Kepada Rama, mohon maaf. Telah kuculik Sita sehingga dia percaya cinta itu telah mendedah jantungnya. (2013)
2/
2/
Kata Rama: Rindu kita tak luar biasa. Sunyi ini yang menyayat luka. Sita pun berlinang air mata, meyakini cinta itu ada. (2013)
3/
“Amarahku seperti api yang berdiang di tungku. Rasanya aku
cinta padamu. Tapi…” Rama kehabisan kata. Air mata Sita seperti telaga. (2013)
4/
“Tuhan, benarkah ada setia?” Rama kehilangan percaya. Ia menatap
Sita tiba-tiba. "Aku tak mengenal dia." (2013)
5/
“Kenapa setia itu harus?" Pandangan Sita nanar. "Kenapa juga kesucian dipertaruhkan?" Dan api terus bersikeras melumat tubuhnya. (2013)
6/
Di dalam api, hanya gerah dan kesetiaan.
Cinta berahi yang menetes dan derak kayu pembakaran. Sita tak mengaduh. (2013)
7/
Kata Rama: "Aku bukan pencemburu. Kesetiaan memang harus dirayakan. Cinta itu kewajiban. Jangan pernah kauragukan." (2013)
8/
Sita tak habis pikir, kenapa dewa mempertemukannya dengan Rahwana. Ia merasa tengah diuji para dewa dg cara sederhana (2013)
12/
Kata Sita: "Tak kupungkiri, saat berahiku naik, yang kuseru namanya karena aku mencinta. Dan Rahwana, raksasa itu, harus mempertanggungjawabkannya." (2013)
13/
16/
Dua pria, dua bahasa. Alangkah jauh melompatinya, seperti melampaui jajaran aksara, kata Sita. Dan aku pernah mengejanya. Pernah, di suatu masa. (2013)
17/
19/
22/
23/
24/
25/
26/
33/
8/
Wahai dewata, aku Rahwana. Apakah ini yang kausebut mati? Kenapa cinta kurasakan justru saat aku percayai? (2013)
9/
Rahwana ingin mendekat ke denyut nadi dan mendengar suara hati. "Mengalir,mengalirlah dalam darahku," bisiknya. Ia bayangkan Sita, perempuan itu. (2013)
10/
Kata Sita: Aku tak mungkin berdusta. Yang kurindukan pria sabar dan setia. Bukan lelaki pengecut, yang tampak ksatria.
Akan kupertanggungjawabkan ini pada dewa. (2013)
11/Sita tak habis pikir, kenapa dewa mempertemukannya dengan Rahwana. Ia merasa tengah diuji para dewa dg cara sederhana (2013)
12/
Kata Sita: "Tak kupungkiri, saat berahiku naik, yang kuseru namanya karena aku mencinta. Dan Rahwana, raksasa itu, harus mempertanggungjawabkannya." (2013)
13/
Benarkah ia memang diutus dewa?
Sita bertanya-tanya. Tentu saja Rahwana tak bisa menjawabnya. Dadanya telah tembus oleh panah Rama yg membuatnya tewas seketika. (2013)
14/
14/
Betapa dungunya, pria yang hanya
menjaga kehormatan lebih dari segalanya. Dia punya telinga tapi tuli, dia punya mata
tapi buta, dia punya hati tapi tak berjiwa.
Sita tiba2 merasa sia2. (2013)
15/
15/
Aku Rama, Ksatrya Ayodhya, selalu menjadi muara, dan yang
pertama. Jadi Sita, kaupaham, apa arti kesucian bagiku bukan? (2013)
Dua pria, dua bahasa. Alangkah jauh melompatinya, seperti melampaui jajaran aksara, kata Sita. Dan aku pernah mengejanya. Pernah, di suatu masa. (2013)
17/
“Wahai dewata, cinta yang
Kau agungkan itu ternyata tidak membuatku bahagia,” kata Sita. “Lepaskan aku segera daripadanya.” (2013)
18/
Sejatinya, di Taman Asoka, tempatnya disekap, --seperti pohon daun dst. yang tetap setia di tempatnya-- Sita pun ingin setia itu tetap tumbuh di tempat asalnya. (2013)
18/
Sejatinya, di Taman Asoka, tempatnya disekap, --seperti pohon daun dst. yang tetap setia di tempatnya-- Sita pun ingin setia itu tetap tumbuh di tempat asalnya. (2013)
19/
Di taman, kumbang melayang, bersama sekawanan kupu. Dari jauh, ia tahu, lelaki itu memandangnya. “Aku suka dia,” gumam Sita. (2013)
20/
20/
Kesucian itu masalah antara
aku dan kamu. Yang kamu tuntut, martabatmu. Sekarang aku tahu, cinta
itu egois. Izinkan sekarang aku menangis (2013)
21/
Sita mulai gamang menafsir cinta. Dan untuk Rama, ksatria Ayodhya itu, kesetiaannya memang ternyata hanya norma. (2013)21/
22/
Perzinahan adalah jika aku
tidak mencinta, kata Sita. Baginya cinta itu memang soal rahasia. Dan ia merasa tidak berdosa. (2013)
23/
Dari Alengka, Sita menuju
api, demi membuktikan sesuatu yang tak ada.
Sebuah ilusi perihal setia, cinta, kesucian dll. “Rama, ternyata bukan kamu yang aku cari!”
(2013)
24/
Aku suci, aku setia. Dewata telah menyaksikannya. Bahkan mereka tahu, jantungku telah dipanah Rahwana,
raksasa itu, hingga berdarah2. (2013).
25/
Benar, aku telah dijebak
Rama. Benar pula, Rahwana telah menawanku. Hatiku yang ditawannya, kata Sita. (2013)
26/
Cintaku pada Rama telah
padam didinginkan api penyucian. Tapi cintaku pada Rahwana menyala justru karena air
mata. (2013)
27/
Ah cinta, kenapa kau tembus hatiku sampai berdarah? Kami memang pernah saling memanah, tapi… (2013)
28/
Aku pulang ke Ayodhya, karena cinta dan berbakti, teramat sederhana di mata Rama. Ia tak pernah menafsir lebih dari itu. (2013)
29/
Karena cinta dan hidup itu absurd, kematian tidak pernah sia2. Ia selalu bisa mengatakan banyak hal yang tak bisa dilafalkan. (2013)27/
Ah cinta, kenapa kau tembus hatiku sampai berdarah? Kami memang pernah saling memanah, tapi… (2013)
28/
Aku pulang ke Ayodhya, karena cinta dan berbakti, teramat sederhana di mata Rama. Ia tak pernah menafsir lebih dari itu. (2013)
29/
Kebahagiaan itu, pada akhirnya takdir. Tak ada kaitannya dengan cinta dan kesetiaan tak ubahnya seperti puisi dan keindahan. (2013)
30/
30/
“Ini
suratku yang pertama dan terakhir, untukmu, Sita. Cinta tidak mati. Ia kekal,” tulis Rahwana sebelum bertemu ajal (2013)
31/
31/
Sita terisak: Aku ingin
memeluk jazadmu. Aku inginkan kematianmu membakar gairahku agar aku tetap bisa
mengenang kisah ini. (2013)
32/
33/
Rama berpikir, istrinya
kini dingin seperti es lilin. Ia merasa, perkawinan hanya norma dan cinta hanya angin. (2013)
34/
34/
Cinta itu –kata Sita-- tak
kuketahui rinciannya. Yang kuyakini, mencinta dan dicinta itu pahala yang tak
terbaca. Ia kekal. (2013)
35/
35/
Kata Rahwana: Ini bukan perkabungan. Kematianku
karena Rama, adalah kematian untuk hidupmu yang indah. Rayakanlah. (2013)
36/
37/
36/
Aku tidak menangisi kematian.
Karena saat kumasuki gelap, sejatinya aku tengah menuju terang cintamu yang hangat. (2013)
37/
Aku tidak bersedih karena kematian. Kita mati, cinta hidup. (2013)
38/
Segala yang hidup akan mati. Yang tetap hidup, kita, di dalam kenang abadi. (2013)
38/
Segala yang hidup akan mati. Yang tetap hidup, kita, di dalam kenang abadi. (2013)