12 Mei 2009

Sang Pemuja

Oleh : Kurniawan Junaedhie

Nana sebenarnya tidak terlalu cantik. Ia pintar dan pandai bergaul. Otaknya memang jempolan. Tak heran ia dengan lancer naik tingkat setiap tahun. Padahal kawan-kawannya untuk bisa disebut lancarpun harus merelakan satu-dua mata kuliah yang terpaksa diuji-ulang. Meski demikian, ia bukanlah tipe cewek yang sombong. Setiap kesan sombong itu akan muncul, dengan kesadaran penuh, ia mencoba menghapuskannya. Dan Nana juga dikenal sebagai seorang yang berhati-hati. Setiap tindakannya ia pikir benar-benar, bukan dari untung-ruginya, tapi dari baik-buruknya.

Sebagai gadis remaja, sudah tentu ia juga mempunyai pengagum.

Di antara pemuja-pemujanya adalah tiga orang cowok bernama Frans, Gigo dan Dodi, kawan-kawan sekampusnya. Ketiga cowok ini seolah-olah berusaha bersaing keras untuk menarik perhatiannya, dengan caranya masing-masing. Tapi sejauh ini, persaingan itu masih bisa ditolerir. Sedikit-banyak, hal ini juga karena kebijaksanaan Nana, yang tidak pernah memihak salah satu diantaranya. Apalagi, tidak jarang pada malam Minggu mereka bertiga bentrok datang di rumah Nana. Oleh Nana, semuanya diberi jatah waktu yang adil untuk berseloroh atau berbincang-bincang. Jika diantaranya ada yang ingin menambah waktu kencan, dengan bijaksana Nana tinggal mengerling tulisan di ruang tamu kosnya: “Para tetamu dilarang melebihi jam 21.00.” Umumnya, pemuda-pemuda itu cukup mafhum.

Tapi lama kelamaan ketiga cowok itu sudah merasa letih dengan cara yang ditempuh selama ini. Harus dicapai penyelesaian. Salah dua orang harus mau mundur. Tapi siapakah yang mau mundur? Sudah tentu, baik Frans, atau Gigo atau Dido merasa hanya dirinyalah yang paling berhak. Sementara itu, Nana pun merasa kikuk juga. Ia ogah dibilang barang wakaf, atau barang yayasan, yang dimiliki bersama-sama oleh beberapa orang. Ia harus tegas memilih salah seorang diantaranya. Tapi siapa? Sedang ia sendiri tidak mau menyakiti hati ketiga kawannya yang semua memang baik itu. Frans adalah sahabatnya sejak SMA. Ia kerap mentraktirnya nonton dan lebih dari itu ia penuh atensi. Sulit untuk mengatakan bahwa Frans bukanlah calon pacar yang ideal. Sedang Gigo, idem ditto.

Meski tidak bisa dikatakan aten, tapi ia selalu berusaha melindunginya.
Misalnya, ketika Nana pingsan di saat Posma dulu, Gigolah yang menghadap ketua Senat dan meminta dengan hormat agar Nana dibebaskan dari kewajiban itu. Adapun Dodi, sikapnya yang lembut dan berperasaan beda dengan Gigo yang berangasan atau Frans yang penurut - bagi Nana dinilainya cukup romantis. Nana benar-benar tak berkutik jika diharuskan memilih. Akhirnya, sampai suatu kali pulang dari kuliah didekatinya Frans. Sudah bisa diduga cowok itu seperti disengat lebah melihat Nana. Dan seperti biasa, ia pun akan mengobral tawarannya untuk mengantar Nana pulang.

“Kau sangat baik, Frans!” Dada Frans terguncang. Ia senang dipuji demikian. Tapi lebih dari itu, bukankah ucapan itu menandakan bahwa Nana sendiri merasakan budi baik yang ia berikan?

“Kita makan dulu di rumah-makan. Kau setuju?” tanya Frans memulai taktiknya.

“Ogah ah. Tapi, kalau kau memang lapar aku setuju!”

Frans tersenyum malu.

“Tapi aku bosan makan di rumah makan mewah,” potong Nana.

“Lalu?” Frans terkejut.

“Kita ke TIM. Kita makan di Warung Tegal saja. Aku ingin makanan rakyat. Tahu goring, tempe bacem, sayur asem, sambal dan……”

“Tapi kita kan bisa makan di Lembur Kuring?” tanya Frans bergelut dengan pikirannya.

“Kalau kau tak setuju, kita makan di rumah masing-masing!” ancam Nana.

Frans tersenyum: “Demi engkau kusetujui permintaanmu,Na!”

“Eh, kau tak rela rupanya?”

“Lho, justru karena untukmu aku tak peduli. Aku sangat cinta padamu!” Frans memotong dengan gagap.

Gigo jelas marah-marah. Ia menulis surat panjang lebar kepada Nana yang isinya menyatakan rasa kecewanya karena Nana mau diajak Frans. “Aku tidak menduga kau begitu murahan. Kuhormati sikapmu yang bijaksana Nana. Tapi aku harus berterus terang juga akhirnya, bahwa aku tidak menyukai sikapmu yang mendua itu. Aku tersinggung dan marah. Kenapa aku marah, jawabnya tentu sudah engkau ketahui. Sudah lama aku mencintaimu. Dan aku tidak ingin cintaku musnah hanya karena sikapmu yang bagiku tidak terpuji.”

Meskipun merah padam wajahnya, Nana tersenyum membaca surat itu.

Bagaimana dengan Dodi?

“Salahkah aku menerima ajakan Frans?” tanya Nana.

Dodi mengangkat bahu.

“Itu hakmu. Kalau aku menjadi engkau, aku pun mungkin merasa sulit untuk menolaknya," jawab Dodi acuh tak acuh.

“Dia mencintaimu. Selayaknya dia berusaha untuk menyenangkanmu! Kan logis?”

“Oke deh. Tapi Gigo juga memaki-maki aku karena itu. Apa reaksimu?”

Dodi mengerutkan dahi. Tiba-tiba ia menatap Nana dengan berang.

“Apa sebenarnya maumu? Sikap Gigo kan wajar? Dia cemburu padamu. Habis perkara. Engkau saja yang introspeksi.”

“Terimakasih Dodi, kau begitu baik padaku sampai-sampai kau mengutip banyak kata mutiara dan ucapan bijak bestari,” puji Nana.

Dodi menekuri lantai. “Ya,” katanya tertatih. “Karena sejak lama sebenarnya…. Sebenarnya aku mencintaimu!”

Nana seperti terhenyak. “Kau mencintaiku,Dodi?” tanyanya seperti kena strum.

Dodi mengangguk:”Benar!”

“Tapi kenapa kau tak marah mendengar aku diajak oleh Frans dan dimaki-maki oleh Gigo?”

“Aku harus tahu diri. Bukankah aku pemuda miskin? Bercita-cita pun aku tak berani. Ya, aku harus tahu diri. Apalah artinya orang seperti aku ini dibanding Frans yang mempunyai sepeda motor dan Gigo yang berbadan kekar? Yang kupunya hanyalah cinta. Cinta yang sejati. Sungguh, meski hatiku remuk mendengar ceritamu, aku tetap percaya pada nalui cintaku.”

“Terimakasih untuk kedua kalinya Dodi. Aku pun yakin, ucapanmu yang panjang lebar itu tulus kau ucapkan!”

Semalam, Nana sibuk dengan wajah ketiga cowok pemujanya.

“Frans, bagaimana mungkin aku disuruh bersuamikan pria semacam engkau? Sedangkan jiwamu lembek, seperti inlander, tak mungkinkah engkau menjadi pria yang tegar, kukuh dan tegas berprinsip?”

Ia bayangkan Gigo. “Terimakasih atas cintamu, Gigo. Tapi aku pun tak mungkin bersuamikan seorang cowok yang otoriter. Kau serba cemburuan. Sulit kubayangkan kelak, jika latar pendidikanku menuntutku untuk bergaul luas lalu kau melarangku. Tidak Gigo, kau bukan pria yang ideal buatku!”

Kini wajah Dido muncul di dalam benak: ”Saya terharu atas besarnya perhatianmu padaku, Dodi, sampai-sampai kau rangkai-rangkai ucapan orang-orang besar untuk kau persembahkan padaku. Tapi bagaimana mungkin aku bersuamikan pria semacam engkau? Hidup ini realistis. Tapi kau tak punya ambisi. Apakah kau pikir kita bisa hidup dengan timbunan kata-kata semata? Tidak, Dodi, tidak! Kita juga tidak mungkin hidup hanya berdasarkan cinta buta versimu. Jadi terimakasih, Dodi, dan marilah kita melupakan semuanya!”

Sebuah surat lagi ditulisnya. Untuk adik perempuannya yang baru saja tamat SMP:

“Mungkin ramalanmu bahwa kakak akan menikah tahun depan meleset. Kakak belum menemukan pria yang cocok untuk kau sebut kakak iparmu. Mungkin kau akan menanyakan pria bagaimanakah yang kakak cari? Ia adalah bukan pemuda kaya atau ganteng. Cukuplah jika ia memiliki cita-cita setinggi langit, karena dengan demikian ia mempunyai jangkauan hidup yang membuat kita bergairah bersamanya. Ia pun harus berjiwa kukuh. Bukankah kita akan merasa nyaman di dalam genggamannya? Tentu saja, cowok itu setia pada kita. Itulah lelaki pilihan kakak, adikku manis. Adakah kau telah menemukan pria dengan cirri-ciri seperti itu? Kau boleh kirim untuk kakak, secepat mungkin.”

Tapi bagian terakhir kalimat suratnya yang terasa bergurau dicoretnya dengan spidol. Dan esoknya, ketika berangkat kuliah, ia cemplungkan surat itu. ***

(Majalah Anita Cemerlang Vol. 23)