buat sahabatku
Erry Amanda
Kurniawan Junaedhie
Salimi Ahmad
sungguh aku cinta penyair yang berumah di badai
yang menjadikan ketiadaan sebagai kekasih gelapnya
yang memelihara prahara sebagai kuda tunggangnya
yang mengasah kapakkapak purba jadi pisaunya
dan memahat cinta sebagai berhala sembahannya
sungguh aku cinta penyair yang berumah di badai
yang menjadikan kepedulian sebagai anakanaknya,
nyanyian kebangsaannya, ibadah dan kitab sucinya....
jim b aditya
100126
Ditulis pada hari Selasa yang lalu · Komentari ·Tidak SukaSuka · Laporkan Catatan
Anda, Sandra Palupi, Dewi Maharani, Julius Yusidjaya, dan 8 orang lainnya menyukai ini.
Hanafi Harris Putra Hasibuan magus bangat mas jim..gw suka!
26 Januari jam 19:06Djumar Hanifa Hutagalung yang menjadikan ketiadaan sebagai kekasih gelapnya..........., wah dalem banget ....., hebat Bung...!
26 Januari jam 19:06Susy Ayu whuaaaa.....Mas Jim..mas Jim...tak cuma mendisain gambar..mendisain kata kata pun selalu pas..! nggak cuma ngaduk, tapi diracik!..Hayoo..para sesepuh eh maksudku para senior, turun gunung dong...bagikan ilmunya sama anak bawang kayak saya...xixixi
Mantep, Mas Jim..! kapan kapan lagi ya? :)
26 Januari jam 19:27Jim B Aditya Trims Susy. Aku belajar darimu, kan....?
26 Januari jam 19:31Susy Ayu xixixi..mas Jim bisa aja..kalo belajar dr ku, gak akan puisinya sebagus ini...:D
26 Januari jam 19:36Mh Poetra penyair yang berumah di badai
beratap keyakinan dan berdinding kendali
pintunya nurani
dan jendalanya hati... Lihat Selengkapnya
:)
26 Januari jam 19:57Foeza Hutabarat karena berumah di badai, pergulatan batin pun tak pernah usai...
26 Januari jam 20:29Saut Poltak Tambunan Mantap, aku juga sungguh aku penyair yang berumah di badai, penyair yang tak bisa dibeli.
26 Januari jam 20:48Aryani Tina Sitio wow... cinta yang dipahat... dijadikan berhala sembah
kereennn...!
26 Januari jam 20:57Ardi Nugroho hehehehe..
Mas Jim dan Susy akrab sekali heu..
penyair yang haus tantangan
tak bisa diam selalu mencari dan membidik gundah, gelisah, resah, pedih dan perih dan berangkat dari nurani ditaburi merica dari otak kiri dan gula dari otak kanan diraciknya menjadi keindahan yang abadi... Lihat Selengkapnya
tak pernah stagnan.. terus berkibar abang abangku
thanks Bang Jim, salam hangat dari sidoarjo
26 Januari jam 21:40Kurniawan Junaedhie begitulah jim, bersama kita berumah dalam badai, mengasah kapak2 purba, menjadikan kepedulian sebagai anakanaknya, nyanyian kebangsaannya, ibadah dan kitab sucinya.... bersama kita berumah di badai, sehinggga selalu resah gelisah, bergulingan dan insomnia. puisimu menggugahku, kawan.
i love you full!!!
26 Januari jam 22:20 · Salimi Ahmad Sungguh, hari ini aku hanya bisa tergugu, tak bisa berucap apa-apa. Betapa mulia hati sahabat-sahabatku; Jim B Aditya, Erry Amanda, juga yang lainnya. Semoga semua sahabat-sahabatku ini selalu diliputi rasa suka cita, sebagaimana dulu kita pernah mengecapnya. Salam, dan terus bekarya!
27 Januari jam 1:56Julius Yusidjaya Jim, saya juga, saya juga mencintai mereka. saya merasa gagal jadi penyair karena dihempas badai. aduh...
27 Januari jam 2:12Jim B Aditya >Hanafi Harris Putra Hasibuan,
>Djumar Hanifa Hutagalung: Trims komennya kawan..
27 Januari jam 3:09Jim B Aditya >Mh Poetra : ...lanjutkan kawan. Di tanganmu aku yakin puisi pendek ini bisa jadi dua halaman folio... Salam!
27 Januari jam 3:12Jim B Aditya >Foeza Hutabarat : Bahkan sering tanpa dia sadari dirinya sudah menjelma menjadi badai....
27 Januari jam 3:12Jim B Aditya >Saut Poltak Tambunan : .... penyair yang tak bisa dibeli, tapi bukan berarti tak mampu membeli. Karena kita masih punya harga diri. Salam Bang!!!
>Aryani Tina Sitio : Sebahagian orang beranggapan dunia ini kacau karena manusia sering lupa pada sesembahannya yang satu itu.... Trims.
27 Januari jam 3:19Jim B Aditya >Kurniawan Junaedhie : I love u 2, sang imam para penyair wanita.... !!! Muuuah....
27 Januari jam 3:20Jim B Aditya >Salimi Ahmad : Salam suka cita juga untukmu. Kuharap puisipuisimu akan terus mengalir dan memberi warna tersendiri ke dalam jiwajiwa kami...
27 Januari jam 3:22Jim B Aditya >Julius Yusidjaya : hehehe.... Senasib kita. Ternyata badainya terlalu kuat untuk tubuh yang tipis ini....
27 Januari jam 3:24Dewi Maharani penyair berumah badai
di sanalah kami berguru dan menggali ilmu ..
terimakasih bang Jim, mmg beliau2lah di mana kita bs byk memdapatkan ilmu dan bimingan agar menjadi lebih baik dan lebih baik lagi .
sprt juga bang Jim yg sll menyempatkan waktu utk menyingggahi lapak2 kami yg masih tak tau apa2 ...... Lihat Selengkapnya
27 Januari jam 7:57Erry Amanda Jim, masih aku tangkap jalur perjalanan yogya, sudahkah sarang badai yang dikenalkan di kota penuh lapar saat itu sudah berubah? TIDAK! kataku. setiap jalur -- sungguh kita tak pernah menikung atau menghindar dari raungan badai demi badai kehidupan.
Kita selalu menyaksikannya, dan kita yang sering bertarung melawan badai, dan kita yang selalu harus menikmati sajian atau menu badai.
Jim, jalanku (mungkin) tinggal berapa tapak, namun sungguh, aku masih suka bermain main dengan badai di RUMAH BADAI.... Lihat Selengkapnya
salamku sahabat....
27 Januari jam 14:32Jim B Aditya >Dewi Maharani: Jangan merendah, Dewi.... tidak ada senior junior dalam dunia kreatif. Puisi yang bagus selalu lahir melalui inspirasi puisi lainnya....
28 Januari jam 3:53Jim B Aditya >Erry Amanda : Ya.... Yogya yang penuh badai. Yang tak pernah habis ketika kita mengambilnya sejumput demi sejumput. Dan membawanya untuk bekal perjalanan masing-masing. Tentu dengan badai itu pula kini kau sedang bercengkrama, sahabatku.... Salamku untuk seluruh keluarga.
28 Januari jam 4:09Sandra Palupi ...aku terharu sangat..menyaksikan persahabatan yang mampu kau rangkum dan maknai sedemikian kuat. 2 bait yang hebat.
pastinya lahir dari seorang yang telah menempuh beribu ribu perjalanan waktu tanpa membuang makna yang berjatuhan di setiap tempat. pencarian dan penemuan yang dilalui dengan ketelatenan luar biasa. jatuh bangun yang luar biasa.
terharu ketika kau mampu memeluk sahabat begitu erat, mengenalinya kuat kuat, dan kuyakin tak terlupakan...... Lihat Selengkapnya
ikut merasa senang dan bangga, ketika dalam perjalanan waktu, kita menemukan dan ditemukan dengan manusia manusia luar biasa. puisi ini seperti hujan deras yang jatuh dari langit tiba tiba, beri pencerahan setelahnya.
salut karena sanggup menginspirasi, terutama ttg opsi hidup yg dipilih seseorang.
28 Januari jam 10:24Jim B Aditya Trims Sandra. Selalu senang membaca komentar darimu. Sekaligus malu juga. Karena di depanmu aku merasa seperti telanjang.... hehe. Salam hangat.
Jum pukul 0:04
Tidak ada komentar:
Posting Komentar