13 September 2013

Ayat-Ayat Sunyi 18- 30

18/
Pssst..... Kita pikirkan bagaimana caranya menyiangi kata agar tumbuh menjadi sajak yang rindang. (2013) 

19/
Selamat malam, Sunyi,  rebahlah.  Malam ini sajak2ku akan jadi ranjang tidur bagimu. (2013)

20/
Yang menyenangkan selalu ada dan tiada.  Yang menyedihkan  hanya ada di lindap waktu. Yang membahagiakan kiranya sampai  padamu.  (2013)  

21/
Dan karena cinta itu lucu,  mari kita meleleh sekena-kenanya. (2013)

22/
Saat berpisah, suaramu lengket di pintu.  Pintu kayu yang engselnya selalu bersiap untuk menampung  air matamu. (2013)

23/
Yang fana, waktu. Yang abadi, setiamu. Setiamu abadi. (2013)

24/
Aku, kamu dan buku puisi, saling berpaling.  Nasib adalah kesunyian masing-masing. (2013)

25/
Ketika imanku acak-adut, dan tenggelam dalam kecewa, kau ternyata, cahaya yang menyala di cakrawala. (2013)

26/
Selamat petang, kekasihku. Nasib kita cuma diombang-ambing sunyi.
(2013)

27/
Kamu itu lucu. Penyair  lain beternak sapi, kamu  beternak sepi. Aduh, cintaku... (2013)

28/
Walau sepi dan pilu menangis,  kita menyanyi sekencang-kencangnya  (2013)

29/
Penyair seperti pembunuh berdarah dingin. Pilih kuda paling liar, pacu laju. Tikamkan pedangmu hingga ke hulu dan tinggalkan kalau merayu.[1]  (2013)

30/
Kita berdua saja duduk.  Kamu pesan lamunan, aku pesan sajak.  Betapa serunya hidup yang  tak ada matinya.  (2013)




[1] Dua kalimat terakhir dikutip dari puisi Chairil Anwar: Senja di Pelabuhan Kecil

Tidak ada komentar:

Posting Komentar