GONORHOE:
Hampir mati berdiri Parlin mendengar kata-kata itu diucapkan dokter Luwi.
Rasa-rasanya tak pernah ia seterkejut ini sebelumnya.
Anak sulung
seorang pendeta yang selama ini dikenal alim, terserang penyakit laknat?
Astaga! Parlin sudah membayangkan, jika penyakit ini terbongkar nanti, semua
sanak family dan kenalannya akan gempar. Jangan diomelin, dikutuk pun belum
cukup untuk mengusir dera yang harus ditimpanya.
Tiba-tiba
terbayang wajah ida, istrinya yang begitu polos, yang baru dinikahinya empat
bulan lalu, yang selalu dijanjikan bahwa seperseribu detik pun dia tak akan
melupakannya. Kini dia akan menularkan bibit penyakit sialan ini? Akan
dbiarkankah kuman-kuman penyakit laknat ini bersarang di rahimnya, berkecambah
dan berkembang biak? Mana cinta yang didengung-dengungkan Parlin?Apa buktinya?
Dalam sekejap mata, semua sudah berbalik.Parlin ternyata telah pernah melupakan
Ida meski sedetik, untuk sesuatu yang seharusnya tidak perlu dilakukan oleh
Parlin.
Seribu godaan
rasanya membelah kepalanya.Perlin merejam-rejam rambutnya dengan geram.
Seperti
memahami perasaannya, dokter Luwi, menatapnya dengan senyum kebapakan.
“Semua
penyakit ada obatnya.Kenapa kuatir?” katanya.
“Saya memang
sangat kuatir, Dok,” jawab Parlin sambil
menyeka keringatnya.
Dokter Luwi
tak segera menjawab hanya tersenyum tipis.
“Tetapi saya
baru sekali ini Dok.Baru sekali saya melakukan. Tetapi ah…..” Parlin
mengguncang-guncang tangannya serasa didera kesal.
Ya Parlin
ingat betul.Malam itu dia pergi ke Bogor, dengan Situmorang, kawannya. Karena
hari sudah malam, sangat susah mencari penginapan. Akhirnya asal bisa untuk
bermalam, kemana pun jadilah, dan ditemuilah sebuah losmen kecil yang dari
lampu-lampunya tampak suram.
Semalaman
mata Parlin tak terpejam.Suara gaduh di losmen itu menyebabkan matanya tak
kunjung pejam.Situmorang mengajaknya minum bir.Daripada kedinginan dan
kesepian, katanya.Selesai minum bir itulah peristiwanya.Ia menemukan seorang
wanita sudah menunduk mencangkung di kamarnya. Ini akibatnya!
Ditinjunya
telapak tangannya dengan geram. Kalau saja tidak minum bir, kalau saja tidak
pergi dengan Situmorang, kalau saja tidak kemalaman di Bogor…..
“Berilah saya
obat yang paling mujarab, Dok.Saya sudah kapok.Benar-benar kapok.Biarlah saya
menderita penyakit yang lain, asal tidak yang ini. Kalau tidak yah…..” Ingin
betul, airmata Parlin bisa keluar.Tapi dilihatnya dokter tua itu masih saja
tersenyum-senyum mengawasi seperti tadi.Mungkin dia sangat heran melihat pasien
satu ini.Karena, siapa tahu, pasien-pasien lain begitu acuh tak acuh terhadap
penyakit ini.
“Belum parah
benar,” katanya geleng-gelang kepala.
“Saya anak
lelaki satu-satunya.Saya harus punya anak, Dok….,” tukas Parlin terbata-bata.
“Saya sudah
bilang tadi.Belum parah benar.Dua kali suntik beres.Kecuali, kecuali kuman itu
sudah bersarang pada testismu.Tapi, rasa-rasanya tidak.”
“Apakah saya
tidak akan menularkan kuman ini pada istri saya Dok?”
Seperti tadi,
dokter Luwi tersenyum.
“Bagaimana
kalau dia tahu saya kena penyakit ini?”
Dokter Luwi
melotot.
“Kalau kau
tak ingin dia semaput, sebaiknya tidak usah menceritakannya!!”
Ah, rasanya
mustahil. Lambat atau cepat, Ida pasti akan mengetahuinya. Mula-mula mungkin
dia akan curiga karena berkali-kali menemukan kapsul-kapsul antibiotika di
dalam kantongnya. Kemudian, dia akan terkejut kalau melihat celana dalam Parlin
penuh bercak berwarna kuning muda. Sekali ini, keringat dingin menitik satu-satu
dari dahinya.
Sebelum
Parlin menumpahkan kekesalannya utuk kesekian kalinya, dengan bijaksana dokter
Luwi sudah menuliskan resep, dan surat pengantar ke laboratorium.
“Biar safe,”
kata dokter Luwi dalam nada memberi sugesti.
+++++
Ida tampaknya
memang tidak curiga.Setiap malam padahal Parlin kelihatan sekali menyibukkan
diri.Kalau diingatkannya bahwa hari sudah malam.Parlin cuma menggeser tempat
duduknya.Tetapi, tak segera beranjak ke kamar seperti dulu.Ia benar-benar
sangat sibuk.
“Tidur
dulu.Aku masih harus mengerjakan kerja lembur ini,” kata Parlin.Sebetulnya
hatinya menangis.Dia merasa iba terhadap istrinya.Baru empat bulan mereka
menikah.Mestinya masih dalam suasana bulan madu.
Tapi Ida
memang seorang wanita yang tabah.Dia tetap menunggui Parlin sambil membaca
majalah lama atau melakukan pekerjaan tangan lainnya di samping Parlin, dan
sesekali sambil menguap Karen menahan kantuk.Kasihan juga sebenarnya.
“Kau nanti
sakit, kak Parlin,” kata Ida.
Parlin
menatapnya sayu.
“Ah
tidak.Badanku cukup kuat,” kata Parlin.
Ida menguap
sekali lagi. Sekarang ia malah sudah bersender di bahu Parlin. Dengan perlahan,
Parlin menepiskannya.
“Aku
menyusulmu nanti.” Bujuk Parlin.
Ida
melepaskan senderannya.
Ketika Parlin
masuk ke kamarnya jam tiga dinihari, Ida belum tidur juga. Rupanya ia baru saja
menangis. Matanya sembab.
“Kenapa kau,
Ida?”Parlin mencoba memeluknya.
Ida malah
mengencangkan isaknya.
Parlin
menciumnya.
“Maafkan aku,
Ida.Aku sangat sibuk. Kalau saja sudah senggang, pasti…..”
Mata Parlin
menatap langit-langit kamarnya dengan hampa. Sebelum, Ida melihatnya menangis,
ia mematikan lampu di kamarnya. Aku telah mengkhianati cintanya, katanya dalam
hati.
+++++
SUDAH
seminggu Parlin dengan rajin meminum kapsul-kapsulnya.Dokter Luwi memang
hebat.Mula-mula diberikannya Parlin kamsul yang harus diminum sekali empat
buah.Dua hari kemudian, Parlin cukup menelannya dua buah.Kemudian cukup
sebuah.Dua kali disuntik oleh dokter Luwi pun rasanya sudah cukup. Tak ada
cairan lagi, setiap ia buang air kecil. Celana dalamnya tak lagi dikotori
bercak-bercak sialan itu. Hanya suatu kali pernah, dari dalam kamar mandi, Ida
berteriak :
“Celanamu
kena karat karena menjemurnya di kawat jemuran!”
Mestinya
tertawa, tapi Parlin justru merasa sedih. Bagaimana pun ia telah mendustai Ida.
Hasil pemeriksaan
laboratorium pun, menggembirakan.Negatip.
Coccus
jarang, demikian kata dokter Luwi.
Sambil
tertawa dokter Luwi mengatakan:
“Kalau orang
tidak ada coccusnya bagaimana?”
Tapi tokh
Parlin masih merasa cemas.
Sementara itu
Ida masih dengan setia melayani Parlin. Setiap Parlin pulang dari kantor, ia
tetap menyisakan senyumnya yang tulus. Menunggunya di tempat
tidur.Mengelus-elus dada Parlin.Mencium-cium kening Parlin.
“Aku tahu kau
belum punya waktu senggang,” katanya setelah itu.Ada geletar kecewa memang.Ia
tergoleh di samping Parlin. Parlin cuma merabanya, dan menatap langit kamarnya
dengan tatapan yag hampa.
“Kau mau
mengunggu bukan?” Tanya Parlin tanpa menolehnya.Karena Ida tak segera menyahut,
Parlin menatapnya.Ida mengerjapkan matanya tanda setuju.
Lihatlah,
betapa penuh pengertiannya Ida.Betapa setianya istriku, pikirParlin.Sekali saja
cukup mengkhianati.
+++++
Dokter Luwi
yang dilapori, tak menahan hatinya untuk tidak tertawa terpingkal-pingkal.
“Jadi apa
yang kau takutkan sekarang?” tanyanya menahan geli.
“Dia akan
ketularan, Dok.Padahal saya sangat mencintainya.”
Dokter Luwi
terbahak-bahak sampai-sampai stetoskop yang tergantung di lehernya
berguncang-guncang.
“Bagaimana
kau bisa mengatakan kau sangat mencintai dia kalau setiap malam kau biarkan dia
sendirian menahan kesepian?Kalau kau membiarkan dia menaruh curiga kau sedang
bergelut dengan wanita-wanita jalanan?”
“Tetapi aku
tidak rela dia ketularan, Dok,” kata Parlin pahit.
Di luar
dugaan, dokter Luwi menjawabnya dengan kalem.
“Parlin, kau
akan menularkan cinta terhadapnya.Cinta yang lebih indah dari sebelumnya.Cinta
yang sudah teruji.Karena kau sudah bertobat!!”
Memang benar
kata dokter Luwi.Malam itu, Parlin merasa telah menularkan cinta yang
sedemikian sejati.
+++++
Dimuat di majalah Pesona, 1982
Tidak ada komentar:
Posting Komentar