11 September 2012

KEMBALI PADA BUNGA

Oleh: Kurniawan Junaedhie

WAKTU Uni masuk ke halaman kantor pos hendak mencemplungkan sepucuk surat, ia mendengar namanya dipanggil orang. Ia hapal sekali pada suara itu. Ia cepat menoleh ke arah suara yang menyapanya. Karena hari masih siang, halaman kantor pos itu lenggang maka Uni cepat menemukan figur yang berdiri kaku sekira sepuluh meter dari tempatnya berdiri.
“Pierre!” ia berteriak setelah ia tertegun sedetik. Ia melihat laki-laki bertubuh jangung dan berambut pirang yang sudah dikenalnya seperti dalam mimpi. Laki-laki itu mengenakan hem warna krem, dengan kotak-kotak kecil dengan ukuran kebesaran. Ia tersenyum.
Sekejap mereka bertatapan.
“Apa khabar?” tanya laki-laki itu sambil mengulur tangan.
“Bien!” jawab Uni agak kaku. Itulah salah satu dari beberapa kata yang dikenalnya dan dihapalnya sejak berkenalan dengan pemuda Perancis itu.
“Kau tambah cantik,” puji Pierre membuat Uni tersipu-sipu.
“Bagaimana khabar abangmu? Masih suka membalap di Ancol?”
Uni hampir tertawa karena Pierre masih mengingatnya.
“Vraiment. Tentu saja. Dia akan rheumatik kalau sehari tidak ngebut, Pierre!”
Pierre mengajaknya masuk ke kantin kantor pos yang letaknya tak jauh dari situ. Mereka memesan dua gelas es jeruk.
“Aku hampir senewen karena kau tak pernah mau membalas surat-suratku. Aku selalu berharap semuanya karena surat-suratku tak pernah kauterima. Hilang di jalan.”
Uni menunduk.
“Sorri Pierre. Aku sangat sibuk. Kalau kau di dekatku, kau akan tahu betapa….”
Pierre tersenyum manis.
“Oya, kau belum cerita kapan kau datang, mengapa kau tidak mengabari bahwa kau akan datang,” Uni mencoba membelokkan arah percakapan.
“Apakah penting bagimu?”
Uni tersentak. Pierre cepat memotong:
“Kalau kau tahu apa yang menjadi pikiranku, kau tentu tidak akan bertanya begitu.”
“Kalu begitu aku minta maaf,” Uni menjawab dengan kecewa. “Kukira kau mau menceritakan padaku tentang Le Pantheon atau Montmantre seperti kartupos-kartupos yang kau kiri,” kata Uni.
+++++
UNI mengenalnya hampir tiga tahun yang lalu di sebuah desa terpencil di Jawa Tengah. Ia sedang menjalani Kuliah Kerja Nyata untuk meraih gelar sarjana ekonomi. Tak dianya, di desa itu ia berkenalan dengan Pierre yang juga sedang belajar gamelan. Tadinya Uni menganggap pemuda bule itu sangat angkuh. Tapi ketika suatu sore, ia singgah di pondok Uni, kesan itu segera hilang. Ia sangat ramah dan galant sebagai mana layaknya orang Perancis.
“Rumahmu menyenangkan,” katanya sambil melihat kanan kiri.
Uni cepat memotong:
“Ini bukan rumahku. Kau jangan salah omong. Aku sendiri di sini hanya mondok? Sesudah tiga bulan aku kembali ke kota.”
“Oya.” Dia tertawa ringan. Lalu mengagumi dua gambar wayang di dinding.
“Itu ayah semangku yang menyukainya,” kata Uni. Yang dimaksudkannya tentu saja, orang yang ditumpanginya selama KKN.
“Sebelah kiri Bimasena, sebelah kanannya Saimaji.”
Muy bien. Demi Tuhan,” katanya cepat-cepat.
“Oya sejak tadi kau belum mengatakan apa-apa yang bisa kubantu?” tanya Uni.
Nom de Dieu. Demi Tuhan,” dia tersentak. Lalu tertawa. “Aku hanya ingin berkenalan denganmu.”
Uni hampir memekik karena geli. Ternyata Pierre pintar juga melucu. Tapi rupanya dia sangat serius.
“Tadi malam aku bermimpi. Dalam mimpiku aku harus berkenalan dengan mahasiswi yang tinggal di samping rumahku tinggal.”
“Wah itu mistik,” Uni sekali lagi hampir tertawa.
Pierre lekas sekali bersahabat. Sehingga dalam waktu yang singkat. Uni sudah bisa mengetahui tabiatnya yang terbuka dan terus terang. Setiap hari Minggu, ia datang mengajak Uni ke gereja di kota yang paling dekat dengan desa itu.
“Kurasa aku menyukaimu,” kata Pierre suatu hari sepulang dari gereja.
Uni menjawabnya sambil bercanda.
“Karena aku selalu menerima ajakanmu?”
“Ya. Kau memang sangat baik.”
“Tapi kau bisa kecewa. Karena aku tidak seperti yang kau bayangkan,” kata Uni.
“Kau tahu aku menyukai figur siapa dalam wayang?” tanya Pierre.
“Mana aku tahu? Tapi kau jangan pamerkan kehebatanmu dalam wayang. Kau datang ke desa ini memang untuk memperdalam hal itu. Aku kan tidak?”
“Tapi aku sungguh-sungguh,” dia berkata. “Aku menyukai Dewi Wara Sumbadra.”
“Lalu?” Uni mengangkat dagunya ke atas.
“Dan kukira kau. Sumbadra dalam alam kehidupan nyata ini.”
Uni hampir  tertawa terpingkal-pingkal mendengarnya.
“Kau jangan ngelantur. Ada-ada saja,” kata Uni. “Sebaiknya lupakan saja wayangmu dan kau cerita tentang keluargamu di Perancis sana. Sejauh ini aku belum pernah mendengar sepotong pun perihalmu.”  
Dia tersenyum. Rasa tegangnya setelah diledek Uni seolah-olah mencair.
Dia lalu bercerita mengenai keluarganya. Pierre anak bungsu dari tiga bersaudara. Kedua kakaknya semuanya militer dan bekerja di kedutaan sebagai atase militer. Hanya dia sendiri yang menyeleweng. Dia tidak suka jadi militer tetapi mengikuti arus, menjadi seniman.
“Mereka barangkali bukan orang Perancis tulen ya?” komentar Uni tentang kedua kakaknya.
“Ya.”
“Dan kau memang Perancis tulen ya?” goda Uni.
Vraiment,” katanya senang.
 Uni langsung terpingkal-pingkal. Orang Perancis satu ini sngguh menggelikan, pikirnya. Dia mengaku menyukai lukisan-lukisan Basuki Abdullah. Ia juga katanya menyukai gudeg Yogya dan soto Betawi. Tentu saja, kata Uni, sebab dia belum pernah mencicipi Coto Makasar atau soto Kudus.
Pierre tahu Uni sangat sinis terhadap ucapan-ucapannya. Karrena itu, dia langsung tutup mulut. Waktu berpisah, dia membungkuk seperti Napoleon dan mengucapkan lain waktu kita bertemu lagi.
+++++
HARI Minggu, Uni harus berangkat ke Balai Desa. Ia harus menerangkan mengenai penggunaan alat kontrasepsi pada ibu-ibu di desa itu. Minggu itu  adalah minggu terakhir. Sesudah itu KKN-nya akan berakhir. Pierre secara kebetulan juga akan mengakhiri koatnya di desa itu.
Mereka bertemu di Balai Desa sesudah pertemuan ibu-ibu selesai.
“Kebetulan kita berjumpa. Aku ingin mengucapkan sesuatu,” kata Pierre.
“Mengucapkan apa, hm?” tanya Uni sambil membereskan berkas-berkas di meja.
“Aku akan pamit.”
“Pulang?”
Pierre mengangguk.
“Besok aku ke Jakarta melapor ke kedutaan. Sesudah itu aku akan pulang ke Perancis.”
Uni tak segera menjawab. Dipandangnya mata biru Pierre. Tiba-tiba ia merasa terharu. Karena itu ketika Pierre mengatakan akan menjemputnya nanti sore untuk mempir di rumahnya, Uni langsung mengangguk.
Rumah tempat Pierre mondok lumayan besarnya. Meski tidak mewah tetapi cukup lumayan. di halaman depan bertengger dua buah tiang bambu yang ditempati sangkar burung. Tapi ketika Uni masuk ke ruang tamu, ia merasa kaget. Di dinding ia melihat wajah dirinya dalam sebuah lukisan besar. Pierre segera menyadari keterkejutan Uni.
“Aku yang melukisnya,” katanya gugup. “Kau marah?”
Uni cepat-cepat menggeleng.
“Sebaliknya. Sungguh bagus. Lebih cantik dari aselinya,” katanya dengan senyum yang sumbang. Sambil begitu, ia sungguh heran darimana Pierre mendapat contoh untuk lukisan itu?
Pierre menyedu minuman.
Tapi Uni merasa tiba-tiba sesuatu melintas di kepalanya. Sesuatu yang ganjil dan tidak semestinya. Karena itu ia tidak jadi duduk untuk mengamati-amati lukisan itu dari jauh. Didekatinya Pierre.
“Pierre, apa maksudmu dengan lukisan itu?” tanyanya dengan marah.
“Kurasa kau tahu jawabnya,” kata Pierre agak gemetar. Ia terus membuat minuman tanpa perasaan bersalah.
“Apa?” tanya Uni kurang sabar.
“Aku mencintaimu.”
Uni terperanjat.
“Tidak. Itu tidak baik untuk kita.”
“Kenapa?” Pierre menghentikan kegiatannya.
“Aku sudah punya tunangan. Kukira kau tidak seharusnya begitu. Dia sekarang sedang menungguku. Dan Pierre, aku tidak ingin menghianatinya!”
Pierre tersenyum tipis. Padahal seharusnya ia terkejut.
“Mungkin aku memang sia-sia,” katanya seperti pada dirinya sendiri.
“Sebaiknya memang,” jawab Uni.
“Kau percaya bahwa aku sangat kecewa?” tanya Pierre menatap lurus-lurus wajah Uni.
“Kau tidak pernah memberiku kesempatan berpikir,” kata Uni.
“Ah, tapi itu tidak apa-apa. kukira sebaiknya memang begitu. Kau tetap setia pada tunanganmu. Aku tak ingin kau menjadi berantakan karena aku. Kau setuju?” Pierre tersenyum tulus.
Uni menunduk.
“Percintaan sejati tidak selamanya harus diharus dilanjutkan dalam suatu ikatan perkawinan kan?”
“O tidak. Kau sangat baik, Pierre. Aku menyesal,” kata Uni. Lalu ia merasakan betapa pipinya menjadi hangat karena airmatanya.
Pierre pura-pura tidak melihat. Sekarang minuman yang dibuatnya sudah selesai. Dan ia membawanya sendiri ke meja.
“Jangan menangis,” katanya. “Ayo minum.”
Uni duduk dan menerima minumannya.
“Besok aku akan pulang. Dan aku merasa bahagia pernah mengenalmu,” kata Pierre. Uni tak menjawab hanya menyeka airmatanya.
“Kau tak mengharap kita akan bertemu lagi?”
“Entahlah,” jawab Uni. “Tapi kau boleh menyuratiku.”s
Ketika Pierre menanyakan apakah lukisan itu akan disimpan Uni, Uni menjawab:
“Tidak. Kalau kau suka, bawalah ke negerimu. Aku tokh tak dapat memberimu apa-apa, Pierre. Kecuali…..” Uni mencoba tersenyum meski sangat tawar. “Sudilah kau mau engenangku dengan potert diriku itu.”
“Tentu saja.”
Uni tidak bisa mengantarkannya ke kota. Tapi di rumah pondokannya Uni sempat membayangkan bahwa Pierre sedang naik bus ke kota, lalu disambung dengan kereta apii dan esoknya dia akan terbang menuju tanah tumpah darahnya.
Selang beberapa hari, surat Pierre datang. Dia sudah tiba di Paris. Uni tidak berminat membalasnya. Apalagi sesuah ia kembali ke kota. Ia sangat sibuk menyelesaikan skripsi. Beberapa pucuk surat Pierre tetap berdatangan. Uni tak membalasnya sekali pun. Dan selama hampir setahun, surat-suratnya tetap berdatangan meski Uni tak pernah menulis sepotong pun.
Dan selama setahu memang segalanya terjadi.
Pierre datang lagi,  tanpa terduga.
+++++
“Bagaimana tunanganmu?” tiba-tiba suara Pierre memecahkan lamunannya.
“Kami sudah berpisah baik-baik.”
Pierre tampak terkejut. Tapi dia tidak mengomentari apa-apa. tampaknya dia sangat prihatin.
“Padahal aku berdoa siangg dan malam untuk kalian.”
Gracias. Terimakasih. Semoga Tuhan membalasnya,” Uni tersenyum tipis. “Bagaimana denganmu?”
“Aku masih yakin, kau menolakku.”
“Pierre, percintaan sejati tidak selamanya harus dilanjutkan dalam suatu ikatan perkawinan kan?”
“Aku tidak pernah menyesal mencintaimu.”
“Kukira begitu. Aku juga tidak pernah menyesal berkenalan denganmu, Pierre.”
Uni tiba-tiba ingin menangis. Tapi Pierre sudah memegang dagunya.
“Kita akan menjadi sahabat yang baik, yang mesra dan saling mencintai.” kata Pierre dengan tabah.
Uni hanya mengangguk. Lalu diteguknya minumannya.
Di bawah meja, ia meremas surat yang tak jadi diposkan. Surat itu untuk Pierre.
+++++



Dimuat dalam majalah kumcer Aneka, 1981

Tidak ada komentar:

Posting Komentar