Oleh: Kurniawan Junaedhie
Misa jatuh jam empat seperempat. Marcel melirik arlojinya.
Suasana di halaman gereja masih lengang. Baru satu dua pengunjung yang datang.
Dua minggu ini, Marcel datang lebih pagi. Pengunjung gereja sore memang dikenal
banyak cewek-ceweknya, dan Marcel tidak suka membiarkan kesempatan baik seperti
itu berlalu.
Ketika itulah dia melihat seorang gadis berdiri
sendirian, tepat di bawah pohon sawo, dekat patung Bunda Maria. Roknya terusan.
Penuh dengan kembang-kembang kecil. Rambutnya dikepang dua. Sekejap saja,
Marcel sudah berdiri di sampingnya seraya berdehem-dehem.
“Sore yang cerah,” katanya dengan lagak dekalamasi sambil
memasukkan kedua tangannya ke dalam jaketnya.
Si gadis tak mengacuhkannya. Marcel menjadi kecewa. Tapi
ia masih mencoba untuk menggodanya sekali lagi.
“Andainya hujan turun detik ini ya?” kata Marcel sambil
menengadah ke udara. Lalu diliriknya gadis yang berdiri di sampingnya. Masih
juga belum bereaksi. Karena itu Marcel geleng-geleng kepala.
“Hujan memang tak pernah membiarkan burung-burung kecil
berkicau. Tapi bukankah nona mau bersuara andaipun hujan turun lebat detik
ini?”
Si gadis bergeming pun tidak. Marcel mulai penasaran. Tak
pernah rasanya selama kariernya sebagai pemburu wanita menjadi konyol seperti
ini.
Diperhatikannya seluruh liku-liku profilnya. Hidung
bangir, pipi mulus, mata bulat dan sepasang alis mata yang menarik. Sejumlah
bintik-bintik jerawat kecil pun samar-samar tampak di atas pipinya. Di
tangannya, gadis itu meremas sebuah saputangan. Marcel pun baru sadar, bahwa
dia sedang berdekatan dengan seorang makhluk yang sedang bersedih hati. Kenapa
tidak melihat dari semula?
Tapi karena itu, Marcel lalu berjanji tidak akan kurang
ajar lagi.
“Kau tampaknya sedang bersedih hati?” bisik Marcel.
Gadis itu menoleh. Tapi secepat itu pula, ia bersikap
seperti sediakala. Menatap ke depan dengan pandangan kosong. Ia kelihatan
memang sangat sedih.
“Nona tidak bisu kan?” tanya Marcel hati-hati.
Gadis itu menatapnya, lalu menggeleng-geleng. Yesus
Kristus: Dari kelopak matanya yang bagus itu, tiba-tiba berguliran tetes-tetes
airmata.
“Nona...., kata Marcel. Kini ia gemetar. Si gadis malah
tersedu-sedu. Ia menenggelamkan isak tangisnya ke dalam saputangannya. Marcel
benar-benar tak tahu apa yang harus diperbuat.
“Kau bisa menolongku?” tanya gadis itu tiba-tiba.
“Ya pasti,” sahut Marcel cepat, seakan tak berdaya.
“Kalau kau bersedia, bisa kuantar,” jawab Marcel agak
gugup. Ia merasa heran, kanapa ia bisa bisa berhadapan dengan gadis yang aneh
sore ini, dan jadi gemetar.
Marcel menunggu kelanjutannya, tapi gadis itu terisak.
Saputangannya beberapa kali menyusut airmata yang tumpah di pipinya.
“Aku ingin menemui Pater,” Ia berkata lagi dengan suara
gemetar. “Katakan padaku, apakah Pater mau menerima aku?”
“tentu. Pater kan milik semua umat?” Marcel menjawab
dengan salah tingkah.
“Aku.....ah. aku.....?”
Marcel menggenggam tangannya. Ia sangat heran, kenapa
tiba-tiba ia merasa begitu dekat dengan gadis aneh ini.
“Katakan nona, aku bersedia membantumu,” bisik Marcel.
Untuk kesekian kalinya Marcel mengamat-amati seluruh
liku-liku profinya. Hidungnya bangir, pipi mulus, sepasang mata yang bagus dan
sejumlah bintik-bintik kecil yang tampak samar-samar di atas pipinya. Dan pucat
karena kebanyakan menangis.
“Nona.....,” sapa Marcel lagi masih hati-hati. “Kalau aku
boleh menduga, kau pasti tengah memikul beban yang sangat berat.”
Gadis itu tak menjawab, kecuali mengencangkan isaknya.
Marcel merapikan jaketnya dengan kikuk.
“Apa yang bisa kubantu, Nona?”
“Aku akan membunuh diri,” katanya setengah histeris
sambil mulai isaknya lagi.
Marcel terkejut. Rasa-rasanya sekujur tubuhnya menjadi
gemetar. Sedikitpun tak terbayangkan bahwa dari bibir mungil itu akan
mengeluarkan kata-kata sedahsyat itu.
“Aku merasa sia-sia dalam hidup ini,” katanya lagi,
sebelum Marcel sempat berkata-kata.
Marcel memegang tangannya sambil tersenyum lembut yang
dibuat-buat.
“O, kau pasti sedang bermain-main,” katanya. Ia berharap
jika pertanyaannya tepat, itu akan mengurangi rasa keterkejutannya. Tapi gadis
itu meronta.
“Tidak, aku sungguh-sungguh!”
Marcel meinding.
“Kalau begitu aku minta maaf Nona,” kata Marcel dengan
sikap takzim. Marcel memegang bahunya supaya gadis itu tidak terlalu emosional.
“Aku tahu ini memang tidak sepantasnya,” katanya masih
dengan isaknya. “Tapi aku tidak tahan menyimpannya. Apakah kau mau mendengarkan
ceritaku?”
Marcel cepat mengangguk.
Dengan susah payah gadis itu mencoba menguasai dirinya.
Lalu dengan berhati-hati ia mulai bercerita:
“Setengah tahun yang lalu aku berkenalan dengan seorang
pemuda. Dia sangat baik dan budiman.....Oh, kau mau berjanji mendengar ceritaku
kan?” tanyanya sedikit ragu. Secepat kilat Marcel mengangguk.
Gadis itu menyusutkan airmatanya lagi.
“Ya.....kami saling mencintai. Ah tidak. Barangkali dia
main-main. Tapi aku sungguh-sungguh mencintai. Tahukah engkau bagaimana
seseorang yang mencintai?”
Marcel mengangguk-anggukkan kepalanya.
Gadis itu mulai tersedu-sedu lagi.
“Tahukah engkau apa yang kemudian terjadi? Dia meminta
milikku yang paling berharga. Tentu saja kutolak. Aku sangat marah. Tapi dia
mengatakan, dia segera mengawiniku bila saatnya tiba. Jadi, kau bisa memaklumi
kan?” dia terisak-isak lagi.
“Dan semuanya terjadi. Aku hamil. Dan dia tidak
bertanggung jawab atas benih yang tumbuh dalam rahimku. Itulah. Itulah yang
meluluhlantakkan harapanku. Dia kabur entah kemana.....”
Kini dia tersedu-sedu. Bahkan histeris. Marcel merebut
saputangan dari tangannya dan mengusapkannya ke pipinya yang basah. Untuk
sekejap, Marcel ikut terharu. Rasa-rasanya ia menjadi larut ke dalam kesedihan
yang tiba-tiba menyerbu itu.
Belum sempat berbuat apa-apa, si gadis melepaskan
genggaman tangan Marcel. Sia-sia Marcel menahannya. Gadis itu berlari-lari
kecil ke gerbang dan menaiki sebuah becak yang berkumpul di halaman gereja.
“Kau tidak jadi menemui Pater?”
“Tidak. Aku harus pulang!”
Sejak itu Marcel tidak pernah lagi menjumpai gadis itu.
Ia menghilang begitu saja meski Marcel sudah menunggu pada jam-jam misa pagi
maupun sore. Tapi memang ia kelihatannya sudah tak pernah lagi ke gereja.
Baru pada suatu hari, ketika Marcel sedang membeli buku
di toko buku buku, ia melihat gadis itu. Amsih seperti dulu. Rambutnya,
matanya, pipinya, yang samar-samar ditumbuhi jerawat kecil. Bedanya, perutnya
sedikit menggelembung. Ia juga sedang menyimak buku. Tadinya Marcel agak
ragu-ragu untuk menegurnya, tapi ia tokh mendekati.
“Nona.....” sapanya.
Gadis itu menoleh kaget, ketika tahu itu Marcel.
“Nona.....,”
Dia tampak ragu-ragu untuk mengatakan sesuatu.
Marcel bisa mengerti, karenanya katanya:
“Sungguh tak terkira, kita bisa bertemu lagi di sini.”
Gadis itu mengangguk-angguk.
“Kau mau melupakan saja apa yang pernah kuceritakan
padamu?” kata gadis itu lirih seperti takut didengar pengunjung toko yang lain.
“Sudah lama aku mencarimu,” kata Marcel tak peduli.
“Lupakan semuanya, kuminta.”
“Kali ini aku yang minta tolong padamu,” sambungnya. “kau
bisa datang ke rumahku minggu depan?”
Gadis itu membelalakkan matanya. Rupanya ia sangat
tersinggung dengan ajakan Marcel. Secepat kilat diletakkannya buku, dan
menyeruak hendak keluar.
“Nona aku bicara serius,” Marcel memgang pundaknya, persis
berhadapan.
Dia melotot, tapi Marcel mencoba tersenyum.
“Aku akan menikah minggu depan!” kata Marcel dengan
seluruh perasaan.
Meskipun gadis itu seolah tak peduli, Marcel tetap
mencoba tersenyum.
“Aku berhutang budi padamu,” katanya. “Sejak aku bertemu denganmu
di halaman gereja itu, aku merasa menyesal. Tertanya Nona, tak seorangpun di
dunia ini yang tidak pernah menyesal.”
Gadis itu menatap Marcel dengan terpesona.
“Waktu itu membuntingi pacarku,” kata Marcel. “Tadinya
aku tak mau bertanggung jawab. Aku merasa itu suatu yang berat. Tanggung jawab
yang terasa sangat berat. Aku merasa tak seharusnya menerima beban ini. kau
tahu maksudku?” Marcel tersenyum untuk kesekian kalinya.
“Tapi itu dulu. Kini aku telah insyaf. Aku sudah sadar.
Ternyata aku tak begitu mengenal hati wanita seperti yang tadinya kuduga. Dan
waktu mendengar kisahmu, kau tahu Nona, hatiku merasa tergores. Kau telah
berhasil mengutarakan sesuatu secara tepat sekali. Lalu aku ingin mengubah
sikap kepengecutanku. Nah Nona, kau harus senang mendengar khabar ini,” kata
Marcel seakan memaksa.
“Tentu saja. Kau pemuda yang baik dan pacarmu seorang
gadis yang beruntung,” sahut si gadis.
Marcel mengerutkan dahi. Suara gadis itu, menyebabkan ia
teringat sesuatu.
“Nona, bagaimana kelanjutan kisahmu?”
Gadis itu menunduk.
Marcel membimbingnya untuk duduk di bangku yang terletak
di sudut toko buku itu.
“Aku akan melahirkan anakku, dua bulan mendatang,”
katanya tanpa emosi. “Mudah-mudahan pada suatu hari nanti, ayah anakku ini,
juga akan mengikuti jejakmu menjadi pria yang budiman dan bertanggung jawab.
Entah kapan. Tapi aku tak ingin membunuh kenangan-kenangan manis yang paling
berarti dalam hidupku.”
Gadis itu tampak tersenyum.
“Nona,” kata Marcel. Digenggamnya kedua tangan di gadis,
dan ia merasa nyaman sekarang. “Kau seorang wanita yang budiman.”
+++++
Dimuat di majalah Pesona, 1982
Tidak ada komentar:
Posting Komentar