03 Desember 2014

PUISI “GAGAL” ADALAH PUISI YANG TAK PERNAH DITULIS

Dari Acara Peluncuran Antologi Puisi “Sang Peneroka” di Klaten:


PUISI “GAGAL” ADALAH PUISI YANG TAK PERNAH DITULIS

PUISI yang “gagal” adalah puisi yang tak pernah ditulis. Tulislah puisi tentang apa saja, karena kehidupan ini terlalu luas untuk hanya terikat pada satu tema penulisan saja. 


Demikian salah satu poin yang menarik dirangkum dari acara bincang sastra bersama penyair Adri Darmadji Woko,Handrawan Nadesul, dan Kurniawan Junaedhie , dalam rangkaian acara Peluncuran Antologi Puisi “Sang Peneroka”, di Auditorium Gedung Pasca Sarjana Unwidha (Universitas Widya Dharma), Klaten, Jawa Tengah, Jumat (28 November 2014). 


Acara yang dipandu oleh dosen Unwidha Dr Esti Ismawati itu mengundang antusiasme seratusan peserta yang terdiri dari sejumlah guru, mahasiswa jurusan pendidikan bahasa dan sastra, dosen, dan para penyair dari berbagai daerah di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jakarta. Beberapa di antara guru tampil ke muka mengajukan pertanyaan menyangkut pengajaran sastra di sekolahnya. 


Rangkuman pendapat di atas menjadi semacam “sikap kritis” penyair terhadap pendapat Dr Agus Yuliantoro, Dosen Pasca Sarjana Unwidha, yang menjadi pembahas Buku Antologi Puisi “Sang Peneroka”. Dalam kesempatan itu Agus membandingkan beberapa karya penyair. Menurutnya, dari pengamatan sekilas, ada tiga tipe penulisan puisi dalam antologi tersebut. 


Pertama, ada puisi yang sudah “baik” karena telah mengalami masa pengendapan dan mudah difahami. Kedua, ada yang terkesan ditulis langsung dan spontan sehingga lebih terasa sebagai sebuah “laporan” ketimbang sebuah puisi. Dan ketiga, puisi yang sulit difahami secara tekstual dan kontekstual sehingga memerlukan telaah lain, seperti sosiokultural di mana penyairnya berasal atau tinggal. 


“Namun, teori yang paling sederhana adalah memahami puisi langsung seperti ini, secara tekstual, melalui teksnya,” ujarnya. 


Dengan latar belakang sebagai seorang dosen yang sehari-harinya berhadapan dengan calon pendidik, Agus Yuliantoro seolah ingin menegaskan bahwa sebuah puisi idealnya telah melalui pengendapan, tidak “berbelit”, sederhana, dan muda dicerna. Ini penting agar para pendidik (guru bahasa dan sastra) yang rata-tata kesulitan mengajarkan mata pelajaran sastra (puisi) karena tak bisa menulis dan memahami puisi, dapat tertolong saat mengajarkan sastra di depan muridnya. 

Puisi, katanya, juga harus memiliki pesan edukatif karena nantinya akan berhadapan dengan pembaca yang luas dan beragam. “Jangan seni hanya untuk seni yang karyanya hanya difahami oleh penyairnya sendiri. ” katanya. 

Puisi gagal


“Puisi gagal adalah puisi yang tak pernah ditulis,” ujar Adri Darmadji Woko. Jadi, katanya, untuk mengetahui proses apresiasi berikutnya, pertama-tama puisi harus ditulis dulu. 


Dan untuk mulai menuliskan puisi, imbuh Handrawan Nadesul dan Kurniawan Junaedhie, seseorang tidak harus mengikat diri pada satu tema saja, misalnya soal pendidikan saja. Handrawan mencontohkan, dirinya yang dokter tidak harus menulis soal kesehatan. “Kehidupan ini sangat luas untuk dijadikan inspirasi menulis puisi. Misalnya saya, sebagai dokter tidak harus menulis puisi tentang kesehatan saja,” katanya. 


Sementara Kurniawan Junaedhie menegaskan, sebuah karya puisi yang sudah dilempar penyairnya ke publik akan menjalani nasibnya sendiri. “Penulisnya sudah tidak bisa ikut campur dari penilaian publik pembaca,” katanya. Herman Syahara







https://www.facebook.com/herman.syahara.1/media_set?set=a.851355181595858.100001641523328&type=3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar