Pssst..... Kita pikirkan bagaimana caranya menyiangi kata agar tumbuh menjadi sajak yang rindang. (2013)
19/
Selamat malam, Sunyi, rebahlah. Malam ini sajak2ku akan jadi ranjang tidur bagimu. (2013)
20/
Yang menyenangkan selalu ada dan tiada. Yang menyedihkan hanya ada di lindap waktu. Yang membahagiakan kiranya sampai padamu. (2013)
21/
Dan karena cinta itu lucu, mari kita meleleh sekena-kenanya. (2013)
22/
Saat berpisah, suaramu lengket di pintu. Pintu kayu yang engselnya selalu bersiap untuk menampung air matamu. (2013)
23/
Yang fana, waktu. Yang abadi, setiamu. Setiamu abadi. (2013)
24/
Aku, kamu dan buku puisi, saling berpaling. Nasib adalah kesunyian masing-masing. (2013)
25/
Ketika imanku acak-adut, dan tenggelam dalam kecewa, kau ternyata, cahaya yang menyala di cakrawala. (2013)
26/
Selamat petang, kekasihku. Nasib kita cuma diombang-ambing sunyi.
(2013)
27/
Kamu itu lucu. Penyair lain beternak sapi, kamu beternak sepi. Aduh, cintaku... (2013)
28/
Walau sepi dan pilu menangis, kita menyanyi sekencang-kencangnya (2013)
29/
Penyair seperti pembunuh berdarah dingin. Pilih kuda paling liar, pacu laju. Tikamkan
pedangmu hingga ke hulu dan tinggalkan kalau merayu.[1] (2013)
30/
Kita berdua saja duduk. Kamu pesan lamunan, aku pesan sajak. Betapa serunya hidup yang tak ada matinya. (2013)
30/
Kita berdua saja duduk. Kamu pesan lamunan, aku pesan sajak. Betapa serunya hidup yang tak ada matinya. (2013)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar