Jam lima pagi, aku sudah sampai ke sepatu. Waktu merangkak
di jam tangan. Aku berjalan bersama sepatuku. Udara segar. “Mari kita
bersulang, Kawan,” kataku. Jam terus merayap seiiring detak waktu.
Jam 6 sore aku sampai di angkringan. Karena angkringan
berada di dekat pos hansip, kami menginjak batu, kerikil, ingus dan tahi sapi.
Seperti galibnya sepatu, dia tak pernah mengeluh, hanya membuat tumitku terasa
sakit. “Tenang Kawan, sudah kubeli semir lima kaleng untukmu,” kataku.
Sampai di rumah, sekitar jam 10 malam. Kulepas sepatu dan
kusorongkan sepatuku ke kolong ranjang. Dia melambaikan tangan. “Selamat tidur,
Kawan.”
Kini sambil duduk di tepi ranjang, dan mengayun-ayunkan
kakiku yang berselimut kaos kaki yang tipis seperti selaput dara itu, aku
kembali mereka-reka, hendak ke manakah besok kami hendak melangkah
Bandung, 18 Desember 2011
(Dimuat dalam buku antologi pusi BANGGA AKU JADI RAKYAT
INDONESIA, 2012)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar