14 September 2013

Ayat-Ayat Sunyi (44-60)

44/
Ketika berjalan ke gunung, kurasakan rindu menetes di payung. Ada yang meleleh di deras hujan yang limbung. (2013)

45/
Tuhan, izinkan aku membencinya dengan sederhana. Karena mencintai itu ternyata, susah dan siksa. (2013)

46/
Segala yang fana akan sirna.  Kita yang abadi sampai ke anak cucu.  (2013)

47/
Akhirnya terbukti, cinta kita, seperti  puisi:  remang, kriting,  dan abadi. (2013)

48/
Kata-kata yang kalem membelai sepimu. Hati yang kelam bersorak  di kepalamu. (2013)

49/
Kau menjelma jadi waktu, aku menjelma jadi arloji yang  setia berbisik di denyut nadimu. (2013) 

50/
Dari kelopak matamu, aku mengalir seperti  air mata yang tak habis berderai-derai  dari telaga sunyi. (2013)

51/
Langit berkabut.  Bayanganmu juga berangsur menghablur.  Lalu, pelan-pelan ditelannya kamu ke dalam sunyiku yang rimbun.  (2013)

52/
Tuan, pulisi bukan?  Tunggu sebentar, saya lagi memutilasi puisi. [1] (2013)

53/
Aku rantingnya, kamu daunnya. Aku dahannya, kamu cabangnya. Karena kamu pohon makna, aku pun bergairah kepadamu. (2013)

54/
Siang yang membasuh lukamu, menjadi senja yang membuat  malamku gemilang. (2013)

55/
Di arlojiku,  kamu jarum  yang pelan-pelan merayap di denyut nadi.  Aku angka; yang dari deriknya  selalu menolak untuk alpa. (2013)

56/
Saat perpisahan, suaramu lengket di pintu. Pintu kayu yang engselnya senantiasa bersiap menampung  air matamu. (2013)

57/
Di tengah embun,  kita rasakan, waktu seakan mengapung seperti permukaan kolam yang murung.  (2003)

58/
Hm, sunyi makin senyap. Tapi mata hatimu yang riang terus  memanduku menuju hatimu yang lapang. (2013)  

59/
Aku tidak tahu apa yang kau yakini. Yang kupahami, cintamu tertanam dalam di pusat sunyi. (2013).

60/
Kudengar jendela dihempas hujan, lalu  gumam, juga isak. Bagaimana aku bisa melukiskan kepedihanmu? (2013)







[1] Diadaptasi dari puisi TUHAN Sapardi Djoko Damono, dg permintaan maaf
[2] Idem

Tidak ada komentar:

Posting Komentar