Oleh: Kurniawan Junaedhie
TIGA bulan Lukas meninggalkan Fani.Ia ikut KKN di sebuah desa terpencil. Kalau ini berhasil dilewatinya, berarti tahun depan impiannya menjadi kenyataan. Ia mengajukan skripsi dan berhasil meraih titel. Tapi suatu hari Luki, kawan sekostnya meledeknya.
TIGA bulan Lukas meninggalkan Fani.Ia ikut KKN di sebuah desa terpencil. Kalau ini berhasil dilewatinya, berarti tahun depan impiannya menjadi kenyataan. Ia mengajukan skripsi dan berhasil meraih titel. Tapi suatu hari Luki, kawan sekostnya meledeknya.
“Kudengar
kelompok Lukas di desa hanya dua orang.Dia dan satunya seorang cewek dari
Pertanian,” kata Luki.
Fani yang
sedang menyeterika pura-pura tak mendengar.Ia terus melanjutkan pekerjaannya.
“Dia masih
belum menulis surat untukmu?”
Fani menggeleng.
“Dia sangat
sibuk,” jawab Fani acuh tak acuh.Ia melihat sebuah pakaian yang barusan
diseterikanya.
“Kasihan ya
Siska,” kata Luki lagi.Fani menoleh.
“Ada apa
dengan Siska?” tanyanya.
“Dia langsung
kawin begitu KKN selesai.Suaminya, bekas kawan sekelompoknya waktu KKN.”Luki
tertawa.
Fani melotot.
“Apa
maksudmu?” tanyanya.
“Kau harus
belajar tabah sejak sekarang.Aku bukan menakut-nakutimu.Semua bisa
terjadi.Bayangkan olehmu.Di desa terpencil, berduaan banyak kemungkinan.”Luki
tertawa sekali lagi.
Fani tiba-tiba
membayangkan Lukas. Tiga bulan ia telah pergi. Tak sepucuk surat pun
ditulisnya. Cepat-cepat ditatanya tumpukan pakaian.Lalu dicabutnya aliran
listrik seterikaannya.
Aneh,
tiba-tiba ia mempunyai firasat yang tidak-tidak tentang Lukas. Waktu Fani masuk
ke kamar hendak meletakkannya pakaian, ia seperti melihat bayangan Lukas di
kamarnya. Foto Lukas ditatapnya lekat-lekat.Juga lampu duduk di meja
belajarnya.Itu hadiah dari Lukas ketika Fani berulangtahun.Aneh. Tiba-tiba ia
merasa telah diabaikan oleh Lukas. Selama tiga bulan ia tak diperhatikannya.
Barangkali benar dugaan Luki . Sekarang ia sedang asyik dengan mahasiswi
Pertanian itu. Semua memang bisa terjadi.
Tak terasa
airmatanya jatuh bergulir di pipi.
Cepat-cepat
ditutupnya pintu kamar.
Waktu Lukas
berangkat dulu, Fani memang tak sempat mengantarkannya sampai terminal.Lukas
datang melamnya untuk pamit.Biarpun begitu Fani tetap merasa terperanjat, sebab
Lukas memberitahu rencana KKNnya begitu mendadak.
“Tapi kuharap
kau baik-baik saja di rumah. Dan jangan tulis surat untukku. Kalaupun aku
menulis, akan lama padamu sampainya. Desa yang ini sangat terpencil dan jauh
dari kantor pos.”
“Jadi kau
tidak akan pernah pulang selama itu?” Tanya Fani.
Lukas
menggeleng sedih.
Fani merasa
ngilu. Barangkali Lukas tahu apa yang dirasakannya. Ia hanya menjentikkan dagu
Fani.
“Tiga bulan,
kurasa tidak terlalu lama kan?”
Fani
mengangguk.
Lukas
menatapnya lekat-lekat.
“Aku
mempercayaimu,” desis Fani.
“Kuharap
demikian.”
Fani
menangis.Lukas mengecup bibirnya sekilas.
“Aku
mencintaimu.Dan itu tak pernah kuulangi untuk siapapun.Kau dengar itu?”
katanya.
Fani menyusut
airmatanya.
“Kalau kau
mengatakan kemaren-kemaren, aku pasti bisa mempersiapkan obat-obatan, makanan
kaleng atau kebutuhanmu selama KKN,” kata Fani mencoba melupakan
penderitaannya.
Lukas
menciumnya sekali lagi.
O Lukas
tercinta.Apakah benar kata Luki?Fani mengusap airmatanya.Ini untuk kesekian
kalinya.
+++++
Sore harinya
sehabis mandi,Fani sudah berjanji dalam hati. Besok akan kembali ke desa. Dia
berharap dengan cara itu, ia bisa melupakan kenangan tentang Lukas. Foto Lukas,
lampu duduk dan sejumlah buku pelajaran dimasukkan ke dalam kopor supaya besok
pag segalanya berlangsung cepat.
Waktu ia
keluarr, Luki mengajaknya ke gereja. Ia baru ingat bahwa hari itu hari Minggu.
“Aku akan
menyusulmu,” kata Fani.
Luki pergi
mendahuluinya karena sudah dijemput kekasihnya.Fani sendiri berangkat seorang
diri. Padahal ia sebetulnya enggan. Tapi entah karena apa, tiba-tiba ia
memutuskan untuk misa. Barangkali dengan cara itu, ia bisa tenteram. Dan ia pun
akan berdoa untuk Lukas, supaya ia tidak melupakannya sedetikpun.
Di halaman
gereja, seorang pria menyambutnya.Ia merasa pernah mengenali. Karena itu ia
mencoba menyapa:
“Kau Dani?”
“Apa wajahku
berubah?” balik laki-laki itu.
“Kau sekarang
berubah,” kata Fani.Ia mencoba tertawa. Apalagi ketika ingat, betapa dahulu
Dani mengaguminya.Tapi semua harus terjadi. Dani menikah dengan wanita lain,
yang tinggal di Bandung.
“Kapan kau
datang?” Tanya Fani.
“Beberapa jam
yang lalu,” jawabnya pendek.
Mereka masuk
ke gereja. Misa sudah akan dimulai. Fani mengambil liturgi dan buku nyanyian di
atas kotak persembahan.Dani mengikuti.
“Kau
sendirian?Mana siterimu?”
“Dia di
rumahnya,” jawab Dani tersenyum.
Entah kenapa,
tiba-tiba Fani merasa lega.
Selama misa
berlangsung, ia tak berpikir apa-apa, selain memikir-mikirkan Lukas yang telah
mengabaikannya. Begitu juga selesai misa.Dan Dani mengantarnya sampai ke
kostnya.Ia merasa bertemu dengan Dani, ia bisa melupakan kerisauan hatinya.
“Aku masih
ingin berbicara denganmu sebenarnya.Apakah besok kau ada waktu?” Tanya Dani.
Fani
mengangguk cepat, karenanya.
Dan ketika
esoknya bangun pagi, Fani memang tidak berniat untuk pulang ke kostnya.Aneh.Ia
sendiri merasa heran, kenapa semua ini bisa dilakukannya. Foto Lukas, lampu
duduk dan sejumlah buku-buku pelajarannya sudah dimasukkan ke dalam peti. Kopor
pun sudah disiapkan.Tapi hari itu, kemarahannya pada Lukas serasa tak bisa
ditawar. Semalam, ia mimpi melihat Lukas sedang mencumbu mahasiswi Pertanian itu.
Mereka nonton bioskop di kota yang jauhnya berkilo-kilometer. Dan setelah itu
segalanya terjadi.Fani juga melihat, betapa mereka sangat akrab.Belajar
berduaan di dalam kamar dan semua tak memperdulikannya.
Dani datang
menepati janjinya.Mereka keluar rumah.Karena mereka berpendapat pagi sangat
cerah, mereka memilih berjalan kaki menyusuri jalan lengang yang di tepinya
banyak ditumbuhi pohon-pohon pinus.
“Waktu
kutinggalkan, pohon-pohon pinus itu belum selebat sekarang.” Kata Dani.
“Memang.Sekarang
banyak perubahan.Kota menjadi bersih,” jawab Fani.
“Dan selama
itu memang banyak perubahan pada kita,” kata Dani melirik Fani. Fani tidak
langsung menjawab, tapi katanya:
“Waktu sangat
cepat berlalu ya?Kita tidak pernah kuasa untuk menahannya.”Ia menekuri jalan aspal
yang lurus.
“Kalau aku
mengenang masa lalu, aku sangat geli. Semenjak kita berpisah, aku kan seperti
orang sinting? Ayahku mengira aku akan jadi pastor. Dan kakakku sampai
menuduhkku banci.Hampir aku berkelahi dengannya.Aku tidak mau menikah gara-garamu.”
Fani mencoba
tersenyum. Tapi sekejap ia merasa tak sepatutnya pembicaraan itu. Karena itu,
katanya:
“Bagaimana
khabar istrimu?”
“Oya, aku
lupa cerita.Di baik-baik.Anakku sudah dua orang. Dua tahun lagi, kalau tidak
ada aral melintang, si sulung akan masuk teka. Eh, kau percaya, anakku yang
sulung itu kuberinama Fani Vincentia?”
“Itu namaku!”
kata Fani terperanjat.
“Memang.Kau
tak keberatankan?Kupikir, sebagai kenang-kenangan,” jawabnya.
“Aku minta
maaf.Waktu kalian menikah aku tak bisa hadir.Undangannya mendadak. Padahal
waktu itu musim ujian,”
“Aku
memaklumi.Tapi terimakasih atas kiriman kartu ucapan selamatmu.Meski aku
menerimanya sebulan sesudah pernikahan, itu sudah lebih dari cukup.”
Mereka terus
menyusuri jalan kota. Beberapa sepeda lalulalang dengan bebasnya.Pohon-pohon
pinus menyerbukkan daun-daunnya ditiup angin.
“Kau bahagia
tampaknya?” Tanya Fani.
“Tidak,”
jawabnya membuat Fani tersentak.Dani tampaknya serius.Karena itu Fani merasa
menyesal menanyakan hal itu.
“Kami sering
cekcok.Terus terang ini tak pernah kubayangkan sebelumnya. Itu sebabnya aku
lebih suka keluyuran atau menyibukkan diri di kantor dengan urusan-urusan yang
sebetulnya menjemukan. Pulang ke rumah rasa-rasanya aku mau masuk neraka.
Pernah aku akan menceraikannya. Tapi pihak keluargaku melarangku
wanti-wanti.Rupanya dugaanku bahwa perkawinanku murni atas dasar saling
mencintai, keliru.Waktu orangtua kami memperkenalkan kami, kukira mereka hanya
mengarahkan belaka.Nyatanya, justru inilah pilihan mereka.Kalau pun waktu itu
aku menolah, garis takdir sudah jelas.Aku harus tetap mengawininya.Lucu
ya?Seperti jaman Siti Nubaya saja!”
“Tapi kau
mencintainya kan?”
“Justru
itu.Kupikir waktu itu segalanya baru kumulai.Atau paling tidak, aku bisa
memulainya, dengan belajar mencintainya.Dengan demikian, aku merasa dialah
pilihanku.Bukan wanita yang sengaja disodorkan padaku untuk menjadi istriku.Kau
tahu, waktu itu aku tak punya pilihan lain.semenjak kau pergi, kita berpisah,
aku merasa segalanya kemungkinan tertutup bagiku.Aku sudah pasrah.”
Fani
menunduk.Sehelai daun pinus menerpa hidungnya.
“Dan
kedatanganku ke sini juga untuk itu.Aku ingin melupakan kesalahan-kesalahanku.”
“Kau mestinya
tidak boleh berbua begitu. Anak-anakmu…..”
Dani
menggenggam tangannya.Dingin.
“Di saat-saat
seperti ini aku merindukanmu.Aku tetap mengenangmu, meski aku tahu sia-sia.”
“Kukira semua
sudah terlambat, dan,” kata Fani melepaskan genggaman tangan Dani.
“Heran,” kata
Dani menengadahkan kepala. “Cinta adalah hal yang lama, tapi selalu tampak
baru,” dan ia tersenyum sesudahnya.
Tiba-tiba
Fani teringat tentang Lukas.
“Kau tidak
bertanya tentang Lukas?” Tanya Fani.
“Oya,” sambar
Dani.“Bagaimana khabarnya?”
“O, dia
sedang KKN.”
Dani melipat
bibirnya.
“Kau tak
pernah berpikir untu meninggalkannya?”
Fani sangat
kaget. Ditolehnya Dani. Tapip karena wajah Dani sangat polos, ia tak jadi
tersinggung.
“Tidak.Sama
sekali tidak.Lukas pilihanku sendiri.sampai-sampai aku bertengkar dengan
keluargaku sendiri karena memilih dia. Dia sangat baik. Kukira aku tidak punya
alas an untuk menghianati dia.”
Fani merasa
gugup sejenak.Aneh.Ia tak tahu dengan kekuatan mana ia bisa mengatakan itu.
Tapi ia seolah-olah melihat bayangan Lukas di antara bayang-bayang pinus.
“Kami sudah
berjanji untuk saling percaya.Kami tidak memiliki rasa cemburu sepeser pun di
hati kami.Kukira, aku memang mencintainya,” katanya.
Fani menengok
arlojinya.Bayangan pinus sudah rebah beberapa derajat membuat jalanan aspali
itu teduh sebagian.
“Kita sudah
berjalan sangat jauh dan berbicara kosong,” katanya.“Aku harus pulang karena
aku ada janji.”
Dani tampak
terkesiap tapi tak menampik.Dan berbalik arah.Sejak itu, mereka tidak
melanjutkan percakapan.
Hanya waktu
mereka sampai di muka rumah kost, Fani berkata:
“Eh, kau juga
jangan percaya, dan tidak bertanya, kapan kami akan mengikuti jejakmu?”
Dani mencoba
tersenyum tapi sangat tawar.
Lukas
mengatakan setelah dia menyelesaikan skripsi dan meraih titel doktorandus,
sesudah itu kami akan menikah,” lanjut Fani tanpa dipinta.
Dani
memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya, dan manggut-manggut.
“Jangan lupa
undangannya,” katanya.
“Ya.Janagn
kuatir.”
Dani memasuki
kamarnya. Diraihnya Rosario. “Tuhan tersayang,” bisiknya, “saya telah melewati
semak berduri dan kamu menjaga saya.”Ia mengambil peti di kolong tempat tidur. Dibongkarnya
dan diambilnya foto Lukas untuk diletakkan di meja.
+++++
Dimuat di majalah Anita Cemerlang, 1979
Tidak ada komentar:
Posting Komentar