31/
Rembulan yang kuyup karena hujan, menghanyutkan sunyimu, dan membubuhkan terang di hatimu. (2013)
32/
Malam ini aku ingin baca sajak2mu agar kata2mu menjadi riang yang menghalau sunyiku abadi. (2013)
33/
Sehabis mengejutkan bunga bakung, kamu merasa ada yang salah. Mengapa kamu pilih sunyi lebih dari yg sunyi? (2013)
34/
Kau pohon cemara yg tegak lurus dan kaku; aku pohon waru di perempatan jalan, yang suka melambai-lambai padamu. Lupa? (2013)
35/
Kami hanya dua pasang sepatu yang coba menyusuri gang setapak. Jalan sunyi dengan rimbunan onak. (2013)
36/
Akhirnya sampai juga sungai kecilku kepadamu. Lalu sunyi menepi dan sajakku berdesir-desir seperti air, keluar deras dari sumbernya. (2013)
37/
36/
Akhirnya sampai juga sungai kecilku kepadamu. Lalu sunyi menepi dan sajakku berdesir-desir seperti air, keluar deras dari sumbernya. (2013)
37/
Penyair seperti pembunuh bertangan kidal. Dengan tangan kirinya, dia pandai menghujanimu dengan kata, tahu kapan hatimu sepi, dan cekatan menyentuh sunyimu yang paling terjal. (2013)
38/
Aku bukan riuh kata yang terpiyuh-piyuh oleh hangat tubuhmu. Aku cuma angin lembah yang ingin mengusap air mata di pipimu (2013)
39/
38/
Aku bukan riuh kata yang terpiyuh-piyuh oleh hangat tubuhmu. Aku cuma angin lembah yang ingin mengusap air mata di pipimu (2013)
39/
Ada yang berdesir di kepalaku. Ada yang terasa di bulu mataku. Hei, ada yang sedang diam-diam berubah menjadi dirimu[1] (2013)
40/
Sambil membawa kuntum bunga, kamu menyelinap ke dalam hatiku; menanggalkan helai demi helai masa silammu. (2013)
41/
Aku bergegas masuk ke liang sajakmu, dan membersihkan kesedihanmu di antara patah2 kata itu. (2013)
42/
Sambil membawa kuntum bunga, kamu menyelinap ke dalam hatiku; menanggalkan helai demi helai masa silammu. (2013)
41/
Aku bergegas masuk ke liang sajakmu, dan membersihkan kesedihanmu di antara patah2 kata itu. (2013)
42/
Jarak bukan segalanya. Kita tetap saling berbisik di antara lindap kata dan berlindung di balik senyap suara. (2013)
43/
43/
Tuhan, izinkan
aku membencinya dengan cara sederhana. Karena mencintai itu ternyata, susah dan siksa. (2013)
[1] Kalimat terakhir dipinjam dari baris puisi yang terdapat dlm puisi Sapardi Djoko Damono
Tidak ada komentar:
Posting Komentar