-
-
Sajak-Sajak Kurniawan Junaedhie:
ISTRI
Aku bersijingkat naik tempat tidur. Dan istriku yang sudah lama di sana, memelukku. Ia mencium bibirku. Dan kami saling berpagutan dan mendesis-desis seperti ular. Ada rasa yang liar. Seperti merasakan ruap onak yang terbakar. Ketika jam weker berbunyi dua kali, kami pun terjaga. Kami berpandangan.
Saat itu di jendela hujan turun gerimis. Bayang lampu jalanan masuk ke dalam gorden yang tipis. Langit sangat kelam. Di pinggir tempat tidur, kami duduk terdiam. Rasanya dunia kelam. Semua diam. Juga tiang listrik di luar sana, diam, diguyur hujan.
Dan ketika kutatap matanya, kulihat dalam mata itu sebuah telaga yang tenang. Beberapa ekor belibis sedang berenang di permukaannya. Setelah itu, aku melihat seluas-luasnya samudera. Ada air laut menggenang sampai ke batas cakrawala. Ada cahaya berkelebat seperti kilat di luar jendela. Tapi tidak ada ombak. Dan aku seperti sauh kecil, terombang-ambing di alun gelombang.
Aku masih termangu-mangu, ketika istriku bersijingkat naik tempat tidur. Aku masih duduk membisu ketika ia mengigau. Aku masih terjaga ketika weker berbunyi empat kali. Aku dengar dengusnya. Aku membaui nafasnya. Aku heran bagaimana dia bisa mencintaiku apa adanya.
Saat itu di jendela hujan turun gerimis. Bayang lampu jalanan masuk ke dalam gorden yang tipis. Langit sangat kelam. Di tempat tidur, istriku terpejam. Rasanya dunia karam. Semua diam. Juga tiang listrik di luar sana, diam, diguyur hujan. Dan aku menangis.
Oktober 2009
SEORANG LELAKI YANG TIDAK TIDUR
- Cerita untuk Ahita
Sudah lama dia tidak tidur. Matanya terbeliak tapi pikirannya melancong ke negeri jauh di antara kemerlip bintang. Ia merasa dirinya seperti kepompong. Tapi kenapa hidup begitu bengis? Ia kawini seorang perempuan cantik tetapi dia malah serong dengan lelaki lain. Ia sayangi anak satu-satunya tapi anaknya malah memacu motornya dengan kencang di jalananan sampai sebuah truk menghentikannya. Dunia pun jungkir balik di kepala. Membuat matanya terus terbeliak sampai sekarang. Dia diam dan tidak bisa tidur. Tapi pikirannya melancong ke negeri jauh. Ke sebuah dusun yang tenang, di antara kemerlip bintang. Di mana keluarganya tinggal, dalam kenangan. Sambil tetap membuka matanya, ia pun mulai mereka-reka untuk berkumpul di sana. Tapi dengan apa? Menenggak racun tikus? Minum obat di luar dosis? Atau menyelipkan moncong pistol ke dalam mulutnya sampai nafasnya mendesis? Sampai sekarang ia tetap mereka-mereka dengan 1000 cara sambil terus membuka matanya. Untuk kesekian lamanya.
2009
GELAP
Berhari-hari lampu padam di rumahmu. Huruf dan gambar tenggelam. Hidup jadi kelam. Kebahagiaan karam. Kamu resah. Bergulingan di jalanan. Merasa ventilasi dalam rongga dadamu mampat, seperti got yang dipenuhi sampah berjejalan. Karena aku takut pada gelap, katamu. Gelap itu sepi, seperti kematian. Kematian itu sepi seperti malam. Apakah kamu takut pada malam yang sementara? Bukan, aku tidak takut pada malam yang didesak oleh sore dan petang hari meski kemudian digantikan subuh dan pagi hari. Tapi aku takut pada saat malam itu. Atau saat lampu padam. Karena kita tidak bisa berbuat apa-apa. Itu mengingatkanku bahwa suatu hari nanti hidup juga akan memadamkan lampunya. Entah kapan. Saat siang atau malam. Saat ada penerangan atau saat lampu padam.
2009
PESAWAT TERBANG
Sudah lama kami tidak berani naik pesawat terbang. Burung bermesin itu suka ngadat di udara. Kadang baling-balingnya oleng. Kadang-kadang rodanya rusak. Kadang-kadang saja dia berlagak terbang tinggi, tapi kemudian berpusing-pusing karena mesinnya mati. Sudah lama kami tidak berani naik pesawat terbang. Karena begitu mudah dia terbang, begitu mudah pula dia menukik ke bumi. Sudah lama kami tidak berani lagi kepingin melihat pramugari. Kepada anak-anak dan handaitaulan kami bilang sebaiknya tidak jadi pilot. Karena pesawat terbang negeri sendiri suka menjatuhkan diri. Tak ada yang menjamin tak ada baut yang copot. Tentu saja para pejabat membantahnya. Tapi kami tidak perduli.
2009
PENYAIR
Di bawah pohon-pohon pisang
Rumput terlanjur gersang
Daun-daun berserakan
dan air menggenang
Apakah yang akan kaulakukan, tuan penyair?
Membuat pemandangan jadi sihir?
Tulang ikan menjadi beton bertulang?
Agar pembangunan bergerak menggelinjang?
Sebuah mobil melintas kencang
Penumpangnya hanya melambaikan tangan
Esoknya ia melukiskan pemandangan alam
Yang indah dan bagus kata-katanya
Di sehampar tanah basah
Di antara sejumlah ilalang
Ada hati yang remuk,
dengan airmata berlinang
2009
REST IN PEACE
-Untuk lazuardi adi sage
Terbungkus di dalam kain kafan,
tak ada lagi nama yang bisa disapa
Tanah menggelinjang. Langit benderang.
Panorama beku. Seperti kita tengah diamuk badai salju.
Kulihat engkau saja menjauh.
terombang-ombing di atas sauh
Langit di hatiku hangus.
Kaki melangkah seperti di tanah tandus
Semakin terasa tak ada yang abadi.
Bahkan bulu mata pun ternyata bukan milik kita.
2008
ELOI, ELOI LAMA SABAHKTANI
Langit jingga, lalu kesumba
Malam dingin, dan angin menggigil
Tiba-tiba senapanmu menyalak dalam gelap
Aku tersungkur, rebah lalu terjerembab
Sambil terhuyung aku raba dadaku
Darah berlinangan
Kata-kata berlinangan
Darah & kata berlinangan pada tubuh sintalmu
Begini cepat datangnya
Begitu rapuh penyebabnya.
Eloi, Eloi Lama Sabakhtani
Aku mau hidup 1000 tahun lagi
2009
-
-
makasih mas, telah jadi sarapan pagi yang sakral.salam
BalasHapus