05 Agustus 2016

PEREMPUAN DALAM SAJAK


Bagaimana mungkin,
seorang perempuan muncul dalam sajakku
Seperti pendar waktu, 
dan gigil kelam,
dia leleh di pundakku
Licin bagai lilin,
lidah kami kemudian berpilin
Kami menyelam dan berenangan di laut kata
Terasa ngilu.
Giris dan lapar
Kami seakan tembikar terbakar
dalam seonggok nafsu
Lalu, ujarku: sajak, kenapa perempuan itu
masuk ke dalam kalimatku?
2009
(Dimuat dalam buku puisi, Perempuan dalam Secangkir Kopi, 2010).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar