12 Maret 2017

HIDUP ITU PENUH ONAK DAN DURI


Siang membeku di jalanan.
Leo duduk di taman membaca buku
Di sampingnya Mary, istrinya
Di depan mereka, berkepul dua cangkir kopi.

Hidup begitu indah bagi Leo dan Mary.
Tubuh mereka terpaku di dalam rumah
Tapi jiwa mereka bersama angin

terbang ke mana-mana

Di antara dua pohon
Udara berembus di dahan dan ranting

Leo dan Mary dipisahkan oleh mati
Meski hidup penuh onak dan duri.


2017

09 Maret 2017

KETIKA NYAWA BERGANTUNG DI LANGIT TINGGI

Burung besi yang tampak letih itu, 
terbang bergemuruh membelah angkasa raya.
Aku di dalamnya,
30 mil tingginya
dari atas permukaan laut.
Lorong sepi tanpa pramugari
Suara mesin bergemuruh di dalam kabin.
Di jendela, langit maha luas
dan awan gulung-gemulung bertaburan

Aku terkulai kelu di tempat dudukku
Bangku sebelah kosong membeku.
Sebuah novel thriller terbuka di pangkuan
Wajahmu berkelebat dalam ingatan.
Aku tersedu saat menyadari,  betapa serunya hidup
sementara  --bersama nyawaku, --
aku kini tengah bergelantungan di langit tinggi.


Teringat Kiai Zawawi, dari Madura,
yang memeluk kitab tasawuf

saat di atas pesawat, di atas Persia.

Pesawat terus melaju, dan menderu-deru.
Entah ke mana, entah ke mana dia menuju
Aku pasrah, menatap langit-langit pesawat
yang berderak-derak


Kudukku mulai menciut.
Terbayang, ada ribuan piranha di bawah sana
sedang membuka rahangnya.

Jangan-jangan juga akan muncul --masya Allah--
seseorang dari balik kokpit dan
mememberondongkan senjatanya.


Di angkasa inibegitu ujar pak Kiai, ruh seperti cuma separuh.
Benar. Pak Kiai benar.
Aku meratap.
Terasa pilu.




2017

08 Maret 2017

DELF

Di kota tua yang selalu muram itu, 
Aku duduk ngopi bersama seorang bapak tua
Angin melintas tersipu
Jarum jam kedinginan
Delf makin tua
Dan nyata telah berubah.
Betapa kejamnya jarak
Betapa  kejamnya waktu.

Rumah-rumah  yang dulu berlampu kini gelap,
dan menjadi kamar-kamar berhantu.
Ilalang tumbuh liar. 
Sepi meranggas seperti belukar.
Jangan-jangan waktu juga telah berubah?

Merrie, gadis sekampus, lewat.
Langkahnya bergegas, dan wajahnya kaku.
Dia tak membalas lambaianku.
Betapa tegangnya hidup.

Salju  mulai mencair
Tapi hatiku justru membeku
Kuciumi saja aroma kopi yang berkepul
Ditemani bapak tua yang kini mendengkur.

2017

05 Maret 2017

SITOR DI TENGAH MALAM.

1/

Udara dingin membelit losmen tua itu
ketika jam menunjukkan pukul dua pagi.
Seantero langit tampak jelaga.
Sitor marga Ompu Sunggu membuka jendela kamarnya,
Angin berebutan masuk ke dalam kamar.
Ke dalam mantel Sitor.
Ke dalam jantung Sitor. 

2/

Lift macet.
Menyalakan gajet,
ia  menuruni tangga,
Di wallpaper, wajah Dainang muncul.
Tersenyum, tampak gigi emasnya.
Dan aneh, di telinga, ada  suara gegas
kereta melintas, petikan Hasapi ,
dan perasaan turbulensi.
Sitor menarik nafas.


3/

Sampai di trotoar,
jalanan lengang.
Embun dingin memercik.
Kota kecil itu, mulai mendengkur, pikir Sitor
Seekor anjing terdengar melolong.

4/
Ketika tiba di stasiun
lampu stasiun menyala remang 
Bangku-bangku di dalam peron diduduki
bayangan cahaya yang bergoyang


5/
Sitor menyusuri rel
Lalu langit mendadak pecah:
Seekor gagak hitam melesat
di atas kepalanya
Sitor terempas.  


6/
Di sebuah pohon tua dekat loko
Gagak itu mengerjap-ngerjapkan matanya.
Memandang Dainang yang muncul di wallpaper.
Dan tampak gigi emasnya.


2017

KENANGAN TENTANG IBU DAN TINI

Ibu pergi untuk pulang,
begitu tulis Tini, adikku.
Surat itu basah oleh  air mata.
Aku meraung dan menjerit
Mengejutkan belalang di sela batu.

Esoknya Ibu dimakamkan.
Jasad Ibu tinggal bersama akar Akasia
dan pohon Kamboja.


Malamnya, aku menggambar sebuah sumur
Dengan dinding batu kokoh,
dengan lubang yang dalam
menuju pusat mata air.
Maksudku, ingin menulis obituari
Untuk Ibu: Sebuah sajak pendek
Tentang kenangan

"Ibu sudah tenang di rumah Bapa."
kata Tini seminggu kemudian.
"Benar. Kapan-kapan ia  juga akan 
mengajak kita pulang," jawabku.


Suratku itu tak pernah dibalasnya.

Tini rupanya tak sempat mengabari
tentang kepulangannya

Aku tak lagi meraung dan menjerit.
Aku tahu Tini sedang menuju mata air.


2017

ANAK SAMOSIR DI HUTAN MERATUS

KURNIAWAN JUNAEDHIE


ANAK SAMOSIR DI SURGA MERATUS


Dari Samosir,
Parulian  jauh-jauh menumpang bus 
menuju Loksado. 
Rambutnya kelimis.
Bajunya baru.
Ia tiba di Desa Lumpagi
saat matahari menjelang pupus.

Di Gunung Batu Basar, di bawah pohon Meranti,
yang daunnya rapat-rapat, dia bersiul.
Dan burung Serindit di dekat air terjun Jelatang,
tercengang lalu terjengkang terbang,
hingga rontok bulu-bulunya.

“Slamet,” tulisnya dalam sebuah surat
kepada temannya seorang Jawa di Yogya.
“Aku sekarang sedang berada di dalam
hati Indonesia.”

Anak Batak itu teringat
teriakan ayah emaknya di Tapian Nauli:
Lisoi.
Lisoi.


Dan  sekarang, di Desa Juhu,
sambil memandang Bukit Ketawang,
ia merasa sedang menikmati Surga Meratus
dari lubuk hatinya yang terdalam.


2017