Oleh: Kurniawan Junaedhie
INGGAR harus bertengkar lagi. kali
ini dengan ibunya. Ayahnya menikah lagi dengan wanita lain yang sekarang
dipanggil ibu, dua tahu lalu. Umurnya tak berselisih banyak dengan Inggar.
Mungkin selisih barang enam tujuh tahun. Hampir seusia dengan kakak
perempuannya yang sudah menikah.
Wanita itu sebenarnya tidak cerewet, dia bisa memahami
anak tirinya. Tidak seperti gambaran ibu tiri di dalam komik-komik atau
film-film. Tapi Inggar memang seorang gadis yang istimewa.
Tadi siang ia pulang sekolah tergesa-gesa. Ibu tirinya
sedang mengepel lantai. Dia masuk tanpa mentukar sepatu.
“Aduh, sepatumu tidak kau tukar dulu di luar?” kata ibu
terloncat begitu saja.
“Mana aku tahu?” jawab Inggar. Dia sebetulnya terkejut
juga. Dalam hatinya merasa berdosa. Lantai yang sudah bersih itu menjadi penuh
dengan bercak-bercak lumpur. Tapi apa pedulinya?
“Lain kali ibu harus mengepel lantai bukan pada hari
kerja!” katanya melotot.
Dia memang benar. Hari itu hari Senin. Biasaya lantai
dibersihkan pada hari Minggu, dan selanjutnya sampai Minggu berikutnya sampai
dibersihkan lagi.
Ibunya menyesal.
“Baiklah. Lain kali.....,” tukasnya bermaksud tanpa
memperpanjang persoalan.
Inggar berjalan seperti biasa. Sepatunya tetap melekat di
kakinya. Dari kamar dia keluar lagi., menghadapi meja makan.
“Aku tak pernah berselera makan di rumah,” katanya pelan.
Tudung sajinya sudah dibuka dan diletakkan di kursi. “Menunya selalu sama.
Kangkung, opor ayam, dan.....”
Ditutupnya lagi hidangan itu.
“Itu pesan ayahmu.” Kata ibunya.
Inggar jadi melotot.
“Kau tidak hanya menikah dengan ayahku!” katanya kesal.
“Waktu kau nikah dengan ayahku kau sudah tahu bahwa dia punya seorang anak?”
“Seharusnya kau memasak sendiri. Aku sendiri sudah bosan
di sini. Jangan kau sangka aku senang,” bantah ibunya.
“Aku juga tidak menyangka bahwa ayahku bisa mencintai
wanita seperti engkau,” jawab Inggar dengan geram.
“Baiklah lain kali. Aku janji,” kata wanita itu serupa
menyesal. Ia menunduk, dan air matanya hampir keluar.
Sambil berjalan ke kamarnya, ia merasa geram, mengapa
hati manusia begitu tipisnya. Mengapa hati manusia begitu mudah untuk tersinggung?
Aneh.
Di sekolah ia juga habis bertengkar. Ini bukan pertama
kalinya. Bibirnya memang mungil. Tetapi setiap kali berbicara semua orang bisa
tersinggung.
“Tio, rambutnya jelek!” atau “Hang, bajumu kuno!” atau
“Kau tidak pernah mengganti yurkmu ya?” Seolah-olah kalimat lain tidak ada lagi
pilihannya. Mungkin dia tidak bermaksud mengejek. Rambut Tio memang
acak-acakkan. Kemerah-merahan dan jarang disisir. Siapa pun tahu hal itu. Baju
Engdang memang tidak pernah disetrika. Tapi itu memang lagi mode. Yurk bawah
Ellen memang jarang ganti, karena dia anak kost. Waktu untuk mencuci lebih baik
dimanfaatkan untuk belajar.
Tio meminjam bukunya seminggu yang lalu. Padahal janjinya
ia akan mengembalikan dalam tempo tiga hari. Hari kelima ulangan umum. Tapi Tio
khilaf. Hari kelima dia absen. Anak-anak kelas tiga memang liburan, sedang
Inggar karena kelas dua, masuk sekolah. hari keenam Tio juga tidak hadir.
Karena hari itu masih liburan. Dan hari ketujuh, Tio datang menemuinya.
“Sorri, bukumu belum sempat kusalin,” katanya.
Inggar kontan melipat bibirnya. Ia rebut buku itu dan tak
berkata sepatah katapun. Tio mencoba membela diri, tapi sia-sia. Semua sudah
tahu, susah untuk berdebat dengan gadis itu. Ia selalu mengatakan kebenaran.
Bagaimana dia bisa belajar sedang bukunya dipinjam Tio. Guru Antropologi sudah
cukup tenar, tak pernah memberi soal dengan multiple
choice atau semacam dengan itu.
Sebenarnya Inggar sudah bosan bertengkar dan berjanji
ingin menjalin perdamaian di kelasnya. Dia masih ingat, ketika ia harus
bertengkar dengan Hag gara-gara Tiur nonton film. Hang dibuatnya tak berkutik.
Tapi cowok itu memang berdosa. Dia telah menghianati seorang gadis yang
mencintainya diam-diam. Akibatnya Tiur yang marah.
“Aku kan bukan cewek yang murahan? Hang mengajakku karena
rumahnya sejurusan denganku. Dan kau tokh sudah menolaknya?” kata Tiur. Inggar
menggigit bibirnya. Tapi apakah lalu ia mengatakan pada Hang bahwa ia
mencintainya, bahwa ia tidak ingin dinomor-duakan, bahwa dia merasa
cemburu bahwa Hang malah mengajak Tiur
nonton? Inggar gadis yang suka terus terang. Dan dia mengatakan itu kepada
Tiur. Dan itulah hasilnya. Tiur tidak mau lagi bercakap-cakap dengannya, tak
mau lagi berdekatan, apalagi bersentuhan.
“Dia barangkali merasa dirinya tidak pernah berdosa,”
kata Tiur kesal.
Aneh, pikirnya. Betapa mudahnya menyulut api. Seolah
begitu mudahnya orang membuat perang. Hampir-hampir tak pernah terpikirkan
sebelumnya, setiap manusia begitu gampang untuk bertempur, bertengkar dan
ngambek. Sebaliknya betapa susahnya menjalin perdamaian. Tak terasa air matanya
menetes. Sebab dia merasa mencintai semuanya. Termasuk ibu tirinya. Juga Hang.
Sore harinya, ia pun nyaris bertengkar dengan ayahnya. Ia
mengatakan bahwa ayahnya harus rajin minum obat supaya tidak mudah kena flu.
Tapi ayahya marah-marah dan mengatakan Inggar hendak mengajari orang tua. Tentu
saja ia menangis. Memang mengherankan, hidup ini. Tidak mudah mengatakan
kebenaran!
Hang datang malam harinya. Inggar baru saja menyelesaikan
tangisnya sehingga dengan mudah Hang bisa menebak bahwa dia sedang bersedih.
“Kenapa kau menangis?” tanya Hang sambil menyulut rokok.
“Entahlah,” dia geleng-geleng kepala. “Aku merasa semua
orang memusuhiku.” Jawabnya. Sekejap dia hampir menangis lagi mengenang
kejadian dalam sehari.
Hang memahami.
“Kau kira semua manusia sangat jahat?” tanyanya dengan
bimbang.
“Bagiku sama sekali tidak,” jawab hang.
“Aku tidak menyangka,” suaranya mulai tersedat. “Kau
harus tahu, aku tidak bermaksud menyakitimu. Juga Tiur. Sama sekali tidak. Aku
mengatakan sesuatu yang benar kan?” Dan air matanya menetes satu-satu di
pipinya.
Hang bangkit dan mengusap airmata itu dengan sapu
tangannya. Lalu didekapnya gadis itu.
Hang hendak mengatakan bahwa dia tidak jahat. Dia
sesungguhnya seorang gadis yang menarik, karena berterus terang. Tapi Inggar
sudah tersedu-sedu.
“Sebaiknya memang aku tidak usah mempunyai sebuah mulut!”
katanya terisak.
“Tidak. Semua orang mencintaimu.”
Hang mengeratkan pelukannya.
“Dan aku mencintaimu,” tukas Hang.
Inggar melepaskan pelukan dan menatap bola mata Hang yang
tidak pernah berdusta.
“Hang aku mencintai kejujuran. Tapi tak usah kau katakan
itu lagi. jangan katakan. Aku tahu,” katanya.
+++++
Dimuat di majalah kumcer Aneka 1982
Tidak ada komentar:
Posting Komentar