13 September 2012

SEBUAH KEJUJURAN

Oleh: Kurniawan Junaedhie

INGGAR harus bertengkar lagi. kali ini dengan ibunya. Ayahnya menikah lagi dengan wanita lain yang sekarang dipanggil ibu, dua tahu lalu. Umurnya tak berselisih banyak dengan Inggar. Mungkin selisih barang enam tujuh tahun. Hampir seusia dengan kakak perempuannya yang sudah menikah.
Wanita itu sebenarnya tidak cerewet, dia bisa memahami anak tirinya. Tidak seperti gambaran ibu tiri di dalam komik-komik atau film-film. Tapi Inggar memang seorang gadis yang istimewa.
Tadi siang ia pulang sekolah tergesa-gesa. Ibu tirinya sedang mengepel lantai. Dia masuk tanpa mentukar sepatu.
“Aduh, sepatumu tidak kau tukar dulu di luar?” kata ibu terloncat begitu saja.
“Mana aku tahu?” jawab Inggar. Dia sebetulnya terkejut juga. Dalam hatinya merasa berdosa. Lantai yang sudah bersih itu menjadi penuh dengan bercak-bercak lumpur. Tapi apa pedulinya?
“Lain kali ibu harus mengepel lantai bukan pada hari kerja!” katanya melotot.
Dia memang benar. Hari itu hari Senin. Biasaya lantai dibersihkan pada hari Minggu, dan selanjutnya sampai Minggu berikutnya sampai dibersihkan lagi.
Ibunya menyesal.
“Baiklah. Lain kali.....,” tukasnya bermaksud tanpa memperpanjang persoalan.
Inggar berjalan seperti biasa. Sepatunya tetap melekat di kakinya. Dari kamar dia keluar lagi., menghadapi meja makan.
“Aku tak pernah berselera makan di rumah,” katanya pelan. Tudung sajinya sudah dibuka dan diletakkan di kursi. “Menunya selalu sama. Kangkung, opor ayam, dan.....”
Ditutupnya lagi hidangan itu.
“Itu pesan ayahmu.” Kata ibunya.
Inggar jadi melotot.
“Kau tidak hanya menikah dengan ayahku!” katanya kesal. “Waktu kau nikah dengan ayahku kau sudah tahu bahwa dia punya seorang anak?”
“Seharusnya kau memasak sendiri. Aku sendiri sudah bosan di sini. Jangan kau sangka aku senang,” bantah ibunya.
“Aku juga tidak menyangka bahwa ayahku bisa mencintai wanita seperti engkau,” jawab Inggar dengan geram.
“Baiklah lain kali. Aku janji,” kata wanita itu serupa menyesal. Ia menunduk, dan air matanya hampir keluar.
Sambil berjalan ke kamarnya, ia merasa geram, mengapa hati manusia begitu tipisnya. Mengapa hati manusia begitu mudah untuk tersinggung? Aneh.
Di sekolah ia juga habis bertengkar. Ini bukan pertama kalinya. Bibirnya memang mungil. Tetapi setiap kali berbicara semua orang bisa tersinggung.
“Tio, rambutnya jelek!” atau “Hang, bajumu kuno!” atau “Kau tidak pernah mengganti yurkmu ya?” Seolah-olah kalimat lain tidak ada lagi pilihannya. Mungkin dia tidak bermaksud mengejek. Rambut Tio memang acak-acakkan. Kemerah-merahan dan jarang disisir. Siapa pun tahu hal itu. Baju Engdang memang tidak pernah disetrika. Tapi itu memang lagi mode. Yurk bawah Ellen memang jarang ganti, karena dia anak kost. Waktu untuk mencuci lebih baik dimanfaatkan untuk belajar.
Tio meminjam bukunya seminggu yang lalu. Padahal janjinya ia akan mengembalikan dalam tempo tiga hari. Hari kelima ulangan umum. Tapi Tio khilaf. Hari kelima dia absen. Anak-anak kelas tiga memang liburan, sedang Inggar karena kelas dua, masuk sekolah. hari keenam Tio juga tidak hadir. Karena hari itu masih liburan. Dan hari ketujuh, Tio datang menemuinya.
“Sorri, bukumu belum sempat kusalin,” katanya.
Inggar kontan melipat bibirnya. Ia rebut buku itu dan tak berkata sepatah katapun. Tio mencoba membela diri, tapi sia-sia. Semua sudah tahu, susah untuk berdebat dengan gadis itu. Ia selalu mengatakan kebenaran. Bagaimana dia bisa belajar sedang bukunya dipinjam Tio. Guru Antropologi sudah cukup tenar, tak pernah memberi soal dengan multiple choice atau semacam dengan itu.
Sebenarnya Inggar sudah bosan bertengkar dan berjanji ingin menjalin perdamaian di kelasnya. Dia masih ingat, ketika ia harus bertengkar dengan Hag gara-gara Tiur nonton film. Hang dibuatnya tak berkutik. Tapi cowok itu memang berdosa. Dia telah menghianati seorang gadis yang mencintainya diam-diam. Akibatnya Tiur yang marah.
“Aku kan bukan cewek yang murahan? Hang mengajakku karena rumahnya sejurusan denganku. Dan kau tokh sudah menolaknya?” kata Tiur. Inggar menggigit bibirnya. Tapi apakah lalu ia mengatakan pada Hang bahwa ia mencintainya, bahwa ia tidak ingin dinomor-duakan, bahwa dia merasa cemburu  bahwa Hang malah mengajak Tiur nonton? Inggar gadis yang suka terus terang. Dan dia mengatakan itu kepada Tiur. Dan itulah hasilnya. Tiur tidak mau lagi bercakap-cakap dengannya, tak mau lagi berdekatan, apalagi bersentuhan.
“Dia barangkali merasa dirinya tidak pernah berdosa,” kata Tiur kesal.
Aneh, pikirnya. Betapa mudahnya menyulut api. Seolah begitu mudahnya orang membuat perang. Hampir-hampir tak pernah terpikirkan sebelumnya, setiap manusia begitu gampang untuk bertempur, bertengkar dan ngambek. Sebaliknya betapa susahnya menjalin perdamaian. Tak terasa air matanya menetes. Sebab dia merasa mencintai semuanya. Termasuk ibu tirinya. Juga Hang.
Sore harinya, ia pun nyaris bertengkar dengan ayahnya. Ia mengatakan bahwa ayahnya harus rajin minum obat supaya tidak mudah kena flu. Tapi ayahya marah-marah dan mengatakan Inggar hendak mengajari orang tua. Tentu saja ia menangis. Memang mengherankan, hidup ini. Tidak mudah mengatakan kebenaran!
Hang datang malam harinya. Inggar baru saja menyelesaikan tangisnya sehingga dengan mudah Hang bisa menebak bahwa dia sedang bersedih.
“Kenapa kau menangis?” tanya Hang sambil menyulut rokok.
“Entahlah,” dia geleng-geleng kepala. “Aku merasa semua orang memusuhiku.” Jawabnya. Sekejap dia hampir menangis lagi mengenang kejadian dalam sehari.
Hang memahami.
“Kau kira semua manusia sangat jahat?” tanyanya dengan bimbang.
“Bagiku sama sekali tidak,” jawab hang.
“Aku tidak menyangka,” suaranya mulai tersedat. “Kau harus tahu, aku tidak bermaksud menyakitimu. Juga Tiur. Sama sekali tidak. Aku mengatakan sesuatu yang benar kan?” Dan air matanya menetes satu-satu di pipinya.
Hang bangkit dan mengusap airmata itu dengan sapu tangannya. Lalu didekapnya gadis itu.
Hang hendak mengatakan bahwa dia tidak jahat. Dia sesungguhnya seorang gadis yang menarik, karena berterus terang. Tapi Inggar sudah tersedu-sedu.
“Sebaiknya memang aku tidak usah mempunyai sebuah mulut!” katanya terisak.
“Tidak. Semua orang mencintaimu.”
Hang mengeratkan pelukannya.
“Dan aku mencintaimu,” tukas Hang.
Inggar melepaskan pelukan dan menatap bola mata Hang yang tidak pernah berdusta.
“Hang aku mencintai kejujuran. Tapi tak usah kau katakan itu lagi. jangan katakan. Aku tahu,” katanya.
+++++



Dimuat di majalah kumcer Aneka 1982

Tidak ada komentar:

Posting Komentar