05 Maret 2017

KENANGAN TENTANG IBU DAN TINI

Ibu pergi untuk pulang,
begitu tulis Tini, adikku.
Surat itu basah oleh  air mata.
Aku meraung dan menjerit
Mengejutkan belalang di sela batu.

Esoknya Ibu dimakamkan.
Jasad Ibu tinggal bersama akar Akasia
dan pohon Kamboja.


Malamnya, aku menggambar sebuah sumur
Dengan dinding batu kokoh,
dengan lubang yang dalam
menuju pusat mata air.
Maksudku, ingin menulis obituari
Untuk Ibu: Sebuah sajak pendek
Tentang kenangan

"Ibu sudah tenang di rumah Bapa."
kata Tini seminggu kemudian.
"Benar. Kapan-kapan ia  juga akan 
mengajak kita pulang," jawabku.


Suratku itu tak pernah dibalasnya.

Tini rupanya tak sempat mengabari
tentang kepulangannya

Aku tak lagi meraung dan menjerit.
Aku tahu Tini sedang menuju mata air.


2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar