Oleh : Kurniawan Junaedhie
YANTO sakit lever! Itulah berita yang diterima Ani di ruang kuliahnya dari Dodi.
“Sejak kapan?” tanyanya was-was.
“Sejak dua hari yang lalu.”
Astaga. Ani merasa badannya tanpa penyangga. Ia tak menyangka sama sekali bahwa cowok itu harus berurusan dengan dengan penyakit laknat akhirnya. Kenapa harus dia? Secara tiba-tiba ia merasa tubuhnya menggigil.
“Kau mau mengantarku pulang Dod? Kepalaku pusing.”
Dodi mengangguk.
“Kasihan apakah dia tak mengabarimu?” tanya Dodi sambil memegangi kemudi mobilnya yang mungil. Tanpa menoleh ke-samping Ani menggelengkan kepalanya.
Sudah lima tahun Ani berhubungan erat dengan Yanto. Semua orang tahu betapa rukunnya mereka seperti mimi dan mintuno. Ani yang selain cantik, juga cerdas, memang digunjingkan kawan-kawannya sangat serasi dengan Yanto, seorang mahasiswa Publisistik yang juga menjadi wartawan di sebuah surat kabar harian.
Secara ekstrim, kalau di kampus diadakan pemilihan ratu kecantikan berdasarkan kecerdasan, pasti Anilah yang menjadi juaranya. Itu komentar kawan-kawannya. Tapi sejauh ini, diam-diam hubungan Ani dan Yanto tidak seakran yang diduga orang. Ani selalu berusaha menarik diri jika terlibat pembicaraan dengan Yanto.
Ani lebih banyak diam dan mendengarkan. Yantolah yang aktif. Bahkan entah dengan alas an apa, Ani selalu menolak ajakan Yanto untuk keluar jalan-jalan, misalnya. Ani lebih suka Yanto mengunjungi rumahnya. Dan mereka berbincang-bincang masalah pelajaran. Tak pernah mengusik persoalan lebih jauh. Jika Yanto ngobrol dengan Widiastuti atau Lina, maka Ani memplester bibirnya yang mungil. Tak ada sepatah suarapun, kecuali mendengar simpang siurnya pembicaraan antara Yanto dengan kawan-kawannya tentang filsafat atau segala macam tetek bengek lain. Padahal Yanto tak lupa selalu memancingnya, misalnya dengan: “Urusan bahasa Inggris, beliaulah masternya,” sambil menunjuk Ani. Dan sejauh itu mahasiswi sastra ini hanya tersipu-sipu.
Karena Yanto mencintai sungguh-sungguh, apapun keinginan gadis itu diladeninya. Ia yakin, bahwa Anipun sesungguhnya mencintanya. Hanya dengan caranya sendiri. Itu sebabnya pula, sejauh ini, Yanto tidak ingin mengkhianati cinta gadis yang dingin itu.
Misalnya, menggandeng Tuti yang selama ini menguber-ngubernya di tempat kerja, atau menerima ajakan kencan Windi, kawan sekampusnya. Yanto tahu, kesabaran yang cukup dibutuhkan untuk itu.
“Kamis yang akan datang orang tuaku akan datang,” kata Yanto suatu hari ketika mengapeli gadis itu.
“Oya?”
“Aku ingin memperkenalkanmu pada beliau. Bagaimana?”
“Aku ingin sekali. Tapi bagaimana ya? Aku….”
Pada kesempatan lain, Yanto menelponnya.
“Aku ada dua karcis, kita nonton film yuk?”
“Baiklah. Aku pun tak jadi nonton.”
“Kau bisa nonton sendirian bukan?”
“Ya, bisa. Tapi sudahlah. Selamat belajar!” Yanto meletakkan gagang telepon dengan kecewa. Tapi ia tetap toleran.
***
Bagi Ani, Yanto memang segala-galanya, tentu saja itu tak diucapkan. Kalau Yanto cukup peka, pasti ia akan menangkap perasaan itu dari sinar mata atau tindak tanduk Ani. Jika kawan-kawannya membicarakan Yanto, diam-diam hatinya mekar karena bangga. Dan itu biasanya akan diakhiri dengan wajah memerah, ketika kawan-kawannya lalu menyambungnya dengan Ani. Memang, apa yang kurang dari cowok itu? Yanto yang jago basket, Yanto yang pinter menulis puisi, Yanto yang pendiam tapi menyimpan api, Yanto yang krempeng tapi melindungi, pendeknya apa yang kurang dari Yanto? Tapi justru itulah, jarak terasa tampak di mata Ani. Jika Yanto bisa segala-galanya, maka ia justru merasa dirinya kecil tak ada arti.
Ia merasa hanyalah setitik noktah dibandingkan dengan Yanto. Ia merasa tak becus membicarakan politik, fashion, artis yang sedang populer dan lain-lain. Bukannya tak becus sesungguhnya. Ani sendiri merasa hanya membutuhkan sedikit keberanian untuk itu. Tapi malangnya, keberanian yang ditunggu itu tak kunjung datang. Sekarang cowok itu terserang lever. Astaga!
Dan Ani sama sekali tak mengetahui bagaimana kejadiannya mula-mula.
Padahal, ia dianggap paling tahu tentang Yanto. Dan yang lebih penting, Yanto tak pernah melakukan kesembronoan secuil pun seperti itu terhadapnya. Ani ingat ketika sakit maag dua tahun lalu. Yantolah satu-satunya mahluk di dunia ini yang dengan setia menungguinya.
Mengirimkan novel dan menceritakan keadaan dunia luar. Tentang musim bunga, tentang Ria kenalan mereka yang sudah married, tentang pohon jambu yang roboh ditiup angin dan lain sebagainya. Padahal, saat itu, ia sudah kehilangan gairah. Penyakit maag telah merampas keinginannya untuk hidup. Kuliahnya tertunda setahun. Suatu pukulan maha hebat. Tapi Yanto, si cowok krempeng itu, terus mengunjunginya. Memberi kata-kata hiburan, menguatkan mentalnya dan memberi support buat kesembuhannya. Ibunyalah yang kemudian bertanya:
“Apa yang dikatakannya, An?”
“Supaya Ani lekas sembuh. Katanya, Ani pasti sembuh. Pasti. Dan ia menjamin 100 persen. Seperti Tuhan saja ya Ma? Seperti malaikat ya Ma?” Entah dengan alas an apa. Yang terang ayahnya juga berkata : “Papa tidak akan menolak seandainya bermenantukan Yanto.” Dan Ani hanya tersenyum mendengar gurauan orang tuanya.
Sekarang, laki-laki yang itu-itu juga sedang terkapar. Lever telah menyerang tubuhnya yang krempeng. Ia tak mengabarinya. Mungkin dianggapnya tak ada gunanya. “Aku tak berarti sekali,” keluhnya dalam hati.
Hari-hari ke depan akan sunyi dan lenggang, runtuknya lagi. Tak ada lagi suara hangat yang mengatakan, hidup ini sangat indah. Tak ada lagi detak-detik bunyi sesuatu yang mengusiknya dari kelelapan akan kesadaran hidup yang terkadang ganas tapi seringkali romantis. Bunga-bunga mawar di taman tak lagi indah berseri. Musik yang diputar dari kaset-kaset terbaru, tak lagi mengail keinginannya untuk ikut bersenandung. Alangkah hambarnya hidup. Tak disadarinya, tubuhnya menggigil. Ia sadar, sesadarnya kini, antara dia dan cowok itu memang ada untaian tali ajaib yang istimewa. Sebab itu ia tiba-tiba takut kehilangan.
Dodi menurunkan persis di halaman rumah.
“Sori Dod, aku tak mengajakmu singgah. Kepalaku pusing.”
Dodi tersenyum penuh arti.
Begitu masuk kamar, ia mendengan telepon berdering. Dari Ela, adik perempuan Yanto.
“Kau dengar Yanto sakit?”
“Yaya. Aku mendengarnya dari Dodi. Sejak dua hari yang lalu bukan? Bagaimana? Semoga lekas sembuh.”
“Jam dua siang nanti, kawan-kawan akan membezoeknya. Kau sibuk?”
“Tidak. Aku tidak sibuk. Aku akan datang nanti.”
Pukul dua tepat, Ani sudah berdiri di halaman rumah Yanto. Ruang tamu masih sunyi. Manakah kawan-kawan yang akan datang seperti dikatakan Ela? Ia melirik arlojinya. Ia merasa tak terlambat.
Ia melangkah lambat-lambat. Mana Ela? Diketuknya pintu lamat-lamat. Mudah-mudahan Yanto sedang tidur. Ia merasa dadanya berguncang dan berdebar. Tak pernah sebelumnya, ia yang begitu kangen menjumpai Yanto.
Akan dikatakannya kalau Yanto terbangun nanti, bahwa hidup ini indah. Dan supaya penyakitnya musnah. Ia mengetuk pintu sekali lagi.
Kali ini pintu terbuka. Yanto dengan pakaian necis berdiri di depannya, tersenyum.
“Kau sakit?” tanyanya bergetar. Tapi Ani tetap berdiri tegak. Yanto menggeleng.
“Kau telah menipuku bukan?” kata gadis itu sekejap ingin menangis di tempat duduk.
“Maafkan. Maafkan. Kita lupakan semuanya. Oke? Aku ingin supaya kau dewasa, An. Tidak ada maksud lain. Aku gembira melihat kemajuanmu. Dulu, kau hanya ikut sedih jika aku menceritakan kesedihanku. Tapi kini, kau tidak saja ikut bersedih, melainkan ikut menanggulangi kesedihan itu. Dalam hal ini, kau ingin menghiburku kan? Nah, jangan menangis.
Kau boleh marah tapi aku sudah minta maaf lho.”
“Tapi aku kecewa, Yan,” kata Ani antara tangis dan tawa.
“Lho, karena aku menipumu?”
Antara perasaan jengkel karena dibohongi dan bahagia melihat Yanto ternyata segar bugar, akhirnya Ani berkata: “Tentu. Kau telah menipuku mentah-mentah. Tapi sejak mendengar khabar sakitmu, ketahuilah Yan, berapa kali sudah aku berdoa untuk kesembuhanmu.
Melihatmu bisa tertawa, aku sangat gembira. Bukankah sangat berdosa jika ternyata kau tidak apa-apa aku malah merasa kecewa?”
“Wah, kau berkembang baik sekali,” ujar Yanto takjub.
“Aku hanya kecewa karena selama ini seolah-olah aku tidak memperhatikanmu. Kau selama ini baik padaku. Penuh atensi. Sebaliknya aku, tak tahu diri. Aku……”
Yanto tersenyum. Ani menunduk.
Diraihnya tangan Ani. Dan Ani patuh.
“Lima tahun baru kurasakan betapa halus tanganmu, An,” kata Yanto.
“Memangnya kenapa?” kata Ani menarik tangannya cepat-cepat.
“Kalau kupegang dulu-dulu, aku yakin kau pasti lari sambil menjerit. Kau adalah cewek yang histeria. Tapi aku kagum pada sikap hati-hatimu. Kupuji sikapmu. Sekarang aku sudah lulus ujian kan?”
“Dan kau type cowok yang sabar, Yan. Mungkin akulah kelak yang harus kuat mental sebab yang seperti engkaulah cowok idaman…..” *** ANITA VOL. 30
Tidak ada komentar:
Posting Komentar