11 Mei 2009

Pikirkan Juga Dampaknya

PIKIRKAN JUGA DAMPAKNYA

Dear Journalist,

"Kata-kata lisan atau tulisan yang paling menyedihkan adalah kata-kata yang tidak Anda pikir ketika itu." Itulah ucapan Betty Billipp yang segera terngiang ketika kami menulis surat ini.

Taruhlah, Anda telah mempertimbangkan masak-masak dalam hal mengumpulkan data, juga telah mempertimbangkan baik-baik dalam hal bagaimana menuliskan yang benar sampai ke titik-koma. Bahkan mungkin Anda juga telah mempertimbangkan masak-masak ketika mempublikasikannya. Apakah berarti berita Anda sudah aman?

Anda tentu masih ingat kasus Monitor pada tahun 1990 lalu ketika menyiarkan hasil angket pembacanya, yang mencantumkan Nabi Muhammad SAW di peringkat ketiga. Menurut redaksinya, berita itu aman untuk disiarkan karena sudah memenuhi kaidah jurnalistik. Tapi lihatlah, dampaknya.

Pada tahun 1993, sebuah majalah melansir hasil penelitian yang menemukan bahwa banyak wanita Indonesia memiliki PIL (Pria Idaman Lain). Penelitian itu tentu saja sahih secara akademik karena dilakukan seorang pakai psikologi, dan aman dipandang dari segi jurnalistik, terutama karena berdasarkan fakta dan teori-teori ilmu psikologi. Tapi apa hasilnya ? Menteri Uurusan Peranan Wanita Mien Sugandhi dan Dekan Fakultas Psikologi UI Dr. Yaumil Akhir bereaksi keras.

Memang tak selalu berakibat buruk. Tapi tak ada jeleknya Anda memperhatikan hal ini, terutama jika tulisan menyangkut kelompok (wanita, pria, atau bencong), golongan, agama, atau etnis.

Ingatlah selalu, kami terdiri dari sekumpulan orang yang punya tingkat pengalaman, pandangan, pemahaman, kepentingan dan perasaan berbeda-beda dalam menangkap sebuah informasi.

Salam kompak,
Khalayak Anda