17 Agustus 2012

Mengapa Saya Menulis Haiku dan Menerbitkannya...

-
Haiku-mu 17 kata Haiku-ku entah berapa kata Semau gua!


Haiku bukan barang baru buat saya. Haiku pertama yang saya baca dan mengesankan adalah karya Basho, tentang katak yang mencemplung ke dalam kolam. Bentuk sastra yang menggunakan aturan 5-7-5 dan seterusnya itu pada dasarnya bukan barang aneh buat saya. Karena sudah lama saya mengenal bentu-bentuk sastra Indonesia semacam itu seperti pantun, dan gurindam di sekolah. Maka ketika Heru Emka dkk mempopulerkan haiku di Facebook, saya sempat menulis bukan haiku semacam ini:

Orang Jepang pandai haiku 
Orang Cina pandai haiya 
Orang kita serba pandai!

Tapi waktu berlalu. Menulis haiku ternyata punya sensasi tersendiri. 100 haiku ini saya tulis selama 12 jam, non stop. Sama sekali tidak berjuang untuk memecahkan rekor MURI. Dengan menjelaskan hal ini saya hanya ingin mengatakan, betapa asyiknya menulis haiku. Apalagi ada Susy Ayu yang memprovokasi dan bersedia menjadi inspirasinya. Ia pula yang men-support ketika proses penulisan maraton itu dimulai pukul 12 siang, sampai proses penulisan berakhir, pukul 00.00. Tentu saja saya–ehm-- tiba-tiba merasa menjadi Bandung Bondowoso, dan dia Roro Jongrangnya. Bedanya Roro Jonggrang asli menuntut Bandung Bondowoso membuatkan 1000 candi, saya secara sukarela berjuang menuliskan 100 haiku. Itu sebabnya, 100 haiku ini saya persembahkan untuk dia. 100 haiku ini lalu ditayangkan di kompas.com. Setelah itu, tugas saya sebetulnya sudah selesai. Tapi kemudian, saya mendapat banyak permintaan agar saya membukukannya.

Pucuk dicinta ulam tiba, --melalui Eviwidi,-- penerbit bisnis2030 rupanya tertarik, dan bersedia menerbitkannya dalam tempo sesingkat-singkatnya karena akan menjadi hadiah ultah saya yang istimewa tahun ini. Tapi untuk keperluan buku ini, naskah asli mengalami proses editing bahkan rewriting. Termasuk urutan nomor haiku. Lalu supaya seru, saya daulat teman saya Heru Emka, yang kebetulan pemerhati haiku yang mukim di Semarang untuk menulis kata pengantar. Saya berharap, dengan pengantarnya, 100 haiku yang saya tulis ini menjadi ‘lebih dekat’ dengan Anda. Sedang untuk kaver saya minta bantuan adik saya Yoku Ds yang sudah berpengalaman membuat gambar sampul dan illustrasi di sejumlah media massa. Pada akhirnya saya hanya bisa mengucapkan terimakasih untuk nama-nama yang saya sebut di atas. Kiranya Tuhan YME membalas kebaikan Anda yang ikhlas itu. Selamat menikmati!***

Kurniawan Junaedhie Serpong, 24 November 2010 

-

1 komentar:

  1. Saya baru mencoba-coba menulis haiku. Tapi, membaca punya Bung KJ memberi saya wacana lain. Bahwa haiku pun tak mesti haiku untuk menjadi haiku.

    BalasHapus