Tampilkan postingan dengan label Gramedia Majalah Undercover. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gramedia Majalah Undercover. Tampilkan semua postingan

10 November 2008

Tips Penting Bagi Wartawan Lengser

Belum lama ini saya banyak diminta saran, pendapat atau nasehat oleh beberapa teman wartawan yang akan menjadi anggota Komunitas Pendi. (Pendi-=Pensiun Dini). Sebagai anggota Komunitas Pendi senior, tentu saja saya banyak menasehati mereka.

Intinya, saya mengakui bahwa sebagai wartawan yang bekerja di penerbitan pers, kita memang disegani dan punya relasi yang sangat luas. Dulu, misalnya, saya kenal mulai dari artis sinetron, presenter beken, kiyai kondang, penyanyi terkenal, aktivis, rektor, dirjen sampai menteri. Waktu itu saya bahkan bisa telepon mereka kapan saja sayamau, bahkan seenaknya kirim SMS meski isinya sekedar guyonan. Tentu saja, karena waktu itu saya memimpin sebuah penerbitan pers dan mereka jelas punya kepentingan dalam berdekatan dengan saya. Tapi bagaimana kalau kita tak lagi memiliki 'posisi' penting?

Di zaman saya bekerja di penerbitan pers sebagai redaktur pelaksana dan pemimpin redaksi, hal ini selalu saya katakan pada wartawan-wartawan. Saya selalu minta agar mereka tidak gampang belagu setelah kenal dengan pejabat dan pengusaha, dan jangan punya pendapat bahwa para narasumber itu akan menolong kita setelah kita tidak bekerja di kantor.

Ketika saya pensiun dini tahun 2001, saya mempraktekkan hal itu. Sebelum mereka men-delete nomor HP dan menghapus account email saya, saya lebih dulu 'menyembunyikan diri' dari mereka, alih-alih minta job atau proyek. Dan meskipun sebagai wartawan saya merasa tidak pernah pensiun atau mengundurkan diri, memang belakangan saya ingat2, tidak ada lagi dari para narasumber saya itu yang mau menghubungi saya. Positifnya, saya weruh sedurung winarah sehingga saya terbebas dari post power sindrom.

Tentu tidak semua seperti itu. Terbukti, Dr. Rhenald Kasali menjadi salah satu relasi saya dari begitu banyak relasi saya yang terkenal, yang tidak melupakan saya, setelah saya lengser. Bahkan di suatu kurun waktu, (mungkin kuatir saya tidak memperoleh nafkah lagi setelah tidak lagi dapat gaji dari Kompas Gramedia)dia memberi job saya dengan cara elegan, yaitu sering pesan bunga ke istri saya. Jeleknya, selama itu, saya tetap mencoba tidak mau berkontak langsung dengan beliau sehingga kesannya saya sombong 'kali. (Padahal saya cuma ingin tau diri)

Tentu saja tetap berhubungan baik adalah pekerjaan mulia, karena itu bagian dari silaturahmi. Cuma saya cuma ingin mengatakan, jangan terlalu mengandalkan mereka. Apalagi kalau yang diandalkan adalah hidup (keluarga) Anda.

Hal berikut yang saya utarakan kepada teman2 itu adalah kenyataan bahwa ide wartawan itu memang banyak. Tapi kalau dicermati, setelah tidak lagi bekerja di penerbitan pers, ternyata ilmu kita cuma satu, yaitu menulis. Sehingga kita sebagai wartawan lengser sering punya cita-cita baku: membuat suratkabar atau media cetak. Kita rupanya lupa, perusahaan penerbitan pers tidak sama dengan toko onderdil, atau bengkel motor. Seorang kutukupret di bengkel motor, kalau mau, dan serius, bisa saja menyaingi bekas majikannya dengan ikut membuka bengkel motor. Tapi wartawan lengser yang mau bikin penerbitan pers, perusahaan radio atau televisi? Mungkin saja, kalau Anda beruntung bertemu dengan investor yang mau percaya menitipkan uangnya untuk dipertaruhkan oleh Anda. Tapi jangan lupa, dengan cara itu Anda masih tetap jadi orang gajian, dan belum naik pangkat. Buat apa lengser dong?

Hehehe.... tidak lagi menerima gaji bulanan, kehilangan tunjangan2 lain dan kehilangan jabatan empuk emang enak? Maka, bagi mereka yang masih bertengger sebagai bos, waspadalah. Mungkin sekarang Anda bisa petentengan di lingkungan kantor, tetapi sesungguhnyalah Anda bukan apa-apa ketika Anda berada di radius 10 meter dari bangunan kantor Anda. Apalagi kalau Anda ditaruh di tengah masyarakat..... berani?***

13 Desember 2007

Tips Pensiun Dini

(Tulisan ini saya tulis khusus untuk blog saya: http://gramediamajalah-undercover.blogspot.com/)

Kalau saat ini Anda menjadi karyawan, sudah bosan bekerja, tidak cocok dengan lingkungan kerja, sudah enek lihat muka atasan, dan mau pensiun dini, ada resep dari saya (cuma tolong jangan disebarluaskan, ini rahasia):

1. Dekati orang PSDM, dan usahakan Anda dapat golden shake hands bernilai lumayan. Sedikitnya, 100 kali GP Anda saat ini. Jadi kalau salary Anda Rp. 1 juta, minimal Anda harus dapat 100 juta. Kalau perusahaan Anda tergolong besar, dan Anda termasuk yang sudah tidak kepake, biasanya penawaran kecil. Saran saya: Pandai2lah membuat deal. Jangan sampai bad deal. Cari good deal.

2. Segera cari dan siapkan usaha dan penghasilan pengganti. Usahakan yang penghasilannya sama dengan gaji Anda sebelumnya. Ini penting. Banyak karyawan Gramedia mendapat pesangon lumayan, langsung membeli tanah, membangun rumah kontrakan, dan berbisnis menyewakan rumah kontarakan, yang ternyata hasilnya sebulan cuma memperoleh Rp. 750 rb. Kalau gaji sebelumnya sudah Rp. 1,5 jt, itu artinya Anda tidak mengalami kemajuan, alias mundur, meski masih ada aset. Jadi, cari penghasilan di atas gaji Anda. Dengan demikian, sedikit-banyak, Anda tetap mendapat kasih sayang dan respek dari suami/istri Anda.

3. Usaha tersebut di atas (point 2) harus yang memberikan aktivitas. Ini penting. Kalau Anda menaruh uang di bank, uang memang beranak sementara Anda tidur. Tapi, kalau Anda banyak bengong, pikiran bisa melebar kemana2. Kalau istri/ suami Anda juga pekerja, dan tiba2 suka pulang malam, Anda bisa berpikir, jangan2 dia selingkuh. Runyam kan? Dan yang penting: Anda masih bisa petentengan di depan istri/ suami. Paling penting, tidak dianggap pengangguran oleh mertua. Jangan sampai mertua bilang, "menantu saya jadi pengacara, pengangguran tidak kentara." Malu deh.

4. Abaikan rencana pensiun dini, kalau perusahaan Anda memang diyakini benar2 memikirkan nasib Anda, keluarga Anda dan keturunan Anda kelak. Kalau tidak ada jaminan, apa boleh buat, jangan sungkan-sungkan say good bye. Anda wajib memikirkan diri Anda, keluarga Anda dan nasib keturunan Anda. Perusahaan tidak abadi, apalagi unit kerja Anda.

5. Oya, jangan jadikan anak Anda yang masih kecil sebagai alasan untuk tidak mengambil putusan pensiun dini. Sebaliknya justru mereka yang menjadi motivasi Anda untuk mencari penghidupan yang lebih baik.

6. Jangan pensiun dini lalu mencari pekerjaan baru di kantor baru. Pertama, ini bak pepatah, dari mulut macan masuk mulut buaya. Tidak lucu kan? Kedua, karena umur Anda sudah tidak muda, Anda paling diposisikan jadi satpam. Anda mau?

7. Berdasarkan survey dan statistik, orang yang bekerja sampai pensiun resmi, biasanya akan tetap memiliki kredit (di kantor/koperasi kantor) sampai mati, meskipun hanya berupa kreditan televisi atau sebuah kulkas. Percayalah, ini membuat sengsara orang yang Anda tinggal selama-lamanya kelak, meski biasanya perusahaan akan menghapuskannya.

8. Segera hubungi pegawai PSDM Majalah terdekat di unit/ kota Anda.

Selamat pensiun. Rayakan kemerdekaan dengan cara sendiri.

Mengapa Saya Bikin Gramedia Majalah Undercover...

(Tulisan ini saya tulis khusus untuk blog saya: http://gramediamajalah-undercover.blogspot.com/)

Banyak teman2 di Gramedia Majalah kirim SMS saya. Tumben2an. Ada yang protes, ada yang marah, ada yang malah ngompori, ada yang cekakakan, ada yang cekikikan. Awalnya saya tidak tahu juntrungannya. Lama-lama sadar, mereka sudah membaca blog ini.

Rupanya judul blog: GRAMEDIA MAJALAH UNDERCOVER telah membuat pirsawan, punya asosiasi ke mana-mana. Maklum, sebelumnya ada novel dan film berjudul, "JAKARTA UNDERGROUND", terus ada buku laris karangan Dr. Inu, dosen IPDN, "IPDN UNDERCOVER". Bahwa judul itu diharapkan seru, tentu saja, iya. Tapi, bahwa saya berpretensi jadi Dr. Inu, tentu tidak. Apalah saya. Dr.Inu punya penyakit gula, saya tidak. Dr. Inu nekad, saya orangnya hati2. Mau terkenal? Tidak juga. Nama saya masih dikenal baik di kalangan sastrawan2 Indonesia yang tahu dulu saya suka nulis cerpen, dan puisi di majalah serius maupun majalah tidak serius.

Di dunia pers saya sudah menghasilkan sedikitnya 3 buku: ENSIKLOPEDI PERS INDONESIA (Gramedia pustaka Utama, 19990), MENGGEBRAK DUNIA WARTAWAN INDONESIA (Puspa Swara, 1993), dan RAHASIA DAPUR MAJALAH INDONESIA (Gramedia Pustaka Utama, 1995). Di dunia yang saya geluti sekarang, saya sudah menerbitkan sedikitnya 5 buku tentang tanaman hias, antara lain: PEDOMAN MERAWAT AGLAONEMA, PESONA ANTHURIUM DAUN, JURUS SUKSES BERBISNIS TANAMAN HIAS dan JADI MILYARDER DARI ANTHURIUM, semuanya terbitan PT Agro Media Pustaka. Dengan portofolio yang saya punya, saya masih dipercaya jadi anggota dewan juri Yayasan Buku Utama selama bertahun2. Hehehehe.... Mau cari sensasi? Boro-boro. Saya sudah tua, giginya tinggal dua, impiannya cuma suarga. Sekadar contoh, kalau mau tahu tentang saya, klik saja di Google.

Mungkin saya frustrasi? Jangan memfitnah. Saya orangnya suka cengengesan. Frustrasi waktu kerja di Gramedia? Ah mosok? Seingat saya, karier saya bagus selama hampir 15 tahun bekerja di sana. Dua tahun jadi Redpel dan Wapemred Jakarta-Jakarta, kemudian 10 tahun dipercaya jadi Pemred TIARA, dan setahun dipercaya mengurus Kompas Online bersama Mas Ninok Laksono.

Saya mundur dari Gramedia Majalah juga bukan karena dipecat. Lagi enak-enak ngobrol dan ngopi, saya langsung menjabat tangan Widi Krastawan, pamitan. (Tentu saja sebelumnya saya sudah main mata dengan pihak Kompas, bahwa tenaga saya diharapkan banget). Kepada Widi saya bilang, mulai besok saya tidak datang lagi ke Jalan Panjang, tapi mau mau ngantor di Palmerah. Pak Widi, atasan saya yang budiman itu, melongo. Sebelum dia bertanya, saya sudah kabur dan melambaikan tangan. Itulah cara saya mengundurkan diri. (Ah, belakangan saya menyesal, kali2 Mas Widi menganggap saya tidak sopan.)

Saya mungkin satu2nya orang yang keluar dari Gramedia Majalah yang tidak pernah direpotkan oleh urusan administrasi. Umpamanya, saya tidak pernah diminta mengajukan surat pengunduran diri atau harus bertemu dengan para pejabat di PSDM Majalah. Pokoknya, otomatis saya sudah berstatus karyawan Kompas (Asal Anda tahu, untuk level yang sama, gaji di Kompas tingkatnya lebih tinggi dibanding di Majalah).

Di Kompas, saya diterima dengan baik oleh Mas Ninok Laksono,Mas Robby Sugiantoro, Mas Andrey Handoko, dan Mas Tommy (Pemimpin Redaksi). Saya dibuatkan newsroom, ditanya apa kebutuhannya, dan suka diajak rapat2. Di Kompas, saya sendiri bersikap pandai2 membawa diri, tidak mentang2 bekas pimpinan. Syukurnya, teman2 di Kompas, pandai juga menempatkan saya pada tempat yang pas. Sering mengajak saya ngobrol Rudy Badil, Liem Bun Cay, Maria Hartiningsih, FX Mulyadi, Dono, Rene dll.

Waktu kemudian saya mau keluar dari perusahaan Kompas/ Gramedia, saya menghadap Mas RB Sugiantoro. Ternyata itu pun tidak gampang, saya diminta berpikir ulang sampai 3 bulan, ditawari gaji naik, dan posisi lebih bagus. Saya tidak bergeming. Iman saya cukup kuat. Saya cuma terkenang pada Teori Maslow.

Ada wartawan senior Kompas mengingatkan bahwa anak saya masih kecil2 sehingga tak perlu keluar, tapi saya langsung potong: Justru anak saya masih kecil2, maka saya keluar. Wartawan senior lain, menyarankan saya tidak usah keluar. "Kalau sudah malas kerja, masuk kantor saja cukup. Tapi Anda jangan keluar," katanya. Dia lalu menunjuk Si A, yang rajin masuk kantor tiap pagi, tapi langsung kabur, si B, yang masuk kantor setiap hari, langsung ngetik, tapi tidak pernah ada tulisannya yang dimuat di Kompas, si C yang masuk kantor cuma tanggal 25, saat ambil gaji. "Pokoknya jangan keluar. Tiru saja tipe mana yang Anda inginkan."

Tapi saya tetap emoh. Dalam hati, kalau bisa, saya malah mau membayar, asal saya boleh keluar. Nyatanya saya dapat uang. Utang2 saya pada perusahaan dilunasi. Karena menurut perusahaan, saya punya jasa pada perusahaan. Alhamdulillah.

Setelah tidak lagi jadi orang kantoran, ternyata saya masih pula banyak dilamar perusahaan penerbitan besar. Saya cuma tertawa, "Ah, sampeyan gimana sih. Kalau saya mau bekerja, mah saya gak perlu keluar dari Gramedia," begitu kata saya. Ada juga yang menawari posisi bos. Saya geli sampai sakit perut. "Gaji berapa pun tidak membuat saya ngiler, Mas. Bagi saya yang penting, saya bisa merdeka." Itu jawab saya, seakan-akan anak konglomerat saja.

Tak terasa sudah hampir 7 tahun saya mundur dari Kompas, dan 8 tahun saya mundur dari Gramedia Majalah, tapi justru sekarang saya merasa banyak hal penting yang harus disimak, dan dikaji.

Tempat saya bekerja, yaitu sebuah kebun di BSD, bersifat terbuka. Siapa saja boleh datang dan pergi. Beli tidak beli, tetap tengkyu, begitu kata pabrik kaos Jogger, Bali. Di antara yang datang, adalah teman2 dan kolega2 saya di Gramedia Majalah dan Kompas, ada juga teman2 dari The Jakarta Post. Sering kami ngobrol sembari ngopi. Awalnya tentu saja membahas tanaman, tahu-tahu ngobrol tentang kerjaan, dan kemudian merembet ke suasana perusahaan, ngrasani para bos, nggosipin kebijakan perusahaan dlsb.

Terus terang dari sini saya jadi merasa keep in touch terus dengan almamater saya, tanpa saya minta, meski kalau mau jujur saya sudah ingin membuang kenangan jadi employee. Dari sini pula, timbul ide membuat blog ini. Kalau pegawai pabrik las, keluar bermimpi jadi tukang las, dan karyawan pabrik kaos kalau keluar pengen punya pabrik kaos sendiri, maka saya keluar dari perusahaan majalah, tidak pengenan bikin majalah. Bisa bikin blog, syukurlah. Apalagi, sebuah blog yang dibaca oleh Anda-Anda, yang dengan sukacita mau membuang waktu membacanya, meski dengan hati was2 karena takut namanya kesenggol. Rasain deh.

Jadi, wahai pembaca, blog ini pada dasarnya sebuah homage (penghormatan) bagi almamater saya, Gramedia Majalah, tempat "kudibesarkan". Kenapa disebut UNDERCOVER? Jelas saja, karena tulisan-tulisan di sini bersifat tidak resmi, dan sekadar catatan belaka yang ditulis di bawah meja. Bahwa di sana-sini ada kritik, jangan berhati tipis. Bersikaplah, positive thingking. Cuma kalau Anda membayangkan (atau mengharapkan) di sini akan ada tulisan2 yang membongkar skandal atau kebobrokan perusahaan, semacam Gramedia Majalah-Gate, lihat saja nanti perkembangannya. Saya enggak janji.

Merdeka! Sekali merdeka tetap merdeka.