KEPAKARAN
Dear Journalist,
Anda menyebut kami dengan sebutan menyenangkan, "pakar." Kadangkala Anda juga menyebut kami "pengamat" atau "pemerhati", sebuah julukan yang terus terang saja cukup membanggakan. Begitulah. Ada di antara kami yang Anda sebut sebagai "pengamat masalah sosial ekonomi", "pengamat masalah manajemen", "pengamat masalah seksualitas", dan sebagainya. Ya, sebagai ilmuwan atau intelektual, kami sadar bahwa Anda membutuhkan kerjasama kami. Apalagi dengan maraknya fenomena trend news yaitu berita-berita yang harus Anda bikin sendiri, kepakaran kami tentu saja akan menambah bobot tulisan Anda.
Kami senang. Dan kami merasa untuk itu kita memang bisa menjalin kerjasama yang baik. Anda butuh komentar atau tanggapan dari kami tentang sesuatu masalah, sementara kami merasa puas, karena oleh Anda, opini kami terlemparkan ke kancah perbincangan. Harapan kami: opini kami itu bisa menambah suasana dialogis di tengah masyarakat, yang pada akhirnya mudah-mudahan bisa ikut mencerdaskan bangsa.
Anda boleh saja berbasa-basi bahwa pendapat kami niscaya akan memberi warna dan bobot tersendiri pada tulisan Anda dan sebagainya. Padahal, alasan Anda memilih kami, bisa saja, karena sebagai sumber berita, kami relatif lebih gampang Anda temui (approachtable) dan selalu dalam keadaan siap menjawab apa saja pertanyaan Anda.
Mungkin juga, karena menurut Anda, kami tergolong kalangan yang suka bicara terbuka, ceplas-ceplos, kritis dan analitis. Sejauh ini kami memang mengakui tidak punya hambatan apa pun. Sifat kepakaran kami, rupanya memang telah membuat kami terbebas dari hambatan-hambatan psikologis, seperti takut dipecat, takut dicopot, takut ditegur dan sebagainya. Hal ini tentu berbeda dengan kawan-kawan kami, para birokrat.
Tapi jelas salah besar, jika karena itu, Anda menganggap kami bodoh atau memburu popularitas.
Sebagai intelektual, kami diajar untuk selalu bisa menjawab setiap pertanyaan yang diajukan. Kewajiban kami adalah memberitahu orang yang belum tahu.
Salam kompak selalu,
Khalayak Anda