Oleh : Kurniawan Junaedhie
PULANG dari
tempatnya bekerja, Sri tidak langsung pulang. Ia melompat ke dalam bus yang
membawanya ke Pasar Baru. Hari itu, untuk pertama kalinya, ia menerima gaji
sebagai karyawan pabrik sepatu. Tidak besar jumlahnya, tapi Sri merasa
beersyukur bahwa pada akhirnya ia tak menjadi seorang gadis penganggur.
Pekerjaan itu sendiri sebetulnya tidak terlalu istimewa. Mengepak sepatu,
mencatatnya, berdasarkan ukuran, apa susashnya? Tapi sudah sejak mula, Sri
tidak pernah memandang jenis-jenis pekerjaan. Asal halal jadilah.
Sambil
melamun di atas bus, dibayangkannya apa reaksi Wenas, kekasihnya jika pada saat
itu bisa membaca pikirannya. Jebolan mahasiswa fakultas kedokteran yang menjadi
detail-man itulah yang membawanya ke
pabrik sepatu, sampai akhirnya Sri duterima sebagai karyawannya. Pemuda Manado
itu pulalah yang selama ini mendesaknya untuk mau dinikahi.
“Wenas, kau
jangan main-main,” kata Sri menahan geli ketika pada suatu hari Wenas
mengutarakan niatnya.
“Lho, aku
tidak main-main. Lihat tampangku sangat serius!” jawabnya.
Sri mengejek;
“Kau sangka
gampang orang berumah-tangga?”
“Tentu tidak
sepelik yang kau gambarkan, sungut Wenas.
“Memang. Apa
susahnya,” potong Sri. “Kau temui kedua orang tuaku dan kita segera menikah.
Begitu?”
“Dengarkanlah
nona manis,” kata Wenas, kali ini sudah setengah menyembah. “Dulu kau minta aku
jangan dulu berpikir ke arah itu. alasanmu, aku belum memenuhi persyaratan
sebagai calon suami karena aku, begitu katamu, belum punya penghasilan. Dan
engkau tahu gajiku sekarang bisa membiayai hidup kita berdua plus tiga orang
pembantu plus rekening listrik plus…..”
“Dengar
Wenas, aku bukan menolakmu. Sudah kukatakan aku tidak menolakmu. Sekarang
renungkanlah baik-baik. Sudahkah aku layak menjadi calon istrimu?”
Wenas
tertawa. Dipandanginya wajah kekasihnya dengan wajah memelas.
“apapun
jadinya, aku tetap mencintai engkau. Dan dengar, di desa gadis-gadis seusiamu
sudah menggendong tiga-empat anak. Bahkan mungkin sudah bercucu pula. Sedang
kau, berpikir-pikir berputar-putar…..”
“Justru itu,”
sela Sri melamun.
“Justru apa?”
“Justru aku
bukan gadis-gadis itu. Eh. Kenapa kau tidak mencari jodoh gadis-gadis di Manado
sana yang sudah pantas menggendong dua-tiga anak?”
Wnas
menggeleng-geleng kepala, sambil mengangkat bahu. Percuma berdebat dengan
engkau. Susahnya ia mencintai gadis itu setengah mati. Salah siapa?
Sri tahu,
seberapa kadar cinta Wenas terhadapnya. Sri juga tahu bahwa hubungannya dengan
pemuda Manado itu kini mulai disorot banyak orang. Termasuk kedua orangtuanya.
“Kuharap
engkau tahu maksudku, Wenas,” katanya di lain hari. “Aku tokh ingin berarti
dalam hidupku.”
Wenas hanya
menggerutu di balik kemudinya.
“Aku tidak
mau menjadi benalu yang numpang hidup padamu.”
Wenas
menggerutu lagi sambil memainkan kpling.
“Terserah
katamulah. Aku serius Wenas. Aku percaya pada itikad baikmu. Tapi aku merasa
dalam usiaku sekarang, aku masih belum bisa memberi sesuatu yang berharga untuk
orangtuaku.
Wenas menoleh
tanpa berkata apa-apa.
“Kau jadi
kerja?” tanyanya tiba-tiba.
“Itulah yang
kupikirkan sekarang,” potong Sri.
“Jadi karena
kau tidak bekerja maka kau merasa hidupmu tidak berarti?” tanyanya sambil
melirihkan gas.
“Maksudku,
aku merasa tidak berharga.”
Wenas
tersenyum.
“Kalau hanya
soal berharga, kau harus percaya pada ucapanku.”
“Apa?” Sri
menoleh ke arah Wenas.
“Kau sungguh
sangat berharga dalam hidupku.”
Sri mencibir.
Sampai suatu
hari, secara tergesa-gesa Wenas datang ke rumahnya.
“Kau mau
kerja di erusahaan sepatu?” tanyanya.
Diamat-amatinya
wajah Wenas, kalau main-main.
“Kenapa
tidak? Sepatu atau hamburger sama saja. Kau hanya menawari atau …..?” tanya Sri
dengan mata curiga.
Wenas
menggamit lengannya.
“Kau pasti
diterimanya.”
Sri tambah
curiga.
“Ada apa
ini?”
“Bukan.
Bukan. Syaratnya yang diminta pabrik sepatu itu, menurutku sesuai dengan
kemampuanmu. Maksudku, kerja itu enteng. Sambil tidurpun aku yakin kau bisa
melakukannya. Pendeknya, tak kurang mengasyikkan buatmu. Kapan kita ke sana?”
Sri
mengerdipkan mata tanda sekarang saja berangkat.
Pekerjaan itu
ternyata memang mengasyikkan. Mengepak sepatu kedalam doos, mencatat sesuai
ukuran lalu mengecek pengiriman. Dan sesekali, yang edan Wenas muncul
disela-sela doos besar, mengintai kekasihnya sambil mengajaknya bercerita.
“Sst….bagaimana
caramu nyelonong ke sini?”
“Karena
kangenku, kusogok mandor sepatu,” ujar Wenas tertawa.
“Besok tak
usah datang, Wenas. Apa kau tidak kuatir kalau aku dipecat gara-gara ngobrol
dengan seorang lelaki?
“Biarlah. Aku
tak peduli. Karena aku cinta engkau. Aku takut engkau tergaet mandor sepatumu,”
kata Wenas. “He, apa kau tidak merasa rendah kerja di pabrik sepatu?”
“Jadi kau
merasa rendah kekasihmu bekerja di pabrik sepatu?”
“Tidak.
Paling tidak aku merasa senang, lau merasa berarti dengan menjadi dirimu
sekarang ini.”
Hampir lepas
sepatu-sepatu yang akan dimasukkan ke dalam doos.
“Kau
menyindirku ya?”
“Tidak,” kata
Wenas cepat. “E, selamat bekerja. Mandormu melihat aku.” Lalu ia bergegas
keluar dari ruangan.
+++++
Di muka
gedung kantor pos, Sri turun. Di Pasar Baru diborongnya beberapa barang untuk
orangtuanya. Gaji pertama harus selalu menumbuhkan kenangan, pikirnya. Di depan
sebuah toko masih dipikirkannya sekadar tanda terimakasih untuk Wenas. Lalu ia
pulang dengan bawaan yang cukup merepotkan.
“Kini aku
sudah berarti memang,” katanya sendiri ketika berjalan sendiri melewati etalase
yang memantulkan dirinya.
“Tentu saja
aku sudah layak menjadi istri Wenas. Sejak kapanpun. Tidak sejak hari pertama
aku menerima gaji. Lagi pula aku mencintai pemuda itu,” katanya dalam hati.
“Kalau Wenas bisa membaca pikiranku,” katanya pula di dalam hati, “Dia pasti
akan segera menodongku: Sri, kita menikah besok. Ah Wenas, engkau tahu bukan
bahwa aku juga ingin menikah dengan engkau?”
Ketika Sri sedang menunggu bajaj,
sebuah mobil hendak menyeruduk dari belakang. Sudah dipersiapkannya sejumlah
kata makian yang dihapal di luar kepala, tapi terdengar siulan kurang ajar yang
sudah dikenalnya.
“Engkau
jahanam, mestinya kau tak usah meledekku seperti ini. Bukankah sejak aku keluar
dari toko kau bisa menolong bawaanku?” semprot Sri lalu diletakkannya
bungkusan-bungkusannya ke jok.
“Jangan marah
dulu manis. Aku ingin mentraktirmu sore ini,” katanya sambil cengar-cengir.
“Ya. Aku……
aku yang mentraktirmu kan?” nada Sri melemah.
“Aku tidak
tahu jawabnya.”
“Jangan
tolol. Hari ini kau sudah sebulan menjadi orang. Tentu saja ada hal lain. Kau
dinilai oleh pabrik sepatu sebagai karyawati yang hebat. Cara-caramu mengepak
dipuji baik. Sepatu-sepatu yang kau buat, kuat-kuat. Caramu mendaftar dalam
buku besar, menurut mereka hanya bisa dilakukan oleh seorang wanita yang….. He,
kau dengar kata-kataku?”
“Aku tidak
suka dipuji-puji,” kata Sri dingin. “Aku tahu ada udang di balik batu.”
“Aku tidak
main-main. Aku barusan datang ke pabrik sepatu tempatmu bekerja. Sebetulnya ingin
menjemputmu, tapi kau keburu pulang. Ada yang mengatakan kau ke Pasar Baru.
Memang ada yang ingin kukatakan padamu sore ini. Aku akan menagih janjimu.”
“Apa?”
“Kita
menikah.” Dan sebelum Sri menjawab, cepat-cepat disambungnya: “Dulu sekali kau
berkata supaya aku aku jangan berpikir ke itu yaitu ketika aku belum punya
penghasilan. Kau bilang: Wenas, Wenas, kau pikir kau sudah layak jadi calon
suami? Kau masih ingat? Lalu ketika aku sudah layak jadi calon suami kaupun
menolak: Wenas, giliranku sekarang yang belum cukup berarti, Wenas. Kau masih
ingat juga? Itu kata-katamu.”
“Memang.
Waktu itu aku merasa belum cukup berarti berarti,” sungut Sri.
“Nah, kau
sudah berarti sekarang. Kau punya pekerjaan. Kau punya kemampuan. Betapapun
kecilnya gajimu. Tapi masih ada hal lain. Kau harap jangan kaget.”
“Biasa. Kau
selalu mencurigakan,” sungut Sri lagi.
Wenas
mengecilkan gas.
“Apa kau
tidak pernah curiga mengapa aku selalu bisa nyelonong masuk ke tempatmu
bekerja?
“Ya pernah.
Aku heran.”
“Dengarlah.
Sekali lagi jangan kaget. Di pabrik sepatu itu aku menanam saha,. Kami bertiga,
semua drop out kedokteran.”
“Jadi?”
“Nanti dulu.
Kenapa kau diterima di sana, kau begitu pertanyaanmu” itu memang mauku. Kau
tokh sedang cari kerja?
Kebetulan
kami membuka pabrik sepatu. Tapi jangan kuatir, kau diterima di sana bukan
tanpa alasan. Kawan-kawanku juga yang mendesakku. Kata mereka, dengan mengerti
seluk beluk membuat sepatu, mulai mengepakan, sampai pengiriman dan tetek
bengek lainnya, kau layak menjadi seorang istri pengusaha sepatu.”
Sri pura-pura
tidak mendengar. Keremangan senja menutupi kegembiraan di wajahnya.
“Aku sudah
lapar……..,” katanya menenangkan kekagetannya.
+++++
Dimuat di majalah Anita Cemerlang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar