12 Mei 2009

Hanny Tak Egois Lagi

Oleh: Kurniawan Junaedhie

Menyebalkan, keluh Hanny. Dengan kesal ia masuk ke dalam kamar kostnya. Surat dari Endro datang untuk ke sekian kali.

Tak akan membuat ia menjadi lintang-pukang seperti ini kalau surat dari mahasiswa Publisistik itu tidak keterlaluan. Kemarin dulu, tante kostnya yang menyampaikan surat itu, ketika ia sedang sedih-sedihnya karena beberapa mata kuliahnya harus diuji ulang. Itu pun dengan nada menyindir: “Dari pacarmu nih!”

Kalau bukan tante kost yang mengatakan, tentu Hanny sudah menamparnya. Tapi memang Endrolah biang keladinya. Kalau Endro tidak menulis surat bertubi-tubi mana mungkin tante kost akan menyudutkan begitu? Pernah, ia hampir menghentikan lalu lintas korespondensi itu. Surat Endo yang terakhir diterimanya, maunya tidak akan dibalasnya. Lalu dengan cara itu ia berharap hubungan bubar.

Tapi tiba-tiba saja, niat yang hebat itu surut. Bagaimana kalau Endro cowok yang penuh perhatian dengan nasehat-nasehat yang brilliant itu marah? Bagaimana kalau hubungan mereka putus begitu saja dengan kesan tidak terpuji? Bagaimana kalau Endro menuduhnya sebagai cewek sombong, angkuh, sok, dan lain-lain padahal ia paling alergi disebut cewek begituan? Tidak pusing kalau hanya itu. Tapi kalau Endro yang memang ngebet itu lalu broken heart, dan kemudian bunuh diri, nyemplung ke sumur atau nabrak bus kota, bagaimana? Itu ejekan Renny, adik Hanny yang baru duduk di kelas dua SMP. Tapi yang paling sulit dibantah adalah dorongan ayahnya, yang seolah-olah memberi support atas korespondensi gila-gilaan ini.

“Sekedar menjaga perasaan, apa salahnya?” kata ayahnya.

Itulah yang membuat Hanny kemudian meneruskan hubungan. Tentu saja dengan perasaan ngeri dan hati-hati. Untuk surat-surat balasan, Hanny menuliskan betul-betul dengan wajar-wajar saja.

Malah boleh dibilang datar-datar saja. Tanpa ekspresi. Menceritakan kesibukan Posma di kampusnya, dosen yang naksir sama kawannya tapi diacuhin atau kawan-kawan mahasiswanya yang suka meminjam buku tapi tidak pernah dikembalikan dan seterusnya. Tentu saja di bawah suratnya ditulis harapan atau himbauan, supaya kalau ada waktu luang sukalah Endro membalas suratnya dengan panjang lebar.

Belakangan menyesal. Ia perbaiki lagi surat balasan itu. Ia tidak mau kalimat-kalimatnya ditafsirkan dengan seribu ungkapan. Karena itulah, ia berhati-hati dalam meletakkan titik dan koma. Pada pokoknya ia tidak ingin cowok itu terbuai dalam mimpi hanya karena telah membaca suratnya.

Entah karena memang tak tahu diri atau apa, dua hari kemudian, Endro membalas surat Hanny dengan ucapan yang menggebu-gebu. Meski tak terus terang, ia menyatakan bahwa sebenarnya sudah lama ia naksir pada Hanny. Bahwa baru pada kali inilah ia mendapat perhatian begitu besar dari seorang cewek. Bahwa baru kali inilah ia mendapat ucapan lembut dari seorang cewek. Bahwa baru kali inilah ia merasa diperhatikan seseorang dan seseorang itu kebetulan bernama Hanny.

Hanny menerima surat itu dengan gemetar. Dan dengan perasaan serba salah, ia remas surat dari Endro sehingga bentuknya seperti bungkus roti. Lalu ia menangis. Ia sangat mengkal, mengapa laki-laki diciptakan Tuhan menjadi mahluk yang licik dan lain sebagainya! Sebenarnya ia ingin menumpahkan kekesalan hatinya pada teman-teman kostnya. Tapi sampai sejauh mana, mereka bisa membantu?

Sejak surat dari cowok Publisistik itu diterimanya, Hanny merasa tak enak badan. Ia diserang demam. Tidur pun seperti selalu diganggu mimpi buruk. Ada keinginan untuk menulis surat balasan lagi yang isinya menyatakan keterusterangan sikapnya. Tapi ada sesuatu yang mencegahnya. Takut kalau Endro naik pitam. Tapi akankah persoalannya tanpa penyelesaian begini?

Itu sama saja menggantung hati seorang cowok di awang-awang. Sama dosanya, menghancurkan hatinya sekalian.

Dua minggu kemudian, setelah ditimbang-timbang, atas anjuran kawan-kawannya, Renny adiknya dan juga ayahnya, Hanny menuliskan surat balasannya. Itu pun dituliskannya dengan ketakutan luar biasa. Isinya singkat, menceritakan kesibukannya dan sedikit perkembangan kampusnya. Lebih mirip telegram. Tanpa bunga kata seperti lazimnya. Juga tanpa tulisan: Balas dong atau salam manis, boro-boro zoen sayang. Ia ingin bersikap apa adanya. Ia mencoba untuk jujur ada orang lain, tanpa menyakiti hatinya.

Dan kali ini, Endro memang betul-betul tak tahu diri. Kali ini surat balasan datang tidak saja menggebu-gebu, tapi sungguh-sungguh sudah kelewatan. Ia mengabarkan akan datang ke rumah Hanny, ingin berkenalan dengan tante kostnya, sekaligus kalau memungkinkan akan berkenalan dengan kedua orangtuanya dan tentu saja ngobrol panjang dengan Hanny. “Aku kangen sama kamu, Niek,” tulis Endro dalam surat. “Kalau engkau mengizinkan tentu, aku akan berkunjung ke rumahmu. Kutunggu jawabanmu!”

"Astaga ! Ia ingin datang ke rumah, berkenalan dengan kedua orangtuaku dan ngobrol-ngobrol panjang denganku?" seru Hanny dan surat itu terlepas dari genggaman karena ia begitu terpesona. Ia seperti tak percaya bahwa cowok itu tidak main-main. Amat serius. Padahal, ia belum siap untuk itu. Sama sekali belum siap untuk menerima kehadiran seorang laki-laki di dalam kehidupannya. Jadi, jangankan untuk mencintai, untuk dicintai pun, gadis itu belum siap.

Keringat dingin mengucur tak disengaja. Ia kembali kumat demamnya. Ia sudah memutuskan bahwa cowok itu memang gila. Senewen. Sinting dan lain sebagainya. Bahwa cowok itu memang tak tahu adat, tak tahu diri, dan lain sebagainya. Ia juga memutuskan, surat itu tidak akan dibalasnya, meski dengan sesuku katapun! Biar cowok itu tahu bahwa dia sangat ngeri atas keinginannya. Biar dia patah hati saja, kalau Renny benar. Atau nyemplung ke sumur dan mampus!

Dan selesai sudah lalu lintas korespondensi yang tak tahu juntrungannya itu. Tamat sudah hubungan diplomatik itu, kalau memang selama ini dianggap pernah ada. Semua akan tahu, bahwa hubungannya dengan si pengirim surat tak tahu adat itu hanya sementara. Hanya sekedar pengisi waktu untuk melayani hasrat cowok iseng belaka. Bukan sebagai piala tempatnya berkeluh kesah, atau mengutarakan impian-impiannya yang selangit atau mengutarakan gagasan-gagasannya yang kadang-kadang dan selalu utopia. Kalau pun itu dianggap pernah ada, itu bukan piala, tapi tong sampah atau asbak rokok! Hanya itu. Tapi untuk berjumpa muka?

“Ya, Tuhan, apa yang dikehendakinya dari perjumpaan muka seperti ini? Tidak cukupkah hanya dengan tulisan-tulisan saja?” keluhnya.

Benar-benar sepeserpun tak dikehendakihal ini terjadi. Ia betul-betul ingin berteriak melolong dan menangis seperti jika ia melihat seekor kucing atau kecoa, dua binatang yang paling dibencinya.

Minggu pertama sejak itu, was-was masih mencekam. Dengan resiko ia tidak bisa memusatkan konsentrasi baik di ruang kuliah maupun di rumah. Minggu kedua ia berjanji pada diri sendiri untuk tidak mengenang cowok itu, apalagi mengingat riwayatnya. Sudah jelas, tak bisa dilanjutkan. Endro telah menyalah gunakan kesempatan yang ada. Padahal Hanny merasa belum siap untuk itu. Tapi ternyata hal itu tidak mudah. Semakin ia mencoba untuk melupakan, terngiang isi surat Endro. Ia jadi tidak enak makan.

Dengan hati yang break, ia pamit pada tante kostnya untuk pulang dulu ke rumah. Ia ingin menenangkan pikiran, dan kalau perlu ingin bertukar pikiran dengan ayahnya mengenai kasus ini.

Di rumah, pikirannya semakin gagu. Semua adiknya heran, mengapa kakak yang seharusnya cerah ceria itu menjadi suntrut dan kuyu? Tapi mereka mendiamkannya. Mereka sudah hafal dengan kakak satu ini. Ibunya, mencari alas an untuk masuk ke dalam problem yang tak diketahui yang sedang menimpa puteri sulungnya. Ayahnya menyelidik. Tapi tanpa diselidiki pun, akhirnya problem yang mengganjal itu meletus. Hari ketiga ia di rumah, dengan meraung ia memprotes kedua orang tuanya.

“Saya tidak menyintainya, ayah. Sungguh, saya benci kepada dia!” katanya hampir menangis.

Kedua orang tua itu terpana. Ibunya merangkulnya dan dan air mata mengalir dari mata Hanny.

“Apa pun yang terjadi, nak, belajarlah mencintai. Sebab itu berarti kau menghilangkan sifat-sifatmu yang egois dan manja,” ujar ayahnya.

“Kami pernah menjadi remaja seperti engkau. Kami pernah merasa panik ketika kami dihadapkan pada kenyataan bahwa kami harus mencintai dan dicintai. Tapi apakah kita bisa menghindar daripadanya? Jelas, tidak, anakku. Dengan mencintai kita bisa membagi perasaan kita. Kau tidak mungkin akan begini seterusnya. Kau tak boleh menyendiri. Hidup ini kompleks, anakku. Sekarang, mungkin kau menganggap, kau bisa membenahi hidup ini seorang diri. Kau bisa mengatasi sendiri kegagalan-kegagalanmu. Tapi akankah begini untuk hari-hari selanjutnya? Tidakkah kau ingin membagi rasa bahagia karena kau berhasil membuat boneka panda atau berhasil menyelesaikan membaca dua buah novel tebal kepada orang lain, kecuali kami?" Ayahnya mengusap rambut Hanny.

Hanny menekan pelukannya pada ibunya.

Ia tidak tahu bahwa kedua orangtuanya sudah mengenal Endro. Bahkan ia tidak tahu bahwa cowok itu, sehari sebelumnya sudah berada di kotanya. Laki-laki putera dari kenalan orang tuanya di kota J itu memang ingin membuktikan bahwa cinta tidak egois.***


DIMUAT MAJALAH ANITA VOL 25