13 September 2012

KAPAN KITA BISA BERTEMU LAGI?

Oleh: Kurniawan Junaedhie

TIO, bagaimana kabarmu? Kau baik-baik saja kan? Apakah suratku sudah kau terima? Kenapa kau tak membalasnya seperti dulu? Kalau suratku kali ini masih tak kau balas, aku bisa marah padamu, Tio, sangat marah. Jadi, seterima suratku kali ini, lekas balas.
Surat itu dilipat dan dimasukkan ke dalam amplop. Aneh. Dua tahun berhubungan dengan Tio lewat surat, rasa-rasanya Widi sangat akrab. Mungkin aku sudah jatuh cinta padanya. Betapa anehnya. Widi hampir tertawa sendiri mengingatnya. Jatuh cinta lewat surat-menyurat. Padahal, bagaimana tampangnya dia belum tahu. Tapi memang sudah banyak cerita, banyak orang ketemu jodoh gara-gara menulis surat pada seorang yang namanya dimuat di rubrik halo sobat atau kolom sahabat pena. Lagipula, apa yang diharapkan dari seorang pria? Di samping wajahnya tamoan, sudah jelas ia harus seorang pria yang jenteman, dan penuh perhatian. Dan Tio barangkali memiliki semua itu. Jadi rasa-rasanya tak ada alasan untuk tidak menyukainya.
Ketika memasukkan kedalam amplop itulah, Widi hampir menangis. Apakah surat ini juga tak akan dibalasnya lagi? sudah tiga pucuk surat dilayangkan Widi untuk Tio, tapi dia seolah-olah tidak peduli. Barangkali dia sibuk. Dalam surat terakhirnya dia memang mengatakan bahwa dia sedang mengurus surat-surat untuk pindah kuliah. Tapi tak disebutkan kuliah dimana.
Widi ke kampus, dan rencananya dari sana ia akan ke kantor pos mengirimkan surat untuk Tio. Tapi di depan ruang kuliah, dia berjumpa dengan seorang lelaki. Ini bukan untuk pertama kalinya. Entah sudah ke berapa kalinya, setiap Widi ke kampus, dia selalu berjumpa dengan pria itu. Tiggi yang cukupan. Paling satu tujuhpuluh. Tidak terlalu kurus. Wajahnya sangat tampan. Dia juga tampaknya sopan dan tidak keterlaluan seperti kawan-kawan pria yang suka bersiul-siul jika melihat seorang mahasiswi yang cantik.
“Hallo,” sapaya ramah, seperti pagi itu. Dia berdiri dengan tegap, mengenakan jaket dan tersenyum ke arahnya.
“Halo,” jawab Widi kaku.
“Ada surat untukmu di kantor pos.”
Widi agak heran mendengar keterangannya. Tapi ia segera tak peduli. Ia bergegas-gegas akan menyusul ke kotak pos kampus yang terletak di ujung koridor.
“Surat itu sudah kuserahkan pada sekretariat.”
“O. Terimakasih.”
Tapi Widi kecewa. surat itu bukan dari Tio. Karena itu dia tidak jadi mengambil surat itu. Dia memang benar-benar sudah tak berminat menulis surat untukku, pikirnya. Dan surat yang ditulisnya untuk Tio barusan, juga tak akan dikirimkannya.
Ketika naik bemo untuk pulang ke rumah, dia sangat terkejut ketika di lihatnya sudah duduk seseorang di depannya.Laki-laki yang di kampus tadi.
“Kau?” katanya.Dia juga tak bisa mmenunjukkan kekagetannya.
Mau tak mau mengangguk.
“Rupanya kita memang jodoh,” ujarnya ringan.
Widi tak menjawab.Dia hanya melemparkan pandangan ke luar bemo.
“Rumahmu di jalan Anggrek kan?” tanyanya.
Padahal penumpang bemo penuh. Tentu saja Widi kaget., sebab ucapannya sangat tepat.
“Ah itu kebetulan,” katanya masih dengan nada ringan, ketika melihat mata Widi keheranan.“Suatu kali aku lewat rumahmu.Rumahku tak jauh dari rumahmu.”
Widi merasa mata pria itu menusuk hatinya.
“Kau enyukai anggrek ya?” tanyanya.“Aku lihat di halaman rumahmu banyak sekali anggrek.”
Widi merasa lega.Tadinya dia sudah curiga, dari mana dia tahu?
Mestinya Widi tidak akan ke kantor pos, tapi karena dia rishi dengan pemuda itu, dia turun juga. Laki-laki itu juga ikut turun.Langsung membayarkan ongkos bemo.Widi benar-benar terjengah.
“Kenapa kau membuntutiku terus?” tanyanya agak marah.
“Demi Tuhan, tidak. Aku memang akan mengeposkan surat,” katanya. Dia menunjukkan sepucuk surat dari jaketnya.
Widi menghembuskan nafas.Memang tidak ada alasan untuk mencurigainya. Lau mereka berjalan bersama-sama memasuki kantor pos.
“Kalau begitu kita memang mempunyai urusan yang sama,” gumamnya.
“Rupanya kita sangat berjodoh,” tukasnya tak menoleh sedikit pun.
“Ya.Barangkali.Juga berjodoh dengan laki-laki tua yang turun dari bemo bersama kita tadi.”
Sesudah Widi mengeposkan surat untuk Tio dan laki-laki itu juga mengeposkan surat entah untuk siapa, Widi berkata:
“Sebaiknya sampai di sini saja. Aku harus sampai di rumah sebelu jam satu.” Dia bersiap-siap akan melangkah. Aku juga akan pulang. Rumahku ejurusan dengan rumahmu?”
Widi menatap wajah laki-laki itu dengan geram.Tapi memang taka da alasan untuk menolaknya, ketika laki-laki itu mengajaknya singgah di rumah makan.
“Aku ingin mentraktirmu,” katanya dengan halus.
“Kalau kau ada duit, baiklah.Asal jangan keseringan.Kau bisa bangkrut.Mahasiswa-maasiswa perantauan sering lupa diri. Padahal jauh di sana, orangtuanya mengharap dia belajar sungguh-sungguh. Tidak foya-foya.”
Dia tertawa.
“Kau mau makan apa?” tanyanya setelah mereka memilih tempat duduk di sudut. Widi menunjuk perutnya.
“Benar.Aku sudah kenyang.Sebaiknya aku minum saja.Kau yang makan.Aku bersedia menemanimu.” jawab Widi.
Widi memesan es jeruk. Dia juga sama. Sama sekali tidak memesan makanan.
“Anek.Kau bisa mengajakku dengan mudah.Begitu memang setiap laki-laki?”Tanya Widi sambil memainkan pipetnya.
“Tentu saja tidak.”Dia menyedot esnya sambil melirik ke arah Widi.
“Bagaimana kalau pacarmu melihat kita sedang berdua di sini?” tiba-tiba tanyanya.Widi hampir tersinggung, tapi ketika dilihat wajah yang bertanya itu sangat jujur, dia menjawab dengan gelengan kepala.
‘Jelas dia sangat marah. Begitu kan alur cerita novel-novel pop? Tapi kurasa pacarku akan toleran. Dia sangat toleran.Pacarku bukan pencemburu.Aneh ya?Aku memang suka pria begitu.Artinya sangat rasional.Bagaimana dengan engkau sendiri?” Tanya Widi.
“Kau memang sangat beruntung.Pacarku seorang pencemburu sejati.Tapi memang benar ucapanmu.Seorang yang jatuh cinta terutama wanita, semua dilandasi dengan emosi, bukan dengan rasional.”
Widi menunduk.dihirupnya es jeruknya sekali lagi.
“Kau suka padanya?” Tanya Widi.
“Mestinya aku mencinta dia. Tapi kita tidak terus-terusan mengandalkan emosi.Karena di kampus, dia kuatir aku bisa jatuh cinta pada seorang atau dua orang mahasiswi, kan buta?”
Laki-laki itu tertawa sambil mendenting-dentingkan gelasnya yang tinggal separoh.
“Tadi kau mengeposkan surat buat pacarmu di luar kota ya?” tanyanya dengan senyum yang tipis.
“Kawan penaku,” jawab Widi pendek.
“Hobimu sangat luar biasa.Korespondensi.Kau punya banyak waktu untuk menerima dan surat balasannya itu?”
Dia meraih gelas esnya.Lalu menghirupnya.
“Tidak.Ini kawan penaku satu-satunya.”
“Istimewa?”
“Sebenarnya tidak.Tapi entahlah,” Widi mendenting-dentingkan gelasnya serupa melamun.“Dia sangat baik.Penuh perhatian.Dan aku tidak punya alas an untuk menghentikan surat-menyurat itu.Untuk dia, susah.”
“Bagaimana dengan pacarmu yang kau sebutkan tadi?”Tanya pria itu menatapnya lekat-lekat.
“Kami sudah putus.Akhirnya dia mencemburui aku juga.Dia menyuruh aku menghentikan surat-menyuratnya dengan kawan penaku.Jelas tidak mungkin.”
“Lucu ya?” laki-laki itu tiba-tiba terawa.“Ceritamu sangat mirip dengan kisahku.Aku juga putus dengan pacarku.”
“Benar?Bukan ceritamu?”Widi mengibaskan rambut panjangnya untuk memasang telinga baik-baik.
“Hobiku sama dengan hobimu.Tapi di antara sebegitu banyak gadis penaku, hanya dia seorang yang kuistimewakan.Dia juga penuh perhatian.Bahkan ke tanggal lahirku dia hapal.Ini sesuatu yang mengejutkan sekaligus mengharukan.Orang tuaku pun saja sudah lupa.Aku  apalagi. Kecuali harus mengisi formulir KTP atau surat-surat, baru ingat kapan aku dilahirkan. Kami sudah berhubugan lewat surat selama dua tahun. Tapi sejak aku pindah ke sini, aku memutuskan untuk menghentikan omong kosong itu.”
“Omong kosong?”
Dia tertawa meledak.
“Tentu saja tidak.Justru aku ingin suatu kali bertemu dalam keadaan surprisie.Aku tetap ingat padanya.Dan kau percaya?”
“Apa?”
“Sejak kami berhubungan lewat surat, aku sudah punya firasat bahwa dia calon istriku.”
Widi gelak-gelak tertawa.
“Tapi dia memang lucu.Mengirimkan fotonya tak mau.Aku juga ikut-ikut, tak mau mengirimkan fotoku.Aku tidak mau seperti pemuda-pemuda puber itu.Meledak-ledak bahkan sampai mengutip puisi-puisi Pujangga Baru.”Giliran laki-laki itu yang gelak-gelak tertawa.
“Kalau begitu sejak berhubungan dengan kawan penamu kau sudah menghianati pacarmu,” kata Widi.
“Ya barangkali.Tapi dia memang bukan type idealku.Dia cemburuan.Aku merasa dia bukan jodohku.”
“Lalu dengan kawan penamu, apakah kau yakin dia tidak cemburuan?” tanya Widi.
Dia tertawa dan geleng-geleng kepala.
“Kau sudah pernah melihat tampangnya sampai kau amat yakin bahwa dia sesuai dengan impian?” Tanya Widi, sambil memainkan pipet gelasnya.
“Kau juga.Apakah kau sudah melihat tampangnya, sampai-sampai kau amat yakin bisa menyukainya?” kata laki-laki itu ikut-ikutan tersenyum.
“Memang tidak,” kata Widi hampir tertawa.
“Kenapa?”
“Aku sudah membayangkan bahwa priaitu seperti Idi Amin!”Mereka tertawa keras-keras.
“Eh, kenapa kita bicara nglantur begini?” kata Widi.Pria itu segera menengok arlojinya.
“Oya. Kau harus sudah sampai di rumah sebelum jam satu.”
Dia memanggil pelayan dan membayarnya.
Dari rumah makan, mereka naik bemo pulang ke rumah.
Waktu Widi akan turun, karena rumahnya sangat dekat, laki-laki itu berbisik.:
‘Kapan kita bisa bertemu lagi?”
“Kapan-kapan.”Jawab Widi seenaknya.Dia mau memijit tombol, supaya bemo berhenti.
“Namaku Tio. Kawan penamu.”Dia tersenyum.
Widi hampir tersentak.Dia tidak jadi memijit tombol.Dia tetap duduk di tempatnya.Tio menatap lekat-lekat.Widi tersenyum, hampir meledak.
“Apa kataku, kita memang dijodohkan Tuhan!” katanya tetap tersenyum.
+++++


 Dimuat di majalah Anita Cemerlang, 1980

Tidak ada komentar:

Posting Komentar