KENANGAN TENTANG IBU DAN TINI
Ibu pergi untuk
pulang,
begitu tulis Tini, adikku.
Surat itu basah oleh air mata.
Aku meraung dan menjerit
Mengejutkan belalang di sela batu.
Esoknya Ibu dimakamkan.
Jasad Ibu tinggal bersama akar Akasia
dan pohon Kamboja.
Malamnya, aku menggambar sebuah sumur
Dengan dinding batu kokoh,
dengan lubang yang dalam
menuju pusat mata air.
Maksudku, ingin menulis obituari
Untuk Ibu: Sebuah sajak pendek
Tentang kenangan
begitu tulis Tini, adikku.
Surat itu basah oleh air mata.
Aku meraung dan menjerit
Mengejutkan belalang di sela batu.
Esoknya Ibu dimakamkan.
Jasad Ibu tinggal bersama akar Akasia
dan pohon Kamboja.
Malamnya, aku menggambar sebuah sumur
Dengan dinding batu kokoh,
dengan lubang yang dalam
menuju pusat mata air.
Maksudku, ingin menulis obituari
Untuk Ibu: Sebuah sajak pendek
Tentang kenangan
"Ibu sudah tenang di rumah Bapa."
kata Tini seminggu kemudian.
"Benar. Kapan-kapan ia juga akan
mengajak kita pulang," jawabku.
Suratku itu tak pernah dibalasnya.
Tini rupanya tak sempat mengabari
tentang kepulangannya
Aku tak lagi meraung dan menjerit.
Aku tahu Tini sedang menuju mata air.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar