Oleh: Kurniawan Junaedhie
LANGIT mulai
senja ketika Ika melihat pria misterius itu lewat lagi persis di depan jendela
kamarnya. Seperti kemarin, dilemparkannya senyum dan Ika membalasnya dengan
kaku.Ika berpikir, pria itu barangkali tetangga yang baru.Bukankah tante kost
mengabarkan bahwa sebelah barusan menambah jumlah anak semangnya seorang lagi? Hanya bedanya, tante kost memilih
mahasiswi puteri mondok di rumahnya, sedang tante sebelah mengkhususkan diri
untuk menerima mahasiswa pria. Dan yang lebih unik lagi, justru karena
perdepaan ini menurut sasuss Siska kawan satu kost yang sudah marriedkeduanya
seringkali berbesanan. Ada-ada saja caranya.Siska sendiri, mendapat jodohnya
seorang mahasiswa yang kost di rumah tante sebelah. Lalu Hilda, Nanda,…..bahkan
satu-satunya pria yang pernah ditaksir Ria mungkin kalah gesit, diserobot
Wanda, juga kawan satu kost.
Mengingat
semua itu, Ika jadi bergidik kalau-kalau gilirannya tiba. Lekas-lekas ditutupinya
pintu jendela dan tak menggubrisnya sama sekali senyuman maut sang arjuna.
‘Siapa dia?”
tanyanya pada Ellen kawan satu kamar dan satu-satunya penghuni kost itu yang
berkacamata minus tiga.
“Dia
mahasiswa arsitektur dari Tapanuli,” jawab yang ditanya lancar seperti ujian,
Orangnya kalem, suka baca buku dan…..” Ketika dilihatnya Ika siap memaki-maki,
Ellen mengangkat bahu: “O sorry, nona manis. Tadi kukira engkau bertanya.”
“Kau jangan
main-main ya, Len? Kaukira
aku bisa jatuh cinta pada pandangan pertama?”
“Kalaupun
bisa taka da larangan kan?”
“Memang.Sebaiknya
kau masuk Hukum. Pintar
mendebat,” sungut Ika mengambil handuk dan sabun lalu lari ke kamar mandi.
Esoknya, pria
itu lewat lagi.ika sudah hendak menutup pintu jendela. Tapi pria itu sudah melemparkan
senyum.Mau tak mau Ika membalas senyuman itu. Baru saja ia akan menyetop
senyumnya, dilihatnya sang arjuna sudah memasuki pekarangan rumah.
“Ada yang
bisa saya bantu?” teriak Ika kikuk.
Pria itu
melemparkan senyumnya sekali lagi.
“Aku ingin
berkenalan denganmu!” jawabnya.
Ya
tuha.Alangkah kurangajarnya laki-laki ini.
“Namumu Ika
bukan?” tanyanya terus nerocos.
“Darimana kau
tahu?”
Pria itu
tertawa. Kini keduanya
berhadapan. Ika di belakang
jendela dan pria itu percis di bawah jendela.
“Jangan merendah. Namamu kan sangat popular seantero
gang ini? ” Nadanya sungguh-sungguh tapi tak bisa
terpungkiri terkandung irama melecehkan.
Ika merasa
wajahnya menjadi merah karena amarah. Tapi ia mencoba sabar. Diamat-amatinya
pria itu dari ujung rambut sampai sepatu. Rambut lurus, sedikit pirang, dahi
lebar, sepasang rahang yang kuat…
“He, aku
bukan hantu!” teriaknya gusar.“Percayalah. Jangan
pendang aku seperti itu!”
Ika
gelagapan.Tapi amarahnya sudah mencapai ubun-ubun.
“Aku taka da
waktu. Katakana saja, apa
yang bisa kubantu,” sungut Ika kesal karena merasa telah membuang waktu.
“Tadi sudah
kubilang. Aku datang untuk berkenalan denganmu,” jawwab pria sang misterius
kalem.
Ika
menggemeretakkan giginya.
“Tapi caramu
tidak beradab sekali.Masakan seorang lelaki bertamu dengan seorang gadis
berdiri di halaman?”
“Salahmu.Kau
tokh tak mengajakku masuk?”
Sekali lagi,
setan alas.Kalau tidak ingat sopan santun, barangkali Ika sudah melompat dan
menngebrak pintu jendela.
“O jadi
begitukah adat remaja di kampungmu menghadapi gadis?” sungut Ika ketus.
“E diam-diam
rupanya kau tahu juga ya, tanah tumpah darahku?” terdengar senyum sinis. Karena
merasa usahanya tambah sia-sia, Ika berteriak:
“Aku tidak
kenal kau sepeser pun!”
“Justru itu
aku datang.Memperkenalkan diri.”
“Tapi kau
melanggar norma. Kau menyalahi aturan.Silakan pergi atau kututup jendela ini,”
ancam Ika kehabisan akal.
Pria itu
memang pergi.
Tapi malamnya
Ika nyaris tidak bisa tidur.Antara kecewa dan penasaran meruyak hatinya.Potret
Bondan yang sudah kumal diambilnya dari kopor. Bondan adalah bekas pacarnya
yang sudah menikah dengan gadis lain. “Kalau saja,” katanya dalam hati,” Bondan
tak mengkhianati, tak aka nada pria lain yang menganggapku seremeh itu.”
Pacaran
mereka yang sudah berjalan selama tujuh tahun ternyata memang tidak sekuat yang
pernah diduga orang.Untuk beberapa waktu, Ika memang
terbuang.Didengung-dengungkannya niatnya untuk tidak kawin selama-lamanya atau
menjadi biarawati.
“Sebaiknya
aku pindah dari sini,” katanya pada Ellen setelah merenung-renung.
“”Pindah?”
reaksi yang ditanya. “Kemana?”
“Entahlah.Pokoknya
tidak di sini.Pria itu betul-betul kurang ajar.”
“Lho sudah
menciummu rupanya?” kata Ellen santai.“Wah dia patah hati kalau kau betul-betul
melaksanakan niatmu.”
Esoknya
sepulang kuliah, Ika tidak membuka jendela kamarnya.Meski udara Jakarta waktu
itu sedang panas-panasnya.Ellen ngomel karena kegerahan.
“Don’t
worry,” katanya. “Aku bersedia disuruh mangambilkan air es buatmu, nona
ceriwis. Bahkan kulkasnya pun, kalau bisa kuangakat kuselundupkan ke kamar
ini.”
“Bukan
sekadar panas, Ka.Lihat, kacamataku sudah minus tiga.Lampu di kamar ini hanya
25 watt.Kalau aku jadi buta, belum tentu kau mau menjadi donornya,” ujarnya
memelas.
Ika
sungguh-sungguh.Jendela itu ditutup selama seminggu. Akibatnya Ellen tambah
uring-uringan dan mulai mengancam akan lapor pada tante kost dan pindah kamar.
Tapi selama seminggu itu, Ika justru dihantui bayangan pria misterius itu.
Setiap di luar didengarnya gesekan sepatu, ia merasa pria itulah yang datang.
Bahkan setiap Ellen keluar untuk beli perangko atau buku, harap-harap cemas
mudah-mudahan Ellen melaporkan situasi di luar. Misalnya, apakah ia melihat
pria itu. Tapi jangankan bercerita, Ellen malah menambah frekwensi omelannya
perihal jendela.
Pada hari ke
delapan, tak bisa dipungkiri, ia mulai merasa bahwa tindakannya
kekanak-kanakan. Bahwa tindakannya terlalu sadis. Bahwa –aneh ia mulai
merindukan kehadiran pria itu. Siska pernah cerita: Tidak baik, katanya, bisa
seorang gadis menolak secara kasar akan menolak kehadiran seorang pria.
“Tahu
kenapa?” tanyanya.Ika menggeleng.“Kita tak bisa jadi pratu?”
“Istilah apa
itu? Kopral satu?” Tanya Ellen yang ikut nguping.Siska cekikikan.
“Perawan
tua!”
Ya Tuhan,
apapun jadilah soal asal aku tidak menjadi perawan tua.Soalnya ibuku
mengharapkan keturunan dariku, kelauh Ika dalam hati.
+++++
TENTU saja
Ellen heran ketika esoknya Ika sudah membuka lebar-lebar jendelanya.
“Kau pasti
takut ancamanku,” katanya sambil tersenyum penuh arti.
“ya. Takut
sekali,” katanya menipu diri.
Sorenya
sengaja Ika duduk lagi di jendela.Pura-pura dibacanya sebuah buku.Tapi
kupingnya melayang ke ujung gang.Tapi sampai magrib yang ditunggunya tak lewat
juga. Karena itu ia merasa kecewa.
Esok harinya
ditunggu lagi.tapi sang pria tetap tak muncul. Bahkan bayangannya pun
tidak.Juga esoknya.
Mula-mula ia
mengira sang arjuna sudah pindah kost. Tapi kebenaran akan dugaan ini belum
bisa diyakini selama Ellen tidak melaporkan hal baru. Dugaan berikutnya, pria
itu sekarang kuliah sore sehingga Ika pulang, dia sudah berangkat dan ketika
pulang jendela pun ditutup.Tapi ini pun tidak bisa dipercaya.Apalagi karena
Ellen masih tetap menggoda.Misalnya, sambil menghitung bunyik tokek
diramalkannya tahun ini tante kost bakal berkesan lagi dengan tante sebelah.
Tapi suatu
hari, Ellen mengabarkan sesuatu baru.
“Kau tidak
menanyakan pria itu?” tanyanya sepulang dari kuliah seolah kehabisan darah.
“Tidak!”
jawab Ika berbohong.
“Dia pulang
kampong!”
“Aku tidak
bertanya.”
“Dan…..kuharap
engkau tidak kaget,” katanya lagi.
“Apa?”
“Dia
meninggal dunia.Ketika naik sepeda motor, sebuah mobil menyeruduknya,” kata
Ellen lesu.
+++++
Dimuat di majalah Pesona, 1982
Tidak ada komentar:
Posting Komentar