Tampilkan postingan dengan label Sang Peneroka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sang Peneroka. Tampilkan semua postingan
08 Desember 2014
KADO YANG TERSISA
Index:
Sang Peneroka,
Sugiyatno Dm
![]() |
| Foto: Zidny Ilma |
Index:
Esti Ismawati,
Sang Peneroka
07 Desember 2014
SEKILAS KISAH KURNIAWAN JUNAEDHIE DI BALIK LAHIRNYA MAJALAH ANITA
~Adek Alwi
ANITA DAN SAYA (1)
31 Januari 2009 pukul 10:38
Kampus Sekolah Tinggi Publisistik, Menteng Raya, Oktober 1978. Kurniawan Junaedhie, kawan kuliah dan sesama seniman, yang juga wartawan Majalah Dewi, minta cerpen kepada saya dan Lazuardi Adi Sage (alm). Itu permintaan kedua Jun, setelah yang pertama ia sampaikan beberapa saat berselang bersama Yanie Wuryandari (pun wartawan Dewi) ketika saya ambil honor ke kantor mereka di Jl. Padang. Jadi Jun serius. Tapi kami tanyai juga dia, “Buat apa? Dewi?”
“Pokoknya off the record dulu. Honornya serius, lho!” Dia seriuskan wajah.
“Berapa?”
“Sepuluh ribu!”
Memang “serius”.
Di Majalah Violeta, dan Ultra, honor cerpen saya masa itu Rp 3.500; Varia Nada Rp 2.500; Ria Remaja Rp 2.000; Sinar Harapan Rp 5.000; Gadis Rp 7.500; dua puisi di Buana Minggu Rp 1.250, kurang lebih sama dengan Minggu Merdeka. Angka-angka itu saja “gurih”. Tarif bus kota masih Rp 20 lalu naik Rp 25. Ji Sam Soe Rp 115/bungkus. Maka saya tulis cerpen Cintaku di Balik Awan, di bagian akhirnya terketik: Tomang Barat, 19 Oktober 1978. Jumpa lagi di kampus, saya kasih Jun. Rupanya Jun dan Yanie juga minta cerpen ke kawan penulis lain, disertai DP “off the record” jika ada yang tanya untuk majalah apa. Lalu, hari-hari berlalu dan Jun mulai jarang ke kampus. Lalu berhenti sama sekali; kelakuan yang saya perbuat setahun lebih kemudian, setelah sejenak di tingkat IV/1980).
Di Majalah Violeta, dan Ultra, honor cerpen saya masa itu Rp 3.500; Varia Nada Rp 2.500; Ria Remaja Rp 2.000; Sinar Harapan Rp 5.000; Gadis Rp 7.500; dua puisi di Buana Minggu Rp 1.250, kurang lebih sama dengan Minggu Merdeka. Angka-angka itu saja “gurih”. Tarif bus kota masih Rp 20 lalu naik Rp 25. Ji Sam Soe Rp 115/bungkus. Maka saya tulis cerpen Cintaku di Balik Awan, di bagian akhirnya terketik: Tomang Barat, 19 Oktober 1978. Jumpa lagi di kampus, saya kasih Jun. Rupanya Jun dan Yanie juga minta cerpen ke kawan penulis lain, disertai DP “off the record” jika ada yang tanya untuk majalah apa. Lalu, hari-hari berlalu dan Jun mulai jarang ke kampus. Lalu berhenti sama sekali; kelakuan yang saya perbuat setahun lebih kemudian, setelah sejenak di tingkat IV/1980).
Pada kasus Jun saya tak tahu sebabnya, untuk saya karena semacam kesombongan; sejak 1975 sudah wartawan, ngapain lagi sih belajar jadi jurnalis. Semula, saya reporter Majalah Ria Remaja yang segede buku tulis (Majalah Varia Nada, juga Aktuil awalnya begitu). Lalu bantu koran daerah, Haluan (Padang), terutama untuk peristiwa budaya. Saya pun rajin baca, juga menjaga tekad: keputusan tak populer memecat diri dari bangku kuliah (yang bikin kecewa abang terutama abang sulung yang membiayai, bikin sedih orang tua karena 1 dari 9 anaknya takkan bergelar sarjana), harus dibuktikan sebagai pilihan yang benar. Saya harus duduk di pucuk profesi kewartawanan, pemimpin redaksi, agar sama dengan rektor saya di STP, Drs AM Hoeta Soehoet, mantan Pemimpin Redaksi Harian Abadi. Jadi mudah dibaca, kelahiran Anita perpaduan cerdik melihat pasar dan kreativitas rada nakal-nekat. Owner Anita, R Risman Hafil, seorang dari tiga pemilik dan pemimpin Majalah Dewi, sedang dua wartawannya, Yanie Wuryandari serta Kurniawan Junaedhie, adalah para pengarang yang cerpennya digandrungi remaja.
Belakangan, saya pikir-pikir, jika saja orang bertiga itu (Risman Hafil, Kurniawan Junaedhie, Yanie Wuryandari) tidak melakukan itu, jangan-jangan tak menjamur majalah kumpulan cerpen di era 1980-an. Anita kedua setelah Gadis yang menerbitkan, kemudian ada Ringan, Pesona, Tina, Aneka, Asyiiik, Nino Bagus (di Bandung), dll. Bahkan Majalah Aneka Ria (sebelum manajemen Aneka Yes) pun terbitkan majalah kumpulan cerpen, juga Majalah Ria Film. Pokoknya ramai. Jangan-jangan juga, jalan sejarah sastra Indonesia agak beda dari yang kita kenal saat ini. Sebab, banyak pula yang menjadikan majalah kumpulan cerpen (termasuk Anita) ajang latihan sebelum memasuki penulisan lebih serius. Sebutlah Kurnia Effendi, Gus tf Sakai, atau Agus Noor, yang saat jumpa pertama di kantor saya Jl. Fatmawati tahun 1998 langsung bilang, “Bang Adek, saya dulu nulis di Anita!” Wah. Padahal cerpen kami sama terpilih untuk “Cerpen Pilihan KOMPAS 1994”. Mereka yang di lapangan sastra sebelum masa majalah kumpulan cerpen itu pun, katakanlah Putu Wijaya, Abrar Yusra, Sides Sudyarto DS, ikut meramaikan Anita; selain Yudhistira Ardi Noegraha, Adri Darmadji Woko, Syarifudin A Ch, Arwan Tuti Artha (menyebut sedikit nama saja). Sementara di rubrik “Cakrawala Puisi Anita” (yang mulai dibuka seiring Anita terbit dua kali sebulan, volume 24 Kamis ke-1 Januari 1981, 6 bulan sesudah saya di Anita), ada nama Acep Zamzam Noor, Soni Farid Maulana, Syarifuddin Arifin, Syamsudin Noer Moenadi, Hardho Sayoko SPB, Arief Joko Wicaksono, Irawan Sandya Wiraatmaja, Remmy Novaris DM, dll.
Jadi kalau saya saja terangguk-angguk karena merasa sudah melangkah “di jalan yang benar” pernah terlibat di Anita, apalagi Uda Risman Hafil (alm), Yanie Wuryandari, Kurniawan Junaedhie; “tiga proklamator” Anita, meski ulah mereka semula sempat bikin “geger”. Tetapi di awal Januari 1979 itu yang terlintas di pikiran saya: nah, tambah banyak tempat menulis! Dan, harus cepat-cepat jumpai Jun, minta honor! Terlebih, di kampus, Lazuardi Adi Sage bilang, “Sudah ambil honor, Dek?” Dia sudah. Hari sebelumnya saya bolos kuliah; menstensil Buletin Sanggar A yang saya pimpin (anggotanya kawan kuliah seperti M Nigara, Remi Soetansyah, Amrizal Ramli; yang tak lain penulis Anita semua). Saya lalu ke Jl. Padang, jumpa Kurniawan-Yanie. Jun ajak saya ke ruang bosnya, R Risman Hafil; saya sapa Uda karena sedaerah, serta lebih tua dari saya 11 tahun. Muda, ramah, enerjik. Selama berbincang ia didampingi Rujito SK, yang kelak Wapemred Tiara (adik Anita). Tak terbayang bahwa setahun lebih kemudian, tahun 1980, Da Risman mengirimi saya dua surat berisi sama, ke alamat abang di Ciawi Bogor, dan Tomang Barat. Isinya, meminang saya jadi redaktur Anita; menggantikan Emji Alif yang tak betah lama-lama tinggalkan gunung hingga hanya dua bulan tahan bermesraan dengan Anita. Malah Astuti Wulandari pun dia tinggal. Juga Rifda yang manis, kemanakan Da Risman; yang bertugas mecatat naskah masuk atau di-retour.
Eh, saya malah pegang rekor, 9 tahun lebih di Anita! Dari usia 27 tahun minus 12 belas hari, hingga umur 36 plus 7 bulan (saya resmi pergi dari Anita 31 Januari 1990 tapi sejak Desember 1989 tinggal ‘kasih bekal’
kepada rekan yang tinggal, seperti diminta Da Risman). Atau sejak pengirim cerpen memanggil saya Adek saja, bahkan Dik Adek bagai Mbak Yayuk Nurtono di Surabaya, lantas Bang Adek (Wibi Permani yang asal Bali: Bli Adek), belakangan mulai disapa Om! Nah, kalah jadinya “sang proklamator” Kurniawan-Yanie, “sang pelanjut” Adhie M Massardi dan Astuti-Emji!
ANITA DAN SAYA (3)
1 Februari 2009 pukul 13:57
KURNIAWAN Junaedhie, satu dari tiga perintis Anita, menulis di dalam bukunya "Rahasia Dapur Majalah di Indonesia" (Gramedia, 1995) mengenai Anita: “Masa kejayaan majalah remaja ini diperoleh pada tahun 1986, ketika majalah ini dikemudikan oleh orang bernama Adek Alwi. Saat itu, tirasnya sempat mencapai angka 60 ribu eksemplar. Majalah ini bahkan sempat populer dan menjadi andalan serta wahana kreativitas bagi pengarang cerpen remaja di Indonesia. Banyak nama pengarang yang kini menghiasi media massa di Indonesia, lahir pertama kali melalui majalah remaja ini.”
Kurniawan berendah hati tak menyebut nama dia dan Yanie Wuryandari di bagian yang membahas Anita itu. Juga, sebetulnya tidak tahun 1986 “masa kejayaan” itu dicapai, tapi sejak 1985. Tiras Anita pun lebih dari 60 ribu: 65 ribu eksemplar. Seingat saya Anita makin melesat sejak terbit 3 kali sebulan, yang dimulai pada volume 57 edisi ke-2 April 1982.
Itulah sekilas peran Kurniawan di balik layar sastra Indonesia.
Index:
Adek Alwi,
Anita Cemerlang,
Sang Peneroka
CORAK EMPAT SAJAK KURNIAWAN JUNAEDHIE
~Adek Alwi
Ada empat sajak Kurniawan Junaedhie dalam “Antologi Puisi Sosial 51 Penyair Pilihan: Bangga Aku Jadi Rakyat Indonesia” yang ia editori bersama-sama Adri Darmadji Woko, Dharmadi, dan Handrawan Nadesul (Kosa Kata Kita, Jakarta, Februari 2012). Ke-4 sajak itu: “Di Atas Lokomotif Bersama Mao dan Soekarno”, “Indonesia di Mulut”, “Mei 1998, Kisah Sepotong Ame”, dan “Hidup Dengan Sepatu”.
Bagi saya sajak-sajak itu menarik tak cuma isinya, lebih karena cara menyampaikan –dan ini membuat saya tambah percaya bahwa perihal sajak bagi penyair tak hanya perkara isi tapi juga soal cara mengekspresikan. Kedua, sajak-sajak itu menarik sebab terlihat pula di situ proses perjalanan si penyair menemukan cara itu, yang mengantarkan ke bentuk atau corak berbeda dengan sajak dia terdahulu. Kiranya di sini kegelisahan-tantangan penyair umumnya, yaitu pencarian menemukan cara ucap baru, yang berujung pada corak/bentuk berbeda, sebab cara/bentuk sebelumnya mungkin ia rasa tidak lagi efektif bergreget. Walhasil, empat sajak Kurniawan itu berbeda corak atau bentuknya dengan sajak-sajak ia dalam kumpulan “Selamat Pagi Nyonya Kurniawan” (Kolase Kliq, Jakarta, 1978), meski gejala ke arah itu sudah terlihat di beberapa sajak dia di kumpulan “Cinta Seekor Singa” (Bisnis2030, Jakarta, 2009). Dan, boleh jadi semakin tampak atau malah sudah pas, jelas, di kumpulan-kumpulan sajak berikutnya yang tak saya punyai seperti “Perempuan Dalam Secangkir Kopi” (2009) dan “Sepasang Bibir di Dalam Cangkir” (2011).
Perbedaan itu tampak pada struktur bentuknya. Jika struktur sajak-sajak di “Selamat Pagi Nyonya Kurniawan” terdiri atas bait yang tertib, baris/larik juga tertib pada bait, bunyi terjaga karena rima, pun pemenggalan larik atau enjambemen; hal-hal itu tak ditemui lagi di empat sajak tadi (ditulis tahun 2010-2011, 3 di bulan Desember 2011). Berikut sajak “Keluh” dari kumpulan “Selamat Pagi Nyonya Kurniawan” sebagai contoh:
seperti pada bumi, kami pun mengeluh
menghembus dan mendesah dibiarkan abadi
seperti pada bumi, kami pun mengeluh
mendesir dan mencair dibiarkan abadi
Atau tambahlah satu lagi dengan sajak “Kangen” yang terdiri atas dua bait ini:
Atau tambahlah satu lagi dengan sajak “Kangen” yang terdiri atas dua bait ini:
dengan jam aku hanya pejam
pintu dikatupkan, matahari yang terbenam
dengan surat hati pedih tak tercatat
tempat gelap selalu menggeliat
tapi antara langit dan langit
lebih dekat hati
lebih diam padam
dengan jiwa luka karena dunia berkhianat
Dan berikut petikan bait pertama dari empat bait sajak “Mei 1998, Kisah Sepotong Ame” (yang tipografinya dalam buku rata kanan kiri sehingga tampak satu, utuh; baris tidak lagi berupa larik melainkan penggalan
kalimat atau kalimat baru):
“Hari itu aku naik sepeda. Pedal kukayuh; dan sepeda menyeretku ke jalan berbatu. Namaku Ame. Hari itu Mei 1998. Aku sedang mens.
Aku makan sepotong sosis dari lemari pendingin. Aku mencuci tangan di wastafel. Aku menepuk pantat adik bayi di tempat buaian. Aku menjemur pakaian dan memecahkan cangkir. Aku mencium pipi Ibu di dapur. Aku melihat wajahku yang pucat di cermin. Aku sedang mens.
Kukayuh hatiku untuk menekuk waktu yang panjang menjadi pendek. Kulepas tubuhku meluncur di jalanan membuyarkan kawanan itik dan membiarkan anganku terkelupas”.
Dengan bentuk seperti itu, sajak “Mei 1998, Kisah Sepotong Ame” hadir dengan cara tak biasa, mendekat ke prosa, bercerita --sehingga apa yang disebut pengamat (Dick Hartoko dan B Rahmanto: “Pemandu di Dunia Sastra”, 1986) bahwa batas antara puisi dan prosa pada sastra modern sering kabur atau tipis, terlihat di sini. Tapi tidak begitu dengan sajak “Keluh” serta “Kangen” tadi, yang membangun dirinya dengan kata (tidak kalimat), larik, rima, dengan bunyi, enjambemen –tak berkisah.
Jadi, corak sajak “Mei 1998, Kisah Sepotong Ame”, “Di Atas Lokomotif Bersama Mao dan Soekarno”, “Indonesia di Mulut”, “Hidup Dengan Sepatu” adalah sajak-sajak naratif, sajak bertutur, bercerita. Bait pertama “Mei 1998” itu mendeskripsikan “aku” lirik: nama, kegiatan di rumah, keadaan “aku” lirik waktu itu, hubungan dengan keluarga, perjalanan berjalan-jalan naik sepeda “untuk menekuk waktu yang panjang menjadi pendek.”
Bentuk yang naratif itu makin terlihat kalau kita lanjut membaca bait ke-2, 3, dan 4 ini:
Suara rante dan pedal berderak-derak seperti suara pabrik. Angin mengepal-ngepal di betis dan paha. Sadel melonjak bila ada kucing melintas, dan ragaku seperti hendak ditarik ke langit. Aku teringat Han yang suka menyelipkan bunga dalam buku karena aku suka bunga dan dia kutubuku. Alangkah indahnya hidup Angin terus menderu dan menampar pipiku yang pucat. Lalu langit gelap tiba-tiba. Aku seperti untaian kalung yang tumpah di jalanan dan membiarkan tumpukan najis muncul dari gorong-gorong. Aku melihat sepeda naik ke tubuhku. Aku melihat sekawanan kambing mencabik-cabik pahaku. Aku melihat Han menyelip dalam buku dan menggigit mulutnya sendiri. Aku melihat pecahan wastafel dan jeruji roda masuk ke vagina. Aku seperti telur mata sapi di penggorengan. Aku mendengar suara gergaji di dapur. Aku melihat mentega meleleh dari lemari pendingin. Aku terlempar dalam kalender dan bersandar pada penanggalan. Hidup ternyata tidak indah. Aku sedang mens.
Namaku Ame. Sekarang aku tak punya sepeda.
Bait terakhir yang cuma sebaris atau tiga kalimat itu adalah ending. Bait ke-3, deskripsi peristiwa yang menyebabkan si “aku” lirik menyimpulkan “Hidup ternyata tidak indah”. Sedangkan bait ke-2 mengisahkan jalanjalan naik sepeda tadi, sewaktu “aku” lirik masih merasa “Alangkah indahnya hidup”. Semua itu tampil rangkai-berangkai laiknya tuturan cerita.
Khusus pada sajak “Mei 1998, Kisah Sepotong Ame” ini, pengisahannya pun (jika dibaca dari awal bait pertama) menggunakan teknik sorot-balik atau flash-back bak lazim pula pada cerita, pada prosa, sebutlah cerpen atau novel.
Di luar teknik pengisahan yang sorot-balik itu, hal yang sama akan kita jumpai pada tiga sajak lainnya, yaitu berupa: deskripsi mengenai kegiatan “aku” lirik, apa yang “aku” lirik jumpai, alami, lakukan, keadaan/ peristiwa di luar si “aku” lirik, kemudian ending –semua berurut. Berikut petikan lengkap sajak “Di Atas Lokomotif Bersama Mao dan Soekarno” (tipografi sajak ini, begitu pula sajak “Indonesia di Mulut” dan “Hidup Dengan Sepatu”, kanan kiri rata pula dalam buku):
Masinis itu membaca Mao dan aku membaca Soekarno. Di loko itu, kami berhadap-hadapan seperti jurang. Di jendela, tiang-tiang listrik melesat seperti air ludah. Kereta terus melolong-lolong dan membelah-belah kabut dan memotong-motong bayangan senja yang mulai jingga. Sesekali kereta berguncang. Gerbong beradu gerbong. Dan kacamataku goyang.
Masinis itu membiarkan rambutnya berkibar-kibar bersama angin senja yang jingga itu. Dia membuka bukunya. Huruf-huruf dalam buku itu pun serta merta berserakan di udara. Kata-katanya tergulung di bawah bordes, dan tergelincir dalam pusingan angin dekat ketel; lalu tersapu mendung. Kemana kereta api ini bergegas? Kita sedang menuju Negeri Antah Berantah,” teriak api dari tungku loko dengan mata berkilat-kilat. Loko menjerit-jerit. Asapnya bergulingan tertinggal di dahan dan ranting. Kacamataku goyang, dan Soekarnoku melompat ke cerobong uap. Masinis itu lenyap di baliknya. Senja pun semakin jingga.
Macam dongeng, serupa cerita; prosais –lengkap dengan tanda baca seperti koma (,). Dan juga begitu dengan sajak “Hidup Dengan Sepatu”, serta sajak “Indonesia di Mulut” yang bait pertamanya seperti ini:
Aku sedang menggosok gigi di depan cermin, pacarku sedang main fesbuk. Tiba-tiba ada kapal yang menambatkan sauh di geraham. Aku terkesima. Gusiku jatuh dan sikat gigiku me-loncat ke wastafel. Pacarku serentak mematikan laptopnya. Kuseret wajahnya ke depan cermin. “Lihat, ada burung-burung beterbangan di dalam mulut,” kataku terpesona menunjuk rongga mulutku yang penuh busa odol. “Ya, kulihat ada zamrud katulistiwa,” kata pacarku sambil melongok langit-langit mulutku.
Sedangkan bait pertama dari sajak “Hidup Dengan Sepatu” yang terdiri atas empat bait serupa ini:
Jam lima pagi, aku sudah sampai ke sepatu. Waktu merangkak di jam tangan. Aku berjalan bersama sepatuku. Udara segar. “Mari kita bersulang, Kawan,” kataku. Jam terus merayap seiring detak waktu.
Sekali lagi, semua sajak itu prosais, bercerita. Bertutur dia kepada kita; mendeskripsikan yang dialami, dirasakan, dilakukan si “aku” lirik, keadaan di luar “aku” lirik. Dan semua itu disajikan rangkai-berangkai bagai dalam sebuah cerita.
***
Jika sudah begitu dekat sajak-sajak itu menghampir ke prosa sehingga tipis saja bedanya dengan prosa, mengapa dia masih disebut sajak/ puisi? Atau sekalipun dalam wujud kode-sastra yang paling sederhana (Prof Dr A Teeuw: “Membaca dan Menilai Sastra”, 1983) kenapa sajak-sajak itu tidak ditempatkan di buku kumpulan cerpen misalnya, tapi tetap di antologi puisi? Jawabnya tentulah karena dia masih berupa sajak/puisi, lantaran bangunan pokoknya tetap terdiri atas susunan imaji, rangkaian-rangkaian imaji.
Sudah tentu ada cerpen dibangun atas susunan imaji, umpamanya dalam Majalah Sastra “Horison” periode 1960-an/1970-an; ditulis sastrawan kita, antara lain Sutardji Calzoum Bachri, Arswendo Atmowiloto, Frans Nadjira, Yudhistira Ardi Noegraha, Korrie Layun Rampan, Abdul Hadi WM juga Kurniawan Junaedhie. Di samping sastrawan luar seperti Alexander Solzhenitsyin. Akan tetapi jika ditilik lebih jauh cerpen-cerpen itu tetap tampak lebih berat kepada prosa lantaran dia tak dapat bebas-bebas amat mengeksplorasi kata/bahasa untuk menghadirkan imaji, seperti dimungkinkan pada sajak. Sulit diterima eksplorasi-eksplorasi bahasa bagai berikut ini berkeliaran dalam prosa, meski dimaksudkan untuk menampilkan imaji: “Aku melihat sekawanan kambing mencabik-cabik pahaku”, “Aku melihat pecahan wastafel dan jeruji roda masuk ke vagina” dan “Aku terlempar dalam kalender dan bersandar pada penanggalan” dari sajak “Mei 1998, Kisah Sepotong Ame”. Atau dari sajak mantranya Sutardji Calzoum Bachri yang terkenal ini: “Ngiaauu! kucing dalam darah dia menderas lewat dia mengalir ngilu Ngiaauu! dia bergegas dalam aortaku dalam rimba darahku….” yang juga terkesan naratif, dan ketika dipublikasikan Majalah “Horison” edisi Desember 1974, berjudul “Kucing”. Eksplorasi-eksplorasi kata/bahasa semacam itu atau lebih “liar” lagi seakan-akan “tidak karuan” karena menafikan makna kata yang umum/baku, hanya dimungkinkan di dalam sajak/puisi.
***
Akhirnya, ingin saya katakan bahwa cara ucap berbeda dalam bentuknya yang naratif itu tak hadir tiba-tiba di sajak-sajak Kurniawan Junaedhie. Meski samar, bagai saya sebut di awal tulisan ini, gejalanya sudah tampak di beberapa sajak di kumpulan “Cinta Seekor Singa”. Bahkan lebih jauh lagi, di dua cerpen dia di “Horison“ edisi Februari 1976 yang juga dibangun atas susunan imaji; dan salah satunya berjudul “Saelan dan Hujan” (yang tipografinya rata pula kanan kiri ketika terbit di Majalah “Horison”). Begini cerpen itu:
“Tidak menduga akan halnya banjir besar di sungai huangho akibat banyaknya lumpur-lumpur yang bersisa di tepinya, atau karena tidak pernah membaca berita perihal hujan yang turun semalaman di mesir sehingga sungai nil sungai yang konon menghidupi bangsa mesir dengan menyuburkan tanah dan sawah ladangnya, banjir, maka sekonyong-konyong Saelan asal Purwokerto, tinggal dekat stasiun belakang penjual rokok siong yang emaknya tukang rokok pula secara bersungguh-sungguh melarang orang tuanya begini: KALAU begitu besok pun hujan akan turun dan melanda rumah kita, emak, tadi emak telah kusuruh membeli genting baru tidak mau, padahal kucing-kucing semalaman berkelahi tentang bandeng di atasnya”.
Dan mungkin pula gejala itu makin jelas, atau bahkan sudah terbentuk, menjadi, pada dua kumpulan sajak Kurniawan setelah “Cinta Seekor Singa”: “Perempuan Dalam Secangkir Kopi” dan “Sepasang Bibir di Dalam Cangkir” yang tidak saya punyai (tak tersisa di toko buku, licin macam piring dijilat kucing, dan penyairnya agaknya juga tidak sudi memberi barang sebiji; hahaha), sehingga tidak saya ketahui proses perkembangannya di dua buku itu. Tetapi sekali lagi, bentuk atau corak sajak-sajak yang naratif bercerita itu tak didapat Kurniawan Junaedhie tiba-tiba. Cara atau bentuk itu adalah bagian dari perjalanan sejarah persajakan dia, ataupun kepenulisan dia.
Bagi kita selaku pembaca, atau khususnya saya sebagai penggembira alias penikmat sajak wabilkhusus sajak Kurniawan, hepi saja dengan cara/corak/bentuk sajaknya yang berbeda dengan dulu itu. Malah girang
bak dulu saat dibelikan baju baru Hari Raya oleh ibu. Saya bolak-balik baju itu, saya patut-patut dia di muka kaca, saya elus gosok-gosok, lalu mekar senyum saat merasa pas alias cocok. Dan bersamanya saya dibawa ke isi, atawa makna. o
WebRepOverall rating
Index:
Adek Alwi,
Sang Peneroka
MEMBACA "CINTA SEEKOR SINGA" KURNIAWAN JUNAEDHIE
Dimuat dalam Suara Karya, Sabtu 21 November 2009
~Adek Alwi
Adek Alwi
~Adek Alwi
Tujuh puluh sembilan sajak Kurniawan Junaedhie terdapat dalam kumpulan sajak terbarunya, “Cinta Seekor Singa: Sajak-sajak 1974-2009”, terbitan Bisnis2030. Dengan subjudul “Sajak-sajak 1974-2009” itu terang
sudah kumpulan ini merupakan kompilasi, atau semacam rekam-jejak kepenyairan KJ dalam rentang waktu yang tak singkat, 35 tahun. Karena kompilasi, maka dalam “Cinta Seekor Singa” dimuat sajak-sajak yang tentu dimaksudkan KJ menjadi cerminan karya-karyanya di empat periode itu. Tampillah 10 sajak mewakili periode 1970-an, periode 1980-an 18, periode 1990-an 38, periode 2000-an 13 sajak. Pemuatan sajak-sajak itu berurutan sesuai periode penulisannya.
Dengan komposisi isi seperti itu, banyak hal dalam perjalanan kepenyairan KJ pun terlihat. Sebutlah bentuk sajak dia serta kecenderungannya, cakupan tema yang ia garap, dan hal-hal yang lenyap atau ditinggalkan di puisi-puisi yang ia tulis kemudian. Atau sebaliknya, hal-hal yang menetap serta tambah matang seiring jalan usia dan jam terbang KJ selaku penyair yang tahun ini memasuki tahun ke-35 itu.
Dari segi bentuk, puisi-puisi KJ amat beraneka. Ada yang mirip dengan bentuk tradisional yaitu pantun, dengan empat larik tiap bait, seperti terlihat misalnya di sajak “Lagu Percintaan”, “Waktu”, “Sajak Orang Kasmaran”, “Januari 2003” dan lainnya. Tetapi panjang-pendek larik di sajak-sajak itu tidak seteratur pantun. Begitu pula rima akhirnya. Ada yang berpola aa aa, tapi di bait berikut itu tak lagi dipedulikan, dan tak pula memakai pola ab ab seperti lazimnya rima akhir pada sampiran serta isi pantun. Unsur sampiran dan isi yang menjadi ciri pantun juga tidak terdapat dalam sajak KJ; paling banter samar saja menguar, ini pun jarang. Jika begitu, apa yang membuat sajak-sajak KJ itu terasa dekat dengan pantun? Selain larik yang tertib empat-empat tadi, unsur sampiran dan isi yang terkadang hadir secara samar, irama sajak-sajak itu berperan dalam hal ini. Membacanya saya seperti menikmati irama pantun. Dan itu agaknya berasal dari diksi yang tepat, tambah rima akhir meski tak tertib, serta rima internal juga rima identik. Berikut bait pertama dan kedua sajak “Januari 2003” yang terdiri atas tiga bait: Jika kupandang pohon cemara berdiri/Kurasa hati jadi gamang/Kemana cinta pergi,/Ke sumur hati terdalam, adikku sayang//. Bait kedua: Di situ ada jalan berliku/Dan bukit menanjak di kaki langit,/di situ hatiku karam terjal/Seolah tercium bau sangit//.
Dari tanda-tanda itu saya ingin tegaskan sajak-sajak itu memang terinspirasi oleh pantun. Terinspirasi di sini dalam taraf yang umum, seperti juga ditemui di sajak-sajak penyair Indonesia lainnya, sebut Goenawan Mohamad serta Chairil Anwar. Hal itu terjadi karena pantun bagian dari jatidiri kita, kehidupan kita. Dengan begitu, wajar pula kalau pada Hartojo Andangdjaja terlebih-lebih lagi Sitor Situmorang, terinspirasi itu menemukan maknanya yang lebih. Pada Hartojo terlebih Sitor pantun tak sekadar diterima sebagai sesuatu yang akrab dengan kehidupan kita tapi juga berlanjut dengan menjadikannya lahan yang asyik pula untuk diolah. Namun bagai disebut di atas, bentuk sajak-sajak KJ tak hanya yang seperti itu. Di “Cinta Seekor Singa” kita temukan pula sajak-sajak panjangnya dengan bangunan bait tidak teratur; satu, dua, tiga, empat malah lebih. Begitu pula lariknya, panjang dan pendek, dan bak tampil sesukanya dalam sebuah sajak.
Bentuk lainnya dari sajak KJ, terutama sajak-sajak yang ditulis periode 1990-an dan 2000-an, terlihat kecenderungan menjurus ke naratif, seolah bertutur, berkisah. Dengan aneka bentuk sajak seperti itu heran juga kenapa KJ tak memasukkan sajak-sajak kwatrin dalam “Cinta Seekor Singa”. Hemat saya, sajak-sajak kwatrin KJ seperti di kumpulan sajak “Selamat Pagi Nyonya Kurniawan”, terbitan Kolase Kliq tahun 1978, cukup pula kuat dan ikut mewarnai jalan kepenyairannya. Di sajak-sajak kwatrin itu imaji dibangun dari yang bisa diberikan warna, dan pemakaian kata hemat. Sajak-sajak itu umpamanya “Kwatrin Hijau”, “Kwatrin Kuning”, “Kwatrin Cokelat”, “Kwatrin Merah Jambu”, “Kwatrin Kelabu”. Berikut kutipan dari “Kwatrin Hitam”: daki daku, daki/jika pun aku gunung./daki daku, daki/keluhku senantiasa tak terbagi.// Meski tidak berbentuk kwatrin di “Cinta Seekor Singa” hadir pula sajak-sajak yang juga kuat, justru sebab pemakaian kata yang hemat tadi dan pemanfaatan banyak kata dasar. Sebut misalnya sajak “Tanah Lahir” dan “Saat Edelweiss Diputar” berikut ini: kenapa tidak sepekan,/tapi sembilan bulan,/ kita dikandung badan?//. Bait kedua: kenapa tidak berseri,/tapi dengki/ bersarang di hati?//. Bait ketiganya: kenapa tidak sajak,/tapi hidup layak,/kita cari?//. Dan bait keempat: saat edelweiss diputar, nak,/aku makan hati manusia//. Karena kedua sajak itu ditulis pada periode yang sama (1970-an) dengan puisi-puisi kwatrin tadi, maka agaknya dapat ditandai ciri sajaksajak KJ periode itu. Antara lain pemakaian kata yang hemat tadi, diksi yang terjaga hati-hati, pemanfaatan banyak kata dasar, juga kecenderungan untuk taat benar pada unsur-unsur sajak seperti upaya membangun imaji, metafora, dan lainnya. Di periode berikut terutama periode 1990-an dan 2000-an berbagai hal itu terkesan tak begitu ketat lagi. Ini yang menyebabkan sajak-sajak KJ pada periode-periode terakhir itu terasa lebih cair, lebih komunikatif, lebih bersahaja.
Tetapi ingin pula saya sebutkan bahwa, pertama, pergeseran seperti itu dalam periode kepenyairan yang terbilang panjang suatu hal yang wajar, kalau tidak niscaya. Sutardji Calzoum Bachri setelah gulang-gulung berbilang tahun dengan puisi-puisi mantra akhirnya menulis puisi seperti “Tanah Air Mata” yang juga terkesan lebih cair, bersahaja, lebih komunikatif, dibanding sajak-sajak dia sebelumnya. Kedua, kebersahajaan atau lebih cair dan lebih komunikatif memang tak selalu berarti tidak dalam, atau tidak mampu memberikan sesuatu yang bernilai. “Tanah Air Mata” Sutardji itu dapat lagi diambil buat contoh. Dan pada KJ, banyak sajaknya dari periode 1990-an dan 2000-an juga membuktikan hal itu. Ambil misalnya sajak “Cinta Ayah” yang berkisah tentang kefanaan hidup serta cinta seorang ayah ke keluarganya: anak-anak, serta istri. Menulis KJ di tiga larik akhir bait kedua sajak itu: Jika ada yang membuatku ingin kembali/Itulah kalian, orang-orang yang membuatku pernah/ betah di bumi//. Lalu bait penutup sajak ini pun, yang bagi saya terasa indah dan bermakna: Umur ternyata hanya kendaraan/ke kota bernama keabadian//.
Sajak “Cinta Ayah” itu dijadikan contoh karena di periode 1990-an dan 2000-an tema dominan sajak-sajak KJ keluarga, serta kerinduan pada masa lalu juga kota kelahiran. Saya tidak tahu apakah itu karena pengaruh usia yang tidak muda lagi, tapi yang juga mengemuka di sajak-sajak itu, kerinduan tersebut tidak disikapi KJ dengan galau. Bisa jadi karena KJ sudah sampai ke hakikat “umur ternyata hanya kendaraan, ke kota bernama keabadian” tadi. Jika asumsi itu benar, maka bagi saya lazim pula kalau sajak-sajak KJ periode-periode terakhir itu banyak digelimangi humor. Lihat saja juduljudul ini: “Nostalgia Ketinggalan Kereta”, “Di Antara Kambing, Teringat Kamu”, “Laki-laki Sontoloyo Ingin Menjadi Singa”. Metafor metafornya pun, yang dipetik dari hal-hal yang terlihat sehari-hari, mengundang senyum.
Coba: Begitulah nasib laki-laki yang nglokro/hanya layak jadi teman kecoa/dan sahabat ternak (sajak “Laki-laki Sontoloyo”). Atau: cuma karna kamu,/aku ogah bongkok, seperti barang rongsok (sajak “Di Antara Kambing”). Begitulah “Cinta Seekor Singa”, kumpulan sajak KJ sahabat saya, yang pada 24 November ini berusia 55. Akhirnya sebagai kado saya kutipkan bait awal sajak dia, “Umur”, yang ditulis tahun 1991 dan menurut saya tergolong kuat, indah, sekaligus lucu: november datang lagi. berapa usiamu?/ kerut kulit, buncit di perut/dan bayangan maut, datang silih berganti/ kita memang bukan ahlinya/yang bisa memutar turbin waktu//.
Index:
Adek Alwi,
Sang Peneroka
MENGAPA PERLU MENYUKAI PUISI? Catatan Kecil Buat Jun
~Handrawan Nadesul
Bangsa yang besar menaruh apresiasi pada kesusastraan, termasuk pada puisi. Berbeda dengan prosa yang mudah dinikmati, di negara yang sudah akrab dengan karya sastra pun penikmat puisi jauh lebih sedikit. Tapi
tak kenal maka tak sayang. Kesukaan pada puisi banyak dibangun oleh peran guru Bahasa. Begitu galibnya terjadi di kita. Namun tidak semua Guru Bahasa tergolong motivator bersusastra. Apalagi kalau kurikulum kesusastraanjadi anak bawang.
Kurikulum Bahasa yang terbaru sudah kehilangan modul puisinya, dan lebih didominasi teks. Saya yang paling bersedih melihat kenyataan ini. Bukan karena saya menyukai puisi, dan berikrar akan terus menulis puisi, melainkan karena tahu kalau bangsa mengapresiasi puisi memberi manfaat bagi kehidupan bangsanya. Puisi memperhalus budi, membuat kita arif bijak melakoni hidup dan kehidupan. Mestinya menjadi keperluan bangsa, dan wajib menjadi kebijakan pemerintah mengantarkan seluruh anak bangsa menuju ke sana.
Kemarin dulu saya diundang mengantarkan anak tingkat SLTP agar mau menulis puisi. Dari pertemuan dengan tiga ibu guru Bahasa saya menangkap kesan bahwa anak sekarang kurang, kalau tidak dikatakan sama sekali tidak menyukai puisi, kesusastraan pada umumnya. Di mata anak sekolah sekarang citra karya sastra sesuatu yang tidak semenarik musik, atau games. Hal lain, anak sekarang kurang gemar membaca.
Saya kira memang seperti itu gambarannya. “Generasi Platinum”, julukan generasi sekarang ini yang perjalanan hidupnya serba mulus, serba enak dan serba tersedia, kurang tantangan hidupnya, kian kurang diarahkan apa yang diperlukan untuk membuatnya lengkap dan matang sebagai insan, sebagai individu yang darinya akan terbangun bangsa yang besar dan beradab berbudaya.
Saya kira perlu ditinjau ulang kebijakan kurikulum yang melupakan perlu dan pentingnya menyukai puisi, karena lebih dari prosa, puisi punya kekuatan lebih lain dalam menghaluskan budi, dan mengasah manusia
jadi insan yang bijak. Kalau sekolah hanya menambah cerdas otak kiri yang tajam menganalisis, puisi menajamkan otak kanan, yang bijak dalam berpikir dan arif mengambil keputusan.
Ketika kondisi masyarakat sekarang semakin karut marut dalam tata nilai, dalam sikap budaya, dalam kesantunan, kedudukan peran puisi semakin jauh panggang dari api. Dari pertemuan kurang dari 2 jam dengan anak sekolah kemarin dulu itu, dengan sedikit pancingan dan motivasi, yang awalnya sepi peminat, akhirnya ternyata bisa spontan lahir juga puisi-puisi pemula, dan tidak buruk amat. Artinya talenta itu sebetulnya ada, tapi kurang terpicu untuk dimunculkan. Sekali lagi, seperti cerita lama, penyuka sastra lahir tergantung siapa guru Bahasanya. Dan di balik besar peranan guru Bahasa ada cara bagaimana karya sastra menjadi menarik pada zaman yang sudah berbeda. Bagaimana menjembatani karya sastra berat yang
sukar dimengerti lewat cara yang ringan dan memikat, itulah upaya menyiasatinya saya kira.
Sekali lagi bukan medewakan besarnya peran puisi, tapi bahwa semua negara maju, mewajibkan semua mahasiswa untuk mengenal kesusastraan di awal kuliah wajib melewati studium generale, mengenal kesusastraan apa pun jurusan kuliahnya. Calon insinyur, calon dokter, calon ahli hukum, apa pun jurusan keahliannya, dianggap membutuhkan bekal kesusastraan, termasuk puisi.
Halo para pengambil kebijakan Diknas, jangan abaikan peran besar kesusastraan, betapa tidak kecil pula peran puisi, jangan pernah dilupakan sebelum nanti kita telanjur menyaksikan generasi yang kering bukan insan beradab berbudaya, ketika yang hadir cuma karya otak kiri, tanpa diimbangi bijaknya otak kanan. Banyak keputusan penting bangsa eloknya terbit dari dua belahan otak secara berbarengan, supaya buah pikirannya senantiasa menjadi benar di mata semua orang, segala bangsa, segala tempat, pada setiap masa. Kalau otak kiri piawai melacak kebenaran, otak kananlah yang akan membangun keadilan.
(Buat Jun, seorang sahabat lama, semoga ungkapan ini bukan harus dirasakan sebagai sebuah kesengajaan, yang mungkin bisa menghibur Jun agar tidak perlu menyesal terdampar menjadi penulis, dan penyair. Setidaknya ini juga pilihan terhormat, dan mulia, dengan cara bagaimana hidup pernah kita isi. Selamat sukses Jun. Tetap berjaya dalam menulis apa saja. Bukanlah pernah kita bicarakan ihwal: “Teruslah menulis kalau tanpa itu kita tidak bisa hidup. Tapi berhentilah menulis kalau dengan pilihan itu kita masih bisa hidup.”)
Catatan kecil di Jakarta, 25 September 2014
Salam puisi,
Handrawan Nadesul
Index:
Handrawan Nadesul,
Sang Peneroka
03 Desember 2014
KETIKA KJ DITEMUKAN HANS
Catatan Kecil
~Soni Farid Maulana
sesekali kenakalanmu mengusik
dan aku hanya seorang penyaksi
DUA larik puisi di atas dipetik dari puisi Telah Kau Sunting Waktu, yang secara khusus ditulis oleh penyair Esti Ismawati untuk Kurniawan Junaedhie sebagai kado ulang tahun ke-60. Dua larik tersebut mengusik
ingatan saya pada masa-masa awal kreativitas saya sebagai penulis, yang waktu itu banyak menulis cerita pendek untuk Majalah Anita Cemerlang. Kurniawan Junaedhie (KJ) pada saat itu duduk sebagai salah seorang redaktur di majalah tersebut. Sebagai sastrawan, tentu saja ketika saya mulai belajar menulis cerita pendek maupun puisi, KJ sudah malang melintang dalam dunia puisi. Sebagai penyair KJ tidak hanya menulis puisi lirik, simbolik, dan haiku, tetapi juga menulis Puisi Mbeling di Majalah Aktuil yang diasuh oleh sastrawan sekaligus teaterawan Remy Sylado.
Kembali ke Majalah Anita Cemerlang, KJ bersama Yanie Wuryandari merupakan redaktur yang pertama di majalah tersebut. “Saya dan Yanie adalah pendiri Majalah Anita Cemerlang bersama R. Risman Hafil sebagai pemilik SIUPP. Kemudian dalam perjalanan selanjutnya saya mengajak Adek Alwi, dan Lazuardi Adi Sage, waktu itu mereka teman kuliah di STP, untuk bekerja di Majalah Anita Cemerlang. Saya ajak mereka, karena saya masih bekerja di majalah induk, yaitu majalah keluarga Dewi,” jelas KJ, dalam sebuah percakapan ringan, tempo hari. Berkait dengan terbitnya antologi puisi yang Anda pegang, ajakan Esti Ismawati menulis puisi untuk ulang tahun KJ yang ke-60, sungguh tidak diduga disambut banyak pihak. Ini membuktikan bahwa KJ punya jaringan di mana-mana. Dan apa yang dikerjakannya selama ini, dengan menerbitkan antologi puisi Negeri Poci, yang kemudian hari lahir dengan berbagai seri dengan berbagai judul, merupakan sebuah kerja budaya yang dilakukannya tanpa pamrih. Selalu dari setiap buku yang dilahirkannya bersama kawan-kawannya dari komunitas Negeri Poci maupun dari Komunitas Radja Ketjil selalu memberi ruang kepada para penyair generasi baru, dan tidak sungkan disatukan dengan para penyair yang sudah punya jam terbang cukup lama dalam dunia kepenyairan.
Bicara soal ketertarikan KJ memasuki dunia puisi, dengan tegas KJ mengatakan kalau dirinya tidak bertemu dengan penyair Handrawan Nadesul, dan Piek Ardijanto Soeprijadi, salah seorang penyair Angkatan 1966, mungkin dirinya saat ini sudah jadi pengusaha.. “Kedua penyair itulah yang menemukan saya saat masih SMA. Saat itu puisi yang saya tulis dimuat di sebuah harian. Mereka tertarik dengan puisi saya, dan mereka
bilang calon penyair masa depan. Saya tidak menyesal diajak ke jalan sunyi oleh Handrawan Nadesul dan almarhum Piek Ardijanto. Puisi telah mengajari saya dalam memahami kehidupan,” jelas KJ dalam sebuah percakapan singkat di Jejaring Sosial Facebook.
Dalam kaitan itu pula penyair Handrawan Nadesul, yang dipanggil oleh KJ, Hans, berujar, “ Halo Jun, he he, begitulah garis kehidupan saya duga. Tanpa rencana, tanpa bayangan, hanya ingin ketemu, kami ketemu teman-teman yang namanya sudah dikenal di Purwokerto. Tapi terus terang saya memang menilai Jun cerdas dalam berpuisi. Terbukti sampai sekarang imajinasinya liar dan nakal. Juga dalam menulis cerpen, dan pengalaman mematangkannya menjadi penulis apa saja. Saya kira talenta bertemu dengan realita. Dalam hidup, saya kira tidak ada yang kebetulan. Garis itu sudah hadir. Salam sukses. Saya tahu Jun menyesal jadi penyair.” Hahahaha, saya tertawa ngakak membaca dialog dua orang sahabat ini, dan dengan tegas pula KJ menjawab tidak menyesal. Wah ya, siapa yang menyesal jadi penyair, walau dari puisi yang ditulisnya tidak menghasilkan uang. “Dan malah bisa jadi berutang pada orang, saat kita minum kopi di warung,” papar Rendra suatu saat, ketika untuk pertamakali dan terakhir kali saya terbang ke Belanda bersama Rendra, mengikuti Festival de Winter Nachten pada 1999 lalu di Den Haag.
Tanpa diberi kesempatan untuk tumbuh dan berkembang sebagai penyair oleh KJ di Majalah Anita Cemerlang, sangat mustahil saya bisa tumbuh seperti sekarang ini. Saat itu Majalah Anita Cemerlang juga diawaki oleh Adek Alwi dan Lazuardi Adi Sage. Alhamdulillah saya bersama dengan Lazuardi Adi Sage, Leila S Chudori, Dorothea Rosa Herliany, Arie MP Tamba, dan Mochtar Lubis, terbang mengikuti acara South East Asian Writers Conference di Queezon City – Filifina. Inilah penerbangan pertama saya mengikuti acara sastra berskala internasional, yang berlangsung pada tahun 1990 lalu.
Bila penyair Esti Ismawati berkata dalam puisi yang ditulis untuk KJ berbunyi: sesekali kenakalanmu mengusik/ dan aku hanya seorang penyaksi// itu tidak salah. Kenakalan KJ sebagai penyair Mbeling pada satu sisi bisa kita rasakan dalam sebuah puisi yang ditulisnya di bawah ini:
Dari Horta Sampai Harto
Horta, presiden Timur Leste
Harti, teman twiteran
Harno, penyair tapi tak pernah nulis syair
Harta, yang kita cari sepanjang hayat
Harto, pemecah rekor Muri
Presiden terlama di Indonesia
2010
Selain membikin kita tertawa dengan puisi di atas, KJ juga bisa membuat kita merenung, walau apa yang ditulisnya itu hanya dalam tiga baris. Kita baca puisi tersebut di bawah ini:
Penyair
Penyair seperti tukang kayu
Banyak yang bisa memotong kayu
Tapi sedikit saja yang jadi empu
11 Oktober 2010
Apa yang ditulis KJ dalam puisi di atas, sesungguhnya merupakan kritik yang sangat tajam bagi kita yang merasa diri jadi penyair, Ini adalah kritik terhadap diri kita sendiri, yang secara esensial mengapungkan tanya: -- apakah puisi yang kita tulis selama ini benar puisi, atau hanya sekedar puisi. Atau lebih tegasnya lagi, kalau meminjam istilah penyair Sutardji Calzoum Bachri – hanya penyair sekedar. Lewat puisi pendek yang padat dengan isi ini, sesungguhnya KJ tengah mengapungkan sebuah isyarat, bahwa menulis puisi sukar adanya, dan karena itu, jadi penyair itu tidak gampang. Ia harus setia pada proses.
Dalam konteks inilah, maka tidak salah kalau Hans, mengatakan bahwa pertemuan dirinya dengan KJ pada tahun 1976 di Purwokerto, memangkap kesan sebagai penyair yang cerdas. Selengkapnya, Hans bilang, “Saya bertemu Jun (KJ) pada tahun 76 di Purwokerto. Ketemu Ahita Teguh Soesilo. Ketemu Dharmadi, ketemu beberapa lagi. Sejak awal, saya menangkap, dia penyair yang cerdas. Dari sajak-sajaknya, selain nakal juga bernas. Pernah bersama-sama Pak Piek Ardiyanto almarhum. Lalu kami banyak tahun-tahun bresama Jun setelah dia hijrah ke Jakarta. Kami berjuang menulis buku untuk proyek buku Inpres, dan lain-lain, hingga akhirnya Jun menduduki posisi Pemred di beberapa majalah!”
Berkait dengan itu, kembali merenungkan dunia kepenyairan yang direnungkan KJ, maka pada sisi yang lain, dalam sajaknya yang diberi judul Memilih Remah, penyair Syarifuddin Arifin antara lain menulis sebuah sajak yang larik-lariknya berbunyi seperti ini:
kur, aku masih percaya
semua hanya permainan hidup
yang tak pernah kenyang memamah kata-kata
tapi perutmu mulai membuncit
menjelang 60 tahun ini
Larik-larik sajak yang ditulis oleh Syarifuddin Arifin, yang ditujukan untuk KJ bisa ditafsir demikian, dengan pusat tafsir tertuju kepada larik yang berbunyi tak pernah kenyang memamah kata-kata, dalam pengertian lebih lanjut, KJ atau siapa pun ia, tak pernah puas dalam memilih kalimat bermakna bagi kelengkapan hidup maupun pemuasan spiritual – meski pada satu sisi, perut KJ atau siapa pun ia mulai membuncit, sebagai tanda dari lajunya umur mendekat kubur. Sajak ini menjadi luas maknanya, bukan hanya menggambarkan apa dan bagaimana keakraban persahabat KJ dengan Syarifuddin Arifin. Tetapi lebih lajuhnya adalah bicara soal apa dan bagaimana mengisi hidup menjadi lebih berharga, sekalipun semua itu harus diisi dengan remah-remah pengalaman, apa pun itu.
Pada bagian lain tentang KJ tampak bahwa ia lebih fasih bicara dengan menggunakan bahasa Jawa daripada dengan bahasa Cina yang diwariskan oleh para leluhurnya, jelas sungguh diungkap oleh penyair Uki Bayu Sedjati lewat puisi yang ditulisnya yang diberi judul Catatan, yang ditujukan untuk KJ. Petikan dari puisi tersebut berbunyi:
lelaki perempuan muda di taman kesenian
celana cutbray dan rambut sepundak
di buku dan ransel romantika berjejalan
yang tak terduga terjadi di mana saja,
juga menyapa warung tegal,”nasi separo, Bune,
oseng kangkung pake tahu-tempe..”
pemiliknya tetangga beda desa seperti saudara
dialek medok selingi obrolan dan tawa ngakak
Saya tertawa ngakak membaca sajak di atas. Apa sebab? Saya jadi ingat bagaimana KJ bengong dan bahkan terbata-bata membaca namanya sendiri ketika ditulis dalam huruf Cina oleh seorang penulis kaligrafi Cina teman baik Remy Sylado di rumah pemusik yang juga orang Cina tapi cinta budaya Sunda, Tan De Sheng namanya. Ini tidak bermaksud mempersoalkan Cina dan bukan Cina, akan tetapi lebih mengarah kepada bagaimana sikap KJ menerima budaya Jawa sebagai sikap hidup, dan secara perlahan-lahan ia hanya samar saja menerima budaya Cina yang diwariskan oleh para leluhurnya. Dan KJ tampak enjoy dengan semua itu. Terbukti, ia diterima banyak pihak dalam bergaul, baik sebagai penyair, maupun sebagai manusia biasa dengan segala kenakalannya.
Itulah KJ. Remy Sylado saat itu bilang, dalam menulis puisi, khususnya Puisi Mbeling, KJ memang punya ciri khas, dan sebagai penyair dalam pengertian yang luas juga punya ciri khas, pun demikian dalam pergaulan. Paling tidak, demikianlah kado kecil ini dituliskan, dan ini bukan kata Ini adalah semacam kata pembuka untuk memasuki dunia KJ lewat pandangan teman-teman KJ, yang menulis puisi untuk KJ dalam buku ini.
Selamat ulang tahun Mas KJ.***
Selamat ulang tahun Mas KJ.***
Rumah Baca Ilalang
24 September 2014
(Dimuat dalam buku SANG PENEROKA, Antologi Puisi 106 Penyair Indonesia dan Ulasan Terhadap Karya-Karya Kurniawan Junaedhie, Kurator : DR. Esti Ismawati, Tebal: 487 + xvi. ISBN: 0856-430392-49)
(Dimuat dalam buku SANG PENEROKA, Antologi Puisi 106 Penyair Indonesia dan Ulasan Terhadap Karya-Karya Kurniawan Junaedhie, Kurator : DR. Esti Ismawati, Tebal: 487 + xvi. ISBN: 0856-430392-49)
SEKAPUR SIRIH KURATOR PENGANTAR ANTOLOGI 60 TAHUN KJ
Oleh : Esti Ismawati
Kami persembahkan antologi puisi ini untukmu mas Jun, Kurniawan Junaedhie, sebagai tanda persahabatan. Dan saya tahu bahwa tidak mudah meyakinkan orang akan nilai-nilai persahabatan yang tulus dan murni di tengah zaman yang sedang berubah. Saya tahu itu. Tetapi biarlah. Yang datang dari hati, akan sampai ke hati. Yang lahir dari cinta, akan menumbuhkan kehidupan. Yang berlandas kasih, akan mendatangkan kedamaian. Itu yang menjadi motivasi lahirnya buku ini.
Siapakah Kurniawan Junaedhie? Mungkin pembaca tidak percaya bahwa saya yang kelihatan begitu hangat bersahabat dengannya itu sejatinya hanya mengenal lewat dunia maya. Berawal dari rasa penasaran saya mengenal pribadi ini. Setiap membaca email masuk bertuliskan facebook pasti tertera nama, (dalam kurung selalu tertulis) : “berteman dengan Kurniawan Junaedhie”. Penasaran sekali dengan si empunya Picture Profile Chairil Anwar yang kala itu selalu hadir dengan sajak-sajak sunyinya.
Siapakah Kurniawan Junaedhie? Mungkin pembaca tidak percaya bahwa saya yang kelihatan begitu hangat bersahabat dengannya itu sejatinya hanya mengenal lewat dunia maya. Berawal dari rasa penasaran saya mengenal pribadi ini. Setiap membaca email masuk bertuliskan facebook pasti tertera nama, (dalam kurung selalu tertulis) : “berteman dengan Kurniawan Junaedhie”. Penasaran sekali dengan si empunya Picture Profile Chairil Anwar yang kala itu selalu hadir dengan sajak-sajak sunyinya.
Perkenalan pun dimulai, dan saling sapa di dunia maya hingga kurun hampir dua tahun. Bertemu secara langsung dan bercengkerama sebagaimana layaknya seorang sahabat sama sekali belum pernah, (rencana kopdar pertama di Kongres Bahasa Indonesia 2013 di Hotel Syahid Senayan bertiga dengan mas Dharmadi DP gagal, dua kali jumpa darat tidak lebih dari lima menit bicara) tetapi karena rasa simpati saya yang begitu dalam terhadap apa yang telah disumbangkannya bagi kehidupan sastra Indonesia mutakhir, maka saya memberanikan diri untuk mengajak kawan-kawan membuat sesuatu untuknya di hari ulang tahunnya yang ke-60.
Ada memang suara yang mengatakan bahwa biasanya buku persembahan itu diberikan pada usia 70 tahun, tetapi pikiran saya mengatakan kenapa untuk berbuat sesuatu yang baik mesti ditunda sepuluh tahun lagi sementara saya sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi pada sepuluh tahun ke depan. (Ah! Semoga baik-baik saja, dan seratus persen itu adalah hak prerogratif Tuhan).
Ada memang suara yang mengatakan bahwa biasanya buku persembahan itu diberikan pada usia 70 tahun, tetapi pikiran saya mengatakan kenapa untuk berbuat sesuatu yang baik mesti ditunda sepuluh tahun lagi sementara saya sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi pada sepuluh tahun ke depan. (Ah! Semoga baik-baik saja, dan seratus persen itu adalah hak prerogratif Tuhan).
Dalam dunia kepenyairan di Indonesia, nama Kurniawan Junaedhie bisa dijumpai di berbagai sumber dari yang maya sampai yang nyata, dari yang tercetak sampai yang terekam. Siapa dan mengapa Kurniawan
Junaedhie di buku ini dapat anda baca di catatan 35 tahun berkarya yang ditulis sendiri oleh KJ di halaman belakang buku ini dan di Biodata KJ.
Setelah “ditemukan mas Handrawan Nadesul dan Pak Piek HS”, Kurniawan Junaedhie melesat bak anak panah, terus menembus angkasa berkarya di blantika sastra Indonesia. Penyair Umbu Landu menyebutnya sebagai sastrawan muda lapisan atas. Termotivasi oleh pujian Umbu, Sang P VI eneroka: Antologi Puisi 111 Penyair Indonesia KJ pun mengibarkan sayapnya bersama Yanie Wuryandarie membidani lahirnya majalah remaja Anita yang sangat populer kala itu (baca tulisan Adek Alwi di bagian belakang buku ini).
Setelah “ditemukan mas Handrawan Nadesul dan Pak Piek HS”, Kurniawan Junaedhie melesat bak anak panah, terus menembus angkasa berkarya di blantika sastra Indonesia. Penyair Umbu Landu menyebutnya sebagai sastrawan muda lapisan atas. Termotivasi oleh pujian Umbu, Sang P VI eneroka: Antologi Puisi 111 Penyair Indonesia KJ pun mengibarkan sayapnya bersama Yanie Wuryandarie membidani lahirnya majalah remaja Anita yang sangat populer kala itu (baca tulisan Adek Alwi di bagian belakang buku ini).
Sebagaimana yang dikatakan oleh Penyair Soni Farid Maulana dan Adri Darmadji Woko, Kurniawan Junaedhie banyak merintis jalan kehidupan dalam berbagai hal terutama dalam rangka “menjadikan seseorang untuk layak disebut Penyair” melalui berbagai event penerbitan buku-buku sastra yang dimotorinya. Oleh karena itu sebutan “Sang Peneroka” memang layak diberikan kepadanya. Banyak yang sudah mengirimkan puisi untuk antologi ini tetapi banyak pula yang (maaf) kami tolak karena beberapa hal, pertama, puisipuisi yang ditolak itu sama sekali jauh dari tema utama antologi ini, yakni 60 tahun KJ.
Kedua, puisi-puisi tersebut memang tergolong puisi yang masih mentah, baik dari segi bentuk lahiriah formal maupun isi batiniah. Tidak ada unsur puisi yang ditemukan dalam puisi-puisi tadi, misalnya miskinnya gaya bahasa (figurative language), lugasnya pemilihan kata (diksi), atau bentuk-bentuk penyakit puisi yang masih menempel, misalnya keumuman, simplisitas, atau generalisasi. Sudah tentu, tak berarti bahwa puisi-puisi yang terpilih masuk di antologi puisi 60 tahun KJ ini merupakan puisi-puisi yang sudah matang semuanya. Banyak juga di antaranya yang masih tersandung masalah diksi, irama, metafora, klise, simplifikasi, keumuman,
jargon, sentimentilisme sempit, dan musuh-musuh puisi lainnya. Tidak semua penyair yang menyumbangkan puisinya di antologi ini juga mengenal Kurniawan Junaedhie secara langsung, banyak pula yang belum kenal sama sekali, tetapi mereka yang hadir di antologi ini yang pasti telah memberikan apresiasi yang mendalam terhadap apa yang telah dilakukan oleh KJ melalui buku-buku sastra Indonesia yang diterbitkan oleh K3 Jakarta dan lainnya. Seorang mahasiswa dari pelosok tanah air bernama Syarif Hidayatullah dengan sangat mengharukan menyapa KJ dengan Abah, dan bahkan menulis seperti ini :
DARI TEPIAN SUNGAI BARITO
-KJ
Kita tak pernah bertemu mulut
Ketika bercengkeramanya embun dan rembulan
Dan jikalau waktu bertanya ?
Mata ini hanya mengenal dari pusi yang kaurangkai
Atau sajak yang kaumainkan dalam tinta yang menghitam
Dalam waktu yang dipakai menit
Huruf-huruf kita berterbangan, saling berbisik rindu
Dan kadang aksaraku dihempas sang mentari
Ditelanjangi gerimis, kedinginan dalam penaku yang tumpah
Kita hanya bercengkrama dalam antologi yang sama
Dengan tebasan rasa yang berbeda
Sang Peneroka: Antologi Puisi 111 Penyair Indonesia VII
Maka izinkanlah,
Aku mengenalmu dalam goresan yang mungkin tak diperhatikan para gemintang
Semoga umurmu semakin berkah, Bah !
Doa dari tepian sungai Barito
Marabahan, 10 September 2014
Ungkapan yang sangat tulus saya rasakan dari tepian sungai Barito ini. ‘Aku mengenalmu dalam goresan yang mungkin tak diperhatikan para gemintang’... oh, sungguh anak muda yang rendah hati dan tinggi budi, yang datang jauh-jauh untuk mendoakan KJ dengan bahasa yang sangat santun. ‘Semoga umurmu semakin berkah, Bah ! Doa dari tepian sungai Barito’.
Banyaknya pihak yang tertarik untuk ikut dalam antologi ini menandakan bahwa KJ bisa diterima di segala lapisan masyarakat. Ada yang bisa diteladani dalam pribadi yang satu ini, yakni semangat hidupnya yang meluap-luap dalam upaya menggapai sesuatu yang diinginkan. Terlebih dalam hal kepenyairannya. Ia pernah mengatakan bahwa pekerjaan apa pun, wartawan dan pekebun, sesungguhnya telah ia lakukan demi menghidupi kesukaannya pada sastra. Sangat total. Dan itu ia buktikan secara nyata melalui konsistennya
menerbitkan buku-buku sastra dan karya antologi puisi khususnya.
Sejak DNP pertama yang terbit pada tahun 1993 hingga sekarang tahun 2014 ini, telah terentang waktu dua puluh satu tahun. Selama kurun waktu itu, setidaknya ada dua dekade angkatan penyair, atau bisa juga dikatakan tiga generasi yang karya-karya puisinya KJ (dan kawan-kawannya) rekam dalam sebuah kitab bersambung yang sebentar lagi sudah memasuki periode keenam (DNP6). (Tetaplah istiqomah di jalan ini mas Jun). Terkadang nasib membawanya pasang surut tetapi (pastilah) KJ mampu mengatasi semua ini
dengan smood, sebagaimana coretan yang tergambar dalam puisi berikut ini :
“Hiduplah yang gagah bagai singa
yang garang mukanya
bengis cakarnya
dan sanggup hidup di segala cuaca
Hiduplah yang gagah bagai singa
yang siap menghadapi tipu daya kehidupan
yang berlaku tanpa juntrungan”
Kurniawan Junaedhie
24 November 2008/ Agustus 2009
Sangat terharu saya mendengar pengakuannya bahwa : “sakjane aku isin, saben dina melayani jualan buku sing ora sepiroa, ning aku pengen” (sebetulnya aku malu melayani penjualan buku yang tidak seberapa), bukan uang benar kiranya, tetapi aku pengen menanamkan pengertian bahwa buku itu Sang Peneroka: Antologi Puisi 111 Penyair Indonesia penting, dan jangan hanya senang jika diberi hadiah buku. Sedangkan mengenai Kosakatakita itu juga ada tujuan, agar orang senang membaca. Menulis gampang, tetapi membaca susah. Memperhatikan semangat teman-teman dalam mengirim puisi serta membaca satu demi satu puisi yang masuk, saya merasa sangat bangga bersahabat dengan mas Jun Kurniawan Junaedhie, karena KJ ternyata mampu menjadi kawan berpuluh suku / etnis di seluruh pelosok Nusantara. Ada haru yang melintas di sini dan ini jugalah yang membuat kelelahanku berbulan-bulan dan bermalam-malam memunguti kiriman puisi dari temanteman menjadi hilang seketika. Yang tertinggal hanyalah sebuah kebahagiaan karena ternyata kita mampu melahirkan karya baru yang berlabel ‘kado 60 Tahun Kurniawan Junaedhie’. Terima kasih teman-teman.
Pro dan kontra adalah suatu keniscayaan, tetapi ijinkanlah saya dan teman-teman di sini mangayu-bagyo 60 tahun KJ. Saya berharap apa yang saya dan teman-teman lakukan ini menjadi tradisi yang baik di kalangan penyair untuk secara ikhlas mengakui keberadaan dan sumbangsih yang telah diberikan sesama kawan (penyair) kita, betapa pun kecilnya. Karena dengan demikian sesungguhnya kita sedang menata satu demi satu bebatuan untuk kita rekatkan menjadi sebuah monumen persahabatan, yang semen perekatnya adalah saudara-saudara kita sebangsa dan se-tanah air.
Kami beri nama buku ini “Sang Peneroka”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Pusat Bahasa Edisi IV (2008: 1454), peneroka berarti pembuka daerah atau tanah baru; pembuka jalan; perintis. KJ telah
membuktikan dirinya sebagai sang penjelajah, karena dalam diri Kurniawan Junaedhie memang secara empirik telah menjelajahi berbagai profesi dan layak dijuluki sang penjelajah terhadap segala kemungkinan yang bisa dilakukan oleh seorang anak manusia dalam menggapai kehidupannya. Dari wartawan, seniman, pekebun, penulis biografi, dan aneka tulisan lain yang bermanfaat bagi kehidupan.
Sebagaimana galibnya dalam pesta ulang tahun, di buku ini pun hadir sahabat dan kawan-kawan dekat KJ seperti Yanie Wuryandari, Handrawan Nadesul, Adri Darmadji Woko, Adek Alwi, Dharmadi DP, Soni Farid Maulana, Yvonne de Fretes, Naning Pranoto, Bundo Free, Herman Syahara, dan seterusnya serta anak-anak muda yang bergiat di bidang penulisan puisi. Terima kasih atas sumbang sih kawan-kawan dalam mewujudkan buku ini.
Akhirnya, saya ucapkan : Dirgahayu mas Jun Kurniawan Junaedhie, bahagialah bersama Ibu Maria, Azalika Avilla Adinda, dan Betsyiela Bebi Bianca.
Klaten, 01-10-2014
Esti Ismawati
(Dimuat dalam buku SANG PENEROKA, Antologi Puisi 106 Penyair Indonesia dan Ulasan Terhadap Karya-Karya Kurniawan Junaedhie, Kurator : DR. Esti Ismawati, Tebal: 487 + xvi. ISBN: 0856-430392-49)
(Dimuat dalam buku SANG PENEROKA, Antologi Puisi 106 Penyair Indonesia dan Ulasan Terhadap Karya-Karya Kurniawan Junaedhie, Kurator : DR. Esti Ismawati, Tebal: 487 + xvi. ISBN: 0856-430392-49)
Index:
Esti Ismawati,
Sang Peneroka
PUISI EWITH BAHAR UNTUK JUN
Semua orang senang mendapatkan hadiah, dan kita bisa mengukur kadar kualitas kepribadian seseorang dari cara ia memberikan hadiah. Apa yang dipilihnya, serta bagaimana cara memberikannya. Tak banyak orang yang beruntung mendapatkan hadiah istimewa. Lebih tak banyak lagi, orang berkepribadian istimewa yang mampu menemukan cara bagaimana mempersembahkan sebuah hadiah dengan cara istimewa. Bukan dilihat dari harganya, namun "nilai"nya.
Dr Esti Ismawati mau bersusah payah menghimpun banyak sahabat-sahabat penyair untuk memberi hadiah ulang tahun bagi sahabatnya, penyair dan penulis senior Kurniawan Junaedhie, dengan menerbitkan sebuah buku antologi puisi bersama serta menghelat acara peluncurannya di lebih dari satu kota.
Buku berjudul SANG PENEROKA itu memuat ratusan puisi. Bayangkan, dihadiahi satu puisi saja sudah bermakna. Ini ratusan puisi dari ratusan sahabat. Aturan main yang diberikan mbak Esti, selain beberapa puisi bertema bebas, setiap penyair harus menulis puisi khusus bagi mas Jun.
Ada lima puisiku di buku ini, salah satunya kuterbitkan di sini, puisi berjudul JUN.
JUN
: Kurniawan Junaedhie
Telah jauh jalan yang kau tempuh
menyusur petualangan bernama takdir
sewarna pelangi yang tersusun dari benang-benang bathin
seindah jalan berkelok
yang selalu kau tandai dengan marka-marka elok
menyusur petualangan bernama takdir
sewarna pelangi yang tersusun dari benang-benang bathin
seindah jalan berkelok
yang selalu kau tandai dengan marka-marka elok
aksara-aksara riwayat telah bertumpuk
menyesaki ruang usiamu
menjadi puisi langit yang berkelindan dengan gemawan
dan kerap turun lagi sebagai kidung hujan yang menyenggamai tanah
untuk menyuburkan ladang-ladang kata
ladang yang telah lama kau tanami biji-bji inspirasi dan amanah
kau sendiri telah menjadi kitab yang rimbun
dahan-dahanmu merunduk menjadi syair yang teduh
menyesaki ruang usiamu
menjadi puisi langit yang berkelindan dengan gemawan
dan kerap turun lagi sebagai kidung hujan yang menyenggamai tanah
untuk menyuburkan ladang-ladang kata
ladang yang telah lama kau tanami biji-bji inspirasi dan amanah
kau sendiri telah menjadi kitab yang rimbun
dahan-dahanmu merunduk menjadi syair yang teduh
akhirnya...
usia hanya bilangan-bilangan nisbi
perayaan hari jadi cuma ilusi
hidupmu tetap perjalanan yang bukan mimpi
kaki-kakimu teguh berlari membawa kopor riwayat menuju mentari.

usia hanya bilangan-bilangan nisbi
perayaan hari jadi cuma ilusi
hidupmu tetap perjalanan yang bukan mimpi
kaki-kakimu teguh berlari membawa kopor riwayat menuju mentari.

(EB)
Index:
Ewith Bahar,
Sang Peneroka
Tumpeng untuk KJ: Dari Peluncuran "Sang Peneroka" di Klaten (II)
DALAM rangkaian acara peluncuran Kitab Puisi Sang Peneroka, Jumat (28 November 2014) lalu, sebagai peringatan hut ke-60 penulis Kurniawan Junaedhie (KJ), penulis, penyair, dan aktivis penerbit buku-buku sastra Kosakata Kita, diwarnai dengan pemotongan tumpeng.
"Ini adalah acara peluncuran buku sastra pertama dan terbesar sejak kampus ini berdiri puluhan tahun lalu," kata Dr Esti Ismawati, dalam sambutannya di hadapan seratusan tamu yang terdiri civitas akademika, penyair, dan tamu undangan lainnya.
Berikut adalah sebagian foto acara tersebut (Herman Syahara).
"Ini adalah acara peluncuran buku sastra pertama dan terbesar sejak kampus ini berdiri puluhan tahun lalu," kata Dr Esti Ismawati, dalam sambutannya di hadapan seratusan tamu yang terdiri civitas akademika, penyair, dan tamu undangan lainnya.
Berikut adalah sebagian foto acara tersebut (Herman Syahara).
Index:
herman syahara,
Sang Peneroka
PUISI “GAGAL” ADALAH PUISI YANG TAK PERNAH DITULIS
Dari
Acara Peluncuran Antologi Puisi “Sang Peneroka” di Klaten:
PUISI “GAGAL” ADALAH PUISI YANG TAK PERNAH DITULIS
PUISI yang “gagal” adalah puisi yang tak pernah ditulis. Tulislah puisi tentang apa saja, karena kehidupan ini terlalu luas untuk hanya terikat pada satu tema penulisan saja.
Demikian salah satu poin yang menarik dirangkum dari acara bincang sastra bersama penyair Adri Darmadji Woko,Handrawan Nadesul, dan Kurniawan Junaedhie , dalam rangkaian acara Peluncuran Antologi Puisi “Sang Peneroka”, di Auditorium Gedung Pasca Sarjana Unwidha (Universitas Widya Dharma), Klaten, Jawa Tengah, Jumat (28 November 2014).
Acara yang dipandu oleh dosen Unwidha Dr Esti Ismawati itu mengundang antusiasme seratusan peserta yang terdiri dari sejumlah guru, mahasiswa jurusan pendidikan bahasa dan sastra, dosen, dan para penyair dari berbagai daerah di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jakarta. Beberapa di antara guru tampil ke muka mengajukan pertanyaan menyangkut pengajaran sastra di sekolahnya.
Rangkuman pendapat di atas menjadi semacam “sikap kritis” penyair terhadap pendapat Dr Agus Yuliantoro, Dosen Pasca Sarjana Unwidha, yang menjadi pembahas Buku Antologi Puisi “Sang Peneroka”. Dalam kesempatan itu Agus membandingkan beberapa karya penyair. Menurutnya, dari pengamatan sekilas, ada tiga tipe penulisan puisi dalam antologi tersebut.
Pertama, ada puisi yang sudah “baik” karena telah mengalami masa pengendapan dan mudah difahami. Kedua, ada yang terkesan ditulis langsung dan spontan sehingga lebih terasa sebagai sebuah “laporan” ketimbang sebuah puisi. Dan ketiga, puisi yang sulit difahami secara tekstual dan kontekstual sehingga memerlukan telaah lain, seperti sosiokultural di mana penyairnya berasal atau tinggal.
“Namun, teori yang paling sederhana adalah memahami puisi langsung seperti ini, secara tekstual, melalui teksnya,” ujarnya.
Dengan latar belakang sebagai seorang dosen yang sehari-harinya berhadapan dengan calon pendidik, Agus Yuliantoro seolah ingin menegaskan bahwa sebuah puisi idealnya telah melalui pengendapan, tidak “berbelit”, sederhana, dan muda dicerna. Ini penting agar para pendidik (guru bahasa dan sastra) yang rata-tata kesulitan mengajarkan mata pelajaran sastra (puisi) karena tak bisa menulis dan memahami puisi, dapat tertolong saat mengajarkan sastra di depan muridnya.
Puisi, katanya, juga harus memiliki pesan edukatif karena nantinya akan berhadapan dengan pembaca yang luas dan beragam. “Jangan seni hanya untuk seni yang karyanya hanya difahami oleh penyairnya sendiri. ” katanya.
Puisi gagal
“Puisi gagal adalah puisi yang tak pernah ditulis,” ujar Adri Darmadji Woko. Jadi, katanya, untuk mengetahui proses apresiasi berikutnya, pertama-tama puisi harus ditulis dulu.
Dan untuk mulai menuliskan puisi, imbuh Handrawan Nadesul dan Kurniawan Junaedhie, seseorang tidak harus mengikat diri pada satu tema saja, misalnya soal pendidikan saja. Handrawan mencontohkan, dirinya yang dokter tidak harus menulis soal kesehatan. “Kehidupan ini sangat luas untuk dijadikan inspirasi menulis puisi. Misalnya saya, sebagai dokter tidak harus menulis puisi tentang kesehatan saja,” katanya.
Sementara Kurniawan Junaedhie menegaskan, sebuah karya puisi yang sudah dilempar penyairnya ke publik akan menjalani nasibnya sendiri. “Penulisnya sudah tidak bisa ikut campur dari penilaian publik pembaca,” katanya. Herman Syahara
https://www.facebook.com/herman.syahara.1/media_set?set=a.851355181595858.100001641523328&type=3
PUISI “GAGAL” ADALAH PUISI YANG TAK PERNAH DITULIS
PUISI yang “gagal” adalah puisi yang tak pernah ditulis. Tulislah puisi tentang apa saja, karena kehidupan ini terlalu luas untuk hanya terikat pada satu tema penulisan saja.
Demikian salah satu poin yang menarik dirangkum dari acara bincang sastra bersama penyair Adri Darmadji Woko,Handrawan Nadesul, dan Kurniawan Junaedhie , dalam rangkaian acara Peluncuran Antologi Puisi “Sang Peneroka”, di Auditorium Gedung Pasca Sarjana Unwidha (Universitas Widya Dharma), Klaten, Jawa Tengah, Jumat (28 November 2014).
Acara yang dipandu oleh dosen Unwidha Dr Esti Ismawati itu mengundang antusiasme seratusan peserta yang terdiri dari sejumlah guru, mahasiswa jurusan pendidikan bahasa dan sastra, dosen, dan para penyair dari berbagai daerah di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jakarta. Beberapa di antara guru tampil ke muka mengajukan pertanyaan menyangkut pengajaran sastra di sekolahnya.
Rangkuman pendapat di atas menjadi semacam “sikap kritis” penyair terhadap pendapat Dr Agus Yuliantoro, Dosen Pasca Sarjana Unwidha, yang menjadi pembahas Buku Antologi Puisi “Sang Peneroka”. Dalam kesempatan itu Agus membandingkan beberapa karya penyair. Menurutnya, dari pengamatan sekilas, ada tiga tipe penulisan puisi dalam antologi tersebut.
Pertama, ada puisi yang sudah “baik” karena telah mengalami masa pengendapan dan mudah difahami. Kedua, ada yang terkesan ditulis langsung dan spontan sehingga lebih terasa sebagai sebuah “laporan” ketimbang sebuah puisi. Dan ketiga, puisi yang sulit difahami secara tekstual dan kontekstual sehingga memerlukan telaah lain, seperti sosiokultural di mana penyairnya berasal atau tinggal.
“Namun, teori yang paling sederhana adalah memahami puisi langsung seperti ini, secara tekstual, melalui teksnya,” ujarnya.
Dengan latar belakang sebagai seorang dosen yang sehari-harinya berhadapan dengan calon pendidik, Agus Yuliantoro seolah ingin menegaskan bahwa sebuah puisi idealnya telah melalui pengendapan, tidak “berbelit”, sederhana, dan muda dicerna. Ini penting agar para pendidik (guru bahasa dan sastra) yang rata-tata kesulitan mengajarkan mata pelajaran sastra (puisi) karena tak bisa menulis dan memahami puisi, dapat tertolong saat mengajarkan sastra di depan muridnya.
Puisi, katanya, juga harus memiliki pesan edukatif karena nantinya akan berhadapan dengan pembaca yang luas dan beragam. “Jangan seni hanya untuk seni yang karyanya hanya difahami oleh penyairnya sendiri. ” katanya.
Puisi gagal
“Puisi gagal adalah puisi yang tak pernah ditulis,” ujar Adri Darmadji Woko. Jadi, katanya, untuk mengetahui proses apresiasi berikutnya, pertama-tama puisi harus ditulis dulu.
Dan untuk mulai menuliskan puisi, imbuh Handrawan Nadesul dan Kurniawan Junaedhie, seseorang tidak harus mengikat diri pada satu tema saja, misalnya soal pendidikan saja. Handrawan mencontohkan, dirinya yang dokter tidak harus menulis soal kesehatan. “Kehidupan ini sangat luas untuk dijadikan inspirasi menulis puisi. Misalnya saya, sebagai dokter tidak harus menulis puisi tentang kesehatan saja,” katanya.
Sementara Kurniawan Junaedhie menegaskan, sebuah karya puisi yang sudah dilempar penyairnya ke publik akan menjalani nasibnya sendiri. “Penulisnya sudah tidak bisa ikut campur dari penilaian publik pembaca,” katanya. Herman Syahara
https://www.facebook.com/herman.syahara.1/media_set?set=a.851355181595858.100001641523328&type=3
Index:
herman syahara,
Sang Peneroka
Langganan:
Postingan (Atom)












