Dear Journalist,
Dalam surat kami terdahulu, kami pernah mengutip ucapan Betty Billip, "Kata-kata lisan atau tulisan yang paling menyedihkan adalah kata-kata yang tidak Anda pikir ketika itu." Hal ini menjadi serius karena alat komunikasi Anda adalah kata-kata. Itu sebabnya, sebagai wartawan Anda selalu disarankan untuk tak henti-henti memperkaya kosa kata Anda. Karena semakin kaya kosa kata Anda, semakin mudah dan efektif pula Anda menyampaikan gagasan atau pesan Anda.
"Orang yang menguasai kata-kata akan memilih secara jitu kata-kata yang paling harmonis untuk mewakili gagasan dan maksudnya," begitu kata pakar. Sehingga Anda mestinya tahu kapan seharusnya menggunakan kata intip, dan kapan menggunakan kata intai, meskipun kata-kata itu bersinonim. Hahaha... kita pasti akan sakit perut dibuatnya jika membaca tulisan: "Si Badu mengintai orang mandi", dan "para gerilyawan kita mengintip kubu musuh."
Oya, di samping itu, disarankan pula agar Anda selalu mempertimbangkan apakah kata-kata yang menurut Anda sudah tepat itu dapat diterima oleh khalayak Anda yang terdiri dari berbagai usia, latar belakang pendidikan, ekonomi dan asal usul ini, yang kadang juga diiikat oleh berbagai norma menghendaki agar kata yang Anda pilih juga harus cocok dan serasi dengan norma-norma mereka. Itu sebabnya sebaiknya Anda selalu menggunakan kata wafat, mangkat, berpulang atau tutup usia jika ada seorang tokoh yang meninggal dunia, dan bukan menggunakan kata tewas atau mati. Mungkin pengertiannya sama saja, yaitu "peristiwa di mana jiwa seseorang telah meninggalkan badannya". Namun kata-kata yang pertama terasa mengandung konotasi tertentu yang lebih sopan.
Sampai di sini izinkanlah kami --sori-- mengingatkan Anda kembali, bahwa kata-kata memiliki makna denotatif dan konotatif. Kata-kata yang bersifat denotatif adalah kata-kata yang tidak memiliki arti dan perasaan tambahan atau bebas interpretasi. Sedang kata-kata disebut bersifat konotatif jika kata-kata itu memikiki arti dan perasaan tambahan atau bisa diinterpretasikan. Itu menurut Gorys Keraf, dalam bukunya, "Diksi dan Gaya Bahasa". Dari sini bisa kita pahami mengapa seharusnya Anda selalu mempertimbangkan baik-baik kata-kata atau istilah-istilah tertentu yang hendak Anda gunakan.
Kata demokrasi atau kerakyatan bagi seorang penganut ajaran komunis, akan berbeda pengertiannya dengan penafsiran seorang penganut ajaran liberal. Demikian juga, istilah liberal akan memiliki makna berbeda, bagi orang Amerika maupun bagi kita. Kata kiri dan kanan ternyata juga tak hanya berarti tempat atau arah, tapi terkadang punya arti tertentu. Kata domba, alkitab atau anak Allah, bagi penganut Kristiani tentu akan punya makna tersendiri, demikian juga kata umat atau Allah, bagi kaum muslimin. Karena itu jangan pandang enteng dalam soal kata-kata ini. Sebab jika Anda menggunakan kata yang menurut Anda benar dan tepat tapi menurut sebagian dari kami punya makna tertentu, yang terjadi adalah kesalahpahaman dan konflik. Dan hal itu kadang juga berakibat serius.
Karena itu menurut hemat kami, sebagai wartawan, Anda tetap kami sarankan untuk tetap memilih kata dan menggunakan kata yang bersifat denotatif, atau yang bebas dari penafsiran. Dengan memilih kata yang lebih netral dan bisa diterima oleh semua orang, Anda tidak membuat kami tenteram tapi kami senang membacanya. Selalu ingat, kami terdiri dari berbagai usia, latar belakang pendidikan, ekonomi dan asal usul.
Salam kompak selalu
Khalayak Anda