Di dalam sajak, kita hidup, melompat, menangis dan bermimpi. Tapi tak usah takut. Kamu tak sendiri. Kapan saja kamu boleh pergi. (2013)
2/
2/
Diselipkan kata2 hangat ke
dalam tanganku. “Bacalah.” Ia pun lalu mengisut dan raib dalam gelap. Aku tak pernah bertanya, siapa gerangan pengirim sajak itu. (2013)
3/
3/
Di ruang gelap, sepi menggeliat. Kau pun diberinya bahan yang indah bagi sajakmu. Sajak tentang kesunyian (2013)
4/
4/
Sepi melintas di pepohonan. Bayang2nya memanjang seperti sederet kalimat. Apakah kamu yang tergesa melesat itu? (2013)
5/
8/
9/
5/
Kesedihan, biarlah tetap bersemayam dalam sajak. Kita bahagia. (2013)
6/
Hanya di dalam sajak, cinta menjadi bijak. Kesedihan, kita maafkan. Yang tersisa, kesabaran, pemahaman. Hidup memang fana. (2013)
7/
6/
Hanya di dalam sajak, cinta menjadi bijak. Kesedihan, kita maafkan. Yang tersisa, kesabaran, pemahaman. Hidup memang fana. (2013)
7/
Sajak yang bijak, seperti jalan yang lapang. Saat bersedih, diajaknya kita merasa selalu ada jalan pulang. (2013)
8/
Di dalam kata2ku, kadang ada darah kesedihan; tapi di ujung bait2 sajakku, selalu ada seputih tulang kebahagian. (2013)
9/
Saat kita tidur, sajak bangun, dan sebentar ia menggeliat. Lalu kita rasakan ia mengusap kepala kita, dan berkata, “tidurlah, mimpi indahlah.” (2013)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar