11 Mei 2009

Hak Jawab (3)

HAK JAWAB (3)
Dear Journalist,

Hak Jawab adalah hak milik masyarakat yang menjadi korban pers,. Karena melalui cara itu, korban pemberitaan dapat merehabilitasi nama baiknya, dan syukur-syukur bisa menjelaskan persoalannya secara proporsional. Jadi, mestinya, Hak Jawab itu adalah juga sebuah usaha untuk menghidupkan tradisi dialog, guna mencari kejelasan, kebenaran dan pencerdasan dengan belajar dari kesalahan. Namun, melihat cara Anda memperlakukannya, haruskah kami optimistis?

Pertama, Anda sering tak memberi komentar apa-apa atas Hak Jawab kami. Inimemberi kesan, Anda tidak menghargai upaya kami, dan menganggap surat kami sebagai angin lalu.

Kedua, kalau pun Anda memberi tanggapan, maka tanggapan itu memberi kesan bahwa kesalahan itu hanya soal kecil. Misalnya, "Terimakasih atas koreksi Anda. Dengan demikian kesalahan diperbaiki. Harap maklum."

Ketiga, Anda suka membubuhi komentar-komentar pada surat sanggahan kami, tapi dengan nada tidak bersahabat dan mau menang sendiri. Misalnya, "Kami sudah beberapa kali menghubungi Anda, tapi menurut pembantu Anda, Anda tak berada di tempat." Atau, "Menurut wartawan kami, informasi itu benar datang dari Anda sendiri," atau, "Keterangan yang kami himpun memang menyatakan demikian." Anda tak pernah salah di depan publik!

Sekarang, bayangkanlah.

Banyak di antara kami yang telah Anda beritakan secara semberono sebagai "kkoruptor, manipulator, si culas, penerima pungli, pewaris KKN, penganut free sex, alkoholik, berperilaku menyimpang, psikopat, pengedar narkotika, pecandu exctasy" dan sebagainya, Anda telah membuat rumah-tangga dan keluarga kami nyaris berantakan, dan karier serta masa depan kami hancur lebur, Anda telah membuat kami menjadi frustrasi, putus asa, kehilangan harapan dan pegangan. Bisakah sikap Anda itu mengobat kami? Bisakah tanggapan dan jawaban Anda itu merehabilitasi nama baik kami? Bisakah kita menganggap persoalan dengan demikian sudah selesai? Kapan kami bisa berdialog untuk mencari kebenaran? Ingat, Anda sama sekali tak meminta maaf pada kami sepatah kata pun.

Bersikaplah ksatria untuk mengakui kesalahan, agar kami tetap respek dan percaya pada Anda, dan profesi Anda.

Salam kami,
khalayak Anda.