06 Juli 2010

Ada Dia di Balik Rembulan

-
-
Aku mau ke Puncak. Aku mau ngemong anak-anak, kata pacarku. Mereka perlu oksigen, panorama indah, udara segar, tidak hanya dinding. Aku angkat tangan. Pasrah ditinggal pacar pergi ke Puncak. “Jangan kuatir. Kita tetap kontakan,” katanya. “Ada blackberry, netbook, dan langit bertabur hot spot, jadi kita bisa kirim pesan selama 24 jam.” Duh, kudukku merinding. Betapa indahnya perpisahan.
-
Beberapa jam setelah itu, masuk sebuah pesan pendek. Dia di taman, sedang bermain ayunan. “Heran,” katanya. Aku selalu melihat bayanganmu, di swimming pool, di lobi, di meja bilyard dan di bawah pohon rindang. Kamu seperti tikus yang masuk gorong-gorong, keluar dapur dan mengintai aku.” Duh, kudukku merinding. Betapa indahnya perpisahan. -
-
Malamnya aku terima pesan pendek lagi. Dia sedang duduk di kafe. Musik mengalun merdu. Dia sedang membaca semua pesan singkatku sambil tersenyum-senyum. “Aku membaui aromamu,” bisiknya. Duh, kudukku merinding. Betapa indahnya perpisahan.
-
Di rumah, karena udara panas, kubuka jendela. Di luar, langit kelam. Mendung merangkak pelahan. Giliran aku yang kaget. Gila. Ada dia di balik rembulan! Duh, kudukku merinding. Jangan-jangan aku memang sudah gila.

-
-

Happy Valley, 7 Juli 2010
-
-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar