14 September 2012

MELEWATI PINUS HIJAU

Oleh: Kurniawan Junaedhie

TIGA bulan Lukas meninggalkan Fani.Ia ikut KKN di sebuah desa terpencil. Kalau ini berhasil dilewatinya, berarti tahun depan impiannya menjadi kenyataan. Ia mengajukan skripsi dan berhasil meraih titel. Tapi suatu hari Luki, kawan sekostnya meledeknya.
“Kudengar kelompok Lukas di desa hanya dua orang.Dia dan satunya seorang cewek dari Pertanian,” kata Luki.
Fani yang sedang menyeterika pura-pura tak mendengar.Ia terus melanjutkan pekerjaannya.
“Dia masih belum menulis surat untukmu?”
Fani menggeleng.
“Dia sangat sibuk,” jawab Fani acuh tak acuh.Ia melihat sebuah pakaian yang barusan diseterikanya.
“Kasihan ya Siska,” kata Luki lagi.Fani menoleh.
“Ada apa dengan Siska?” tanyanya.
“Dia langsung kawin begitu KKN selesai.Suaminya, bekas kawan sekelompoknya waktu KKN.”Luki tertawa.
Fani melotot.
“Apa maksudmu?” tanyanya.
“Kau harus belajar tabah sejak sekarang.Aku bukan menakut-nakutimu.Semua bisa terjadi.Bayangkan olehmu.Di desa terpencil, berduaan banyak kemungkinan.”Luki tertawa sekali lagi.
Fani tiba-tiba membayangkan Lukas. Tiga bulan ia telah pergi. Tak sepucuk surat pun ditulisnya. Cepat-cepat ditatanya tumpukan pakaian.Lalu dicabutnya aliran listrik seterikaannya.
Aneh, tiba-tiba ia mempunyai firasat yang tidak-tidak tentang Lukas. Waktu Fani masuk ke kamar hendak meletakkannya pakaian, ia seperti melihat bayangan Lukas di kamarnya. Foto Lukas ditatapnya lekat-lekat.Juga lampu duduk di meja belajarnya.Itu hadiah dari Lukas ketika Fani berulangtahun.Aneh. Tiba-tiba ia merasa telah diabaikan oleh Lukas. Selama tiga bulan ia tak diperhatikannya. Barangkali benar dugaan Luki . Sekarang ia sedang asyik dengan mahasiswi Pertanian itu. Semua memang bisa terjadi.
Tak terasa airmatanya jatuh bergulir di pipi.
Cepat-cepat ditutupnya pintu kamar.
Waktu Lukas berangkat dulu, Fani memang tak sempat mengantarkannya sampai terminal.Lukas datang melamnya untuk pamit.Biarpun begitu Fani tetap merasa terperanjat, sebab Lukas memberitahu rencana KKNnya begitu mendadak.
“Tapi kuharap kau baik-baik saja di rumah. Dan jangan tulis surat untukku. Kalaupun aku menulis, akan lama padamu sampainya. Desa yang ini sangat terpencil dan jauh dari kantor pos.”
“Jadi kau tidak akan pernah pulang selama itu?” Tanya Fani.
Lukas menggeleng sedih.
Fani merasa ngilu. Barangkali Lukas tahu apa yang dirasakannya. Ia hanya menjentikkan dagu Fani.
“Tiga bulan, kurasa tidak terlalu lama kan?”
Fani mengangguk.
Lukas menatapnya lekat-lekat.
“Aku mempercayaimu,” desis Fani.
“Kuharap demikian.”
Fani menangis.Lukas mengecup bibirnya sekilas.
“Aku mencintaimu.Dan itu tak pernah kuulangi untuk siapapun.Kau dengar itu?” katanya.
Fani menyusut airmatanya.
“Kalau kau mengatakan kemaren-kemaren, aku pasti bisa mempersiapkan obat-obatan, makanan kaleng atau kebutuhanmu selama KKN,” kata Fani mencoba melupakan penderitaannya.
Lukas menciumnya sekali lagi.
O Lukas tercinta.Apakah benar kata Luki?Fani mengusap airmatanya.Ini untuk kesekian kalinya.
+++++
Sore harinya sehabis mandi,Fani sudah berjanji dalam hati. Besok akan kembali ke desa. Dia berharap dengan cara itu, ia bisa melupakan kenangan tentang Lukas. Foto Lukas, lampu duduk dan sejumlah buku pelajaran dimasukkan ke dalam kopor supaya besok pag segalanya berlangsung cepat.
Waktu ia keluarr, Luki mengajaknya ke gereja. Ia baru ingat bahwa hari itu hari Minggu.
“Aku akan menyusulmu,” kata Fani.
Luki pergi mendahuluinya karena sudah dijemput kekasihnya.Fani sendiri berangkat seorang diri. Padahal ia sebetulnya enggan. Tapi entah karena apa, tiba-tiba ia memutuskan untuk misa. Barangkali dengan cara itu, ia bisa tenteram. Dan ia pun akan berdoa untuk Lukas, supaya ia tidak melupakannya sedetikpun.
Di halaman gereja, seorang pria menyambutnya.Ia merasa pernah mengenali. Karena itu ia mencoba menyapa:
“Kau Dani?”
“Apa wajahku berubah?” balik laki-laki itu.
“Kau sekarang berubah,” kata Fani.Ia mencoba tertawa. Apalagi ketika ingat, betapa dahulu Dani mengaguminya.Tapi semua harus terjadi. Dani menikah dengan wanita lain, yang tinggal di Bandung.
“Kapan kau datang?” Tanya Fani.
“Beberapa jam yang lalu,” jawabnya pendek.
Mereka masuk ke gereja. Misa sudah akan dimulai. Fani mengambil liturgi dan buku nyanyian di atas kotak persembahan.Dani mengikuti.
“Kau sendirian?Mana siterimu?”
“Dia di rumahnya,” jawab Dani tersenyum.
Entah kenapa, tiba-tiba Fani merasa lega.
Selama misa berlangsung, ia tak berpikir apa-apa, selain memikir-mikirkan Lukas yang telah mengabaikannya. Begitu juga selesai misa.Dan Dani mengantarnya sampai ke kostnya.Ia merasa bertemu dengan Dani, ia bisa melupakan kerisauan hatinya.
“Aku masih ingin berbicara denganmu sebenarnya.Apakah besok kau ada waktu?” Tanya Dani.
Fani mengangguk cepat, karenanya.
Dan ketika esoknya bangun pagi, Fani memang tidak berniat untuk pulang ke kostnya.Aneh.Ia sendiri merasa heran, kenapa semua ini bisa dilakukannya. Foto Lukas, lampu duduk dan sejumlah buku-buku pelajarannya sudah dimasukkan ke dalam peti. Kopor pun sudah disiapkan.Tapi hari itu, kemarahannya pada Lukas serasa tak bisa ditawar. Semalam, ia mimpi melihat Lukas sedang mencumbu mahasiswi Pertanian itu. Mereka nonton bioskop di kota yang jauhnya berkilo-kilometer. Dan setelah itu segalanya terjadi.Fani juga melihat, betapa mereka sangat akrab.Belajar berduaan di dalam kamar dan semua tak memperdulikannya.
Dani datang menepati janjinya.Mereka keluar rumah.Karena mereka berpendapat pagi sangat cerah, mereka memilih berjalan kaki menyusuri jalan lengang yang di tepinya banyak ditumbuhi pohon-pohon pinus.
“Waktu kutinggalkan, pohon-pohon pinus itu belum selebat sekarang.” Kata Dani.
“Memang.Sekarang banyak perubahan.Kota menjadi bersih,” jawab Fani.
“Dan selama itu memang banyak perubahan pada kita,” kata Dani melirik Fani. Fani tidak langsung menjawab, tapi katanya:
“Waktu sangat cepat berlalu ya?Kita tidak pernah kuasa untuk menahannya.”Ia menekuri jalan aspal yang lurus.
“Kalau aku mengenang masa lalu, aku sangat geli. Semenjak kita berpisah, aku kan seperti orang sinting? Ayahku mengira aku akan jadi pastor. Dan kakakku sampai menuduhkku banci.Hampir aku berkelahi dengannya.Aku tidak mau menikah gara-garamu.”
Fani mencoba tersenyum. Tapi sekejap ia merasa tak sepatutnya pembicaraan itu. Karena itu, katanya:
“Bagaimana khabar istrimu?”
“Oya, aku lupa cerita.Di baik-baik.Anakku sudah dua orang. Dua tahun lagi, kalau tidak ada aral melintang, si sulung akan masuk teka. Eh, kau percaya, anakku yang sulung itu kuberinama Fani Vincentia?”
“Itu namaku!” kata Fani terperanjat.
“Memang.Kau tak keberatankan?Kupikir, sebagai kenang-kenangan,” jawabnya.
“Aku minta maaf.Waktu kalian menikah aku tak bisa hadir.Undangannya mendadak. Padahal waktu itu musim ujian,”
“Aku memaklumi.Tapi terimakasih atas kiriman kartu ucapan selamatmu.Meski aku menerimanya sebulan sesudah pernikahan, itu sudah lebih dari cukup.”
Mereka terus menyusuri jalan kota. Beberapa sepeda lalulalang dengan bebasnya.Pohon-pohon pinus menyerbukkan daun-daunnya ditiup angin.
“Kau bahagia tampaknya?” Tanya Fani.
“Tidak,” jawabnya membuat Fani tersentak.Dani tampaknya serius.Karena itu Fani merasa menyesal menanyakan hal itu.
“Kami sering cekcok.Terus terang ini tak pernah kubayangkan sebelumnya. Itu sebabnya aku lebih suka keluyuran atau menyibukkan diri di kantor dengan urusan-urusan yang sebetulnya menjemukan. Pulang ke rumah rasa-rasanya aku mau masuk neraka. Pernah aku akan menceraikannya. Tapi pihak keluargaku melarangku wanti-wanti.Rupanya dugaanku bahwa perkawinanku murni atas dasar saling mencintai, keliru.Waktu orangtua kami memperkenalkan kami, kukira mereka hanya mengarahkan belaka.Nyatanya, justru inilah pilihan mereka.Kalau pun waktu itu aku menolah, garis takdir sudah jelas.Aku harus tetap mengawininya.Lucu ya?Seperti jaman Siti Nubaya saja!”
“Tapi kau mencintainya kan?”
“Justru itu.Kupikir waktu itu segalanya baru kumulai.Atau paling tidak, aku bisa memulainya, dengan belajar mencintainya.Dengan demikian, aku merasa dialah pilihanku.Bukan wanita yang sengaja disodorkan padaku untuk menjadi istriku.Kau tahu, waktu itu aku tak punya pilihan lain.semenjak kau pergi, kita berpisah, aku merasa segalanya kemungkinan tertutup bagiku.Aku sudah pasrah.”
Fani menunduk.Sehelai daun pinus menerpa hidungnya.
“Dan kedatanganku ke sini juga untuk itu.Aku ingin melupakan kesalahan-kesalahanku.”
“Kau mestinya tidak boleh berbua begitu. Anak-anakmu…..”
Dani menggenggam tangannya.Dingin.
“Di saat-saat seperti ini aku merindukanmu.Aku tetap mengenangmu, meski aku tahu sia-sia.”
“Kukira semua sudah terlambat, dan,” kata Fani melepaskan genggaman tangan Dani.
“Heran,” kata Dani menengadahkan kepala. “Cinta adalah hal yang lama, tapi selalu tampak baru,” dan ia tersenyum sesudahnya.
Tiba-tiba Fani teringat tentang Lukas.
“Kau tidak bertanya tentang Lukas?” Tanya Fani.
“Oya,” sambar Dani.“Bagaimana khabarnya?”
“O, dia sedang KKN.”
Dani melipat bibirnya.
“Kau tak pernah berpikir untu meninggalkannya?”
Fani sangat kaget. Ditolehnya Dani. Tapip karena wajah Dani sangat polos, ia tak jadi tersinggung.
“Tidak.Sama sekali tidak.Lukas pilihanku sendiri.sampai-sampai aku bertengkar dengan keluargaku sendiri karena memilih dia. Dia sangat baik. Kukira aku tidak punya alas an untuk menghianati dia.”
Fani merasa gugup sejenak.Aneh.Ia tak tahu dengan kekuatan mana ia bisa mengatakan itu. Tapi ia seolah-olah melihat bayangan Lukas di antara bayang-bayang pinus.
“Kami sudah berjanji untuk saling percaya.Kami tidak memiliki rasa cemburu sepeser pun di hati kami.Kukira, aku memang mencintainya,” katanya.
Fani menengok arlojinya.Bayangan pinus sudah rebah beberapa derajat membuat jalanan aspali itu teduh sebagian.
“Kita sudah berjalan sangat jauh dan berbicara kosong,” katanya.“Aku harus pulang karena aku ada janji.”
Dani tampak terkesiap tapi tak menampik.Dan berbalik arah.Sejak itu, mereka tidak melanjutkan percakapan.
Hanya waktu mereka sampai di muka rumah kost, Fani berkata:
“Eh, kau juga jangan percaya, dan tidak bertanya, kapan kami akan mengikuti jejakmu?”
Dani mencoba tersenyum tapi sangat tawar.
Lukas mengatakan setelah dia menyelesaikan skripsi dan meraih titel doktorandus, sesudah itu kami akan menikah,” lanjut Fani tanpa dipinta.
Dani memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya, dan manggut-manggut.
“Jangan lupa undangannya,” katanya.
“Ya.Janagn kuatir.”
Dani memasuki kamarnya. Diraihnya Rosario. “Tuhan tersayang,” bisiknya, “saya telah melewati semak berduri dan kamu menjaga saya.”Ia mengambil peti di kolong tempat tidur. Dibongkarnya dan diambilnya foto Lukas untuk diletakkan di meja.
+++++


 Dimuat di majalah Anita Cemerlang, 1979

Tidak ada komentar:

Posting Komentar