11 September 2012

HUJAN KEPAGIAN

Oleh: Kurniawan Junaedhie

Misa jatuh jam empat seperempat. Marcel melirik arlojinya. Suasana di halaman gereja masih lengang. Baru satu dua pengunjung yang datang. Dua minggu ini, Marcel datang lebih pagi. Pengunjung gereja sore memang dikenal banyak cewek-ceweknya, dan Marcel tidak suka membiarkan kesempatan baik seperti itu berlalu.
Ketika itulah dia melihat seorang gadis berdiri sendirian, tepat di bawah pohon sawo, dekat patung Bunda Maria. Roknya terusan. Penuh dengan kembang-kembang kecil. Rambutnya dikepang dua. Sekejap saja, Marcel sudah berdiri di sampingnya seraya berdehem-dehem.
“Sore yang cerah,” katanya dengan lagak dekalamasi sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam jaketnya.
Si gadis tak mengacuhkannya. Marcel menjadi kecewa. Tapi ia masih mencoba untuk menggodanya sekali lagi.
“Andainya hujan turun detik ini ya?” kata Marcel sambil menengadah ke udara. Lalu diliriknya gadis yang berdiri di sampingnya. Masih juga belum bereaksi. Karena itu Marcel geleng-geleng kepala.
“Hujan memang tak pernah membiarkan burung-burung kecil berkicau. Tapi bukankah nona mau bersuara andaipun hujan turun lebat detik ini?”
Si gadis bergeming pun tidak. Marcel mulai penasaran. Tak pernah rasanya selama kariernya sebagai pemburu wanita menjadi konyol seperti ini.
Diperhatikannya seluruh liku-liku profilnya. Hidung bangir, pipi mulus, mata bulat dan sepasang alis mata yang menarik. Sejumlah bintik-bintik jerawat kecil pun samar-samar tampak di atas pipinya. Di tangannya, gadis itu meremas sebuah saputangan. Marcel pun baru sadar, bahwa dia sedang berdekatan dengan seorang makhluk yang sedang bersedih hati. Kenapa tidak melihat dari semula?
Tapi karena itu, Marcel lalu berjanji tidak akan kurang ajar lagi.
“Kau tampaknya sedang bersedih hati?” bisik Marcel.
Gadis itu menoleh. Tapi secepat itu pula, ia bersikap seperti sediakala. Menatap ke depan dengan pandangan kosong. Ia kelihatan memang sangat sedih.
“Nona tidak bisu kan?” tanya Marcel hati-hati.
Gadis itu menatapnya, lalu menggeleng-geleng. Yesus Kristus: Dari kelopak matanya yang bagus itu, tiba-tiba berguliran tetes-tetes airmata.
“Nona...., kata Marcel. Kini ia gemetar. Si gadis malah tersedu-sedu. Ia menenggelamkan isak tangisnya ke dalam saputangannya. Marcel benar-benar tak tahu apa yang harus diperbuat.
“Kau bisa menolongku?” tanya gadis itu tiba-tiba.
“Ya pasti,” sahut Marcel cepat, seakan tak berdaya.
“Kalau kau bersedia, bisa kuantar,” jawab Marcel agak gugup. Ia merasa heran, kanapa ia bisa bisa berhadapan dengan gadis yang aneh sore ini, dan jadi gemetar.
Marcel menunggu kelanjutannya, tapi gadis itu terisak. Saputangannya beberapa kali menyusut airmata yang tumpah di pipinya.
“Aku ingin menemui Pater,” Ia berkata lagi dengan suara gemetar. “Katakan padaku, apakah Pater mau menerima aku?”
“tentu. Pater kan milik semua umat?” Marcel menjawab dengan salah tingkah.
“Aku.....ah. aku.....?”
Marcel menggenggam tangannya. Ia sangat heran, kenapa tiba-tiba ia merasa begitu dekat dengan gadis aneh ini.
“Katakan nona, aku bersedia membantumu,” bisik Marcel.
Untuk kesekian kalinya Marcel mengamat-amati seluruh liku-liku profinya. Hidungnya bangir, pipi mulus, sepasang mata yang bagus dan sejumlah bintik-bintik kecil yang tampak samar-samar di atas pipinya. Dan pucat karena kebanyakan menangis.
“Nona.....,” sapa Marcel lagi masih hati-hati. “Kalau aku boleh menduga, kau pasti tengah memikul beban yang sangat berat.”
Gadis itu tak menjawab, kecuali mengencangkan isaknya.
Marcel merapikan jaketnya dengan kikuk.
“Apa yang bisa kubantu, Nona?”
“Aku akan membunuh diri,” katanya setengah histeris sambil mulai isaknya lagi.
Marcel terkejut. Rasa-rasanya sekujur tubuhnya menjadi gemetar. Sedikitpun tak terbayangkan bahwa dari bibir mungil itu akan mengeluarkan kata-kata sedahsyat itu.
“Aku merasa sia-sia dalam hidup ini,” katanya lagi, sebelum Marcel sempat berkata-kata.
Marcel memegang tangannya sambil tersenyum lembut yang dibuat-buat.
“O, kau pasti sedang bermain-main,” katanya. Ia berharap jika pertanyaannya tepat, itu akan mengurangi rasa keterkejutannya. Tapi gadis itu meronta.
“Tidak, aku sungguh-sungguh!”
Marcel meinding.
“Kalau begitu aku minta maaf Nona,” kata Marcel dengan sikap takzim. Marcel memegang bahunya supaya gadis itu tidak terlalu emosional.
“Aku tahu ini memang tidak sepantasnya,” katanya masih dengan isaknya. “Tapi aku tidak tahan menyimpannya. Apakah kau mau mendengarkan ceritaku?”
Marcel cepat mengangguk.
Dengan susah payah gadis itu mencoba menguasai dirinya. Lalu dengan berhati-hati ia mulai bercerita:
“Setengah tahun yang lalu aku berkenalan dengan seorang pemuda. Dia sangat baik dan budiman.....Oh, kau mau berjanji mendengar ceritaku kan?” tanyanya sedikit ragu. Secepat kilat Marcel mengangguk.
Gadis itu menyusutkan airmatanya lagi.
“Ya.....kami saling mencintai. Ah tidak. Barangkali dia main-main. Tapi aku sungguh-sungguh mencintai. Tahukah engkau bagaimana seseorang yang mencintai?”
Marcel mengangguk-anggukkan kepalanya.
Gadis itu mulai tersedu-sedu lagi.
“Tahukah engkau apa yang kemudian terjadi? Dia meminta milikku yang paling berharga. Tentu saja kutolak. Aku sangat marah. Tapi dia mengatakan, dia segera mengawiniku bila saatnya tiba. Jadi, kau bisa memaklumi kan?” dia terisak-isak lagi.
“Dan semuanya terjadi. Aku hamil. Dan dia tidak bertanggung jawab atas benih yang tumbuh dalam rahimku. Itulah. Itulah yang meluluhlantakkan harapanku. Dia kabur entah kemana.....”
Kini dia tersedu-sedu. Bahkan histeris. Marcel merebut saputangan dari tangannya dan mengusapkannya ke pipinya yang basah. Untuk sekejap, Marcel ikut terharu. Rasa-rasanya ia menjadi larut ke dalam kesedihan yang tiba-tiba menyerbu itu.
Belum sempat berbuat apa-apa, si gadis melepaskan genggaman tangan Marcel. Sia-sia Marcel menahannya. Gadis itu berlari-lari kecil ke gerbang dan menaiki sebuah becak yang berkumpul di halaman gereja.
“Kau tidak jadi menemui Pater?”
“Tidak. Aku harus pulang!”
Sejak itu Marcel tidak pernah lagi menjumpai gadis itu. Ia menghilang begitu saja meski Marcel sudah menunggu pada jam-jam misa pagi maupun sore. Tapi memang ia kelihatannya sudah tak pernah lagi ke gereja.
Baru pada suatu hari, ketika Marcel sedang membeli buku di toko buku buku, ia melihat gadis itu. Amsih seperti dulu. Rambutnya, matanya, pipinya, yang samar-samar ditumbuhi jerawat kecil. Bedanya, perutnya sedikit menggelembung. Ia juga sedang menyimak buku. Tadinya Marcel agak ragu-ragu untuk menegurnya, tapi ia tokh mendekati.
“Nona.....” sapanya.
Gadis itu menoleh kaget, ketika tahu itu Marcel.
“Nona.....,”
Dia tampak ragu-ragu untuk mengatakan sesuatu.
Marcel bisa mengerti, karenanya katanya:
“Sungguh tak terkira, kita bisa bertemu lagi di sini.”
Gadis itu mengangguk-angguk.
“Kau mau melupakan saja apa yang pernah kuceritakan padamu?” kata gadis itu lirih seperti takut didengar pengunjung toko yang lain.
“Sudah lama aku mencarimu,” kata Marcel tak peduli.
“Lupakan semuanya, kuminta.”
“Kali ini aku yang minta tolong padamu,” sambungnya. “kau bisa datang ke rumahku minggu depan?”
Gadis itu membelalakkan matanya. Rupanya ia sangat tersinggung dengan ajakan Marcel. Secepat kilat diletakkannya buku, dan menyeruak hendak keluar.
“Nona aku bicara serius,” Marcel memgang pundaknya, persis berhadapan.
Dia melotot, tapi Marcel mencoba tersenyum.
“Aku akan menikah minggu depan!” kata Marcel dengan seluruh perasaan.
Meskipun gadis itu seolah tak peduli, Marcel tetap mencoba tersenyum.
“Aku berhutang budi padamu,” katanya. “Sejak aku bertemu denganmu di halaman gereja itu, aku merasa menyesal. Tertanya Nona, tak seorangpun di dunia ini yang tidak pernah menyesal.”
Gadis itu menatap Marcel dengan terpesona.
“Waktu itu membuntingi pacarku,” kata Marcel. “Tadinya aku tak mau bertanggung jawab. Aku merasa itu suatu yang berat. Tanggung jawab yang terasa sangat berat. Aku merasa tak seharusnya menerima beban ini. kau tahu maksudku?” Marcel tersenyum untuk kesekian kalinya.
“Tapi itu dulu. Kini aku telah insyaf. Aku sudah sadar. Ternyata aku tak begitu mengenal hati wanita seperti yang tadinya kuduga. Dan waktu mendengar kisahmu, kau tahu Nona, hatiku merasa tergores. Kau telah berhasil mengutarakan sesuatu secara tepat sekali. Lalu aku ingin mengubah sikap kepengecutanku. Nah Nona, kau harus senang mendengar khabar ini,” kata Marcel seakan memaksa.
“Tentu saja. Kau pemuda yang baik dan pacarmu seorang gadis yang beruntung,” sahut si gadis.
Marcel mengerutkan dahi. Suara gadis itu, menyebabkan ia teringat sesuatu.
“Nona, bagaimana kelanjutan kisahmu?”
Gadis itu menunduk.
Marcel membimbingnya untuk duduk di bangku yang terletak di sudut toko buku itu.
“Aku akan melahirkan anakku, dua bulan mendatang,” katanya tanpa emosi. “Mudah-mudahan pada suatu hari nanti, ayah anakku ini, juga akan mengikuti jejakmu menjadi pria yang budiman dan bertanggung jawab. Entah kapan. Tapi aku tak ingin membunuh kenangan-kenangan manis yang paling berarti dalam hidupku.”
Gadis itu tampak tersenyum.
“Nona,” kata Marcel. Digenggamnya kedua tangan di gadis, dan ia merasa nyaman sekarang. “Kau seorang wanita yang budiman.”
+++++

Dimuat di majalah Pesona, 1982

Tidak ada komentar:

Posting Komentar