Oleh: Kurniawan Junaedhie
WAKTU Uni masuk ke halaman kantor pos hendak
mencemplungkan sepucuk surat, ia mendengar namanya dipanggil orang. Ia hapal
sekali pada suara itu. Ia cepat menoleh ke arah suara yang menyapanya. Karena
hari masih siang, halaman kantor pos itu lenggang maka Uni cepat menemukan
figur yang berdiri kaku sekira sepuluh meter dari tempatnya berdiri.
“Pierre!” ia berteriak setelah ia tertegun
sedetik. Ia melihat laki-laki bertubuh jangung dan berambut pirang yang sudah
dikenalnya seperti dalam mimpi. Laki-laki itu mengenakan hem warna krem, dengan
kotak-kotak kecil dengan ukuran kebesaran. Ia tersenyum.
Sekejap mereka bertatapan.
“Apa khabar?” tanya laki-laki itu sambil
mengulur tangan.
“Bien!” jawab Uni agak kaku. Itulah salah satu
dari beberapa kata yang dikenalnya dan dihapalnya sejak berkenalan dengan
pemuda Perancis itu.
“Kau tambah cantik,” puji Pierre membuat Uni
tersipu-sipu.
“Bagaimana khabar abangmu? Masih suka membalap
di Ancol?”
Uni hampir tertawa karena Pierre masih
mengingatnya.
“Vraiment. Tentu saja. Dia akan rheumatik kalau
sehari tidak ngebut, Pierre!”
Pierre mengajaknya masuk ke kantin kantor pos
yang letaknya tak jauh dari situ. Mereka memesan dua gelas es jeruk.
“Aku hampir senewen karena kau tak pernah mau
membalas surat-suratku. Aku selalu berharap semuanya karena surat-suratku tak
pernah kauterima. Hilang di jalan.”
Uni menunduk.
“Sorri Pierre. Aku sangat sibuk. Kalau kau di
dekatku, kau akan tahu betapa….”
Pierre tersenyum manis.
“Oya, kau belum cerita kapan kau datang,
mengapa kau tidak mengabari bahwa kau akan datang,” Uni mencoba membelokkan
arah percakapan.
“Apakah penting bagimu?”
Uni tersentak. Pierre cepat memotong:
“Kalau kau tahu apa yang menjadi pikiranku, kau
tentu tidak akan bertanya begitu.”
“Kalu begitu aku minta maaf,” Uni menjawab dengan
kecewa. “Kukira kau mau menceritakan padaku tentang Le Pantheon atau Montmantre
seperti kartupos-kartupos yang kau kiri,” kata Uni.
+++++
UNI mengenalnya hampir tiga tahun yang lalu di
sebuah desa terpencil di Jawa Tengah. Ia sedang menjalani Kuliah Kerja Nyata
untuk meraih gelar sarjana ekonomi. Tak dianya, di desa itu ia berkenalan
dengan Pierre yang juga sedang belajar gamelan. Tadinya Uni menganggap pemuda
bule itu sangat angkuh. Tapi ketika suatu sore, ia singgah di pondok Uni, kesan
itu segera hilang. Ia sangat ramah dan galant sebagai mana layaknya orang
Perancis.
“Rumahmu menyenangkan,” katanya sambil melihat
kanan kiri.
Uni cepat memotong:
“Ini bukan rumahku. Kau jangan salah omong. Aku
sendiri di sini hanya mondok? Sesudah tiga bulan aku kembali ke kota.”
“Oya.” Dia tertawa ringan. Lalu mengagumi dua
gambar wayang di dinding.
“Itu ayah semangku yang menyukainya,” kata Uni.
Yang dimaksudkannya tentu saja, orang yang ditumpanginya selama KKN.
“Sebelah kiri Bimasena, sebelah kanannya
Saimaji.”
“Muy bien. Demi Tuhan,” katanya
cepat-cepat.
“Oya sejak tadi kau belum mengatakan apa-apa
yang bisa kubantu?” tanya Uni.
“Nom de Dieu. Demi Tuhan,” dia
tersentak. Lalu tertawa. “Aku hanya ingin berkenalan denganmu.”
Uni hampir memekik karena geli. Ternyata Pierre
pintar juga melucu. Tapi rupanya dia sangat serius.
“Tadi malam aku bermimpi. Dalam mimpiku aku
harus berkenalan dengan mahasiswi yang tinggal di samping rumahku tinggal.”
“Wah itu mistik,” Uni sekali lagi hampir
tertawa.
Pierre lekas sekali bersahabat. Sehingga dalam
waktu yang singkat. Uni sudah bisa mengetahui tabiatnya yang terbuka dan terus
terang. Setiap hari Minggu, ia datang mengajak Uni ke gereja di kota yang
paling dekat dengan desa itu.
“Kurasa aku menyukaimu,” kata Pierre suatu hari
sepulang dari gereja.
Uni menjawabnya sambil bercanda.
“Karena aku selalu menerima ajakanmu?”
“Ya. Kau memang sangat baik.”
“Tapi kau bisa kecewa. Karena aku tidak seperti
yang kau bayangkan,” kata Uni.
“Kau tahu aku menyukai figur siapa dalam
wayang?” tanya Pierre.
“Mana aku tahu? Tapi kau jangan pamerkan
kehebatanmu dalam wayang. Kau datang ke desa ini memang untuk memperdalam hal
itu. Aku kan tidak?”
“Tapi aku sungguh-sungguh,” dia berkata. “Aku
menyukai Dewi Wara Sumbadra.”
“Lalu?” Uni mengangkat dagunya ke atas.
“Dan kukira kau. Sumbadra dalam alam kehidupan
nyata ini.”
Uni hampir
tertawa terpingkal-pingkal mendengarnya.
“Kau jangan ngelantur. Ada-ada saja,” kata Uni.
“Sebaiknya lupakan saja wayangmu dan kau cerita tentang keluargamu di Perancis
sana. Sejauh ini aku belum pernah mendengar sepotong pun perihalmu.”
Dia tersenyum. Rasa tegangnya setelah diledek
Uni seolah-olah mencair.
Dia lalu bercerita mengenai keluarganya. Pierre
anak bungsu dari tiga bersaudara. Kedua kakaknya semuanya militer dan bekerja di
kedutaan sebagai atase militer. Hanya dia sendiri yang menyeleweng. Dia tidak
suka jadi militer tetapi mengikuti arus, menjadi seniman.
“Mereka barangkali bukan orang Perancis tulen
ya?” komentar Uni tentang kedua kakaknya.
“Ya.”
“Dan kau memang Perancis tulen ya?” goda Uni.
“Vraiment,” katanya senang.
Uni
langsung terpingkal-pingkal. Orang Perancis satu ini sngguh menggelikan,
pikirnya. Dia mengaku menyukai lukisan-lukisan Basuki Abdullah. Ia juga katanya
menyukai gudeg Yogya dan soto Betawi. Tentu saja, kata Uni, sebab dia belum
pernah mencicipi Coto Makasar atau soto Kudus.
Pierre tahu Uni sangat sinis terhadap
ucapan-ucapannya. Karrena itu, dia langsung tutup mulut. Waktu berpisah, dia
membungkuk seperti Napoleon dan mengucapkan lain waktu kita bertemu lagi.
+++++
HARI Minggu, Uni harus berangkat ke Balai Desa.
Ia harus menerangkan mengenai penggunaan alat kontrasepsi pada ibu-ibu di desa
itu. Minggu itu adalah minggu terakhir.
Sesudah itu KKN-nya akan berakhir. Pierre secara kebetulan juga akan mengakhiri
koatnya di desa itu.
Mereka bertemu di Balai Desa sesudah pertemuan
ibu-ibu selesai.
“Kebetulan kita berjumpa. Aku ingin mengucapkan
sesuatu,” kata Pierre.
“Mengucapkan apa, hm?” tanya Uni sambil
membereskan berkas-berkas di meja.
“Aku akan pamit.”
“Pulang?”
Pierre mengangguk.
“Besok aku ke Jakarta melapor ke kedutaan.
Sesudah itu aku akan pulang ke Perancis.”
Uni tak segera menjawab. Dipandangnya mata biru
Pierre. Tiba-tiba ia merasa terharu. Karena itu ketika Pierre mengatakan akan
menjemputnya nanti sore untuk mempir di rumahnya, Uni langsung mengangguk.
Rumah tempat Pierre mondok lumayan besarnya.
Meski tidak mewah tetapi cukup lumayan. di halaman depan bertengger dua buah
tiang bambu yang ditempati sangkar burung. Tapi ketika Uni masuk ke ruang tamu,
ia merasa kaget. Di dinding ia melihat wajah dirinya dalam sebuah lukisan
besar. Pierre segera menyadari keterkejutan Uni.
“Aku yang melukisnya,” katanya gugup. “Kau
marah?”
Uni cepat-cepat menggeleng.
“Sebaliknya. Sungguh bagus. Lebih cantik dari
aselinya,” katanya dengan senyum yang sumbang. Sambil begitu, ia sungguh heran
darimana Pierre mendapat contoh untuk lukisan itu?
Pierre menyedu minuman.
Tapi Uni merasa tiba-tiba sesuatu melintas di
kepalanya. Sesuatu yang ganjil dan tidak semestinya. Karena itu ia tidak jadi
duduk untuk mengamati-amati lukisan itu dari jauh. Didekatinya Pierre.
“Pierre, apa maksudmu dengan lukisan itu?”
tanyanya dengan marah.
“Kurasa kau tahu jawabnya,” kata Pierre agak
gemetar. Ia terus membuat minuman tanpa perasaan bersalah.
“Apa?” tanya Uni kurang sabar.
“Aku mencintaimu.”
Uni terperanjat.
“Tidak. Itu tidak baik untuk kita.”
“Kenapa?” Pierre menghentikan kegiatannya.
“Aku sudah punya tunangan. Kukira kau tidak
seharusnya begitu. Dia sekarang sedang menungguku. Dan Pierre, aku tidak ingin
menghianatinya!”
Pierre tersenyum tipis. Padahal seharusnya ia
terkejut.
“Mungkin aku memang sia-sia,” katanya seperti
pada dirinya sendiri.
“Sebaiknya memang,” jawab Uni.
“Kau percaya bahwa aku sangat kecewa?” tanya
Pierre menatap lurus-lurus wajah Uni.
“Kau tidak pernah memberiku kesempatan
berpikir,” kata Uni.
“Ah, tapi itu tidak apa-apa. kukira sebaiknya
memang begitu. Kau tetap setia pada tunanganmu. Aku tak ingin kau menjadi
berantakan karena aku. Kau setuju?” Pierre tersenyum tulus.
Uni menunduk.
“Percintaan sejati tidak selamanya harus
diharus dilanjutkan dalam suatu ikatan perkawinan kan?”
“O tidak. Kau sangat baik, Pierre. Aku
menyesal,” kata Uni. Lalu ia merasakan betapa pipinya menjadi hangat karena
airmatanya.
Pierre pura-pura tidak melihat. Sekarang
minuman yang dibuatnya sudah selesai. Dan ia membawanya sendiri ke meja.
“Jangan menangis,” katanya. “Ayo minum.”
Uni duduk dan menerima minumannya.
“Besok aku akan pulang. Dan aku merasa bahagia
pernah mengenalmu,” kata Pierre. Uni tak menjawab hanya menyeka airmatanya.
“Kau tak mengharap kita akan bertemu lagi?”
“Entahlah,” jawab Uni. “Tapi kau boleh
menyuratiku.”s
Ketika Pierre menanyakan apakah lukisan itu
akan disimpan Uni, Uni menjawab:
“Tidak. Kalau kau suka, bawalah ke negerimu.
Aku tokh tak dapat memberimu apa-apa, Pierre. Kecuali…..” Uni mencoba tersenyum
meski sangat tawar. “Sudilah kau mau engenangku dengan potert diriku itu.”
“Tentu saja.”
Uni tidak bisa mengantarkannya ke kota. Tapi di
rumah pondokannya Uni sempat membayangkan bahwa Pierre sedang naik bus ke kota,
lalu disambung dengan kereta apii dan esoknya dia akan terbang menuju tanah
tumpah darahnya.
Selang beberapa hari, surat Pierre datang. Dia
sudah tiba di Paris. Uni tidak berminat membalasnya. Apalagi sesuah ia kembali
ke kota. Ia sangat sibuk menyelesaikan skripsi. Beberapa pucuk surat Pierre
tetap berdatangan. Uni tak membalasnya sekali pun. Dan selama hampir setahun,
surat-suratnya tetap berdatangan meski Uni tak pernah menulis sepotong pun.
Dan selama setahu memang segalanya terjadi.
Pierre datang lagi, tanpa terduga.
+++++
“Bagaimana tunanganmu?” tiba-tiba suara Pierre
memecahkan lamunannya.
“Kami sudah berpisah baik-baik.”
Pierre tampak terkejut. Tapi dia tidak
mengomentari apa-apa. tampaknya dia sangat prihatin.
“Padahal aku berdoa siangg dan malam untuk
kalian.”
“Gracias. Terimakasih. Semoga Tuhan
membalasnya,” Uni tersenyum tipis. “Bagaimana denganmu?”
“Aku masih yakin, kau menolakku.”
“Pierre, percintaan sejati tidak selamanya
harus dilanjutkan dalam suatu ikatan perkawinan kan?”
“Aku tidak pernah menyesal mencintaimu.”
“Kukira begitu. Aku juga tidak pernah menyesal
berkenalan denganmu, Pierre.”
Uni tiba-tiba ingin menangis. Tapi Pierre sudah
memegang dagunya.
“Kita akan menjadi sahabat yang baik, yang mesra
dan saling mencintai.” kata Pierre dengan tabah.
Uni hanya mengangguk. Lalu diteguknya
minumannya.
Di bawah meja, ia meremas surat yang tak jadi
diposkan. Surat itu untuk Pierre.
+++++
Dimuat dalam majalah kumcer Aneka, 1981
Tidak ada komentar:
Posting Komentar