13 September 2012

SRI

Oleh : Kurniawan Junaedhie

PULANG dari tempatnya bekerja, Sri tidak langsung pulang. Ia melompat ke dalam bus yang membawanya ke Pasar Baru. Hari itu, untuk pertama kalinya, ia menerima gaji sebagai karyawan pabrik sepatu. Tidak besar jumlahnya, tapi Sri merasa beersyukur bahwa pada akhirnya ia tak menjadi seorang gadis penganggur. Pekerjaan itu sendiri sebetulnya tidak terlalu istimewa. Mengepak sepatu, mencatatnya, berdasarkan ukuran, apa susashnya? Tapi sudah sejak mula, Sri tidak pernah memandang jenis-jenis pekerjaan. Asal halal jadilah.
Sambil melamun di atas bus, dibayangkannya apa reaksi Wenas, kekasihnya jika pada saat itu bisa membaca pikirannya. Jebolan mahasiswa fakultas kedokteran yang menjadi detail-man itulah yang membawanya ke pabrik sepatu, sampai akhirnya Sri duterima sebagai karyawannya. Pemuda Manado itu pulalah yang selama ini mendesaknya untuk mau dinikahi.
“Wenas, kau jangan main-main,” kata Sri menahan geli ketika pada suatu hari Wenas mengutarakan niatnya.
“Lho, aku tidak main-main. Lihat tampangku sangat serius!” jawabnya.
Sri mengejek;
“Kau sangka gampang orang berumah-tangga?”
“Tentu tidak sepelik yang kau gambarkan, sungut Wenas.
“Memang. Apa susahnya,” potong Sri. “Kau temui kedua orang tuaku dan kita segera menikah. Begitu?”
“Dengarkanlah nona manis,” kata Wenas, kali ini sudah setengah menyembah. “Dulu kau minta aku jangan dulu berpikir ke arah itu. alasanmu, aku belum memenuhi persyaratan sebagai calon suami karena aku, begitu katamu, belum punya penghasilan. Dan engkau tahu gajiku sekarang bisa membiayai hidup kita berdua plus tiga orang pembantu plus rekening listrik plus…..”
“Dengar Wenas, aku bukan menolakmu. Sudah kukatakan aku tidak menolakmu. Sekarang renungkanlah baik-baik. Sudahkah aku layak menjadi calon istrimu?”
Wenas tertawa. Dipandanginya wajah kekasihnya dengan wajah memelas.
“apapun jadinya, aku tetap mencintai engkau. Dan dengar, di desa gadis-gadis seusiamu sudah menggendong tiga-empat anak. Bahkan mungkin sudah bercucu pula. Sedang kau, berpikir-pikir berputar-putar…..”
“Justru itu,” sela Sri melamun.
“Justru apa?”
“Justru aku bukan gadis-gadis itu. Eh. Kenapa kau tidak mencari jodoh gadis-gadis di Manado sana yang sudah pantas menggendong dua-tiga anak?”
Wnas menggeleng-geleng kepala, sambil mengangkat bahu. Percuma berdebat dengan engkau. Susahnya ia mencintai gadis itu setengah mati. Salah siapa?
Sri tahu, seberapa kadar cinta Wenas terhadapnya. Sri juga tahu bahwa hubungannya dengan pemuda Manado itu kini mulai disorot banyak orang. Termasuk kedua orangtuanya.
“Kuharap engkau tahu maksudku, Wenas,” katanya di lain hari. “Aku tokh ingin berarti dalam hidupku.”
Wenas hanya menggerutu di balik kemudinya.
“Aku tidak mau menjadi benalu yang numpang hidup padamu.”
Wenas menggerutu lagi sambil memainkan kpling.
“Terserah katamulah. Aku serius Wenas. Aku percaya pada itikad baikmu. Tapi aku merasa dalam usiaku sekarang, aku masih belum bisa memberi sesuatu yang berharga untuk orangtuaku.
Wenas menoleh tanpa berkata apa-apa.
“Kau jadi kerja?” tanyanya tiba-tiba.
“Itulah yang kupikirkan sekarang,” potong Sri.
“Jadi karena kau tidak bekerja maka kau merasa hidupmu tidak berarti?” tanyanya sambil melirihkan gas.
“Maksudku, aku merasa tidak berharga.”
Wenas tersenyum.
“Kalau hanya soal berharga, kau harus percaya pada ucapanku.”
“Apa?” Sri menoleh ke arah Wenas.
“Kau sungguh sangat berharga dalam hidupku.”
Sri mencibir.
Sampai suatu hari, secara tergesa-gesa Wenas datang ke rumahnya.
“Kau mau kerja di erusahaan sepatu?” tanyanya.
Diamat-amatinya wajah Wenas, kalau main-main.
“Kenapa tidak? Sepatu atau hamburger sama saja. Kau hanya menawari atau …..?” tanya Sri dengan mata curiga.
Wenas menggamit lengannya.
“Kau pasti diterimanya.”
Sri tambah curiga.
“Ada apa ini?”
“Bukan. Bukan. Syaratnya yang diminta pabrik sepatu itu, menurutku sesuai dengan kemampuanmu. Maksudku, kerja itu enteng. Sambil tidurpun aku yakin kau bisa melakukannya. Pendeknya, tak kurang mengasyikkan buatmu. Kapan kita ke sana?”
Sri mengerdipkan mata tanda sekarang saja berangkat.
Pekerjaan itu ternyata memang mengasyikkan. Mengepak sepatu kedalam doos, mencatat sesuai ukuran lalu mengecek pengiriman. Dan sesekali, yang edan Wenas muncul disela-sela doos besar, mengintai kekasihnya sambil mengajaknya bercerita.
“Sst….bagaimana caramu nyelonong ke sini?”
“Karena kangenku, kusogok mandor sepatu,” ujar Wenas tertawa.
“Besok tak usah datang, Wenas. Apa kau tidak kuatir kalau aku dipecat gara-gara ngobrol dengan seorang lelaki?
“Biarlah. Aku tak peduli. Karena aku cinta engkau. Aku takut engkau tergaet mandor sepatumu,” kata Wenas. “He, apa kau tidak merasa rendah kerja di pabrik sepatu?”
“Jadi kau merasa rendah kekasihmu bekerja di pabrik sepatu?”
“Tidak. Paling tidak aku merasa senang, lau merasa berarti dengan menjadi dirimu sekarang ini.”
Hampir lepas sepatu-sepatu yang akan dimasukkan ke dalam doos.
“Kau menyindirku ya?”
“Tidak,” kata Wenas cepat. “E, selamat bekerja. Mandormu melihat aku.” Lalu ia bergegas keluar dari ruangan.
+++++
Di muka gedung kantor pos, Sri turun. Di Pasar Baru diborongnya beberapa barang untuk orangtuanya. Gaji pertama harus selalu menumbuhkan kenangan, pikirnya. Di depan sebuah toko masih dipikirkannya sekadar tanda terimakasih untuk Wenas. Lalu ia pulang dengan bawaan yang cukup merepotkan.
“Kini aku sudah berarti memang,” katanya sendiri ketika berjalan sendiri melewati etalase yang memantulkan dirinya.
“Tentu saja aku sudah layak menjadi istri Wenas. Sejak kapanpun. Tidak sejak hari pertama aku menerima gaji. Lagi pula aku mencintai pemuda itu,” katanya dalam hati. “Kalau Wenas bisa membaca pikiranku,” katanya pula di dalam hati, “Dia pasti akan segera menodongku: Sri, kita menikah besok. Ah Wenas, engkau tahu bukan bahwa aku juga ingin menikah dengan engkau?”
            Ketika Sri sedang menunggu bajaj, sebuah mobil hendak menyeruduk dari belakang. Sudah dipersiapkannya sejumlah kata makian yang dihapal di luar kepala, tapi terdengar siulan kurang ajar yang sudah dikenalnya.
“Engkau jahanam, mestinya kau tak usah meledekku seperti ini. Bukankah sejak aku keluar dari toko kau bisa menolong bawaanku?” semprot Sri lalu diletakkannya bungkusan-bungkusannya ke jok.
“Jangan marah dulu manis. Aku ingin mentraktirmu sore ini,” katanya sambil cengar-cengir.
“Ya. Aku…… aku yang mentraktirmu kan?” nada Sri melemah.
“Aku tidak tahu jawabnya.”
“Jangan tolol. Hari ini kau sudah sebulan menjadi orang. Tentu saja ada hal lain. Kau dinilai oleh pabrik sepatu sebagai karyawati yang hebat. Cara-caramu mengepak dipuji baik. Sepatu-sepatu yang kau buat, kuat-kuat. Caramu mendaftar dalam buku besar, menurut mereka hanya bisa dilakukan oleh seorang wanita yang….. He, kau dengar kata-kataku?”
“Aku tidak suka dipuji-puji,” kata Sri dingin. “Aku tahu ada udang di balik batu.”
“Aku tidak main-main. Aku barusan datang ke pabrik sepatu tempatmu bekerja. Sebetulnya ingin menjemputmu, tapi kau keburu pulang. Ada yang mengatakan kau ke Pasar Baru. Memang ada yang ingin kukatakan padamu sore ini. Aku akan menagih janjimu.”
“Apa?”
“Kita menikah.” Dan sebelum Sri menjawab, cepat-cepat disambungnya: “Dulu sekali kau berkata supaya aku aku jangan berpikir ke itu yaitu ketika aku belum punya penghasilan. Kau bilang: Wenas, Wenas, kau pikir kau sudah layak jadi calon suami? Kau masih ingat? Lalu ketika aku sudah layak jadi calon suami kaupun menolak: Wenas, giliranku sekarang yang belum cukup berarti, Wenas. Kau masih ingat juga? Itu kata-katamu.”
“Memang. Waktu itu aku merasa belum cukup berarti berarti,” sungut Sri.
“Nah, kau sudah berarti sekarang. Kau punya pekerjaan. Kau punya kemampuan. Betapapun kecilnya gajimu. Tapi masih ada hal lain. Kau harap jangan kaget.”
“Biasa. Kau selalu mencurigakan,” sungut Sri lagi.
Wenas mengecilkan gas.
“Apa kau tidak pernah curiga mengapa aku selalu bisa nyelonong masuk ke tempatmu bekerja?
“Ya pernah. Aku heran.”
“Dengarlah. Sekali lagi jangan kaget. Di pabrik sepatu itu aku menanam saha,. Kami bertiga, semua drop out kedokteran.”
“Jadi?”
“Nanti dulu. Kenapa kau diterima di sana, kau begitu pertanyaanmu” itu memang mauku. Kau tokh sedang cari kerja?
Kebetulan kami membuka pabrik sepatu. Tapi jangan kuatir, kau diterima di sana bukan tanpa alasan. Kawan-kawanku juga yang mendesakku. Kata mereka, dengan mengerti seluk beluk membuat sepatu, mulai mengepakan, sampai pengiriman dan tetek bengek lainnya, kau layak menjadi seorang istri pengusaha sepatu.”
Sri pura-pura tidak mendengar. Keremangan senja menutupi kegembiraan di wajahnya.
“Aku sudah lapar……..,” katanya menenangkan kekagetannya.

+++++

Dimuat di majalah Anita Cemerlang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar