenangkan. Tengok pengalaman Adhi (33), seorang manajer perusahaan konstruksi di Jakarta, akhirnya memutuskan menutup fb-nya karena menjadi pangkal percekcokan dengan sang pacar. ”Awalnya menyenangkan, tetapi lama-lama menjadi pangkal masalah. Dia cemburu kalau saya menyapa teman-teman cewek saya, saya juga gak terima dia berakrab-akrab dengan teman cowoknya,” ujar Adhi.

Menurut dia, yang paling sering menjadi pangkal masalah adalah tulisan di dinding atau komentar terhadap status. ”Orang sering tidak sadar bahwa tulisan di dinding atau komentar itu bisa dibaca semua orang, jadi kalau dia menyapa teman cowoknya dengan panggilan mesra, teman-teman saya suka berpikir tidak enak,” tuturnya.
Akhirnya, ia dan pacarnya sepakat untuk sama-sama menutup fb. ”Manfaatnya tidak signifikan. Toh sebelum ini saya juga bisa hidup tanpa fb,” tukasnya.

Jadi, fb hanyalah sebuah sarana, pahami aturan mainnya. Dan jangan lupa untuk tetap menyapa orang di dunia nyata. (Dahono Fitrianto/Susi Ivvaty)
Sumber: Budi Suwarna, kompas cetak (Minggu, 15/03/2009)

Karakteristik Journalisme Online -Sebuah Pengenalan

Karakteristik Journalisme Online -Sebuah Pengenalan
Oleh Yayan Sopyan
Jumat, 06 Juli 2001

Yang terlintas di benak kita ketika mendengar istilah jurnalisme online adalah situs-situs berita popular baik lokal maupun internasional: CNN.com, MSN.com, detik.com, kompas.com dan lainnya. Yang hampir semuanya adalah situs-situs web. Selama ini -sadar atau tidak- kita hanya memahami online dalam artian ditampilkan di sebuah situs web. Padahal 'online' mencakup berbagai tempat perkara (venue): web, email, bulletin board system (BBS), IRC, dan lainnya.

Tapi tentu bukan tanpa alasan bahwa kebanyakan jurnalisme online saat ini diselenggarakan di web. Dari sekian venue di Internet, web merupakan venue yang memungkinkan penyelenggara jurnalisme online untuk menyediakan isi dengan features yang sangat kaya dengan cara paling gampang. Namun, ini tidak berarti bahwa tak ada venue lain yang dapat dipakai untuk menyelenggarakan jurnalisme online di Internet.
Jurnalisme online menjadi berbeda dengan jurnalisme tradisional yang sudah dikenal sebelumnya (cetak, radio, TV) bukan semata-mata karena dia mengambil venue yang berbeda; melainkan karena jurnalisme ini dilangsungkan di atas sebuah media baru yang mempunyai karakteristik yang berbeda -baik dalam format, isi, maupun mekanisme dan proses hubungan penerbit dengan pengguna/pembacanya.

Karekteristik jurnalisme online yang paling terasa -meski belum tentu disadari- adalah kemudahan bagi penerbit maupun pemirsa untuk membuat peralihan waktu penerbitan dan pengaksesan. Penerbit online bisa menerbitkan maumpun mengarsip artikel-artikel untuk dapat dilihat saat ini maupun nanti. Ini sebenarnya dapat dilakukan oleh jurnalisme tradisional, namun jurnalisme online dimungkinkan untuk melakukannya dengan lebih mudah dan cepat.

Karakteristik jurnalisme online yang paling popular adalah sifatnya yang real time. Berita, kisah-kisah, peristiwa-peristiwa, bisa langsung dipublikasikan pada saat kejadian sedang berlangsung. Ini barangkali tidak terlalu baru untuk jenis media tradisional lain seperti TV, radio, telegraf, atau teletype. Namun dari sisi penerbit sendiri, mekanisme publikasi real time itu lebih leluasa -tanpa dikerangkengi oleh periodisasi maupun jadwal penerbitan atau siaran: kapan saja dan dimana saja selama dia terhubung ke jaringan Internet maka ia mampu mempublikasikan berita, peristiwa, kisah-kisah saat itu juga. Inilah yang memungkinkan para pengguna/pembaca untuk mendapatkan informasi mengenai perkembangan sebuah peristiwa dengan lebih sering dan terbaru.

Menyertakan unsur-unsur multimedia adalah karakteristik lain jurnalisme online, yang membuat jurnalisme ini mampu menyajikan bentuk dan isi publikasi yang lebih kaya ketimbang jurnalisme di media tradisional. Karakteristik ini, terutama sekali, berlangsung pada jurnalisme yang berjalan di atas web.

Selain itu, jurnalisme online dapat dengan mudah bersifat interaktif. Dengan memanfaatkan hyperlink yang terdapat pada web, karya-karya jurnalisme online dapat menyajikan informasi yang terhubung dengan sumber-sumber lain. Ini berarti, pengguna/pembaca dapat menikmati informasi secara efisien dan efektif namun tetap terjaga dan didorong untuk mendapatkan pendalaman dan titik pandang yang lebih luas -bahkan sama sekali berbeda.

Interaktivitas jurnalisme online tentu bukan hanya didukung oleh kemampuan teknologi Internet dalam menyediakan hyperlink. Teknologi Internet juga membuka peluang kepada para jurnalis online untuk menyediakan features yang memungkinkan sajiannya bersifat customized -tersaji sesuai dengan preferensi masing-masing pengguna/pembacanya; yang memungkinkan para pengguna/pembaca berinteraksi dengan lebih cepat, lebih sering, lebih intens dengan sesama pengguna/pembaca, narasumber, bahan-bahan berita, dan jurnalisnya sendiri. Ujung-ujungnya, jurnalisme online mampu membangun hubungan yang partisipatif dengan pemirsanya.
Dari karakakteristik-karakteristik tersebut di atas tersirat bahwa jurnalisme online membutuhkan penanganan yang berbeda dalam penyelenggaraannya dan dinikmati dengan cara yang berbeda oleh para pengguna/pemirsanya ketimbang jurnalisme tradisional.
Dalam jurnalisme tradisional, tata-tutur informasi -misalnya- disajikan secara linear kepada para pembaca/pemirsanya. Pemirsa/pembaca jurnalisme tradisional tidak bisa tidak harus mengikuti urut-urutan informasi yang telah ditentukan sebelumnya oleh penerbitnya: Dari kisah satu ke kisah kedua lalu ke kisah ketiga dan seterusnya -tanpa bisa melakukan lompatan.

Tapi dalam jurnalisme online, tata-tutur informasi dapat disajikan sedemikian rupa secara non-linear untuk mengakomodasi 'kebebasan' pengguna/pemirsanya: Anda dapat mulai menikmati publikasi online dari kisah tearkhir lalu melompat ke kisah sebelumnya atau ke kisah yang pernah dipublikasi sekian tahun sebelumnya -bahkan ke sumber informasi yang sama sekali lain di tengah-tengah proses penikmatan informasi.
Apa yang disebut 'kebebasan memilih' dalam media online, sebetulnya bukanlah sebuah kebebasan pilihan yang sejati melaikan ilusi memilih; sebab pada dasarnya jurnalis atau penerbit online telah terlebih dahulu menentukan opsi-opsinya (dalam prakteknya dapat berupa rujukan dengan menggunakan hyperlink). Inilah salah satu aspek yang membuat jurnalisme online dapat menyajikan informasi lebih kaya ketimbang jurnalisme tradisional.

Sementara itu, misal yang lain, tampilan akhir dari produk jurnalisme tradisional lebih banyak ditentukan oleh rancangan dan bahan yang disediakan oleh penerbitnya; sedangkan pada produk jurnalisme online, perlengkapan (device) dan preferensi yang diset dan dimiliki oleh penggunalah yang banyak menentukan tampilan akhir produk sehingga bisa jadi tampilan produk akhir jurnalisme online berbeda-beda di depan masing-masing pengguna/pemirsanya.

Dan sampai saat ini, secara fisik, ukuran-ukuran device yang tersedia untuk mengakses informasi secara masih cukup besar dan tidak nyaman untuk dicangking ke berbagai tempat. Anda dapat menikmati novel atau koran sambil tiduran, menonton berita TV sambil leyeh-leyeh di karpet, atau mendengarkan talk show dari sebuah stasiun radio sambil jalan-jalan dengan pesawat walkman di saku Anda. Itu semua, pada saat ini, tak dapat dilakukan ketika memirsa karya jurnalistik online: orang harus duduk di depan komputer atau membaca teks di layar sempit pesawat selular maupun PDA (personal Data Assistant) yang mampu-WAP. Meski bukan tidak mungkin di masa depan akan ditemukan device baru yang akan memberikan kenyaman yang lebih baik untuk memirsa informasi secara online.

Di luar device pengguna, jurnalisme online -seperti halnya bentuk-bentuk komunikasi lain yang memanfaatkan media digital online- berhadapan dengan kondisi infrastruktur yang tersedia dalam jaringan komputer. Besarnya bandwidth, routing dan kualitas media jaringan komputer juga merupakan variable yang menentukan kualitas komunikasi antara device pengguna dengan device penerbit.

Di samping sosiologi pengguna sasaran, faktor-faktor yang saya sebut di atas merupakan beberapa variable yang harus diperhitungkan dalam mendesain format tampilan maupun isi serta arsitektur informasi yang akan disajikan.
***
Disampaikan dalam Workshop Media Online LPPM biRU FPIK IPB 6 Juli 2001)

Media Tradisional Vs "New Media" Transisi di Asia

RABU, MARET 25, 2009
Media Tradisional Vs "New Media"
Transisi di Asia

Rabu, 25 Maret 2009 04:44 WIB
Oleh Myrna Ratna

Naiklah kereta bawah tanah di Tokyo. Sepuluh tahun lalu, hampir sebagian besar penumpangnya, baik tua dan muda, tepekur membaca buku, majalah, surat kabar, dan komik. Kini yang ada di tangan mereka adalah handphone, i-pod, note-book. Inilah generasi paperless….

Media tradisional, khususnya cetak, sedang menghadapi cobaan berat. Kehadiran media baru (new media), seperti internet, telepon genggam, i-pod, radio satelit, dan munculnya sebuah generasi yang berbeda dalam mengonsumsi informasi telah memaksa media cetak untuk berpikir keras menata kembali posisinya agar tetap relevan bagi konsumennya.

Datangnya era jurnalisme warga (citizen journalism) juga memaksa media tradisional mengubah pola pikir sebagai satu- satunya alternatif penyampai ”kebenaran”. Namun, tantangan terberat berikutnya adalah datangnya krisis ekonomi global. Bagi media cetak, harga kertas impor terus membubung, pemasukan iklan menurun drastis, dukungan distribusi semakin mahal, sementara sirkulasi umumnya stagnan, kalau tidak anjlok.

Bila dianalogikan dengan badai, inilah ”badai sempurna” (perfect storm) bagi industri media cetak ketika tiga gelombang menghantam sekaligus. Korban pun berguguran. Bangkrutnya sejumlah surat kabar besar di Amerika Serikat menjadi sinyal yang memilukan. Semua ini memunculkan pertanyaan, akan seperti apakah nasib media tradisional, khususnya media cetak Asia. Yang lebih penting lagi, akan seperti apakah wajah jurnalisme di masa depan.

Inilah salah satu topik hangat yang dibahas dalam Simposium Wartawan Asia yang berlangsung di Tokyo, 18 Maret lalu, yang diselenggarakan Departemen Luar Negeri Jepang dan disponsori Televisi Publik NHK serta harian Yomiuri Shimbun. Simposium yang bertajuk ”Development of Fundamental Values and Journalism: Past, Present and Future, Achievements and Prospects of the Media”, itu dihadiri panelis dari India, Korea Selatan, Jepang, dan Indonesia, dengan ketuanya Toshiyuki Sato dari Japan Broadcasting Corporation NHK, serta pembicara utama Dr Isami Takeda dari Universitas Dokkyo.
Di negara-negara Asia yang mayoritas penduduknya sudah akrab dengan teknologi tinggi, seperti Jepang dan Korea Selatan, kekhawatiran bahwa media cetak akan ditinggalkan mulai terasa. Terlebih di Jepang yang senantiasa berkiblat pada fenomena yang terjadi di Barat, walaupun sebetulnya tingkat sirkulasi media cetaknya sampai saat ini masih luar biasa. Oplah Yomiuri Shimbun misalnya, sekitar 10 juta eksemplar. Namun, menurut Editor Senior Yomiuri Shimbun Akira Fujino, saat ini pemasukan iklan untuk media-media cetak di Jepang umumnya turun 10-20 persen.

Tak sederhana

Meski demikian, masa depan media cetak di Asia tak bisa disimpulkan secara sederhana karena masing-masing negara memiliki kondisi sosial sekaligus perjalanan sejarah persnya yang unik. Di Indonesia, misalnya, tantangan industri pers sampai tahun 1998 adalah memperjuangkan kebebasan dirinya. Tonggak kebebasan itu ditandai dengan jatuhnya rezim Soeharto pada tahun 1998.

Media ikut berperan dalam penetapan agenda-setting perjalanan demokrasi di Indonesia. Dan, menjaga apa yang telah diraih dalam proses reformasi, seperti: memberi peran yang lebih besar bagi masyarakat madani, mencegah militer kembali ke panggung politik, menjamin proses checks and balances di antara tiga pilar kekuasaan, menjunjung penegakan hukum dan penghormatan pada HAM—semua itu menjadi prioritas utama pers Indonesia.

Hal yang sama juga terjadi di Korsel dan India. Perjuangan terhadap kebebasan pers di Korsel berpuncak setelah rezim militer tumbang tahun 1992. Sedangkan di India yang sudah lebih lama memiliki tradisi pers yang demokratis, kontribusi media cetak begitu dominan dalam menentukan arah kebijakan pemerintah. Dengan kata lain, di sejumlah negara di Asia, roh jurnalisme begitu erat dengan pembangunan demokratisasi.

Sehingga, bisa jadi persepsi tentang ”ancaman” terhadap industri pers berbeda dari satu negara dengan negara lainnya. Misalnya saja, mengenai penetrasi new media. ”Di India, media internet belum mengancam dominasi media cetak. Bahkan, survei nasional mengenai tingkat keterbacaan justru menunjukkan lonjakan signifikan untuk surat kabar-surat kabar India,” kata Unni Rajen Shanker, Editor Eksekutif The Indian Express yang berbasis di New Delhi.

Alasannya mungkin lebih kurang sama dengan situasi di Indonesia. Kedua negara ini masih berjuang melawan tingkat buta huruf. Di Indonesia jumlahnya masih sekitar 11 juta orang, dengan usia 15 tahun ke atas. Di India yang penduduknya lebih dari 1 miliar, angkanya lebih tinggi. Tingkat akses terhadap internet di India maupun Indonesia pun masih rendah. Hanya sekitar 25 juta orang di Indonesia saat ini yang memiliki akses terhadap internet atau sekitar 11 persen dari populasi yang berjumlah 228 juta orang. Dengan kata lain, kalaupun saat ini media cetak dan televisi kondisinya sedang ”berdarah-darah”, hal itu lebih dikarenakan faktor resesi ekonomi.

Meski demikian, tidak berarti tren ”going digital” bisa diabaikan. Setidaknya hal itu terekam dari jumlah kunjungan terhadap website Kompas.com yang diluncurkan sejak tahun 1995. Berdasarkan data Februari 2009, setiap bulan situs Kompas.com dikunjungi 66 juta kali, sementara page-view mencapai hampir 200 juta kali. Fakta ini menyiratkan bahwa di masa depan new media akan semakin berperan, dengan partisipasi masyarakat yang semakin besar. Namun, tidak berarti media cetak akan ”mati”

Etika jurnalisme

Pengalaman Yeon Ho Oh, CEO dari OhmyNews.com, menarik untuk disimak. OhmyNews adalah media online yang kontributornya atau ”reporter”-nya 100 persen pembaca, dan memiliki slogan bahwa warga biasa bisa menjadi reporter, penulis, pencetak, sekaligus pendistribusi berita. Pembiayaan produksinya selain dari iklan juga dari donasi pembaca. Laman ini muncul sebagai ”perlawanan” terhadap media arus utama yang dianggap oportunis terhadap pemerintah dan tidak menyampaikan suara rakyat yang sebenarnya. Kehadiran OhmyNews di Korsel memang fenomenal karena menjadi simbol ”demokratisasi pers”.

Namun, media berbasis warga maya (netizen) ini belakangan juga sulit melawan hantaman resesi. Pemasukan keuntungan secara konsisten menurun sejak tahun lalu sehingga menuntut manajemennya berpikir keras untuk membangun sebuah model bisnis baru.

Tapi yang lebih mendasar adalah gugatan terhadap produknya. Bagaimana menguji akurasi kebenaran sebuah berita? Bagaimana meyakini bahwa prinsip-prinsip etika jurnalisme tetap dipegang? Apakah pembaca hanya akan disuguhi berita-berita yang hanya ingin mereka dengar dan hanya pro terhadap kepentingan mereka? Bagaimana dengan tingkat kapabilitas ”reporter” dalam mengulas persoalan-persoalan khas semacam krisis ekonomi, perubahan iklim, dan konflik hukum?
Kata kuncinya adalah sinergi. Kelemahan di satu media dijembatani oleh media lainnya. Media internet memiliki kelebihan dalam menyuguhkan berita secara ”real-time”, yang menjadi kebutuhan nyata pelanggan. Bukan hanya itu, pelanggan pun ingin berpartisipasi, ingin bersuara, dan menyatakan pendapatnya. Semua kebutuhan ini bisa difasilitasi dan dieksploitasi oleh media digital yang memiliki space tak terbatas. Muncullah komunitas blogger, forum pembaca, dan sebagainya.
Toh, itu saja tak cukup. Pelanggan pun tetap membutuhkan berita yang memiliki kedalaman dan konteks. Berita yang menjawab semua keingintahuan mereka, dan disajikan secara sistematis, profesional, akurat, dan kredibel. Di sinilah kontribusi media cetak.

Tantangan terberat memang berada di pihak media cetak. Tapi ini bukan hal baru. Ketika era media elektronik (radio dan televisi) hadir dengan kemampuan penyajian berita selama 24 jam, nasib media cetak pernah diramalkan akan ”habis”. Kini kehadiran new media juga memunculkan ramalan serupa.
Namun yang sering dilupakan di sini adalah cetak, elektronik, ataupun internet hanyalah sarana. Yang jauh lebih penting adalah menjaga spirit jurnalisme. Akurasi, integritas, kredibilitas, keseimbangan, dan profesionalitas adalah roh jurnalisme yang tak akan lekang oleh waktu. Hal itu hanya bisa diperjuangkan oleh para jurnalis yang memiliki etika, kejujuran, dan mau bekerja keras.
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/03/25/04444368/.media.tradisional.vs.new.media

Media Online Gantikan Televisi dan Koran

Media Online Gantikan Televisi dan Koran

Hanya sedikit orang dari Amerika yang membaca koran dan yang lainnya lebih senang dengan news online. Namun, televisi tetap diingat sebagai pemimpin siaran berita dalam negeri. Menurut survey kebiasaan konsumsi berita dari Pew Research Center, tidak terlalu mengagetkan, banyak orang muda yang ingin mendapat berita yang lebih di Internet, ketika orang generasi yang lebih tua lebih memilih menggunakan media tradisional seperti televisi dan koran.

Pihak Pew mengungkapkan bahwa telah terjadi peningkatan konsumsi berita, namun terjadi pemisahan kelompok antara orang yang senang dengan media tradisional, ada yang senang dengan news online, dan ada yang senang dengan keduanya. Pew menemukan grup terbesar dari pembaca berita, yakni grup paling tua, dengan umur 52 ke atas dan sekitar 34% pengangguran, menunjukkan bahwa mereka tidak suka dengan computer atau mencari berita online dan sekitar 46% lebih memilih media yang berat seperti televisi. Menurut pihak Pew, mereka yang senang menonton televisi, lebih senang menonton mulai jam 6.30, dan layanan cable news seperti CNN, sekitar 39% atau Fox News Channel sekitar 33%.

Grup yang lain merupakan orang yang lebih muda, yang berada dalam usia sekitar 35 dan di bawahnya, lebih senang menggunakan Internet untuk mencari berita. Sekitar 8% dari mereka merupakan orang berpendidikan, setidaknya hingga kuliah dan mereka dua kali lebih suka membaca koran online daripada koran versi cetak. Sekitar 25% dari responden yang disurvei mengatakan bahwa mereka ke situs berita di Internet minimal tiga kali seminggu.

Pew menemukan bahwa konsumen yang mencari berita online lebih berwawasan luas daripada mereka yag membaca media tradisional, seperti koran dan televisi. Hal ini dikarenakan sekitar 44% dari lulusan universitas membaca berita dari media berita online setiap harinya, dan hanya 11% yang berasal dari pendidikan SMU yang juga mencari berita online di Internet. Banyak anak muda di bawah usia 25, sekitar 25% mengatakan bahwa mereka mencari berita untuk event-event tertentu saja. (h_n)

Cermin Masa Depan Industri Media dan Jurnalistik

Cermin Masa Depan Industri Media dan Jurnalistik
Kamis, 29 Mei 2008 | 03:00 WIB
Ninok Leksono

"...(Perkembangan yang terjadi di internet sekarang ini) adalah tentang si banyak yang merebut kuasa dari si sedikit, dan saling bantu satu sama lain tanpa mengharapkan imbalan, dan bagaimana itu semua tidak hanya akan mengubah dunia, tetapi juga mengubah cara dunia berubah." (Lev Grossman, Time, 2006)

Piala atau penghargaan bukan tujuan. Namun, tatkala ia datang pada momen penting, besarlah artinya. Ini pula yang dapat dikatakan tentang dua penghargaan yang diterima oleh situs www.kompas.com dalam sepekan terakhir.

Pekan ini, Kompas.com meraih penghargaan terkait dengan tren pemasaran baru—dikenal sebagai New Wave Marketing—dari MarkPlus. Sebelumnya, Sabtu (24/5), Kompas.com meraih Cakram Award untuk kategori perusahaan pengelola portal berita. Kedua penghargaan diterima sepekan sebelum megaportal Kompas.com diluncurkan Kamis malam ini.

Dua penghargaan itu membawa argumen yang bersemangat sama. Di sana ada elemen ”terobosan” yang, menurut Ketua Panitia Cakram Award Adji Dharmoyo, membawa semangat untuk menjadi yang terunggul, ada kreativitas, efektivitas, daya juang, keunikan, kejelian membaca peluang, dan kemampuan mengubah ide menjadi kerja atau produk nyata (Kompas, 25/5).

Sementara itu, MarkPlus menilai Kompas Gramedia melalui megaportal Kompas.com telah memelopori pendekatan pemasaran baru, membangun relasi partisipatif dan kolaboratif dengan penggunanya, hal yang menurut CEO MarkPlus Hermawan Kertajaya ”tidak terhindarkan karena tuntutan kreativitas yang didorong perkembangan teknologi digital”.

Kompas Online & ”beyond”

Oleh pendiri Kompas, dalam hal ini Jakob Oetama, Kompas. com yang terlahir sebagai Kompas Online pada 14 September 1995 divisikan sebagai Kompas masa depan yang senantiasa muda (rejuvenated), segar dalam kemasan teknologi mutakhir. Pandangan tersebut tidak saja visioner, tetapi juga pragmatis mengingat dalam riwayatnya, media cetak—sebagaimana dialami Kompas dalam wujud orisinalnya—terpagar dalam berbagai kendala, bahkan hingga hari ini.

Naiknya harga kertas koran setiap kali juga menyadarkan pengasuh media cetak bahwa ada elemen produksi yang bisa menjadi kuda liar, lebih-lebih ketika ia semakin terkait dengan perekonomian global, dan boleh jadi juga lingkungan.

Bahkan, di kalangan aktivis media baru sering pula tercetus ungkapan yang nuansanya menyindir media cetak bahwa ”Zaman Batu berakhir bukan karena orang kehabisan batu, tetapi karena telah ditemukan teknologi baru yang lebih baik”.

Kompas Online semula hanya memuat edisi cetak, tetapi secara bertahap kemudian diperkaya oleh konten-konten yang khas dengan medium internet, yang dalam kerangka Web 1.0 masih bertumpu pada pemutakhiran berita (news update).

Media online yang mulai bertumbuh medio 1990-an meminjam pepatah berita adalah ”history in the making” dari media televisi global, yang semenjak Perang Teluk, Januari 1991, mempraktikkan jurnalisme ini.

Kompas.com 2.0

Penulisan di atas diharapkan mengingatkan orang pada Web 2.0 yang jadi populer menyusul konferensi yang diselenggarakan oleh O’Reilly Media tahun 2004. Meski masih harus melakukan penyempurnaan, Kompas.com yang sejak Agustus 1998 dikelola oleh PT Kompas Cyber Media telah menjadi praktisioner awal jurnalisme dan bisnis online di Tanah Air.

Namun, ada perkembangan lain yang mau tak mau harus diperhitungkan oleh pengelolanya, bahkan juga oleh perusahaan induk yang memayunginya (Kompas Gramedia). Perkembangan tersebut terkait dengan berubahnya gaya hidup dan pola masyarakat dalam mendapatkan informasi.

Perubahan masyarakat ini ditandai pula dengan lahirnya apa yang disebut Generation C, atau Generasi Digital, untuk menyebut mereka yang lahir di paruh kedua 1980-an atau paruh pertama 1990-an. Mereka inilah digital native yang ”dari sononya” memang lebih akrab dengan gadget (peranti), seperti HP, PDA, dan sejenisnya.

Orientasi Kompas.com pun lalu membutuhkan arah baru (redirection). Itu sebabnya, Taufik H Mihardja, yang kini menjadi nakhoda Kompas.com, menghadirkan Kompas.com baru, yang dari sosok fisik maupun semangatnya mengakomodasi perkembangan di atas.

Kalau polesan Taufik dan timnya, yang juga mendapat dorongan penuh dari CEO Agung Adiprasetyo, amat mengedepankan forum dan komunitas, selain berita, itu tak lebih dari respons memenuhi panggilan zaman.

Definisi Web 2.0 menyebut pemanfaatan teknologi www dan desain web dewasa ini ditujukan untuk meningkatkan kreativitas, berbagi informasi, dan— paling nyata dari semuanya— kerja sama di antara pengguna. ”Konsumen ingin lebih partisipatif,” kata Hermawan.

Memacu jurnalisme

Dalam kerangka Web 2.0, sebetulnya bukan hanya bisnis yang dipacu, tetapi juga jurnalisme. Ini karena dalam aspek komunitas yang didorong oleh Web 2.0 terkandung juga elemen jurnalisme, dalam hal ini yang paling alamiah adalah jurnalisme warga. Kini berbagai informasi, baik yang hard seperti berita maupun yang soft, banyak diperoleh dari blog. Muncul pertanyaan, apakah blog merupakan masa depan jurnalisme?

Sebelum ini, jurnalisme online acap dikritik karena semata mengedepankan kecepatan dan mengorbankan akurasi sehingga sempat dijuluki jurnalisme, ”Get it first, then get it right”. Namun, dengan semakin dewasa, kini sudah ada mekanisme self-correcting.

Semuanya tampak sebagai bagian dari proses redefinisi jurnalisme.

Dalam konteks inilah kita melihat peluncuran kembali Kompas.com, Kamis malam ini, sekaligus juga sebagai cermin arah besar bisnis media dan jurnalisme, tidak saja di Tanah Air, tetapi juga di dunia. (NIN)

Bangkrut Sebelum Musim Semi

Bangkrut Sebelum Musim Semi

TEMPO, 04/XXXVIII 16 Maret 2009

Nasib koran-koran Amerika di ujung tanduk. Ada kota besar yang bakal tidak punya surat kabar sama sekali.

SURAT kabar di Amerika Serikat berguguran seperti dedaunan di musim semi. Setelah Chicago Tribune, The Los Angeles Times, dan The Rocky Mountain News bangkrut, kini giliran The Seattle Post-Intelligencer kembang-kempis. Selasa pekan lalu, batas waktu 60 hari yang ditentukan pemilik surat kabar tertua di Seattle, Washington, itu untuk mencari pembeli baru terlewati. Harian itu tak kunjung laku.

Nasib karyawannya pun sudah di tubir jurang. Memang, kata Paul Luthringer, juru bicara The Post-Intelligencer, perusahaannya belum mengambil keputusan apa pun tentang karyawannya. Masa depan harian itu baru akan diumumkan pekan ini. Dan bisa jadi karyawan The Seattle P-I akan mulai kehilangan pekerjaan.

Gelagat ambruknya surat kabar berusia 146 tahun itu sudah kelihatan awal Januari lalu. The Hearst Corporation—pemilik The Post-Intelligencer—punya tiga pilihan: mencari pembeli, beralih jadi media online, atau gulung tikar. Kisah suram The Post-Intelligencer melengkapi tersuruknya media cetak di Negeri Abang Sam. The Star Tribune di Minneapolis, The Philadelphia Inquirer, dan The New Haven Register juga bangkrut dalam tiga bulan terakhir.

Hearst, perusahaan penerbitan yang berbasis di New York, berencana memangkas 170 karyawannya. Sekelompok kecil wartawan memang telah ditawari menjalankan The Post-Intelligencer versi online dalam skala newsroom yang lebih kecil. Ini pun belum pasti. Itu sebabnya karyawan The Post-Intelligencer menyiapkan kemungkinan terburuk. Dalam situsnya, harian ini bahkan mengundang pembacanya saling membagi kenangan terhadap surat kabar yang beberapa kali diganjar Pulitzer Prize itu. The Post-Intelligencer diperkirakan mencetak edisi terakhirnya pekan ini.

Hearst bahkan juga berencana menutup San Francisco Chronicle, koran miliknya, bila surat kabar itu tidak bisa mengikis biaya produksi. Surat kabar itu merugi US$ 1 juta per minggu pada tahun lalu. Jumlah karyawan Chronicle yang akan dipangkas mencapai 150 orang, sepertiga dari total karyawan. Bila The Post-Intelligencer dan Chronicle tutup, keduanya akan menambah panjang daftar surat kabar yang tinggal nama akibat anjloknya pendapatan iklan dan seretnya pembayaran utang.

The Post-Intelligencer merugi US$ 14 juta tahun lalu. Dan kerugiannya diperkirakan kian melar tahun ini. EW Scripps Co. menutup The Rocky Mountain di Denver dua pekan lalu, setelah harian ini buntung US$ 16 juta. Gannett Co Inc.—penerbit USA Today—berencana tidak lagi menerbitkan Tucson Citizen di Arizona. Adapun Advance Publications berencana menutup The Star-Ledger, surat kabar yang begitu dominan di New Jersey. Tapi serikat pekerja surat kabar itu sepakat dengan perusahaan menjaga koran itu tetap terbit meski dalam format tampilan yang jauh lebih kecil.

Seattle Times Company and MediaNews Group, pemilik The Denver Post, The San Jose Mercury News, dan The Detroit News, juga terancam bangkrut. Beberapa surat kabar—mulai The Miami Herald hingga The Chicago Sun—sudah lama diobral, tapi tidak satu pun pembeli melirik.

Belasan surat kabar itu terpuruk setelah krisis ekonomi membabat sumber pendapatan iklan hingga 25 persen. Padahal selama ini iklan menjadi napas industri media cetak. Harga saham kebanyakan penerbit surat kabar luruh lebih dari 90 persen dari posisi puncaknya. Mereka kian ambruk akibat belitan segepok utang yang disalurkan untuk membeli surat kabar lain pada 2005-2007. Alhasil, kata John Morton, analis independen, margin laba operasi media cetak rata-rata hanya 10 persen tahun lalu, anjlok dari 20 persen pada lima tahun lalu.

Nielsen Online menyatakan sirkulasi media cetak luruh dari 62 juta eksemplar pada dua dekade lalu menjadi 49 juta. Hampir semua surat kabar besar di negara itu kini mencetak halaman dan artikel yang lebih sedikit. Sedangkan pembaca media online di Amerika melonjak jadi 75 juta warga.

Tak aneh bila beberapa ekonom dan eksekutif perusahaan surat kabar mengatakan kehadiran surat kabar di negeri itu tinggal masalah waktu—dan waktu yang tersedia tidak banyak—sebelum beberapa kota utama di Amerika ditinggal pergi koran lokal untuk selamanya. Mike Simonton, Direktur Senior Fitch Rating, mengatakan, pada 2009 dan 2010, kota yang tadinya terdiri atas dua surat kabar akan tinggal memiliki satu surat kabar. Dan kota yang terdiri atas satu surat kabar menjadi tidak punya surat kabar sama sekali.

Bila Seattle Times ikut gulung tikar, kota tempat Starbucks didirikan itu bisa jadi akan menjadi kota besar Amerika pertama yang tak lagi memiliki surat kabar. Yandhrie Arvian (AP, NYT, Seattle Times)

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/03/16/EB/mbm.20090316.EB129814.id.html