Antara tahun 1974 sampai tahun 1990-an, hampir semua pengarang (muda) Indonesia tampaknya merasa belum sreg kalau karya-karyanya belum dibaca HB Jassin yang waktu itu dijuluki Paus Sastra Indonesia. Jassin dianggap punya aura dan punya wibawa, untuk menahbiskan setiap orang untuk jadi pengarang atau sekadar calon pengarang. Tidak usahlah dikomentari Pak Jassin, cukup dia simpan saja di Pusat Dokumentasi HB Jassin di TIM itu sudah sangat senang. Mereka mengira, HB Jassin sudah membacanya.
Pak Jassin meninggal pada 11 Maret 2000 pada umur 82 tahun. Sejak itu, udara pepat dalam kehidupan sastra terasa ada yang kosong. Tapi semangat bekarya nyatanya tetap tak pernah surut. Meski menjadi seniman sudah ditebak nasibnya, setiap hari muncul dan lahir pengarang baru. Setiap jam sajak dibuat dan cerpen ditulis. Angkatan baru itu tak kenal Pak Jassin. Kenal nama, mungkin sekadar sayup-sayup. Tapi yang penting, tampaknya memang sudah muncul HB Jassin baru. Mereka adalah Google, Yahoo dan mesin-mesin pencari lain di Internet. Benarkah kalau karya kita belum dicatat oleh Paus2 baru itu, kepengarangan kita belum sreg? Saya tidak berani menjawab. Hihihi... Coba saja, tuliskan nama Anda di sana, dan klik. Sudahkah Anda diakui sebagai pengarang oleh Gooogle dkk?
Wah, googling nama sendiri sih sering *narsis mode on* hihihi...
BalasHapus