KURNIAWAN
JUNAEDHIE
SUNYI DI DALAM POCI
Sunyi menemaniku di dalam kedai kopi yang sibuk itu. Penunggu
kedai menyorongkan poci beserta cangkir ke dekat asbakku. Ketika poci kuangkat, dan hendak menuang air
panas, tiba-tiba ada suara gemeratak di dalam mulut poci yang melengkung itu.
Ada seseorang yang sedang mondar-mandir di dalam cangkirku. Jangan berisik,
kataku berbisik. Dari lubang teko yang
melengkung itu, kulihat kamu sedang meringkuk. Wah ajib. Kulihat, tanah liat,
enamel, dan daun teh menjilati bibirmu.
Kudengar tanah liat, enamel, daun
teh, kata-kata, dan kamu saling bergesekan
di landasan ceruk poci yang liat.
Tanganku seperti ditarik ke langit. Aku tak jadi menuangkan air panas ke
dalam mulut poci. Pst, jangan berisik. Ada sunyi bersamaku di kedai kopi itu.
2012
HUJAN
Aku ingin tidur tapi langit mencegah mataku.
Jangan tidur, katanya. Jangan
menutup mata, sebelum saya menurunkan hujan. Tralala. Hujan lalu turun dengan
lebat. Air mengguyur rambutku. Tubuhku yang telanjang menggelinjang basah kuyup
diliput sejuk. Ketika kemudian hujan reda, di cermin, kulihat rambutku sudah
beruban. Sajak berkerumun di batok
kepala seperti ketombe. Aku sangat malu, dan berpura-pura menutup mata. Lalu kudengar
hujan turun dengan lebatnya. Disertai guntur, petir menyalak-nyalak dengan
kesalnya.
2012
PEMANDANGAN HUJAN MALAM HARI
Hujan malam hari meletakkanku di pucuk pohon persis di
atas jendela rumahku. Rumahku tampak kecil seperti kardus. Di dinding, diterpa
temaram lampu, tergantung gambar adik,
foto kakak, dan fotomu saat diwisuda. Di
kamarnya, Adik mematut-matut kaos baru. Dia gelisah karena kaos kebesaran,
sehingga dia seperti siput. Di kamar
lain, Kakak bermain Ipad, dan sesekali memekik. Aku melongok ke arah
jendela. Di kamar mandi, kamu sedang
mengapung di bath up yang wangi. Karena terpesona, aku terpeleset ke dekat
kloset. Kamu terkesiap membuat sabunmu
yang wangi tersungkur ke bawah keset. Seekor kucing melesat. Kakak tergesa masuk kamar mandi dan ikut
mengapung di bath up sambil bermain
Ipad. Adik yang sedang mencoba kaos baru juga ikut masuk ke kamar mandi. Semua wajah di bath up tampak keruh seperti
awan hendak hujan. Angin melaju di kaca yang berembun oleh air hujan. “Ayo,
kita mandi bersama di bawah hujan,” kataku memecah kesunyian. Kakak memekik menutup mulut. “Astaga, ayah
telanjang,” seru Adik. Aku tersipu. Kulihat di kaca jendela, bayanganku yang
tak memakai celana dalam, petentengan
dengan gagah. Hidup memang porno.
2012
HIDUP INI INDAH
Tiba-tiba: Kwak. Seekor burung gagak masuk menyelip di kaca jendela. Hutan kesepian. Kamu bergegas mengambil pistol. Dor. Kamu
tembak dadaku. Kursiku menjerit, dan ruang baca memekik. Mataku menatap
langit-langit. Langit yang terang, penuh dengan aura matahari. Kemana cintaku pergi? Kemana burung gagakku
pergi?
2012
PEMANDANGAN DI RUMAH SAKIT BERSALIN 1965
Rumah bersalin itu menyalakan lampu persis pukul lima.
Di situ kamu lahir, ketika magrib hampir tiba. Saat itu, kamu sedang
mendengkur, dan kami sedang membaca Solzhenitsin. Aku dan ibumu
mencoba mencari angin. Angin sore yang jahat tahu-tahu menyelinap masuk,
membuatmu bersin. Aku meraba
dinding. Ada suara empedu yang
berdenting dan kaca berkeping-keping. Ibumu ganti meraba jantungku. Ada suara
kaca di sela paru gemerincing.
Menggendong kamu, dia menjerit, menyembunyikan tangis dan tergesa masuk kakus. Tapi suaranya dilindas truk. Esoknya, tak ada yang kita ingat, kecuali
jalanan sunyi. Hari berlalu dengan
tenang tanpa dosa sama sekali. Sampai saat ini, tak pernah ada yang memberitahu:
apa gerangan yang pernah terjadi pada hari itu. Teror? Kudeta? Kudeta di dalam
Kudeta?
2012
ALI KASIM
Di
dalam kegelapan
aku hanya menemukan
berkarung-karung kata
yang banyak jumlahnya.
aku hanya menemukan
berkarung-karung kata
yang banyak jumlahnya.
Kata-kata,
apa faedahnya?
Aku menatap gua dan berteriak:
Sesam!
Gua itu memejamkan matanya.
2011-2012
Aku menatap gua dan berteriak:
Sesam!
Gua itu memejamkan matanya.
2011-2012
SKETSA 1977
1/
Badanku demam. Aku masuk hotel melalui kakus. Ulat-ulat dalam darahku bergolak seperti penyair dan kritikus. Mataku berontak, tapi mulutku memekik. Aku mengunyah geraham dengan hidung dan alis mata. Pipiku menyimpan kenangan lama ketika mulut dibungkam, dan tubuhku diciduk aparat dan dilempar ke truk. Betapa indahnya bisa melihat darah sendiri menetes-netes di jalanan di antara bayonet dan senapan.
Badanku demam. Aku masuk hotel melalui kakus. Ulat-ulat dalam darahku bergolak seperti penyair dan kritikus. Mataku berontak, tapi mulutku memekik. Aku mengunyah geraham dengan hidung dan alis mata. Pipiku menyimpan kenangan lama ketika mulut dibungkam, dan tubuhku diciduk aparat dan dilempar ke truk. Betapa indahnya bisa melihat darah sendiri menetes-netes di jalanan di antara bayonet dan senapan.
2/
Aku masuk hotel melalui kakus. Aku masuk kakus dari gorong-gorong. Matahari lalu bersirobok masuk ke dalam gorong-gorong. Sunyi pun menyesap ke pori kulitku yang telanjang. Badanku demam. Alun-alun, taman kota, dan pedestrian menjelma jadi lahan jualan. Ada Leher sapi digantung dan anak-anak main yoyo. Badanku makin demam. Aku hanya ingin bertemu wastafel untuk membasuh muka. Kuimpikan, hotel, kakus dan gorong-gorong rubuh dan air laut pasang, menenggelamkan jalanan.
Aku masuk hotel melalui kakus. Aku masuk kakus dari gorong-gorong. Matahari lalu bersirobok masuk ke dalam gorong-gorong. Sunyi pun menyesap ke pori kulitku yang telanjang. Badanku demam. Alun-alun, taman kota, dan pedestrian menjelma jadi lahan jualan. Ada Leher sapi digantung dan anak-anak main yoyo. Badanku makin demam. Aku hanya ingin bertemu wastafel untuk membasuh muka. Kuimpikan, hotel, kakus dan gorong-gorong rubuh dan air laut pasang, menenggelamkan jalanan.
2011-2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar