12 Maret 2010

Membaca Puisi KJ: Catatan Susy Ayu

Susy Ayu, temanku yang ayu paras dan hatinya, secara mengejutkan, menulis resensi buku puisiku di FB. Menurut pengakuannya, dia menulis tulisan ini selama 3 malam diselang-seling kesibukannya mengurus rumahtangga. Ketulusan dan kejujurannya dalam menuliskannya, tentu hal paling bernilai buat saya. Thanks, Susy. Berikut tulisannya:


Buku kumpulan puisi seorang Kurniawan Junaedhie berjudul “Perempuan Dalam Secangkir Kopi” tengah terbuka di atas meja tulisku. Buku yang disampaikan oleh penulisnya pada sebuah rumah makan yang kami singgahi beberapa waktu lalu. Sungguh ini adalah sebuah buku yang tak pernah bosan kubaca. Maka ketika membacanya untuk kesekian kali ada perasaan yang cukup mengganggu hati. Sel sel kelabu di kepala segera cepat mengambil tindakan untuk mencegah ganjelan itu menyebar ke seluruh persendianku. Bikin aku lungkrah. Satu-satunya penyembuh hanya dengan cara menuliskannya, maka jadilah kutulis suatu perasaan yang begitu kuat tentang buku itu.

Membaca puisi KJ, aku seperti diajak menelusuri sebuah tempat dan suasana yang pernah kulewati yang sepenuhnya berisi benda benda yang tidak menyita perhatianku; cangkir, serbuk kopi, gula, air panas, termos, kamar, cafĂ©, tiang listrik, dan sebagainya. Tetapi entah ketika membaca puisi KJ, aku seperti bibawa kembali ke tempat tempat itu..dan diajaknya aku melihat benda benda yang sebelumnya tak menyita perhatian menjadi sesuatu yang demikian menarik dan membekas. Astaga….betapa cantiknya semua benda itu kau lekuk lekuk menjadi berbagai bentuk tanpa kehilangan keasliannya. Aku pernah bilang begitu, dan dia hanya tersenyum.

Kupikir KJ tidak memandang sesuatu sebagai apa, tetapi bagaimana. Seperti itulah yang tergambar kemudian di seluruh puisi puisinya. Pada puisinya “Perempuan dalam Secangkir Kopi 1 dan 2“ kita bisa melihat betapa lihainya dia memainkan secangkir kopi di dalam genggamannya, membentuknya menjadi sebuah wadah serupa hatinya. Lalu perempuan itu berenang di sana, memunculkan semacam godaan dan daya tarik yg timbul di dalam hatinya. Juga bagaimana sendok kecil itu dia gunakan untuk mengaduk seorang perempuan agar menyelam makin dalam ke dalam lubuk kopi. Lubuk hatinya.

Bagi beberapa penyair, (entah itu anak bawang atau sudah kawakan) biasanya akan melukiskan tentang ingatannya terhadap seseorang dengan cara begitu saja. Seperti sebuah frame lalu seseorng muncul begitu saja di tempat yang abstrak..mungkin melayang di udara, di benak , dengan serangkaian kata kata indah penghias taman…Namun tidak bagi KJ. Dia bisa meletakkanmu di mana saja, di dalam sebuah benda yang tidak abstrak, benda yang ada di sekitar kita, di dalam cangkir (“perempuan dalam Secangkir Kopi 1-2” hal 1&2), di atas mesin photo copy ( “ Keroncong Kebayoran” hal.18-19) atau ke dalam bubu ( “Kau, ikan & Nelayan” hal. 6). Lalu kita merasa benar benar berada di dalamnya lengkap dengan suasana kopi, lalu tertempa cahaya mesin photocopy, juga sesak di dalam bubu. Kita akan diletakkan pada tempat yang benar benar benda…bukan sesuatu yang abstrak, namun di tempat tempat yang tidak terduga.

Membaca puisi KJ. Aku menangkap aura kesederhanaan, tentu saja dari hatinya, seperti halnya kita menulis dengan hati. Tidak ada yang muluk muluk dari puisi puisinya, dengan kata lain puisi puisi itu tidak dibangun dengan konsep puitika yang njelimet dan rumit namun dibentuk dari putika yang sederhana, jernih sehingga gagasan dari penyairnya tersampaikan secara komunikatif. Sebab seringkali penyair terpaku pada diksi diksi yang dipercantik sedemikian rupa sehingga penyairnya terjebak pada metafor-metafornya sendiri, kemudian puisi menjadi kebingungan mencari arah dalam menyampaikan makna dan pesan.

Ini menimbulkan kesimpulan yang kutarik sendiri, bahwa kita tidak perlu mati-matian mencari puitik dalam kalimat, namun membangun puitik itu pada keseluruhan puisi.

Puisi-puisi KJ memang terasa bening, sehingga kita dengan mudah melihat kedalaman hingga dasarnya. Seperti sebuah frame yang berisi nama-nama, sosok sosok pada suatu waktu dan tempat. Kulihat KJ sangat menghargai hubungan dengan orang orang di sekitarnya, bahkan menjadikan itu salah satu elemen yang sangat berarti dalam hidupnya. Secara tematik, puisi puisi KJ menghadirkan kesendirian, kesunyian, kesedihan, juga cinta yang meluap. Tema tema itu begitu kuat getarnya namun tidak diolah dengan pengungkapan yang cengeng.

Puisi puisi KJ juga mengandung aura erotik diperdalam dengan konstruksi imajinasi. Cumbu yang bagi KJ adalah suatu bangunan yang layak ditulis dalam pencitraan atas rasa cinta pada puncaknya. Begitulah apresiasi KJ terhadap keindahan atas dorongan hasrat yang kuat, di mana nafas nafas birahi itu dikemas dengan halus dengan cita rasa hingga tidak vulgar yang bisa berkembang ke arah pornografi.

Membaca puisi KJ, tidak ada halaman yang kubaca sambil lalu. Selalu ada rasa yang berbeda pada tiap puisinya, seperti pulasan warna warna yang mampu memberi paduan dominasi warna berbeda pada masing masing kanvas.

Kita tidak perlu harus mengenal siapa dan bagaimana Kurniawan Junaedhie tapi memiliki buku puisinya adalah seperti terbawa pada dunia yang tidak bisa kita temui di peta manapun. Tidakkah menarik untuk sebuah petualangan imajinasi yang menginspirasi?

Kurniawan Junaedhie telah berada di dalam elemennya, sehingga bilah bilah jarinya mencipta puisi-puisi yang bercahaya. ***


Susy Ayu
(penikmat sastra, bukan pengamat)
Maret 2010


semua puisinya kusuka, tapi akan kubawa satu puisinya ke sini yang menjadi inspirasi untuk judul buku ini

PEREMPUAN DALAM SECANGKIR KOPI (2)
- sa

Aku ingin sekali bisa mengapung sembari berenangan di dalam kopimu. Kubayangkan, betapa nikmatnya hidup dipermainkan air yang gelap dan pahit sambil diguncang-guncang oleh sendokmu. Aku akan menukik, menyelam dan menggapai tanganmu lalu sesekali, sambil berkecipakan di dalam air yang hangat itu aku akan mencium bibirmu di pinggir cangkir. Tak ada yang bisa cemburu. Juga air ludah dan lendir di mulutmu.

Aku suka caramu memasukkan gula pasir ke cangkir dan menyedunya dengan air. Aku suka caramu membaui kehangatan air kopi dan caramu mencecap dengan lidahmu. Kamu paling akan bertanya, sejak kapan kamu suka berenang? Aku akan menjawab, sejak kamu suka menjerang air, dan menuangkannya ke dalam termos. Di tengah hidup yang pahit, aku senang menyelam ke dalam kopi bersama seorang perempuan yang hangat. Tak ada yang bisa cemburu. Juga sendok dan piring kecil dekat cangkirmu.

Olala, Bintaro. Okt. 2009
Kurniawan Junaedhie


Dan berikut komentar pembacanya:

Muhammad Baidowi, Shanti Koto Sudharno, Nani Tandjung dan 37 lainnya menyukai ini.

Ardi Nugroho puisi mas KJ dalam buku itu memang meremas rasa dan memeras kelana jiwa.. asyik sekali ketika kita menyusuri halaman halamannya.. seakan selalu ingin mengulang untuk berenang di kedalaman air kopinya yang hangat dan menyengat..
---
Mbak Susy.. ulas kupasanmu ini begitu pas... hehehehe rupanya plong ya telah menumpahkan semua rasa yang bersemayam di... Lihat Selengkapnya dalam usai menikmati dan menikmati secangkir kopinya Mas KJ.. sama dong.. aku malah sudah habis bercangkir-cangkir.. dan tak ada bosannya.. jadi ndak tenang kalau tidak menjenguknya atau setidaknya mengintipnya setiap sore hari...

Nona Muchtar aku juga g bosen2nya baca buku puisi itu. mantap deh! bos kite emang jago meramu kata. ngga berputar2. ngga jelimet. kita baca, langsung bles! mengalir deh perasaanku seperti puisi puisinya..

BTW, Perempuan Dalam Secangkir Kopi, emang paling TOP!
cm kadang sebel aja sm mas KJ dn inspiratornya. ngupi kok ngga ngajak2 sih? bwahahahahaha
... Lihat Selengkapnya
cantiiiiiiiiiiiiiiiiik, miss UUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU..

Donald Sitompul sajak yang intim dan personal... dibangun dari pemahaman mendalam sang penyair terhadap 'suasana bathin' perempuan...

Ardi Nugroho Mbak Nona, sabar toh yo.. kapan kapan pasti diajak...
aku juga nunggu diajak Mas KJ lho...

kalo nggak ngopi ya nge'teh' saja kapan2.. hehehehehe

Nona Muchtar klamaan nunggunya mas Ardi. ntar kburu ngga ada yg jualan kupi lagi hihihi

Nani Mariani aku setuju susyykkuuu.., elemen2nya sangat bercahaya..
seneng bisa ikut menikmatinya susy.., maksih ...
salam

Susy Ayu -Pakdhe Hardho> lha nggih niku to, pakdhe hehehe
-Mas Imron > Makasih atas spresiasinya ya, Mas Imron...salam persahabatan dr ku
- Bang Donald > ya, bang..sajak sajak mas KJ memang sangat intim terhadap apa yg dibawanya.

Susy Ayu -Mas Ardi > hahaha..iya...kopine pas..untuk diteguk juga untuk kita selami...pas lah ya, sama rasa kita, mas...

-Nona > huihihihih..... yup...yup..sama, berarti akutidak berlebihankan mengupas buku itu...Ngupi? tau tuh..mas KJ gak ngajak ngajak juga niii....Miss U to cantiik..hwhahwhahwhahwha

Ira Ginda hem..kupasan awal yg mantep bener..buat sabtu yo..hehe..tpi sure i like it aduuh..bacanya dengkulku anjlok..ingin berenang jga..miss U sista..like it deh..

salam takzimku...

Lina Kelana ayo rame rame kesono yuk....xixixix

Susy Ayu Mbak Nani> Huyuuuu..mbak Nani sayang, makasih dah mampir jauh jauh dr sana...senang kalo mbak Nani juga bareng menikmatinya.....muah muah

Ira > sista..hihi..yg Sabtu besok bedah buku antologi cerpennya mas KJ dgn 3 pengarang lainnya...Resensi ini untuk kepuasan bathinku aja, ben ra sesak krn ditanggung sendiri hihihi

Lina > Lina....ayoo ke pds Sabtu, kan bisa ketemu mas KJ sekalian nanya naya apa yg mau ditanyain hihihi

Saut Poltak Tambunan Secangkir Kopi KJ memang kopi berani, maju tanpa teman (singkong goreng, ubi)

'Athan Wira Bangsa' Sangat tepat ulasan mbak Susy, saya juga merasa demikian.

Pratiwi Setyaningrum wekekekee.. apik tenan..

memang harusnya baca resensi Susy dulu baru beli buku "Perempuan dalam Secangkir Kopi" ini, karena langsung membuka kesadaranku, dan membacanya seperti diajak masuk ke taman bunga yang ternyata indah sekali.. wow.. buktinya, begitu tiba di akhir resensi lalu mendapat hidangan satu contoh puisinya mas KJ, omongan Susy ternyata benar belaka. Tidak Kurang. Tidak lebih. Pas.

GJOB Suzsyecuuww!! ^o^)9

Pratiwi Setyaningrum Oya. Buku ini sudah ada dan bisa dibeli di Gramedia. Tadi aku lihat, satu kotak dengan buku-buku Pramudya ^_^)

Andy Darmawan ... akupun mengagumi mas KJ, seperti mengagumi tulisan (pengamatan) dari seorang Susy nan Ayu ... terima kasih sekali Susy, kerena tulisan ini (dan mas KJ), aku turut terbuka mata dan hatiku dalam sastra ... sungguh ...

Awan Hitam Senang membaca ulasan mba Susy dan apresiasinya terhadap tulisan mas KJ...dan bagaimana mba Susy menangkap tulisan mas KJ digambarkan dengan kalimat
"dan diajaknya aku melihat benda benda yang sebelumnya tak menyita perhatian menjadi sesuatu yang demikian menarik dan membekas. Astaga….betapa cantiknya semua benda itu kau lekuk lekuk menjadi berbagai bentuk tanpa kehilangan keasliannya."

Pas saya membandingkan ulasan itu,dan puisi mas KJ,dengan judul " PEREMPUAN DALAM SECANGKIR KOPI (2) "..terasa apa yang dituliskan terdapat kesesuaian,selain itu saya juga cara penulisan mba susy..juga umumnya memainkan kedekatan antara diri ...dan sekitar ... ..
... Lihat Selengkapnya
Perhatikan baris puisi mba Susy...dengan judul SEDIH TAK BERNAMA...
"kau bisa saja datang terlambat atau begitu tergesa gesa
seperti gaduhnya kereta melintasi kursi fber di peron
namun kau sisakan lekat di gaunku
membuatku selalu menoleh mengenali tawa
hingga air mata memantul pada tiap gelak"
(Duduk diperon..gaun..suasana hati..tawa ..airmata ...)

PEREMPUAN DALAM SECANGKIR KOPI
Aku ingin sekali bisa mengapung sembari berenangan di dalam kopimu. Kubayangkan, betapa nikmatnya hidup dipermainkan air yang gelap dan pahit sambil diguncang-guncang oleh sendokmu.
(Duduk minum kopi...gula..kopi...pahit ..dia..susasana hati..)

Salam hangat dan hormat untuk mba Susy.
Terimakasih telah berbagi

Fekhi Dre aha satu lagi apresiasi buat mas kj ^_^

Wilu Ningrat ...
tidak gampang me"Resensi" buku bagus, apalagi kalau penulisnya sekelas K.J.
tapi ...
dalam note ini
S.A. sukses bersepadan dengan buku yg diresensinya... Lihat Selengkapnya
!!!

Trisnowati Josiah Asik membacanya, sebuah catatan berharga bagi "KJ", dan suatu pencerahan yang sangat berarti tentunya buat Susy. Kita pasti menemukan "mutiara", ketika kita masuk ke dalam suatu karya yang berjiwa.....

Trims nona ayu, salam hangatku, tj.

Susy Ayu SPT> Bang Saut..hehehe..emang mas KJ berani ngupi sendiri tapi sebenarnya selalu ditemani dgn kawan imajinernya..

Athan Wira bangsa> Makasih mas Athan, kita sama rasa...hehe aku cari temen nih..:)

Pratiwi > Tiwiquw...qeqeqe...berjuang, sit...ini kali pertama bikin resensi sebuah buku, tanpa tahu teori semata berdasar atas rasa saja..Gak tahan kalo gak ditulis, buku ini memang luarbiasa mengagumkan.

Susy Ayu Andy Darmawan> Mas Andy, pengamatan berdasarkan mata hati..dengan pengetahuan atas teori2 puisi yang Nol Besar kumiliki..Dengan banyak merasai aneka puisi, kupikir kita akan lebih peka meraba bentuk bentuknya yang sangat beragam di dunia sastra kita yang canggih ini. Suwun ya, Mas..

Awan Hitam > Mas Awan, aduh..lagi lagi mas selalu berkomentar yang bikin aku mengintip lebih dalam. Tak terlintas sedikitpun ttg keserupaan (namun tak sama) dgn puisiku . Mas jeli banget ya? suwun atas segala yang Mas gali lebih dalam...Mungkin karena ak termasuk pengagum puisi mas KJ, jadi tanpa disadari ada sedikit warna senada kali ya, Mas? :)

Femi > hihihi..buku puisi ini dahsyat lho..! sungguh rugi kalo gak memilikinya, sebab itu ada dorongan yg kuat untuk mengapresiasikannya.... Lihat Selengkapnya

Susy Ayu Wilu Ningrat > Wilu, jujur aja ini resensi buku pertama yang aku buat, atas desakan dr dalam hati sendiri akibat kagum yang tak henti henti. Dgn pengetahuan yg sangat terbatas & hanya berdasar atas rasa, sekaligus tanpa sepengetahuan mas KJ, maka jadilah resensi yang kutulis dgn sungguh2. Jujur aku lega setelah membaca komentmu. tengkyu, Wilu...... Lihat Selengkapnyasemoga tak pernah jenuh untuk singgah.

Trisnowati > Mbak TJ..! senang ya,mbak saling berbagi rasa dan kata benak satu sm lain kayak gini...Semoga berarti buat mas KJ, juga memberi ilmu bagi semua..dgn melihat bentuk2 puisi yg berbeda beda :) makasih ya, mbak TJ sayang...! trimakasih untuk energimu!

Fekhi Dre iya dong... udah punya dan udah baca, enak segelas kopi, cemilan buku. kenyang :D

Susy Ayu Femi> hihihi...pembeli pertama ya, sista? emang asyik..dibawa sambil ngupi, atau obet ngusir bete...siap siap buku puisi berikutnya, sista..! Bibir di bawah Bantal..hihihi

Kurniawan Junaedhie wakakakak, sip, sip. wah jadi malu, resensinya lbih bagus dzri puisinya. :-))) ayo tulis resensi buku yg lain.... tengkyu, sus!!!

Rini Sanyoto kueren luar biasa....!! btw beli bukunya dimana ya?sy cari gramedia koq gak ada ya??? ada yang bisa bantu ?

Susy Ayu Mas KJ > hihihi..tengkyu juga, Mas...aih, gak laaah, masak bagusan resensinya drpd bukunya ...ini kunamai curhat akibat membaca buku puisimu...Waks, resensi buku yang lain? Ampuuun....DJeeee... eh salah ! ampuun KJeeee..!

Abah Yoyok mantafs. Alhamdulilah. hari tambah satu lagi ahli bedah buku sastra. mas KJ, gimana klw utk launching buku PDSK, mbak susy aja yg jadi pembicaranya. hi hi hi.. dijamin pengunjung akan klepek2 dan langsung buku terjual habis. he he he.. Mas Handoko, hati2 saingan baru ahli bedah sudah berada di depan mata. hahaha ha ha...

Fekhi Dre yoi, udah milih kaver juga nih :D
Kemarin jam 19:48Susy Ayu Mbak Rini> nun sewu , mungkin pas habis ya di Gramedia itu.. bisa inbox saya alamat mbak Rini, harganya Rp. 25.000, sudah termasuk ongkos kirim untuk pulau Jawa. Monggo, mbak..via inbox...matur suwun yo,Mbak...ini salah satu buku wajib untuk penghilang bete hehehe

Femi > hihi he-eh....covernya "horor" hahahah

Fekhi Dre hihihi sexy donggg... ntar kalo kita bilang horor, mas kj takut lagi wkwkwkwk

Susy Ayu Abah> Waks...kabuuur.....! hihi..ini curhat aja, Abah...tanpa bermaksud ngikuti peran mas Handoko sebagai pengamat sastra..oh tidaaak...! But, matur suwun ya, Abah, setidaknya dah pas di hati hehehe

Femi> oh iya ya?...qiqiqiiq

Shinta Miranda Aku sangat amat sependapat dgn Susy..bukan saja kagum pada puisi2nya Mas KJ..aku kagum banget sama dikau Susykiu,..katanya, selain menjadi penulis, penulis pun seyogyanya bisa mengulas sebuah tulisan-dan dirimu telah membuktikannya.....hiks....aku jadi iri..
Puisi2 Mas KJ: ada nuansa yg mengagumkan keluar dari raga seorang KJ, simple but sensitive, praktis kadang sinis...ga ada duanya .....luv it, Susy...gue kagum sama dua2nya, deh pokoknyeeee...

Ratna Dewi Barrie aku jadi tertarik mau beli bukunya, ntar kalo ke Gramedia, Tq Susy...:)

Dini Kaeka Sari weee..mau..mau..mb suz aq bukunya.
haha..mas KJ pny bakul bukunya.salam ya..
piye carare mb suz kl mo pny bukuny?

Susy Ayu @Mbak Ratna dan Mbak Dini...kalo mau bisa kubantu, inbox aku aja alamat pengiriman, nanti ku tulis rekening Mas KJ langsung aja, jadi dapat tanda tangan mas KJ sekalian ..dijamin puas...hihihi...Makasih sudah mampir sini ya, sista sistaku....

Susy Ayu Mbak Shintaaaa.....sebenarnya bukan karena bisa,mbak..tapi karena desakan perasaan yang muncul , kalo gak ditulis bikin crowded isi kepalaku..jadi benang kusut, karena isi benak nambah terus..jadi harus diuraikan satu satu....Itulah kenapa aku berhari hari stuck gak bisa nulis apapun, ternyata harus menulis ini dulu..hihihi..makasih ya,mbak sayang.

Weni Suryandari suuuusss.....aku yakin kau membuat ulasan ini dengan seobjektif mungkin, beberappa puisi yang kau kutippun telas pernah kubaca, da aku memang makin yakin, dalam kesederhanaan itu mas KJ berhasil membawa pembaca larut dalam rasa yang teraduk-aduk pada benda2 sekitarnya...
mas kj memang punya ciri khas itu, sebagaimana seorang afriza/l malna membuat puisi yang berdiksi teknologi dan nuansa benda2 modern....
apik sus, tulisanmu....hehehe

Susy Ayu mbak wen..waah..luas banget soal membacamu pd puisipuisi lain ya?..kita tuh sering mudah menangkap jenis atau model puisi si a, b dan c..bahkan ketukan nafasnya aja kita bisa rasa..hingga meski diberi nama penulis lain, tapi kita bisa merasa itu nafas milik siapa.....begitulah cara kerja "rasa" itu kali yah,mbak?

Reza Tebet keeeeereeeeennnnzzzzzzz

Jim B Aditya Luar biasa.... Sebuah tinjauan yang amat jernih. Apa lagi yang kurang Susy. Puisimu mantap, cerpenmu pulen, sekarang ulasanmu tentang puisi KJ, begitu bening, dan menuntun orang untuk lebih mengenal sang penyair secara lebih utuh. Salam takzimku Susy yang luar biasa....

Aant S. Kawisar oke punya...

'Athan Wira Bangsa' Ulasan yang keren, jadi penasaran ingin menikmati lebih jauh puisinya mas KJ, salam...
Hari ini jam 6:26Foeza Hutabarat puji puisi...senang luar biasa, puisi-puisi KJ merasuk sukmamu. Sus...

Seseorang Itu Nana Mulyana ...aku sekarang sudah di atas papan loncat, mau terjun ke bawah cangkir puisi itu...yang uapnya bangkit, membentuk awan berkelompok-kelompok di atas ladang-ladangku, asap putihnya bersirip kebersahajaan, keajaiban dan yang tak tersangkakan...tapi tak juga aku jadi terjun...karena ikan-ikanmu sudah meloncat terlebih dahulu dan mereka tak pernah gagal untuk mencium pipiku...

Helga Worotitjan II "Membaca puisi KJ. Aku menangkap aura kesederhanaan, tentu saja dari hatinya, sepertihalnya kita menulis dengan hati. Tidak ada yang muluk muluk dari puisi puisinya, dengan kata lain puisi puisi itu tidak dibangun dengan konsep puitika yang njelimet dan rumit namun dibentuk dari putika yang sederhana, jernih sehingga gagasan dari penyairnya ... Lihat Selengkapnyatersampaikan secara komunikatif. Sebab seringkali penyair terpaku pada diksi diksi yang dipercantik sedemikian rupa sehingga penyairnya terjebak pada metafor-metafornya sendiri, kemudian puisi menjadi kebingungan mencari arah dalam menyampaikan makna dan pesan"

udah pantes jd pengamat...keren........Mas KJ is the best ;)
Susy Ayu Reza Tebet> bukunya emang keren, Mas..:)
JIm B Aditya> yhiaaaa...mas Jim...nulis yg dirasain apa, Mas...dirasakan dgn khidmat..hihi..salam takzim juga buat mas Jim!
Aaant > he-eh, Mas..bukunya oke bangets!
8 jam yang laluSusy Ayu Mas Athan> memang belum lengkap tanpa miliki puisi2nya,,serius! aku gak bakal bisa nulis begini kalo bukan puisi2 itu yg menuntun..

Foeza> Mas Foeza...ya, Mas..gak bisa kutuliskan sepatah katapun kalo aku gak kerasukan hihihi

Seseorang Nana > whuaaa...Mas Nana! kereeen...!! aih emang jagonya deh mas Nana ..bisa membuat merasa lebih dalam!... Lihat Selengkapnya

Helga > Inne....hehehe..puisi2 mas KJ yang nuntun aku hingga menyatakan itu. Aih..penikmat aja, sista...kalo ngamatin nti takut salah hihihi...Yeah, mas KJ is the best!

Dharmadi Penyair: pas ungkapan mbak Susy Ayu setelah membaca puisi KJ. memang demikian adanya mas Jun yang sudah saya kenal sejak tahun 70-an. enteng-enteng saja penampilannya, apa adanya. dan terbaca dalam puisinya; ringan, mengalir begitu saja, tetapi enak di rasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar