02 Juli 2013

DARI NEGERI POCI 4

KURNIAWAN JUNAEDHIE

SUNYI  DI DALAM POCI

Sunyi menemaniku di dalam kedai kopi yang sibuk itu. Penunggu kedai menyorongkan poci beserta cangkir ke dekat asbakku.  Ketika poci kuangkat, dan hendak menuang air panas, tiba-tiba ada suara gemeratak di dalam mulut poci yang melengkung itu. Ada seseorang yang sedang mondar-mandir di dalam cangkirku. Jangan berisik, kataku berbisik. Dari lubang  teko yang melengkung itu, kulihat kamu sedang meringkuk. Wah ajib. Kulihat, tanah liat, enamel, dan daun teh menjilati bibirmu.  Kudengar tanah liat, enamel,  daun teh,  kata-kata, dan kamu saling bergesekan di landasan ceruk poci yang liat.  Tanganku seperti ditarik ke langit. Aku tak jadi menuangkan air panas ke dalam mulut poci. Pst, jangan berisik. Ada sunyi bersamaku di kedai kopi itu.

2012



HUJAN

Aku ingin tidur tapi langit mencegah  mataku.  Jangan tidur, katanya.  Jangan menutup mata, sebelum saya menurunkan hujan. Tralala. Hujan lalu turun dengan lebat. Air mengguyur rambutku. Tubuhku yang telanjang menggelinjang basah kuyup diliput sejuk. Ketika kemudian hujan reda, di cermin, kulihat rambutku sudah beruban.   Sajak berkerumun di batok kepala seperti ketombe. Aku sangat malu, dan berpura-pura menutup mata. Lalu kudengar hujan turun dengan lebatnya. Disertai guntur, petir menyalak-nyalak dengan kesalnya.

2012



PEMANDANGAN HUJAN MALAM HARI

Hujan malam hari meletakkanku di pucuk pohon persis di atas jendela rumahku. Rumahku tampak kecil seperti kardus. Di dinding, diterpa temaram lampu,  tergantung gambar adik, foto kakak, dan fotomu saat diwisuda.  Di kamarnya, Adik mematut-matut kaos baru. Dia gelisah karena kaos kebesaran, sehingga dia seperti siput.  Di kamar lain, Kakak bermain Ipad, dan sesekali memekik. Aku melongok ke arah jendela.  Di kamar mandi, kamu sedang mengapung di bath up yang wangi.  Karena terpesona, aku terpeleset ke dekat kloset. Kamu  terkesiap membuat sabunmu yang wangi tersungkur ke   bawah  keset. Seekor kucing melesat. Kakak tergesa masuk kamar mandi dan ikut mengapung di bath up sambil bermain Ipad. Adik yang sedang mencoba kaos baru juga ikut masuk ke kamar mandi.  Semua wajah di bath up tampak keruh seperti awan hendak hujan. Angin melaju di kaca yang berembun oleh air hujan. “Ayo, kita mandi bersama di bawah hujan,” kataku memecah kesunyian.  Kakak memekik menutup mulut. “Astaga, ayah telanjang,” seru Adik. Aku tersipu. Kulihat di kaca jendela, bayanganku yang tak memakai celana dalam,  petentengan dengan  gagah. Hidup  memang porno.

2012



HIDUP INI INDAH

Tiba-tiba: Kwak. Seekor burung gagak masuk menyelip di kaca jendela. Hutan kesepian. Kamu bergegas mengambil pistol. Dor. Kamu tembak dadaku. Kursiku menjerit, dan ruang baca memekik. Mataku menatap langit-langit. Langit yang terang, penuh dengan aura matahari.  Kemana cintaku pergi? Kemana burung gagakku pergi?

2012




PEMANDANGAN  DI RUMAH SAKIT BERSALIN 1965

Rumah bersalin itu menyalakan lampu persis pukul lima. Di situ kamu lahir, ketika magrib hampir tiba. Saat itu, kamu sedang mendengkur, dan kami sedang membaca Solzhenitsin.  Aku dan ibumu mencoba mencari angin. Angin sore yang jahat tahu-tahu menyelinap masuk, membuatmu bersin.  Aku meraba dinding.  Ada suara empedu yang berdenting dan kaca berkeping-keping. Ibumu ganti meraba jantungku. Ada suara kaca di sela paru gemerincing.  Menggendong kamu, dia  menjerit,  menyembunyikan tangis dan tergesa masuk kakus.  Tapi suaranya dilindas truk.  Esoknya, tak ada yang kita ingat, kecuali jalanan sunyi.  Hari berlalu dengan tenang tanpa dosa sama sekali.  Sampai  saat ini, tak pernah ada yang memberitahu: apa gerangan yang pernah terjadi pada hari itu. Teror? Kudeta? Kudeta di dalam Kudeta?

2012


ALI KASIM

Di dalam kegelapan
aku hanya menemukan 
berkarung-karung kata
yang banyak jumlahnya.
Kata-kata, apa faedahnya?
Aku menatap gua dan berteriak:
Sesam!
Gua itu memejamkan matanya.

2011-2012



SKETSA 1977

1/
Badanku demam. Aku masuk hotel melalui kakus. Ulat-ulat dalam darahku bergolak seperti penyair dan kritikus. Mataku berontak, tapi mulutku memekik. Aku mengunyah geraham dengan hidung dan alis mata. Pipiku menyimpan kenangan lama ketika mulut dibungkam, dan tubuhku diciduk aparat dan dilempar ke truk. Betapa indahnya bisa melihat darah sendiri menetes-netes di jalanan di antara bayonet dan senapan.
2/
Aku masuk hotel melalui kakus. Aku masuk kakus dari gorong-gorong.
Matahari lalu bersirobok masuk ke dalam gorong-gorong. Sunyi pun menyesap ke pori kulitku yang telanjang.  Badanku demam. Alun-alun, taman kota, dan pedestrian menjelma  jadi lahan jualan. Ada Leher sapi digantung dan anak-anak main yoyo. Badanku makin demam.  Aku hanya ingin bertemu wastafel untuk membasuh muka. Kuimpikan, hotel, kakus dan gorong-gorong rubuh dan air laut pasang, menenggelamkan jalanan.  


2011-2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar