Dari
Acara Peluncuran Antologi Puisi “Sang Peneroka” di Klaten:
PUISI “GAGAL” ADALAH PUISI
YANG TAK PERNAH DITULIS
PUISI yang “gagal” adalah
puisi yang tak pernah ditulis. Tulislah puisi tentang apa saja, karena
kehidupan ini terlalu luas untuk hanya terikat pada satu tema penulisan saja.
Demikian salah satu poin
yang menarik dirangkum dari acara bincang sastra bersama penyair Adri Darmadji Woko,Handrawan Nadesul, dan Kurniawan Junaedhie ,
dalam rangkaian acara Peluncuran Antologi Puisi “Sang Peneroka”, di Auditorium
Gedung Pasca Sarjana Unwidha (Universitas Widya Dharma), Klaten, Jawa Tengah,
Jumat (28 November 2014).
Acara yang dipandu oleh
dosen Unwidha Dr Esti Ismawati itu
mengundang antusiasme seratusan peserta yang terdiri dari sejumlah guru,
mahasiswa jurusan pendidikan bahasa dan sastra, dosen, dan para penyair dari
berbagai daerah di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jakarta. Beberapa di antara
guru tampil ke muka mengajukan pertanyaan menyangkut pengajaran sastra di
sekolahnya.
Rangkuman pendapat di atas
menjadi semacam “sikap kritis” penyair terhadap pendapat Dr Agus Yuliantoro,
Dosen Pasca Sarjana Unwidha, yang menjadi pembahas Buku Antologi Puisi “Sang
Peneroka”. Dalam kesempatan itu Agus membandingkan beberapa karya penyair.
Menurutnya, dari pengamatan sekilas, ada tiga tipe penulisan puisi dalam antologi
tersebut.
Pertama, ada puisi yang
sudah “baik” karena telah mengalami masa pengendapan dan mudah difahami. Kedua,
ada yang terkesan ditulis langsung dan spontan sehingga lebih terasa sebagai
sebuah “laporan” ketimbang sebuah puisi. Dan ketiga, puisi yang sulit difahami
secara tekstual dan kontekstual sehingga memerlukan telaah lain, seperti
sosiokultural di mana penyairnya berasal atau tinggal.
“Namun, teori yang paling
sederhana adalah memahami puisi langsung seperti ini, secara tekstual, melalui
teksnya,” ujarnya.
Dengan
latar belakang sebagai seorang dosen yang sehari-harinya berhadapan dengan
calon pendidik, Agus Yuliantoro seolah ingin menegaskan bahwa sebuah puisi
idealnya telah melalui pengendapan, tidak “berbelit”, sederhana, dan muda
dicerna. Ini penting agar para pendidik (guru bahasa dan sastra) yang rata-tata
kesulitan mengajarkan mata pelajaran sastra (puisi) karena tak bisa menulis dan
memahami puisi, dapat tertolong saat mengajarkan sastra di depan muridnya.
Puisi, katanya, juga harus
memiliki pesan edukatif karena nantinya akan berhadapan dengan pembaca yang
luas dan beragam. “Jangan seni hanya untuk seni yang karyanya hanya difahami
oleh penyairnya sendiri. ” katanya.
Puisi gagal
“Puisi gagal adalah puisi
yang tak pernah ditulis,” ujar Adri Darmadji Woko. Jadi, katanya, untuk
mengetahui proses apresiasi berikutnya, pertama-tama puisi harus ditulis dulu.
Dan untuk mulai menuliskan
puisi, imbuh Handrawan Nadesul dan Kurniawan Junaedhie, seseorang tidak harus
mengikat diri pada satu tema saja, misalnya soal pendidikan saja. Handrawan
mencontohkan, dirinya yang dokter tidak harus menulis soal kesehatan.
“Kehidupan ini sangat luas untuk dijadikan inspirasi menulis puisi. Misalnya
saya, sebagai dokter tidak harus menulis puisi tentang kesehatan saja,”
katanya.
Sementara Kurniawan
Junaedhie menegaskan, sebuah karya puisi yang sudah dilempar penyairnya ke
publik akan menjalani nasibnya sendiri. “Penulisnya sudah tidak bisa ikut
campur dari penilaian publik pembaca,” katanya. Herman Syahara
https://www.facebook.com/herman.syahara.1/media_set?set=a.851355181595858.100001641523328&type=3




Tidak ada komentar:
Posting Komentar