Tampilkan postingan dengan label Kepenyairan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kepenyairan. Tampilkan semua postingan

15 Desember 2007

Tuti, Dharta, dan Hari Esok

(Oleh: Eka Budianta. Dimuat di Kompas Minggu, 11 Februari 2007 )

Indonesia dikaruniai jiwa-jiwa yang teguh dan pikiran brilian. Itulah kekayaan termahal bangsa ini yang tidak boleh dilupakan. Kepergian dua penyair "paruh waktu", Tuti Gintini (45) dan AS Dharta (83), pada awal Februari 2007 dengan jelas mencatatkan hal ini. Mengapa terpaksa disebut "penyair paruh waktu"? Karena kepenyairan mereka menumpang pada predikat lain yang lebih mapan.

Tuti Gintini lebih dikenal sebagai wartawati dan produser MetroTV. Ia pernah meraih Hadiah Adinegoro, lambang supremasi wartawan di negeri ini. Tuti adalah seorang penulis pariwisata terbaik untuk Indonesia. Wartawan senior Rosihan Anwar memujinya karena, untuk menuliskan keindahan Tanah Airnya, Tuti menyelam ke dasar lautan. Padahal, penyair yang berjiwa halus ini bukan penyelam. Naik motor dan menyetir mobil pun tidak berani.

Tokoh satu lagi, AS Dharta, adalah pendiri dan sekretaris pertama Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra). "Ia lebih banyak berperan sebagai orang partai ketimbang sebagai sastrawan," kata penyair senior, Taufiq Ismail. Padahal, Dharta—yang akrab dengan Rendra dan dianggap guru oleh mendiang Pramoedya Ananta Toer—sepanjang 1950-an banyak memproduksi esei dan puisi dengan berbagai nama samaran: antara lain Klara Akustia, Kelana Asmara, Yogiswara, dan Rodji.

AS Dharta sendiri semacam singkatan yang menyamar. Aslinya adalah Adi Sidharta, lahir di Cibeber, Cianjur, Jawa Barat, 27 Maret 1924. Adapun Tuti Gintini lahir dengan nama Tan Siau Gin, 26 Januari 1962 di Kemantran, Tegal, Jawa Tengah. Ada banyak alasan mengapa keduanya perlu dikenang dalam sebuah refleksi. Pertama, karena mereka wafat pada hari yang berurutan. Mula-mula Dharta pada hari Rabu, 7 Februari; kemudian Tuti pada Kamis tanggal 8.
Dharta meninggal karena usia lanjut, setelah dirawat di Rumah Sakit Universitas Kristen Indonesia (UKI), Jakarta, sedangkan Tuti wafat di klinik Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, menjelang berangkat berobat ke Singapura. Tuti menderita kanker antara jantung dan paru-paru. Mestinya ia berangkat 2 Februari, tetapi batal karena banjir nyaris merendam seluruh Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan rumahnya di Bekasi.

Kegetiran dan penderitaan
Alasan kedua, baik Tuti maupun Dharta mempunyai kepedulian yang mendalam terhadap urusan sosial. "Saya tidak menyangka Tuti telah menjadi penulis dan wartawan yang menyuarakan kepentingan rakyat kecil," kata Ibundanya, Tjioe Wie Kiauw, yang populer dengan panggilan Ibu Yuliani. Dalam usia 77 tahun, perempuan yang melahirkan Tuti itu terdengar tulus bicaranya dan jernih pikirannya.

"Tuti itu anak mama. Sama sekali tidak mengenal kasih sayang ayah. Ia yatim sejak kecil. Suami saya, Tan Ek Tjioe, tidak mewariskan apa-apa selain lima orang anak yang masih kecil-kecil," kata Ibu Yuliani. Nadanya getir, sedih, tetapi dibuat humor. Ayahanda Tuti seorang aktivis, tidak pernah pulang sesudah peristiwa 1965. Saudara-saudaranya cuma berani menyebut kata "tersangkut". Selebihnya hanya penderitaan dalam diam.

Dengan susah payah, berdagang kelontong, Yuliani membesarkan lima anaknya. Tuti yang bungsu. "Kami ini orang susah, tetapi anak-anak saya malah memilih jadi seniman. Bagaimana? Apakah mau jadi lebih melarat lagi?" ia bertanya kepada Dadang Christanto, kakak Tuti.

"Biarin, Ma!" kata Yuliani menirukan anaknya. "Eh, sekarang Dadang jadi pelukis dan pematung terkenal, tinggal di Brisbane, Australia. Kok bisa ya?" Dia juga ingat, Tuti berangkat kuliah ke Jakarta berbekal setumpuk daster untuk dijual. Hingga mendekati ajalnya pun, Tuti gemar berjualan aksesori perempuan, termasuk kalung mote. Kesulitan hidup telah membuatnya ulet dan terus berjuang.

"Musim hujan tidak juga menolongku dari kabut-kabut yang membujukku bersatu dengan luka-luka". Begitu bunyi satu sajak Tuti Gintini yang paling terkenal. Disiarkan dalam harian Sinar Harapan, 23 Januari 1982, genap seperempat abad sebelum meninggal. Ibu Yuliani heran. "Saya tidak pernah bercerita apa-apa tentang ayah mereka. Tetapi, dalam karya-karya Dadang dan Tuti terasa sakit hati yang tidak berkesudahan," katanya.

Kegetiran serupa juga dirasakan oleh keluarga AS Dharta. "Sepanjang hidupnya, kepada siapa pun, bapak selalu mendendangkan agar Pasal 33 UUD 45 segera dilaksanakan dengan benar," kata Ira Dharta, putri semata wayang. Ira ikut merasakan keprihatinan ayahnya atas tidak terjaminnya kesejahteraan rakyat. "Kita harus mengutamakan perlakuan yang manusiawi." tambah putri penulis buku puisi berjudul Rangsang Detik ini. Dharta pernah menjadi guru bahasa Inggris untuk guru taman kanak-kanak di Cianjur.

Sepanjang hayatnya, Dharta yang dimakamkan tidak jauh dari rumahnya adalah warga Cianjur, persisnya di Cibeber. Setengah abad silam ketika berjaya sebagai Sekretaris Pertama Lekra, Dharta memang banyak bepergian. Sebuah kartu pos bertanggal 20 Februari 1953 dikirimnya dari Wina, Austria, untuk musuh besar dan sahabatnya, HB Jassin. "Ini gambar tempat istirahat buruh di Rumania. Memang bukan suatu surga," tulisnya bercanda.

Ditambahkan lagi, "Demam musim winter bikin saya rindu hawa panas dan kawan-kawan di Tanah Air." Perdebatan sastra Indonesia saat itu diramaikan oleh penolakan Dharta terhadap Angkatan ’45 (terutama Chairil Anwar) dengan norma hidupnya. Dalam serangannya: Kepada Seniman "Universiil", Dharta menulis: "Mengapa HB Jassin tidak mengupas djiwa korrup mereka. Sampai akhir hayatnya, Dharta terkenal suka bicara berapi-api. Prosais Martin Aleida membesuknya di RS UKI seminggu sebelum meninggal. "Cukup lihat dia dari jauh saja. Kalau mendekat, dia pasti bicara penuh semangat sampai dadanya tersengal-sengal," kenang Martin.

Meski langit kelam
Dengan menggunakan nama Klara Akustia, Dharta menulis sajak-sajak yang heroik, patriotis, penuh semangat. "Tetapi, pada masa Orde Baru, karena takut, banyak kritikus sastra Indonesia sengaja menggelapkan sejarahnya sendiri," tulis Korrie Layun Rampan, dengan SMS dari Kutai, Kalimantan Timur. Korrie menyatakan tetap kagum pada karya-karya Dharta. "Pengarang Lekra adalah sastrawan Indonesia," tegasnya.

Ungkapan duka atas wafatnya Tuti dan Dharta bertaburan dari sejumlah seniman di berbagai penjuru. Pelukis Hardi di Jakarta mengenang Tuti sebagai penulis yang melayani dan membesarkan banyak seniman tanpa pamrih. Hal serupa dinyatakan deklamator terkenal, Jose Rizal, yang sedang berada di Tanjung Pinang. "Tuti bersikap familiar dan tidak pernah mengeluh," katanya.

Dr Henri Supriyanto, pakar ludruk Jawa Timur, mengenang saat-saat menjelang koran tempat mereka bekerja, Sinar Harapan, dibreidel pada Agustus 1985. "Dalam pertemuan dalang di Nganjuk, Tuti bersikap sangat bersaudara, terbuka, dan membagi-bagikan uang saku tanpa arogan," tulisnya. Tuti dikenang teman-temannya di Lampung, Cirebon, termasuk oleh bintang sinetron Jajang C Noer yang bilang: "Dengan segala kesederhanaan ia perempuan yang mandiri, bertanggung jawab atas keberadaan keluarganya."

Pernyataan Jajang bahwa Tuti juga seorang ibu yang penuh kasih, dan istri yang penuh pengertian, sama sekali tidak berlebihan. Dalam upacara pelepasan jenazah di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jatibening, Bekasi, hal itu terbukti. Lala, remaja putri 16 tahun, dengan teguh bernyanyi solo di depan jenazah ibunya. Sidang perkabungan terharu mendengarnya.Putri bungsu dari dua anak Tuti dengan Joseph Ginting itu menyelesaikan lagu dengan merdu dan khidmat: "Aku tahu ada hari esok/Meski langit kan kelam".

Lala bernyanyi tentang keteguhan hati yang tak terlupakan. Hal serupa dilakukan oleh "anak angkat" Dharta, yaitu Budi Setiyono. Penulis lulusan Universitas Diponegoro, Semarang, itu sedang mengumpulkan esai, puisi, dan berbagai tulisan Dharta. Perlu diingat pikiran-pikiran cemerlang Dharta telah melahirkan cendekiawan baru dari dalam maupun luar negeri.

Itulah potensi pengarang di hari esok. Mereka adalah harta karun setiap bangsa. Karya-karya Tuti Gintini juga sedang dihimpun menjadi biografi dan kesaksian. Sobat kentalnya, Martha Sinaga, menyiapkan biografi Tuti sebagai manusia yang merdeka. Penyair, citra diri sang Maha Pencipta.

Eka Budianta, Pekerja Budaya

Bahasa Gaul Menuju ke Bahasa Seni (2)

Oleh ALIF DANYA MUNSYI. Dimuat di rubik Khasanah, Rubrik Budaya Pikiran Rakyat, 22 Okt.2005)

MAKA, cukup mengherankan, Kamus Lengkap Indonesia-Inggris, A Comprehensive Indonesian-English Dictionary, terbitan Mizan, memasukkan lema "mbeling" bukan dalam acuannya secara leksikal sebagai serapan bahasa Jawa yang sebetulnya hanya berarti "nakal"-nya anak-anak, tetapi justru merupakan eksplanasi dan pembeberan maknawi dari gerakan perlawanan yang saya cetuskan di Bandung itu.

Dalam kamus itu, Alan M. Stevens dan A. Ed. Schmidgall Tellings memasang entri "mbeling" sebagai disobedient (tidak tunduk terhadap), insubordinate (tidak patuh kepada), dan unconvensional (tidak menurut kaidah yang berlaku). Padahal, KBBI sendiri mencantumkan "mbeling" --agaknya berdasarkan laporan hasil penelitian tentang gerakan puisi “mbeling” tersebut, yang dikerjakan oleh tim sarjana bahasa Universitas Diponegoro Semarang di bawah Soedjarwo, untuk Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, yang notabene menerbitkan KBBI-- menurut aslinya bahasa Jawa, sebagai semata-mata "nakal".

Memang, ketika pertama saya cetuskan gerakan ”mbeling” tersebut di Bandung pada paruh pertama dasawarsa 1970-an --dengan mengajak Abdul Hadi WM dan Jeihan, dan diikuti oleh banyak nama lainnya, antara lain Seno Gumira Adjidarma, Yudhistira ANM Massardi, Noorca M. Massardi, Akhudiat, Efix Mulyadi, dan Kurniawan Junaedhi-- kata "mbeling" saya maksudkan sebagai rengrengan untuk dengan cara yang nakal anak-anak, melawan tiga sasaran kemapanan (bahasa baku, bentuk artistik dan pandangan estetik, dan kebijakan politik pemerintah Orde Baru). Ini sekaligus merupakan tes kritik terhadap perkataan "urakan" yang diacu W.S. Rendra di Yogya sebagai konsep antikemapanannya.

Di dalam catatan apologia, saya katakan, kata "urakan" dalam bahasa Jawa berkonotasi negatif. Sebab, "wong urakan" adalah orang yang tidak punya sopan santun, tiada beradat, liar, namun "mbeling" dalam bahasa Jawa toh positif, sebab "cah mbeling" atau anak nakal, mestinya dididik orang tua untuk mengenal tata tertib dan sopan santun, tetapi sekali-dua bermain-main melanggar dengan cara cerdas dan jenaka, membuat orang tuanya tidak marah melainkan tertawa. Unsur itulah yang mengalas seni-seni ”mbeling” teater dan puisi.

Kelihatannya perkataan ini --yang katakanlah waktu itu tergolong dalam slang, gaul, atau okem-- sulit diterangkan pada orang yang tidak memakai bahasa Jawa sebagai bahasa tutur atau bahasa sehari-hari. Maka bisa dimengerti jika terjadi kerepotan pada penutur bahasa Inggris dalam melakukan wacaka (deskripsi) terhadap "mbeling". Demikian saya ingat, terjadi dalam sebuah kelas di University of Melbourne pada 2001.

Waktu itu, guru besar Marshall Clark dari University of Tasmania yang mengaku dengan bangga sebagai pendukung gagasan ”mbeling”, dalam uraiannya di kelas, terkesiap, "diuji" pemahamannya oleh ahli-ahli Indonesia lain yang juga sama-sama orang Australia, menyangkut keterangannya tentang "mbeling". ”Mbeling”, disebutnya, "This meaning has also taken on the connotation of the witty playfulness or mischievousness. In terms of modern Indonesian literary studies, the world "mbeling" has been associated with Remy Sylado's puisi mbeling --antiestablishment poetry-- poetry that subverts the social, political, or literary status quo."

Bahwa keterangan yang diacu Stevens dan Schmidgall-Tellings mengarah ke premis gerakan ”mbeling” boleh dibilang sesuai, kendati tidak serta-merta boleh dibilang sah. Barangkali perlu diperbandingkan juga dengan keterangan yang sesuai dari Kamus Indonesia Inggris, An Indonesian-English Dictionary oleh John M. Echols dan Hassan Shadily. Di situ catatan atas lema "mbeling" adalah Naughty of children, antiestablishment, tongue-in-cheek literature or policy.
**

SEKADAR menyimak mukabalah antara bahasa Indonesia dengan bahasa Belanda, sejenak kita perhatikan perkembangan sastra Belanda pasca-Ik Jan Cremer.

Mengapa bahasa Belanda?

Sebab bahasa Belanda telah kita kenal 350 tahun. Tata bahasa Indonesia, betapa pun, ditentukan oleh guru-guru Belanda yang meniangi dasar-dasar bahasa yang baik dan benar tersebut.

Orang-orang Indonesia yang belajar bahasa Belanda di masa lalu, niscaya mengerti benar aturan Algemeen Beschaafd Nederlands, bahasa Belanda yang baku dan santun. Bahasa seperti itu pula yang ditunjukkan oleh bapak-bapak bangsa, seperti Ki Hajar Dewantara ketika masih bernama R.M. Soewardi Soerjaningrat dalam tulisannya yang terkenal Als ik eens Nederlander was. dan G.S.S.J. Ratulangi dalam jurnal-jurnalnya di medianya yang terkenal Nationale Commentaren.

Tetapi, memang setelah prosa Ik Jan Cremer muncul pada 1964 --periode dalam tatanan global yang diwarnai oleh budaya pop-- maka bahasa dan kata-kata yang tidak baku, slang, gaul, okem, menjadi bahasa yang terpakai dalam sastra. Kees Snoek yang menulis Nederland Leren Kennen, diterjemahkan "Mengenal Masyarakat Belanda", antara lain menulis de ballen hoor yang harfiahnya sekadar "bola-bola", tetapi bisa juga berarti "pantat deh". Kata itu kini dimaksudkan sebagai salam perpisahan.

Dalam kehidupan sehari, kata-kata yang awalnya tidak baku, yang tergolong dialek, kini populer dalam wacaka. Patut diketahui terlebih dulu bahwa dialek-dialek dalam bahasa Belanda, di masing-masing wilayah, antara Fries di utara, Limburg di tenggara, dan Brabant di Selatan, memiliki perbedaan yang khas pada, antara lain, lafal-lafalnya.

Untuk melihat itu, barangkali elok jika kita simak peribahasa-peribahasa dalam beberapa contoh di bawah ini. Elok, karena peribahasa, dalam leluri budaya Belanda disebut juga sebagai wijsheden, artinya kata-kata nan bijak-bestari.

Misalnya, peribahasa dalam bahasa Belanda baku, Een boer en een varken worden knorrend vet, maka dalam dialek Brabant tulisannya menjadi "Nen boer en 'n verke woore knorrend vet." Artinya, "Seorang petani dan seekor babi sama-sama mendenguskan lemak." Atau, jika dalam bahasa Belanda diperibahasakan Beter rood haar op goede grond dan zwart har op een ezelkont, maka dalam dialek Brabant diejakan menjadi Beter rooj 'aor op goeje grond dan zwart 'aor op un ezelkont. Artinya, "Mendingan rambut merah di latar yang bagus ketimbang rambut hitam di pantat keledai."
**

KETIKA kita ikut masuk dalam frustrasi sarjana bahasa yang mempersalah-salahkan bahasa slang, gaul, atau okem, yang tidak baku, saya merasa seperti dicekoki pikiran-pikiran tentang kaidah bahasa yang tidak realistis. Saya kuatir (saya sengaja tidak mengeja "khawatir"), jangan-jangan semangat menyalah-nyalahkan bahasa tidak baku itu, lantas kita menjadi seperti Belanda yang memaksa minta tanah.

Yang paling bersemangat mempersalahkan bahasa tidak baku itu adalah peneliti-peneliti Belanda yang mengajar bangsanya tentang bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Kita ingat betapa hebatnya Ch. van Ophuysen berbicara dalam orasi pengangkatan dirinya selaku guru besar di Universitas Leiden pada 1904. Di sana ia membahas tentang kesalahan-kesalahan orang Melayu (baca: Indonesia) dalam berpentun bahasanya sendiri. Yang dipersalahkannya adalah pantun "Dari mana datang lintah/dari sawah turun ke kali/Dari mana datang cinta/dari mata turun ke hati". Dan, katanya, yang benar adalah, "Dari mana punai melayang/dari kayu turun ke padi/Dari mana kasih dan sayang/dari mata turun ke kali."

Yang dipersalahkannya, barangkali, sebab kata "lintah" dan "sawah" ditulis dengan "h", sementara jika sampiran berbunyi "h" maka isinya pun harus berbunyi "h". Ia kurang periksa bahwa kata-kata bahasa Melayu ini, sebelum ditransliterasi ke huruf latin, dulunya ditulis dengan aksara Arab gundul sebagai "linta" dan "sawa".

Adalah memang transliterasi bahasa Melayu dengan Arab gundul ke huruf Latin yang dilakukan oleh orang-orang Belanda yang banyak mengganti kata-kata yang tanpa "h" menjadi dengan "h". Akibatnya, kata-kata bahasa Melayu yang mulanya tidak berlafal "h" kemudian dieja dengan "h". Misalnya "asut" jadi "hasut", "empas" jadi "hempas", "silakan" jadi "silahkan", serta "tuan" jadi "Tuhan", dst.

Apabila "hari gini" kita masih repot diganggu pikiran-pikiran warisan kolonial tentang bahasa yang baik dan benar itu, sementara di negeri penganjurnya, Nederland, bahasanya yang Algemeen Beschaafd Nederlands sudah tergilas oleh Ik Jan Cremer, maka alangkah "telmi"-nya kita.

Betapa pun, harus dikaji bahwa bahasa Indonesia pascagerakan “mbeling” adalah bahasa yang berani. Ini bukan hanya dalam memilih kata-kata yang dulu tabu, terlarang, tak sopan, bahkan jorok, melainkan juga membeberkan secara blak-blakan kehidupan seks perempuan yang tabu pula dalam masyarakat tradisional. Hebatnya, itu dilakukan oleh perempuan sendiri dalam karya-karya prosanya.

**

UNTUK melihat lebih spesifik tentang bahasa tidak baku dalam karya sastra, baiklah disimak salah satu karya naskah drama Eugene O'Neill, pesastra Amerika yang memenangi Hadiah Nobel Kesusastraan pada 1936.

Sebelum Eugene O'Neill hadir, peta teater Amerika boleh dibilang cenderung kurang yakin pada naskah drama yang ditulis oleh pengarang Amerika. Karenanya, panggung-panggung teater di masa itu boleh dibilang sangat kuat berkiblat ke Eropa, Inggris, atau Prancis, sekitar tragedinya Shakespeare dan komedinya Moliere.

Adalah O'Neill, yang juga dua kali memenangi Hadiah Sastra Pulitzer, yang telah memberi rasa percaya diri baru pada tatanan kebudayaan Amerika, meliputi ladang kesenian, yaitu sastra di satu pihak dan teater di lain pihak. Dan, namanya amat perlu disebut di sini, sebab dari salah satu naskah dramanya kita akan melihat bagaimana larasnya ia menggunakan bahasa slang, bahasa tidak baku tersebut. Dalam naskah dramanya Desire Under the Elms --karya ini pernah difilmkan oleh Hollywood, disutradarai oleh Delbert Mann, dan dibintangi oleh Burl Ives, Sophia Loren, Anthony Perkins, 1958-- kita langsung menemukan bahasa tidak baku sejak awal cerita. Perhatikan dialog antara Simeon dan Peter pada Babak I Adegan I naskah tsb.

SIMEON: California's t'other side o' earth, a'most. We got t' calc'late.
PETER: 'Twould be hard fur me, too, to give up what we've 'arned here by our sweat.
SIMEON: Ay-eh. Mebbe he'll die soon.

Sampai adegan terakhir di babak terakhir, O'Neill menulis dialog-dialognya dalam bahasa Inggris yang tidak baku. Coba perhatikan tiga dialog dari tiga peran sebelum layar ditutup.

EBEN: I love ye, Abbie. Sun's a-risin'. Purty, hain't it.
ABBIE: Ay-yeh.
SHERIFF: It's a jim-dandy farm, no denyin'. Wished I owned it
.

Kata-kata yang termasuk slang di dalam karya O'Neill bahkan sekarang dikenal di Indonesia sebagai bahasa Inggris biasa. Misalnya, "dandy" dalam dialog terakhir, sekarang melintas di Indonesia sebagai kosakata yang terpakai, sebetulnya adalah bahasa slang Amerika belaka.

Sebagian besar di antara kita yang sok-Inggris dalam bahasa sehari-hari, bahkan tidak tahu bahwa sejumlah kata yang kita kira sebagai bahasa Inggris baku, ternyata adalah American slang belaka. Kata-kata yang dimaksud ini, bisa kita peroleh dari bacaan, atau dari film, atau juga dari musik pop dan rock yang memang saban hari ada di hadapan kita. Dan, industri-industri budaya Amerika itulah yang sangat berperan menjadikan kata-kata slang sebagai kata-kata yang berbudaya.

Artinya, setelah kata-kata bahasa slang terpakai dalam bahasa budaya musik dan film, dan tersiar lewat industri-industri budaya tersebut, maka selanjutnya kata-kata yang tadinya tidak baku lantas dibakukan oleh kamus resmi bahasa Inggris.

Ambil contoh kata-kata, career woman, strip tease, frame up, talent scout, monkey business, hot dog, close up, groggy, honky tonk, knock out, dark horse, dan hijack. Dalam kamus terdahuu, Webster's Approved Dictionary, cetakan 1951, masih ditaruh di lampiran Dictionary of American Slang; tetapi dalam kamus yang baru, Longman Dictionary of English Language and Culture, cetakan pertama tahun 1993, kata-kata itu telah dibakukan menjadi bahasa standar.
**

PADA ujung bahasan ini, saya ingin menyimpulkan bahwa bahasa slang, gaul, atau okem, akhirnya mesti dilihat sebagai veritas budaya yang karib, yang mempelai. Pendek kata, yang bukan musuh seperti kecenderungan yang menyolok (saya memang tidak mengeja "mencolok") itu terlihat begitu sangar dalam deskripsi-deskripsi tentang bahasa baku oleh para sarjana bahasa.

Lebih mustadi boleh dianggap bahwa bahasa-bahasa yang digolongkan tidak baku seperti slang, gaul, atau okem, eloknya dipandang aktual sebagai dorongan ilham bagi karya-karya tulis yang menggunakan khazanah kata-kata tidak terbatas dalam membangun sosok artistiknya dan sisik estetiknya, yaitu puisi, naskah drama, prosa. Dengannya karya-karya itu mewakili, mencitrai, dan memberi wastu atas realitas yang kasatmata, tulen, dan asli.

Mestilah dibilang bahwa karya-karya kesenian kontemporer yang menggunakan kata-kata sebagai medium ekspresi tersebut, dapat dipujikan tanggung jawabnya justru pada kemampuan seniman-senimannya mengungkap, mengejawantah, mengikhtisarkan, bahkan menelanjangi realitas yang ada dan kasatmata itu. Seseorang mustahil melakukan itu, dengan imajinasi yang paling liar sekalipun, tanpa berada dalam realitas itu.

Setelah itu, barulah kita bicara bahwa kata-kata yang digolongkan tidak baku, yang telah dilintaskan, dimanfaatkan, atau tidak dipakai pesastra dalam karya sastranya, otomatis pula telah terlestarikan sebagai bahasa tulis yang bernafas panjang. (habis)***

Penulis, Sastrawan.

Lazuardi Lazuardi

(Dari milis [proletar]: Penulis: Proletar2
Fri, 19 Oct 2007 20:30:22 -0700)


Kata orang kamu dulu sastrawan muda. Sempat jadi pelukis dan belajar ke Akademi Seni Rupa di Yogya. Lalu sempat juga jadi wartawan dan redaktur majalah ngepop di Jakarta. Kecil aku suka memperhatikanmu bergulat dengan mesin tik di loteng atas tempat angin malam masih gemar menyelinap celah di antara dinding papan. Pagi hari ketika kamu tertidur aku baca sebagian cerpen atau puisimu yang tidak kumengerti apa maksudnya. Ah bahasa sastrawan,tingkahmu pun jarang berada di alur kenormalan.

Wajahmu manis, rambutmu dulu sebahu. Pacar pacarmu bertampang aneh mungkin lantaran selera seniman. Nilai estetikamu berbeda dengan kebanyakan orang. Kesayangan Jamilah Mahyudin, itu tampak dari roman wajahmu yang aku perhartikan ketika berziarah ke makam ibumu itu.

Keras kepala dan gampang behutang. Sok keras tapi bertangisan tiap kali adik adikmu pulang. Ah Lazuardi...Lazuardi betapa dalam kebengalanmu begitu gampang menebakmu kecengengan hatimu yg cepat kasihan pada orang. Kekerasan hidupmu menempa dagu petakmu. Beranak 4 dari 2 kali menikah. Kata orang kamu playboy, tapi aku kira kamu cuma mencari pelariandari ke-broken heart an keluargamu dulu. Dibesari oleh seorang janda cerai yang dibiarkan miskin membuatmu dendam pada kemiskinan. Lalu kamu mulai melakukan segara cara untuk melarikan diri dari kemiskinan.

Salah satu cara yang aku tidak mengerti adalah penulisan bukumu soal Sudwikatmono dan terakhir tentang kenapa semua orang mencintai Suharto.

Lazuardi I miss you so damn much. Sering bebeda pandangan mungkin kita. Tapi tetap aku kagum dengan keberanianmu bereksperiman dalam hidup. Ketika dulu di sma aku tidak punya uang untuk study tour ke Bali, kamu rogoh dompet dan memberikan 80 ribu rupiah dan bilang, jangan kalah dengan anak anak orang berduit. Kamu adalah malaikatmu yang manis. Darahmu dan darahku sering menari bersama.

Lazuardi aku sayang kamu. Hati ini remuk kamu tinggali aku tanpa pesan. Langit menjadi begitu murung. Air terjun dari mataku. Air yang terjun terus menerus seharian.Adi Sage, kapan aku bisa menemuimu lagi. Melihat mukamu yg kadang sengaja berlagak berjuis membuatku terpingkal. Borjuis yg makan ketoprak 2000 an. Ramadhan jarang puasa tapi punya anak asuh yatim piatu di mana mana. Barangkali kamu kesayangan aku dan tuhan.

Aku sayang kamu Lazuardi. Aku ingin ikut beramai ramai datang menjengukmu seperti ratusan temanmu ditempatmu berbaring tak berdaya. Adek Alwi ada disana, Sys Ns juga, Kurniawan Junaedhi dan Muklis juga, tapi aku dengar kamu sudah tak sadar. Ah jika kamu siuman pastilah kamu akan kamu ledeki mereka sebagai manusia manusia cengeng, tidak sadar kamupun sama.

Aku akan selalu meyanyangimu Lazuardi. Kamu adalah figur yang unik. Kamu adalah kiblat, Darahmu ada di dalam darahku. Berhulu sama, mengalir dengan irama yang sama.

Selamat jalan setengah jiwa. Kamu akhirnya berjalan lurus menuju sang kekekalan. Biarkan aku membanjir jauh di sini. Di seberang benua. Separuh batinku kosong tanpa kamu. Separuh rohku, separuh ...

Tubuhmu akan sejajar dengan tubuh ibumu dibawah sekeping nisan. Namamu akan digoreskan diatas tanggal kelahiran dan kematian. Lazuardi, Lazuardi..rasanya aku ingin ikut mati.

Dan katakan jika sempat bertemu roh ibumu. Bilang pada sang pemintas badai. Bahwa di sini jauh di lain negeri ini, suatu saat rohku akan berterbangan menuju kalian. Jasad kita berdampingan lubang ke lubang. Aku akan bahagia di tengah sang ibu dan abang. O Lazuardi my dear brother..

Katakan karena kita keturunan keluarga yang mati muda, menungguku tidak akan memakan waktu terlalu lama..

Lalu suatu saat sang habepun sirna