44/
Ketika berjalan ke gunung, kurasakan rindu menetes di payung. Ada yang meleleh di deras hujan yang limbung. (2013)
45/
Tuhan, izinkan aku membencinya dengan sederhana. Karena mencintai itu ternyata, susah dan siksa. (2013)
46/
Segala yang fana akan sirna. Kita yang abadi sampai ke anak cucu. (2013)
47/
Akhirnya terbukti, cinta kita, seperti puisi: remang, kriting, dan abadi. (2013)
48/
Kata-kata yang kalem membelai sepimu. Hati yang kelam bersorak di kepalamu. (2013)
49/
Kau menjelma jadi waktu, aku menjelma jadi arloji yang setia berbisik di denyut nadimu. (2013)
50/
Dari kelopak matamu, aku mengalir seperti air mata yang tak habis berderai-derai dari telaga sunyi. (2013)
51/
Langit berkabut. Bayanganmu juga berangsur menghablur. Lalu, pelan-pelan ditelannya kamu ke dalam sunyiku yang rimbun. (2013)
52/
Tuan, pulisi bukan? Tunggu sebentar, saya lagi memutilasi puisi. [1] (2013)
53/
Aku rantingnya, kamu daunnya. Aku dahannya, kamu cabangnya. Karena kamu pohon makna, aku pun bergairah kepadamu. (2013)
54/
55/
Di arlojiku, kamu jarum yang pelan-pelan merayap di denyut nadi. Aku angka; yang dari deriknya selalu menolak untuk alpa. (2013)
56/
Saat perpisahan, suaramu lengket di pintu. Pintu kayu yang engselnya senantiasa bersiap menampung air matamu. (2013)
57/
Di tengah embun, kita rasakan, waktu seakan mengapung seperti permukaan kolam yang murung. (2003)
58/
Hm, sunyi makin senyap. Tapi mata hatimu yang riang terus memanduku menuju hatimu yang lapang. (2013)
59/
Aku tidak tahu apa yang kau yakini. Yang kupahami, cintamu tertanam dalam di pusat sunyi. (2013).
60/
Kudengar jendela dihempas hujan, lalu gumam, juga isak. Bagaimana aku bisa melukiskan kepedihanmu? (2013)
[2] Idem
Ketika berjalan ke gunung, kurasakan rindu menetes di payung. Ada yang meleleh di deras hujan yang limbung. (2013)
45/
Tuhan, izinkan aku membencinya dengan sederhana. Karena mencintai itu ternyata, susah dan siksa. (2013)
46/
Segala yang fana akan sirna. Kita yang abadi sampai ke anak cucu. (2013)
47/
Akhirnya terbukti, cinta kita, seperti puisi: remang, kriting, dan abadi. (2013)
48/
Kata-kata yang kalem membelai sepimu. Hati yang kelam bersorak di kepalamu. (2013)
49/
Kau menjelma jadi waktu, aku menjelma jadi arloji yang setia berbisik di denyut nadimu. (2013)
50/
Dari kelopak matamu, aku mengalir seperti air mata yang tak habis berderai-derai dari telaga sunyi. (2013)
51/
Langit berkabut. Bayanganmu juga berangsur menghablur. Lalu, pelan-pelan ditelannya kamu ke dalam sunyiku yang rimbun. (2013)
52/
Tuan, pulisi bukan? Tunggu sebentar, saya lagi memutilasi puisi. [1] (2013)
53/
Aku rantingnya, kamu daunnya. Aku dahannya, kamu cabangnya. Karena kamu pohon makna, aku pun bergairah kepadamu. (2013)
54/
Siang yang membasuh lukamu,
menjadi senja yang membuat malamku
gemilang. (2013)
Di arlojiku, kamu jarum yang pelan-pelan merayap di denyut nadi. Aku angka; yang dari deriknya selalu menolak untuk alpa. (2013)
56/
Saat perpisahan, suaramu lengket di pintu. Pintu kayu yang engselnya senantiasa bersiap menampung air matamu. (2013)
57/
Di tengah embun, kita rasakan, waktu seakan mengapung seperti permukaan kolam yang murung. (2003)
58/
Hm, sunyi makin senyap. Tapi mata hatimu yang riang terus memanduku menuju hatimu yang lapang. (2013)
59/
Aku tidak tahu apa yang kau yakini. Yang kupahami, cintamu tertanam dalam di pusat sunyi. (2013).
60/
Kudengar jendela dihempas hujan, lalu gumam, juga isak. Bagaimana aku bisa melukiskan kepedihanmu? (2013)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar