13 September 2013

Ayat-Ayat Sunyi (31-43)

 ‪31/
Rembulan yang kuyup karena hujan, menghanyutkan sunyimu, dan membubuhkan terang di hatimu. (2013)

32/
Malam ini aku ingin baca sajak2mu agar kata2mu menjadi riang yang menghalau sunyiku abadi. (2013)

33/
Sehabis mengejutkan bunga bakung, kamu merasa ada yang salah. Mengapa kamu pilih sunyi lebih dari yg sunyi? (2013)

34/
Kau pohon cemara yg tegak lurus dan kaku; aku pohon waru di perempatan jalan, yang suka melambai-lambai padamu. Lupa? (2013)

35/
Kami hanya dua pasang sepatu yang coba menyusuri gang setapak. Jalan sunyi dengan rimbunan onak. (2013) 

36/
Akhirnya sampai juga sungai kecilku kepadamu. Lalu sunyi menepi dan sajakku berdesir-desir seperti air, keluar deras dari sumbernya. (2013)

37/
Penyair seperti pembunuh bertangan kidal. Dengan tangan kirinya, dia pandai menghujanimu dengan kata, tahu kapan hatimu sepi, dan cekatan menyentuh sunyimu yang paling terjal. (2013)

38/
Aku bukan riuh kata yang terpiyuh-piyuh oleh hangat tubuhmu. Aku cuma angin lembah yang ingin mengusap air mata di pipimu (2013)

39/
Ada yang berdesir di kepalaku.  Ada yang terasa di bulu mataku. Hei,  ada yang sedang diam-diam  berubah menjadi dirimu[1] (2013)

40/
Sambil membawa kuntum bunga, kamu menyelinap ke dalam hatiku; menanggalkan helai demi helai masa silammu. (2013)

41/
Aku bergegas masuk ke liang sajakmu, dan membersihkan kesedihanmu di antara patah2 kata itu.  (2013) 

42/
Jarak bukan segalanya.  Kita tetap  saling berbisik di antara lindap kata dan  berlindung di balik senyap suara. (2013)

43/
Tuhan,  izinkan aku membencinya dengan cara sederhana. Karena mencintai itu ternyata, susah dan siksa. (2013)




[1] Kalimat terakhir dipinjam dari baris puisi yang terdapat dlm puisi Sapardi Djoko Damono

Tidak ada komentar:

Posting Komentar