Oleh: Kurniawan Junaedhie
TIO, bagaimana
kabarmu? Kau baik-baik saja kan? Apakah suratku sudah kau terima? Kenapa kau
tak membalasnya seperti dulu? Kalau suratku kali ini masih tak kau balas, aku
bisa marah padamu, Tio, sangat marah. Jadi, seterima suratku kali ini, lekas
balas.
Surat itu dilipat dan dimasukkan ke dalam amplop. Aneh.
Dua tahun berhubungan dengan Tio lewat surat, rasa-rasanya Widi sangat akrab.
Mungkin aku sudah jatuh cinta padanya. Betapa anehnya. Widi hampir tertawa
sendiri mengingatnya. Jatuh cinta lewat surat-menyurat. Padahal, bagaimana tampangnya
dia belum tahu. Tapi memang sudah banyak cerita, banyak orang ketemu jodoh
gara-gara menulis surat pada seorang yang namanya dimuat di rubrik halo sobat
atau kolom sahabat pena. Lagipula, apa yang diharapkan dari seorang pria? Di
samping wajahnya tamoan, sudah jelas ia harus seorang pria yang jenteman, dan
penuh perhatian. Dan Tio barangkali memiliki semua itu. Jadi rasa-rasanya tak
ada alasan untuk tidak menyukainya.
Ketika memasukkan kedalam amplop itulah, Widi hampir
menangis. Apakah surat ini juga tak akan dibalasnya lagi? sudah tiga pucuk
surat dilayangkan Widi untuk Tio, tapi dia seolah-olah tidak peduli. Barangkali
dia sibuk. Dalam surat terakhirnya dia memang mengatakan bahwa dia sedang
mengurus surat-surat untuk pindah kuliah. Tapi tak disebutkan kuliah dimana.
Widi ke kampus, dan rencananya dari sana ia akan ke
kantor pos mengirimkan surat untuk Tio. Tapi di depan ruang kuliah, dia
berjumpa dengan seorang lelaki. Ini bukan untuk pertama kalinya. Entah sudah ke
berapa kalinya, setiap Widi ke kampus, dia selalu berjumpa dengan pria itu.
Tiggi yang cukupan. Paling satu tujuhpuluh. Tidak terlalu kurus. Wajahnya
sangat tampan. Dia juga tampaknya sopan dan tidak keterlaluan seperti
kawan-kawan pria yang suka bersiul-siul jika melihat seorang mahasiswi yang
cantik.
“Hallo,” sapaya ramah, seperti pagi itu. Dia berdiri
dengan tegap, mengenakan jaket dan tersenyum ke arahnya.
“Halo,” jawab Widi kaku.
“Ada surat untukmu di kantor pos.”
Widi agak heran mendengar keterangannya. Tapi ia segera
tak peduli. Ia bergegas-gegas akan menyusul ke kotak pos kampus yang terletak
di ujung koridor.
“Surat itu sudah kuserahkan pada sekretariat.”
“O. Terimakasih.”
Tapi Widi kecewa. surat itu bukan dari Tio. Karena itu
dia tidak jadi mengambil surat itu. Dia memang benar-benar sudah tak berminat
menulis surat untukku, pikirnya. Dan surat yang ditulisnya untuk Tio barusan,
juga tak akan dikirimkannya.
Ketika naik bemo untuk pulang ke rumah, dia sangat
terkejut ketika di lihatnya sudah duduk seseorang di depannya.Laki-laki yang di
kampus tadi.
“Kau?”
katanya.Dia juga tak bisa mmenunjukkan kekagetannya.
Mau tak mau
mengangguk.
“Rupanya kita
memang jodoh,” ujarnya ringan.
Widi tak
menjawab.Dia hanya melemparkan pandangan ke luar bemo.
“Rumahmu di
jalan Anggrek kan?” tanyanya.
Padahal
penumpang bemo penuh. Tentu saja Widi kaget., sebab ucapannya sangat tepat.
“Ah itu
kebetulan,” katanya masih dengan nada ringan, ketika melihat mata Widi
keheranan.“Suatu kali aku lewat rumahmu.Rumahku tak jauh dari rumahmu.”
Widi merasa
mata pria itu menusuk hatinya.
“Kau enyukai
anggrek ya?” tanyanya.“Aku lihat di halaman rumahmu banyak sekali anggrek.”
Widi merasa
lega.Tadinya dia sudah curiga, dari mana dia tahu?
Mestinya Widi
tidak akan ke kantor pos, tapi karena dia rishi dengan pemuda itu, dia turun
juga. Laki-laki itu juga ikut turun.Langsung membayarkan ongkos bemo.Widi
benar-benar terjengah.
“Kenapa kau
membuntutiku terus?” tanyanya agak marah.
“Demi Tuhan,
tidak. Aku memang akan mengeposkan surat,” katanya. Dia menunjukkan sepucuk
surat dari jaketnya.
Widi
menghembuskan nafas.Memang tidak ada alasan untuk mencurigainya. Lau mereka
berjalan bersama-sama memasuki kantor pos.
“Kalau begitu
kita memang mempunyai urusan yang sama,” gumamnya.
“Rupanya kita
sangat berjodoh,” tukasnya tak menoleh sedikit pun.
“Ya.Barangkali.Juga
berjodoh dengan laki-laki tua yang turun dari bemo bersama kita tadi.”
Sesudah Widi
mengeposkan surat untuk Tio dan laki-laki itu juga mengeposkan surat entah
untuk siapa, Widi berkata:
“Sebaiknya
sampai di sini saja. Aku harus sampai di rumah sebelu jam satu.” Dia
bersiap-siap akan melangkah. Aku juga akan pulang. Rumahku ejurusan dengan
rumahmu?”
Widi menatap
wajah laki-laki itu dengan geram.Tapi memang taka da alasan untuk menolaknya,
ketika laki-laki itu mengajaknya singgah di rumah makan.
“Aku ingin
mentraktirmu,” katanya dengan halus.
“Kalau kau
ada duit, baiklah.Asal jangan keseringan.Kau bisa bangkrut.Mahasiswa-maasiswa
perantauan sering lupa diri. Padahal jauh di sana, orangtuanya mengharap dia
belajar sungguh-sungguh. Tidak foya-foya.”
Dia tertawa.
“Kau mau
makan apa?” tanyanya setelah mereka memilih tempat duduk di sudut. Widi
menunjuk perutnya.
“Benar.Aku
sudah kenyang.Sebaiknya aku minum saja.Kau yang makan.Aku bersedia menemanimu.”
jawab Widi.
Widi memesan
es jeruk. Dia juga sama. Sama sekali tidak memesan makanan.
“Anek.Kau
bisa mengajakku dengan mudah.Begitu memang setiap laki-laki?”Tanya Widi sambil
memainkan pipetnya.
“Tentu saja
tidak.”Dia menyedot esnya sambil melirik ke arah Widi.
“Bagaimana
kalau pacarmu melihat kita sedang berdua di sini?” tiba-tiba tanyanya.Widi
hampir tersinggung, tapi ketika dilihat wajah yang bertanya itu sangat jujur,
dia menjawab dengan gelengan kepala.
‘Jelas dia
sangat marah. Begitu kan alur cerita novel-novel pop? Tapi kurasa pacarku akan
toleran. Dia sangat toleran.Pacarku bukan pencemburu.Aneh ya?Aku memang suka
pria begitu.Artinya sangat rasional.Bagaimana dengan engkau sendiri?” Tanya
Widi.
“Kau memang
sangat beruntung.Pacarku seorang pencemburu sejati.Tapi memang benar ucapanmu.Seorang
yang jatuh cinta terutama wanita, semua dilandasi dengan emosi, bukan dengan
rasional.”
Widi
menunduk.dihirupnya es jeruknya sekali lagi.
“Kau suka
padanya?” Tanya Widi.
“Mestinya aku
mencinta dia. Tapi kita tidak terus-terusan mengandalkan emosi.Karena di
kampus, dia kuatir aku bisa jatuh cinta pada seorang atau dua orang mahasiswi,
kan buta?”
Laki-laki itu
tertawa sambil mendenting-dentingkan gelasnya yang tinggal separoh.
“Tadi kau
mengeposkan surat buat pacarmu di luar kota ya?” tanyanya dengan senyum yang
tipis.
“Kawan
penaku,” jawab Widi pendek.
“Hobimu
sangat luar biasa.Korespondensi.Kau punya banyak waktu untuk menerima dan surat
balasannya itu?”
Dia meraih
gelas esnya.Lalu menghirupnya.
“Tidak.Ini
kawan penaku satu-satunya.”
“Istimewa?”
“Sebenarnya
tidak.Tapi entahlah,” Widi mendenting-dentingkan gelasnya serupa melamun.“Dia
sangat baik.Penuh perhatian.Dan aku tidak punya alas an untuk menghentikan
surat-menyurat itu.Untuk dia, susah.”
“Bagaimana
dengan pacarmu yang kau sebutkan tadi?”Tanya pria itu menatapnya lekat-lekat.
“Kami sudah
putus.Akhirnya dia mencemburui aku juga.Dia menyuruh aku menghentikan
surat-menyuratnya dengan kawan penaku.Jelas tidak mungkin.”
“Lucu ya?”
laki-laki itu tiba-tiba terawa.“Ceritamu sangat mirip dengan kisahku.Aku juga
putus dengan pacarku.”
“Benar?Bukan
ceritamu?”Widi mengibaskan rambut panjangnya untuk memasang telinga baik-baik.
“Hobiku sama
dengan hobimu.Tapi di antara sebegitu banyak gadis penaku, hanya dia seorang
yang kuistimewakan.Dia juga penuh perhatian.Bahkan ke tanggal lahirku dia
hapal.Ini sesuatu yang mengejutkan sekaligus mengharukan.Orang tuaku pun saja
sudah lupa.Aku apalagi. Kecuali harus
mengisi formulir KTP atau surat-surat, baru ingat kapan aku dilahirkan. Kami
sudah berhubugan lewat surat selama dua tahun. Tapi sejak aku pindah ke sini,
aku memutuskan untuk menghentikan omong kosong itu.”
“Omong
kosong?”
Dia tertawa
meledak.
“Tentu saja
tidak.Justru aku ingin suatu kali bertemu dalam keadaan surprisie.Aku tetap
ingat padanya.Dan kau percaya?”
“Apa?”
“Sejak kami
berhubungan lewat surat, aku sudah punya firasat bahwa dia calon istriku.”
Widi
gelak-gelak tertawa.
“Tapi dia
memang lucu.Mengirimkan fotonya tak mau.Aku juga ikut-ikut, tak mau mengirimkan
fotoku.Aku tidak mau seperti pemuda-pemuda puber itu.Meledak-ledak bahkan
sampai mengutip puisi-puisi Pujangga Baru.”Giliran laki-laki itu yang
gelak-gelak tertawa.
“Kalau begitu
sejak berhubungan dengan kawan penamu kau sudah menghianati pacarmu,” kata
Widi.
“Ya
barangkali.Tapi dia memang bukan type idealku.Dia cemburuan.Aku merasa dia
bukan jodohku.”
“Lalu dengan
kawan penamu, apakah kau yakin dia tidak cemburuan?” tanya Widi.
Dia tertawa
dan geleng-geleng kepala.
“Kau sudah
pernah melihat tampangnya sampai kau amat yakin bahwa dia sesuai dengan
impian?” Tanya Widi, sambil memainkan pipet gelasnya.
“Kau
juga.Apakah kau sudah melihat tampangnya, sampai-sampai kau amat yakin bisa
menyukainya?” kata laki-laki itu ikut-ikutan tersenyum.
“Memang
tidak,” kata Widi hampir tertawa.
“Kenapa?”
“Aku sudah
membayangkan bahwa priaitu seperti Idi Amin!”Mereka tertawa keras-keras.
“Eh, kenapa
kita bicara nglantur begini?” kata Widi.Pria itu segera menengok arlojinya.
“Oya. Kau
harus sudah sampai di rumah sebelum jam satu.”
Dia memanggil
pelayan dan membayarnya.
Dari rumah
makan, mereka naik bemo pulang ke rumah.
Waktu Widi
akan turun, karena rumahnya sangat dekat, laki-laki itu berbisik.:
‘Kapan kita
bisa bertemu lagi?”
“Kapan-kapan.”Jawab
Widi seenaknya.Dia mau memijit tombol, supaya bemo berhenti.
“Namaku Tio.
Kawan penamu.”Dia tersenyum.
Widi hampir
tersentak.Dia tidak jadi memijit tombol.Dia tetap duduk di tempatnya.Tio
menatap lekat-lekat.Widi tersenyum, hampir meledak.
“Apa kataku,
kita memang dijodohkan Tuhan!” katanya tetap tersenyum.
+++++
Dimuat di majalah Anita Cemerlang, 1980
Tidak ada komentar:
Posting Komentar