12 September 2012

JENDELA YANG TERBUKA

Oleh: Kurniawan Junaedhie

LANGIT mulai senja ketika Ika melihat pria misterius itu lewat lagi persis di depan jendela kamarnya. Seperti kemarin, dilemparkannya senyum dan Ika membalasnya dengan kaku.Ika berpikir, pria itu barangkali tetangga yang baru.Bukankah tante kost mengabarkan bahwa sebelah barusan menambah jumlah anak semangnya seorang lagi? Hanya bedanya, tante kost memilih mahasiswi puteri mondok di rumahnya, sedang tante sebelah mengkhususkan diri untuk menerima mahasiswa pria. Dan yang lebih unik lagi, justru karena perdepaan ini menurut sasuss Siska kawan satu kost yang sudah marriedkeduanya seringkali berbesanan. Ada-ada saja caranya.Siska sendiri, mendapat jodohnya seorang mahasiswa yang kost di rumah tante sebelah. Lalu Hilda, Nanda,…..bahkan satu-satunya pria yang pernah ditaksir Ria mungkin kalah gesit, diserobot Wanda, juga kawan satu kost.
Mengingat semua itu, Ika jadi bergidik kalau-kalau gilirannya tiba. Lekas-lekas ditutupinya pintu jendela dan tak menggubrisnya sama sekali senyuman maut sang arjuna.
‘Siapa dia?” tanyanya pada Ellen kawan satu kamar dan satu-satunya penghuni kost itu yang berkacamata minus tiga.
“Dia mahasiswa arsitektur dari Tapanuli,” jawab yang ditanya lancar seperti ujian, Orangnya kalem, suka baca buku dan…..” Ketika dilihatnya Ika siap memaki-maki, Ellen mengangkat bahu: “O sorry, nona manis. Tadi kukira engkau bertanya.”
“Kau jangan main-main ya, Len? Kaukira aku bisa jatuh cinta pada pandangan pertama?”
“Kalaupun bisa taka da larangan kan?”
“Memang.Sebaiknya kau masuk Hukum. Pintar mendebat,” sungut Ika mengambil handuk dan sabun lalu lari ke kamar mandi.
Esoknya, pria itu lewat lagi.ika sudah hendak menutup pintu jendela. Tapi pria itu sudah melemparkan senyum.Mau tak mau Ika membalas senyuman itu. Baru saja ia akan menyetop senyumnya, dilihatnya sang arjuna sudah memasuki pekarangan rumah.
“Ada yang bisa saya bantu?” teriak Ika kikuk.
Pria itu melemparkan senyumnya sekali lagi.
“Aku ingin berkenalan denganmu!” jawabnya.
Ya tuha.Alangkah kurangajarnya laki-laki ini.
“Namumu Ika bukan?” tanyanya terus nerocos.
“Darimana kau tahu?”
Pria itu tertawa. Kini keduanya berhadapan. Ika di belakang jendela dan pria itu percis di bawah jendela.
“Jangan merendah. Namamu kan sangat popular seantero gang ini? ” Nadanya sungguh-sungguh tapi tak bisa terpungkiri terkandung irama melecehkan.
Ika merasa wajahnya menjadi merah karena amarah. Tapi ia mencoba sabar. Diamat-amatinya pria itu dari ujung rambut sampai sepatu. Rambut lurus, sedikit pirang, dahi lebar, sepasang rahang yang kuat…
“He, aku bukan hantu!” teriaknya gusar.“Percayalah. Jangan pendang aku seperti itu!”
Ika gelagapan.Tapi amarahnya sudah mencapai ubun-ubun.
“Aku taka da waktu. Katakana saja, apa yang bisa kubantu,” sungut Ika kesal karena merasa telah membuang waktu.
“Tadi sudah kubilang. Aku datang untuk berkenalan denganmu,” jawwab pria sang misterius kalem.
Ika menggemeretakkan giginya.
“Tapi caramu tidak beradab sekali.Masakan seorang lelaki bertamu dengan seorang gadis berdiri di halaman?”
“Salahmu.Kau tokh tak mengajakku masuk?”
Sekali lagi, setan alas.Kalau tidak ingat sopan santun, barangkali Ika sudah melompat dan menngebrak pintu jendela.
“O jadi begitukah adat remaja di kampungmu menghadapi gadis?” sungut Ika ketus.
“E diam-diam rupanya kau tahu juga ya, tanah tumpah darahku?” terdengar senyum sinis. Karena merasa usahanya tambah sia-sia, Ika berteriak:
“Aku tidak kenal kau sepeser pun!”
“Justru itu aku datang.Memperkenalkan diri.”
“Tapi kau melanggar norma. Kau menyalahi aturan.Silakan pergi atau kututup jendela ini,” ancam Ika kehabisan akal.
Pria itu memang pergi.
Tapi malamnya Ika nyaris tidak bisa tidur.Antara kecewa dan penasaran meruyak hatinya.Potret Bondan yang sudah kumal diambilnya dari kopor. Bondan adalah bekas pacarnya yang sudah menikah dengan gadis lain. “Kalau saja,” katanya dalam hati,” Bondan tak mengkhianati, tak aka nada pria lain yang menganggapku seremeh itu.”
Pacaran mereka yang sudah berjalan selama tujuh tahun ternyata memang tidak sekuat yang pernah diduga orang.Untuk beberapa waktu, Ika memang terbuang.Didengung-dengungkannya niatnya untuk tidak kawin selama-lamanya atau menjadi biarawati.
“Sebaiknya aku pindah dari sini,” katanya pada Ellen setelah merenung-renung.
“”Pindah?” reaksi yang ditanya. “Kemana?”
“Entahlah.Pokoknya tidak di sini.Pria itu betul-betul kurang ajar.”
“Lho sudah menciummu rupanya?” kata Ellen santai.“Wah dia patah hati kalau kau betul-betul melaksanakan niatmu.”
Esoknya sepulang kuliah, Ika tidak membuka jendela kamarnya.Meski udara Jakarta waktu itu sedang panas-panasnya.Ellen ngomel karena kegerahan.
Don’t worry,” katanya. “Aku bersedia disuruh mangambilkan air es buatmu, nona ceriwis. Bahkan kulkasnya pun, kalau bisa kuangakat kuselundupkan ke kamar ini.”
“Bukan sekadar panas, Ka.Lihat, kacamataku sudah minus tiga.Lampu di kamar ini hanya 25 watt.Kalau aku jadi buta, belum tentu kau mau menjadi donornya,” ujarnya memelas.
Ika sungguh-sungguh.Jendela itu ditutup selama seminggu. Akibatnya Ellen tambah uring-uringan dan mulai mengancam akan lapor pada tante kost dan pindah kamar. Tapi selama seminggu itu, Ika justru dihantui bayangan pria misterius itu. Setiap di luar didengarnya gesekan sepatu, ia merasa pria itulah yang datang. Bahkan setiap Ellen keluar untuk beli perangko atau buku, harap-harap cemas mudah-mudahan Ellen melaporkan situasi di luar. Misalnya, apakah ia melihat pria itu. Tapi jangankan bercerita, Ellen malah menambah frekwensi omelannya perihal jendela.
Pada hari ke delapan, tak bisa dipungkiri, ia mulai merasa bahwa tindakannya kekanak-kanakan. Bahwa tindakannya terlalu sadis. Bahwa –aneh ia mulai merindukan kehadiran pria itu. Siska pernah cerita: Tidak baik, katanya, bisa seorang gadis menolak secara kasar akan menolak kehadiran seorang pria.
“Tahu kenapa?” tanyanya.Ika menggeleng.“Kita tak bisa jadi pratu?”
“Istilah apa itu? Kopral satu?” Tanya Ellen yang ikut nguping.Siska cekikikan.
“Perawan tua!”
Ya Tuhan, apapun jadilah soal asal aku tidak menjadi perawan tua.Soalnya ibuku mengharapkan keturunan dariku, kelauh Ika dalam hati.
+++++
TENTU saja Ellen heran ketika esoknya Ika sudah membuka lebar-lebar jendelanya.
“Kau pasti takut ancamanku,” katanya sambil tersenyum penuh arti.
“ya. Takut sekali,” katanya menipu diri.
Sorenya sengaja Ika duduk lagi di jendela.Pura-pura dibacanya sebuah buku.Tapi kupingnya melayang ke ujung gang.Tapi sampai magrib yang ditunggunya tak lewat juga. Karena itu ia merasa kecewa.
Esok harinya ditunggu lagi.tapi sang pria tetap tak muncul. Bahkan bayangannya pun tidak.Juga esoknya.
Mula-mula ia mengira sang arjuna sudah pindah kost. Tapi kebenaran akan dugaan ini belum bisa diyakini selama Ellen tidak melaporkan hal baru. Dugaan berikutnya, pria itu sekarang kuliah sore sehingga Ika pulang, dia sudah berangkat dan ketika pulang jendela pun ditutup.Tapi ini pun tidak bisa dipercaya.Apalagi karena Ellen masih tetap menggoda.Misalnya, sambil menghitung bunyik tokek diramalkannya tahun ini tante kost bakal berkesan lagi dengan tante sebelah.
Tapi suatu hari, Ellen mengabarkan sesuatu baru.
“Kau tidak menanyakan pria itu?” tanyanya sepulang dari kuliah seolah kehabisan darah.
“Tidak!” jawab Ika berbohong.
“Dia pulang kampong!”
“Aku tidak bertanya.”
“Dan…..kuharap engkau tidak kaget,” katanya lagi.
“Apa?”
“Dia meninggal dunia.Ketika naik sepeda motor, sebuah mobil menyeruduknya,” kata Ellen lesu.
+++++


 Dimuat di majalah Pesona, 1982

Tidak ada komentar:

Posting Komentar