Sajak Kurniawan Junaedhie
Ibu, aku sekarang lagi belajar manajemen
Aku punya banyak buku Drucker
setiap malam kursus John Robert Power
Di sana, aku juga belajar table manner
Memang susah menyandang gelar professional muda
penampilan harus terus terjaga
dasi mencekik leher setiap hari
blue jeans dan kaos belel hanya kupakai tidur
pulang kantor, masih harus mampir ke pub
nikmati jazz atau sekadar menenggak wine
Hari minggu, masih harus nyambangi kolega
ikut kegiatan sosial atau kasih ceramah
karena kalau tidak, akan dibilang kampungan
Tak enak rasanya terus jadi seniman
sebab hanya ratio dan akal sehat yang bisa ikut tender
Itulah namanya pergaulan
Kabar lain, aku sudah tak menulis puisi
tanganku kelu kalau mau memulai
Rasanya ingin semaput kalau teringat dulu
nulis puisi, keluyuran di TIM
bergaul dengan seniman
Hidup di zaman sekjarang
mana bisa ditunjang dengan puisi?
Penyair berjuang Cuma lewat kata-kata
tapi kata-kata sejauh pengalanmanku
tak pernah memberi pahala
Masih ingatkah ketika aku nyaris masuk rumah sakit jiwa
gara-gara setiap hari membaca pikiran geblek Kilkergard dan Nitzhe?
Masih ingatkah betapa sekolahku kacau
gara-gara setiap malam begadang di jalanan
menunggu inspirasi datang yang ternyata
tak kunjung diberikan Tuhan?
Masih ingatkah, ketika aku dicekal
gara-gara menulis puisi yang marah,
terhadap pemerintah?
Kupikir, kata-kata sekarang tak hanya milik penyair
kata-kata politikus malah terbukti lebih digdaya
dan getol dikutip media massa
Di tengah banjir kata, demam ide besar dan keinginan perubahan
dimana letaknya penyair?
Ibu, hanya keledai yang jatuh dua kali di lubang yang sama
Kini aku sedang sangat gembira
meski tidak melakukan apa-apa
kecuali menikmati hidup yang fana
1992-2009