~Handrawan Nadesul
Bangsa yang besar menaruh apresiasi pada kesusastraan, termasuk pada puisi. Berbeda dengan prosa yang mudah dinikmati, di negara yang sudah akrab dengan karya sastra pun penikmat puisi jauh lebih sedikit. Tapi
tak kenal maka tak sayang. Kesukaan pada puisi banyak dibangun oleh peran guru Bahasa. Begitu galibnya terjadi di kita. Namun tidak semua Guru Bahasa tergolong motivator bersusastra. Apalagi kalau kurikulum kesusastraanjadi anak bawang.
Kurikulum Bahasa yang terbaru sudah kehilangan modul puisinya, dan lebih didominasi teks. Saya yang paling bersedih melihat kenyataan ini. Bukan karena saya menyukai puisi, dan berikrar akan terus menulis puisi, melainkan karena tahu kalau bangsa mengapresiasi puisi memberi manfaat bagi kehidupan bangsanya. Puisi memperhalus budi, membuat kita arif bijak melakoni hidup dan kehidupan. Mestinya menjadi keperluan bangsa, dan wajib menjadi kebijakan pemerintah mengantarkan seluruh anak bangsa menuju ke sana.
Kemarin dulu saya diundang mengantarkan anak tingkat SLTP agar mau menulis puisi. Dari pertemuan dengan tiga ibu guru Bahasa saya menangkap kesan bahwa anak sekarang kurang, kalau tidak dikatakan sama sekali tidak menyukai puisi, kesusastraan pada umumnya. Di mata anak sekolah sekarang citra karya sastra sesuatu yang tidak semenarik musik, atau games. Hal lain, anak sekarang kurang gemar membaca.
Saya kira memang seperti itu gambarannya. “Generasi Platinum”, julukan generasi sekarang ini yang perjalanan hidupnya serba mulus, serba enak dan serba tersedia, kurang tantangan hidupnya, kian kurang diarahkan apa yang diperlukan untuk membuatnya lengkap dan matang sebagai insan, sebagai individu yang darinya akan terbangun bangsa yang besar dan beradab berbudaya.
Saya kira perlu ditinjau ulang kebijakan kurikulum yang melupakan perlu dan pentingnya menyukai puisi, karena lebih dari prosa, puisi punya kekuatan lebih lain dalam menghaluskan budi, dan mengasah manusia
jadi insan yang bijak. Kalau sekolah hanya menambah cerdas otak kiri yang tajam menganalisis, puisi menajamkan otak kanan, yang bijak dalam berpikir dan arif mengambil keputusan.
Ketika kondisi masyarakat sekarang semakin karut marut dalam tata nilai, dalam sikap budaya, dalam kesantunan, kedudukan peran puisi semakin jauh panggang dari api. Dari pertemuan kurang dari 2 jam dengan anak sekolah kemarin dulu itu, dengan sedikit pancingan dan motivasi, yang awalnya sepi peminat, akhirnya ternyata bisa spontan lahir juga puisi-puisi pemula, dan tidak buruk amat. Artinya talenta itu sebetulnya ada, tapi kurang terpicu untuk dimunculkan. Sekali lagi, seperti cerita lama, penyuka sastra lahir tergantung siapa guru Bahasanya. Dan di balik besar peranan guru Bahasa ada cara bagaimana karya sastra menjadi menarik pada zaman yang sudah berbeda. Bagaimana menjembatani karya sastra berat yang
sukar dimengerti lewat cara yang ringan dan memikat, itulah upaya menyiasatinya saya kira.
Sekali lagi bukan medewakan besarnya peran puisi, tapi bahwa semua negara maju, mewajibkan semua mahasiswa untuk mengenal kesusastraan di awal kuliah wajib melewati studium generale, mengenal kesusastraan apa pun jurusan kuliahnya. Calon insinyur, calon dokter, calon ahli hukum, apa pun jurusan keahliannya, dianggap membutuhkan bekal kesusastraan, termasuk puisi.
Halo para pengambil kebijakan Diknas, jangan abaikan peran besar kesusastraan, betapa tidak kecil pula peran puisi, jangan pernah dilupakan sebelum nanti kita telanjur menyaksikan generasi yang kering bukan insan beradab berbudaya, ketika yang hadir cuma karya otak kiri, tanpa diimbangi bijaknya otak kanan. Banyak keputusan penting bangsa eloknya terbit dari dua belahan otak secara berbarengan, supaya buah pikirannya senantiasa menjadi benar di mata semua orang, segala bangsa, segala tempat, pada setiap masa. Kalau otak kiri piawai melacak kebenaran, otak kananlah yang akan membangun keadilan.
(Buat Jun, seorang sahabat lama, semoga ungkapan ini bukan harus dirasakan sebagai sebuah kesengajaan, yang mungkin bisa menghibur Jun agar tidak perlu menyesal terdampar menjadi penulis, dan penyair. Setidaknya ini juga pilihan terhormat, dan mulia, dengan cara bagaimana hidup pernah kita isi. Selamat sukses Jun. Tetap berjaya dalam menulis apa saja. Bukanlah pernah kita bicarakan ihwal: “Teruslah menulis kalau tanpa itu kita tidak bisa hidup. Tapi berhentilah menulis kalau dengan pilihan itu kita masih bisa hidup.”)
Catatan kecil di Jakarta, 25 September 2014
Salam puisi,
Handrawan Nadesul

Tidak ada komentar:
Posting Komentar