17 Agustus 2012

HIDUP DENGAN SEPATU

Jam lima pagi, aku sudah sampai ke sepatu. Waktu merangkak di jam tangan. Aku berjalan bersama sepatuku. Udara segar. “Mari kita bersulang, Kawan,” kataku.  Jam terus merayap seiring detak waktu.
Jam 6 sore aku sampai di angkringan. Karena angkringan berada di dekat pos hansip, kami menginjak batu, kerikil, ingus dan tahi sapi.  Seperti galibnya sepatu, dia tak mengeluh, hanya membuat tumitku terasa sakit. “Tenang Kawan,  sudah kubeli semir lima kaleng untukmu,” kataku.

Sampai di rumah, sekitar jam 10  malam. Kulepas sepatu dan kusorongkan sepatuku ke kolong ranjang.  Dia melambaikan tangan. “Selamat tidur, Kawan,” teriaknya. “Nait,” jawabku. 

Kini sambil duduk di tepi ranjang, dan mengayun-ayunkan kakiku yang berselimut kaos kaki yang tipis seperti selaput dara itu aku kembali mereka-reka, hendak kemanakah besok kami hendak melangkah?

Bandung, 18 Desember 2011


(Dimuat dalam buku Antologi Puisi Sosial BANGGA AKU JADI RAKYAT INDONESIA, KKK, 2012)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar