09 Maret 2014

Puisi2 Status

Apakah kamu pipit yang suka terbang rendah; yang suka menyusup ke dalam semak hatiku? Apakah kamu bukan?

Aku menatap hujan dan bertanya pd  bulir2 hujan, apakah gerangan kamu awalnya awan atau zat yang tadi  berseliweran di dalam tempurung kepalaku?  

Aku melihat jendela kamarku terbuka tiba2.  Lalu aku melihat kangenku berhembus begitu saja ke udara.  Tangkaplah, bila kau percaya.

Kami bersitegang dgn siang. Siang yang tak takut pada senja dan kami yang membenci gelap di bawah lumut nasib yang lembab.

Kopiku habis. Siapakah yangmenenggaknya? Ataukah udara yang telah menyulingnya menjadi awan, yang  kelak menjadikannya bulir2 hujan?



Sore ini aku menemukan lagi kata2mu yang kalem di layar handphoneku.  Alangkah senang aku mencatatnya, sambil membayangkan jari-jarimu yang nakal itu.

Dua tiga patah kata memaksa keluar dari puisiku. Mereka  menyerahkan diri sepenuhnya kepada sebuah cerita yang tak bertanggungjawab.  Kuharap, jangan kausesalkan.

Sayonara. Lelaki itu melambaikan tangan.  Ia kemudian raib di balik gerumbulan kata2, sampai sekarang.  Ia hanya meninggalkan setangan yang menyimpan beribu kenangan.

Ada tangis melengking di balik cangkir kopi  yang terguling.   Ada isak menjerit di genangan air kopi itu. Ada hati yang seperti ikan menggelepar2 di atas meja. 

Aku ingin benar mengembalikan senja ini padamu. Tapi aku lupa alamatmu. Tolong kirim nomer teleponmu yang terhapus tak sengaja. 

Aku dan sapardi tak ingin bertengkar tentang gadis yang ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi.

Seseorang diam2 telah menyembunyikan hatimu di tempat rahasia. Entah di mana, tapi aku dengar degupnya.

Tak ada yang berubah. Yang membedakan hanya kalender dan ingatan kita tetang segala sesuatunya.




Telah kutulis surat, ke sebuah alamat yang tak jelas juntrungannya.  Mungin suratku tak akan sampai kepadamu. Tapi yakinlah, aku tetap merindukan jawabanmu.

Ketika aku melihat foto2 lama, gambarmu rupanya sudah tiada. Dibiarkannya aku berpose sendiri bertemankan pemandangan alam.  Alangkah bengisnya ingatan.

Apakah kamu yang dulu berdiri dekat kasir di sebuah toko buku yang dengan berdebar2 dan menahan malu menantikan kedatanganku? Mudah-mudahan, bukan.

Saat itu hujan turun, dan embun memantul2 di atas daun.  Saat angin menggoyangkan daun2 itu, aku pun menciummu.  Ya Tuhan, mhn maafkan.  Aku hanya seorang lelaki yang…







.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar