11 Mei 2009

Hak Jawab (2)

HAK JAWAB (2)
Dear Journalist,

Anda selalu mengatakan pada kami, bila kami merasa dirugikan oleh pemberitaan Anda, agar kami menggunakan Hak Jawab. "Anda punya hak istimewa itu, manfaatkanlah," seolah-olah dengan itu kami menjadi kaya mendadak. Ehm. Baiklah, kami turuti solusi itu. Kami pun, secara susah-payah menulis surat sanggahan itu (Beberapa di antara kami bahkan mencoba meminta bantuan pengacara. Anda bisa bayangkan berapa upahnya?).

Setelah mempertimbangkan untung-ruginya, kami pun mengirimkannya dengan harapan Anda segera memuatnya. Ternyata tak mudah.

Keesokan harinya surat jawaban kami belum Anda muat. Esoknya belum juga. Terpaksa kami menelepon Anda. Anda minta maaf dan mohon agar kami bersabar mengingat halaman koran sangat terbatas. Baiklah. Baiklah. Kami pun mencoba maklum. Berita-berita baru datang silih-berganti. Berita-berita lama (termasuk tulisan Anda yang semberono itu), mungkin saja sudah tak lagi menarik untuk Anda perhatikan.

Baru dua minggu kemudian, surat jawaban kami benar Anda muat dalam rubrik Surat Pembaca. Aha, surat kami berdesak-desakan dengan surat pembaca lain yang menanyakan alamat paranormal dan bintang film. Tak apa. Tapi ada yang serius.

Surat sanggahan kami ternyata telah Anda muat tidak seperti aslinya. Anda telah menghilangkan bagian-bagian tertyentu yang menurut hemat kami justru merupakan bagian penting, yang mengakibatkan surat kami menjadi kehilangan nuansa dan substansinya.

Kami merasa Anda telah melakukan penafsiran yang tidak adil terhadap peraturan yang berlaku bahwa terhadap Hak Jawab, Anda boleh melakukan penyingkatan sejauh "dalam batas-batas yang wajar". Bagaimana batasan wajar itu? Siapa yang menentukan kewajaran itu? Cobalah Anda berdiri si pihak kami, dan Anda akan tahu bahwa penyuntingan itu sungguh tidak wajar.

Apa boleh buat. Kami segera berkesimpulan: Anda tidak menghargai surat kami. Dan yang paling utama, Anda tidak menunjukkan sikap sepatutnya terhadap dampak dan ekses kesalahan yang bagi kami sesungguhnya merupakan masalah yang menyangkut masa depan, bahkan mungkin hidup-mati kami.

Terus terang, kami menyesalkan kekurang-pekaan Anda. Bagaimana pun hal ini membuat kredibilitas Anda merosot di mata kami.

Salam kami,
khalayak Anda.