23 Desember 2014

SAJAK2 BULAN DESEMBER

KENANGAN DI KLATEN
-Isma

Di rumah Bareng, suasana sepi dari lalulalang; hanya suara peronda, teduh daun, derak jendela; dan suara kodok. Setelah bertualangan seharian, malam itu aku merenung, memandang langit di atas tembok.

Seluas2 langit terbentang; tak ada bulan, hanya mangga bersembulan, seperti buah2an yang senantiasa ranum di atas dahan. Aku pun teringat kamu. Kupeluk pinggangmu;  lalu kudengar suara plafon yang melenguh. Tak ada suaramu, kecuali hati yang mengusap wajah, dari panas jadi dingin, dari dingin jadi entahlah.

Lalu sunyi  bersipongang di ruang tengah. Lampu bergoyangan, sinarnya berdenyar2 membuat aku tercenung, dan memandang langit di atas tembok.

Di rumah Bareng, kutemukan kenakalan2ku di masa kecil bersembulan seperti ilalang yang liar.

Desember 2014


AKHIR TAHUN 2014

Aku masuk ke dalam hari baru yang merdu hari itu.  Sudah lama aku tidak melihat pemandangan berkabut, yang sejuk, penuh embun dan matahari yang memancarkan hangatnya kebahagiaan. Sesekali kucium bau rumput basah sambil kudengar tawamu yang renyah sementara langit biru setia merekah. Hidup dalam sebuah hari baru, alangkah dahsyatnya.

Kami pun duduk di sebuah taman, depan kolam di mana ikan dan kata berenangan di tengahnya. Kami diam 1000 basa.  Air berpusing, dan kata-kata menggenang tenang. Dan kabut menyamarkan bayanganmu. Alanglah nyaringnya hidup dalam sebuah hari baru.


Kami lalu melempar batu ke tengah kolam, dan  kulihat  percik air memekik tertahan. Dan di dalam bening air itu, --yang dipenuhi kabut itu,-- aku menatapmu, dan kamu menatapku. Aduh,  lihat, betapa berkecipak dan berdegupnya hidup.


Andaikan, --ya andaikan--,   aku diberiNya  waktu  sebentar lagi. Mungkin aku akan lebih dalam merenangi hatimu dengan puisi yang lebih bisa menghibur hatimu.


Desember 2014


MENCARI KAMU DI ANTARA PULAU-PULAU

Seseorang yang mirip kamu telah hilang dari hatiku
Ia menghilang seperti matahari yang tenggelam di Tanah Lot 
Jejaknya seperti rembulan mengambang di Danau Kelimutu.
Siapa pencurinya? Di mana kamu?

Di Tanah Jawa jejakmu tetap tak kusua.
Di Sulawesi pun sosokmu tak terbaca.
Ada yang bilang kamu ngumpet di  Papua dan di Batutua.
O, ternyata tidak.

Di Aceh, aku jumpa pakngoh
Dia tak sebut namamu.
Di Kalimantan, gulu menggeleng 
ketika kusebut asal usulmu.
Di Pulau Rote, Gerson Poyk
tak kenal hal ikhwalmu.

Jangan becanda.
Kita sayang pa ngana.
Aku mencintai kamu apa adanya.
Kupikir, kamu juga.

Sekarang kulitku terbakar di Banda,
mencari kamu, di antara pasir dan lada
Besok aku berenang ke Madura, Ende, Atambua
dan Tambolaka di Sumba

Beribu pulau dan selat kuseberangi
sampai ke ujung Indonesia,
Kupikir kamu sedang dijaga datuk-datuk di Saparua
eh, yang kucari tengah berumah
di keping kecil hati beta,  rupanya!

Desember, 2014




Tidak ada komentar:

Posting Komentar