12 September 2012

CINTA YANG SUDAH TERUJI

Oleh: Kurniawan Junaedhie

GONORHOE: Hampir mati berdiri Parlin mendengar kata-kata itu diucapkan dokter Luwi. Rasa-rasanya tak pernah ia seterkejut ini sebelumnya.
Anak sulung seorang pendeta yang selama ini dikenal alim, terserang penyakit laknat? Astaga! Parlin sudah membayangkan, jika penyakit ini terbongkar nanti, semua sanak family dan kenalannya akan gempar. Jangan diomelin, dikutuk pun belum cukup untuk mengusir dera yang harus ditimpanya.
Tiba-tiba terbayang wajah ida, istrinya yang begitu polos, yang baru dinikahinya empat bulan lalu, yang selalu dijanjikan bahwa seperseribu detik pun dia tak akan melupakannya. Kini dia akan menularkan bibit penyakit sialan ini? Akan dbiarkankah kuman-kuman penyakit laknat ini bersarang di rahimnya, berkecambah dan berkembang biak? Mana cinta yang didengung-dengungkan Parlin?Apa buktinya? Dalam sekejap mata, semua sudah berbalik.Parlin ternyata telah pernah melupakan Ida meski sedetik, untuk sesuatu yang seharusnya tidak perlu dilakukan oleh Parlin.
Seribu godaan rasanya membelah kepalanya.Perlin merejam-rejam rambutnya dengan geram.
Seperti memahami perasaannya, dokter Luwi, menatapnya dengan senyum kebapakan.
“Semua penyakit ada obatnya.Kenapa kuatir?” katanya.
“Saya memang sangat kuatir,  Dok,” jawab Parlin sambil menyeka keringatnya.
Dokter Luwi tak segera menjawab hanya tersenyum tipis.
“Tetapi saya baru sekali ini Dok.Baru sekali saya melakukan. Tetapi ah…..” Parlin mengguncang-guncang tangannya serasa didera kesal.
Ya Parlin ingat betul.Malam itu dia pergi ke Bogor, dengan Situmorang, kawannya. Karena hari sudah malam, sangat susah mencari penginapan. Akhirnya asal bisa untuk bermalam, kemana pun jadilah, dan ditemuilah sebuah losmen kecil yang dari lampu-lampunya tampak suram.
Semalaman mata Parlin tak terpejam.Suara gaduh di losmen itu menyebabkan matanya tak kunjung pejam.Situmorang mengajaknya minum bir.Daripada kedinginan dan kesepian, katanya.Selesai minum bir itulah peristiwanya.Ia menemukan seorang wanita sudah menunduk mencangkung di kamarnya. Ini akibatnya!
Ditinjunya telapak tangannya dengan geram. Kalau saja tidak minum bir, kalau saja tidak pergi dengan Situmorang, kalau saja tidak kemalaman di Bogor…..
“Berilah saya obat yang paling mujarab, Dok.Saya sudah kapok.Benar-benar kapok.Biarlah saya menderita penyakit yang lain, asal tidak yang ini. Kalau tidak yah…..” Ingin betul, airmata Parlin bisa keluar.Tapi dilihatnya dokter tua itu masih saja tersenyum-senyum mengawasi seperti tadi.Mungkin dia sangat heran melihat pasien satu ini.Karena, siapa tahu, pasien-pasien lain begitu acuh tak acuh terhadap penyakit ini.
“Belum parah benar,” katanya geleng-gelang kepala.
“Saya anak lelaki satu-satunya.Saya harus punya anak, Dok….,” tukas Parlin terbata-bata.
“Saya sudah bilang tadi.Belum parah benar.Dua kali suntik beres.Kecuali, kecuali kuman itu sudah bersarang pada testismu.Tapi, rasa-rasanya tidak.”
“Apakah saya tidak akan menularkan kuman ini pada istri saya Dok?”
Seperti tadi, dokter Luwi tersenyum.
“Bagaimana kalau dia tahu saya kena penyakit ini?”
Dokter Luwi melotot.
“Kalau kau tak ingin dia semaput, sebaiknya tidak usah menceritakannya!!”
Ah, rasanya mustahil. Lambat atau cepat, Ida pasti akan mengetahuinya. Mula-mula mungkin dia akan curiga karena berkali-kali menemukan kapsul-kapsul antibiotika di dalam kantongnya. Kemudian, dia akan terkejut kalau melihat celana dalam Parlin penuh bercak berwarna kuning muda. Sekali ini, keringat dingin menitik satu-satu dari dahinya.
Sebelum Parlin menumpahkan kekesalannya utuk kesekian kalinya, dengan bijaksana dokter Luwi sudah menuliskan resep, dan surat pengantar ke laboratorium.
“Biar safe,” kata dokter Luwi dalam nada memberi sugesti.
+++++
Ida tampaknya memang tidak curiga.Setiap malam padahal Parlin kelihatan sekali menyibukkan diri.Kalau diingatkannya bahwa hari sudah malam.Parlin cuma menggeser tempat duduknya.Tetapi, tak segera beranjak ke kamar seperti dulu.Ia benar-benar sangat sibuk.
“Tidur dulu.Aku masih harus mengerjakan kerja lembur ini,” kata Parlin.Sebetulnya hatinya menangis.Dia merasa iba terhadap istrinya.Baru empat bulan mereka menikah.Mestinya masih dalam suasana bulan madu.
Tapi Ida memang seorang wanita yang tabah.Dia tetap menunggui Parlin sambil membaca majalah lama atau melakukan pekerjaan tangan lainnya di samping Parlin, dan sesekali sambil menguap Karen menahan kantuk.Kasihan juga sebenarnya.
“Kau nanti sakit, kak Parlin,” kata Ida.
Parlin menatapnya sayu.
“Ah tidak.Badanku cukup kuat,” kata Parlin.
Ida menguap sekali lagi. Sekarang ia malah sudah bersender di bahu Parlin. Dengan perlahan, Parlin menepiskannya.
“Aku menyusulmu nanti.” Bujuk Parlin.
Ida melepaskan senderannya.
Ketika Parlin masuk ke kamarnya jam tiga dinihari, Ida belum tidur juga. Rupanya ia baru saja menangis. Matanya sembab.
“Kenapa kau, Ida?”Parlin mencoba memeluknya.
Ida malah mengencangkan isaknya.
Parlin menciumnya.
“Maafkan aku, Ida.Aku sangat sibuk. Kalau saja sudah senggang, pasti…..”
Mata Parlin menatap langit-langit kamarnya dengan hampa. Sebelum, Ida melihatnya menangis, ia mematikan lampu di kamarnya. Aku telah mengkhianati cintanya, katanya dalam hati.
+++++
SUDAH seminggu Parlin dengan rajin meminum kapsul-kapsulnya.Dokter Luwi memang hebat.Mula-mula diberikannya Parlin kamsul yang harus diminum sekali empat buah.Dua hari kemudian, Parlin cukup menelannya dua buah.Kemudian cukup sebuah.Dua kali disuntik oleh dokter Luwi pun rasanya sudah cukup. Tak ada cairan lagi, setiap ia buang air kecil. Celana dalamnya tak lagi dikotori bercak-bercak sialan itu. Hanya suatu kali pernah, dari dalam kamar mandi, Ida berteriak :
“Celanamu kena karat karena menjemurnya di kawat jemuran!”
Mestinya tertawa, tapi Parlin justru merasa sedih. Bagaimana pun ia telah mendustai Ida.
Hasil pemeriksaan laboratorium pun, menggembirakan.Negatip.
Coccus jarang, demikian kata dokter Luwi.
Sambil tertawa dokter Luwi mengatakan:
“Kalau orang tidak ada coccusnya bagaimana?”
Tapi tokh Parlin masih merasa cemas.
Sementara itu Ida masih dengan setia melayani Parlin. Setiap Parlin pulang dari kantor, ia tetap menyisakan senyumnya yang tulus. Menunggunya di tempat tidur.Mengelus-elus dada Parlin.Mencium-cium kening Parlin.
“Aku tahu kau belum punya waktu senggang,” katanya setelah itu.Ada geletar kecewa memang.Ia tergoleh di samping Parlin. Parlin cuma merabanya, dan menatap langit kamarnya dengan tatapan yag hampa.
“Kau mau mengunggu bukan?” Tanya Parlin tanpa menolehnya.Karena Ida tak segera menyahut, Parlin menatapnya.Ida mengerjapkan matanya tanda setuju.
Lihatlah, betapa penuh pengertiannya Ida.Betapa setianya istriku, pikirParlin.Sekali saja cukup mengkhianati.
+++++
Dokter Luwi yang dilapori, tak menahan hatinya untuk tidak tertawa terpingkal-pingkal.
“Jadi apa yang kau takutkan sekarang?” tanyanya menahan geli.
“Dia akan ketularan, Dok.Padahal saya sangat mencintainya.”
Dokter Luwi terbahak-bahak sampai-sampai stetoskop yang tergantung di lehernya berguncang-guncang.
“Bagaimana kau bisa mengatakan kau sangat mencintai dia kalau setiap malam kau biarkan dia sendirian menahan kesepian?Kalau kau membiarkan dia menaruh curiga kau sedang bergelut dengan wanita-wanita jalanan?”
“Tetapi aku tidak rela dia ketularan, Dok,” kata Parlin pahit.
Di luar dugaan, dokter Luwi menjawabnya dengan kalem.
“Parlin, kau akan menularkan cinta terhadapnya.Cinta yang lebih indah dari sebelumnya.Cinta yang sudah teruji.Karena kau sudah bertobat!!”
Memang benar kata dokter Luwi.Malam itu, Parlin merasa telah menularkan cinta yang sedemikian sejati.
+++++


Dimuat di majalah Pesona, 1982

Tidak ada komentar:

Posting Komentar